<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Berbicara Saat Berwudhu&#8217;</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 17:15:52 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/comment-page-1/#comment-3066</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 14:29:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1429#comment-3066</guid>
		<description>@ ton, ketika hendak mandi setelah berhubungan badan dengan istri, maka jika tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk membuka aurat, maka wajib untuk menutupnya. Diperbolehkannya membuka aurat karena hajat berhubungan badan hanya diwaktu berhubungan saja, adapun setelahnya maka diwajibkan kembali untuk menutup aurat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ ton, ketika hendak mandi setelah berhubungan badan dengan istri, maka jika tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk membuka aurat, maka wajib untuk menutupnya. Diperbolehkannya membuka aurat karena hajat berhubungan badan hanya diwaktu berhubungan saja, adapun setelahnya maka diwajibkan kembali untuk menutup aurat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ton</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/comment-page-1/#comment-3058</link>
		<dc:creator>ton</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 02:00:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1429#comment-3058</guid>
		<description>assalamu alaikum wr.wb.
maaf ustadz. sy yg bodoh dalam hal ilmu ini ingin bertanya bgagaiman halnya bila habis jima&#039; kemudian kedalam kamar mandi dan kita mau mandi janabat. tentunya dalam keadaan telanjang. ini sebaik baik bagaimana apakah menutup aurot dulu? kok kayaknya ribet kali. sebaiknya bagaimana? 
matur suksma (terimakasih dlm bhs bali)
wassalamualaikum wr. wb</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamu alaikum wr.wb.<br />
maaf ustadz. sy yg bodoh dalam hal ilmu ini ingin bertanya bgagaiman halnya bila habis jima&#8217; kemudian kedalam kamar mandi dan kita mau mandi janabat. tentunya dalam keadaan telanjang. ini sebaik baik bagaimana apakah menutup aurot dulu? kok kayaknya ribet kali. sebaiknya bagaimana?<br />
matur suksma (terimakasih dlm bhs bali)<br />
wassalamualaikum wr. wb</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/comment-page-1/#comment-2794</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 03:08:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1429#comment-2794</guid>
		<description>@ cah jeporo, berwudhu&#039; dalam keadaan telanjang, jika karena ada hajat/ghorod walaupun ringan (adna ghorod), maka diperbolehkan dan tidak makruh. Namun jika tidak ada hajat/tujuan sama sekali, maka mengikuti pendapat yang mu&#039;tamad bahwa aurat laki-laki ketika sendiri yaitu menutup dua kemaluan, haram untuk telanjang. Dan jika mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada aurat bagi laki-laki ketika sendiri, maka diperbolehkan.
Walaupun ketika sendiri diperbolehkan untuk wudhu&#039; dalam keadaan telanjang karena ada hajat/tujuan, akan tetapi lebih utama untuk menutupnya karena adab dengan Allah SWT.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ cah jeporo, berwudhu&#8217; dalam keadaan telanjang, jika karena ada hajat/ghorod walaupun ringan (adna ghorod), maka diperbolehkan dan tidak makruh. Namun jika tidak ada hajat/tujuan sama sekali, maka mengikuti pendapat yang mu&#8217;tamad bahwa aurat laki-laki ketika sendiri yaitu menutup dua kemaluan, haram untuk telanjang. Dan jika mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada aurat bagi laki-laki ketika sendiri, maka diperbolehkan.<br />
Walaupun ketika sendiri diperbolehkan untuk wudhu&#8217; dalam keadaan telanjang karena ada hajat/tujuan, akan tetapi lebih utama untuk menutupnya karena adab dengan Allah SWT.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cah njeporo</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/comment-page-1/#comment-2752</link>
		<dc:creator>cah njeporo</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 06:42:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1429#comment-2752</guid>
		<description>Yakher......sudah sangat jelas atas penjelasanya. syukron ya ust atas jawaban serta rujukan kitabnya.

Oya ust, afwan ana masih ada kejanggalan sedikit tentang tdk d perbolehkan wudhu dlm keadaan telanjang yg tdk ada ghorod (tujuan, walaupun liadna ghorod). 
Apakah hukum tdk d perbolehkan trsb, kata2 (لَا الْوُضُوءُ عَقِبَهُ) masuk dlm katagori makruh, khilaful aula atau haram??? lebih jelasanya, jika wudhu dlm keadaan telanjang yg tdk adanya tujuan tsb bgmn hukumnya ust (makruh, khilaful aula atau haram?) ?? syukron wa afwan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yakher&#8230;&#8230;sudah sangat jelas atas penjelasanya. syukron ya ust atas jawaban serta rujukan kitabnya.</p>
<p>Oya ust, afwan ana masih ada kejanggalan sedikit tentang tdk d perbolehkan wudhu dlm keadaan telanjang yg tdk ada ghorod (tujuan, walaupun liadna ghorod).<br />
Apakah hukum tdk d perbolehkan trsb, kata2 (لَا الْوُضُوءُ عَقِبَهُ) masuk dlm katagori makruh, khilaful aula atau haram??? lebih jelasanya, jika wudhu dlm keadaan telanjang yg tdk adanya tujuan tsb bgmn hukumnya ust (makruh, khilaful aula atau haram?) ?? syukron wa afwan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/comment-page-1/#comment-2744</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 15:53:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1429#comment-2744</guid>
		<description>@ cah jeporo, boleh mandi dalam keadaan telanjang , namun tidak pada wudhu&#039; setelah mandi jika tidak khawatir basah terkena cipratan air wudhu&#039;. Adapun jika ada kekhawatiran basah akibat cipratan air wudhu&#039;, maka diperbolehkan dalam keadaan telanjang, karena telanjang ketika keadaan sendiri diperbolehkan jika ada hajat walaupun ringan seperti takut basah.
lihat : &lt;em&gt;Tuhfatul Muhtaj juz 1 hal 285&lt;/em&gt;

تحفة المحتاج في شرح المنهاج  - (ج 1 / ص 285)
وَيَجُوزُ الْغُسْلُ عَارِيًّا قَالَ جَمْعٌ لَا الْوُضُوءُ عَقِبَهُ وَيُرَدُّ بِأَنَّ مَحَلَّهُ إذَا لَمْ يَحْتَجْ لَهُ وَإِلَّا كَخَوْفِ رَشَاشٍ يَلْحَقُ ثَوْبَهُ جَازَ لِمَا يَأْتِي مِنْ حِلِّ التَّعَرِّي فِي الْخَلْوَةِ لِأَدْنَى غَرَضٍ</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ cah jeporo, boleh mandi dalam keadaan telanjang , namun tidak pada wudhu&#8217; setelah mandi jika tidak khawatir basah terkena cipratan air wudhu&#8217;. Adapun jika ada kekhawatiran basah akibat cipratan air wudhu&#8217;, maka diperbolehkan dalam keadaan telanjang, karena telanjang ketika keadaan sendiri diperbolehkan jika ada hajat walaupun ringan seperti takut basah.<br />
lihat : <em>Tuhfatul Muhtaj juz 1 hal 285</em></p>
<p>تحفة المحتاج في شرح المنهاج  &#8211; (ج 1 / ص 285)<br />
وَيَجُوزُ الْغُسْلُ عَارِيًّا قَالَ جَمْعٌ لَا الْوُضُوءُ عَقِبَهُ وَيُرَدُّ بِأَنَّ مَحَلَّهُ إذَا لَمْ يَحْتَجْ لَهُ وَإِلَّا كَخَوْفِ رَشَاشٍ يَلْحَقُ ثَوْبَهُ جَازَ لِمَا يَأْتِي مِنْ حِلِّ التَّعَرِّي فِي الْخَلْوَةِ لِأَدْنَى غَرَضٍ</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cah njeporo</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/berbicara-saat-berwudhu/comment-page-1/#comment-2741</link>
		<dc:creator>cah njeporo</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 13:56:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1429#comment-2741</guid>
		<description>ust, afwan ana mahu tanya,..sebagian orang biasanya setelah mandi masih dlm keadaan telanjang lansung wudhu,baru mengenakan pakainya.
bgmn hukmnya wudhu dlm keadaan telanjang?? apkah jawaz, makruh ?? syukron katsir team forsansalaf</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ust, afwan ana mahu tanya,..sebagian orang biasanya setelah mandi masih dlm keadaan telanjang lansung wudhu,baru mengenakan pakainya.<br />
bgmn hukmnya wudhu dlm keadaan telanjang?? apkah jawaz, makruh ?? syukron katsir team forsansalaf</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

