<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menyemai Berkah Birrul Walidain</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 17:15:52 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: nurul huda</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3681</link>
		<dc:creator>nurul huda</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Aug 2010 20:11:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3681</guid>
		<description>Ass.Wr.Wb. maaf ustad / ustadah , meski sudah ada keterangan, namun kami ingin penjelasan yg lebih jelas.
a. batalkah solat kita karena bersentuhan dengan anak kecil yg belum disunat ( mohon dijelaskan dasar fiqihnya )
b. bagaimana hukumnya solat sunat ketika khotib sedang berkhotbah, mohon dijelaskan juga dasar / dalilnya .
terimakasih. Wassalamualaikun Wr.Wb</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass.Wr.Wb. maaf ustad / ustadah , meski sudah ada keterangan, namun kami ingin penjelasan yg lebih jelas.<br />
a. batalkah solat kita karena bersentuhan dengan anak kecil yg belum disunat ( mohon dijelaskan dasar fiqihnya )<br />
b. bagaimana hukumnya solat sunat ketika khotib sedang berkhotbah, mohon dijelaskan juga dasar / dalilnya .<br />
terimakasih. Wassalamualaikun Wr.Wb</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3580</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 04:20:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3580</guid>
		<description>@ abu rayan, hal-hal yang membatalkan wudhu’ ada 4, yaitu:
1.	Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur.
2.	Hilangnya akal karena tidur atau lainnya.
3.	Bertemunya antara kulit laki-laki dan perempuan yang ajnabi.
4.	Menyentuh qubul atau dubur manusia dengan telapak tangan.
Sehingga, menggendong atau menyentuh anak yang belum dikhitan tidak membatalkan wudhu’.
Adapun membawa anak kecil yang belum dikhitan ke dalam masjid diperbolehkan selama bisa menjaganya dari mengotori masjid atau membuat gaduh. Namun jika tidak bisa menjaganya hingga menghilangkan kehormatan masjid, maka diharamkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ abu rayan, hal-hal yang membatalkan wudhu’ ada 4, yaitu:<br />
1.	Keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur.<br />
2.	Hilangnya akal karena tidur atau lainnya.<br />
3.	Bertemunya antara kulit laki-laki dan perempuan yang ajnabi.<br />
4.	Menyentuh qubul atau dubur manusia dengan telapak tangan.<br />
Sehingga, menggendong atau menyentuh anak yang belum dikhitan tidak membatalkan wudhu’.<br />
Adapun membawa anak kecil yang belum dikhitan ke dalam masjid diperbolehkan selama bisa menjaganya dari mengotori masjid atau membuat gaduh. Namun jika tidak bisa menjaganya hingga menghilangkan kehormatan masjid, maka diharamkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abu Rayyan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3578</link>
		<dc:creator>Abu Rayyan</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 02:57:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3578</guid>
		<description>Syukron atas jawabannya
Ada yg msh belum jelas, mohon penjelasannya:
1. Kita sudah wudlu dan mau sholat, tp sebelum sholat kita menggendong anak (yg belum khitan), bagaimana status wudlu kita? apa bisa langsung sholat? ato bersuci dulu (wudlu lagi)?
2. Apakah boleh mengajak anak (yg belum khitan) masuk kedlm masjid?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Syukron atas jawabannya<br />
Ada yg msh belum jelas, mohon penjelasannya:<br />
1. Kita sudah wudlu dan mau sholat, tp sebelum sholat kita menggendong anak (yg belum khitan), bagaimana status wudlu kita? apa bisa langsung sholat? ato bersuci dulu (wudlu lagi)?<br />
2. Apakah boleh mengajak anak (yg belum khitan) masuk kedlm masjid?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3573</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 16:05:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3573</guid>
		<description>@ abu rayan, wa&#039;alaikum salam Wr. Wb.
Anak yang masih belum dikhitan, jika tidak disucikan hingga dibawah qulfah (kulit penutup kemaluan yang dipotong ketika khitan), maka najis kencing masih tersisa. Jika demikian, maka anak tersebut masih membawa najis di daerah dhohirnya.
Bagi orang yang shalat, tidak diperbolehkan membawa sesuatu yang najis. Dalam hal ini, ada pebedaan antara benda najis dan barang yang terdapat najisnya. Jika barang itu najis seperti bangkai atau kotoran, maka tidak diperbolehkan walau hanya menyentuh. Akan tetapi jika barang yang terdapat najisnya seperti anak kecil yang belum khitan, maka bisa membatalkan shalat jika membawanya (seperti menggenggam tangan atau pakaiannya, atau si anak bergelayutan padanya) tapi tidak dengan hanya menyentuhnya walaupun dengan tanpa penghalang.
Istilah najis dan mutanajjis secara spesifik memiliki perbedaan yaitu : NAJIS dikhususkan untuk benda yang asalnya najis seperti kotoran, kencing, dll. Sedangkan MUTANAJJIS adalah benda yang suci namun terkena najis seperti air suci kejatuhan najis hingga dihukumi najis, atau benda suci terciprat najis.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ abu rayan, wa&#8217;alaikum salam Wr. Wb.<br />
Anak yang masih belum dikhitan, jika tidak disucikan hingga dibawah qulfah (kulit penutup kemaluan yang dipotong ketika khitan), maka najis kencing masih tersisa. Jika demikian, maka anak tersebut masih membawa najis di daerah dhohirnya.<br />
Bagi orang yang shalat, tidak diperbolehkan membawa sesuatu yang najis. Dalam hal ini, ada pebedaan antara benda najis dan barang yang terdapat najisnya. Jika barang itu najis seperti bangkai atau kotoran, maka tidak diperbolehkan walau hanya menyentuh. Akan tetapi jika barang yang terdapat najisnya seperti anak kecil yang belum khitan, maka bisa membatalkan shalat jika membawanya (seperti menggenggam tangan atau pakaiannya, atau si anak bergelayutan padanya) tapi tidak dengan hanya menyentuhnya walaupun dengan tanpa penghalang.<br />
Istilah najis dan mutanajjis secara spesifik memiliki perbedaan yaitu : NAJIS dikhususkan untuk benda yang asalnya najis seperti kotoran, kencing, dll. Sedangkan MUTANAJJIS adalah benda yang suci namun terkena najis seperti air suci kejatuhan najis hingga dihukumi najis, atau benda suci terciprat najis.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abu Rayyan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3570</link>
		<dc:creator>Abu Rayyan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 07:09:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3570</guid>
		<description>Jazakumulloh Khoiron Katsiiro,
Selanjutnya saya ingin bertanya tentang pendidikan anak (mohon maaf jika tidak ada hubungannya dengan judul artikel diatas), sebagai berikut:
Saya pernah mendengar bahwa jika saat kita sholat, kita bersentuhan dengan anak laki-laki yg belum khitan hukumnya batal sholatnya, karena anak laki-laki yg belum khitan statusnya adalah MUTANAJIS (pembawa najis), pertanyaan saya:
 
1. Apa yang dimaksud &#039;bersentuhan&quot; ? Apakah cukup bersinggungan ? Atau ikut gerakan sholat kita (misal: anak bergelayut di pundak kita saat kita sujud dan duduk)
 
2. Apa batasan &quot;bersentuhan&quot; ? antara kulit dengan kulit ? bagaimana jika terlindung pakaian (tidak sampai terkena kulit)
 
3. Apa beda hukumnya barang NAJIS dengan MUTANAJIS? contoh diluar sholat
 
Terima kasih atas jawabannya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan team Forsansalaf.
 
Wassalaamualaikum Wr Wb</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jazakumulloh Khoiron Katsiiro,<br />
Selanjutnya saya ingin bertanya tentang pendidikan anak (mohon maaf jika tidak ada hubungannya dengan judul artikel diatas), sebagai berikut:<br />
Saya pernah mendengar bahwa jika saat kita sholat, kita bersentuhan dengan anak laki-laki yg belum khitan hukumnya batal sholatnya, karena anak laki-laki yg belum khitan statusnya adalah MUTANAJIS (pembawa najis), pertanyaan saya:</p>
<p>1. Apa yang dimaksud &#8216;bersentuhan&#8221; ? Apakah cukup bersinggungan ? Atau ikut gerakan sholat kita (misal: anak bergelayut di pundak kita saat kita sujud dan duduk)</p>
<p>2. Apa batasan &#8220;bersentuhan&#8221; ? antara kulit dengan kulit ? bagaimana jika terlindung pakaian (tidak sampai terkena kulit)</p>
<p>3. Apa beda hukumnya barang NAJIS dengan MUTANAJIS? contoh diluar sholat</p>
<p>Terima kasih atas jawabannya. Semoga Allah SWT membalas kebaikan team Forsansalaf.</p>
<p>Wassalaamualaikum Wr Wb</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3558</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 05:49:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3558</guid>
		<description>@ Abu Rayyan, wa&#039;alaikum salam Wr, Wb.
Ibadah Haji bisa dilakukan oleh diri sendiri dan juga oleh orang lain apabila tidak mampu.
Syarat haji jika dilakukan oleh orang lain adalah wakil (anak yang menghajikan orang tuanya) sudah gugur haji wajibnya. Namun jika si anak masih memiliki kewajiban haji, maka haji yang dilakukan diperuntukkan bagi anak (bukan orang tua), walaupun berniat untuk orang tua.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Abu Rayyan, wa&#8217;alaikum salam Wr, Wb.<br />
Ibadah Haji bisa dilakukan oleh diri sendiri dan juga oleh orang lain apabila tidak mampu.<br />
Syarat haji jika dilakukan oleh orang lain adalah wakil (anak yang menghajikan orang tuanya) sudah gugur haji wajibnya. Namun jika si anak masih memiliki kewajiban haji, maka haji yang dilakukan diperuntukkan bagi anak (bukan orang tua), walaupun berniat untuk orang tua.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abu Rayyan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3551</link>
		<dc:creator>Abu Rayyan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Aug 2010 03:27:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3551</guid>
		<description>Assalaamu&#039;alaikum Wr. Wb
Team Forsan yg dirahmati Allah, saya mau tanya:
Apa hukumnya ibadah haji dengan niat untuk hajinya ortu yg sudah meninggal? (ket: ortu &amp; anak belum haji)

Syukron atas jawabannya

Wassalaamu&#039;alaikum Wr. Wb</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb<br />
Team Forsan yg dirahmati Allah, saya mau tanya:<br />
Apa hukumnya ibadah haji dengan niat untuk hajinya ortu yg sudah meninggal? (ket: ortu &amp; anak belum haji)</p>
<p>Syukron atas jawabannya</p>
<p>Wassalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3544</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 16:17:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3544</guid>
		<description>@ Anez, Kewajiban anak adalah berbakti kepada kedua orang tua walaupun keduanya atau salah satunya telah meninggal dunia. Termasuk bakti anak kepada orang tua adalah melaksanakan wasiat orang tua sebelum meninggal disamping taat, patuh dan hormat kepada mereka dan  memberikan nafkah jika tidak mampu.
Oleh karena itu, yang harus anda lakukan adalah melaksanakan wasiat orang tua menjaga kakek-nenek dengan tetap berhubungan dengan ayah anda dan mengirimkan nafkahnya jika tidak mampu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Anez, Kewajiban anak adalah berbakti kepada kedua orang tua walaupun keduanya atau salah satunya telah meninggal dunia. Termasuk bakti anak kepada orang tua adalah melaksanakan wasiat orang tua sebelum meninggal disamping taat, patuh dan hormat kepada mereka dan  memberikan nafkah jika tidak mampu.<br />
Oleh karena itu, yang harus anda lakukan adalah melaksanakan wasiat orang tua menjaga kakek-nenek dengan tetap berhubungan dengan ayah anda dan mengirimkan nafkahnya jika tidak mampu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anez</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-3543</link>
		<dc:creator>Anez</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 31 Jul 2010 15:06:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-3543</guid>
		<description>ibu saya meninggal tiga tahun lalu..., beliau berwasiat kepada saya untuk menjaga ibu bapaknya yaitu kakek dan nenek saya... sedangkan sebelum meninggal ibu telah bercerai dengan ayah, ayah sudah punya istri dan anak dua... mana yang harus saya utamakan terlebih dulu? wasiat ibu ato berbakti kepada ayah... soalnya keduanya terpisah jarak yang jauh dan sudah tidak mungkin saya mencampuri urusan ayah saya lagi... takut ada salah paham sama sodara dan ibu tiri saya, mohon penjelasan dari team forsansalf...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ibu saya meninggal tiga tahun lalu&#8230;, beliau berwasiat kepada saya untuk menjaga ibu bapaknya yaitu kakek dan nenek saya&#8230; sedangkan sebelum meninggal ibu telah bercerai dengan ayah, ayah sudah punya istri dan anak dua&#8230; mana yang harus saya utamakan terlebih dulu? wasiat ibu ato berbakti kepada ayah&#8230; soalnya keduanya terpisah jarak yang jauh dan sudah tidak mungkin saya mencampuri urusan ayah saya lagi&#8230; takut ada salah paham sama sodara dan ibu tiri saya, mohon penjelasan dari team forsansalf&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menyemai-berkah-birrul-walidain/comment-page-1/#comment-822</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 16:54:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=836#comment-822</guid>
		<description>@ some one, ujian anda saat ini memang besar, tapi ketika anda lulus dari ujian besar berarti anda meraih nilai besar. Karena itu tetaplah melaksanakan kewajiban anak terhadap orang tua (berbakti) sambil berusaha untuk kesadaran orang tua anda juga berdoa memohon kepada yang Maha Kuasa untuk memberi petunjuk kepada orang tua anda. Semoga Allah memberi kekuatan kepada anda menghadapi ujian ini dan memberikan hidayahNya kepada orang tua anda</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ some one, ujian anda saat ini memang besar, tapi ketika anda lulus dari ujian besar berarti anda meraih nilai besar. Karena itu tetaplah melaksanakan kewajiban anak terhadap orang tua (berbakti) sambil berusaha untuk kesadaran orang tua anda juga berdoa memohon kepada yang Maha Kuasa untuk memberi petunjuk kepada orang tua anda. Semoga Allah memberi kekuatan kepada anda menghadapi ujian ini dan memberikan hidayahNya kepada orang tua anda</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

