<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: &#8221; Alaihis Salam&#8221; Untuk Ahlil Bait</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Thu, 09 Sep 2010 09:27:27 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: cah ndeso</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2819</link>
		<dc:creator>cah ndeso</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2010 15:06:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2819</guid>
		<description>mudah-mudahan yang awam tidak tambah syubhat...yang dah tahu...terus posting dan ingatkan bahaya penyimpangan dari agama islam...dan alhamdulillah...tidak susah mendapatkan tulisan-tulisan ulama tentang hal ini...tetapi...orang-orang yang emang suka berdusta untuk menutupi kebatilannya...telah tertutup hatinya...Alloohu musta&#039;an,nas`alulloohassalaamah wal &#039;aafiyah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mudah-mudahan yang awam tidak tambah syubhat&#8230;yang dah tahu&#8230;terus posting dan ingatkan bahaya penyimpangan dari agama islam&#8230;dan alhamdulillah&#8230;tidak susah mendapatkan tulisan-tulisan ulama tentang hal ini&#8230;tetapi&#8230;orang-orang yang emang suka berdusta untuk menutupi kebatilannya&#8230;telah tertutup hatinya&#8230;Alloohu musta&#8217;an,nas`alulloohassalaamah wal &#8216;aafiyah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fatimah al haddar</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2534</link>
		<dc:creator>fatimah al haddar</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 09:49:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2534</guid>
		<description>mashallah,cuma masalah ucapan salam ja,di permasalahin
alyhi salam _ kan artinya salam atasnya..masa salam kayk gni d haramin,sdangkn setiap orang d zamn dewasa ini slalu mengatakan &quot; ibu salam atas mu dari ayah(umi salam alayk min abi)&quot;,tu kan sama hanya saja paki bhsa indonesia ,,
janagnlah masalah2 ini menjadi perpecahan,marilah kita bersatu,sesungguhnya persatuan sunni syiah sangat di takuti oleh zionist...
SUNNI SYI&#039;AH BERSATU !!

LA SUNNI LA SYI&#039;AH,TSUMMA NA&#039;AM ISLMA RAHMATAN LIL &#039;ALAMIN</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mashallah,cuma masalah ucapan salam ja,di permasalahin<br />
alyhi salam _ kan artinya salam atasnya..masa salam kayk gni d haramin,sdangkn setiap orang d zamn dewasa ini slalu mengatakan &#8221; ibu salam atas mu dari ayah(umi salam alayk min abi)&#8221;,tu kan sama hanya saja paki bhsa indonesia ,,<br />
janagnlah masalah2 ini menjadi perpecahan,marilah kita bersatu,sesungguhnya persatuan sunni syiah sangat di takuti oleh zionist&#8230;<br />
SUNNI SYI&#8217;AH BERSATU !!</p>
<p>LA SUNNI LA SYI&#8217;AH,TSUMMA NA&#8217;AM ISLMA RAHMATAN LIL &#8216;ALAMIN</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: armand</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2531</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 04:41:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2531</guid>
		<description>@muhammadon

&lt;blockquote&gt;Tapi yang jelas, sebagian besar ulama’ mentafsiri bahwa yang dimaksudkan dalam kalimat “ashabii”, adalah sahabat yang dikhususkan karena lebih dulu masuk islam daripada orang yang dikhitab. &lt;/blockquote&gt;

Sebenarnya makna “ashabii” yg demikian tetap berpotensi menimbulkan masalah.  Kenapa?

(1)  Apakah Nabi saw jg membeda-bedakan kedudukan sahabat-sahabat Beliau?  
Jika tdk, maka anda mesti mengakui bahwa pengertian yg diberikan oleh para ulama tsb hanya mengada-ada dari apa yg dimaksud oleh Nabi saw.   
Jika ya, maka mengapa Rasul saw tdk pernah menggunakan istilah yg berbeda selain menggunakan “ashabii” dalam setiap ucapannya mengenai sahabat?   Apakah semua ucapan “ashabii” oleh Nabi saw akhirnya akan bermakna sahabat yg khusus?

(2)  Apakah pengertian “sahabat yang dikhususkan” ini sdh menjadi pedoman umum bagi ahlussunnah?  Bagaimana membedakannya dgn pendapat ibnu Hajar?  Siapa2 sahabat yg dianggap lebih dulu masuk Islam?  Khusus ini apakah berarti memiliki keutamaan yang lebih dari yang lain?  

Tolong dijawab mas.

Dengan hujjah ini, berarti Nabi saw sedang berbicara kepada sahabat yg tdk khusus atau sahabat yg belakangan masuk Islam termasuk Khalid bin Walid dan Abu Sa’id Al Khudri RA serta beberapa sahabat lain.  Benarkah?  Bisakah mas menyebutkan  siapa-siapa saja yg diajak berbicara oleh Nabi saw saat itu, agar kita bisa membuktikan bahwa beberapa sahabat yg masuk Islam lebih awal tdk termasuk di dalamnya?

&lt;blockquote&gt;Inti dari larangan Nabi adalah larangan mencaci orang2 sebelumnya, dan tidak diberlakukan hanya untuk Khalid bin Walid, karena Nabi menyatakan dengan kalimat jamak sebagai satu isyarat diberlakukan pula bagi orang2 selain sahabat seperti kita saat ini. &lt;/blockquote&gt;

Untuk dalih ini sy tdk akan menentang, karna tentu saja larangan mencaci-maki mestinya ditujukan kepada semua umat yang mengaku umat Muhammad saw.   Namun tetap saja terbentur pada makna “ashabii”, bukan?

&lt;blockquote&gt;Coba anda perhatikan ayat berikut :
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan puasa dengan menggunakan khitab “ عَلَيْكُمْ “, jika khitab ini hanya diberlakukan untuk sahabat yang hadir waktu turunnya ayat ini, niscaya puasa tidak wajib bagi anda. Namun tidak demikian, walaupun menggunakan khitab, tapi perintah (kewajiban) puasa ini diberlakukan juga untuk setiap muslimin walaupun setelah masa sahabat. &lt;/blockquote&gt;

Dalil penggunaan khitab “alaikum” ini tdk membantu sedikit pun hujjah anda yg memisahkan sahabat khusus dgn yg bukan atau pun hujjah ucapan Nabi saw yg ditujukan ke hanya umat2 sekarang.    Dan sy kira di semua ayat dalam AQ yg menggunakan khitab “’alaikum” juga ditujukan kepada umat yg sekarang, kecuali ayat2 tertentu khusus utk Nabi saw. 

&lt;blockquote&gt;Memang mas, permasalahan ini tidak akan bisa dipahami keculai oleh orang yang telah mempelajari ilmu bahasa dan usul fikh. &lt;/blockquote&gt;

Anda keliru, ini hanyalah masalah bahasa sehari-hari yg semua orang mampu melihat kejanggalannya bahkan oleh orang2 spt anda sekali pun.  Jika anda menganggap ini bkn masalah yg mudah, dan harus menguasai usul fiqh, maka mestinya anda tdk menampilkannya ke umum atau anda sdh memiliki ilmu ini utk menjelaskannya. 

&lt;blockquote&gt;dugaan itu muncul dari tulisan anda sendiri, gimana jawaban anda pada komentar ana tentang “keutamaan sahabat dalam sedekah tidak bisa disamai oleh lainnya”, anda menuliskan tentang perang Uhud lalu anda katakan “ berapa banyak sahabat yang lari dari peperangan itu ?”, apa hubungannya mas ?, kenapa anda pertanyakan sahabat yang lari dari perang Uhud ? sungguh jauh dari sasaran bahkan bertolak belakang 180 derajat. 
Orang yang membaca tulisan anda pasti beranggapan bahwa anda pembenci sahabat… mencoba menunjukkan hal2 yang anda anggap sebagai kejelekan sahabat sebagai hujjah untuk mencaci mereka ???
Klarifikasi lagi tulisan anda biar gak mendatangkan praduga seperti itu…. Sebelum anda beruasaha mengelak dari tuduhan2 seperti ini…&lt;/blockquote&gt;

Sebenarnya jawabannya gampang mas.  Anda mengakui tdk kebenaran riwayat bahwa sebagian sahabat melarikan diri di perang Uhud?  Jika ya, maka perbedaan anda dgn saya adalah hanya sy mengutarakannya di sini, sedang anda tdk.  Jika anda berprasangka buruk kepada sy thd hal itu maka itu salah anda.  Sy menyampaikannya tanpa tendensi kebencian, sama spt pada penulis/penyusun kitab2 yg meriwayatkan peristiwa tsb. Sebaiknya anda klarifikasi dulu apa maksud sy menyampaikan hal tsb sebelum menuduh.  Toh sy jg kan tdk berniat utk meneruskan permasalah perang Uhud ini, spt yg sy katakan sebelumnya &lt;strong&gt;Anda betul, sy ga perlu menampilkan keheranan sy ini&lt;/strong&gt;.

Mohon djawab pertanyaan2 sy mas sebelum mengajukan pertanyaan.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@muhammadon</p>
<blockquote><p>Tapi yang jelas, sebagian besar ulama’ mentafsiri bahwa yang dimaksudkan dalam kalimat “ashabii”, adalah sahabat yang dikhususkan karena lebih dulu masuk islam daripada orang yang dikhitab. </p></blockquote>
<p>Sebenarnya makna “ashabii” yg demikian tetap berpotensi menimbulkan masalah.  Kenapa?</p>
<p>(1)  Apakah Nabi saw jg membeda-bedakan kedudukan sahabat-sahabat Beliau?<br />
Jika tdk, maka anda mesti mengakui bahwa pengertian yg diberikan oleh para ulama tsb hanya mengada-ada dari apa yg dimaksud oleh Nabi saw.<br />
Jika ya, maka mengapa Rasul saw tdk pernah menggunakan istilah yg berbeda selain menggunakan “ashabii” dalam setiap ucapannya mengenai sahabat?   Apakah semua ucapan “ashabii” oleh Nabi saw akhirnya akan bermakna sahabat yg khusus?</p>
<p>(2)  Apakah pengertian “sahabat yang dikhususkan” ini sdh menjadi pedoman umum bagi ahlussunnah?  Bagaimana membedakannya dgn pendapat ibnu Hajar?  Siapa2 sahabat yg dianggap lebih dulu masuk Islam?  Khusus ini apakah berarti memiliki keutamaan yang lebih dari yang lain?  </p>
<p>Tolong dijawab mas.</p>
<p>Dengan hujjah ini, berarti Nabi saw sedang berbicara kepada sahabat yg tdk khusus atau sahabat yg belakangan masuk Islam termasuk Khalid bin Walid dan Abu Sa’id Al Khudri RA serta beberapa sahabat lain.  Benarkah?  Bisakah mas menyebutkan  siapa-siapa saja yg diajak berbicara oleh Nabi saw saat itu, agar kita bisa membuktikan bahwa beberapa sahabat yg masuk Islam lebih awal tdk termasuk di dalamnya?</p>
<blockquote><p>Inti dari larangan Nabi adalah larangan mencaci orang2 sebelumnya, dan tidak diberlakukan hanya untuk Khalid bin Walid, karena Nabi menyatakan dengan kalimat jamak sebagai satu isyarat diberlakukan pula bagi orang2 selain sahabat seperti kita saat ini. </p></blockquote>
<p>Untuk dalih ini sy tdk akan menentang, karna tentu saja larangan mencaci-maki mestinya ditujukan kepada semua umat yang mengaku umat Muhammad saw.   Namun tetap saja terbentur pada makna “ashabii”, bukan?</p>
<blockquote><p>Coba anda perhatikan ayat berikut :<br />
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan puasa dengan menggunakan khitab “ عَلَيْكُمْ “, jika khitab ini hanya diberlakukan untuk sahabat yang hadir waktu turunnya ayat ini, niscaya puasa tidak wajib bagi anda. Namun tidak demikian, walaupun menggunakan khitab, tapi perintah (kewajiban) puasa ini diberlakukan juga untuk setiap muslimin walaupun setelah masa sahabat. </p></blockquote>
<p>Dalil penggunaan khitab “alaikum” ini tdk membantu sedikit pun hujjah anda yg memisahkan sahabat khusus dgn yg bukan atau pun hujjah ucapan Nabi saw yg ditujukan ke hanya umat2 sekarang.    Dan sy kira di semua ayat dalam AQ yg menggunakan khitab “’alaikum” juga ditujukan kepada umat yg sekarang, kecuali ayat2 tertentu khusus utk Nabi saw. </p>
<blockquote><p>Memang mas, permasalahan ini tidak akan bisa dipahami keculai oleh orang yang telah mempelajari ilmu bahasa dan usul fikh. </p></blockquote>
<p>Anda keliru, ini hanyalah masalah bahasa sehari-hari yg semua orang mampu melihat kejanggalannya bahkan oleh orang2 spt anda sekali pun.  Jika anda menganggap ini bkn masalah yg mudah, dan harus menguasai usul fiqh, maka mestinya anda tdk menampilkannya ke umum atau anda sdh memiliki ilmu ini utk menjelaskannya. </p>
<blockquote><p>dugaan itu muncul dari tulisan anda sendiri, gimana jawaban anda pada komentar ana tentang “keutamaan sahabat dalam sedekah tidak bisa disamai oleh lainnya”, anda menuliskan tentang perang Uhud lalu anda katakan “ berapa banyak sahabat yang lari dari peperangan itu ?”, apa hubungannya mas ?, kenapa anda pertanyakan sahabat yang lari dari perang Uhud ? sungguh jauh dari sasaran bahkan bertolak belakang 180 derajat.<br />
Orang yang membaca tulisan anda pasti beranggapan bahwa anda pembenci sahabat… mencoba menunjukkan hal2 yang anda anggap sebagai kejelekan sahabat sebagai hujjah untuk mencaci mereka ???<br />
Klarifikasi lagi tulisan anda biar gak mendatangkan praduga seperti itu…. Sebelum anda beruasaha mengelak dari tuduhan2 seperti ini…</p></blockquote>
<p>Sebenarnya jawabannya gampang mas.  Anda mengakui tdk kebenaran riwayat bahwa sebagian sahabat melarikan diri di perang Uhud?  Jika ya, maka perbedaan anda dgn saya adalah hanya sy mengutarakannya di sini, sedang anda tdk.  Jika anda berprasangka buruk kepada sy thd hal itu maka itu salah anda.  Sy menyampaikannya tanpa tendensi kebencian, sama spt pada penulis/penyusun kitab2 yg meriwayatkan peristiwa tsb. Sebaiknya anda klarifikasi dulu apa maksud sy menyampaikan hal tsb sebelum menuduh.  Toh sy jg kan tdk berniat utk meneruskan permasalah perang Uhud ini, spt yg sy katakan sebelumnya <strong>Anda betul, sy ga perlu menampilkan keheranan sy ini</strong>.</p>
<p>Mohon djawab pertanyaan2 sy mas sebelum mengajukan pertanyaan.</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: muhammadon</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2467</link>
		<dc:creator>muhammadon</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Mar 2010 09:10:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2467</guid>
		<description>@ armand, anda katakan &lt;em&gt;“Tidakkah anda melihat kelemahan hujjah ini dan betapa jauh panggang dari api? Sy heran bila kita menerima mentah-mentah hujjah ini.”&lt;/em&gt; 
= memang mas, pendapat ini pun ditolak oleh kalangan ulama’ ahli hadits, makanya ana tampilkan belakangan sebagai teks wacana dan pengetahuan aja. Tapi yang jelas, sebagian besar ulama’ mentafsiri bahwa yang dimaksudkan dalam kalimat &lt;em&gt;&lt;strong&gt;“ashabii”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;, adalah sahabat yang dikhususkan karena lebih dulu masuk islam daripada orang yang dikhitab. Inti dari larangan Nabi adalah larangan mencaci orang2 sebelumnya, dan tidak diberlakukan hanya untuk Khalid bin Walid, karena Nabi menyatakan dengan kalimat jamak sebagai satu isyarat diberlakukan pula bagi orang2 selain sahabat seperti kita saat ini.
Anda katakan :&lt;em&gt;” Hujjah yg mana yg anda pakai? Hujjah sahabat yg memiliki makna khusus ataukah hujjah makna “kalian” diperuntukkan utk umat yg setelah masa sahabat? Kedua-duanya saling berlawanan. Jika anda menggunakan hujjah yg kedua, maka tdk ada artinya memunculkan istilah “sahabat secara khusus” di hujjah pertama”&lt;/em&gt;
= perihal hujjah yang mana yang anda pakai, sebenarnya tidak ada bedanya karena keduanya juga berpendapat bahwa larangan mencaci sahabat jg berlaku pula bagi kita, dan keduanya pun tidak menafikan bahwa yang dikhitob oleh Nabi saat itu bukan sahabat, sehingga gak bisa kita katakan saling berlawanan, hanya berbeda pandangan aja. Pendapat pertama yang menyatakan &lt;strong&gt;“ashabi”&lt;/strong&gt; adalah sahabat yang lebih dulu islamnya, karena Nabi menggunakan khitob, sehingga tidak bisa diarahkan hanya untuk orang yang datang setelah masa mereka tanpa memberlakukan kepada sahabat yang hadir saat itu. Sedangkan pendapat kedua karena beranggapan bahwa khitob Nabi waktu itu akan menafikan sifat sahabat pada orang2 yang hadir waktu itu. Hal itu tidak mungkin, sehingga diarahkan secara majas untuk orang yang akan datang setelah masa sahabat.
Coba anda perhatikan ayat berikut :
&lt;strong&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ&lt;/strong&gt;
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan puasa dengan menggunakan khitab &lt;strong&gt;“ عَلَيْكُمْ “&lt;/strong&gt;, jika khitab ini hanya diberlakukan untuk sahabat yang hadir waktu turunnya ayat ini, niscaya puasa tidak wajib bagi anda. Namun tidak demikian, walaupun menggunakan khitab, tapi perintah (kewajiban) puasa ini diberlakukan juga untuk setiap muslimin walaupun setelah masa sahabat.
Memang mas, permasalahn ini tidak akan bisa dipahami keculai oleh orang yang telah mempelajari ilmu bahasa dan usul fikh.
Anda katakan &lt;em&gt;“Anda keliru di bagian ini. Tdk ada di hati sy kebencian kepada para sahabat. Kecintaan kita kepada seseorang atau sekelompok orang tdk boleh disertai dgn kebencian kepada kelompok lain yg kita anggap berbeda”&lt;/em&gt;. = dugaan itu muncul dari tulisan anda sendiri, gimana jawaban anda pada komentar ana tentang&lt;strong&gt; “keutamaan sahabat dalam sedekah tidak bisa disamai oleh lainnya”&lt;/strong&gt;, anda menuliskan tentang perang Uhud lalu anda katakan &lt;strong&gt;“ berapa banyak sahabat yang lari dari peperangan itu ?”&lt;/strong&gt;, apa hubungannya mas ?, kenapa anda pertanyakan sahabat yang lari dari perang Uhud ? sungguh jauh dari sasaran bahkan bertolak belakang 180 derajat. Orang yang membaca tulisan anda pasti beranggapan bahwa anda pembenci sahabat… mencoba menunjukkan hal2 yang anda anggap sebagai kejelekan sahabat sebagai hujjah untuk mencaci mereka ???
Klarifikasi lagi tulisan anda biar gak mendatangkan praduga seperti itu…. Sebelum anda beruasaha mengelak dari tuduhan2 seperti ini…</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ armand, anda katakan <em>“Tidakkah anda melihat kelemahan hujjah ini dan betapa jauh panggang dari api? Sy heran bila kita menerima mentah-mentah hujjah ini.”</em><br />
= memang mas, pendapat ini pun ditolak oleh kalangan ulama’ ahli hadits, makanya ana tampilkan belakangan sebagai teks wacana dan pengetahuan aja. Tapi yang jelas, sebagian besar ulama’ mentafsiri bahwa yang dimaksudkan dalam kalimat <em><strong>“ashabii”</strong></em>, adalah sahabat yang dikhususkan karena lebih dulu masuk islam daripada orang yang dikhitab. Inti dari larangan Nabi adalah larangan mencaci orang2 sebelumnya, dan tidak diberlakukan hanya untuk Khalid bin Walid, karena Nabi menyatakan dengan kalimat jamak sebagai satu isyarat diberlakukan pula bagi orang2 selain sahabat seperti kita saat ini.<br />
Anda katakan :<em>” Hujjah yg mana yg anda pakai? Hujjah sahabat yg memiliki makna khusus ataukah hujjah makna “kalian” diperuntukkan utk umat yg setelah masa sahabat? Kedua-duanya saling berlawanan. Jika anda menggunakan hujjah yg kedua, maka tdk ada artinya memunculkan istilah “sahabat secara khusus” di hujjah pertama”</em><br />
= perihal hujjah yang mana yang anda pakai, sebenarnya tidak ada bedanya karena keduanya juga berpendapat bahwa larangan mencaci sahabat jg berlaku pula bagi kita, dan keduanya pun tidak menafikan bahwa yang dikhitob oleh Nabi saat itu bukan sahabat, sehingga gak bisa kita katakan saling berlawanan, hanya berbeda pandangan aja. Pendapat pertama yang menyatakan <strong>“ashabi”</strong> adalah sahabat yang lebih dulu islamnya, karena Nabi menggunakan khitob, sehingga tidak bisa diarahkan hanya untuk orang yang datang setelah masa mereka tanpa memberlakukan kepada sahabat yang hadir saat itu. Sedangkan pendapat kedua karena beranggapan bahwa khitob Nabi waktu itu akan menafikan sifat sahabat pada orang2 yang hadir waktu itu. Hal itu tidak mungkin, sehingga diarahkan secara majas untuk orang yang akan datang setelah masa sahabat.<br />
Coba anda perhatikan ayat berikut :<br />
<strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong><br />
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan puasa dengan menggunakan khitab <strong>“ عَلَيْكُمْ “</strong>, jika khitab ini hanya diberlakukan untuk sahabat yang hadir waktu turunnya ayat ini, niscaya puasa tidak wajib bagi anda. Namun tidak demikian, walaupun menggunakan khitab, tapi perintah (kewajiban) puasa ini diberlakukan juga untuk setiap muslimin walaupun setelah masa sahabat.<br />
Memang mas, permasalahn ini tidak akan bisa dipahami keculai oleh orang yang telah mempelajari ilmu bahasa dan usul fikh.<br />
Anda katakan <em>“Anda keliru di bagian ini. Tdk ada di hati sy kebencian kepada para sahabat. Kecintaan kita kepada seseorang atau sekelompok orang tdk boleh disertai dgn kebencian kepada kelompok lain yg kita anggap berbeda”</em>. = dugaan itu muncul dari tulisan anda sendiri, gimana jawaban anda pada komentar ana tentang<strong> “keutamaan sahabat dalam sedekah tidak bisa disamai oleh lainnya”</strong>, anda menuliskan tentang perang Uhud lalu anda katakan <strong>“ berapa banyak sahabat yang lari dari peperangan itu ?”</strong>, apa hubungannya mas ?, kenapa anda pertanyakan sahabat yang lari dari perang Uhud ? sungguh jauh dari sasaran bahkan bertolak belakang 180 derajat. Orang yang membaca tulisan anda pasti beranggapan bahwa anda pembenci sahabat… mencoba menunjukkan hal2 yang anda anggap sebagai kejelekan sahabat sebagai hujjah untuk mencaci mereka ???<br />
Klarifikasi lagi tulisan anda biar gak mendatangkan praduga seperti itu…. Sebelum anda beruasaha mengelak dari tuduhan2 seperti ini…</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: armand</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2431</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 08:33:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2431</guid>
		<description>@muhammadon

Terima kasih sdh mau menanggapi.

Setahu sy, istilah “sahabat” adalah menggunakan definisi dari ibnu Hajar.  Sy tdk tau ada istilah lain “sahabat secara khusus”.  Nabi pun selalu menggunakan kata “sahabatku”, tdk ada kata-kata “sahabat secara khusus”.  Bila anda bisa mendefinikan “sahabat secara khusus” yang anda maksud, sy dgn senang hati ingin mendengarnya.  Dan siapa-siapa saja mereka ini?  Ini akan berakibat ada “sahabat-sahabat bukan sahabat khusus”.  Siapa-siapa pula mereka ini?
 
Dalam membaca hadits tsb, maka jika ia ditujukan kepada orang2 seperti Khalid bin Walid, maka konsekuensinya tentu Khalid bukan termasuk sahabat (bukan sahabat dalam arti khusus?).   Dan renungkanlah, selain Khalid juga termasuk sy kira adalah perawi yg mendengarkan ucapan Nabi saw ini.  Jika sy tdk keliru beliau adalah Abu Sa’id Al Khudri RA.  Gelar RA adalah gelar sahabat yg mestinya memiliki sejumlah keutamaan.  Apakah Abu Sa’id bukan termasuk “sahabat secara khusus”?

Kemudian anda berhujjah: 
&lt;em&gt;Sebagian ulama’ lain menyatakan bahwa orang yang dikhitab (yang diajak bicara) dalam hadits tersebut adalah orang yang akan datang setelah masa sahabat.&lt;/em&gt;

Tidakkah anda melihat kelemahan hujjah ini dan betapa jauh panggang dari api?  Sy heran bila kita menerima mentah-mentah hujjah ini.  
Kata “kalian” sdh pasti menunjukkan orang ke-2 yg sedang diajak bicara oleh Nabi saw.  Tidak ada pengertian lain.  Kecuali jika anda bisa meyakinkan sy, bagaimana kata “kalian” ini memungkinkan digunakan utk umat setelah masa sahabat dan bukan diperuntukkan yg sedang berhadapan dgn Nabi saw.

Jika “kalian” ditafsirkan sedemikian rupa melencengnya, maka sy khawatir semua hadits yg sampai ke kita tdk memiliki kesakralan/kevalidan, dan akan menjauh dari zhahir teksnya bahkan hadits2 yg mukhamat sekali pun.  Tdk masalah jika hadits2 itu adalah hadits2 yg memang dibutuhkan tafsiran ulama tentangnya.

Hujjah yg mana yg anda pakai?  Hujjah sahabat yg memiliki makna khusus ataukah hujjah makna &quot;kalian&quot; diperuntukkan utk umat yg setelah masa sahabat? Kedua-duanya saling berlawanan. Jika anda menggunakan hujjah yg kedua, maka tdk ada artinya memunculkan istilah &quot;sahabat secara khusus&quot; di hujjah pertama.

Kemudian mengenai gunung Uhud,

&lt;em&gt;mas, coba perhatikan baik2 kalimatnya, “seandainya kalian mensedekahkan semisal gunung Uhud emas”, inikan hanya sebatas permisalan aja, jadi gak ada hubungannya dengan peperangan Uhud… maksudnya : amal sahabat tidak akan bisa disamai dengan amalnya selain sahabat walaupun lebih banyak dari segi nominal. &lt;/em&gt;

Anda betul, sy ga perlu menampilkan keheranan sy ini.  

&lt;em&gt;Mas, jangan bawa kebencian anda kepada sahabat serta berpangku pada akal anda dalam mentafsiri hadits, bisa mengakibatkan penafsiran secara subyektif serta jauh dari maksud, namun dasari dengan husnudzon dengan mereka para sahabat …. &lt;/em&gt;

Anda keliru di bagian ini.  Tdk ada di hati sy kebencian kepada para sahabat.  Kecintaan kita kepada seseorang atau sekelompok orang tdk boleh disertai dgn kebencian kepada kelompok lain yg kita anggap berbeda.  Sy tdk berusaha menafsirkan hadits.  Sy hanya mengoreksi saja yg menurut ilmu yg sy peroleh.  Jika tdk diperbolehkan, maka tdk akan terjadi dialog.  Jika anda yakin akan keshahihan matan hadits ini, tolong yakinkan ke sy dan mari kita berdiskusi.  Sy berharap kita tdk mendikotomi akal dan ilmiah, karna dua-duanya tdklah dapat dipisahkan.

&lt;em&gt;Mohon cerna lagi segala kalimat dalam komentar2 yang masuk dengan kepala dingin, bukan dengan emosi… kita disini sama2 mencari kebenaran, saling mencari dan memberi kemanfaatan kepada umat islam.. &lt;/&lt;em&gt;

Terima kasih atas nasehatnya.  Tapi apa yg sy tulis adalah dgn kepala dingin.  Karena apa perlunya sy melakukannya dgn emosi?  Mari kita berdiskusi dgn santun dan mudah2an dapat memberikan manfaat bagi yang membaca.

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@muhammadon</p>
<p>Terima kasih sdh mau menanggapi.</p>
<p>Setahu sy, istilah “sahabat” adalah menggunakan definisi dari ibnu Hajar.  Sy tdk tau ada istilah lain “sahabat secara khusus”.  Nabi pun selalu menggunakan kata “sahabatku”, tdk ada kata-kata “sahabat secara khusus”.  Bila anda bisa mendefinikan “sahabat secara khusus” yang anda maksud, sy dgn senang hati ingin mendengarnya.  Dan siapa-siapa saja mereka ini?  Ini akan berakibat ada “sahabat-sahabat bukan sahabat khusus”.  Siapa-siapa pula mereka ini?</p>
<p>Dalam membaca hadits tsb, maka jika ia ditujukan kepada orang2 seperti Khalid bin Walid, maka konsekuensinya tentu Khalid bukan termasuk sahabat (bukan sahabat dalam arti khusus?).   Dan renungkanlah, selain Khalid juga termasuk sy kira adalah perawi yg mendengarkan ucapan Nabi saw ini.  Jika sy tdk keliru beliau adalah Abu Sa’id Al Khudri RA.  Gelar RA adalah gelar sahabat yg mestinya memiliki sejumlah keutamaan.  Apakah Abu Sa’id bukan termasuk “sahabat secara khusus”?</p>
<p>Kemudian anda berhujjah:<br />
<em>Sebagian ulama’ lain menyatakan bahwa orang yang dikhitab (yang diajak bicara) dalam hadits tersebut adalah orang yang akan datang setelah masa sahabat.</em></p>
<p>Tidakkah anda melihat kelemahan hujjah ini dan betapa jauh panggang dari api?  Sy heran bila kita menerima mentah-mentah hujjah ini.<br />
Kata “kalian” sdh pasti menunjukkan orang ke-2 yg sedang diajak bicara oleh Nabi saw.  Tidak ada pengertian lain.  Kecuali jika anda bisa meyakinkan sy, bagaimana kata “kalian” ini memungkinkan digunakan utk umat setelah masa sahabat dan bukan diperuntukkan yg sedang berhadapan dgn Nabi saw.</p>
<p>Jika “kalian” ditafsirkan sedemikian rupa melencengnya, maka sy khawatir semua hadits yg sampai ke kita tdk memiliki kesakralan/kevalidan, dan akan menjauh dari zhahir teksnya bahkan hadits2 yg mukhamat sekali pun.  Tdk masalah jika hadits2 itu adalah hadits2 yg memang dibutuhkan tafsiran ulama tentangnya.</p>
<p>Hujjah yg mana yg anda pakai?  Hujjah sahabat yg memiliki makna khusus ataukah hujjah makna &#8220;kalian&#8221; diperuntukkan utk umat yg setelah masa sahabat? Kedua-duanya saling berlawanan. Jika anda menggunakan hujjah yg kedua, maka tdk ada artinya memunculkan istilah &#8220;sahabat secara khusus&#8221; di hujjah pertama.</p>
<p>Kemudian mengenai gunung Uhud,</p>
<p><em>mas, coba perhatikan baik2 kalimatnya, “seandainya kalian mensedekahkan semisal gunung Uhud emas”, inikan hanya sebatas permisalan aja, jadi gak ada hubungannya dengan peperangan Uhud… maksudnya : amal sahabat tidak akan bisa disamai dengan amalnya selain sahabat walaupun lebih banyak dari segi nominal. </em></p>
<p>Anda betul, sy ga perlu menampilkan keheranan sy ini.  </p>
<p><em>Mas, jangan bawa kebencian anda kepada sahabat serta berpangku pada akal anda dalam mentafsiri hadits, bisa mengakibatkan penafsiran secara subyektif serta jauh dari maksud, namun dasari dengan husnudzon dengan mereka para sahabat …. </em></p>
<p>Anda keliru di bagian ini.  Tdk ada di hati sy kebencian kepada para sahabat.  Kecintaan kita kepada seseorang atau sekelompok orang tdk boleh disertai dgn kebencian kepada kelompok lain yg kita anggap berbeda.  Sy tdk berusaha menafsirkan hadits.  Sy hanya mengoreksi saja yg menurut ilmu yg sy peroleh.  Jika tdk diperbolehkan, maka tdk akan terjadi dialog.  Jika anda yakin akan keshahihan matan hadits ini, tolong yakinkan ke sy dan mari kita berdiskusi.  Sy berharap kita tdk mendikotomi akal dan ilmiah, karna dua-duanya tdklah dapat dipisahkan.</p>
<p><em>Mohon cerna lagi segala kalimat dalam komentar2 yang masuk dengan kepala dingin, bukan dengan emosi… kita disini sama2 mencari kebenaran, saling mencari dan memberi kemanfaatan kepada umat islam.. &lt;/</em><em></p>
<p>Terima kasih atas nasehatnya.  Tapi apa yg sy tulis adalah dgn kepala dingin.  Karena apa perlunya sy melakukannya dgn emosi?  Mari kita berdiskusi dgn santun dan mudah2an dapat memberikan manfaat bagi yang membaca.</p>
<p>Salam</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: muhammadon</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2426</link>
		<dc:creator>muhammadon</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Mar 2010 03:30:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2426</guid>
		<description>@ armand, mas, sebelum anda mengomentari saran ana cek dulu di kitab syarh-nya, biar anda gak salah paham lagi……
Disebutkan di kitab Fathul Bari, bahwa yang dimaksudkan dalam kalimat sahabat di atas adalah sahabat secara khusus yaitu yang lebih dahulu masuk islam, karena sebab hadits di atas adalah terjadinya perselisihan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin ‘Auf sampai berakibat keluar ucapan kasar dari Khalid. Abdurrahman bin ‘Auf lebih dulu islamnya daripada Khalid, namun demikian, bukanlah berarti maksud dari hadits di atas adalah menghilangkna sifat sahabat pada Khalid bin Walid. Sebagian ulama’ lain menyatakan bahwa orang yang dikhitab (yang diajak bicara) dalam hadits tersebut adalah orang yang akan datang setelah masa sahabat.
Hadits larangan mencaci sahabat ini, walaupun sebab turunnya berupa kejadian khusus, namun diberlakukan juga kepada semua orang selain sahabat (setelah zaman sahabat).
فتح الباري لابن حجر - (ج 10 / ص 468)
قَوْله : ( لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ) وَقَعَ فِي رِوَايَة جَرِير وَمُحَاضِر عَنْ الْأَعْمَش - وَكَذَا فِي رِوَايَة عَاصِم عَنْ أَبِي صَالِح - ذِكْر سَبَب لِهَذَا الْحَدِيث ، وَهُوَ مَا وَقَعَ فِي أَوَّله قَالَ : &quot; كَانَ بَيْن خَالِد بْن الْوَلِيد وَعَبْد الرَّحْمَن بْن عَوْف شَيْء ، فَسَبَّهُ خَالِد &quot; ، فَذَكَرَ الْحَدِيث وَسَيَأْتِي بَيَان مَنْ أَخْرَجَهُ . قَوْله : ( فَلَوْ أَنَّ أَحَدكُمْ ) فِيهِ إِشْعَار بِأَنَّ الْمُرَاد بِقَوْلِهِ أَوَّلًا &quot; أَصْحَابِي &quot; أَصْحَاب مَخْصُوصُونَ ، وَإِلَّا فَالْخِطَاب كَانَ لِلصَّحَابَةِ ، وَقَدْ قَالَ &quot; لَوْ أَنَّ أَحَدكُمْ أَنْفَقَ &quot; وَهَذَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى : ( لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْل الْفَتْح وَقَاتَلَ ) الْآيَة ، وَمَعَ ذَلِكَ فَنَهْي بَعْض مَنْ أَدْرَكَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَاطَبَهُ بِذَلِكَ عَنْ سَبّ مَنْ سَبَقَهُ يَقْتَضِي زَجْر مَنْ لَمْ يُدْرِك النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يُخَاطِبهُ عَنْ سَبّ مَنْ سَبَقَهُ مِنْ بَاب الْأَوْلَى ،

Anda katakan &lt;em&gt;“Semisal gunung Uhud? Aneh. Coba anda buka lagi sejarah. Apa hasil dari peperangan itu dan berapa banyak sahabat yg lari darinya?”,&lt;/em&gt; 
= mas, coba perhatikan baik2 kalimatnya, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;“seandainya kalian mensedekahkan semisal gunung Uhud emas”,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; inikan hanya sebatas permisalan aja, jadi gak ada hubungannya dengan peperangan Uhud… maksudnya : amal sahabat tidak akan bisa disamai dengan amalnya selain sahabat walaupun lebih banyak dari segi nominal.
Mas, jangan bawa kebencian anda kepada sahabat serta berpangku pada akal anda dalam mentafsiri hadits, bisa mengakibatkan penafsiran secara subyektif serta jauh dari maksud, namun dasari dengan husnudzon dengan mereka para sahabat …. Mohon cerna lagi segala kalimat dalam komentar2 yang masuk dengan kepala dingin, bukan dengan emosi… kita disini sama2 mencari kebenaran, saling mencari dan memberi kemanfaatan kepada umat islam..
فتح الباري لابن حجر - (ج 10 / ص 468)
قَالَ الْبَيْضَاوِيّ : مَعْنَى الْحَدِيث لَا يَنَال أَحَدكُمْ بِإِنْفَاقِ مِثْل أُحُد ذَهَبًا مِنْ الْفَضْل وَالْأَجْر مَا يَنَال أَحَدهمْ بِإِنْفَاقِ مُدّ طَعَام أَوْ نَصِيفه . وَسَبَب التَّفَاوُت مَا يُقَارِن الْأَفْضَل مِنْ مَزِيد الْإِخْلَاص وَصِدْق النِّيَّة . قُلْت : وَأَعْظَم مِنْ ذَلِكَ فِي سَبَب الْأَفْضَلِيَّة عِظَم مَوْقِع ذَلِكَ لِشِدَّةِ الِاحْتِيَاج إِلَيْهِ ، وَأَشَارَ بِالْأَفْضَلِيَّةِ بِسَبَبِ الْإِنْفَاق إِلَى الْأَفْضَلِيَّة بِسَبَبِ الْقِتَال كَمَا وَقَعَ فِي الْآيَة ( مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْل الْفَتْح وَقَاتَلَ ) فَإِنَّ فِيهَا إِشَارَة إِلَى مَوْقِع السَّبَب الَّذِي ذَكَرْته ، وَذَلِكَ أَنَّ الْإِنْفَاق وَالْقِتَال كَانَ قَبْل فَتْح مَكَّة عَظِيمًا لِشِدَّةِ الْحَاجَة إِلَيْهِ وَقِلَّة الْمُعْتَنَى بِهِ بِخِلَافِ مَا وَقَعَ بَعْد ذَلِكَ لِأَنَّ الْمُسْلِمِينَ كَثُرُوا بَعْد الْفَتْح وَدَخَلَ النَّاس فِي دِين اللَّه أَفْوَاجًا ، فَإِنَّهُ لَا يَقَع ذَلِكَ الْمَوْقِع الْمُتَقَدِّم . وَاللَّهُ أَعْلَمُ .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ armand, mas, sebelum anda mengomentari saran ana cek dulu di kitab syarh-nya, biar anda gak salah paham lagi……<br />
Disebutkan di kitab Fathul Bari, bahwa yang dimaksudkan dalam kalimat sahabat di atas adalah sahabat secara khusus yaitu yang lebih dahulu masuk islam, karena sebab hadits di atas adalah terjadinya perselisihan antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin ‘Auf sampai berakibat keluar ucapan kasar dari Khalid. Abdurrahman bin ‘Auf lebih dulu islamnya daripada Khalid, namun demikian, bukanlah berarti maksud dari hadits di atas adalah menghilangkna sifat sahabat pada Khalid bin Walid. Sebagian ulama’ lain menyatakan bahwa orang yang dikhitab (yang diajak bicara) dalam hadits tersebut adalah orang yang akan datang setelah masa sahabat.<br />
Hadits larangan mencaci sahabat ini, walaupun sebab turunnya berupa kejadian khusus, namun diberlakukan juga kepada semua orang selain sahabat (setelah zaman sahabat).<br />
فتح الباري لابن حجر &#8211; (ج 10 / ص 468)<br />
قَوْله : ( لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي ) وَقَعَ فِي رِوَايَة جَرِير وَمُحَاضِر عَنْ الْأَعْمَش &#8211; وَكَذَا فِي رِوَايَة عَاصِم عَنْ أَبِي صَالِح &#8211; ذِكْر سَبَب لِهَذَا الْحَدِيث ، وَهُوَ مَا وَقَعَ فِي أَوَّله قَالَ : &#8221; كَانَ بَيْن خَالِد بْن الْوَلِيد وَعَبْد الرَّحْمَن بْن عَوْف شَيْء ، فَسَبَّهُ خَالِد &#8221; ، فَذَكَرَ الْحَدِيث وَسَيَأْتِي بَيَان مَنْ أَخْرَجَهُ . قَوْله : ( فَلَوْ أَنَّ أَحَدكُمْ ) فِيهِ إِشْعَار بِأَنَّ الْمُرَاد بِقَوْلِهِ أَوَّلًا &#8221; أَصْحَابِي &#8221; أَصْحَاب مَخْصُوصُونَ ، وَإِلَّا فَالْخِطَاب كَانَ لِلصَّحَابَةِ ، وَقَدْ قَالَ &#8221; لَوْ أَنَّ أَحَدكُمْ أَنْفَقَ &#8221; وَهَذَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى : ( لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْل الْفَتْح وَقَاتَلَ ) الْآيَة ، وَمَعَ ذَلِكَ فَنَهْي بَعْض مَنْ أَدْرَكَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخَاطَبَهُ بِذَلِكَ عَنْ سَبّ مَنْ سَبَقَهُ يَقْتَضِي زَجْر مَنْ لَمْ يُدْرِك النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يُخَاطِبهُ عَنْ سَبّ مَنْ سَبَقَهُ مِنْ بَاب الْأَوْلَى ،</p>
<p>Anda katakan <em>“Semisal gunung Uhud? Aneh. Coba anda buka lagi sejarah. Apa hasil dari peperangan itu dan berapa banyak sahabat yg lari darinya?”,</em><br />
= mas, coba perhatikan baik2 kalimatnya, <strong><em>“seandainya kalian mensedekahkan semisal gunung Uhud emas”,</em></strong> inikan hanya sebatas permisalan aja, jadi gak ada hubungannya dengan peperangan Uhud… maksudnya : amal sahabat tidak akan bisa disamai dengan amalnya selain sahabat walaupun lebih banyak dari segi nominal.<br />
Mas, jangan bawa kebencian anda kepada sahabat serta berpangku pada akal anda dalam mentafsiri hadits, bisa mengakibatkan penafsiran secara subyektif serta jauh dari maksud, namun dasari dengan husnudzon dengan mereka para sahabat …. Mohon cerna lagi segala kalimat dalam komentar2 yang masuk dengan kepala dingin, bukan dengan emosi… kita disini sama2 mencari kebenaran, saling mencari dan memberi kemanfaatan kepada umat islam..<br />
فتح الباري لابن حجر &#8211; (ج 10 / ص 468)<br />
قَالَ الْبَيْضَاوِيّ : مَعْنَى الْحَدِيث لَا يَنَال أَحَدكُمْ بِإِنْفَاقِ مِثْل أُحُد ذَهَبًا مِنْ الْفَضْل وَالْأَجْر مَا يَنَال أَحَدهمْ بِإِنْفَاقِ مُدّ طَعَام أَوْ نَصِيفه . وَسَبَب التَّفَاوُت مَا يُقَارِن الْأَفْضَل مِنْ مَزِيد الْإِخْلَاص وَصِدْق النِّيَّة . قُلْت : وَأَعْظَم مِنْ ذَلِكَ فِي سَبَب الْأَفْضَلِيَّة عِظَم مَوْقِع ذَلِكَ لِشِدَّةِ الِاحْتِيَاج إِلَيْهِ ، وَأَشَارَ بِالْأَفْضَلِيَّةِ بِسَبَبِ الْإِنْفَاق إِلَى الْأَفْضَلِيَّة بِسَبَبِ الْقِتَال كَمَا وَقَعَ فِي الْآيَة ( مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْل الْفَتْح وَقَاتَلَ ) فَإِنَّ فِيهَا إِشَارَة إِلَى مَوْقِع السَّبَب الَّذِي ذَكَرْته ، وَذَلِكَ أَنَّ الْإِنْفَاق وَالْقِتَال كَانَ قَبْل فَتْح مَكَّة عَظِيمًا لِشِدَّةِ الْحَاجَة إِلَيْهِ وَقِلَّة الْمُعْتَنَى بِهِ بِخِلَافِ مَا وَقَعَ بَعْد ذَلِكَ لِأَنَّ الْمُسْلِمِينَ كَثُرُوا بَعْد الْفَتْح وَدَخَلَ النَّاس فِي دِين اللَّه أَفْوَاجًا ، فَإِنَّهُ لَا يَقَع ذَلِكَ الْمَوْقِع الْمُتَقَدِّم . وَاللَّهُ أَعْلَمُ .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: armand</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2408</link>
		<dc:creator>armand</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 02:49:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2408</guid>
		<description>@muhammadon

Hadits yg anda bawakan ini tolong dicek ulang.  Matannya bermasalah.

&lt;blockquote&gt;“jangan kalian caci sahabat2-ku, demi Allah, seandainya kalian mensedekahkan semisal gunung Uhud emas, tidak akan menyamai sedekah mereka (sahabat-ku) dan tidak pula setengahnya”&lt;/blockquote&gt;

Lihat ini:

(1) Kepada siapakah Nabi saw sedang berbicara?  Kepada selain sahabatkah atau kepada sahabat?  Jika kepada sahabat, mengapa Nabi saw menggunakan kata ganti orang ke-3? 
&quot;Jangan kalian caci sahabat2-ku&quot;.  Sahabat di sini menjadi orang ke-3.  Sedangkan yang diajak bicara selalu orang ke-2.  Artinya Nabi saw sedang berbicara kepada selain sahabat.  Lalu siapa mereka?

(2) Semisal gunung Uhud?  Aneh.  Coba anda buka lagi sejarah.  Apa hasil dari peperangan itu dan berapa banyak sahabat yg lari darinya?

Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@muhammadon</p>
<p>Hadits yg anda bawakan ini tolong dicek ulang.  Matannya bermasalah.</p>
<blockquote><p>“jangan kalian caci sahabat2-ku, demi Allah, seandainya kalian mensedekahkan semisal gunung Uhud emas, tidak akan menyamai sedekah mereka (sahabat-ku) dan tidak pula setengahnya”</p></blockquote>
<p>Lihat ini:</p>
<p>(1) Kepada siapakah Nabi saw sedang berbicara?  Kepada selain sahabatkah atau kepada sahabat?  Jika kepada sahabat, mengapa Nabi saw menggunakan kata ganti orang ke-3?<br />
&#8220;Jangan kalian caci sahabat2-ku&#8221;.  Sahabat di sini menjadi orang ke-3.  Sedangkan yang diajak bicara selalu orang ke-2.  Artinya Nabi saw sedang berbicara kepada selain sahabat.  Lalu siapa mereka?</p>
<p>(2) Semisal gunung Uhud?  Aneh.  Coba anda buka lagi sejarah.  Apa hasil dari peperangan itu dan berapa banyak sahabat yg lari darinya?</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dayak</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2405</link>
		<dc:creator>dayak</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 01:56:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2405</guid>
		<description>@aldj : 
yakher di artikel itu aja kita diskusi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@aldj :<br />
yakher di artikel itu aja kita diskusi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aldj</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2388</link>
		<dc:creator>aldj</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 07:27:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2388</guid>
		<description>@dayak
knp anda tdk berdiskusi dgn sy,di topik &quot;bila syiah jd wali nikah&quot;?,klu di topik ini (alaihsalam utk ahlulbait)trll keluar dr pembhsan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@dayak<br />
knp anda tdk berdiskusi dgn sy,di topik &#8220;bila syiah jd wali nikah&#8221;?,klu di topik ini (alaihsalam utk ahlulbait)trll keluar dr pembhsan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aldj</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/alaihis-salam-untuk-ahlil-bait/comment-page-2/#comment-2386</link>
		<dc:creator>aldj</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 07:15:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1452#comment-2386</guid>
		<description>@dayak
trims ats pengertian anda,krn dgn cara begini diskusi jd lbh baik,
sbnrnya tdk mslh anda mau berdiskusi dgn sy soal bada.
pertanyaan anda mdh2an sy bs jwb n memuaskan anda,
dalil imam ali as bukan sahabat sdh sy jwb,baik riwayat,hadits maupun quran
hub beliau dgn rosul.
1.beliau adalah pemimpin/penolong,bersama2 rosul
2.saudara,
3.satu jiwa
4.ahlulbait
5.dll
krn posisi beliau yg lebih utama/istimewa dr nilai sahabat,maka posisi beliau tdk lg dlm posisi sahabat.  
definisi sahabat secara umum:hub antar manusia yg saling mendpt suatu kebaikan dlm hub tsb tanpa pertalian ikatan(keluarga)
apabila dihub dgn rosul,menurut sy(tolong koreksi klu salah):mereka yg berhub langsung dgn rosul yg saling mendptkan kebaikan tnp pertalian ikatan dan memiliki akidah islam hingga wafat.
Sy tau ahlu sunnah scr umum memiliki definisi tersendiri.dan silahkan anda membandingkan dgn definisi sy,dgn cara yg OBJEKTIF.
sedang siapa sj sahabat rosul pd saat itu.
1.banyak sekali
2.sy tau anda mau pancing posisi sy,jgn khawatir,abubakar,umar,utsman termasuk didlmnya.
Mdh2an jwbn dr pertanyaan anda ini jgn dikomntari,bhw sy sdh keluar dr topik pembhsan
salam...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@dayak<br />
trims ats pengertian anda,krn dgn cara begini diskusi jd lbh baik,<br />
sbnrnya tdk mslh anda mau berdiskusi dgn sy soal bada.<br />
pertanyaan anda mdh2an sy bs jwb n memuaskan anda,<br />
dalil imam ali as bukan sahabat sdh sy jwb,baik riwayat,hadits maupun quran<br />
hub beliau dgn rosul.<br />
1.beliau adalah pemimpin/penolong,bersama2 rosul<br />
2.saudara,<br />
3.satu jiwa<br />
4.ahlulbait<br />
5.dll<br />
krn posisi beliau yg lebih utama/istimewa dr nilai sahabat,maka posisi beliau tdk lg dlm posisi sahabat.<br />
definisi sahabat secara umum:hub antar manusia yg saling mendpt suatu kebaikan dlm hub tsb tanpa pertalian ikatan(keluarga)<br />
apabila dihub dgn rosul,menurut sy(tolong koreksi klu salah):mereka yg berhub langsung dgn rosul yg saling mendptkan kebaikan tnp pertalian ikatan dan memiliki akidah islam hingga wafat.<br />
Sy tau ahlu sunnah scr umum memiliki definisi tersendiri.dan silahkan anda membandingkan dgn definisi sy,dgn cara yg OBJEKTIF.<br />
sedang siapa sj sahabat rosul pd saat itu.<br />
1.banyak sekali<br />
2.sy tau anda mau pancing posisi sy,jgn khawatir,abubakar,umar,utsman termasuk didlmnya.<br />
Mdh2an jwbn dr pertanyaan anda ini jgn dikomntari,bhw sy sdh keluar dr topik pembhsan<br />
salam&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
