Ahlul Bait, Penebar Rahmat Bukan Laknat
headline »
Wed, 3/03/10 – 17:10 | No Comment

NANTIKAN ARTIKEL INI..!!!!

Baca selengkapnya »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja’ah) Sunniyah Salafiyah.

Pertanyaan baru

Pertanyaan terkini yang masuk ke redaksi, setelah terjawab di Majelis Ifta’ pertanyaan akan dihapus .

Home » Artikel, Featured

Bid’ah Dholalah, Apakah Itu?

Submitted by forsan salaf on Friday, 22 January 201066 Comments

jalan sesatAda beberapa pendekatan yang dilakukan oleh para ulama dalam mendefinisikan bid’ah. Perbedaan cara pendekatan para ulama disebabkan, apakah kata bid’ah selalu dikonotasikan dengan kesesatan, atau tergantung dari tercakup dan tidaknya dalam ajaran Islam. Hal ini disebabkan arti bid’ah secara bahasa adalah : sesuatu yang asing, tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Sehingga inti pengertian bid’ah yang sesat secara sederhana adalah: segala bentuk perbuatan atau keyakinan yang bukan bagian dari ajaran Islam, dikesankan seolah-olah bagian dari ajaran Islam, seperti membaca ayat-ayat al-Qur’an atau shalawat disertai alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan/faham kaum Mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham Liberal yang marak akhir-akhir ini, dan lain-lain. Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdus Salam sebagaimana disebutkan dalam kitab tuhfatul akhwadzi juz 7 hal 34 menyatakan: “Apabila pengertian bid’ah ditinjau dari segi bahasa, maka terbagi menjadi lima hukum :
  1. Haram, seperti keyakinan kaum Qodariyah dan Mu’tazilah.
  2. Makruh, seperti membuat hiasan-hiasan dalam masjid.
  3. Wajib, seperti belajar ilmu gramatikal bahasa arab (nahwu).
  4. Sunnah, seperti membangun pesantren atau madrasah.
  5. Mubah, seperti jabat tangan setelah shalat.

Alhasil, menurut Imam ‘Izzuddin, “Segala kegiatan keagamaan yang tidak ditemukan pada zaman Rasulullah SAW, hukumnya bergantung pada tercakupnya dalam salah satu kaidah hukum Islam, haram, makruh, wajib, sunnah, atau mubah. Sebagai contoh, belajar ilmu bahwu untuk menunjang dalam belajar ilmu syariat yang wajib, maka hukum belajar ilmu nahwu menjadi wajib.”.[1]

Penjelasan tentang bid’ah bisa kita ketahui dari dalil-dalil berikut :

  1. Hadits riwayat sayyidatina A’isyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. رواه مسلم

“Dari ‘Aisyah RA. Ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tiada perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak” HR.Muslim.

Hadits ini sering dijadikan dalil untuk melarang semua bentuk perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan pada masa Nabi SAW. Padahal maksud yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Para ulama menyatakan bahwa hadits ini sebagai larangan dalam membuat-buat hukum baru yang tidak pernah dijelaskan dalam al-Qur’an ataupun Hadits, baik secara eksplisit (jelas) atau implisit (isyarat), kemudian diyakini sebagai suatu ibadah murni kepada Allah SWT sebagai bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ulama membuat beberapa kriteria dalam permasalahan bid’ah ini, yaitu :

Pertama, jika perbuatan itu memiliki dasar dalil-dalil syar’i yang kuat, baik yang parsial (juz’i) atau umum, maka bukan tergolong bid’ah. Namun jika tidak ada dalil yang dapat dibuat sandaran, maka itulah bid’ah yang dilarang.

Kedua, memperhatikan pada ajaran ulama salaf (ulama pada abad l, ll dan lll H.). Apabila sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan tergolong bid’ah.

Ketiga, dengan jalan qiyas. Yakni, mengukur perbuatan tersebut dengan beberapa amaliyah yang telah ada hukumnya dari nash al-Qur’an dan Hadits. Apabila identik dengan perbuatan haram, maka perbuatan baru itu tergolong bid’ah muharromah. Apabila memiliki kemiripan dengan yang wajib, maka perbuatan baru itu tergolong wajib. Dan begitu seterusnya.[2]

2. Hadits riwayat Ibn Mas’ud :

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه ابن ماجه

“Dari ‘Abdullah bin Mas’ud. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “ Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal baru. Karena perkara yang paling jelek adalah membuat hal baru . dan setiap perbuatan yang baru itu adalah bid’ah. Dan semua bid’ah itu sesat.” HR. Ibnu Majah.

Hadits inipun sering dijadikan dasar dalam memvonis bid’ah segala perkara baru yang tidak ada pada zaman Rasulullah SAW, para sahabat atau tabi’in dengan pertimbangan bahwa hadits ini menggunakan kalimat kullu (semua), yang secara tekstual seolah-olah diartikan semuanya atau seluruhnya.

Namun, dalam menanggapi makna hadits ini, khususnya pada kalimat وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, terdapat perbedaan pandangan pandangan di kalangan ulama’.

Pertama, ulama’ memandang hadits ini adalah kalimat umum namun dikhususkan hanya pada sebagian saja (عام مخصوص البعض ), sehingga makna dari hadits ini adalah “bid’ah yang buruk itu sesat” . Hal ini didasarkan pada kalimat kullu, karena pada hakikatnya tidak semua kullu berarti seluruh atau semua, adakalanya berarti kebanyakan (sebagian besar). Sebagaimana contoh-contoh berikut :

  • Al-Qu’an surat Al-Anbiya’ ; 30 :

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” QS. Al-Anbiya’:30.

Meskipun ayat ini menggunakan kalimat kullu, namun tidak berarti semua makhluk hidup diciptakan dari air. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur’an berikut ini:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

“Dan Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala”. QS. Ar-Rahman:15.

Begitu juga para malaikat, tidaklah Allah ciptakan dari air.

  • Hadits riwayat Imam Ahmad :

عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ

Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)

Sekalipun hadits di atas menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada ajnabiyah.

Kedua, ulama’ menetapkan sifat umum dalam kalimat kullu, namun mengarahkan pengertian bid’ah secara syar’iyah yaitu perkara baru yang tidak didapatkan di masa Rasulullah SAW, dan tidak ada sandarannya sama sekali dalam usul hukum syariat. Telah kita ketahui bahwa perkara yang bertentangan dengan syariat baik secara umum atau isi yang terkandung di dalamnya, maka haram dan sesat. Dengan demikian, makna hadits di atas adalah setiap perkara baru yang bertentangan dengan syariat adalah sesat, bukan berarti semua perkara baru adalah sesat walaupun tidak bertentangan dengan syai’at.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa bukan semua yang tidak dilakukan di zaman Nabi adalah sesat. Terbukti, para sahabat juga melaksanakan atau mengadakan perbuatan yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Misalnya, usaha menghimpun dan membukukan al-Qur’an, menyatukan jama’ah tarawih di masjid, adzan Jum’ah dua kali dan lain-lain. Sehingga, apabila kalimat kullu di atas diartikan keseluruhan, yang berarti semua hal-hal yang baru tersebut sesat dan dosa. Berarti para sahabat telah melakukan kesesatan dan perbuatan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak diragukan lagi keimanan dan ketaqwaannya. Bahkan diantara mereka sudah dijamin sebagai penghuni surga. Oleh karena itu, sungguh tidak dapat diterima akal, kalau para sahabat Nabi SAW yang begitu agung dan begitu luas pengetahuannya tentang al-Qur’an dan Hadits tidak mengetahuinya, apalagi tidak mengindahkan larangan Rasulullah SAW.[3]


[1] Risalatu Ahli as-Sunnah wa al-Jama’ah hal. 6-8.

[2] Risalatu Ahli as-Sunnah wa  al-Jama’ah hal.6-7.

[3] Mawsu’ah Yusufiyyah juz ll hal 488.

Popularity: 39% [?]

Artikel Terkait

66 Comments »

  • ibrahim almuhdhor said:

    alhamdulillah akhirnya pembahasan tentang bid’ah dholalah telah dirampungkan, semoga orang2 HTI ataupun Wahabi segera mengerti

  • ali akbar bin agil said:

    akhirnya yang dinanti-nanti tibalah jua. alhamdulillah. persoalan di atas sebenarnya bukan perkara baru di jagad pembahasan kaum Muslim namun tetap saja menjadi topik hangat di tiap keadaan.
    meskipun begitu, untuk ke sekian kali, saya mengharap kepada Forsansalaf mengangkat topik-topik yang lebih layak diperbincangkan.
    usulan saya, coba angkat tragedi palestina, angkat pula topik pemikiran liberalisme, pluralisme, sekularisme. insya Allah dengan itu Forsansalaf akan makin banyak diminati bahkan tidak menutup kemungkinan situs ini juga dijadikan sumber pengambilan data bagi para pelajar, mahasiswa, dan santri.
    syukran.
    salam buat seluruh kru forsansalaf. selamat berjuang, wahai penerus perjuangan Rasul saw… doakan kami selalu

  • rejal said:

    terima kasih ust atas penjelasannya, semoga “mereka – mereka” sadar segera dan kembali ke jalan AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

  • bin muhammad said:

    alhamdulillah, dengan adanya “forsansalaf” semua jadi jelas dan terang. semoga Allah selalu menjadikan kita semua tetap berada di jalan yang lurus. Amin. forsansalaf i love you full

  • Yek Salaf said:

    Maaf saya mau tambahin sedikit karena kalimat yang di terangkan di atas belum sempurna:

    “Dikit-dikit bid’ah, dikit-dikit bid’ah,” “apa semua yang ada sekarang itu bid’ah?!” “kalau memang maulidan bid’ah, kenapa kamu naik motor, itukan juga bid’ah.” Kira-kira kalimat seperti inilah yang akan terlontar dari mulut sebagian kaum muslimin ketika mereka diingatkan bahwa perbuatan yang mereka lakukan adalah bid’ah yang telah dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Semua ucapan ini dan yang senada dengannya lahir, mungkin karena hawa nafsu mereka dan mungkin juga karena kejahilan mereka tentang definisi bid’ah, batasannya dan nasib jelek yang akan menimpa pelakunya.

    Karenanya berikut uraian tentang difinisi bid’ah dan bahayanya dari hadits Aisyah yang masyhur, semoga bisa meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang bid’ah sehingga mereka mau meninggalkannya di atas ilmu, Allahumma amin.

    Bid’ah dan Bahayanya

    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

    وَفِي رِوَايَةٍ : مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.

    Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntunan kami di atasnya maka amalan itu tertolak”.

    Takhrij Hadits:

    Hadits ini dengan kedua lafadznya berasal dari hadits shahabiyah dan istri Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam ‘A`isyah radhiallahu Ta’ala ‘anha.

    Adapun lafadz pertama dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhary (2/959/2550-Dar Ibnu Katsir) dan Imam Muslim (3/1343/1718-Dar Ihya`ut Turots).

    Dan lafadz kedua dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhary secara mu’allaq (2/753/2035) dan (6/2675/6918) dan Imam Muslim (3/1343/1718).

    Dan juga hadits ini telah dikeluarkan oleh Abu Ya’la dalam Musnadnya (4594) dan Abu ‘Awanah (4/18) dengan sanad yang shohih dengan lafadz, “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang tidak ada di dalamnya (urusan kami) maka dia tertolak”.

    Kosa Kata Hadits:

    1. “Dalam urusan kami”, maksudnya dalam agama kami, sebagaimana dalam firman Allah –Ta’ala-, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi urusannya (Nabi) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.”. (QS. An-Nur: 63)

    2. “Tertolak”, (Arab: roddun) yakni tertolak dan tidak teranggap.

    [Lihat Bahjatun Nazhirin hal. 254 dan Syarhul Arba’in karya Syaikh Sholih Alu Asy-Syaikh]

    Komentar Para Ulama :

    Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Pondasi Islam dibangun di atas 3 hadits: Hadits “setiap amalan tergantung dengan niat”, hadits ‘A`isyah “Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak” dan hadits An-Nu’man “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas””.

    Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahullah berkata, “Ada empat hadits yang merupakan pondasi agama: Hadits ‘Umar “Sesungguhnya setiap amalan hanyalah dengan niatnya”, hadits “Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas”, hadits “Sesungguhnya penciptaan salah seorang di antara kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selam 40 hari” dan hadits “Barangsiapa yang berbuat dalam urusan kami apa-apa yang bukan darinya maka hal itu tertolak”.

    Dan Abu ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan seluruh urusan akhirat dalam satu ucapan (yaitu) “Barangsiapa yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”.

    [Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam syarh hadits pertama]

    Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, “Hadits ini adalah asas yang sangat agung dari asas-asas Islam, sebagaimana hadits “Setiap amalan hanyalah dengan niatnya” adalah parameter amalan secara batin maka demikian pula dia (hadits ini) adalah parameternya secara zhohir. Maka jika setiap amalan yang tidak diharapkan dengannya wajah Allah –Ta’ala-, tidak ada pahala bagi pelakunya, maka demikian pula setiap amalan yang tidak berada di atas perintah Allah dan RasulNya maka amalannya tertolak atas pelakunya. Dan setiap perkara yang dimunculkan dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah dan RasulNya, maka dia bukan termasuk dari agama sama sekali”.

    Syaikh Salim Al-Hilaly hafizhohullah berkata dalam Bahjatun Nazhirin, “Hadits ini termasuk hadits-hadits yang Islam berputar di atasnya, maka wajib untuk menghafal dan menyebarkannya, karena dia adalah kaidah yang agung dalam membatalkan semua perkara baru dan bid’ah (dalam agama)”.

    Dan beliau juga berkata, “… maka hadits ini adalah asal dalam membatalkan pembagian bid’ah menjadi sayyi`ah (buruk) dan hasanah (terpuji)”.

    Dan Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhohullah berkata dalam Syarhul Arba’in, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung dan diagungkan oleh para ulama, dan mereka mengatakan bahwa hadits ini adalah asal untuk membantah semua perkara baru, bid’ah dan aturan yang menyelisihi syari’at”.

    Dan beliau juga berkata dalam mensyarh kitab Fadhlul Islam karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdil Wahhab, “Hadits ini dengan kedua lafadznya merupakan hujjah dan pokok yang sangat agung dalam membantah seluruh bid’ah dengan berbagai jenisnya, dan masing-masing dari dua lafadz ini adalah hujjah pada babnya masing-masing, yaitu:

    a. Lafadz yang pertama (ancamannya) mencakup orang yang pertama kali mencetuskan bid’ah tersebut walaupun dia sendiri tidak beramal dengannya.

    b. Adapun lafadz kedua (ancamannya) mencakup semua orang yang mengamalkan bid’ah tersebut walaupun bukan dia pencetus bid’ah itu pertama kali”. Selesai dengan beberapa perubahan.

    Syarh :

    Setelah membaca komentar para ulama berkenaan dengan hadits ini, maka kita bisa mengatahui bahwa hadits ini dengan seluruh lafazhya merupakan ancaman bagi setiap pelaku bid’ah serta menunjukkan bahwa setiap bid’ah adalah tertolak dan tercela, tidak ada yang merupakan kebaikan. Dua pont inilah yang –insya Allah- kita akan bahas panjang lebar, akan tetapi sebelumnya kita perlu mengetahui definisi dari bid’ah itu sendiri agar permasalahan menjadi tambah jelas. Maka kami katakan:

    A. Definisi Bid’ah.

    Bid’ah secara bahasa artinya memunculkan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya, sebagaimana dalam firman Allah -Subhanahu wa Ta’ala-:

    بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

    “Allah membuat bid’ah terhadap langit dan bumi”.(QS. Al-Baqarah: 117 dan Al-An’am: 101)

    Yakni Allah menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya yang mendahului. Dan Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman :

    قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ

    “Katakanlah: “Aku bukanlah bid’ah dari para Rasul”. (QS. Al-Ahqaf: 9)

    Yakni : Saya bukanlah orang pertama yang datang dengan membawa risalah dari Allah kepada para hamba, akan tetapi telah mendahului saya banyak dari para Rasul. Lihat: Lisanul ‘Arab (9/351-352)

    Adapun secara istilah syari’at –dan definisi inilah yang dimaksudkan dalam nash-nash syari’at- bid’ah adalah sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Imam Asy-Syathiby dalam kitab Al-I’tishom (1/50):

    طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٌ, تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ وَيُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ اللهَ سُبْحَانَهُ

    “Bid’ah adalah suatu ungkapan untuk semua jalan/cara dalam agama yang diada-adakan, menyerupai syari’at dan dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”.

    Penjelasan Definisi.

    Setelah Imam Asy-Syathiby rahimahullah menyebutkan definisi di atas, beliau kemudian mengurai dan menjelaskan maksud dari definisi tersebut, yang kesimpulannya sebagai berikut:

    1. Perkataan beliau “jalan/cara dalam agama”. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam:

    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

    “Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘A`isyah)

    Dan urusan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tentunya adalah urusan agama karena pada urusan dunia beliau telah mengembalikannya kepada masing-masing orang, dalam sabdanya:

    أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ

    “Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian”. (HSR. Bukhory)

    Maka bid’ah adalah memunculkan perkara baru dalam agama dan tidak termasuk dari bid’ah apa-apa yang dimunculkan berupa perkara baru yang tidak diinginkannya dengannya masalah agama akan tetapi dimaksudkan dengannya untuk mewujudkan maslahat keduniaan, seperti pembangunan gedung-gedung, pembuatan alat-alat modern, berbagai jenis kendaraan dan berbagai macam bentuk pekerjaan yang semua hal ini tidak pernah ada zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Maka semua perkara ini bukanlah bid’ah dalam tinjauan syari’at walaupun dianggap bid’ah dari sisi bahasa. Adapun hukum bid’ah dalam perkara kedunian (secara bahasa) maka tidak termasuk dalam larangan berbuat bid’ah dalam hadits di atas, oleh karena itulah para Shahabat radhiallahu ‘anhum mereka berluas-luasan dalam perkara dunia sesuai dengan maslahat yang dibutuhkan.

    2. Perkatan beliau “yang diada-adakan”, yaitu sesungguhnya bid’ah adalah amalan yang tidak mempunyai landasan dalam syari’at yang menunjukkan atasnya sama sekali. Adapun amalan-amalan yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at secara umum –walaupun tidak ada dalil tentang amalan itu secara khusus- maka bukanlah bid’ah dalam agama. Misalnya alat-alat tempur modern yang dimaksudkan sebagai persiapan memerangi orang-orang kafir , demikian pula ilmu-ilmu wasilah dalam agama ; seperti ilmu bahasa Arab (Nahwu Shorf dan selainnya) , ilmu tajwid , ilmu mustholahul hadits dan selainnya, demikian pula dengan pengumpulan mushaf di zaman Abu Bakar dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhuma . Maka semua perkara ini bukanlah bid’ah karena semuanya masuk ke dalam kaidah-kaidah syari’at secara umum.

    3. Perkataan beliau “menyerupai syari’at”, yaitu bahwa bid’ah itu menyerupai cara-cara syari’at padahal hakikatnya tidak demikian, bahkan bid’ah bertolak belakang dengan syari’at dari beberapa sisi:

    a. Meletakkan batasan-batasan tanpa dalil, seperti orang yang bernadzar untuk berpuasa dalam keadaan berdiri dan tidak akan duduk atau membatasi diri dengan hanya memakan makanan atau memakai pakaian tertentu.

    b. Komitmen dengan kaifiat-kaifiat atau metode-metode tertentu yang tidak ada dalam agama, seperti berdzikir secara berjama’ah, menjadikan hari lahir Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam sebagai hari raya dan yang semisalnya.

    c. Komitmen dengan ibadah-ibadah tertentu pada waktu-waktu tertentu yang penentuan hal tersebut tidak ada di dalam syari’at, seperti komitmen untuk berpuasa pada pertengahan bulan Sya’ban dan sholat di malam harinya.

    4. Perkataan beliau “dimaksudkan dalam pelaksanaannya untuk berlebih-lebihan dalam menyembah Allah Subhanah”. Ini merupakan kesempurnaan dari definisi bid’ah, karena inilah maksud diadakannya bid’ah. Hal itu karena asal masuknya seseorang ke dalam bid’ah adalah adanya dorongan untuk konsentrasi dalam ibadah dan adanya targhib (motivasi berupa pahala) terhadapnya karena Allah -Ta’ala- berfirman:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

    “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

    Maka seakan-akan mubtadi’ (pelaku bid’ah) ini menganggap bahwa inilah maksud yang diinginkan (dengan bid’ahnya) dan tidak belum jelas baginya bahwa apa yang diletakkan oleh pembuat syari’at (Allah dan RasulNya) dalam perkara ini berupa aturan-atiran dan batasan-batasan sudah mencukupi.

    B. Dalil-Dalil Akan Tercelanya Bid’ah Serta Akibat Buruk yang Akan Didapatkan Oleh Pelakunya.

    1. Bid’ah merupakan sebab perpecahan.

    Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

    وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia diwasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al-An’am: 153)

    Berkata Mujahid rahimahullah dalam menafsirkan makna “jalan-jalan” : “Bid’ah-bid’ah dan syahwat”. (Riwayat Ad-Darimy no. 203)

    2. Bid’ah adalah kesesatan dan mengantarkan pelakunya ke dalam Jahannam.

    Allah -’Azza wa Jalla- berfirman:

    وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

    “Dan hak bagi Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya (kepada jalan yang benar).”. (QS. An-Nahl: 9)

    Berkata At-Tastury : “’Qosdhus sabil’ adalah jalan sunnah ‘di antaranya ada yang bengkok’ yakni bengkok ke Neraka yaitu agama-agama yang batil dan bid’ah-bid’ah”.

    Maka bid’ah mengantarkan para pelakunya ke dalan Neraka, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dalam khutbatul hajah:

    أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    وَفِي رِوَايَةٍ : وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

    وَفِي رِوَايَةِ النَّسَائِيِّ : وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

    “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HSR. Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhuma)

    Dalam satu riwayat, “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah”.

    Dan dalam riwayat An-Nasa`iy, “Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan semua kesesatan berada dalam Neraka”.

    Dan dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah secara marfu’:

    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

    “Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`iy)

    3. Bid’ah itu tertolak atas pelakunya siapapun orangnya.

    Allah –’Azza wa Jalla- menegaskan:

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imran: 85)

    Dan bid’ah sama sekali bukan bahagian dari Islam sedikitpun juga, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang sedang kita bahas sekarang.

    4. Allah melaknat para pelaku bid’ah dan orang yang melindungi/menolong pelaku bid’ah.

    Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menegaskan:

    فَمَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُ عَدْلٌ وَلَا صَرْفٌ

    “Barangsiapa yang memunculkan/mengamalkan bid’ah atau melindungi pelaku bid’ah, maka atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia, tidak akan diterima dari tebusan dan tidak pula pemalingan”. (HSR. Bukhary-Muslim dari ‘Ali dan HSR. Muslim dari Anas bin Malik)

    5. Para pelaku bid’ah jarang diberikan taufiq untuk bertaubat –nas`alullaha as-salamata wal ‘afiyah-.

    Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda:

    إِنَّ اللهَ احْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَهَا

    “Sesungguhnya Allah mengahalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya”. (HR. Ath-Thobarony dan Ibnu Abi ‘Ashim dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah no. 1620)

    Berkata Syaikh Bin Baz ketika ditanya tentang makna hadits di sela-sela pelajaran beliau mensyarah kitab Fadhlul Islam, “… Maknanya adalah bahwa dia (pelaku bid’ah ini) menganggap baik bid’ahnya dan menganggap dirinya di atas kebenaran, oleh karena itulah kebanyakannya dia mati di atas bid’ah tersebut –wal’iyadzu billah-, karena dia menganggap dirinya benar. Berbeda halnya dengan pelaku maksiat yang dia mengetahui bahwa dirinya salah, lalu dia bertaubat, maka kadang Allah menerima taubatnya”.

    6. Para pelaku bid’ah akan menanggung dosanya dan dosa setiap orang yang dia telah sesatkan sampai hari Kiamat –wal’iyadzu billah-.

    Allah-Subhanahu wa Ta’ala- berfirman:

    لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ

    “(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu”. (QS. An-Nahl: 25)

    Dan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah bersabda:

    وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

    “Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HSR. Muslim dari Abu Hurairah)

    7. Setiap pelaku bid’ah akan diusir dari telaga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

    Beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda:

    أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

    “Saya menunggu kalian di telagaku, akan didatangkan sekelompok orang dari kalian kemudian mereka akan diusir dariku, maka sayapun berkata : “Wahai Tuhanku, (mereka adalah) para shahabatku”, maka dikatakan kepadaku : “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah kematianmu”. (HSR. Bukhary-Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

    8. Para pelaku bid’ah menuduh Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah berkhianat dalam menyampaikan agama karena ternyata masih ada kebaikan yang belum beliau tuntunkan.

    Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata -sebagaimana dalam kitab Al-I’tishom (1/64-65) karya Imam Asy-Syathiby rahimahullah-, “Siapa saja yang membuat satu bid’ah dalam Islam yang dia menganggapnya sebagai suatu kebaikan maka sungguh dia telah menyangka bahwa Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah mengkhianati risalah, karena Allah Ta’ala berfirman:

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagi kalian”. (QS. Al-Ma`idah: 3)

    Maka perkara apa saja yang pada hari itu bukan agama maka pada hari inipun bukan agama”.

    9. Dalam bid’ah ada penentangan kepada Al-Qur`an.

    Al-Imam Asy-Syaukany rahimahullah berkata dalam kitab Al-Qaulul Mufid fii Adillatil Ijtihad wat Taqlid (hal. 38) setelah menyebutkan ayat dalam surah Al-Ma`idah di atas, “Maka bila Allah telah menyempurnakan agamanya sebelum Dia mewafatkan NabiNya, maka apakah (artinya) pendapat-pendapat ini yang di munculkan oleh para pemikirnya setelah Allah menyempurnakan agamanya?!. Jika pendapat-pendapat (bid’ah ini) bahagian dari agama –menurut keyakinan mereka- maka berarti Allah belum menyempurnakan agamanya kecuali dengan pendapat-pendapat mereka, dan jika pendapat-pendapat ini bukan bahagian dari agama maka apakah faidah dari menyibukkan diri pada suatu perkara yang bukan bahagaian dari agama ?!”.

    10. Para pelaku bid’ah akan mendapatkan kehinaan dan kemurkaan dari Allah Ta’ala di dunia.

    Allah –’Azza wa Jalla- menegaskan:

    إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

    “Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang membuat-buat kedustaan”. (QS. Al-A’raf: 152)

    Ayat ini umum, mencakup mereka para penyembah anak sapi dan yang menyerupai mereka dari kalangan ahli bid’ah, karena bid’ah itu seluruhnya adalah kedustaan atas nama Allah Ta’ala, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah.

    C. Perkataan Para Ulama Salaf Dalam Mencela Bid’ah

    1. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

    اَلْإِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْإِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

    “Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimiy)

    dan beliau juga berkata:

    اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimy no. 211 dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul ‘Ilmi karya Ibnul Qoyyim)

    2. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

    “Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)

    3. Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:

    فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ

    “Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)

    4. ‘Abdullah ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada ‘Utsman bin Hadhir:

    عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ

    “Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimy no. 141)

    5.Telah berlalu perkataan dari Imam Malik rahimahullah.

    6.Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata:

    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

    “Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.

    7. Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam kitab beliau Ushulus Sunnah:

    أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وَالْإِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

    “Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.

    8.Sahl bin ‘Abdillah At-Tastury rahimahullah berkata:

    مَا أَحْدَثَ أًحَدٌ فِي الْعِلْمِ شَيْئًا إِلاَّ سُئِلَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَإِنْ وَافَقَ السُّنَّةَ سَلِمَ وَإِلاَّ فَلاَ

    “Tidaklah seseorang memunculkan suatu ilmu (yang baru) sedikitpun kecuali dia akan ditanya tentangnya pada hari Kiamat ; bila ilmunya sesuai dengan sunnah maka dia akan selamat dan bila tidak maka tidak”. (Lihat Fathul Bary : 13/290)

    9. ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata:

    أَمَّا بَعْدُ, أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالْإِقْتِصَادْ فِي أَمْرِهِ, وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ, وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ

    “Amma ba’du, saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan bersikap sederhana dalam setiap perkaraNya, ikutilah sunnah NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tinggalkanlah apa-apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang mengada-adakan setelah tetapnya sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam”. (Riwayat Abu Daud)

    10. Abu ‘Utsman An-Naisabury rahimahullah berkata:

    مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ, وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ

    “Barang siapa yang menguasakan sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan hikmah, dan barang siapa yang menguasakan hawa nafsu atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan bid’ah”. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 10/244)

    {Lihat : Mauqif Ahlis Sunnah (1/89-92), Al-I’tishom (1/50-53 dan 61-119) dan Al-Hatstsu ‘ala Ittiba’is Sunnah (25-35)}

    Dikutip dari: http://al-atsariyyah.com, Penulis : al Ustadz Abu Muawiah, Judul asli: Meluruskan pemahaman tentang bid’ah

  • Ardi said:

    saya penggemar bid’ah
    saya menyukai bid’ah.
    dan saya ahlul bid’ah.

    karena saya suka naik mobil, naik pesawat, pake HP dan komputer, dan pastinya Maulid Nabi…

    Hidup Bid’ah….

  • JomFikir said:

    Jangan sampai perkara ijtihadiyyah pun disebut sebagai bid’ah sesat :

    1.Saidina Umar berpendapat bahawa tidak batal puasa seseorang yang berkucup dengan isterinya, kerana mengqiyaskan dengan berkumur-kumur ketika berpuasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan al Baihaqi).

    2. Dalam menetapkan satu miqad baru iaitu Zatu Irq bagi jemaah Haji atau Umrah yang datang dari sebelah Iraq, Saidina Umar mengqiyaskannya dengan tempat yang setentang dengannya iaitu Qarn al Manazil. Sedangkan RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam hanya menetapkan empat tempat sahaja sebagai miqat tetapi Saidina Umar menambah satu lagi iaitu Zatu Irq (menjadi lima). (LIhat al Mughni, jld 3, m.s 3 258 dan Fath al Bari m.s 389)

    3. Saidina Uthman mewujudkan azan dua kali (pertama dan kedua) pada hari Jumaat diqiyaskan dengan azan 2 kali pada solat subuh dengan alasan bahawa azan yang pertama pada Solat Subuh disyariatkan pada zaman RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam untuk mengejutkan mereka yang sedang tidur, maka begitu juga azan yang pertama pada solat Jumaat untuk mengingatkan mereka yang sedang sibuk berniaga di pasar dan yang bekerja (Nailul al Authar : 3/322)

    4. Jumhur ulama mengharuskan dua solat sunat yang bersebab pada waktu yang makruh diqiyaskan dengan solat sunat selepas Zohor yang diqadha’ oleh RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam selepas Solat Asar ( Lihat al Nawawi, Syarah sahih Muslim: 6/111)

    5. Menurut Imam Ahmad dalam satu riwayat daripadanya, dibasuh setiap benda yang terkena najis sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan air tanah, kerana beliau mengqiyaskannya dengan sesuatu yang terkena najis anjing atau babi (Al Mughni: 1/54-55)

    6. Menurut Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, diwajibkan berdiri sekadar yang termampu bagi sesiapa yang tidak mampu berdiri dengan sempurna ketika solat samada kerana ketakutan atau kerana atap hendak roboh diqiyaskan dengan hukum berdiri seorang yang bongkok. (Al Mughni: 2/144)

    7. Imam Malik berpendapat, diharuskan melewatkan solat bagi mereka yang ketiadaan air diqiyaskan dengan seorang perempuan yang kedatangan haid yang diharuskan melewatkan solatnya (al Mughni: 1/250)

    8. Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafie berpendapat, sah tayammum bagi seorang yang berhadas besar dengan niat mengangkat hadas kecil diqiyaskan dengan sahnya wudhuk selepas membuang air kecil atau besar (walaupun tanpa niat untuk mengerjakan solat). (Al Mughni: 1/267)

    9. Imam Malik membolehkan qadha’ solat malam yang terluput, iaitu dikerjakannya selepas terbit fajar sebelum solat Subuh diqiyaskan dengan solat witir. Tetapi ini adalah salah satu pendapat Imam Malik berhubung dengan masalah ini. (al Mughni:2/120)

    10. Imam Abu Hanifah, Ath Thauri dan Al Auza’ie membolehkan lewat solat bagi mereka yang tidak menemui air dan tanah sehinggalah menemuinya, kemudian mengqadha’nya diqiyaskan dengan melewatkan puasa bagi wanita yang kedatangan haid (Al Mughni: 1/267)

    Ini hanya sebahagian kecil daripada sebilangan besar persoalan ibadah yang dikeluarkan hukumnya berdasarkan kaedah qiyas. Qiyas ini adalah ijtihad dan pandangan. Oleh itu, sesiapa yang melarang menggunakan qiyas di dalam ibadah secara mutlaq, maka pendapatnya tidak dapat diterima sebagaimana yang dinyatakan tadi.

    Ibnu Umar radiyaLlahu anhu berpendapat, solat Sunah Dhuha tidak digalakkan di dalam syariat Islam melainkan bagi mereka yang tiba dalam permusafiran. Beliau hanya mengerjakannya ketika tiba di Masjid Quba. Ini diriwayatkan oleh Al Bukhari daripada Mauriq katanya :

    “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar RadiyaLlahu ‘anhu.” Adakah kamu bersolat Dhuha? Beliau menjawab “Tidak”, Aku bertanya lagi “Adakah Umar mengerjakannya?” Beliau menjawab “Tidak”. Aku bertanya lagi ” Abu Bakar?” Jawabnya: “Tidak” Aku bertanya lagi: “RasuluLLah sallaLLahu ‘alaihi wasallam?” Jawabnya “Aku tidak pasti”.

    Menurut al Hafiz Ibnu Hajar al Asqolani:

    “Sebab tawaqqufnya Ibnu Umar pada masalah itu kerana beliau pernah mendengar daripada orang lain bahawa RasuluLlah sallaLlahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakannya tetapi beliau tidak begitu mempercayai perkara itu daripada seorang yang menyebut kepadanya.”.

    Maka, beliau menganggap solat Dhuha adalah di antara bid’ah yang baik sepertimana yang diriwayatkan oleh Mujahid daripada beliau (Ibnu Umar).

    Menurut Al A’raj:

    “Aku pernah bertanya Ibnu Umar berkenaan Solat Sunah Dhuha? Beliau menjawab: “Ia adalah bid’ah dan sebaik-baik bid’ah”

    . (Fath al Bari: 3/52)

    Sepertimana yang telah dinyatakan daripada Ibnu Umar tadi, membuktikan bahawa perkara-perkara yang baharu diwujudkan dalam ibadah memang berlaku dan diakui oleh pada sahabat RadiyaLlahu ‘anhum sendiri.

    Sumber : Dr Abd Malik Abd Rahman As Sa’adi, Salah Faham Terhadap Bid’ah, al Bid’ah fi al mafhum al islami ad daqiq, Darul Nu’man, 2002, Kuala Lumpur

  • Riariani said:

    Kepada seluruh pengunjung tetap berdiskusi secara ilmiah,
    @forsansalaf
    Mohon tampilkan nash asli &terjemah qoul dari (imam hanafi,imam malik,imam syafii,imam ahmad dan tafsir imam bukhori dan muslim dll). Agar orang awam juga bisa memahami. Untuk di jadikan bahan dikusi.
    Terima kasih.

  • Alfa reyhan said:

    @abu muawiyah
    dengan membedakan antara bid’ah syar iyah dengan bid’ah duniawy,apa bukan berarti anda sudah membuat bid’ah ?
    Sebab menurut Syech Mugbil wadi iy pembagian itu adalah bid’ah,makanya beliau mengarang kitab as shawaiq fi tahrimil malaiq (petir menggelegar tentang haramnya SENDOK??!)
    Lantas para sahabat seperti sayidina Umar dan Ustman apakah beliau mubtadi’?karena jelas beliau2 menambahi syariat yg tidak ada di zaman Nabi?
    Apakah imam2 masjidil haram seperti syuraim dan sudais bisa kita sebut mubtadi’ karena mereka memimpin shalat tahajud berjamaah setiap bulan ramadhan?

  • Amitabacan said:

    Aca… Aca…
    ini ada potongan ayat surat al maidah ayat 3 tolong di bantu jelasin.
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
    QS. al-Mai’dah (5) : 3

    tolong jelasin kajadian ini ???… Lihat Selengkapnya

    Abu Musa Al As’ari Radhiyallahu ‘anhu memasuki masjid Kufah, lalu didapatinya di masjid tersebut terdapat sejumlah orang membentuk halaqah-halaqah (duduk berkeliling). Pada setiap halaqah terdapat seorang Syaikh, dan didepan mereka ada tumpukan kerikil, lalu Syaikh tersebut menyuruh mereka (yang duduk di halaqah) : “Bertasbihlah (ucapkan subhanallah) seratus kali!”, lalu mereka pun bertasbih (menghitung) dengan kerikil tersebut. Lalu Syaikh itu berkata kepada mereka lagi : “Bertahmidlah (ucapkan alhamdulillah) seratus kali!” dan demikianlah seterusnya ……

    Maka Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu mengingkari hal itu dalam hatinya dan ia tidak mengingkari dengan lisannya. Hanya saja ia bersegera pergi dengan berlari kecil menuju rumah Abdullah bin Mas’ud, lalu iapun mengucapkan salam kepada Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah bin mas’ud pun membalas salamnya. Berkatalah Abu Musa kepada Abu Mas’ud : “Wahai Abu Abdurrahman, sungguh baru saja saya memasuki masjid, lalu aku melihat sesuatu yang aku mengingkarinya, demi Allah tidaklah saya melihat melainkan kebaikan. Lalu Abu Musa menceritakan keadaan halaqah dzikir tersebut.

    Maka berkatalah Abu Mas’ud kepada Abu Musa : “Apakah engkau memerintahkan mereka untuk menghitung kejelekan-kejelekan mereka? Dan engkau memberi jaminan mereka bahwa kebaikan-kebaikan mereka tidak akan hilang sedikitpun?!” Abu Musa pun menjawab : “ Aku tidak memerintahkan suatu apapun kepada mereka”. Berkatalah Abu Mas’ud : “Mari kita pergi menuju mereka”.

    Lalu Abu Mas’ud mengucapkan salam kepada mereka. Dan mereka membalas salamnya. Berkatalah Ibnu Mas’ud :“Perbuatan apa yang aku lihat kalian melakukannya ini wahai Umat Muhammad?” mereka menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, ini adalah kerikil yang digunakan untuk menghitung tasbih, tahmid, dan tahlil, dan takbir”. Maka berkatalah Abu Mas’ud : “Alangkah cepatnya kalian binasa wahai Umat Muhammad, (padahal) para sahabat masih banyak yang hidup, dan ini pakaiannya belum rusak sama sekali, dan ini bejananya belum pecah, ataukah kalian ingin berada diatas agama yang lebih mendapat petunjuk dari agama Muhammad ? ataukah kalian telah membuka pintu kesesatan? Mereka pun menjawab : “Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah tidaklah kami menginginkan melainkan kebaikan”. Abu Mas’ud pun berkata :

    “Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tidak mendapatkannya”.

    Berkata Amru bin Salamah : “Sungguh aku telah melihat umumnya mereka yang mengadakan majelis dzikir itu memerangi kita pada hari perang “An Nahrawan” bersama kaum Khawarij”. (Riwayat Darimi dengan sanad shahih)

    Aku (Syaikh Musa Nasr) berkata : “Firasat Ibnu Mas’ud terhadap mereka (yaitu ahli bid’ah yang mengadakan halaqah dzikir) benar, dimana ahli bid’ah itu bergabung bersama kaum khawarij disebabkan “terus menerusnya” mereka dalam kebid’ahan. Dan inilah akhir kesudahan seseorang yang “terus menerus” dalam kebid’ahannya, serta menyelisihi para sahabat nabi.

    baca dulu koment saya yang pertama trus baru baca hadist ini.

    Rosulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    Benar-benar suatu kaum dari umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata : “Ya Allah itu adalah umatku”, maka dikatakan : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]… Lihat Selengkapnya

    Imam Malik, berkata :
    “Barangsiapa berbuat suatu kebid’ahan dalam agama Islam yang ia pandang baik maka sungguh ia menyangka bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah, karena Allah berfirman : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”(Al Maidah 3). Maka apa saja yang pada waktu itu bukan agama tidaklah pada hari ini dianggap sebagai agama, dan tidak akan baik akhir umat ini melainkan dengan apa yang baik pada umat yang awal (para sahabat).”

    memang sesuatu yang batil memang mudah di bantah sedangkan islam ini sudah lengkap.
    jadi g perlu buat hal2 baru dalam islam
    cukupkan ibadah ini dengan mencontoh dari yang sudah ada.

    kalo urusan dunia seperti naik mobil atau naik motor itu urusan dunia. dan rosululloh bersabda :… Lihat Selengkapnya

    “Kamu lebih mengerti tentang urusan duniamu.”

    Sebagai penutup ada satu ayat Al Quran surat AL An’am 153
    yang harus koita jadikan pegangan. karena jalan yang lurus cuma satu dan bukan banyak.

    “Dan sesungguhnya itulah jalanKu yang lurus, maka ikutilah. Dan janganlah engkau semua mengikuti jalan-jalan yang lain-lain, kerana nanti engkau semua dapat terpisah dari jalan Allah” (al-An’am: 153)

  • Hameed ar rayhan said:

    @abu muawiyah
    ketika anda memilah antara bid’ah syar’iyah dan bid’ah duniawi,bukankah pembagian itu sendiri adalah bid’ah?
    Apakah anda menyetujui faham sekuler?apakah anda mengira agama tidak mengatur muamalah ?
    Yang jelas syech mugbil wadi’y mahaguru kalian tidak setuju hal itu,bahkan SENDOK pun dia haramkan karena tidak ada dalil tentangnya,(dia mengarang ash shawaiq fi tahrimil malaiq “petir menggelegar tentang pengharaman SENDOK”)

  • Abu-abu said:

    Terima kasih sdh meluruskan kekeliruan pengertian bid’ah dari wahabiyyun

    Salam

  • elfasi said:

    @ forsansalaf. Terima kasih banyak udah posting artikel tentang bid’ah, mudah2n tetap jaya selalu..
    @ yek salaf n semua orang2 wahhabiyyin, rupanya anda semua ini udah didoktrinisasi oleh syekh2 anda untuk selalu membid’ahkan dan mengatakan sesat apa yang tidak sama dengan paham anda karena anda semua orang2 yang mengaku paling benar sendiri sejagad. Yek salaf, anda ini udah komentarnya hasil copypaste terus isinya banyak menyimpangkan dalil2 dari maksud aslinya. Ane akan mencoba membahas satu persatu dari komentar anda :
    1. Anda katakan “ Perkatan beliau “yang diada-adakan”, yaitu sesungguhnya bid’ah adalah amalan yang tidak mempunyai landasan dalam syari’at yang menunjukkan atasnya sama sekali. Adapun amalan-amalan yang ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at secara umum –walaupun tidak ada dalil tentang amalan itu secara khusus- maka bukanlah bid’ah dalam agama. “
    Dengan perkataan anda ini, berarti anda mengakui bahwa tidak semua dari perkara yang baru walaupun berkaitan dengan keagamaan sebagai bid’ah dengan contoh anda, pengumpulan al-Qur’an. Dengan kata lain, anda juga sudah menyatakan kebolehan dari maulid, karena walaupun maulid tidak punya landasan khusus dalam syariat, tapi dalam maulid mengandung unsur mengajak manusia untuk selalu bersholawat terhadap Nabi, dan ini sesuai dengan kaidah syariat. Bahkan bisa jadi, maulid masih mempunyai dasar lebih kuat daripada pengumpulan Al-Qur’an karena dalam maulid ada shalawat, berdzikir, dan bersedekah yang sangat dianjurkan dan diperintahkan oleh Rasulullah SAW, sedangkan pegumpulan Al-Qur’an, tidak ada perintah sama sekali dari Rasulullah, tapi hanya mendasarkan pada ijtihad para sahabat karena khawatir akan hilangnya bagian dari al-Qur’an dengan matinya para penghafal al-Qur’an dari kalangan para sahabat.
    2. Anda katakan “ Bid’ah itu tertolak atas pelakunya siapapun orangnya.
    Allah –’Azza wa Jalla- menegaskan:
    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS. Ali ‘Imran: 85)
    Dan bid’ah sama sekali bukan bahagian dari Islam sedikitpun juga, sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits yang sedang kita bahas sekarang.
    Mas, klo membawa dalil jangan dengan penafsiran sendiri, anda bawa ayat di atas sebagai dalil untuk bid’ah dengan alasan bahwa bid’ah bukan bagian dari islam. Ayat yang anda bawa, itu ditujukan kepada 12 orang salah satunya Harits bin Suwaid al-anshori yang murtad, sehingga Allah tidak menerima segala amal mereka karena mereka bukan muslim.
    Klo anda tujukan ayat ini untuk orang yang melakukan maulid, justru anda ini yang telah melakukan hakikat dari bid’ah yaitu menafsiri ayat dengan pemikiran sendiri. Tidak ada dalil yang memperbolehkan tafsir dengan pemikiran sendiri, yang ada hanya ancaman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
    مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “ barang siapa berbicara (menafsirkan) al-Qur’an dengan pemikirannya sendiri, maka berarti telah mempersiapkan tempatnya (untuk diadzab) di neraka “

    3. Anda katakan “ Setiap pelaku bid’ah akan diusir dari telaga Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.
    Beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda:
    أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ وَلَيُرْفَعَنَّ مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي فَأَقُولُ يَا رَبِّ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
    “Saya menunggu kalian di telagaku, akan didatangkan sekelompok orang dari kalian kemudian mereka akan diusir dariku, maka sayapun berkata : “Wahai Tuhanku, (mereka adalah) para shahabatku”, maka dikatakan kepadaku : “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah kematianmu”. (HSR. Bukhary-Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)”.
    Mas, gimana menurut anda dengan perbuatan sahabat Umar bin Khottob, mengumpulkan jamaah shalat tarawih jadi satu, padahal Rasulullah meninggalkannya, dan syd Umar menyatakan نعمت البدعة هذه “ sebaik-baik bid’ah adalah ini”. Begitu juga yang dilakukan oleh syd Utsman menjadikan adzan shalat Jum’ah dua kali, padahal Rasulullah tidak melakukannya dan tidak pula memerintahkannya. Apakah anda akan katakan mereka semua akan diusir dari telaga haudh karena telah melakukan bid’ah ?? bahkan mereka telah mendapatkan jaminan dari Rasulullah menjadi penghuni surga. Oleh karena itu, lihat dulu mas, konteks hadits itu apa ? apakah cocok diarahkan untuk yang berlaku bid’ah ?
    Konteks hadits yang anda bawa itu untuk kaum murtaddin sepeninggal Nabi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya yang murtad dizaman khalifah Abubakar ra. Sehingga beliau memerangi mereka. Lihat dalam kitab tuhfatul akhwadzi syarh sunan at-Tirmidzi.

    4. Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata:
    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ
    “Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.
    Mas, anda dan orang wahhabi bisanya cuman mengambil pendapat sepihak yang cocok dengan paham anda, tapi meninggalkan pernyataan lainnya yang tidak sama. Klo anda bawa pernyataan Imam Syafi’i, bawa juga pernyataan beliau yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim sebagaimana dalam disebutkan dalam kitab fath al-baari juz 20 hal. 330 :
    قالَ الشَّافِعِيّ ” الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّة فَهُوَ مَحْمُود وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوم ”
    Berkata Imam Syafi’i “ bid’ah ada dua macam : mahmudah dan madzmumah. Apa yang sejalan dengan sunnah Nabi, maka mahmudah, dan apa yang bertentangan dengannya, maka madzmumah.”

    Sedangkan riwayat dari al-Baihaqi, beliau Imam Syafi’i berkata :
    الْمُحْدَثَات ضَرْبَانِ مَا أُحْدِث يُخَالِف كِتَابًا أَوْ سُنَّة أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَة الضَّلَال ، وَمَا أُحْدِث مِنْ الْخَيْر لَا يُخَالِف شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَة غَيْر مَذْمُومَة ”
    “ perkara yang di ada-adakan ada dua macam : apa yang bertentangan dengan al-Qur’an atau sunnah atau atsar atau ijma’ ulama’, maka bid’ah dholalah. Dan apa yang tidak bertentangan sama sekali, maka termasuk perkara yang diada-adakan yang bukan madzmumah.”

    Mas, dari dua riwayat ini secara jelas bahwa imam syafi’i masih mengakui bahwa sebagian dari perkara yang diada-adakan masih dianggap bagus selama tidak bertentangan dengan syari’at.

  • elfasi said:

    @ baby-fish, anda katakan “ Bukankah dalam maulid itu org memuji2 rasullulah dengan cara yg melebihi2 bahkan sedar atau tidak memuji nabi saw sampai menyamakan ama ALLAH?? ……. Tetapi banyak manusia yang melanggar larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, sehingga mereka berdo’a kepadanya, meminta pertolongan kepadanya, ber-sumpah dengan namanya serta meminta kepadanya sesuatu yang tidak boleh diminta kecuali kepada Allah. Hal itu sebagaimana yang mereka lakukan ketika peringatan maulid Nabi , dalam kasidah atau anasyid, dimana mereka tidak membedakan antara hak Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hak Rasulullah “
    Mas, fitnahan macam apa lagi ini, apakah anda pernah baca maulid atau hadir saja, kok bisa anda katakan menyamakan Rasulullah dengan Allah SWT ? atau anda hanya sekedar mendengar doktrin dari syekh2 anda tanpa anda meneliti terlebih dahulu ? lihat dulu mas, jangan asal keluar fitnah murahan seperti itu.
    Klo anda katakan meminta kepada selain Allah, sebagai contoh minta syafaat Rasulullah, berarti anda tidak mengerti sama sekali tentang penggunaan kalimat hakiki dan majazi. Sebagai contoh : anda minta ajari suatu ilmu dari seorang guru, bukankah pemberi ilmu adalah Allah, tapi anda minta kepada seorang guru. Seorang guru mengajar dan meberi ilmu itu secara majazi, tapi hakikatnya pemberi ilmu adalah Allah. Jika anda pertentangkan ini, lihat hadits berikut :
    عن ربيعة بن كعب الأسلمي ، رضي الله عنه قال : كنت آتي النبي صلى الله عليه وسلم بوضوئه وبحاجته فقال : « سلني » فقلت : مرافقتك في الجنة فقال : « أو غير ذلك ؟ » فقلت : هو ذاك فقال : « أعني على نفسك بكثرة السجود »
    Dari sahabat Rabi’ah bin ka’ab al-Aslami ra, berkata “ aku mendatangi Rasulullah dengan membawa air untuk wudhu’ dan keperluannya, lalu Rasulullah berkata “mintalah kepadaku” akupun menjawab “ aku minta kepadamu untuk selalu bersamamu di surga” Beliaupun berkata “ atau ada yang lain” aku menjawab : “ cukup itu saja”. Beliaupun berkata : “ bantulah (untuk memenuhi keinginannmu) dengan kau perbanyak sujud (ibadah)”

    Dari hadits di atas, bisa kita lihat bagaimana Rasulullah tidak melarang bahkan memerintahkan orang lain untuk meminta kepadanya dengan berkata “ سلني (mintalah kepadaku)“. Dan ketika sahabat Rabi’ah meminta perkara akhirat yaitu surga, beliaupun tidak mengingkarinya atau melarangnya, padahal urusan orang masuk surga atau neraka hanya urusan Allah semata.
    Klo anda katakan meminta kepada Rasulullah haram dan syirik, berarti sahabat Rabi’ah telah melakukan syirik di hadapan Rasulullah SAW dan beliau tidak juga mengingkarinya atau melarangnya padahal amar ma’ruf dan nahi munkar wajib bagi seorang muslin apalagi seorang Rasul. Klo tidak mengingkari berarti Rasul telah berbuat dosa, hal ini sangat bertentangan dengan sifat Nabi yang ma’sum (terjaga dari perbuatan dosa).
    Intinya, kepada siapapun itu boleh selama menjadikannya hanya sebatas sebagai majas dengan tetap meyakini bahwa hakikat segala pemberian itu dari Allah semata dan tidak ada yang kuasa melainkan Allah SWT.

  • muhibbin said:

    @ all wahhabi, wah… komentar kalian semua kok mirip2 gini, rupanya kalian baca kitab yang sama atau cuman mendengarkan penjelasan dari guru dengan paham2 dan doktrin2 yang sama juga.
    Yek salaf n amitabacan, hukum wajib dan sunnah diambil dari ayat atau hadits yang menerangkan perintah (ورود الأمر ). Hukum haram dan makruh diambil dari ayat atau hadits yang menerangkan larangan (ورود النهي ). Jika tidak ada ayat atau riwayat perintah/ larangan, maka dinyatakan hukumnya ibahah (boleh). Oleh karena itu, jika anda mengharamkan perbuatan yang tidak ada ورود النهي (nash larangan) dengan jelas, sesungguhnya anda telah membuat hukum baru dalam masalah agama. Inilah yang dimaksud dalam hadits yang kalian bawa :
    مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
    “ barang siapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan (agama) ini, apa yang tidak ada darinya, maka tertolak”
    Justru inilah hakikat dari bid’ah yang telah anda lakukan. Bukankah Allah SWT telah berfirman :
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu “
    Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan segala urusan agama islam termasuk hukum2 islam, sehingga tidak ada hukum halal dan haram lagi setelah turunnya ayat ini, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir ¬Al-Baghowi juz 3 hal 13.
    تفسير البغوي – (ج 3 / ص 13(
    قوله عز وجل: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } يعني: يوم نزول هذه الآية أكملت لكم دينكم، يعني الفرائض والسنن والحدود والجهاد والأحكام والحلال والحرام، فلم ينزل بعد هذه الآية حلال ولا حرام، ولا شيء من الفرائض. هذا معنى قول ابن عباس رضي الله عنهما
    Pendapat Ibn Abbas, yang dimaksud “ aku menyempurnakan agamamu” yaitu kewajiban2, sunnah2, had2, jihad, hukum2, halal dan haram. Maka tidaklah turun setelah ayat ini hukum halal dan haram lagi, juga kewajiban2 lagi.
    Akan tetapi, anda justru membuat satu hukum baru lagi, berarti anda telah menuduh Rasulullah tidak amanah karena tidak menyampaikan semua hukum2 syariat. Allah dan Rasul-Nya aja tidak mengharamkan, tapi anda orang2 wahhabi mengharamkan, emangnya syari’atnya ente ???
    Coba baca lagi tulisan jomfikir, bagaimana sahabat yang paling memahami arti ayat dan sabda Nabi, tapi mereka juga melakukan perbuatan2 yang tidak dilakukan oleh Nabi. Apakah mereka itu melakukan kesesatan sehingga masuk neraka ?? atau anda mengaku lebih alim daripada mereka para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in ?
    Anda ini baru tau dari copypaste aja udah ngerasa paling benar lalu memvonis orang sesat dan masuk neraka.

  • zen said:

    Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi washohbihi wasallim.

    Terus berjuang ustadz aswaja.. kami orang awam terus menyimak.

  • Nancy said:

    NOGOMONG-NGOMONG masalah BIDH’AH ?? Lebih baik dengerin wacana Ustadz kami (Abu Al-Juzaa’)

    Pada bahasan pembagian bid’ah, beberapa ulama membagi bid’ah menjadi dua yaitu : bid’ah yang baik (bid’ah hasanah) dan bid’ah yang tercela (bid’ah madzmumah). Mereka menyandarkan pembagian tersebut kepada Al-Imam Asy-Syafi’iyrahimahullah, yang kemudian dengan semangat pembagian ini diikuti secara ghulluwoleh para pengikut hawa nafsu. Melalui dasar pembagian bid’ah ini, maka hampir dikata tidak ada istilah bid’ah (dlalalah) dalam terminology syari’at menurut mereka, karena setiap orang berhak untuk menentukan kadar baik dalam bid’ah yang mereka lakukan.

    Oleh karena itu, pada artikel kali ini saya mencoba menuliskan secara singkat tentang bid’ah hasanah menurut sisi pandang Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. Namun sebelumnya, perlu kiranya saya tuliskan sedikit dalil dan riwayat atau atsar yang menyinggung tentang tercelanya bid’ah dan bahayanya.

    Allah ta’ala berfirman :

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [QS. Al-Maaidah : 3].

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ)

    Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah kepada suatu umat sebelumku melainkan dari umatnya itu terdapat orang-orang yang menjadi pengikut (hawariyyun) dan shahabatnya yang mereka mengambil sunnahnya dan mentaati perintahnya. Kemudian setelah itu terjadi kebusukan/perselisihan dimana mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia seorang mukmin. Barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya maka ia seorang mukmin. Dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, ia juga seorang mukmin. Selain itu, maka tidak ada keimanan sebesar biji sawipun” [HR. Muslim no. 50 dan Ahmad 1/458 no. 4379, 1/461 no. 4402].

    Berkata Bakr bin Al-’Alaa’ :

    فَقَالَ مُعَاذُ بْنِ جَبَلٍِ يَوْمًَا : إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا، يَكْثُرُ فِيْهَا الْمَالُ، وَيُفْتَحُ فِيْهَا الْقُرْانُ، حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ، وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ، وَالصَّغِيْرُ وَالْكَبِيْرُ، وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ، فَيُوْشِكُ قَائِلٌُ أَنْ يَقُوْلَ : مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُوْنِي، وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْانَ ؟ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى أَبْتَدَعَ لَهُمْ غَيْرَهُ ! فَإِيَّكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ، فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌُ، وَأُحَذُِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيْمِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُوْلُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيْمِ، وَقَدْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ.

    Mu’adz bin Jabal berkata pada suatu hari : ”Sesungguhnya di belakang kalian nanti akan terdapat fitnah, dimana pada waktu itu harta berlimpah ruah dan Al-Qur’an dalam keadaan terbuka hingga semua orang baik mukmin, munafiq, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, hamba sahaya, atau orang merdeka pun membacanya. Pada saat itu akan ada seseorang yang berkata : ’Mengapa orang-orang itu tidak mengikutiku padahal aku telah membaca Al-Qur’an ? Mereka itu tidak akan mengikutiku hingga aku membuat-buat sesuatu bagi mereka dari selain Al-Qur’an !’. Maka hendaklah kamu hati-hati/waspada dari apa-apa yang dibuat-buat (oleh manusia), karena sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat (bid’ah) itu adalah kesesatan. Dan aku peringatkan kalian akan penyimpangan yang dilakukan oleh seorang hakim ! Karena seringkali syaithan itu mengatakan kalimat kesesatan melalui lisan seorang hakim, dan seringkali seorang munafiq itu berkata tentang kebenaran” [HR. Abu Dawud no. 4611; shahih – Shahih Sunan Abi Dawud 3/120].

    عَنْ عَبْدِ اللهِ (بْنِ مَسْعُوْد) قَالَ : الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

    Dari ’Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 223, Al-Laalikaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 14, 114, Al-Haakim 1/103, dan yang lainnya; sanad riwayat ini jayyid].

    عَن المبَارَك عَن الحَسَن قَالَ سننكم والله الذي لا إله إلا هو بينهما بين الغالي والجافي فاصبروا عليها رحمكم الله فإن أهل السنة كانوا أقل الناس فيما مضى وهم أقل الناس فيما بقي الذين لم يذهبوا مع أهل الأتراف في أترافهم ولا مع أهل البدع في بدعهم وصبروا على سنتهم حتى لقوا ربهم فكذلك إن شاء الله فكونوا

    Dari ’Abdillah bin Al-Mubarak dari Al-Hasan ia berkata : ”Perbedaan antara perilaku/perikehidupan kalian dengan sesuatu yang disyari’atkan oleh Allah yang tiada tuhan yang patut disembah dengan benar melainkan Dia, seperti perbedaan antara sesuatu yang sangat berharga (mahal) dengan sesuatu yang busuk (murah). Maka bersabarlah kalian dalam memegang syari’at Allah, niscaya Allah akan mengasihi kalian. Sesunggunya Ahlus-Sunnah itu merupakan kelompok yang sangat sedikit dan kecil, baik pada masa lampau maupun pada masa yang akan datang. Mereka itu adalah orang yang tidak senang bercampur dengan ahli maksiat pada kemaksiatan mereka, dan tidak mau bekerjasama dengan para ahli bid’ah dalam mengerjakan kebid’ahan mereka. Bersabarlah kalian dalam memegang apa yang diwariskan oleh Ahlus-Sunnah hingga kalian menghadap Tuhannya (Allah). Seandainya kalian melakukannya, maka insyaAllah keberadaan kalian seperti mereka” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 222; dla’if].

    عَنِ ابْنِ الْعَبَاس – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – أَنَهُ قَالَ : مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ ، إِلّا أَحْدَثُوْا فِيْهِ بِدْعَةً ، وَأَمَاتُوْا فِيْهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَا الْبِدَعِ وَتَمُوْتُ السُّنَنُ.

    Dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma bahwasannya ia berkata : Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka membuat-buat bid’ah dan mematikan sunnah di dalamnya. Hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah” [Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid, 1/188, Bab Fil-Bida’i wal-Ahwaa’ : ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir, dan rijalnya adalah terpercaya”. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wadldlaah dalam Kitaabul-Bida’ hal. 39].

    Itulah sedikit di antara nash dan atsar dari para pendahulu kita yang shalih (as-salafush-shalih) tentang tercelanya bid’ah. Mereka memutlakkan apa-apa yang baru dalam syari’at yang tidak ada dalilnya dan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya sebagai bid’ah. Mereka tidak pernah mengecualikan bid’ah dengan kata hasanah (baik), karena seluruh bid’ah menurut mereka adalah dlalalah (sesat). Barangsiapa yang mengklaim ada bid’ah yang tergolong hasanah, maka pada hakekatnya ia telah menuduh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan semua risalah. Baik baginya untuk memperhatikanlah perkataan Ummul-Mukminin ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa :

    وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًَا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَيْهِ الْفِرْيَةًَ، واللهُ يَقُوْلُ : (يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه)

    “Dan barangsiapa yang menyangka Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallammenyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang diturunkan Allah, sungguh ia telah membuat kedustaan yang sangat besar terhadap Allah. Padahal Allah telah berfirman : ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah : 67) [HR. Al-Bukhari no. 7380 dan Muslim no. 177].

    Juga hendaknya ia memperhatikan perkataan ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma :

    كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ

    ”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].

    Jika kita kaitkan dengan perbuatan salafunash-shaalih di bawah, maka perkataan di atas akan lebih jelas maksudnya.

    عن نافع أن رجلا عطس إلى جنب بن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال بن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه وسلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال

    Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajarikami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (Alhamdulillah dalam segala kondisi) [HR. At-Tirmidzi no. 2738, Hakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan].

    Membaca shalawat kepada Nabi di waktu yang tidak dicontohkan (yaitu sewaktu bersin) ternyata diingkari oleh Ibnu ‘Umar dengan alasan bahwa hal itu tidak dicontohkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah bid’ah. Tidak ada pemahaman di dalamnya adanya bid’ah hasanah (walau dengan alasan membaca shalat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

    Oleh karena itu, Al-Imam Malik rahimahullah – pemimpin ulama Madinah di jamannya – sangat mengingkari bid’ah hasanah. Ibnul-Majisyun mengatakan :

    سمعت مالكا يقول : “من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا”

    ”Aku mendengar Imam Malik berkata : ”Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu (yaitu hari dimana Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya masih hidup) bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama” [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].

    Kembali pada pembahasan Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah. Kita tidak pernah berpandangan bahwa beliau menyelisihi pendahulunya dari kalangan shahabat, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in. Tidak pula ia menyelisihi gurunya, Al-Imam Malik bin Anasrahimahullah sebagaimana di atas. Beliau (Al-Imam Asy-Syafi’iy) pernah berkata :

    مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

    Asy-Syaukani menukil perkataan Ar-Ruyani ketika menjelaskan perkataan Asy-Syafi’iy di atas :

    معناه أنه ينصب من جهة نفسه شرعًا غير الشرع

    “Maknanya adalah orang yang menetapkan hukum syar’iy atas dirinya dan tidak berdasarkan dalil-dalil syar’iy” [Irsyaadul-Fuhuul, hal. 240].

    Dalam Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah mengatakan :

    إِنَّمَا الاستحسانُ تلذُّنٌ

    “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].

    Dan juga dalam kitab Al-Umm (7/293-304) terdapat pasal yang indah berjudul : Pembatal Istihsaan/Menganggap Baik Menurut Akal (Ibthaalul-Istihsaan).

    Perkataan-perkataan di atas tidak mungkin kita pahami bahwa Al-Imam Asy-Syafi’iy menetapkan bid’ah hasanah – satu klasifikasi yang tidak pernah disebut oleh para pendahulu beliau. Bid’ah hasanah pada hakekatnya kembalinya pada sikap istihsan(menganggap baik sesuatu) tanpa dilandasi dalil, dan ini ditentang oleh beliaurahimahullah. Apabila kita tanya kepada mereka yang berkeyakinan adanya bid’ah hasanah : “Apa standar Anda dalam menentukan baiknya satu bid’ah ?”. Niscaya kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, karena memang tidak ada standarnya. Akhirnya, jika kita rangkum keseluruhan pendapat mereka beserta contoh-contohnya, tidaklah tersisa bid’ah bagi mereka kecuali ia adalah hasanah. Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

    فالواجب على العالم فيما يَرِدُ عليه من الوقائع وما يُسألُ عنهُ من الشرائعِ : الرجوعُ إلى ما دلَّ عليهِ كتابُ اللهِ المنزَّلُ، وما صحَّ عن نبيّه الصادق المُرْسَل، وما كان عليه أصحابهُ ومَن بعدَهم مِن الصدر الأول، فما وافق ذلك؛ أذِنَ فيه وأَمَرَ، وما خالفه؛ نهى عنه وزَجَرَ، فيكون بذلك قد آمَنَ واتَّبَعَ، ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ).

    “Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang syari’at adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan atsar para shahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan, dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Sebab :‘Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at” [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawaditsoleh Abu Syaammah, hal. 50].

    Lantas bagaimana riwayat yang dibawakan oleh Abu Nu’aim tentang perkataan Asy-Syafi’iy tentang pembagian bid’ah terpuji dan tercela ?

    Harmalah bin Yahya meriwayatkan :

    سمعت الإمام الشافعي – رحمه الله – يقول : ( البدعة بدعتان : بدعة محمود وبدعة مذمومة ، فما وافق السنة فهو محمود ، وما خالف السنة فهو مذموم )

    ”Aku mendengar Imam Asy-Syafi’i – rahimahullah – berkata : ’Bid’ah itu ada dua macam : (1) Bid’ah yang terpuji, dan (2) Bid’ah yang tercela. Apa-apa yang sesuai dengan Sunnah, maka hal itu adalah (bid’ah yang) terpuji. Sedangkan yang menyelisihi sunnah, maka hal itu adalah (bid’ah yang) tercela” [Hilyatul-Auliyaa’ oleh Abu Nu’aim 9/113, Daarul-Kutub Al-’Ilmiyyah, Cet. 1/1409 H].

    Asy-Syaikh ‘Ali Al-Halabiy hafidhahullah telah menjelaskan bahwa selain riwayat ini bertentangan dengan perkataan Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah yang telah dinukil sebelumnya, juga sanadnya lemah, karena dalam sanadnya terdapat perawi yangmajhul [lihat ‘Ilmu Ushuulil-Bida’, hal. 121; Daarur-Raayah, Cet. 2/1417].

    Ini saja yang dapat dituliskan. Semoga ada manfaatnya.

    Abu Al-Jauzaa’ – Ciomas Permai, 2 Jumadits-Tsaaniy 1430

  • burhan said:

    perdebadan antara nabi musa AS(eksotisme/syar`iyyah) dan hidir (esotisme, haqiqiyah)

    …aliran eksotisme pasti tidak akan mampu mengikuti jalan pikiran aliran esotisme,,mungkin mereka menunggu teguran dari Tuhan dulu baru tersadar..(baca QS.Al kahfi)

  • Alfa rayhan said:

    WAHHABY:Jangan ziarah!!!
    ASEP: Kenapa?
    W:Karena ziarah itu bid’ah,syirik,ada haditsnya loh…..KULLU MUHDATSATIN BID’AH WA KULLU BID’ATIN DHOLALAH WA KULLU DHOLAALATIN FINNAR………SEMUA YANG BARU ITU ADALAH BID’AH DAN SEMUA YANG BID’AH ITU SESAT,DAN SEMUA YANG SESAT ADA DI NERAKA(sambil tersenyum mengejek….)
    A:gak ada pengecualian??
    W:ente ini bahlull ya ?? tidak tahu bahasa Aroooob?? Kullu itu artinya semua mua mua tauk………?????
    A:Oh gitu,berarti pake Hp,main internet,itu bid’ah juga ya???
    W:Loh kok bid’ah?(sambil pegang HPnya)
    A:Tadi katanya semua yang baru itu bid’ah????
    W:Loh kan Loh kan……(agak gugup)itukan urusan duniawyyyy jangan dibawa2……. (-dalam hati-kalo yang itu gue juga doyan…)
    A:oh gitu terus yang bid’ah yang mana??
    W:Ya itu kalo urusan agama……….
    A:Oh yang urusan2 agama aja ya???
    W:Ya iyya laaaaaaaaah……
    A:Kalo gitu shalat tarawih berjamaah itu bid’ah ya?
    W:Loh kok bid’ah juga???
    A:Iya saya denger yang pertama mengadakannya dengan berjamaah adalah Sayyidina Umar……
    W:Oh lain itu lain……(tambah gugup)Beliau itukan sahabat jadi gak papa itu gakpapa……gakpapa beliau mengadakan bid’ah
    A:Oh gakpapa ya????Kalau selain sahabat???
    W:Nah itu yang disebut bid’ah dholalah finnar…..(agak ngos-ngosan)
    A:Tadi kan shalat taraweh berjamaah nah…..Kalo ada orang melakukan shalat tahajjud berjamaah itu bid’ah bukan??
    W:Oooooh bid’ah itu mana orangnya??mana…….?? biar tak antemi…
    A:Beneran mas mau ngantemi orang itu????
    W:Ya iyya laaaaah mana orangnya manaaa??????
    A:Itu mas ada di masjidil haram sudays dan syuraim……hayyo berani gak….
    W:mf……..mf……(gak bisa ngomong lagi……muka merah ngempet marah…….)
    DIALOG TERSEBUT BENAR2 TERJADI DI PELATARAN MAQBAROH UHUD ANTARA ASEP(NAMA SAMARAN) DAN SEORANG MUTHOWWA WAHHABY MUSIM HAJI 2 TAHUN LALU,SETELAH DISESUAIKAN TRANSLITINGNYA OLEH SAYA

    Kalo ada orang melakukan bid’ah mau sampeyan apakan???

  • riariani said:

    @ nancy
    Boleh kritik?
    Kalo sampean belajar ilmu alat(NAHWU SOROF) sampean akan malu sendiri..
    Banyak pemlintiiran makna.
    Tapi alkhamdulillah sampean tidak mengerti ilmu alat,jadi nggak usah malu..
    Hi..hi..(Gurunya copy paste,jangan2 ABU AL JAUZZA juga berguru pada syekh copy al- paste? )

    Nb:untuk mencari KEBENARAN jangan berlandas pada KEBENCIAN.

    Ma’af ya..saya juga masih belajar kq..belajar bareng yuu..k..

  • Ultraman said:

    Sufyan Ats-Tsauri menga-takan :
    “Bid’ah lebih disukai ‘iblis’ daripada ‘maksiat’ karena dalam maksiat masih terbuka sekali kemungkinan untuk bertaubat sedangkan dalam bid’ah sangat sulit”.

    (Al-Baqhawy,Syarah As-Sunnah, 1/216)

  • Ultraman said:

    “Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”(QS 7 Al A’raaf : 204)

    Kalo dlm 1 majlis semua pd baca Qur’an,lalu siapa yg mdengarkan dan memperhatikannya?

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS 7 Al A’raaf : 205)… Lihat Selengkapnya

    Kalo berdzikir dgn teriak2/bersuara keras(bahkan pakai microphone) sampai ganggu orang sholat disekitarnya,bukankah bertentangan dgn ayat diatas?

  • zen said:

    Bismillah…

    Assalamu’alaykum

    Perkenankanlah kami orang awam yang ingin belajar, kepada syech (wahabiy) atau forsansalaf yang mau menjawab (terserah… tapi kalau kedua belah pihak mau menjawabnya, wah tambah siiip dech…), kami akan siap untuk mempelajarinya.

    1. Manakah yang akan antum lakukan ketika hendak sholat
    a. pakai celana panjang atau sarung?
    b. Sholat pakai kopyah putih/warna lainnya atau tanpa kopyah?
    c. Sholat pakai baju taqwa atau batik?
    d. Sholat pakai siwak atau tidak?

    2. Belajar ilmu agama pakai kitab salafus sholeh atau buku2/e-book?

    Semoga antum tidak keberatan untuk menjawabnya.

  • forsan salaf (author) said:

    @ all pengunjung, pembahasan kali ini adalah bid’ah dholalah, apakah itu ?. kami mohon jangan melebar kepada pembahasan yang lain, seperti maulid, masalah sayyid atau yang lainnya, karena sebentar lagi akan kita bawakan juga artikel2 sendiri untuk masalah2 itu semuanya. Harapan kami, kiriman anda dan komentar anda baik berupa sanggahan atau pembelaan masih seputar masalah BID’AH bukan yang lainnya sehingga pembahasan terarah.
    pertanyaannya :
    1. jika dimutlakkan semua yang baru bid’ah dhoalalah, bagaimana para sahabat yang mengerjakan hal2 yang baru yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah, seperti adzan dua kali pada shalat Jum’ah, penyatuan shalat tarawih berjama’ah dan lain-lain ?
    2. apa artinya نعمت البدعة هذه yang dikatakan oleh syd Umar ?
    3. definisi apa yang paling tepat untuk bid’ah ?
    Ya Allah tampakkan kepada kami kebenaran dan jadikan kami orang2 yang mengikutinya, juga tampakkan kepada kami kebatilan dan jadikan kami orang2 yang menjahuinya.

  • elfasi said:

    @ all wahhabi, dalil2 yang anda bawa memang menerangkan secara jelas tentang bid’ah. Namun anda semua tidak pernah menerangkan secara jelas, apa definisi yang paling tepat dari bid’ah dan bisa ditinjau dari apa saja ?
    Permasalahannya, jika anda menganggap semua perkara yang baru sebagai bid’ah, terus bagaimana dengan perbuatan para sahabat yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi seperti yang dicontohkan oleh jomfikir, apakah anda akan mengatakan mereka sebagai ahli bid’ah ? Bukankah penggunaan lafdh kullu dan bid’ah telah di bahas di atas, tapi anda belum menjawab, malah anda ngelantur membahas yang lainnya.
    Tolong sekarang jawab, komentar jomfikir dan artikel di atas !
    Satu lagi, mas ultraman, anda bawa ucapan Sufyan Atsauri berikut :
    “ Bid’ah lebih disukai ‘iblis’ daripada ‘maksiat’ karena dalam maksiat masih terbuka sekali kemungkinan untuk bertaubat sedangkan dalam bid’ah sangat sulit “ dari kitab fatwa ulama’2 anda sendiri, sehingga dipaksakan arti bid’ah sesuai dengan pemahaman mereka,padahal diktab2 disebutkan bahwa bid’ah yang dimaksud di atas adalah bid’ah dholalah, bukan bid’ah huda, akan tetapai disembunyikanoleh ulama’ anda. Ini adalah bentuk kecurangan dari ulama’ wahhabi. Coba anda liat di kitab2 berikut :
    أمالي ابن بشران – (ج 2 / ص 251)
    أخبرنا أبو الحسن أحمد بن إسحاق بن منجاب ، ثنا أحمد بن محمد بن سعيد المروزي ، ثنا محمد بن رزق الله ، ثنا عبد الله بن سعيد ، ثنا يحيى بن يمان ، قال : سمعت سفيان الثوري ، يقول : « البدعة (1) أحب إلى إبليس من المعصية ؛ لأن المعصية يتاب منها ، وإن البدعة لا يتاب منها »
    __________
    (1) البدعة بِدْعَتَان : بدعة هُدًى، وبدعة ضلال، فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيِّز الذّم والإنكار، وما كان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَضَّ عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح، وما لم يكن له مثال موجود كنَوْع من الجُود والسخاء وفعْل المعروف فهو من الأفعال المحمودة، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما وَردَ الشرع به
    “ bid’ah ada dua : bid’ah huda dan bid’ah dholal. Maka apa yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul adalah dari bagian yang tercela dan kemungkaran. Dan apa yang terkandung dari yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul, maka dari bagian yang terpuji”
    البدع لابن وضاح – (ج 1 / ص 41)
    حدثني ابن وضاح ، عن أبي أيوب الدمشقي سليمان بن شرحبيل قال : نا ضمرة بن ربيعة ، قال سمعت سفيان الثوري ، وسأله عمر بن العلاء اليماني فقال : « يا أبا عبد الله أستقبل القاص ؟ فقال : » ولوا البدع (1) ظهوركم «
    __________
    (1) البدعة بِدْعَتَان : بدعة هُدًى، وبدعة ضلال، فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيِّز الذّم والإنكار، وما كان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَضَّ عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح، وما لم يكن له مثال موجود كنَوْع من الجُود والسخاء وفعْل المعروف فهو من الأفعال المحمودة، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما وَردَ الشرع به
    شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي – (ج 1 / ص 194)
    169 – أخبرنا عبيد الله بن محمد بن أحمد ، قال : أخبرنا علي بن محمد بن أحمد بن يزيد الرياحي ، قال : حدثنا أبي قال : حدثنا أبي قال : حدثنا سعيد بن سعيد الخراساني ، عن سفيان الثوري ، عن مغيرة ، عن إبراهيم ، عن عبد الرحمن بن يزيد ، قال : سمعت عبد الله بن مسعود يقول : « إياكم وما يحدث الناس من البدع (1) ، فإن الدين لا يذهب من القلوب بمرة ، ولكن الشيطان يحدث له بدعا حتى يخرج الإيمان من قلبه ، ويوشك أن يدع الناس ما ألزمهم الله من فرضه في الصلاة والصيام والحلال والحرام ، ويتكلمون في ربهم عز وجل ، فمن أدرك ذلك الزمان فليهرب » . قيل : يا أبا عبد الرحمن فإلى أين ؟ « قال : » إلى لا أين « . قال : » يهرب بقلبه ودينه ، لا يجالس أحدا من أهل البدع «
    __________
    (1) البدعة بِدْعَتَان : بدعة هُدًى، وبدعة ضلال، فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيِّز الذّم والإنكار، وما كان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَضَّ عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح، وما لم يكن له مثال موجود كنَوْع من الجُود والسخاء وفعْل المعروف فهو من الأفعال المحمودة، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما وَردَ الشرع به
    شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة للالكائي – (ج 1 / ص 233)
    208 – أخبرنا عيسى بن علي ، قال : أخبرنا عبد الله بن محمد البغوي ، قال : حدثنا أبو سعيد الأشج ، قال : حدثنا يحيى بن اليمان ، قال : سمعت سفيان الثوري يقول : « البدعة (1) أحب إلى إبليس من المعصية ، والمعصية يتاب منها ، والبدعة لا يتاب منها »
    __________
    (1) البدعة بِدْعَتَان : بدعة هُدًى، وبدعة ضلال، فما كان في خلاف ما أمَر اللّه به ورسوله صلى اللّه عليه وسلم فهو في حَيِّز الذّم والإنكار، وما كان واقعا تحت عُموم ما نَدب اللّه إليه وحَضَّ عليه اللّه أو رسوله فهو في حيز المدح، وما لم يكن له مثال موجود كنَوْع من الجُود والسخاء وفعْل المعروف فهو من الأفعال المحمودة، ولا يجوز أن يكون ذلك في خلاف ما وَردَ الشرع به
    Dan masih banyak dalam kitab2 yang lainnya……. Oleh karena itu, jangan anda baca kitab2 karangan ulama’ wahhabi aja, tapi baca juga kitab2 ulama’ lainnya, biar tau kecurangan mereka. Kadang kalanya, mengambil hanya sepenggal saja, tapi menutupi keterangan yang menjelaskannya (sebagaimana contoh di atas), dan kadang kalanya memelintir maksud dan arti sebenarnya.

  • muhibbin said:

    @ wahhabiyyin, kalau lafdh kullu bid’atin dholalah anda artikan semua bid’ah itu sesat, berarti anda telah menvonis sahabat, tabi’in dan orang2 setelah mereka telah berbuat bid’ah. Anda telah menvonis syd Umar telah berbuat bid’ah karena menyatukan shalat tarawih berjama’ah, anda telah menvonis syd Utsman berbuat bid’ah karena telah menjadikan adzan Jum’ah dua kali, anda telah menvonis ulama’2 berbuat bid’ah karena telah membukukan ilmu2 syari’at (hadits, fiqh dan lainnya), padahal semua itu berkaitan dengan urusan agama. Ini sungguh sangat mengherankan sekali, para sahabat dan tabi’in yang paling dekat dengan Nabi dan paling mengerti arti dari ucapan Beliau anda tuduh sesat, dan anda mengira diri anda paling benar dan satu2nya yang berjalan di jalan Nabi.
    Oleh karena itu mas, jangan hanya melihat lafdh kullu aja, tapi perhatikan dulu definisi bid’ah yang paling tepat itu apa ?. baca lagi dong, artikel di atas, kan udah diterangkan secara gamblang arti definisi dari bid’ah, yang pada intinya selama tidak bertentangan dengan syari’at, maka bukan dinamakan bid’ah dholalah, walaupun secara bahasa maksud dalam pengertian bid’ah sebagaimana pernyataan dari syd Umar. Dari sinilah, sehingga banyak dari sahabat menggunakan ijtihad mereka, dan melakukan perbuatan walaupun tidak dilakukan oleh Nabi selama mereka nilai tidak bertentangan dengan syari’at. Bukankah Allah SWT memerintahkan hambanya untuk selalu berbuat kebajikan, sebagaimana ayat berikut :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (Q.S. Al-Hajj ; 77)
    Begitu juga dengan sabda Rasulullah SAW :
    مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
    “ barang siapa mengajak perbuatan baik dalam islam lalu diamalkan, maka dicatat baginya pehala seperti pahala orang yang melakukannya. Dan barang siapa yang mengajak pada perbuatan buruk lalu dilakukannya, maka dicatat baginya dosa seperti dosa orang yang melakukannya dengan tidak dikurangi dari dosanya sedikitpun”

  • JomFikir said:

    Ultraman menyebut begini :

    Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”(QS 7 Al A’raaf : 204)

    Kalo dlm 1 majlis semua pd baca Qur’an,lalu siapa yg mdengarkan dan memperhatikannya?

    “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (QS 7 Al A’raaf : 205)… Lihat Selengkapnya

    Kalo berdzikir dgn teriak2/bersuara keras(bahkan pakai microphone) sampai ganggu orang sholat disekitarnya,bukankah bertentangan dgn ayat diatas?

    ———–

    sememangnya jika diambil sahaja hukum dari zahir ayat terjemahan dengan kejahilan maka mudahlah jatuh hukum.

    Soalan saya kepada anda ultraman ;

    1. Adakah anda ini juga mujtahid yang memahami al quran dan hadith serta menguasai semua hadith dari rasuluLlah ? Jika anda bermain-main sahaja dengan ayat al Quran sebegini, saya ingin bertanya kepada anda tentang ayat Allah ini yang bererti :

    Sesungguhnya orang-orang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama ALlah gementarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah. Iaitu orang-orang yang mendirikan sembahyang dan yang mendermakan sebahagian dari apa yang Kami kurniakan kepada mereka. merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya (Al-Anfal:2-4)

    Adakah anda sendiri termasuk di kalangan orang yang beriman disebut oleh ALlah ini ? apa akan jadi jika diambil terus zahir ayat Allah itu tanpa disiplin ilmu ?

    Saya yakin ia akan jadi sebagaimana yang disebut oleh RasuluLlah yang bererti :

    Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu ‘anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

    ALLah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

    Benarlah.. ia sudah banyak terjadi sekarang ini.

  • rejal said:

    tambah seru juga nich, ahsan nyimak terus. antara AHlul Haq ma Ahlu akal2 an. generasi wahabiy makin lama makin lucu….. tmbh kliatan idungnya. hi hi hi hi hi

  • alfa reyhan said:

    Kepada anggota klub wahaby yang terhormat……
    monggo dijawab pertanyaan ini….
    Apakah Sayyidina Umar dan Usman itu termasuk ahli bid’ah atau tidak???
    Apabila anda menjawab TIDAK…..Selamat berarti otak anda masih dalam kondisi waras….
    apabila anda menjawab YA……Selamat anda secara otomatis telah terdaftar dalam keanggotan klub baru yaitu “WAHSYI GROUP”(WAHHABY SYI’I)…
    MUDAH MUDAHAN SAJA TIDAK TERGOLONG KHIMAR WAHSYIII…..

  • rejal said:

    smkin sring browsing, smkin aku tahu kalo wahabiy tu suka memalsukan dalil dalil shorih……

  • riariani said:

    SYEKH ABDUL WAHAB:
    “Sa’ad al-Zanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh ra secara marfu’: “Barang siapa mendatangi kuburan lalu membaca surah al-Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan al-Hakumuttakatsur, kemudian mengatakan: “Ya Allah, aku hadiahkan pahala bacaan al-Qur’an ini bagi kaum beriman laki-laki dan perempuan di kuburan ini”, maka mereka akan menjadi penolongnya kepada Allah”. Abdul Aziz – murid dari al-Imam al-Khollal -, meriwayatkan hadist dari sanadnya dari Anas bin Malik ra secara marfu’: Barangsiapa mendatangi kuburan, lalu membaca Surat Yasin, maka Allah akan meringankan siksa mereka, dan ia akan memperoleh pahala sebanyak orang-orang yang ada di kuburan itu.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahkam tamanni al-Maut, hal. 75

    MASIHKAH KALIAN MEMBENCI ZIARAH QUBUR?

  • dhoif said:

    Tinjauan Nahwu Hadist kullu bid’atin dholaalah

    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
    “Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

    Bermula kata “bid’ah” itu isim (kata benda), mustahil tidak ketempelan kata sifat, dan suatu kemustahilan suatu sifat yang bertolak belakang menempel secara bersamaan pada suatu dzat

    dalam kasus ini حدف الصفة على الموصوف

    mirip persis dengan ayat

    وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
    “Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).

    pada kenyataannya raja tersebut tidak merebut kapal yang ditumpangi nabi Musa dan nabi Khidir tersebut, raja ternyata hanya merampas kapal yang baik, sedangkan kapal yang jelek tidak dirampas. Padahal jelas2 dalam ayatnya Allah SWT telah menyebutkan kata kulla pada ayat tersebut.

    sama dengan pertanyaan saya ttg ayat :

    َأُوتِيَتْ مِن كُلِّ شَيْءٍ

    bermakna :
    “Ratu Balqis itu telah diberikan semua”
    (apakah benar ratu Balqis telah diberikan semuanya?tidak, ia tidak mendpatkan kekuasaan n kemampuan seperti Nabi Sulaiman, juga singgasana)

    Maka lafadhz كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya pada masing-masing isimnya

    Apabila memaksakan mengartikan lafadz kullu pada hadist kullu bid’atin dholaalah sebagai “semua bid’ah adalah sesat (tanpa pengecualian)”; maka hal itu akan mencederai suatu matan hadist secara tinjauan nahwu,

    Hadist yang kita bahas adalah hadist shohih jadi secara matan hadist akan kuat secara nahwu dan mustahil cacat kaidah balaghohnya.

    Implikasi negatif lainnya akibat memaksakan lafadz kullu sebagai makna “semua tanpa pengecualian” adalah akan mengakibatkan perpecahan dikalangan umat islam yang meyakini bid’ah hasanah/ bid’ah mahmuudah sebagaimana yang dijabarkan oleh ulama salaf -Imam Syafi’i RadhiallaaHu ‘anHu.

  • fadhil said:

    Assalamua’laikum wbt

    kepada saudaraku seislam sekalian. berakhlak lah kita dlm mencari kebenaran!!! krn akhlak sesama muslim lebih dituntut (ikram muslimin).

    kepada yg alim (mempunyai pengetahuan dan diberi faham agama) jdlah anda seperti awan yg membawa hujan..krn awan pergi kepada semua jenis tanah dan menurunkan hujan yg dpt diambil manfaat oleh makhluk dibumi. jgnlah kalian menjadi seperti perigi (telaga air) yg hanya menunggu org dtg mengambil air. inilah perumpamaan yg org2 alim buat utk mereka yg bergelar ulama…kalian perlu jumpa ummat utk ajar ummat tentang agama, bukan menunggu ummat datang..walaupon ada yg dtg…yg dtg itu sudah pasti yg ada kemahuan pada agama…tetapi yg x ada kemahuan pd agama siapa mahu ajarkan??

    janganlah kalian bergaduh hnya disebatkan perkara2 furu’.
    dlm hal ehwal dunia pn begitu bnyak khilaf, inikan agama yg begitu luas..dan hanya org yg diberi kefahaman oleh ALLAH akan faham mengikut kehendak ALLAH dan Rasul.

    misalnya perkataan ‘balance’; kalau diberi kepada seorang akauntan, balance bermaksud baki. kalau diberi kepada seorg engineer kereta, balance bermaksud balance body kereta atau tayar kereta, kalau diberi kepada seorang arkitek, balance bermaksud kestabilan bangunan, kalau diberi kepada seorang penari ballet, balance bermaksud menstabilkan badan….

    saudaraku,
    ALLAH sengaja wujudkan khilaf dikalangan ulama agar setiap inci sunnah Nabi saw itu hidup sehingga hari kiamat, contonhya isu qunut: dalam mazhab syafie org berqunut, manakala dalam mazhab hanafi org x berqunut, tetapi dua2 mazhab ada hujjah masing2.

    seandainya semua ummat hanya ikut mazhab syafie, maka satu sunnah telah luput dr muka bumi iaitu tidak berqunut, manakala seandainya semua ummat ikut mazhab hanafi, maka satu sunnah telah luput dr muka bumi iaitu berqunut.

    dalam hadis ada Nabi berqunut dan dalam hadis juga ada Nabi x berqunut..bukankanh itu semua sunnah Nabi..dan ALLAH telah pelihara sunnah Nabi utk kekal sehingga kiamat. itulah maksud “rahmatan lil a’lamin”…rahmat utk sekelian alam sehingga kiamat..sedangkan jasad Nabi sudah tidak ada..tetapi setiap inci kehidupan Nabi ALLAH hidupkan sehingga hari kiamat agar agama ini terus bersinar di muka bumi.

    wallahua’lam.

  • JomFikir said:

    Assalamu’alaikum,

    Insya ALlah, saudara Fadhil, elok enta baca artikel di atas apa yang dijelaskan. Sebagaimana yang enta sebutkan dalam hal qunut, memang amat dipersetujui. Yang menjadi masalahnya adalah wahhabi yang menyatakan doa qunut itu menjadi bid’ah sesat. Itu termasuklah dalam perkara furuk yang lain.

    Dengan sebab inilah maka diberikan penjelasan dan dibahaskan oleh saudara-saudara yang lain dalam artikel kali ini.

    WaLLahua’lam

  • al beni said:

    TEGAR DI ATAS SUNNAH BLOG USTADZ ARIS MUNANDAR Hitam di Dahi Tanda Niat Tidak ikhlas. Tanya:“Bagaimana cara menyamarkan/menghilangkan noda hitam di kening/di jidat karena sewaktu sujud dalam shalat terlalu menghujam sehingga ada bekas warna hitam?”0281764xxxx Jawab: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29). Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan.Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik.Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan.Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546). عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟ Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698) عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ. Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699). عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ. Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700). عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا. Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701). عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ. Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah?Jawaban beliau, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)” (Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).Dari al Azroq bin Qois, Syarik bin Syihab berkata, “Aku berharap bisa bertemu dengan salah seorang shahabat Muhammad yang bisa menceritakan hadits tentang Khawarij kepadaku. Suatu hari aku berjumpa dengan Abu Barzah yang berada bersama satu rombongan para shahabat. Aku berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku hadits yang kau dengar dari Rasulullah tentang Khawarij!”.Beliau berkata, “Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku. Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya. Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih. Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya.Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku”. Demikian beliau ulangi sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda, يَخْرُجُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ رِجَالٌ كَانَ هَذَا مِنْهُمْ هَدْيُهُمْ هَكَذَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ ثُمَّ لاَ يَرْجِعُونَ فِيهِ سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ لاَ يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ “Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka. Mereka membaca al Qur’an namun alQur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudia mereka tidak akan kembali kepada agama. Cirri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalul muncul” (HR Ahmad no 19798, dinilai shahih li gharihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).

    Hayo siapa yang jidatnya hitam??
    ASWAJA or SALAFI WAHABIYUN and ALBANI NGAKU..NGAKU..jujur..kamu ketahuan..

  • faiq atsari said:

    jadi apakah bidah baik,,sedagkan pengertiannya bidah adalah kesesatan..jadi mana ada kesesatn yg baik..pecinta bidah penghancur sunnah..saya mw tanya apakah maulid disyariatkan??apakah maulid ada di 4imam mahzab..lagian aneh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya,
    juga tabi’in ga ada yg merayakan maulid

  • al beni said:

    Ngga’ ada yang komentar..??

    Kembalilah ke jalan AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH wahai saudaraku..
    Orang tua kita mengajarkan tawasul,tahlililan,dzikr dll.itu semua ajaran ROSULULLOH.
    SEMUA ITU ADA DALILNYA,hanya saja kita goyah(ragu) di terjang faham2 baru yang lebih mudah di terima oleh akal,padahal itu hanya AKAL2AN mereka dari pemlintiran makna sampai pemotongan nash asli demi golongan mereka.
    Yuk kembali ke AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH.

    AMI..I..N
    Kulo Ajeng sholat rumiyen..

  • Samudra dosa said:

    Mengenai bid`ah….saya suka dengan penjelasan habib Munzir di e-book kenalilah akidahmu

    http://majelisrasulullah.org/images/stories/multimedia/Kenalilah-Akidahmu.pdf

    Dan juga diskusi beliau yang ada disini

    http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=8&id=5366&lang=id

  • fakhri said:

    *)maaf sebelum aku di protes.. tapi nyadur di sono nya emang hewan keledai…

    Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

    “Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya.”

    Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

    Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

    “Demikianlah,” kata Nasrudin, “Keledaiku sudah bisa membaca.”

    Timur Lenk mulai menginterogasi, “Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?”

    Nasrudin berkisah, “Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar.”

    “Tapi,” tukas Timur Lenk tidak puas, “Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?”

    Nasrudin menjawab, “Memang demikianlah cara keledai membaca; hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, berati kita setolol keledai, bukan ?”

    wahabi..wahabi baru bisa baca hadits brani ngelawan ulama’
    heran gw’

  • Ked_elai said:

    bagaimana islam bisa maju klo umatnya bsanyak yang saling fitnah?

  • El_Muhibbin said:

    Di Madzhab Imam Syafi’i kan udah dijelaskan bahwa bid’ah itu ada dua, bid’ah dholalah dan bidah Hasanah.
    Yang dimana bid’ah dholalah itu adalah segala sesuatu hal yang baru yang menyimpang dari syariat itu adalah bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah adalah sesuatu hal yang baru yang tidak menyimpang dari syari’at itu bidah hasanah.
    Pertama,ana mau nanyak mana yang lebih berhati2 dalam masalah agama Imam Syafi’i yang dimana Imam tersebut sudah terkenal diseluruh Dunia akan Kesholehannya dan Ketaqwaannya kepada Allah S.W.T,ataukah para imam2 wahabi yang masih diragukan kesemuanya itu…?
    Kedua,sekarang ana mau nanyak kepada sama orang yang beraliran wahabi atau salafi,gimana hukumnya orang yang makan pakai sendok?,padahal makan pakai sendok itu adalah tata cara makan yang dipakai oleh orang2 kafir(musuh islam)…?,dan ana mau nanyak juga kepada orang2 wahabi atau salafi apakah anda disetiap harinya makan pakai sendok atau tata cara makan yang sudah diajarkan oleh Rosulullah Muhammad S.A.W…?,kalo kita menggunakan sendok berarti kita kan telah mengikuti tata cara makannya orang kafir(musuh Islam) yang dimana orang kafir itu sudah jelas-jelas oleh Allah S.W.T divonis masuk Neraka Jahannam dan itu adalah tempat seburuk-buruknya tempat,apakah kita mengikuti tata cara maka yang diajarkan oleh Rosulullah Muhammad S.A.W tau orang kafir(musuh Islam),dan apakah anda juga pernah mendengar “barangsiapa yang meniru suatu kaum(golongan) berarti di sama seperti kaum(golongan)itu.
    Ketiga,Dan apakah anda tidak pernah mendengar”Jangan dikira para wali-wali Allah itu meninggal,sesungguhnya mereka itu hidup dan diberi rezeki yang berlimpah disisi Allah S.W.T,menang secara dhohir mereka Orang Sholihin Sudah tiada,tapi dari atas tadi kan sudah jelas bahwa orang shilihin itu(para wali-wali) Allah S.W.T itu hidup disisi Allah S.W.T
    semoga saja orang2 wahabi bisa menjawab pertanyaannya anak TK…!

  • ibrahim almuhdhor said:

    @faiq atsari : mana dalilnya yang menentang maulid????

  • El_Muhibbin said:

    ayooooo,mana ini orang2 wahabi atau salafi……?
    kok pada diamseribu bahasa,kenapa udah g bisa jawab lagi ya…..?

  • Asman said:

    @ibrahim almuhdhor : Maaf, adakah dalil yg menganjurkan Mauilid ?
    Jika tidak ada, seharusnyalah kita tidak usah melakukan. Kalau kita tetap melakukan, dan menganggap baik, apalagi meyakinkan sebagai ibadah yang baik pula, sesungguhnya, paling tidak, ada terbetik di hati kita, orang2 mukmin salaf terdahulu kurang afdhol karena tidak merayakan maulid. Naudzubillah……..

  • El_Muhibbin said:

    Imam Syafi’e Berkata Tentang Bid’ah

    Al-Hafidz Abu Nu’aim rahimahullah meriwayatkan sanadnya dari Ibrahim al-Junaid yang berkata, Harmalah bin Yahya berkata kepada kami; aku mendengar Imam Syafi’e berkata,
    “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan bid’ah yang mazhmumah (tercela). Apa yang menepati dengan sunnah maka ia terpuji dan apa yang menyelesihi sunnah maka ia adalah tercela.” Kemudian Imam Syafi’e berhujjah dengan perkataan Umar al-Khaththab tentang solat terawih di bulan ramadhan, “Bid’ah yang terbaik adalah ini.” (Al-hilyatul auliya’ 3/119 –Syamilah-)
    Perkataan Imam Syafi’e ini menyatakan bahawa bid’ah itu terbahagi kepada dua. Apa-apa yang menepati/selaras dengan as-sunnah maka ianya bid’ah yang terpuji dan tidak dicela, dan apa-apa perkara yang menyelisihi as-sunnah maka ianya tercela. Ini apa yang difahami oleh saya dari perkataan Imam Syafi’e.
    Ada baiknya kita merujuk kepada perkataan ulama yang ahli dalam ilmu dan lebih mengerti perkataan ulama yang lain kerana kapasiti ilmu yang dimiliki oleh mereka dan juga ribuan helaian muka surat kitab-kitab yang telah ditelaah oleh mereka dalam memahami cabang-cabang ilmu syari’e ini.
    Saya bawakan perkataan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali ketika menjelaskan makna perkataan Imam Syafi’e. Ibnu Rajab berkata
    “Apa yang kami sebutkan tentang perkataan Imam Syafi’e sebelum ini, ushul bid’ah mazhmumah (yang tercela) itu adalah, apa saja yang tidak mempunyai asal-usul (landasan hukum) di dalam syariat. Itulah bid’ah dari segi makna (yang dimaksudkan) syariat –atau dikenal disebut dengan bid’ah syar’iyah-. Dan bid’ah mahmudah (terpuji) pula adalah apa yang menepati sunnah yakni apa saja yang mempunyai asal (landasan hukum) dari sunnah maka ia dikembalikan kepada makna bid’ah lughawi bukan dengan makna bid’ah syarie kerana ia selaras/menepati dengan sunnah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/267)
    Bid’ah lughawi ini adalah bid’ah yang dibenarkan untuk diamalkan serta dilaksanakan dan inilah yang dinamakan bid’ah mahmudah. Ianya tidak tercela sebagaimana bid’ah syar’iyah iaitu perkara-perkara yang bertentangan dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di mana bid’ah syar’iyah ini sangat dicela dan ditolak sama sekali di dalam islam.
    Namun sebahagian manusia menjadikan setiap perkara baru atau amalan-amalan yang tidak terdapat di dalam sunnah bahkan bertentangan dengannya, mereka memasukkan bid’ah yang mereka lakukan ini ke dalam ruang lingkup bid’ah mahmudah dengan beralasan dengan perkataan Imam Syafi’e.
    Di sini kita dapat melihat kesalahfahaman mereka memahami maksud Imam yang agung ini berkaitan dengan bid’ah kerana apabila sebahagian ulama atau du’at (pendakwah) menasihati amalan-amalan bid’ah yang tertolak ini supaya jangan dilakukan, maka mereka mencela nasihat para ulama dan du’at tersebut bahkan mereka menambah-nambahkan lagi segala macam bentuk amalan yang didaftarkan atas nama bid’ah mahmudah.
    Golongan seperti ini sangat benci terhadap orang-orang yang mengajak untuk berpegang kepada sunnah nabawiyah yang suci dan sebaliknya mereka mengajak umat islam untuk berkutat (bergelumang) dengan bid’ah ‘mahmudah’nya atau istilah yang sering digunakan sekarang bid’ah hasanah.
    Telah diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’e perkataan yang menjelaskan lagi maksud beliau perkataan bid’ah mahmudah dan mazhmumah, dia berkata
    “Hal-hal yang baru yang diada-adakan terbahagi kepada dua. Perkara baru yang menyelisihi Kitab atau sunnah, atau atsar (perkataan para sahabat) atau ijma’, maka inilah bid’ah dholalah (sesat). Dan perkara-perkara kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun dari apa yang telah disebutkan, maka inilah bid’ah yang tidak tercela(bid’ah hasanah).” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/267)
    Perkataan Imam Syafi’e ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqibu asy-Syafi’e 1/468-469 dan beliau mensahihkannya. Perkataan yang sama dinukilkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani di dalam kitab nya Fathul Bari ketika mensyarahkan hadits Imam Bukhari di Kitab al-I’tishom bil kitabi was sunnah dalam bab ‘Qauluhu babun al-Iqtidaa`u bisunani rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam’ 13/253.
    Dan Insya Allah orang-orang yang masih beranggapan bahawa wujud bid’ah hasanah dalam segala macam bentuk ibadah berfikir sejenak dan mau rujuk kembali kepada kebenaran, bahawasanya tidak ada bid’ah hasanah di dalam ibadah.
    Jika ada yang bertanya: Kedua-dua perkataan Imam Syafi’e yang dinyatakan tadi masih lagi tidak menolak perbuatan bid’ah hasanah yang dilakukan oleh orang kebanyakan pada hari ini contohnya seperti Zikir jama’ie, yasinan dan lain-lain kerana seluruhnya adalah kebaikan. Bukankah amalan-amalan tadi mengajak kepada mengingati Allah dan menambahkan lagi ibadah kepada-Nya.

  • forsan salaf (author) said:

    @ all pengunjung, mohon anda bersabar, jangan terburu-buru membahas tentang maulid. Tunggu artikel kami dengan judul “ Maulid Dalam Al-Qur’an Dan Hadits”. Dan bersiap-siaplah untuk berdiskusi ilmiah !

  • riariani said:

    Yang komentar DI SINI cuma kroco2nya salaf wahabi,
    BISANYA CUMA COPY PASTE !!
    Gurumu abu al jauza dkk lari tunggang langgang sama ¤SALAFITOBAT¤
    Sudah ampun2,e..ee..kroco2nya di sini masih NGEYEL..

  • El_Muhibbin said:

    ahsan antum ini tanyak sama ustadz-ustadz wahabi termasuk:Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas,ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dan laen suruh kumpul semua untuk membid’ahkan seluruh orang diseluruh dunia…

  • riariani said:

    Bismillahirrohmanirrohim.

    @ all wahabi & ustadz wahabi termasuk:Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas,ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dan sekutunya!!

    TUNJUKAN DALIL KULTUM(kuliah 7 menit) BA’DA SHUBUH??

    Ana tunggu jawabanya. 3 hari mulai detik ini..

    Kalau gak bisa jawab artinya wahabi KALAH. OK???

  • ibrahim almuhdhor said:

    @Asnan: baca saja di artikel ini
    “ Maulid Dalam Al-Qur’an Dan Hadits”
    skrg ana lg mau nanya ada ga’ dakik shalat tahajjud berjama’ah seperti yang dilakukan as sudais?

  • El_Muhibbin said:

    Kenapa abis ana comen disini koq para kroco2nya wahabi paada diam sribu bahasa…?
    Ana cuman ngasih tau kepada orang-orang wahaby/salafy yang selalu bilang kami tidak mengekor kepada ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin tapi kenapa mereka itu koq selalu merujuknya kepada kitab2nya orang orang seperti yang ana sebutin ditas tadi…?

    Tolong dijawab…?

  • Pembela Wahabi said:

    to Musuh Wahabi :

    agama itu ilmu yg di sertai dalil dan rujukan dalil harus jelas. Bukan mnrt perasaan ulama. Adapun ulama yg mengajarkan ilmu dg jujur sesuai dalil wajib di ikuti kebenarannya, yg buruk wajib di tinggalkan…anda menyerang syaikh wahabi membabi buta dg tulisan2 keji demi membela syaikh anda rasanya kurang bijak dan tercela…baik syaik wahabi atau syaikh anda punya kedudukan mulia yg sama krn telah mengajarkan kita agama dg ilmu2nya melalui kitab2 peninggalannya…mhn anda jaga sikap jgn sampai kebodohan anda taklid buta kpd syaikh anti malah mengadu domba kaum muslimin…sampaikan dalil dg asal usul yg jelas periwayatannya spy tdk menyesatkan org lain….dr bidah hasanah/ huda saja dr mana asalnya? Jgn sampai nanti ada org baca Al Qur’an dan bershalawat sambil panjat pohon kelapa krn ia menganggap baca Al Qur’an dan brshalawat itu baik menurut perasaannya tanpa memperhatikan adab2nya….

    org berilmu itu tawwadu’ sikapnya bukan menantang org2 “yg ia anggap bodoh” dan merasa dirinya saja yg pandai sehingga ia ujub/ bangga/ sombong dg ‘kepandaiannya’…maaf ya akhi..keberanian anda mencaci maki ulama adalah hal yg ‘luaaarr biasaaa’ dlm hal adab murid kpd ulama.. Sy menasihati antum krn sy menyayangi antum krn Allah…smg Allah memelihara ukhuwah kita krn iman, bkn krn kepandaian..

    perhatikan adab Rasulullah thd sesama mukmin di QS 48:29 apakah mungkin kita menegakkan islam dg kalimat cacimaki spt kalimat antum? Sikap keras kita hanya di tujukan kpd org2 yg kafir thd ayat2 Allah & org yg merubah2 agama dg nafsunya….QS 5:54 baca QS 3: 103 sd 109. Agama ini milik Allah, sombong itu pakaian Allah tak seorangpun dari kita boleh mendahului Allah dan Rasul hanya krn merasa dirinya pandai QS 49 :1 sd 3…Allahumarhamna bil Qur’an

    dan perlu di catat!!!!
    kalo Wahabi itu nama firqah yg nisbatkan manusia ttp beliau jg ahlus sunnah, kami bukan pengikut firqah dan siapa yg melarang org islam ahlusunnah ikut paham wahabi jika sesuai sunnah. Kami insyaAllah pengikut ahlussunah krn ia adalah tariqah bukan firqah, jd ahlusunnah bukan milik kelompok sbgmn paham/klaim anda? Brarti kalo kami anda tuduh wahabi dan … Lihat Selengkapnyaanda ahlusunnah maka anda sudah mengkotak2kan umat dg sekte2 buatan anda. Mana ada ahlusunnah melanggar sunnah spt anda? Memasukkan org2 muslim kekotak2 mnrt pikiran anda…gak nyambung lah jrenggg!!! Makanya try to think out of the box guys!

    all ikhwani rahimahumullah….Orang menguasai ilmu agama dan bahasa arab seharusnya bisa mengeluarkan manusia dr gelap kpd cahaya.. QS 14:1 tetapi apa yg terjadi jika bhs arab dikuasai oleh Abu Jahal yg bengis dan Abu Lahab yg suka mengadu domba…Siapakah pengikut Rasul yg ummi (buta baca tulis Arab) tp patuh n tunduk kpd hukum Allah…dan … Lihat Selengkapnyasiapakah penerus Abu Jahal n Abu Lahab yg pandai bhs Arab n ilmu agama tp justru paling keras penentangannya kpd hukum2 Allah??? Smg Allah menerangkan hati2 yg gelap dg cahayaNYA…Barakallahu fikum… Wassalamualaykum wr.wb. dari: fans wahabi pengikut ahlusunnah

  • Tomingse said:

    agama itu ilmu yg di sertai dalil dan rujukan dalil harus jelas. Bukan mnrt perasaan ulama. Adapun ulama yg mengajarkan ilmu dg jujur sesuai dalil wajib di ikuti kebenarannya, yg buruk wajib di tinggalkan…anda menyerang syaikh wahabi membabi buta dg tulisan2 keji demi membela syaikh anda rasanya kurang bijak dan tercela…baik syaik wahabi atau syaikh anda punya kedudukan mulia yg sama krn telah mengajarkan kita agama dg ilmu2nya melalui kitab2 peninggalannya…mhn anda jaga sikap jgn sampai kebodohan anda taklid buta kpd syaikh anda malah mengadu domba kaum muslimin…sampaikan dalil dg asal usul yg jelas periwayatannya spy tdk menyesatkan org lain….dr bidah hasanah/ huda saja dr mana asalnya? Jgn sampai nanti ada org baca Al Qur’an dan bershalawat sambil panjat pohon kelapa krn ia menganggap baca Al Qur’an dan brshalawat itu baik menurut perasaannya tanpa memperhatikan adab2nya….

  • Tomingse said:

    org berilmu itu tawwadu’ sikapnya bukan menantang org2 “yg ia anggap bodoh” dan merasa dirinya saja yg pandai sehingga ia ujub/ bangga/ sombong dg ‘kepandaiannya’…maaf..keberanian anda mencaci maki ulama adalah hal yg ‘luaaarr biasaaa’ dlm hal adab murid kpd ulama.. Sy menasihati anda krn sy menyayangi anda krn Allah…smg Allah memelihara ukhuwah kita krn iman, bkn krn kepandaian..

    perhatikan adab Rasulullah thd sesama mukmin di QS 48:29 apakah mungkin kita menegakkan islam dg kalimat cacimaki spt kalimat anda? Sikap keras kita hanya di tujukan kpd org2 yg kafir thd ayat2 Allah & org yg merubah2 agama dg nafsunya….QS 5:54 baca QS 3: 103 sd 109. Agama ini milik Allah, sombong itu pakaian Allah tak seorangpun dari kita boleh mendahului Allah dan Rasul hanya krn merasa dirinya pandai QS 49 :1 sd 3…Allahumarhamna bil Qur’an.

    Wahabi itu nama firqah yg nisbatkan manusia ttp beliau jg ahlus sunnah, kami bukan pengikut firqah dan siapa yg melarang org islam ahlusunnah ikut paham wahabi jika sesuai sunnah. Kami insyaAllah pengikut ahlussunah krn ia adalah tariqah bukan firqah, jd ahlusunnah bukan milik kelompok sbgmn paham/klaim anda? Brarti kalo kami anda tuduh wahabi dan … anda ahlusunnah maka anda sudah mengkotak2kan umat dg sekte2 buatan anda. Mana ada ahlusunnah melanggar sunnah spt anda? Memasukkan org2 muslim kekotak2 mnrt pikiran anda…gak nyambung lah jrenggg!!! Makanya try to think out of the box guys!

    Orang menguasai ilmu agama dan bahasa arab seharusnya bisa mengeluarkan manusia dr gelap kpd cahaya.. QS 14:1 tetapi apa yg terjadi jika bhs arab dikuasai oleh Abu Jahal yg bengis dan Abu Lahab yg suka mengadu domba…Siapakah pengikut Rasul yg ummi (buta baca tulis Arab) tp patuh n tunduk kpd hukum Allah…dan … siapakah penerus Abu Jahal n Abu Lahab yg pandai bhs Arab n ilmu agama tp justru paling keras penentangannya kpd hukum2 Allah??? Smg Allah menerangkan hati2 yg gelap dg cahayaNYA…Barakallahu fikum… Wassalamualaykum wr.wb. dari: fans wahabi pengikut ahlusunnah

  • riariani said:

    Bismillahirrohmanirrohim. @ all wahabi & ustadz wahabi termasuk:Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas,ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dan sekutunya!! TUNJUKAN DALIL KULTUM(kuliah 7 menit) BA’DA SHUBUH?? Ana tunggu jawabanya. 3 hari mulai detik ini.. Kalau gak bisa jawab artinya wahabi KALAH. OK??? – 15 February 2010 at 19:42
    ——————–
    TERNYATA WAHABI AND KRONI2NYA TIDAK BISA MENJAWAB!
    WAHABI DI NYATAKAN KALAH.
    Ojo yakin nek ibadahmu luweh apik.
    Ojo yaqin batokmu ireng iku ahli ibadah.
    NGERTI!!

  • riariani said:

    BATOK IRENG dRoNG TENTU AMAL IBADaHE KTRIMO.
    BATOK IRENG DAdI CIRI2Ne WONG KWARIJ,

  • muhammadon said:

    @ pembela wahhabi n tomingse, komentar anda kok sama persis ya , apa karena anda sama2 hasil copypaste aja ?? atau emang ustad anda dan wahhabiyyin yang komentar disini adalah copypaste ???
    makanya klo disodori pertanyaan gak pernah ada jawaban tapi malah memberikan komentar lain yang gak searah, lha wong cuman bisanya copypaste bukan jawaban sendiri…….
    ditanya tentang hukum menyelenggarakan shalat tahajjud berjamaah spt yang dilakukan sudais bulan Ramadhan gak ada jawaban sampai sekarang, Rasulullah SAW gak pernah melakukannya, bahkan para sahabat dan tabi’inpun tidak melakukannya, apakah itu bukan bid’ah menurut anda wahai orang wahhabi ?? belum lagi pertanyaan dari saudara riariani di atas, dalil dari KULTUM (kuliah tujuh menit), belum juga terjawab hingga sekarang …..
    mana ustad2 anda yang anda agungka? jangan anda sendiri yang terjun gak mampu n gak pernah nyambung klo diajak diskusi..

  • Tomingse said:

    Musuh Islam adalah Yahudi n Nasrani…jadi kalau ada yg ngajak kalah atau menang bertarung dg org Islam adalah Yahudi sejati yg suka merubah2 agama dg mempertuhankan fatwa ulamanya…QS 3:64 sd 68 dan 79 mereka itu rela meninggalkan persaudaraan demi mempertahankan dalil ulamanya… Waspadalah Yahudi itu bekerja dg sistem, jgn smpi anda berada jd … kaki tangan sistem mereka dg mengorbankan persaudaraan kaum muslimin. Riani anda adlh saudara saya seagama jd sy tak perlu membalas tantangan anda. Buatlah forum yg anda inginkan hubungi sy di 0813 1405 0380 sy dan fans wahabi insyaAllah hadir di forum anda…ISLAM ITU INDAH JGN KOTORI DG PREMANISME, sy tunggu dan sy hargai niat baik anda…

    Adakah dalil ulama yg melebihi kemuliaan Al Qur’an, sehingga org2 bodoh berpendapat bhw fatwa ulamanya yg terhebat…mudah2an kita tidak ikut tersesat di belantara kemusyrikan penyembahan thd ulama melalui fatwa2nya….hanya org 2 bodohlah yg berdalih dakwah padahal ia sedang menghancurkan persaudaraan kaum muslimin…kalau msh tak mengerti juga arti persaudaraan maka merekalah YAHUDI TULEN, Wallahulmusta’an

  • dayak said:

    @ tomingse :
    saya sangat setuju dg anda comment anda ” agama itu ilmu yg di sertai dalil dan rujukan dalil harus jelas. ” krn agama bkn sesuatu yg gampang diper mainkan.
    namun ucapan anda yg ini ana gak setuju ” Bukan mnrt perasaan ulama. Adapun ulama yg mengajarkan ilmu dg jujur sesuai dalil wajib di ikuti kebenarannya, yg buruk wajib di tinggalkan ”
    setahu ana penjelasan yg dipaparkan disini dari ulama2 yg level nya kelas dunia spt imam nawawi,imam ibn hajar al-asqolani,imam suyuthi,hujjatul islam ibn taimiyah dll nya.dunia pun mengakui keluasan ilmu mereka.masa kita atau yg msh levelnya ustat atau syekh yg cuma diakui di sebagian daerah saja mau mengomentari master2 nya n??
    yg perlu diketahui bagi kita smua hanya satu :

    siapa yg mengkritik dan siapa yg di kritik !

    dengan ini kita bisa kenal siapa yg ulama’ dan siapa yg ngelamak.

  • elfasi said:

    @ pembela wahhabi dan tomingse, karena komentar anda sama, tanpa beranggapan klo komentar anda berdua hasil copypaste ataukah dari pendapat anda sendiri yang kebetulan sama persis (walaupun sangat tidak masuk akal), maka kiranya cukup sekali jawaban untuk anda berdua.
    Anda katakan: “ anda menyerang syaikh wahabi membabi buta dg tulisan2 keji demi membela syaikh anda rasanya kurang bijak dan tercela” , === mas, apakah anda tidak berpikir bagaimana anda menghujat kaum muslimin yang gak sepaham dengan syirik dan sesat, apakah ini yang justru layak dikatakan sebagai membabi buta ? berapa ulama’ yang telah anda hujat ? padahal mereka telah diakui oleh ulama’ selama berabad2 lamanya. Gimana dengan albani yang telah mendhoifkan hadits Bukhori padahal sudah diakui keshohihannya oleh para muhadditsin selama berabad2 lamanya. Apakah ini tidak dinamakan kecaman kepada Imam Bukhori dan ribuan muhadditsin setelahnya karena salah dalam menyatakan hadits shohih ?
    Anda katakan “Orang menguasai ilmu agama dan bahasa arab seharusnya bisa mengeluarkan manusia dr gelap kpd cahaya”, ==== benar sekali mas, orang yang berilmu harus bisa mengajak orang untuk berbuat kebaikan, memperbanyak ibadah, mengajak untuk lebih mengenal Allah dan Rasulullah, untuk lebih mencintai Allah dan Rasulullah, bukan malah menbid’ahkannya dan mensyirikannya. Gimana jadinya klo semua orang yang gak sepaham dinyatakan syirik ? apakah ini cara yang dibawa oleh Rasulullah ?
    Lalu klo anda katakana “bid’ah itu terbagi menjadi dua, asalnya dari mana ?, ana balik Tanya sudahkah anda baca komentar di atas, liat komentar ane di atas tertanggal 27 January 2010 at 22:29, kan udah dinyatakan klo Imam Syafi’i sendiri menyatakan bid’ah terbagi menjadi dua. Baca lagi mas, males mau ngulangi lagi…….

  • alfa reyhan said:

    MAS DAYAK
    MAKSUDNYA TOMINGSE ITU BEGINI
    Kita tidak boleh mengutamakan pendapatnya para ulama seperti Imam Nawawy,Imam Ibnu Hajar,Imam Subky dll,diatas AL QUR,AN…………., sekali lagi ALQUR’AN……………,sekali lagi ALQUR’AN……………. (DALAM KURUNG ALQUR’AN MENURUT PEMAHAMAN BIN BAZZ,UTSAIMIN,ALBANY,DLL )
    NGERTI MAS???

  • mustajar said:

    bid’ah hasanah banyak yang benci, tapi banyak yang cari

  • dayak said:

    @alfa reyhan : emang siapa yg menjadikan al-qur’an di bawah kalamnya ulama’,malah ulama’ yg istinbat dlm al-qur’an n al-hadist.emang ada dr al-qur’an yg mengatakan maulid harom ? bin baz aja kali yg mengharamkan.

  • riariani said:

    @ tomingse
    terima kaksih..
    ma’af sebelumnya……..
    ngaji sudah habis berapa kitab?
    sudah berapa tahun ikut wahabi?
    anda bilang”Buatlah forum yg anda inginkan hubungi sy di 0813 1405 0380 sy dan fans wahabi insyaAllah hadir di forum anda…”
    TERNYATA ANDA LEBIH SUKA{mengidolakan} WAHABI dari dari pada nabi muhammad s.a.w.
    ngga’ bisa bisa jawab koq trus ngamuk2,ok ana kasih bocoran kitabnya aza ya…..coba anda bacalah kitab TANGKIHUL QOUL karya….??bab……??
    bisa baca kitab kuningkan?

    NB; nama antum koq mirip seorang pemeran sinetronya orang kafir?
    malu menggunakan nama yang lebih indah dan islami??
    anda tahu hukuman orang yang meniru2 orang kafir dalam islam??

    ma’af…….kamu kroco kroco kroconya wahabi..
    hampir seiap hari ana tolabul ilmi sama senior2 kamu..insya alloh mereka akan segera bertaubat.
    insya alloh…….amin….

  • El_Muhibbin said:

    @Tomingse: Jgn sampai nanti ada org baca Al Qur’an dan bershalawat sambil panjat pohon kelapa krn ia menganggap baca Al Qur’an dan brshalawat itu baik menurut perasaannya tanpa memperhatikan adab2nya….( ini kan juga testimoni antum)sekarang ana mau nanyak,apakah orang yang membaca Al-Qur’an atau bersholawat sambil memanjat pohon itu salah,apakah ada syariat yang melarangnya…?

    agama itu ilmu yg di sertai dalil dan rujukan dalil harus jelas. Bukan mnrt perasaan ulama(ini kan testimoni antum) sekarang ana mau nanyak keantum,apakah ulama-ulama dulu itu bahlol-bahlol,g ngerti agama g hafal Al-Qur’an g mengerti tasfir dan ilmu-ilmu hadits.Kita ini g ada apa2nya dibanding mereka itu.

    Musuh Islam adalah Yahudi n Nasrani…jadi kalau ada yg ngajak kalah atau menang bertarung dg org Islam adalah Yahudi sejati yg suka merubah2 agama dg mempertuhankan fatwa ulamanya…QS 3:64 sd 68 dan 79 mereka itu rela meninggalkan persaudaraan demi mempertahankan dalil ulamanya(sekarang ana mau nanyak sama antum,yang ngajak kalah tau menang itu lho sapa,ana g ngajak kalah atau menang ,apa antum yang ngajak kalah atau memang…?

    Buatlah forum yg anda inginkan hubungi sy di 0813 1405 0380 sy dan fans wahabi insyaAllah hadir di forum anda…ISLAM ITU INDAH JGN KOTORI DG PREMANISME, sy tunggu dan sy hargai niat baik anda (ini kan juga testimoni anda) anda ngomong premanisme…?,apakah ini antum bilang adab(Akhlak),jangan ngomong akhlak kalo g punya Aklak!

    dan pertanyaannya saudara muhammadon harap dibalas…?,masak kena pertanyaan seperti gitu aja udah klepek2…?

  • alfa reyhan said:

    mas dayak@
    itulah maksud saya,kalo ada wahaby ngomong ALQUR’AN,berarti ALQUR’AN menurut pengertian ulama mereka sendiri,ulama lain gak dianggep mas,
    dan aku heran sama wahhaby2 ini yang menganggap kalo kita melakukan hal yang tidak dilakukan salaf maka kita menganggap salaf itu kurang amalnya,justru kita mengamalkan maulid dan lain2nya karena kita menganggap amaliyah kita sangat jauh dengan salaf2 kita,kita perlu mencari cara agar dakwah ini tetap berkembang seiring perkembangan zaman,berdakwah diera digital seperti ini tentunya lain dengan zaman dulu,kalo dulu cukup kita berdiri diatas batu orang2 akan datang mendengarkan dakwah kita,kalo zaman sekarang mungkin perlu bikin website dll,
    jangan bandingkan kita dengan salaf, keimanan ketaqwaan dan keteguhan beramal mereka jauh2 diatas kita…….kalo kita gak bisa meniru keseluruhan amaliyah mereka cukup bagi kita meniru mereka dalam akhlak dan semangat menuntut ilmu,semoga kita semua di selamtkan Allah…….

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.