<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Hukum Memotong Rambut Atau Kuku Ketika Haid</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/2009/hukum-memotong-rambut-atau-kuku-ketika-haid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com/2009/hukum-memotong-rambut-atau-kuku-ketika-haid/</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 17:15:52 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Akhina Ifa</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/hukum-memotong-rambut-atau-kuku-ketika-haid/comment-page-1/#comment-5537</link>
		<dc:creator>Akhina Ifa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jun 2011 13:11:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=293#comment-5537</guid>
		<description>bagaimana dengan pendapat di bawah ini yg saya kutib dari http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg00260.html :


Banyak dari kalangan umat islam saat ini khususnya di Indonesia, 
yang memahami bahwa seorang yang junub ataupun seorang wanita yang 
sedang haidh itu dilarang atau tidak boleh untuk memotong kuku,  
memotong rambut dan bahkan tidak boleh mengeluarkan darah. Dengan 
alasan bahwa setiap anggota tubuh tersebut nanti pada hari kiamat 
akan menuntut atas janabatnya.

Pendapat ini sebenarnya merupakan pendapat dari Abu Hamid Al 
Ghazaly  atau yang kita kenal dengan nama Imam Ghazaly penulis dari 
kitab Ihya Ulumuddin. Didalam kitabnya yakni Ihya Ulumuddin, Imam 
Ghazaly menulis:

æáÇ íäÈÛí Ãä íÍáÞ Ãæ íÞáã Ãæ íÓÊÍÏ Ãæ íÎÑÌ ÇáÏã Ãæ íÈíä ãä äÝÓå ÌÒÁÇ 
æåæ ÌäÈ ÅÐ ÊÑÏ Åáíå ÓÇÆÑ ÃÌÒÇÆå Ýí ÇáÂÎÑÉ ÝíÚæÏ ÌäÈÇ æíÞÇá Åä ßá ÔÚÑÉ 
ÊØÇáÈå ÈÌäÇÈÊåÇ

Dan hendaklah dia tidak bercukur, memotong kukunya, mengasah pisau 
(untuk bercukur), menyebabkan darah mengalir atau memperlihatkan 
bagian tubuhnya ketika dia dalam keadaan junub (hadats besar), 
demikian ini karena semua bagian tubuh akan dikembalikan seperti 
semula pada hari kiamat nanti, dan akan kembali dalam keadaan hadats 
besar. Dikatakan, setiap rambut akan menuntut atas janabatnya.

Demikian yang ditulis dalam kitab Ihya Ulumuddin, pada Bab Kitabun 
Nikah. Dan pendapat Imam Ghazaly ini banyak di lansir oleh para 
pengikutnya, dan tidak sedikit yang di ajarkan di pesantren-
pesantren khususnya kalangan yang mengaku penganut Madzhab 
Syafi&#039;iyyah di Indonesia. Dan pengaruhnya sampai sekarang masih 
sangat kuat. Di beberapa kalangan masyarakat, wanita yang haidh 
ataupun orang junub biasanya mereka akan menyimpan rambut atau kuku 
yang terpotong untuk kemudian pada saat mandi janabah nanti ikut di 
bersihkan.

Padahal pendapat ini adalah sangatlah lemah sekali, disebabkan oleh 
beberapa hal. 

Yang pertama adalah bahwasanya pendapat diatas hanyalah merupakan 
pendapat dari Imam Ghazaly semata tidak berdasarkan kepada nash-nash 
yang shahih baik itu dari Al Qur&#039;an,  Hadits yang shahih ataupun 
dari Ijma kaum muslimin.

Yang kedua adalah bahwasanya disamping pendapat tersebut tidak ada 
dasarnya sama sekali dari nash-nash yang shahih, pendapat tersebut 
bertentangan pula dengan sebuah riwayat yang shahih yang di 
riwayatkan oleh Imam Bukhari sehubungan dengan bolehnya seorang yang 
Junub memotong kuku,  dan memangkas rambut sebagaimana dibawah :

æÞÇá ÚØÇÁ: íÍÊÌã ÇáÌäÈ¡ æíÞáã ÃÙÝÇÑå¡ æíÍáÞ ÑÃÓå¡ æÅä áã íÊæÖÃ.  
ÈÇÈ: ÇáÌäÈ íÎÑÌ æíãÔí Ýí ÇáÓæÞ æÛíÑå.

Berkata `Atha&#039;: &quot;Orang junub itu boleh berbekam, memotong kuku dan 
memangkas rambut walau tanpa wudhu lebih dahulu.&quot; (Riwayat Bukhari 
dalam Bab bolehnya orang junub keluar..)

Berdasarkan riwayat yang shahih tersebut maka jelas bahwa seorang 
yang junub ataupun wanita yang sedang haidh boleh untuk memotong 
kuku, memotong rambut, walaupun dia belum mandi janabah ataupun 
belum berwudhu.

Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi antum.

Wallahu ta&#039;ala &#039;alam

Abu Usamah Ibn Amir</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>bagaimana dengan pendapat di bawah ini yg saya kutib dari <a href="http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg00260.html" rel="nofollow">http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg00260.html</a> :</p>
<p>Banyak dari kalangan umat islam saat ini khususnya di Indonesia,<br />
yang memahami bahwa seorang yang junub ataupun seorang wanita yang<br />
sedang haidh itu dilarang atau tidak boleh untuk memotong kuku,<br />
memotong rambut dan bahkan tidak boleh mengeluarkan darah. Dengan<br />
alasan bahwa setiap anggota tubuh tersebut nanti pada hari kiamat<br />
akan menuntut atas janabatnya.</p>
<p>Pendapat ini sebenarnya merupakan pendapat dari Abu Hamid Al<br />
Ghazaly  atau yang kita kenal dengan nama Imam Ghazaly penulis dari<br />
kitab Ihya Ulumuddin. Didalam kitabnya yakni Ihya Ulumuddin, Imam<br />
Ghazaly menulis:</p>
<p>æáÇ íäÈÛí Ãä íÍáÞ Ãæ íÞáã Ãæ íÓÊÍÏ Ãæ íÎÑÌ ÇáÏã Ãæ íÈíä ãä äÝÓå ÌÒÁÇ<br />
æåæ ÌäÈ ÅÐ ÊÑÏ Åáíå ÓÇÆÑ ÃÌÒÇÆå Ýí ÇáÂÎÑÉ ÝíÚæÏ ÌäÈÇ æíÞÇá Åä ßá ÔÚÑÉ<br />
ÊØÇáÈå ÈÌäÇÈÊåÇ</p>
<p>Dan hendaklah dia tidak bercukur, memotong kukunya, mengasah pisau<br />
(untuk bercukur), menyebabkan darah mengalir atau memperlihatkan<br />
bagian tubuhnya ketika dia dalam keadaan junub (hadats besar),<br />
demikian ini karena semua bagian tubuh akan dikembalikan seperti<br />
semula pada hari kiamat nanti, dan akan kembali dalam keadaan hadats<br />
besar. Dikatakan, setiap rambut akan menuntut atas janabatnya.</p>
<p>Demikian yang ditulis dalam kitab Ihya Ulumuddin, pada Bab Kitabun<br />
Nikah. Dan pendapat Imam Ghazaly ini banyak di lansir oleh para<br />
pengikutnya, dan tidak sedikit yang di ajarkan di pesantren-<br />
pesantren khususnya kalangan yang mengaku penganut Madzhab<br />
Syafi&#8217;iyyah di Indonesia. Dan pengaruhnya sampai sekarang masih<br />
sangat kuat. Di beberapa kalangan masyarakat, wanita yang haidh<br />
ataupun orang junub biasanya mereka akan menyimpan rambut atau kuku<br />
yang terpotong untuk kemudian pada saat mandi janabah nanti ikut di<br />
bersihkan.</p>
<p>Padahal pendapat ini adalah sangatlah lemah sekali, disebabkan oleh<br />
beberapa hal. </p>
<p>Yang pertama adalah bahwasanya pendapat diatas hanyalah merupakan<br />
pendapat dari Imam Ghazaly semata tidak berdasarkan kepada nash-nash<br />
yang shahih baik itu dari Al Qur&#8217;an,  Hadits yang shahih ataupun<br />
dari Ijma kaum muslimin.</p>
<p>Yang kedua adalah bahwasanya disamping pendapat tersebut tidak ada<br />
dasarnya sama sekali dari nash-nash yang shahih, pendapat tersebut<br />
bertentangan pula dengan sebuah riwayat yang shahih yang di<br />
riwayatkan oleh Imam Bukhari sehubungan dengan bolehnya seorang yang<br />
Junub memotong kuku,  dan memangkas rambut sebagaimana dibawah :</p>
<p>æÞÇá ÚØÇÁ: íÍÊÌã ÇáÌäÈ¡ æíÞáã ÃÙÝÇÑå¡ æíÍáÞ ÑÃÓå¡ æÅä áã íÊæÖÃ.<br />
ÈÇÈ: ÇáÌäÈ íÎÑÌ æíãÔí Ýí ÇáÓæÞ æÛíÑå.</p>
<p>Berkata `Atha&#8217;: &#8220;Orang junub itu boleh berbekam, memotong kuku dan<br />
memangkas rambut walau tanpa wudhu lebih dahulu.&#8221; (Riwayat Bukhari<br />
dalam Bab bolehnya orang junub keluar..)</p>
<p>Berdasarkan riwayat yang shahih tersebut maka jelas bahwa seorang<br />
yang junub ataupun wanita yang sedang haidh boleh untuk memotong<br />
kuku, memotong rambut, walaupun dia belum mandi janabah ataupun<br />
belum berwudhu.</p>
<p>Mudah-mudahan ini bermanfaat bagi antum.</p>
<p>Wallahu ta&#8217;ala &#8216;alam</p>
<p>Abu Usamah Ibn Amir</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

