Di Balik Pemujaan Wahabi
headline »
Sun, 3/07/11 – 22:48 | 57 Comments

Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut …

Baca selengkapnya »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja’ah) Sunniyah Salafiyah.

Program Streaming

Sajian beragam program menarik bernuansa islami yang bisa menyirami hati anda di tengah aktivitas

Home » Artikel

Maulid Dalam Al-Qur’an dan Hadits

Submitted by forsan salaf on Thursday, 11 February 2010291 Comments

makam NabiRabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang lebih sempurna dari Baginda Nabi SAW. Berkat beliau, seluruh semesta menjadi terang benderang. Kabut jahiliah tersingkap berganti cahaya yang memancarkan kedamaian dan ilmu pengetahuan. Karena itu kita wajib mensyukuri. Tiada nikmat yang lebih berhak untuk disyukuri dari nikmat wujudnya sang kekasih, Muhammad SAW.

Walau masih ada segelintir muslimin yang alergi dengan peringatan maulid Nabi SAW, antusiasme memperingati hari paling bersejarah itu tak pernah surut. Di seluruh belahan bumi, umat Islam tetap semangat menyambut hari kelahiran Nabi SAW dengan beragam kegiatan, seperti sedekah, berdzikir, shalawat, bertafakkur, atau dengan menghelat seminar-seminar ilmiah, bahkan Rasulullah telah mengawali mereka dan memberikan contoh dengan berpuasa setiap hari kelahiran beliau yaitu hari senin. Negara-negara muslim, kecuali Arab Saudi, menjadikan tarikh 12 Rabiul Awal sebagai hari libur nasional. Hari itu pun dijadikan sebagai momen pertukaran tahni’ah (ucapan selamat) bagi sebagian pemimpin negara-negara di Sumenanjung Arab.

Secara harfiah, maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dimafhumi, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

Maulid Nabi Isa

Dalam Al-Quran banyak tercantum maulid para nabi. Allah SWT mengisahkan Nabi Isa A.S. secara runtun: mulai kelahirannya, lalu diutus sebagai rasul, hingga diangkat ke langit. Coba tengok surat Ali Imran ayat 45 sampai 50. Di situ Allah SWT memulai kronologi kisah Nabi Isa a.s. dengan firmanNya,

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

“(ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”

Dalam Surat Al Maidah ayat 110, Allah SWT lagi-lagi menegaskan sekali lagi siapa sosok Isa a.s., Allah SWT berfirman,

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ

“(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan dirimu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.

Ayat-ayat di atas mengurai sirah nabi Isa a.s. mulai jelang kelahirannya sampai diangkat ke langit. Sebuah data yang tak bisa dibantah keontetikannya. Mengacu terminologi maulid sebagai sirah, jalinan kisah di atas sah-sah saja bila diistilahkan sebagai Maulid Nabi Isa a.s.

Maulid Nabi Yahya

Selain Nabi Isa a.s., Al-Quran juga mencatat “biografi” Nabi Zakaria dan maulid Nabi Yahya Alaihimassalam. Dalam surat Maryam ayat 3 sampai 33, Allah mengisahkan perjalanan hidup Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dengan panjang lebar, dimulai dengan sebuah doa Nabiyullah Zakariya yang penuh pengharapan.

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

“Ia Berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku (pengganti) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, sebagai seorang yang diridhai”.

Kemudian Allah menjawab permintaan rasul-Nya itu, sekaligus sebagai isyarat akan lahirnya sang “putra mahkota”, Nabi Yahya a.s.,

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا

“Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya.

Selanjutnya, dengan bahasa yang indah, Al-Quran mengisahkan sirah Nabi Zakaria a.s. dan putranya, Yahya a.s.. Sama seperti perjalanan hidup Nabiyullah Isa a.s., sirah Nabi Yahya bisa pula diistilahkan sebagai Maulid Nabi Yahya karena, hakikatnya, maulid adalah sirah. Begitu pun kisah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf, Nabi Musa dan lainnya.

Maulid Siti Maryam

Tak hanya para nabi. Al-Quran juga mendedah sejarah hidup sebagian kaum shalihin. Salah satunya adalah Siti Maryam, sosok teladan bagi wanita sepanjang masa. Kisah wanita mulia itu dibuka dengan sebuah nazar yang diucapkan seorang ibu yang berhati tulus dalam surat Ali Imran ayat 35 sampai 37.

إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ )35( فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )36( فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ )37(

“(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

36. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, Sesunguhnya Aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya Aku Telah menamai dia Maryam dan Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sertakan pada artikel ini karena keterbatasan ruang di website ini.

Dari ayat-ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Maulid Nabi SAW, yang memuat sirah Rasulullah SAW, adalah semacam epigon (pengikut) bagi Al-Quranul Karim yang memuat sirah-sirah para nabi dan shalihin. Sebagai pemimpin para nabi, sudah sepatutnya sejarah Nabi Muhammad dibukukan dan dibaca sesering mungkin. Pentingnya mengenang perjalanan hidup Baginda Nabi SAW sangat dirasakan umat Islam pada periode akhir-akhir ini, tatkala berbagai figur non muslim ditawarkan oleh media-media secara gencar.

Hari Istimewa

Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (Almustadrak ala shahihain hadits no.4177) adalah salah satu tengara. Fakta lainnya:

Pertama, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (Fathul Bari juz 6/583).

Kedua, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (Sirah Ibn Hisyam).

Ketiga, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (Fathul Bari juz 6/583).

Keempat, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.

Kelima, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (Fathul Bari 6/583).

Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.

Hikmah maulid

Peringatan maulid nabi SAW sarat dengan hikmah dan manfaat. Di antaranya: mengenang kembali kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta.

Para sahabat radhiallahu anhum kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu misal, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”

Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.

Selain itu, dengan menghelat Maulid, umat Islam bisa berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya, berkat beliau SAW, kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT.

Sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam benak, kenapa membaca sirah baginda rasulullah mesti di bulan maulid saja? Kenapa tidak setiap hari, setiap saat? Memang, sebagai tanda syukur kita sepatutnya mengenang beliau SAW setiap saat. Akan tetapi, alangkah lebih afdhal apabila di bulan maulid kita lebih intens membaca sejarah hidup beliau SAW seperti halnya puasa Nabi SAW di hari Asyura’ sebagai tanda syukur atas selamatnya Nabi Musa as, juga puasa Nabi SAW di hari senin sebagai hari kelahirannya.

Nah, sudah saatnyalah mereka yang anti maulid lebih bersikap toleran. Bila perlu, hendaknya bersedia bergabung untuk bersama-sama membaca sirah Rasul SAW. Atau, minimal – sebagai muslim– hendaknya merasakan gembira dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Sudah sepantasnya di bulan ini kita sediakan waktu untuk mengkaji lebih dalam sejarah hidup Rasul SAW. Jangan lagi menggugat maulid! Tim CN & FS

Popularity: 67% [?]

Artikel Terkait

291 Comments »

  • bin muhammad said:

    Bismillahirrahmanirrahim….
    Allahumma Sholli Wa Sallim ala sayyidina wa maulana Muhammad wa aalih.
    semoga dengan memasuki bulan rabiul awwal ini hati kita penuh nur nabi besar muhammad SAW. dan kelak kita bisa mendapatkan syafaat beliau, amin …..

  • Bul-Bul said:

    Keduanya punya dasar, dan keduanya bersikukuh punya dalil yang kuat… jadi ambil saja salah satu yang paling anda yakini…!!!

  • Ella said:

    ‘ingatlah’ oh jadi nginget nye setaun sekali?, ingetleh dgn makan nasi kebuli, inget yg dimaksud disitu ajaranya, perjalanannye bukan kumpul2 and samadiah..!!!

  • Bul-Bul said:

    Mari kita segera keluar dari pagar-pagar yang dihembuskan oleh musuh-musuh Alloh agar kita tetap tak pernah satu, pertanyaan yang jauh lebih penting (bukan berarti yg lain tdk penting) berapa banyak sumbangsih kita untuk saudara2x kita di palestina, di irak, di afganistan? berapa banyak sumbangsih kita untuk meningkatkan ekonomi umat? berapa banyak sumbangsih kita untuk menangkal pengaruh gaya hidup hedonisme di kalangan generasi muda isalam dll..

  • Bingung said:

    buat yang suka mauludan : coba tolong carikan pendapat sahabat rosululloh atau para murid beliau (tabiin) atau tabiutabiin atau imam madhab yang pernah ngerayain mauludan seperti yang di acarakan sekarang ini dengan makan2 kumpul laki perempuan trus menyanjung2 rosululloh secara berlebihan sampai2 menyebabkan ke syirikan.

    kl ada yang bisa … Lihat Selengkapnyatunjukan dalilnya insyaolloh hal itu sunnah dan buka bid’ah.
    TETAPI
    kalo g bisa berarti acara seperti itu BID’AH yang di rayakan oleh orang2 BODOH lagi JAHIL.

  • Penggemar Ibin Athoilah said:

    pendapat yg brdrsrkan bukti n logika yg nyata tdk dpt diandalkan krna hy sering dsanggah pendapat yg lain pndpt yg dandalkan itu berasal dri nurani masing2 individu Kt ibnu athaillah

  • wahyu albanjari said:

    wah…memang logika sangat jauh dari hal yang ghaib….@bingung:maksudnya kesyikrikan anda spt gmn cnthnya?acara maulud biasanya memang gk campur baur sm perempuan…

  • El_Muhibbin said:

    @Bingung: ini ana kasih buat yang pakai nama bingung supaya g jadi bingung n bungkam seribu bahwasa
    Assalamualaikum Wr. Wb

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W ternyata dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W sendiri
    Mendengar kata-kata tadi anda mungkin tersentak kaget,terheran heran,ataupun kayak orang kebakaran jenggot.Soalnya selama ini banyak orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah mencontohkan perayaan atau hal serupa tentang hari kelahirannya.Mari kita bahas islam dengan hati yang bersih dan jernih,karena islam adalah agama yang bersih dan suci. Pernah Nabi Muhamaad S.A.W ditanya tentang puasa hari senin dan kamis.Diriwayatkan dalah sebuah Hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,Abu Dawud,dan Ahmad disebutkan bahwa ketika Rasullah ketika ditanya tentang puasa hari senin , Rasulullah S.A.W bersabda:
    Di hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu(Al-Quran).(HR.Imam Muslim,Abu Dawud, dan Ahmad).
    Lihatlah dari Hadits yang shohih diatas,akankah kita mengingkari hadits yang keluar dari mulut seorang Nabi yang sangat dicintai oleh Allah S.W.T. Nabi Muhammad S.A.W yang suci,akankah kita mengingkari hadits yang keluar dari mulut seorang Rasulullah S.A.W yang suci…?.Ketika kita Rasulallah ditanyai tentang puasa hari senin beliau Rasulullah S.A.W hanya menjawab, Di hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu(Al-Quran), Rasulullah S.A.W tidak menerangkan pahala ataupun fadilah puasa hari senin kamis namum nabi malah berkata : Di hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu(Al-Quran).
    Dan Mungkin anda pernah diberi tau oleh seseorang yang mengatakan bahwa nabi Muhammad S.A.W juga meniggalpada hari senin…?. Tidakah mungkin kesedihan dan kebahagiaan berlangsung jadi satu…?
    Itu adalah propaganda yang dibut oleh orang-orang yang sukanya membuat propaganda dalam islam,dan semoga kita dijauhkan oleh Allah S.W.T jangan sampai kita terkecoh oleh propaganda itu…!
    Dalam Kitab Al-Hawi Lil Fatawa, Imam Ass-Suyuthi Rahimahullah :
    Sesungguhnya kelahiran Rasulullah S.A.W merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah S.W.T kepada kita dan wafatnya beliau S.A.W adalah musibah teramat agung bagi kita. Syariat telah memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur dan nikmat yang kita peroleh serta bersabar dan tenang dalam menghadapi musibah, dan tidak mengungkit-ungkitnya. Hanya saja, syariat memerintahkan kita untuk melakukan Sunnah aqiqah bagi bayi yang lahir sebagai perwujudan rasa syukur dan senang atas bayi yang lahir tersebut dan ketika kematian tiba syariat tidak memerintahkan kita untuk meyembelih kambing maupun yang lain. Bahkan syariat melarang kita untuk meratapi mayat dan menampakan keluh kesah. Berbagai kaidah syariat seperti diatas menunjukkan bahwa pada bulan kelahiran Nabi ini seharusnya kita tunjukan rasa senang dengan kelahiran beliau S.A.W dan tidak menampakkan rasa sedih atas wafatnya beliau S.A.W dibulan ini. (Abdurrahman Bin Abu Bakar As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawa, Darul Fikr, Juz.1, Hal.226.)
    Kiranya didalam kitab karangan Imam As-Suyuthi diatas nampak jelas .Mereka yang berniat untukmencari kebenaran(bukan pembenaran) akan mendapatkan pencerahan dan menerima uraian singkat beliah Rahimahullah dengan senang dan lapang dada.
    Pendapat Imam Hasan Al-Bashri R.a tentang Maulid Nabi Muhammad S.A.W
    Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a adalah seorang tabi’in yang lahir dikota Madinah pada dua tahun terakhir pemerintahan Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.A.
    Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.A. mendoakan beliau Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a :
    Ya Allah,jadikan dia sebagai seseorang yang memiliki pemahaman terhadap agama dan dicintai oleh masyarakat.
    Yang akhirnya kesholehan dan kecerdasan daripada Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a menarik hati para sahabat nabi,Sayyidina Anas Bin Malik R.A berkata:

    Bertanyalah kepada Al-Hasan (tidak lain adalah Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a) sebab dia masih ingat sedangkan kami telah lupa.(Lihat Adz-Dzahabi, Siar A’lam Nubala, Darul Fikr, Beirut-Lebanon, Juz3,Hal.410).
    Mari kita lihat pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a terhadap peringatan Maulud Nabi Muhammad S.A.W. dalam sebuah riwayat disubutkan bahwa beliau Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a berkata:
    Andaikata aku memiliki emas sebesar bukit Uhud,maka akan kudermakan semuanya untuk penyelenggaraan pembacaan maulid Rasul.(Lihat kitab Abu-Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anathuth Thalibin,Darul Fikr, Juz.3,Hal.255.).
    Pendapat Syeikh Sirri As-Saqathi(wafat pada 253H)
    Syeikh Sirri As-Saqathi adalah paman sekaligus guru Imam Junaid. Disamping itu beliau R.a juga murid daripada Syeikh Ma’ruf AL-Kharkhi. Keshalehan dan kegigihan Syeikh Siiri As-Saqtathi dalam beribadah tidak dilakukan lagi. Imam Junaid R.a berkata : Aku( Imam Junaid) tidak pernah melihat ibadahnya darri Sirri. Selama 98 tahun beliau tidak pernah berbaring kecuali pada saat sakit menjelang wafatnya supaya pada waktu dia tidur diposisi duduk tidak membatalkan Wudlunya selalu ada dan beliau selalu menjaga wudlunya sampai menjelang wafatnya (inilah contoh dari pada ajaran salaf yang selalu dipegang dan tidak diremehkan oleh Syeikh Sirri As-Saqathi meskipun ini adalah permasalah yang sepele tapi para salaf-salaf dulu tidak pernah meremehkan masalah meskipun itu masalah yang sangat remeh sekalipun apa itu)( lihat dikitab Abul Qashim ‘Abdul Karim Bin Hawazin, Ar-Risalatul Qusairiyyah, Darul Khair,Hal.417-418).

    Dan beliau adalah orang yang sangat mencintai Akan Majelis Maulid Nabi Muhammad S.A.W.
    Dalam sebuah kesempatan beliau berkata : Barang siapa mendatangi sebuah tempat simana disana dibacakan Maulid Nabi(sejarah Nabi Muhammad S.A.W), makadia telah mendatangi sebuah taman surga. Sebab tujuannya mendatangi iti tidak laen adalah untuk mengungkapkan rasa cinta kepada Rasulullah S.A.W,sedangkan Rasulullah S.A.W bersabda:
    Barangsiapa mencintaiku, maka dia besamaku di surga.(Lihat kitab Abu Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anathuth Thalibin,Darul Fikr, Juz.3,Hal.255.).

    Perhatikan perkataan Syeikh Sirri As-Saqathi tersebut,bahwa barang siapa yang duduk dimajlis maulid Nabi Muhammad S.A.W berarti dia seperti duduk di taman surga.dan ucapan beliau ini beliau ucapkan setelah beliau mendalami Al-Qur’an dan Hadits serta mengamalkannya.Sekarang terserah kepada anda,dan mana yang anda ikuti pendapat lama salaf yang pendapatnya telah kamu kemukakan atau sebagian orang diakhriw zaman yang keluasan ilmu,pengetahuan,dan pengamalan tentang agama g terbukti.

  • El_Muhibbin said:

    Jangan memujiku secara berlebihan seperti kaum nasrani memuji Isa Bin Maryam. sesungguhnya aku adalah hamba-Nya,maka ucapkanlah, Hamba Allah dan Rasaul-Nya.’( HR. Bukhari dan Ahmad )

    Ini adalah propaganda yang luncurkan oleh orang yang kurang memahami Haditzs nabi diatas intinya kita tidak boleh memuji Nabi Muhammad S.A.W dan mereka berdalih itu adalah mengkultuskan nabi Muhammad S.A.W
    Apakah kita menyamakan Nabi Muhammad S.A.W seperti orang-orang( akum) nasarani memuji Isa Al-Masih sebagai anak Tuhan…?

    Tolong ini dijawab………..?

    kalo g tau apa apa itu ahsan sekkut daripada ngomong tapi malah nyebarin fitnah….!

  • pecinta Muhammad S.A.W said:

    wahh paraah wahabi…dah jelas2 ada dalilnya…..
    masih aja nyari2 yang dianggapnya salah…..
    yg ga suka kl Nabi Muhammad S.A.W di agungkan cuma syaitan…dan kaum kafir yang dahulu memerangi Nabi S.A.W

  • riariani said:

    @ Bingung
    Kalau ahlussunah wal jama’ah bisa membuktikan,
    1)apa antum akan bertobat dan kembali ke jalan ASWAJA?
    2)Apa antum bersedia?

    Senior kalian (wahabi) sudah banyak yg bertobat,apa antum siap?

  • alif jum'an azen said:

    semoga yg benci maulidan tidak menjadi benci dg ajarannya… dan semoga yg suka maulidan menjadi makin arif dan cinta ajarannya. Apa yg tidak ada dalil hadist dan riwayat sahabat belum tentu dilarang….belajarlah cara menggali hukum, dan bacalah kitab2 madzhab lain juga…

  • cah njeporo said:

    @ bingung : ksihan dia…..tmbah bingung tujuh keliling……
    bukanya bingung jadi sadar,,eeeh malah tmbah bingung.,,..krn melihat pnjelsan dr el_muhibin.

    dan masih banyak dari ulama-ulama’ besar memperbolehkan yang telah d sbutkan d ats.

    Pendapat Para Imam dan Muhaddits atas perayaan Maulid

    1. Berkata Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy rahimahullah :
    Telah jelas dan kuat riwayat yang sampai padaku dari shahihain bahwa Nabi saw
    datang ke Madinah dan bertemu dengan Yahudi yang berpuasa hari asyura (10
    Muharram), maka Rasul saw bertanya maka mereka berkata : “hari ini hari
    ditenggelamkannya Fir’aun dan Allah menyelamatkan Musa, maka kami berpuasa
    sebagai tanda syukur pada Allah swt, maka bersabda Rasul saw : “kita lebih berhak
    atas Musa as dari kalian”, maka diambillah darinya perbuatan bersyukur atas anugerah
    yang diberikan pada suatu hari tertentu setiap tahunnya, dan syukur kepada Allah bisa
    didapatkan dengan pelbagai cara, seperti sujud syukur, puasa, shadaqah, membaca
    Alqur’an, maka nikmat apalagi yang melebihi kebangkitan Nabi ini??????, telah berfirman
    Allah swt “SUNGGUH ALLAH TELAH MEMBERIKAN ANUGERAH PADA ORANG
    ORANG MUKMININ KETIKA DIBANGKITKANNYA RASUL DARI MEREKA” (QS Al
    Imran 164)

    2. Pendapat Imam Al Hafidh Jalaluddin Assuyuthi rahimahullah :
    Telah jelas padaku bahwa telah muncul riwayat Baihaqi bahwa Rasul saw ber akikah
    untuk dirinya setelah beliau saw menjadi Nabi (Ahaditsulmukhtarah hadis no.1832
    dengan sanad shahih dan Sunan Imam Baihaqi Alkubra Juz 9 hal.300), dan telah
    diriwayatkan bahwa telah ber Akikah untuknya kakeknya Abdulmuttalib saat usia beliau
    saw 7 tahun, dan akikah tak mungkin diperbuat dua kali, maka jelaslah bahwa akikah
    beliau saw yang kedua atas dirinya adalah sebagai tanda syukur beliau saw kepada
    Allah swt yang telah membangkitkan beliau saw sebagai Rahmatan lil’aalamiin dan
    membawa Syariah utk ummatnya, maka sebaiknya bagi kita juga untuk menunjukkan
    tasyakkuran dengan Maulid beliau saw dengan mengumpulkan teman teman dan
    saudara saudara, menjamu dengan makanan makanan dan yang serupa itu untuk
    mendekatkan diri kepada Allah dan kebahagiaan. bahkan Imam Assuyuthiy mengarang
    sebuah buku khusus mengenai perayaan maulid dengan nama : “Husnulmaqshad fii
    ‘amalilmaulid”.

    3. Pendapat Imam Al hafidh Abu Syaamah rahimahullah (Guru imam Nawawi) :
    Merupakan Bid’ah hasanah yang mulia dizaman kita ini adalah perbuatan yang
    diperbuat setiap tahunnya di hari kelahiran Rasul saw dengan banyak bersedekah, dan
    kegembiraan, menjamu para fuqara, seraya menjadikan hal itu memuliakan Rasul saw
    dan membangkitkan rasa cinta pada beliau saw, dan bersyukur kepada Allah dengan
    kelahiran Nabi saw.

    4. Pendapat Imamul Qurra’ Alhafidh Syamsuddin Aljazriy rahimahullah dalam
    kitabnya ‘Urif bitta’rif Maulidissyariif :
    Telah diriwayatkan Abu Lahab diperlihatkan dalam mimpi dan ditanya apa
    keadaanmu?, ia menjawab : “di neraka, tapi aku mendapat keringanan setiap malam
    senin, itu semua sebab aku membebaskan budakku Tsuwaibah demi kegembiraanku
    atas kelahiran Nabi (saw) dan karena Tsuwaibah menyusuinya (saw)” (shahih
    Bukhari). maka apabila Abu Lahab Kafir yang Alqur’an turun mengatakannya di neraka
    mendapat keringanan sebab ia gembira dengan kelahiran Nabi saw, maka bagaimana
    dengan muslim ummat Muhammad saw yang gembira atas kelahiran Nabi saw?????, maka
    demi usiaku, sungguh balasan dari Tuhan Yang Maha Pemurah sungguh sungguh ia
    akan dimasukkan ke sorga kenikmatan Nya dengan sebab anugerah Nya.

    tujuan maulid tidak lain adalah memuji rasulullah saw, mengenang perjuangnya, akhlaqnya dan keistimewaan-keistimewaan yg ada pada diri rasulullah….dll
    dan pujian ini pun juga prnah dilaksanakan di zaman nabi, bahkan nabi saw tdk inkar…
    Berkata Abbas bin Abdulmuttalib ra : “Izinkan aku memujimu wahai Rasulullah..” maka
    Rasul saw menjawab: “silahkan..,maka Allah akan membuat bibirmu terjaga”, maka
    Abbas ra memuji dengan syair yang panjang, diantaranya : “… dan engkau (wahai nabi
    saw) saat hari kelahiranmu maka terbitlah cahaya dibumi hingga terang benderang,
    dan langit bercahaya dengan cahayamu, dan kami kini dalam naungan cahaya itu dan
    dalam tuntunan kemuliaan (Al Qur’an) kami terus mendalaminya” (Mustadrak ‘ala
    shahihain hadits no.5417)
    Kasih sayang Allah atas kafir yang gembira atas

    suatu sa’at jg prnah ka’ab bin zuhair memuji dihadapan rasulullah saw sambil mendendangkan syair yg berbunyi
    (بانت سعادة فقلبي اليوم مبتول….الخ)
    kemudian rasulullah saw mencopot aba’ahnya(sejenis daster yg trbuka depanya)dan diberikan kpd ka’ab bin zuhair sebagai balasan apa yg telah dilakukanya.

    bgitu juga ahlul madinah memuji nabi saw طلع البدر علينا…….الخ nabi pun diam tdk melarangnya.

    apakah pujianya para shohabat ini / yg lainya melanggar syari’at ???? jika memang melanggar syry’at knp nabi diam tdk mlarangnya ???? kalau nabi saw ridho dan suka untuk dipuji kenapa kita sebagai umatnya enggan untuk memujinya ???

    berarti sudah lengkap dalilnya baik dari alqur’an, hadist, perbuatan / kalamnya sahabat, tabi’in, dn kalamnya ulama’….mulai zaman dahulu sampai sekarang…..

    maulid..mari kita rayakan terus…..sbgai bukti cinta kpd nabi muhammad saw….dengan modal cnta dan disertai mnjlankan syari’atnya kita brharap mndpatkan syafaat beliau saw… ّّالمرء مع من أحبّ seseorg itu akn brkumpulkan brsama yg d cntainya…..smg qt smua d kmpulkn brsm para nabi, shidiqin, auliya’, sholihin. amin..amin..

  • Assamar said:

    Bagi yang pecinta maulid selalu saja merujuk kepada hadist tentang seseorang bertanya tentang puasa di hari senin, dan Rasulullah menjawab ” itu hari kelahiranku dan aku dibangkitkan”… jelas sekali disitu yang ditanya tentang keutamaan berpuasa dihari senin, bukan hari kelahiran Nabi. Apabila kalian mengambil dari dalil tsb untuk melakukan maulid, ya berarti kalian harus maulid tiap hari senin, bukan tiap tahun seperti yang sekarang ini, betul tidak ?? Kalaulah anda sekalian ingin meneladani Rasulullah yaitu dengan salah satunya merayakan hari kelahiran beliau, maka kalian juga harus merayakan hari kelahiran kalian, betul tidak ?? padahal merayakan hari kelahiran jelas-jelas perayaan yang bukan berasal dari Islam.
    Jadi intinya, dalilnya shahih, tapi pendalilannya yang bathil.
    Alangkah baiknya bila ingin meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan menghidupkan sunnah2 beliau yang begitu asing di jaman ini, bukan dengan merayakan hari kelahirannya !

  • riariani said:

    @ assamar
    Apakah antum salafi wahabi/manhaj salaf/pengekor al bani?

    Jawab!!

  • El_Muhibbin said:

    Imam Syafi’e Berkata Tentang Bid’ah
    Al-Hafidz Abu Nu’aim rahimahullah meriwayatkan sanadnya dari Ibrahim al-Junaid yang berkata, Harmalah bin Yahya berkata kepada kami; aku mendengar Imam Syafi’e berkata,
    “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang mahmudah (terpuji) dan bid’ah yang mazhmumah (tercela). Apa yang menepati dengan sunnah maka ia terpuji dan apa yang menyelesihi sunnah maka ia adalah tercela.” Kemudian Imam Syafi’e berhujjah dengan perkataan Umar al-Khaththab tentang solat terawih di bulan ramadhan, “Bid’ah yang terbaik adalah ini.” (Al-hilyatul auliya’ 3/119 –Syamilah-)
    Perkataan Imam Syafi’e ini menyatakan bahawa bid’ah itu terbahagi kepada dua. Apa-apa yang menepati/selaras dengan as-sunnah maka ianya bid’ah yang terpuji dan tidak dicela, dan apa-apa perkara yang menyelisihi as-sunnah maka ianya tercela. Ini apa yang difahami oleh saya dari perkataan Imam Syafi’e.
    Ada baiknya kita merujuk kepada perkataan ulama yang ahli dalam ilmu dan lebih mengerti perkataan ulama yang lain kerana kapasiti ilmu yang dimiliki oleh mereka dan juga ribuan helaian muka surat kitab-kitab yang telah ditelaah oleh mereka dalam memahami cabang-cabang ilmu syari’e ini.
    Saya bawakan perkataan al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali ketika menjelaskan makna perkataan Imam Syafi’e. Ibnu Rajab berkata
    “Apa yang kami sebutkan tentang perkataan Imam Syafi’e sebelum ini, ushul bid’ah mazhmumah (yang tercela) itu adalah, apa saja yang tidak mempunyai asal-usul (landasan hukum) di dalam syariat. Itulah bid’ah dari segi makna (yang dimaksudkan) syariat –atau dikenal disebut dengan bid’ah syar’iyah-. Dan bid’ah mahmudah (terpuji) pula adalah apa yang menepati sunnah yakni apa saja yang mempunyai asal (landasan hukum) dari sunnah maka ia dikembalikan kepada makna bid’ah lughawi bukan dengan makna bid’ah syarie kerana ia selaras/menepati dengan sunnah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/267)
    Bid’ah lughawi ini adalah bid’ah yang dibenarkan untuk diamalkan serta dilaksanakan dan inilah yang dinamakan bid’ah mahmudah. Ianya tidak tercela sebagaimana bid’ah syar’iyah iaitu perkara-perkara yang bertentangan dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di mana bid’ah syar’iyah ini sangat dicela dan ditolak sama sekali di dalam islam.

    Telah diriwayatkan dari Imam asy-Syafi’i perkataan yang menjelaskan lagi maksud beliau perkataan bid’ah mahmudah dan mazhmumah, beliau berkata:
    “Hal-hal yang baru yang diada-adakan terbagi kepada dua. Perkara baru yang menyelisihi Kitab atau Sunnah, atau atsar (perkataan para sahabat) atau ijma’, maka inilah bid’ah dholalah (sesat). Dan perkara-perkara kebaikan yang tidak menyelisihi satu pun dari apa yang telah disebutkan, maka inilah bid’ah yang tidak tercela(bid’ah hasanah).” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam 1/267)

    Perkataan Imam Syafi’i ini diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Manaqibu asy-Syafi’i 1/468-469 dan beliau mensahihkannya. Perkataan yang sama dinukilkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani di dalam kitabnya Fathul Bari ketika mensyarahkan hadits Imam Bukhari di Kitab al-I’tishom bil kitabi was sunnah dalam bab ‘Qauluhu babun al-Iqtidaa`u bisunani rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam’ 13/253.
    Dan ana mau nanyak sama tentang bid’ah disini harap dijawab kalo emang antum faham,akalo g faham ahsan antum tanyakan sama Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas,Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dan pentolan-pentolnnya wahabi

    Akankah kita selalu mengatakan bahwa hal-hal yang bari itu adalah sesat…? (tolong dijawab…!)
    Ana mau nanya sesuatu kepada wahaby/salafy ,apakah Rasulullah S.A.W pernah memrintahkan untuk membubuhkan tanda pada bacaan pada Mushaf…?
    ‘Abdullah Bin Mas’ud R.a adalah salah seorang sahabat yang menghafal 70 surat Al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W bersabda:
    Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an seperti ketika diturunkan,maka hendaknya dia membaca sesuai dengan cara baca Ibnu Ummi Ma’sud(julukan ‘Abdullah bin Mas’ud)
    Beliau menigikuti pertemputran badar dll.Meriwayatkan 848 Hadits dan wafat pada tahun 32H dalam usia 60 tahun leibih(Liha Sayyid ‘Abbas Al-Maliki Ibanatul Ahkam,Juz I,Darus Tsqafati Islamiyyah ,Beirut, Hal 163).
    ‘Abdullah Bin Mad’ud ,seorang sahabat yang mulia bahkan berkata:
    Jangan beri Al-Qur’an titik maupun harakat.
    Tapi tanda baca dalam Mushaf yang dibubuhkan tersebut baru ada pada akhir abad pertama. Dan orang yang pertama kali memberi tanda pada Mushaf adalah Yahya Bin Mas’ud Bin Ya’mar (wafat pada tahun 90H).
    Lihat Ahmad bin Syu’aib Abu ‘Abdurrahman An-Nasa’I, As-Sunan Al-Kubra, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Cet.1,Jus.6, Hal 240. Dan lihat juga Sulaiman Bin Ahmad bin Ayyub Abdul Qasim Ath-Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir , MAktabul ‘Ulum Wal Hikam, Mushil, Cet. 2, Juz. 9, Hal.353.

    Ucapan Sayyidina ‘Abdullah Bin Mas’ud R.a dan kenyataan bahwa tidak ada seorang sahabat yang mencontohkan.membuat ulama dimana itu me-makruh-kan usaha pemberian tanda pada mushaf.Mereka khawatir dengan pemberian tanda pada mushaf akan merubah isi Al-Qur’an.Namun setelah menyadari kemunduran ummat,dan terbukti bahwa pemberian tanda pada Al-Qur’an Al-Karim terbukti tidak akan pernah merubah isi daripada Mushaf (Al-Qur’an) para ulama akhirnya menyetujui pemberian tanda pada Mushaf.

    Imam Ghazali Rahimahullah Ta’ala Wa Ardha berkata Meskipun pemberian titik dalam huruf-huruf mushaf itu sebuah perkara yang baru(muhdats),tetapi iti tidak terlarang. Sebab ,betapa banyak perbuatan baru yang baik penyelenggaraan shalat tarawih secara berjamaah(dimasjid selama sebulan) adalah salah satu perbuatan baru(muhdats),bid’ah) khaifah ‘Umar R.a dan perbuatan tersebut adalah bid’ah yang baik (bid’ah hasanah). Bid’ah yang tercela adalah segala perbuatan baru yang bertentangan dengan Sunah terdahulu atau dapat merubah sunah.(Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Darul Fikr, Beirut, hal.259)
    Jelas bukan,ternyata bahwa apa yang tidak dicontohkan atau diperintahkan oleh Nabi Muhammad S.A.W secara langsung itu sesat. Dari penjelasan disini anda para pembaca yang beraliran apapun bisa dan dapat menyimpulkan bahwa sesuatu yang tidak dicontohkan atau diperintahkan oleh Nabi Muhammad S.A.W secara langsung itu tidak sesat selama tidak meyimpang daripada Al-Qur’an dan Sunnah.

    Anda tau kan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193),dialah orang pertma kali dan sekaligus pencetus peringatan maulid Nabi Muhammad S.A.W pertama kali,yang dimana itu untuk mengobarkan semangat jihad para mujahidin melawan para Pasukan Tentara Salibis(Laknatullah Alaih) yang dimana ingin menumbagkan pemerintahan islam.Tapi usaha dari para Pasukan Tentara Salibis (Laknatullah Alaih) itu sia-sia belaka.Sehabis para mujahidin yang dipimpin langsung oleh Panglima besar Sultan Salahuddin Al-Ayyubi memenangkan pertempuran itu yang dimana semangat jihat para mujahidin itu berkobar-kobar setelah panglima mereka (Sulthan Salahuddin Al-Ayuubi) merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W yang diperayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W itu dijelaskan tentang gimana sejarahnya Rasululah S.A.W dan para sahabat-sahabat beliau R.A memperjuangkan islam dan menyebarkan islam yang dimana semangat juang mereka semakin berkobar-kobar dan tak takut mati dimedan perang dan Alhamdulillah mereka memenangkan pertempuran itu, Barakallah Fiik Ya Mujahidin …

    Pendapat Imam Hasan Al-Bashri R.a tentang Maulid Nabi Muhammad S.A.W
    Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a adalah seorang tabi’in yang lahir dikota Madinah pada dua tahun terakhir pemerintahan Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.A.
    Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.A. mendoakan beliau Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a :
    Ya Allah, jadikan dia sebagai seseorang yang memiliki pemahaman terhadap agama dan dicintai oleh masyarakat.
    Dan kesholehan daripada Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a menarik hari para sahabat nabi, sehingga Sayyidina Anas Bin Malik R.A berkata:
    Bertanyalah kepada Al-Hasan (tidak lain adalah Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a) sebab dia masih ingat sedangkan kami telah lupa.(Lihat Adz-Dzahabi, Siar A’lam Nubala, Darul Fikr, Beirut-Lebanon, Juz3,Hal.410).
    Mari kita lihat pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a terhadap peringatan Maulud Nabi Muhammad S.A.W. dalam sebuah riwayat disubutkan bahwa beliau Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a berkata:
    Andaikata aku memiliki emas sebesar bukit Uhud,maka akan kudermakan semuanya untuk penyelenggaraan pembacaan maulid Rasul.(Lihat kitab Abu-Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anathuth Thalibin,Darul Fikr, Juz.3,Hal.255.).
    Apakah ini masih kurang jelas

  • Kuda said:

    Ayat2x cerita2x soal Nabi2x itu cerita2x soal Mujizat nya Allah
    SWT
    ngga ada satu pun soal ngraya kan maulid Nabawi

    MAULID ATAU MILAD itu bodaya org kafir nasrani yg di ikuri sama ulama mesir di zaman nya Salahudin … Lihat Selengkapnya

    saya ngga ngeraya kan maulid tapi saya berdoa dan baca al-Quran sendirian atau dgn org2x yg saya sayang

    dan hadith nya Ella kurang kuat

    dan

    @ cah enjeporo: betul, cuma di maksud pada setiap hari

    kita solat 5 kali sehari setiap hari dalam solat nya kita kita berdoa untuk Rasul Muhammad Alihi salam dan untuk Ibrahim Alihi Salam. kok kita ngga tunggu maulid nya nabi untuk berdoa untuk dia.

    berdoa lah setiap hari untuk Nabi Muhammad Alihi salam

    wah kalian sebagi org muslim kurang ikhlas bersukur Rasul Alihi salam.

    saya merayakan nya setiap hari kalian cuma sekali setahun gimana sih??

    Maap bahasa indonesia ku hancur ;)

  • wong jowo said:

    “wahaby yg jahil”didalm maulid isinya ada ayat qur’an,pujian kepada keagungan nabi,sholawat,salam,pengjian,para penyebar islam dinusantara merka yg bwa manhaj ini,raja raja jawa pun pd saat itu menerima dan melaksanaken,awakmu, mbahmu mbahmu ndisi y senng, ko siki koe dadi edan,melu wahabi,

  • cah njeporo said:

    @ assamar : tolong perhatikan, cermati, masukan hati, keterangan ini !!!
    Didalam hadist tersebut,,, Rasul saw jelas jelas memberi pemahaman bahwa hari senin itu berbeda dihadapan beliau saw daripada hari lainnya, dan hari senin itu adalah hari kelahiran beliau saw.
    Karena beliau saw tak menjawab misalnya : “oh puasa hari senin itu mulia ..”,
    namun beliau bersabda : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah pada pribadi beliau saw, sekaligus disunnahkan puasa dihari itu
    Contoh mudah misalnya zaid bertanya pada amir : “bagaimana kalau kita berangkat umroh pada tanggal 1 Januari aja ??”,
    maka amir menjawab : “oh itu hari kelahiran saya”. Nah…..bukankah jelas jelas bahwa zaid memahami bahwa 1 januari adalah hari yang berbeda dari hari hari lainnya bagi amir???, dan amir menyatakan dengan jelas bahwa 1 januari itu adalah hari kelahirannya, dan berarti amir ini termasuk orang yang perhatian pada hari kelahirannya, kalau amir tak acuh dengan hari kelahirannya maka pastilah ia tak perlu menyebut nyebut bahwa 1 januari adalah hari kelahirannya. bisa di fahami kan cntoh ini ?????
    dan Nabi saw tidak memerintahkan puasa hari senin untuk merayakan kelahirannya, pertanyaan sahabat ini berbeda maksud dengan jawaban beliau saw yang lebih luas dari sekedar pertanyaannya, sebagaimana contoh diatas, Amir tak mmerintahkan umroh pada 1 januari karena itu adalah hari kelahirannya,
    maka mereka yang berpendapat bahwa boleh merayakan maulid hanya dengan puasa saja maka tentunya dari dangkalnya pemahaman terhadap ilmu bahasa.
    Orang itu bertanya tentang puasa senin, ???, Rasul saw menjawab : hari itu hari kelahiranku, menunjukkan hari kelahiran beliau saw ada nilai tambah tersendiri pada pribadi beliau saw, sekaligus disunnahkan puasa dihari itu.
    Maka jelaslah sudah bahwa Nabi saw termasuk yang perhatian pada hari kelahiran beliau saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam.
    =========
    assamar,,, kata siapa kami stiap senin tdk baca maulid ????? stiap senin kita baca maulid addiba’i,,albarzanji, simtud duror dll. ente dpt kbar dr mna klo kita tdk prnah baca mauilid d hari senin ??? makanya sekali-kai ente jg ikut hadir maulid spy tahu…apa mnfa’at dr maulid !!! hanya saja dibulan maulid ada nilai tambah tersendiri sehingga perlu dirayakan krn d bulan trsb terlahirnya mnusia yang termulya, untuk menunjukan rasa bangga kita dg terlahirnya nabi muhammad saw di bulan trsbt.
    bukankah allah telah memerintahkan kpd kita jika kita mndpat karunia dan rahmatnya allah swt ???? sbgmna d tergkn dlm surt yunus ayt 45 : “katakanlah, dengan karunia allah dan rahmatnya , hendaklah dengan itu mereka bergembira.
    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
    sedangkan lahirnya nabi muhammad saw adalah karunia yg terbesar bagi seluruh alam khususnya umatnya nabi muhammad saw, sbgmna yg dterangkan dlm firmanya allah وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ (Alanbiya’107)dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi)rahmat bagi semesta alam.
    Karena Sifat manusia cenderung merayakan sesuatu yang membuat mereka gembira, apakah keberhasilan, kemenangan, kekayaan atau lainnya, mereka merayakannya dengan pesta, mabuk mabukan, berjoget bersama, wayang, lenong atau bentuk pelampiasan kegembiraan lainnya, demikian adat istiadat diseluruh dunia. Dan kita lebih bangga jika kegelapan jahiliyah sdh tersinari dg cahaya sebab terlahirnyanya nabi Muhammad saw,,,,,tapi cara merayakannya dengan membaca shalawat, menyebut akhlaqnya dll.

    buknkah kamu juga umat muhammad saw yg jga mndptkn rahmatnya beliau ???? apkah kamu akan mengatakn, haram, syirik, dholalah kpda orang yg sedang merayakan kebanggaanya atas terlahirnya manusia pilihan, sedangkan alqur’an malah menganjurkanya ????? pikir baik-baik !!!! kalau ente g mau menjalankan tdk masalah….tapi jika ada org yg merayakan jangan di bilang syirik, haram, dholalah….!!!

    kalau masalah menghidupkan sunnah….buat kita (ahlus sunah) gak usah ditanya,…ya sdah pasti lah!!!! stiap hari kita menjalankan sunnah rasul saw, spt siwak, masuk kamar mandi dg mndhlukn kaki kiri,keluar mndhlukn kaki kanan, qobliyah ba’diyah, dll. Bhkan qt bersholawtnya pun stiap hari…baik diluar sholat maupun diluar sholat
    kalian ini sebetulnya males ibadah…..supaya tdk d anggap org malas, klian itu mgatakn ini bid’ah, ini haram, ini syirik, dll..demi menutupi kemalesan klian. iya kan ??????
    buktinya apa, klo klian malas ibdah sprti ini ??? perayaan tahun baru 1 januari, kalian g prnah mngatakn, ini haram, ini syirik, ini dholalah…bahkan klian pun ikut andil dlm merayakanya. padahal perayaan trsbut sdh jelas-jelas haram. bukan begitu assamar & albingung ????

    Pada hakekatnya, perayaan maulid ini bertujuan mengumpulkan muslimin untuk Medan Tablig dan bersilaturahmi sekaligus mendengarkan ceramah islami yang diselingi bershalawat dan salam pada Rasul saw, dan puji pujian pada Allah dan Rasul saw yang sudah diperbolehkan oleh Rasul saw, dan untuk mengembalikan kecintaan mereka pada Rasul saw, maka semua maksud ini tujuannya adalah kebangkitan risalah pada ummat yang dalam ghaflah, maka Imam dan Fuqaha manapun tak akan ada yang mengingkarinya, karena jelas jelas merupakan salah satu cara membangkitkan keimanan muslimin, hal semacam ini tak pantas dimungkiri oleh setiap muslimin aqlan wa syar’an (secara logika dan hukum syariah),
    karena hal ini merupakan hal yang mustahab (yang dicintai), sebagaiman kaidah syariah bahwa “Maa laa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib”, semua yang menjadi penyebab kewajiban dengannya maka hukumnya wajib.

    Contohnya saja bila sebagaimana kita ketahui bahwa menutup aurat dalam shalat hukumnya wajib, dan membeli baju hukumnya mubah, namun suatu waktu saat kita akan melakukan shalat kebetulan kita tak punya baju penutup aurat kecuali harus membeli dulu, maka membeli baju hukumnya berubah menjadi wajib, karena perlu dipakai untuk melaksanakan shalat yang wajib .

    Contoh lain misalnya sunnah menggunakan siwak, dan membuat kantong baju hukumnya mubah saja, lalu saat akan bepergian kita akan membawa siwak dan baju kita tak berkantong, maka perlulah bagi kita membuat kantong baju untuk menaruh siwak, maka membuat kantong baju di pakaian kita menjadi sunnah hukumnya, karena diperlukan untuk menaruh siwak yang hukumnya sunnah.

    Maka perayaan Maulid Nabi saw diadakan untuk Medan Tablig dan Dakwah, dan dakwah merupakan hal yang sangat dianjurkan pada suatu kaum bila dalam kemungkaran, dan ummat sudah tak perduli dengan Nabinya saw, tak pula perduli apalagi mencintai sang Nabi saw dan rindu pada sunnah beliau saw, dan untuk mencapai tablig ini dihasilkan lewat perayaan Maulid Nabi saw, maka perayaan maulid ini menjadi dianjurkan pula, karena menjadi perantara Tablig dan Dakwah serta pengenalan sejarah sang Nabi saw serta silaturahmi.
    Sebagaimana penulisan Alqur’an yang merupakan hal yang tak perlu dizaman nabi saw, namun menjadi sunnah hukumnya di masa para sahabat karena sahabat mulai banyak yang membutuhkan penjelasan Alqur’an, dan menjadi wajib hukumnya setelah banyaknya para sahabat yang wafat, karena ditakutkan sirnanya Alqur’an dari ummat,
    walaupun Allah telah menjelaskan bahwa Alqur’an telah dijaga oleh Allah.
    Hal semacam ini telah difahami dan dijelaskan oleh para khulafa’urrasyidin, sahabat radhiyallahu’anhum, Imam dan Muhadditsin, para ulama, fuqaha dan bahkan orang muslimin yang awam, namun hanya sebagian saudara saudara kita muslimin yang masih bersikeras untuk menentangnya, semoga Allah memberi mereka keluasan dan kejernihan hati, amiin

    @ kuda : adapun hukum syari’at yg d dasarkan lewat mimpi memang itu masih diperselisihkan antara fuqoha’. Apakah boleh mnjdikn hukum dari dasar mimpinya rasulullah saw ????? ada khilaf..
    Adapun beri’timad (dijadikan hujjah) sebagai manakib, sejarah dan lainnya, maka didalam bab ini boleh secara mutlaq.
    misalnya mimpi orang kafir atas kebangkitan Nabi saw, maka tentunya hal itu dijadikan hujjah atas kebangkitan Nabi saw.
    Semua para imam-imam diatas yang meriwayatkan hal itu tentunya menjadi hujjah bagi kita bahwa hal itu benar adanya, karena diakui oleh imam imam hadist dan mereka tak mengingkarinya……….

  • hmm said:

    wahabi lagi deh….hiohihihihi….

    ane pernah dikafirin tuh ama org wahabi gara2 ikut maulidan ama2 sodara2 dr jamaah tabligh n surau deket rumah, heran deh padahal ya isinya ceramah dan ngaji…..

    dibilang bid’ah dll…..huh….

    kita liat aje deh sapa yg dipanggang nanti, ane yg dosa krn maulidan, ato ente yg ngafir2in maulidan, cekidot Gan….

  • elfasi said:

    @ assamar, ente ini langsung komentar, menyimpulkan makna hadits padahal sangat minim pemahaman tentang hadits,
    Ente bilang “jelas sekali disitu yang ditanya tentang keutamaan berpuasa dihari senin, bukan hari kelahiran Nabi.” ==== Mas, dari sini nampak ketidak pahaman nt tentang hadits ini. Ane mau kasih gambaran ama nt biar bisa paham maksud jawaban Nabi tentang puasa di hari senin.
    “ kenapa kayu gahru harganya mahal ?, karena baunya wangi”. Dapat disimpulkan dari pernyataan ini bahwa kayu gahru bisa memiliki nilai jual tinggi karena baunya wangi, sehingga apabila tidak berbau wangi, maka harganya tidak akan mahal. Kalimat ini terdiri dari tiga kosakata yaitu kayu gahru, harganya mahal dan baunya wangi. Kayu gahru perumpamaan dari hari senin, bau wangi perumpamaan dari hari kelahiran Rasulullah SAW, dan harga mahal perumpamaan dari pahala/nilai istimewa puasa hari senin.
    Sehingga dapat kita simpulkan dari hadits tersebut, bahwa : “ Hari senin menjadi mulia dan istimewa serta disunnahkan puasa di hari itu karena menjadi hari diahirkannya kekasih Allah yaitu Rasulullah SAW. Sehingga, seandainya Nabi tidak dilahirkan di hari senin, seperti selasa misalnya, maka hari selasa-lah yang mulia dan disunnahkan untuk berpuasa di dalamnya karena menjadi hari dilahirkannya Rasulullah SAW.”
    Oleh karena itu, inti jawaban Nabi, bukanlah menunjukkan keutamaan puasa di hari itu aja, melainkan juga menunjukkan dan mengumumkan bahwa hari itu adalah hari kelahiran beliau dan disunnahkan puasa juga untuk memperingati hari kelahiran beliau.
    Mas, sebenarnya penjelasan seperti ini pantesnya untuk anak kecil yang masih lemah pemahamannya. Makanya belajar lagi, jangan langsung ikutan komentar, klo gak bisa jawab, ajak aja ustad2 ente ikutan diskusi disini !

  • Assamar said:

    @ riariani : Alhamdulillah, saya pengikut manhaj salaf…tp anda salah bila mengatakan saya pengekor Syaikh Albani ! tidaklah ada seorang yang mengaku salaf tapi dia mengekor/fanatik kepada seseorang. Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya, tidak lebih daripada itu ! so, emangnya kenapa kalau saya pengikut manhaj salaf ? ada yang salah dengan manhaj salaf, seperti yang kalian pikirkan selama ini ?

    @ Cah njeporo
    anda wrote :
    buknkah kamu juga umat muhammad saw yg jga mndptkn rahmatnya beliau ???? apkah kamu akan mengatakn, haram, syirik, dholalah kpda orang yg sedang merayakan kebanggaanya atas terlahirnya manusia pilihan, sedangkan alqur’an malah menganjurkanya ????? pikir baik-baik !!!! kalau ente g mau menjalankan tdk masalah….tapi jika ada org yg merayakan jangan di bilang syirik, haram, dholalah….!!!

    LHO, apa pernah saya bilang begitu?? emang syariat koq yang bilang seperti itu ! saya mau tanya sekali lagi : TOLONG BERIKAN CONTOH/DALIL LANGSUNG DARI RASULULLAH KALAU BELIAU PERNAH MELAKSANAKAN PERAYAAN HARI KELAHIRAN BELIAU ??? selain hadist puasa senin itu kang mas ! karena hadist itu anda bathil dalam pendalilan.

    antum wrote lagi :
    kalau masalah menghidupkan sunnah….buat kita (ahlus sunah) gak usah ditanya,…ya sdah pasti lah!!!! stiap hari kita menjalankan sunnah rasul saw, spt siwak, masuk kamar mandi dg mndhlukn kaki kiri,keluar mndhlukn kaki kanan, qobliyah ba’diyah, dll. Bhkan qt bersholawtnya pun stiap hari…baik diluar sholat maupun diluar sholat
    kalian ini sebetulnya males ibadah…..supaya tdk d anggap org malas, klian itu mgatakn ini bid’ah, ini haram, ini syirik, dll..demi menutupi kemalesan klian. iya kan ??????
    buktinya apa, klo klian malas ibdah sprti ini ??? perayaan tahun baru 1 januari, kalian g prnah mngatakn, ini haram, ini syirik, ini dholalah…bahkan klian pun ikut andil dlm merayakanya. padahal perayaan trsbut sdh jelas-jelas haram. bukan begitu assamar & albingung ????

    saya jawab :
    anda yakin bahwa anda Ahlus Sunnah ?? apa anda yakin sunnah itu sama dengan bid’ah ? saya sih lebih yakin kalau anda AHLUL BID’AH WAL JAMAAH. Memang sunnah dengan contoh yang anda berikan, kami juga lakukan koq, tidak usah khawatir klo kami tidak lakukan itu, InsyaALLAH ! dan bukan berarti kami tidak maulid lalu kami malas ibadah ! tapi dibagi kami, alangkah lebih baik bila ibadah/atau dalam rangka syiar Islam kita mengadakan kajian2/taklim yang membahas Alqur’an dan hadist2 shahih, bukan dengan perayaan2 seperti itu !!!
    apa anda pernah melihat saya/kami merayakan hari tahun baru 1 Januari ??? sekali-kali TIDAK wahai saudaraku !! kami pun tahu dgn jelas bahwa itu bukanlah dari agama Islam, tapi dari kaum kafir, jadi jangan langsung menuduh ya, paling gak huznudzon lah…
    Bila anda katakan maulid diadakan untuk dakwah di medan tabligh, lho kenapa harus dakwah dengan cara perayaan ???? apa tidak sebaiknya dengan yang saya katakan tadi, yaitu dengan kajian2 Islami yang tentunya diikuti oleh banyak orang, bukan begitu kang mas ???

  • Assamar said:

    @ elfasi : yahh ini lagi, sama aja dengan yang lainnya….
    Saya setuju dengan semua pendapat anda itu, tapi apakah harus kelahiran Rasulullah dirayakan ?? apakah ada contoh langsung dari Rasulullah untuk merayakan hari kelahiran Beliau ??? saya minta satu aja, berikan contoh langsung dari Rasulullah klo beliau pernah merayakannya !!! sahabat aja yang notebene lebih paham apa yang diajarkan oleh Rasulullah gak pernah ngerjain, lalu pantaskah kita melakukannya yang paham agama kita aja belum tentu sebaik dengan para sahabat ? pantas kah ??

    antum wrote :
    Mas, sebenarnya penjelasan seperti ini pantesnya untuk anak kecil yang masih lemah pemahamannya. Makanya belajar lagi, jangan langsung ikutan komentar, klo gak bisa jawab, ajak aja ustad2 ente ikutan diskusi disini !

    ya..saya akan terus belajar koq, bahkan sampai matipun InsyaALLAH saya tetap akan mencari ilmu yang tentunya ilmu agama Islam.
    Kalau anda menyuruh saya belajar, sebaiknya anda harus belajar juga donk..jangan asal nyuruh tapi dia sendiri gak mau belajar ? sombong kali anda nih…seolah2 nyuruh orang tapi dia sendiri ?? wallahu a’lam….

  • Assamar said:

    APA HUKUM MERAYAKAN MAULID ???

    Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjawab :

    Pertama, malam kelahiran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti kapan. Bahkan sebagian ulama masa kini menyimpulkan hasil penelitian mereka bahwa sesungguhnya malam kelahiran beliau adalah pada tanggal 9 Robi’ul Awwal dan bukan malam 12 Robi’ul Awwal. Oleh sebab itu maka menjadikan perayaan pada malam 12 Robi’ul Awwal tidak ada dasarnya dari sisi latar belakang historis.

    Kedua, dari sisi tinjauan syariat maka merayakannya pun tidak ada dasarnya. Karena apabila hal itu memang termasuk bagian syariat Allah maka tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya atau beliau sampaikan kepada umatnya. Dan jika beliau pernah melakukannya atau menyampaikannya maka mestinya ajaran itu terus terjaga, sebab Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan Kami lah yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)

    Sehingga tatkala ternyata sedikit pun dari kemungkinan tersebut tidak ada yang terbukti maka dapat dimengerti bahwasanya hal itu memang bukan bagian dari ajaran agama Allah. Sebab kita tidaklah diperbolehkan beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara-cara seperti itu. Apabila Allah ta’ala telah menetapkan jalan untuk menuju kepada-Nya melalui jalan tertentu yaitu ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka bagaimana mungkin kita diperbolehkan dalam status kita sebagai hamba yang biasa-biasa saja kemudian kita berani menggariskan suatu jalan sendiri menurut kemauan kita sendiri demi mengantarkan kita menuju Allah? Hal ini termasuk tindakan jahat dan pelecehan terhadap hak Allah ‘azza wa jalla tatkala kita berani membuat syariat di dalam agama-Nya dengan sesuatu ajaran yang bukan bagian darinya. Sebagaimana pula tindakan ini tergolong pendustaan terhadap firman Allah ‘azza wa jalla yang artinya,

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

    “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

    Oleh sebab itu kami katakan bahwasanya apabila perayaan ini termasuk dari kesempurnaan agama maka pastilah dia ada dan diajarkan sebelum wafatnya Rasul ‘alaihish shalatu wa salam. Dan jika dia bukan bagian dari kesempurnaan agama ini maka tentunya dia bukan termasuk ajaran agama karena Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian.” Barang siapa yang mengklaim acara maulid ini termasuk kesempurnaan agama dan ternyata ia terjadi setelah wafatnya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam maka sesungguhnya ucapannya itu mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia ini. Dan tidaklah diragukan lagi kalau orang-orang yang merayakan kelahiran Rasul ‘alaihis shalatu was salam hanya bermaksud mengagungkan Rasul ‘alaihis shalaatu was salaam. Mereka ingin menampakkan kecintaan kepada beliau serta memompa semangat agar tumbuh perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui diadakannya perayaan ini. Dan itu semua termasuk perkara ibadah. Kecintaan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ibadah. Bahkan tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga dia menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan bahkan seluruh umat manusia. Demikian pula pengagungan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk perkara ibadah. Begitu pula membangkitkan perasaan cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk bagian dari agama karena di dalamnya terkandung kecenderungan kepada syariatnya. Apabila demikian maka merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah serta untuk mengagungkan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suatu bentuk ibadah. Dan apabila hal itu termasuk perkara ibadah maka sesungguhnya tidak diperbolehkan sampai kapan pun menciptakan ajaran baru yang tidak ada sumbernya dari agama Allah. Oleh sebab itu merayakan maulid Nabi adalah bid’ah dan diharamkan.

    Kemudian kami juga pernah mendengar bahwa di dalam perayaan ini ada kemungkaran-kemungkaran yang parah dan tidak dilegalkan oleh syariat, tidak juga oleh indera maupun akal sehat. Mereka bernyanyi-nyanyi dengan mendendangkan qasidah-qasidah yang di dalamnya terdapat ungkapan yang berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap Rasul ‘alaihish sholaatu was salaam sampai-sampai mereka mengangkat beliau lebih agung daripada Allah -wal ‘iyaadzu billaah-. Dan kami juga pernah mendengar kebodohan sebagian orang yang ikut serta merayakan maulid ini yang apabila si pembaca kisah Nabi sudah mencapai kata-kata “telah lahir Al-Mushthafa” maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

    Bid’ah ini -yaitu bid’ah Maulid- baru terjadi setelah berlalunya tiga kurun utama. Selain itu di dalamnya muncul berbagai kemungkaran ini yang merusak fondasi agama seseorang. Apalagi jika di dalam acara itu juga terjadi campur baur lelaki dan perempuan dan kemungkaran-kemungkaran lainnya. (Diterjemahkan Abu Muslih dari Fatawa Arkanil Islam, hal. 172-174).

  • Kuda said:

    Ayat2x cerita2x soal Nabi2x itu cerita2x soal Mujizat nya Allah SWTngga ada satu pun soal ngraya kan maulid Nabawi —
    marilah kita mentadaburi Alquran lebih dalam dengan hati yang ikhlas dan terbebas dari faham2 ulama2 versi anda, dan bertanyalah kepada Ulama yang Ahlul dzikir untuk mendapatkan Waliyam musryida — QS.Alkahfi

    diatas sudah dijelaskan tttng ayat perintah ALLAH untuk manusia agar memperingati Hari2 ALLAH.
    - diutusnya nabi Musa adalah merupakan hari2 ALLAH, dan ayatnya perintahnya sangat jelas bahwa umatnya disuruh untuk merayakannya…. Lihat Selengkapnya
    - Nabi Isa, mendapatkan hidangan dari ALLAH adalah merupakan hari2 ALLAh dan ayatnya perintahnya sangat jelas bahwa umatnya disurah untuk merayakannya.
    - dan jelas bahwa anugrah terbesar orang beriman adalah ketika diutusnya baginda Rasulullah kemuka bumi, dan inilah pasti termasuk hari2 ALLAH yang wajib dirayakan oleh umat2nya, QS.Ali imran:164

    baru pertama kali saya dgr kalo kita di suruh ngaraya kan hari hari itu saya memplajari Madhab shafei selama 20 tahun ini

    dan kalo km bener2x ngerti arti nya ayat2x itu km pasti ngga bakal ngomong gitu …kita di ingat kan btp hebat nya Allah subhanuh wattala dalam ayat2x dan itu ayat2x semua nya kisah di turunkan untuk rasul Allah salalahu alihi wassalam kerna Nabi alihi salam menderita berat pada saat itu dan Allah pingin menghibur kan hati nya

    saya ngga bilang kalo km jadi kafir kerna ngeraya kan dgn heboh nya enshAllah di terima amal nya

    kerna kalo km mengundang 200 ribu org ke rumah nya km untuk ngeraya kan nya pahala nya km bakal hampir sama dgn pahala ku yg meraya kan nya dgn 5 org aja

    ingat perlebihan dari sesuatu yg di suruh itu bida’ah

    ke dua

    —-MAULID ATAU MILAD itu bodaya org kafir nasrani yg di ikuri sama ulama mesir di zaman nya Salahudin —-

    itukan kata ulama versi Anda yang jauh dari Alquran yang sudah berhasil dihasut Iblis untuk menjauhkan umat dari Rasulnya.

    semua org tahu kalo milad itu adat dan takalid nya org kuffar
    dan kita ngga boleh ngeikutin mrk

    Ibn Katheer said about this verse (4/310): “And therefore Allah prohibited the believers from imitating them in anything from the fundamental or branch affairs.”

    mungkin km bener kalo milad itu bukan berasal dari mrk kerna saya belum pernah ke masa lalu dan ngecheck sendiri siapa tahu anda berilmu hebat.

    dan kalo imang bener kita harus ngeraya kan ISA dan nabi Allah lain nya tolong sebutin hari hari nya dan bukti nya
    kerna setahu ku ngga ada dalam agama islam di bilangin hari ini milad nya ini hari ini milad nya Nabi Allah ini.

    وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

    “Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

    km ngga tahu asbab alnuzul km pemikiran nya sempit. ini dunia di cipta kan bukan untuk kita tapi hanya untuk RasulAllah,… Lihat Selengkapnya
    dalam ayat kecil ini di kasih tahu kenapa Allah ngisah cerita2x para sahabat ke pada nya dan dalam tafsir di bilang “kepadamu” arti nya untuk Rassul bukan untuk km ikutin

    kalo km mau ikutin kaum Kitab nya kaum kufar silah kan aku ngga nolak

    kalo km masih angap apa yg saya ngomongin salah maaf ana ngga mau terusin lagi

    ngeraya kan Maulid nabawai yg cara bener itu dgn byk ibadat bukan undang2x
    yg bida’ah itu cara nya ngerayain nya di Indonesia.

    dan untuk informasi aja

    The Meelad celebration is not compulsory. It is Mustahab (recommended). Imam Jalaaluddin Suyuti (radi Allahu anhu) said that it is Mustahab for us to celebrate Meelad of the Holy Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) as to thank Allah. (Ruhul Bayaan)

    ngeraya kan Meelad nabi bukan wajib tapi Mustahab … Lihat Selengkapnya

    ga ada satu ayat pun dalam Al Quran atau Hadith atau pun sahabat nya rasul atau sahabat tabain yg ngeraya nya baru 600 tahun yg lalu di raya kan di Mesir.

  • cah njeporo said:

    @ assamar : diatas kan sudah diterangkan dengan jelas dan gamblang…. hanya saja pikiranya ente terlalu dangkal untuk memahaminya.

    ini jg ada hadist yg mengenai penghormatan rasulullah dengan hari kelahiran..selain hadist puasa. tolong akal sehatnya di pakai.

    Diambil dari perkatanya rasululah saw tentang keutama’an & keistimewaan dihari jum’at : beliau berkata: karena dihari itu terlahirnya nabi adam a.s. (فتح الباري 6/ 234)

    Dalil ini menunjukkan bahwa mulyanya hari jum’at karena disitu terlahirnya nabi adam. a.s. kalau seandainya nabi adam tdk dilahirkan dihari jum’at (selasa misalx) mungkin beliau saw mengutamakan dan memuliakan hari selasa……sbgmn yg d terangkn akhina elfasi di atas.
    Adakah nabi yang lbih mulya dari kemulyaanya nabi Muhammad saw ??? kalau dihari kelahirannya nabi adam aja, hari jum’atnya pun menjadi mulya, bagaimana kalau yang terlahir di hari itu adalah pemimpin dari para nabi, semulya-mulyanya mursalin ???? (mukhtasor fisiroh nabawiyah : 7 )

    (فتح الباري 11/ 214)
    Begitu juga ketika Rasulullah isra’ mi’raj, maka Jibril berkata kpd nabi Muhammad saw “yarasulullah, turunlah dan laksanakanlah sholat, kemudian nabi pun melaksanakan sholat, Malaikat Jibril tanya kembali, ya rasulallah, apakah engkau mengetahui, di mana engkau sholat ??? jwb saw: tidak. Malaikat Jibril mnjwb : engkau sholat dibaitul lahm, dimana nabi isa a.s dilahirkan”

    Perhatikan hadist diatas semuanya mengenang dan mengajarkan untuk menghormati zaman, waktu yang mulya…….tidak terlepas pula lahirnya nabi isa pun di hormati Rasulullah, adapun cara menghormati itu bermacam-macam caranya,,,, bersholawat, bersedekah kpd fqir mskin, dll.

    Bila anda katakan maulid diadakan untuk dakwah di medan tabligh, lho kenapa harus dakwah dengan cara perayaan ???? apa tidak sebaiknya dengan yang saya katakan tadi, yaitu dengan kajian2 Islami yang tentunya diikuti oleh banyak orang, bukan begitu kang mas ???

    Wahai assamar…kami bukan hanya da’wahnya lewat itu doang, segala celah dan cara untuk da’wah, kita kerjakan mulai dari kajian2 Islami, belajar mengajar, bahkan lewat website ini pun kita niati untuk da’wah dan tdk ketinggalan pula kita menggunakan kesempatan emas, dimana semua orang sudah berkumpul untuk siap mendengarkan nasehat, ceramah, sehingga mreka yg punya hati lembut akan sadar dari keslahan2 yg prnh dlkukan.

    Sebetulnya sudah cukup ayat alqur’an, hadist, kalam shohabat, ulama’ diatas untuk dijadikan suatu dalil. Dan tidak perlu kita menganggap kalamnya orang2 yg pkiranya Dangkal, spt kalian ini.

    Kalau memang seandainya ayat alqur’an, hadist, kalam shohabat,diatas semuanya tidak mencukupi dibuat hujjah bagi kalian, ADAKAH AYAT ALQUR’AN, HADIST, KALAMNYA SHOHABAT YANG MELARANG TENTANG PERAYAAN MAULID ?????????????????? SEBUTKAN !!!!!!!!!
    Kalau ada berarti kita yang salah, kalau tidak ada berarti klian yg bahlul……kenapa melarang maulid yang tidak diharamkan syari’at ?????

  • alfa reyhan said:

    Wahaby melarang maulid Nabi tapi memperingati maulid Muhammad bin abdul wahhab besar2an http://takaza.blogspot.com/2009/04/bidah-saudy-perayaan-maulid-muhammad.html
    kumaha iye kang ahli samaaaaaaaaaaar?

  • riariani said:

    @ assamar and all wahabi salafi and albani fans club.
    Termakasih sudah mengataka kami sebagai”AHLUL BID’AH WAL JAMA’AH”

    Tapi:
    Telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”. Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “barang Siapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.
    1.MASIH PANTASKAH ANDA MENGAKU SALAF?
    2.MASIHKAH ANDA BELUM MAU BERTOBAT?

    ??????…????…????
    Renungkan dalam sujud malamu..
    Terlalu banyak ulama yang kalian BID’AHkan..
    “MASIH PANTASKAH AKU MENGAKU SALAF”

  • Assamar said:

    saya nukilkan lagi bagaimana penjelasan hadist berpuasa pada hari senin :

    Dalil yang dijadikan hujjah oleh mereka yang menganjurkan perayaan maulid,yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Qatadah – radhiyallahu ‘anhu – bahwa Rasulullah – shallallahu ‘alihi wasallam – ditanya tentang puasa pada hari senin,lalu beliau menjawab:

    فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

    “pada hari itu aku dilahirkan,dan diturunkan kepadaku (al-qur’an)”.

    Hadits ini sama sekali bukan dalil tentang bolehnya merayakan maulid Nabi – shallallahu ‘alihi wasallam -,ditinjau dari beberapa sisi :

    Pertama: hadits ini menjelaskan tentang keutamaan hari senin,dan bukan tahun kelahiran beliau – shallallahu ‘alihi wasallam -.Sehingga jika ingin mengikuti hadits ini,maka semestinya dengan menghidupkan keutamaan hari senin tersebut dengan cara berpuasa,sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah – shallallahu ‘alihi wasallam -.Bukannya dengan merayakan tahunnya.Hal ini mirip halnya seperti orang yang mengatakan :”saya hanya ingin mengerjakan shalat wajib sekali sepekan”,sementara Allah dan Rasul-Nya memerintahkan dia untuk melaksanakannya 5 kali sehari semalam.

    Kedua: terjadinya perselisihan dikalangan para ulama tentang penentuan tanggal hari kelahiran beliau – shallallahu alaihi wasallam -,ada yang mengatakan 12 rabi’ al-awwal,ada yang mengatakan tanggal 8 rabi’ al-awwal,adapula yang mengatakan tanggal 18 rabi’ al-awwal,ada yang mengatakan tanggal 2,ada lagi yang mengatakan tanggal 10,dan mungkin ada lagi yang lainnya.Berbeda halnya dengan hari kelahiran beliau,yang telah dipastikan bahwa beliau lahir pada hari senin,sebagaiman yang telah tersebut dalam hadits tersebut.

    Ketiga: bahwa pada hari senin terdapat sebab lain yang menyebabkan beliau menyukai berpuasa pada hari senin,disebutkan dalam hadits Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu — bahwa Rasulullah – shallallahu ‘alihi wasallam – bersabda:

    تعرض الأعمال يوم الاثنين و الخميس فأحب أن يعرض عملي و أنا صائم

    “amalan-amalan dihadapkan pada setiap hari senin dan kamis,maka aku suka amalanku dihadapkan dalam keadaan aku berpuasa”. (HR.An-Nasaai dengan sanad yang shahih).

    Sedangkan keutamaan ini tidak terdapat pada tahun kelahiran beliau – shallallahu ‘alihi wasallam -.

    Keempat: sangat berbeda antara puasanya Rasulullah – shallallahu ‘alihi wasallam – pada hari senin,dengan perayaan maulid yang dirayakan oleh sebagian kaum muslimin tersebut. Sebab berpuasa adalah ibadah khusus yang tidak boleh dilakukan dalam hari raya, sebagaimana yang disebutkan oleh Umar bin Khatthab – radhiyallahu ‘anhu – tentang dua hari raya : idul fithri dan idul adha :

    ” ini adalah dua hari yang mana Rasulullah – shallallahu ‘alihi wasallam – melarang berpuasa pada kedua hari itu: hari berbukanya kalian dari puasa kalian,dan yang kedua adalah hari kalian makan dari sembelihan kalian ” (HR.Bukhari)

    Sementara apa yang kita saksikan dari perayaan maulid,yag keadaannya seperti hari raya,yang disuguhkan berbagai macam makanan,telur-telur yang diwarnai,dan disebagian tempat dengan cara menghamburkan harta dalam perkara yang tidak bermanfaat.- Allahul musta’an – .

    Semoga Allah memberikan pemahaman yang benar dalam menjalankan agama ini,- amin ya mujibas saailin – .

  • riariani said:

    @ assamar
    Muhammad bin Shalih Al Utsaimin.
    1.lahir tahun berapa?
    2.Apakah dia tergolong ulama’ SALAF?

    JAWAB!!!!

  • cah njeporo said:

    @ assamar serta sekutunya : tolong keterangan ini dijadikan wacana , supaya mulut kalian tdk trlalu asal jeplak aja…….

    Berdiri saat Mahal Qiyam dalam pembacaan Maulid

    maka mereka pun serentak berdiri dan mereka mengatakan bahwa sesungguhnya ruh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir ketika itu maka kita berdiri demi mengagungkan ruh beliau. Ini adalah tindakan yang bodoh. Dan juga bukanlah termasuk tata krama yang baik berdiri ketika menyambut orang karena beliau tidak senang ada orang yang berdiri demi menyambutnya. Dan para sahabat beliau pun adalah orang-orang yang paling dalam cintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kaum yang lebih hebat dalam mengagungkan beliau daripada kita. Mereka itu tidaklah berdiri tatkala menyambut beliau karena mereka tahu beliau membenci hal itu sementara beliau dalam keadaan benar-benar hidup. Lantas bagaimanakah lagi dengan sesuatu yang hanya sekedar khayalan semacam ini?

    Jawab : ini adalah pemahaman yg salah bgi kalian….
    kami berkeyakinan bahwa Rasulullah saw hidup dgn kehidupan yg layak bgi bliau , dan ruhnya saw berjalan-jalan di malakutnya allah. Dan dimungkinkan menghadiri majlis kher, bgtu jg auliya’us sholihin beserta pengikutnya.
    Imam malik berkata : sesungguhnya sampai kpd kami sesungguhnya ruh bisa pergi ke mana saja yang dia kehendaki”
    Salman alfarisy jg berkata : أرواح المؤمنين فى برزخ من الأرض تذهب حيث شاءت arwahnya orang2 mu’minin لberada dibarzakh dari bumi bisa pergi kemana saja yg dikehendaki

    Mengenai berdiri saat maulid ini, merupakan Qiyas dari menyambut kedatangan Islam dan Syariah Rasul saw, dan menunjukkan semangat atas kedatangan sang pembawa risalah pada kehidupan kita, hal ini lumrah saja, sebagaimana penghormatan yang dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (shahih Bukhari hadits no.2878, Shahih Muslim hadits no.1768), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

    Memang mengenai berdiri penghormatan ini ada ikhtilaf ulama, hukumnya bukan sunah juga bukan wajib, hanya saja keadaan spt itu dianggap baik oleh para ulama’ baik timur maupun barat. Diantaranya imam albarzanji brkata : “ telah menganggap baik berdiri disaat maulid imam-imam besar. Sungguh beruntung bagi orang yag mengagungkan beliau saw…
    dan brdiri dlm maulid tiada lain tujuannya adalah mengagungkan beliau saw, menghormati, mengingat keagungan beliau……buknkah ini juga baik ? tapi seandainya tidak berdiri juga tdk apa2 bkn dosa.
    قياما على الأقدام مع حسن إمعان * وقد سنّ أهل العلم والفضل والتقي
    بأي مقام فيه يذكر بل دان * بتشخيص ذات المصطفى وهو حاضر
    “betul-betul telah mensunahkan ahlul ilmi, ahlul fadhl, dan ahlu taqwa untuk brdiri dengan kedua kakinya serta beri’tiqod jasadnya rasululah hadir dlm majlis trsbt.
    Perhatikan kata2 وقد سنّ أهل العلم والفضل والتقي bukan وقد سنّ النبيdan juga bkn وقد سنّ خلفاء الراشدين ttpi وقد سنّ أهل العلم والفضل والتقي
    Perhatikan kata2 بتشخيص ذات المصطفى وهو حاضر ya’ni menghadirkan beliau dlam pikiran kita, bukankah prbuatan ini sangat terpuji ???? bhkan shrusnya stiap muslim harus mghadirkan beliau untk manambah cinta sehingga bisa mengikuti bliau saw smpai keinginan kita cocok dg apa yg rasul bawa. Bukankah kita ketika tasyahud d dlm sholat, kita mgatakan السلام عليك أيها النبي ورحة الله وبركاته keselamatan bagimu Wahai nabi bgtu juga rahmatnya & berkahnya allah selau tercurahkan kpd engkau. Apakah secara dhohir nabi hadir disitu ??? kok kita mgatakan السلام عليك أيها النبي ??? bukankah ini juga menghadirkan beliau dipikiran kita, seakan-akan beliau betul-betul hadir didepan mata kalian ??

    sebagaimana yang dijelaskan bahwa berkata Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yang adil dan yang semacamnya merupakan hal yang baik, dlm hdist ibn mas’ud (apa yg dianggap muslimin baik maka dihadapinya allah juga baik.)
    dan berkata Imam Bukhari bahwa yang dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk, dan Imam Nawawi yang berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka tak apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang, namun adapula pendapat lain yang melarang berdiri untuk penghormatan.(Rujuk
    Fathul Baari Almasyhur Juz 11 dan Syarh Imam Nawawi ala shahih muslim juz 12 hal
    93)

    Namun dari semua pendapat itu, tentulah berdiri saat mahal qiyam dalam membaca maulid itu tak ada hubungan apa apa dengan semua perselisihan itu, karena Rasul saw tidak dhohir dalam pembacaan maulid itu, lepas dari anggapan ruh Rasul saw hadir saat pembacaan maulid, itu bukan pembahasan kita, masalah seperti itu adalah masalah ghaib yang tak bisa disyarahkan dengan hukum dhohir, semua ucapan diatas adalah perbedaan pendapat mengenai berdiri penghormatan yang Rasul saw pernah melarang agar sahabat tak berdiri untuk memuliakan beliau saw.
    Jauh berbeda bila kita yang berdiri penghormatan mengingat jasa beliau saw, tak terikat dengan beliau hadir atau tidak, bahwa berdiri kita adalah bentuk semangat kita menyambut risalah Nabi saw, dan penghormatan kita kepada kedatangan Islam, dan kerinduan kita pada nabi saw, sebagaimana kita bersalam pada Nabi saw setiap kita shalat pun kita tak melihat beliau saw.

    Diriwayatkan bahwa Imam Al hafidh Taqiyuddin Assubkiy rahimahullah, seorang Imam Besar dan terkemuka dizamannya bahwa ia berkumpul bersama para Muhaddits dan Imam Imam besar dizamannya dalam perkumpulan yang padanya dibacakan puji pujian untuk nabi saw, lalu diantara syair syair itu merekapun seraya berdiri termasuk Imam Assubkiy dan seluruh Imam imam yang hadir bersamanya, dan didapatkan kesejukan yang luhur dan cukuplah perbuatan mereka itu sebagai panutan, (assiirotul halbiyah 1 /83 -84)

    Kesimpulannya………. boleh-boleh saja berdiri ketika mahalul qiyam bukan sunah, juga bukan wajib dan jika ditinggalkan tdk dosa. Artinya jika kalian melihat org yg brdri ketika maulid…..kalian gak perlu memvonis yg macem-macem……….. faham..!!!!

  • ToTo said:

    Assalamualaikum,

    Afwan, menurut saya yang ada dalam tulisan ini hanya sikap memaksakan nash-nash tersebut agar dapat dijadikan dalil terhadap perayaan maulid padahal tidak ada yang menunjukan pensyari’atan hal tersebut.

    saya hanya ingin menasihatkan bahwa menyandarkan pemahaman kita sendiri terhadap nash – nash Kitab dan Sunnah ini pasti tidak akan luput dari kesalahan dan kemugkinan besar menggiring kepada kesatan…. Lihat Selengkapnya

    karena itu wajib bagi kita mengikuti pemahaman para salaffussaleh dalam memahami agama ini karena itu adalah keselamatan dan mereka adalah generasi terbaik yang sudah dipersaksikan didalam kiatb dan Sunnah dan dan paling faham mengenai Kitab dan Sunnah.

    pertentangan dalam tataran pemahaman maka sebaiknya engkau menyelamatkan dirimu sendiri dan megikuti apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan dan takutlah dari menyelisihi apa yang Allah dan Rasulnya perintahkan.

    Wasalam.

  • Kuda said:

    woii para pembidh’ah!!

    Ayat2x cerita2x soal Nabi2x itu cerita2x soal Mujizat nya Allah SWTngga ada satu pun soal ngraya kan maulid Nabawi —
    marilah kita mentadaburi Alquran lebih dalam dengan hati yang ikhlas dan terbebas dari faham2 ulama2 versi anda, dan bertanyalah kepada Ulama yang Ahlul dzikir untuk mendapatkan Waliyam musryida — QS.Alkahfi

    diatas sudah dijelaskan tttng ayat perintah ALLAH untuk manusia agar memperingati Hari2 ALLAH.
    - diutusnya nabi Musa adalah merupakan hari2 ALLAH, dan ayatnya perintahnya sangat jelas bahwa umatnya disuruh untuk merayakannya…. Lihat Selengkapnya
    - Nabi Isa, mendapatkan hidangan dari ALLAH adalah merupakan hari2 ALLAh dan ayatnya perintahnya sangat jelas bahwa umatnya disurah untuk merayakannya.
    - dan jelas bahwa anugrah terbesar orang beriman adalah ketika diutusnya baginda Rasulullah kemuka bumi, dan inilah pasti termasuk hari2 ALLAH yang wajib dirayakan oleh umat2nya, QS.Ali imran:164

    baru pertama kali saya dgr kalo kita di suruh ngaraya kan hari hari itu saya memplajari Madhab shafei selama 20 tahun ini

    dan kalo km bener2x ngerti arti nya ayat2x itu km pasti ngga bakal ngomong gitu …kita di ingat kan btp hebat nya Allah subhanuh wattala dalam ayat2x dan itu ayat2x semua nya kisah di turunkan untuk rasul Allah salalahu alihi wassalam kerna Nabi alihi salam menderita berat pada saat itu dan Allah pingin menghibur kan hati nya

    saya ngga bilang kalo km jadi kafir kerna ngeraya kan dgn heboh nya enshAllah di terima amal nya

    kerna kalo km mengundang 200 ribu org ke rumah nya km untuk ngeraya kan nya pahala nya km bakal hampir sama dgn pahala ku yg meraya kan nya dgn 5 org aja

    ingat perlebihan dari sesuatu yg di suruh itu bida’ah

    ke dua

    —-MAULID ATAU MILAD itu bodaya org kafir nasrani yg di ikuri sama ulama mesir di zaman nya Salahudin —-

    itukan kata ulama versi Anda yang jauh dari Alquran yang sudah berhasil dihasut Iblis untuk menjauhkan umat dari Rasulnya.

    semua org tahu kalo milad itu adat dan takalid nya org kuffar
    dan kita ngga boleh ngeikutin mrk

    Ibn Katheer said about this verse (4/310): “And therefore Allah prohibited the believers from imitating them in anything from the fundamental or branch affairs.”

    mungkin km bener kalo milad itu bukan berasal dari mrk kerna saya belum pernah ke masa lalu dan ngecheck sendiri siapa tahu anda berilmu hebat

    وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

    “Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”

    km ngga tahu asbab alnuzul km pemikiran nya sempit. ini dunia di cipta kan bukan untuk kita tapi hanya untuk RasulAllah,… Lihat Selengkapnya
    dalam ayat kecil ini di kasih tahu kenapa Allah ngisah cerita2x para sahabat ke pada nya dan dalam tafsir di bilang “kepadamu” arti nya untuk Rassul bukan untuk km ikutin

    kalo km mau ikutin kaum Kitab nya kaum kufar silah kan aku ngga nolak

    kalo km masih angap apa yg saya ngomongin salah maaf ana ngga mau terusin lagi

    ngeraya kan Maulid nabawai yg cara bener itu dgn byk ibadat bukan undang2x
    yg bida’ah itu cara nya ngerayain nya di Indonesia.

    dan untuk informasi aja

    The Meelad celebration is not compulsory. It is Mustahab (recommended). Imam Jalaaluddin Suyuti (radi Allahu anhu) said that it is Mustahab for us to celebrate Meelad of the Holy Prophet (sallal laahu alaihi wasallam) as to thank Allah. (Ruhul Bayaan)

    ngeraya kan Meelad nabi bukan wajib tapi Mustahab …

    ga ada satu ayat pun dalam Al Quran atau Hadith atau pun sahabat nya rasul atau sahabat tabain yg ngeraya nya baru 600 tahun yg lalu di raya kan di Mesir .

    (biar fair, di jawab dunk!! jangan di buang!! )

  • Didi said:

    to Tukan Bidh’ah saya anjurkan tuk baca :

    Hadits Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

    “Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari 5/301 no. 2697, Muslim 12/61 dan lafadz ini milik Muslim]

    Dalam Riwayat Lain:… Lihat Selengkapnya

    “Barangsiapa mengamalkan amalan yang tidak ada dasarnya dalam urusan(agama) kami, maka dia akan tertolak.” [Hadits Riwayat. Muslim 12/16]

    Merayakan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah, karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga bukan merupakan perbuatan para Salaf Shalih dari kalangan sahabat Nabi dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah.

    Imam Abu Ja’far Tajuddin berkata : “Saya tidak tahu bahwa perayaan ini mempunyai dasar dalam Kitab dan Sunnah, dan tidak pula keterangan yang dinukil bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh seorang dari para ulama yang merupakan panutan dalam beragama, yang sangat kuat dan berpegang teguh terhadap atsar (keterangan) generasi terdahulu. Perayaan itu tiada lain adalah bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang tidak punya kerjaan dan merupakan tempat pelampiasan nafsu yang sangat dimanfaatkan oleh orang-orang yang hobi makan” [Risalatul Maurid fi Amalil Maulid]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “Begitu pula praktek yang diada-adakan oleh sebagian manusia, baik karena hanya meniru orang-orang nasrani sehubungan dengan kelahiran Nabi Isa ‘Alaihis Salam atau karena alasan cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menjadikan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebuah perayaan. Padahal tanggal kelahiran beliau masih menjadi ajang perselisihan.

    Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.

    Sebenarnya, kecintaan dan penghormatan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tercermin dalam meniru, mentaati dan mengikuti perintah beliau, menghidupkan sunnah beliau baik lahir maupun bathin dan menyebarkan agama yang dibawanya, serta memperjuangkannya dengan hati, tangan dan lisan. Begitulah jalan generasi awal terdahulu, dari kaum Muhajirin, Anshar dan Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik” [Iqtida ‘Ash-Shirath Al-Mustaqim 1/615]

    Pertanyaan
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum perayaan hari kelahiran Nabi?

    Jawaban
    Pertama: Malam kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diketahui secara pasti, tapi sebagian ulama kontemporer memastikan bahwa itu pada malam kesembilan Rabi’ul Awal, bukan malam kedua belasnya. Kalau demikian, perayaan pada malam kedua belas tidak benar menurut sejarah…. Lihat Selengkapnya

    Kedua: Dipandang dari segi syari’at, perayaan itu tidak ada asalnya. Seandainya itu termasuk syari’at Allah, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya dan telah menyampaikan kepada umatnya, dan seandainya beliau melakukannya dan menyampaikannya, tentulah syari’at ini akan terpelihara, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,

    “Artinya : Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” [Al-Hijr : 9].

    Karena tidak demikian, maka diketahui bahwa perayaan itu bukan dari agama Allah, dan jika bukan dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dengannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendekatkan diri kepadaNya dengan itu. Untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, Allah telah menetapkan cara tertentu untuk mencapainya, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana mungkin kita, sebagai hamba biasa, mesti membuat cara sendiri yang berasal dari diri kita untuk mengantarkan kita mencapainya? Sungguh perbuatan ini merupakan kejahatan terhadap hak Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kita melaksanakan sesuatu dalam agamaNya yang tidak berasal dariNya, lain dari itu, perbuatan ini berarti mendustakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu” [Al-Ma'idah : 3]

    Kami katakan: Perayaan ini, jika memang termasuk kesempurnaan agama, mestinya telah ada semenjak sebelum wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jika tidak termasuk kesempurnaan agama, maka tidak mungkin termasuk agama, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,.

    “Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu.” [Al-Ma'idah :3]

    Orang yang mengklaim bahwa ini termasuk kesempurnaan agama dan diadakan setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ucapannya mengandung pendustaan terhadap ayat yang mulia tadi. Tidak diragukan lagi, bahwa orang-orang yang menyelenggarakan perayaan hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah hendak mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menunjukkan kecintaan terhadap beliau serta membangkitkan semangat yang ada pada mereka. Semua ini termasuk ibadah, mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan ibadah, bahkan tidak sempurna keimanan seseorang sehingga menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dicintai daripada dirinya sendiri, anaknya, orang tuanya dan manusia lainnya.

    Mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga termasuk ibadah. Demikian juga kecenderungan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk bagian dari agama karena mengandung kecenderungan terhadap syari’atnya. Jadi, perayaan hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengagungkan RasulNya merupakan ibadah. Karena ini merupakan ibadah, sementara ibadah itu sama sekali tidak boleh dilakukan sesuatu yang baru dalam agama Allah yang tidak berasal darinya, maka perayaan hari kelahiran ini bid’ah dan haram.

    Kemudian dari itu, kami juga mendengar, bahwa dalam perayaan ini terdapat kemungkaran-kemungkaran besar yang tidak diakui syari’at, naluri dan akal, di mana para pelakunya mendendangkan qasidah-qasidah yang mengandung ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mengagungkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sampai-sampai memposisikan beliau lebih utama daripada Allah. Na’udzu billah. Di antaranya pula, kami mendengar dari kebodohan para pelakunya, ketika dibacakan kisah kelahiran beliau, lalu bacaannya itu sampai pada kalimat ‘wulida al-musthafa™ mereka semuanya berdiri dengan satu kaki, mereka berujar bahwa ruh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hadir di situ maka kami berdiri untuk memuliakannya. Sungguh ini suatu kebodohan. Kemudian dari itu, berdirinya mereka itu tidak termasuk adab, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak menyukai orang berdiri untuknya. Para sahabat beliau merupakan orang-orang yang paling mencintai dan memuliakan beliau, tidak per-nah berdiri untuk beliau, karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya, padahal saat itu beliau masih hidup. Bagaimana bisa kini khayalan-khalayan mereka seperti itu?

    [Majalah Al-Mujahid, edisi 22, Syaikh Ibnu Utsaimin]

  • fulan said:

    @toto: hal mana yang menggiring pada kesesatan??? apakah memuji nabi itu sesat??? nt ga’prnah baca maulid kok bisa bilang gtu…
    nt ga’ tau siapa yang baca maulid n siapa yang mengarang maulid
    mereka itu keturunan Rasulullah
    apakah pantas para cucu rasulullah nt bilang sesat????

  • Didi said:

    MEMPERHATIKAN CATATAN DAN KOMEN2 DIATAS ANA MELIHAT BAHWA HUJJAH YG DIGUNAKAN UTK MELEGALKAN PERAYAAN MAULID NABI CUMA HANYA BERDASARKAN DARI NASH2 YG MENJELASKAN TTG SIROH NABI DAN HADITS PUASA SENIN KAMIS, SEBALIKNYA TIDAK ADA DIPAPARKAN NASH YG JELAS DARI NABI ATAUPUN PARA SAHABAT JIKA MEREKA TELAH DULUAN MELAKUKAN ACARA PERAYAAN MAULID NABI TSB… Lihat Selengkapnya.

    SEHINGGA HUJJAH2 YG DIGUNAKAN UTK MEMBOLEHKAN PERAYAAN MAULID NABI TIDAK BISA DIPERTANGGUNG JAWABKAN SECARA ILMIAH APAKAH NASH2 TSB BISA DIGUNAKAN UTK MELEGALKAN PERAYAAN MAULID NABI.

    Sikap Ahlus Sunnah dalam Menyikapi Perayaan Maulid Nabi

    1. Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy Syuqairiy membawakan pasal “Di bulan Rabi’ul Awwal dan Bid’ah Maulid”. Dalam pasal tersebut, beliau rahimahullah mengatakan, “Bulan Rabi’ul Awwal ini tidaklah dikhusukan dengan shalat, dzikr, ‘ibadah, nafkah atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang di dalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘ied sebagaimana digariskan oleh syari’at. … Bulan ini memang adalah hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran beliau sekaligus juga kematiannya [?] Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah yang mungkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.
    Jika dalam maulid terdapat kebaikan, lalu mengapa perayaan ini dilalaikan oleh Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, ‘Ali, dan sahabat lainnya, juga tabi’in dan yang mengikuti mereka [?] Tidak disangsikan lagi, perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang yang serakah pada makanan, orang yang gemar menyiakan waktu dengan permainan sia-sia dan pengagung bid’ah…”

    Lalu beliau melanjutkan dengan perkataan yang menghujam, “Lantas faedah apa yang bisa diperoleh, pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan [?]” (As Sunan wal Mubtada’at Al Muta’alliqoh Bil Adzkari wash Sholawat, 138-139.

    2. Seorang ulama Malikiyah, Syaikh Tajuddin ‘Umar bin ‘Ali –yang lebih terkenal dengan Al Fakihaniy- mengatakan bahwa maulid adalah bid… Lihat Selengkapnya’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Beliau memiliki kitab tersendiri yang beliau namakan “Al Mawrid fil Kalam ‘ala ‘Amalil Mawlid (Pernyataan mengenai amalan Maulid)”.

    Beliau rahimahullah mengatakan, “Aku tidak mengetahui bahwa maulid memiliki dasar dari Al Kitab dan As Sunnah sama sekali. Tidak ada juga dari satu pun ulama yang dijadikan qudwah (teladan) dalam agama menunjukkan bahwa maulid berasal dari pendapat para ulama terdahulu. Bahkan maulid adalah suatu bid’ah yang diada-adakan, yang sangat digemari oleh orang yang senang menghabiskan waktu dengan sia-sia, sangat pula disenangi oleh orang serakah pada makanan. Kalau mau dikatakan maulid masuk di mana dari lima hukum taklifi (yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram), maka yang tepat perayaan maulid bukanlah suatu yang wajib secara ijma’ (kesepakatan para ulama) atau pula bukan sesuatu yang dianjurkan (sunnah). Karena yang namanya sesuatu yang dianjurkan (sunnah) tidak dicela orang yang meninggalkannya. Sedangkan maulid tidaklah dirayakan oleh sahabat, tabi’in dan ulama sepanjang pengetahuan kami. Inilah jawabanku terhadap hal ini. Dan tidak bisa dikatakan merayakan maulid itu mubah karena yang namanya bid’ah dalam agama –berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin- tidak bisa disebut mubah. Jadi, maulid hanya bisa kita katakan terlarang atau haram.” (Al Hawiy Lilfatawa lis Suyuthi, 1/183.

  • pecinta Muhammad S.A.W said:

    @ mas titi..eh mas toto…

    belajar lebih dalam lagi….dan belajar dengan guru yg bner….

    wallahu a’lam,
    wassalam

  • riariani said:

    @ didi&toto
    Kamu ini tambah koclok aja!

    Kamu bisa baca apa ngga’? POSTING DI ATAS!!

    KOCLOK KAMU!!
    Utsamain lahir tahun berapa?

    MATINYA utsamain Tahun 2001M, ABAD 21
    JAUU…H..dari salaf KOCLOX KAMU!!
    Gitu koq ngaku SALAF..

  • riariani said:

    @ didi&toto
    KENAPA KAMU BEGITU KOCLOX!!
    Sampean tidak mau baca posting di atas!!

    BACA ALBANI MUHADIST TANPA SANAD.
    Dia bukan ulama’ SALAF,
    Satu lagi orang kena tipu sama al bani the gank.

  • nana said:

    jadi pgen komen juga nie liat komen2nya para “anti_maulider”

    #ttg bid’ah
    Imam Syafi’i yang semua orang percaya akan kredibilitasnya sbg seorang imam yg hanif berpendapat bahwa: bid’ah ada 2.. bid’ah mahmudah dan mazhmumah.
    al Bani, yg klo org2 wahabi mau fair dan berlapang dada bahwa beliaunya ini bukan ahli hadist (luas ilmu tidak berarti ilmunya benar dan memiliki sanad yang jelas), bahkan byk dari fatwa2nya yg gak karuan dan kontroversial, berpendapat bahwa : bid’ah smua mazmumah.

    ni bukan hanya berdasar pada curriculum vitae yang bisa dikarang, tapi kredibilitas yang dinilai langsung oleh semua muslim yang berpikiran lurus dan hati jernih. SAYA MAH PILIH IMAM SYAFI’I AJAH…

    # ttg pendapat ulama dan dalil2nya
    sbenernya sie udah dicangkup d atas. tp sedikit tambahan.. kaum wahabi selalu menyodorkan argumen dari ‘ulama2 lokal’ wahabi sendiri. udah gitu, beliau2 ini kan gak diakui sevagai ahli hadist, pemahaman yang tidak berdasar pada ilmu yg benar, sanadnya gak jelas lg. kok masih dg bangga menjadikan mereka imam?? inget lho mas2 n mbak2 wahabi, cari ilmu jgn dr 1 sumber itu thok. klo berani, liat juga dalil2 mazdhab2 lain.. lalu bandingkan dengan bijak. (sbnernya ini yg bkin males klo liat sanggahan wahabi.. cuma copy paste itu2 thok, bahasa mbulet..ngeyel lagi)

    klo maulid itu bid’ah… AYOK BID’AH YOK…

  • aisyah maulana said:

    sungguh aneh ….kq bisa2 nya maulid di bilang bentuk kesyirikan….belajar lagi deh saudaraq… salut to CN. I’m an admirer of you in Banjarmasin

  • dayak said:

    dayak biasanya mengadakan maulid di dlm hutan,eh….disini ada juga yg mengingkari tradisi dayak,terpaksa deh dayak keluar hutan …

    @ to to , didi n all wahabi :
    Saya sangat setuju dg pendapat anda “ saya hanya ingin menasihatkan bahwa menyandarkan pemahaman kita sendiri terhadap nash – nash Kitab dan Sunnah ini pasti tidak akan luput dari kesalahan dan kemugkinan besar menggiring kepada kesesatan “
    Tapi saya mau tanya bagaimana pendapat anda jika yang berpendapat adalah ulama sekaliber imam ibnu taimiyah dan imam ibnu hajar al-asqolani ???????
    Ini saya paparkan pendapat2 mereka :
    1.IMAM IBNU TAIMIYAH : iqtidho’ sirotil mustaqim hal 266
    “وكذلك ما يحدثه بعض الناس ، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام ، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم ، وتعظيمًا . والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد……. فإن هذا لم يفعله السلف ، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه.
    Ini baru pendapat yg tidak fanatik dan berbicara dg mengharap ridho allah n rosulnya,adapun mereka yg merayakan maulid nabi tak lain mengikuti pendapat imam yg alim ini yaitu krn cinta dan ta’dhim kpd nya s.a.w.dan beliau juga mendo’akan : والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد
    2.IMAM AL-ASQOLANI :
    Beliau ditanya bagaimana pandangan nya dg perayaan maulid nabi ?
    “ Amal maulid adlh bid’ah yg tdk pernah dilakukan salafus soleh di 3 kurun pertama.akan tetapi amal tersebut mengandung kebaikan dan kejelekan, dan barang siapa menjauhi kejelekan dan mengambil yg baik dr amal tsb,maka itu termasuk bid’ah hasanah.dan tlah tampak bagiku dalil maulid ini dari hadist yg diriwayatkan oleh imam bukhori dan imam muslim tentang kedatangan nabi ke kota madinah dan mendapatkan orang2 yahudi berpuasa dikala itu.dr hadist ini bisa diambil faedah yaitu menunjukkan rasa syukur kpd allah atas apa yg tlah di anugerahkan di hari tertentu dari pada nikmat yg diberikan kpd hambanya dan dijauhkankannya dari bencana.
    Lantas adakah nikmat yg paling besar di dunia ini yg melebihi wujudnya rosululloh s.a.w di munculkan kedunia di hari tsb ???
    Adapun pelaksanaan ritualnya sebaiknya tdak lebih dari ungkapan syukur kpd allah dg membaca ayat2 al-qur’an,sejarah nabi,memberikan jamuan,melantunkan pujian2 yg bisa menggerakkan hati utk lbh giat berbuat baik n beramal utk akhiratnya. Sudah pasti mereka yg ingkar dg maulid pasti akan mengatakan istinbath ini bathil.tinggal kita bandingkan aja siapa yg mengingkari dan siapa yg di ingkari !!!
    Adalagi yg mengatakan bahwa maulid itu g prnah dilakukan oleh nabi n para sahabat2nya. Yg berkata demikian ini Berarti g tau usul fiqh,krn meninggalkan sesuatu tanpa didasari oleh nash atas keharoman yg ditinggalkan maka tidak bisa dijadikan nash atau langsung memvonis harom.tapi faedahnya meninggalkan perbuatan tadi masyru’. Dan jika perbuatan yg ditinggalkan tadi bisa menyebabkan keharoman maka itu bukanlah faedah dari sesuatu yg ditinggalkan oleh nabi.kecuali jika ada dalil yg memperkuat atas keharomannya.ketika tidak ada dalil atas keharomannya maka jatuhlah pengingkaran spt ini.
    Kadang2 mereka yg ingkar mengatakan bahwasannya amal maulid bkn lah dalil kecintaan seseorang kpd nabi ?
    Ini sangat benar,krn kita gak pernah mengatakan sama sekali bahwa org yg melakukan perayaan maulid adlh org yg cinta dan yg tidak melakukan berarti g cinta.namun perayaan maulid itu sendiri adlh bentuk ungkapan cinta kpd nabi s.a.w.
    Dan sangat setuju klo maulid itu harom jika disitu ada kemungkaran spt kumpulnya laki-perempuan tnp penghalang atau ada alat2 musik yg diharamkan dsb.maklum g smua kaum muslimin org alim,namun anda harus fair dan tidak memukul rata krn ada yg berbuat spt ini lantas anda haramkan semuanya,seharusnya anda katakan disebagian daerah saja yg melakukan ini. Krn klo kita pukul rata akhirnya kita yg salah akibat su’udzon kita,contohnya ketika ada orang melaksanakan towaf hp nya dicuri,apa blh dia memukul rata bahwa smua yg ada di dalam masjidil harom adlh pencuri !!!! jadi yg fair .
    Klo anda ingin tau acara maulid yg sebenarnya datang saja malam jum’at jam 01.30 di masjid jamik pasuruan,yg hadir diatas 10 rb.

  • cah njeporo said:

    @ didi , assamar toto dn yg laix : ana mahu tnya sm kalian tntng hdist yg klian sbutkan…………tolong dijawab !!!

    “Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka dia itu tertolak.” [Hadits Riwayat Al-Bukhari 5/301 no. 2697, Muslim 12/61 dan lafadz ini milik Muslim]

    lho…lho…Kenapa kalian mengatakan dlm lafadz في أمرنا kalian mengartikan dengan kata-kata (agama) kami ini, padahal di dalam hadist trsb tdk ada kata-kata “ في ديننا ” (agama).
    Dari mana kamu mengartikan في أمرنا dengan dengan lafadz في ديننا ?? kok klian memagari dg lfdz (agama)??????

    Jangan mengada-ada lhooo… ini hadist nabi, bisa-bisa kalian masuk dlm prkataanya nabi saw “ من كذب عليّ فليتبوّأ مقعده من النار barg siapa yg berbohong kpdku mk bersiap-siaplah msuk neraka. Hati-hati kalian dlm mgartikan hadist.
    ana kira kalianlah yg memaksakan nash dlm memahami suatu hadist….

    Oky…… Jika memang itu dlam masalah “Barangsiapa mengada-ada (sesuatu) dalam urusan (agama) kami ini, kamu artikan dg “agama”.
    berarti “mengada-ada (sesuatu) dalam urusan yg bukan dari agama boleh ???? judi lewat sms, rolet, ludruk, dan ma’siat2 yg tdk ada d zamanya nabi boleh ??? apa ini g lbh parah ???

    Apakah nabi hanya mengurusi dlm msalah agama saja ???? tdk mengurusi yg lainya ??? kok sempit banget urusan nabi ????

    =====================
    Dan hal semacam ini belum pernah dilakukan oleh ulama salaf (terdahulu). Jika sekiranya hal tersebut memang merupakan kebaikan yang murni atau merupakan pendapat yang kuat, tentu mereka itu lebih berhak (pasti) melakukannya dari pada kita, sebab mereka itu lebih cinta dan lebih hormat pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pada kita. Mereka itu lebih giat terhadap perbuatan baik.

    Apakah kamu hidup dizamanya ulama salaf ??? kok kalian tahu mereka tidak pernah melakukan maulid ??? peganganan kalian adlh Ibnu Taimiyah, apa tidk ada ulama’ lain ta yg bisa dipertanggung jawabkan keafsohanya, spt imam-imam muhadisin diatas ???

  • elfasi said:

    @ assamar, didi, tomingse dan antek2 wahhabi, anda ini sebenarnya sudah setuju adanya syi’ar untuk memeriahkan maulid Nabi SAW, terbukti dengan pernyataan anda di atas, “ dan bukan berarti kami tidak maulid lalu kami malas ibadah ! tapi bagi kami, alangkah lebih baik bila ibadah/atau dalam rangka syiar Islam kita mengadakan kajian2/taklim yang membahas Alqur’an dan hadist2 shahih, bukan dengan perayaan2 seperti itu !!!
    Namun anda alergi dengan istilah mauled, gimana kalo kita istilahkan dengan pembacaan Siroh (sejarah Nabi) ? setuju kan ????.
    Dan bukankah kajian2/taklim juga tidak pernah dicontohkan Nabi dalam memperingati hari kelahiran beliau ??
    Fatwa Muhammad bin Sholeh Utsaimin yang anda usung, sungguh satu fatwa yang tidak didasari dalil yang nyata sama sekali, yang ada hanya tuduhan semata dan tidak mencantumkan sama sekali dalil yang mengharamkan peringatan maulid Nabi SAW. Apakah mungkin ada menghukumi haram tanpa dalil ? Apalagi dengan pernyatannya “Kemudian kami juga pernah mendengar”, bagaimana bisa menghukumi sesuatu tanpa mengetahui secara pasti, bukankah Rasulullah SAW telah bersabda :
    كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ ، رواه مسلم
    “ cukuplah seseorang dikatakan pendusta, mengatakan segala yang ia dengar”
    Fatwa Utsaimin di atas ibarat pemain sepak bola, seharusnya berebut bola dan menggiringnya untuk dapat memasukkannya ke gawang lawan. Namun ia menyapu kaki pemain lawan untuk mendapatkan bola. Cobalah anda baca istimbat Ibn Hajar, As-Suyuthi, an-Nawawi dan lain-lain, maka tampak sekali perbedaan dia antara mereka.
    Kemudian anda menuduh bahwa kami taqlid buta, maka kami jawab : Benar sekali, kami orang2 yang belum mengerti akan taqlid kepada orang2 yang tau dan mengerti akan al-Qur’an dan hadits. Ibarat orang buta yang dituntun oleh orang yang melihat dan mengerti jalan, tapi anda adalah orang yang tidak mengerti yang menolak bertaqlid kepada orang yang mengerti bagaikan orang yang buta yang menolak dituntun leh orang yang melihat dan mengerti jalan bahkan lebih percaya dengan orang yang sama2 butanya.

  • muhammadon said:

    @ tomingse n pembela wahhabi, komentar anda kok sama ya… apa karena sama2 hasil copypaste aja ?? apa emang ustad2 nt adalah copypaste ?
    Tolong tanyakan pada ustad2 nt, gimana hukum perayaan yang diadakan oleh Raja Saudi, raja dari guru2 anda Utsaimin, Ibn Baz dan lain2 untuk menyambut kedatangan musuh Allah, orang kafir yang telah banyak mencucurkan darah kaum muslimin, menjadikan anak2 kecil mereka yatim, istri2 mereka janda, meluluhlantahkan rumah kaum muslimin di Iraq dan Afghanistan, dan pembela Israel yang menghina dan membantai muslimin di Palestina, kenapa mereka diam seribu bahasa ? masihkan anda menuduh kami pengikut hawa nafsu ? dan masihkah mereka anda anggap pembela sunnah ? atau mungkin karena Bush juga termasuk rujukan fatwa anda ??
    Adakah orang membaca siroh Nabi dikatakan bid’ah, sedangkan menyelenggarakan perayaan untuk menyambut pembunuh muslimin dengan suka ria bukan bid’ah ? adakah fatwa2 dari Utsaimin dan Ibn Baz yang menyatakannya sebagai bid’ah ?
    Lihatlah videonya, klik disini .

  • riariani said:

    Senior2 kalian sudah banyak yang tobat dari salafi wahabi,karena ada sesuatu yang ANEH kalau semakin di perhatkan.
    Alkhamdulillah teman2ku juga sudah kembali ke mazhab 4.
    Kata mereka” ITU HANYA SENSASI WAHABI”.
    Mana ada ajaran yang menghalalkan DARAH saudara yang SEIMAN&SEISLAM. SELAIN.. W…..S….??

  • Acan said:

    Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Hujurat:1)

    Datang seorang wanita kepada Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : ‘Aku diberi kabar bahwa engkau melarang wanita menyambung rambut ?’ Abdullah bin Mas’ud berkata : “Benar” Wanita tersebut berkata : ‘Apakah larangan itu ada dalam Al Qur’an atau engkau mendengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.? Abdullah bin Mas…’ud Radhiyallahu ‘anhu menjawab :’Aku mendapatkan larangan itu dalam Kitabullah dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam’!. Wanita tersebut berkata lagi :’Demi Allah, aku telah membaca mushaf Al-Qur’an dari awal hingga akhir, tetapi aku tidak mendapatkan larangan itu’. Ibnu Mas’ud berkata :’Bukankah ada di dalamnya ayat :

    ” … Apa-apa yang datang dari Rasul, kamu ambil dan apa-apa yang dilarang kamu tinggalkan …” [Al-Hasyr : 7]

    Wanita itu menjawab : Ya” . Selanjutnya Ibnu Mas’ud berkata : ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (dalam lafazh lain melaknat) mencabut bulu dahi, mengikir gigi, menyambung rambut dan mencacah kecuali sakit”. [Hadits Shahih riwayat Al-Bukhari (no. 4886), Muslim (no. 2125 (120)), Ahmad (no. 3945) tahqiq Ahmad Syakir, Abu Dawud (no. 4169), Ibnu Baththah fil Ibanah (I/236 no. 68) dan Al-Ajurry fisy Syari'ah (I/420. 422 no. 103-104), ini adalah lafazh Ahmad].

  • dayak said:

    lg kemana ni teman2 kita yg ingkar maulid ?????

  • siti sofiah nurhimah said:

    Saya hanya bisa membaca melirihkan ‘Astagfirullohal Adhim’ ketika membaca komentar pro-kontra Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya hanya ibu rumah tangga biasa, tidak mengerti ilmu hadist dsb…tapi aduhai saudara2ku pantaskah jika sesama saudara seiman, sesama satu Tuhan Allah Subhana wa Ta’ala, saling menuduh terhadap saudaranya sebagai ‘musyrik’, yang saya tahu, jika itu tdk terbukti maka tuduhan itu kembali pada dirinya…

    Saudara2ku yang membenci Maulid Nabi, pernahkan anda membaca sholawat kepada nabi Muhammad Sholaluhu ‘alaihi wa Salam jungjunan kita, sambil membayangkan betapa cintanya Beliau kepada kita ummatnya hingga tatkala ajal menjelang, hanya umatnya yang ada dalam fikirannya, pernahkah kau sampai teteskan air mata sambil mengirim sholawat serta salam untuknya? Lalu betapa kita terlena dengan kehidupan dunia, melupakannya. Apa yang akan terjadi jika setahun kemudian, atau lima tahun kemudian, sepuluh tahun kemudian, dua puluh tahun kemudian…anak2 kita tidak ada yang mengingat Rasul tercinta kita?. Rasa2nya saat ini tidak ada koq yang memperingati Maulid Nabi sambil menghias telur? dimanakah itu? klo pun ada tugas kalian kaum muda yang meluruskannya. Wallohu A’lam bi Showab. Betapa kaum kafir akan tersenyum senang melihat kalian perang urat saraf dan saling memaki sesama muslim

  • Didi said:

    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman>>>>
    “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… ” [Al-Baqarah : 185]

    jadi Berislam itu mudah. Kita hanya dituntut untuk menjalankan yang sudah ada, yg diperintahkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallhu’alaihi wasallam. Dan tidak perlu repot2 dan pusing2 membuat yang baru-baru. coba kita renungkam, jika kita mau berpikir sederhana, mengapa kita menyibukkan diri melegalkan atau terlibat perkara-perkara yang baru dalam agama, yang banyak pertentangannya, harus berdebat sana-sini? Bukankah lebih enak dan lebih mudah kita menyibukkan diri pada yang jelas-jelas saja. Yang jelas bolehnya, yang jelas sudah diperintahkan dan dicontohkan ataupun amalan ibadah disetujui atau dilarang oleh Nabi dan para sahabatnya. Sehingga hati kita pun tidak was-was mengerjakannya.
    Renungkan perkataan sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu: “Ikutilah sunnah Rasulullah dan jangan membuat perkara baru, sesungguhnya kalian sudah tercukupi”. dan renungkan juga bahwa perkara dalam agama ini yang perintahkan dan dicontohkan oleh Nabi sudah banyak sekali. Sampai-sampai ana tidak yakin ada orang dizaman ini yang bisa mengerjakan seluruhnya. Setiap detik kita dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan pada saat tidur sudah banyak perkara sunnah yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Cukuplah kita menyibukkan diri dengan itu semua. Ana yakin dengan itu saja kita sudah sangat sibuk. Lalu mengapa ada sebagian kita yang masih mencari-cari dan membuat-buat yang baru?? Wallahul musta’an.

  • Ummati said:

    @riariani
    Hiii…! Serem ya ajaran wahabi itu? Seandainya mereka punya peluang seperti muslimin mayoritas sekarang ini, pastilah sudah terjadi ritual pembantaian itu kali…? Alhamdullillah mereka masih kecil peluangnya, dan semoga semakin mengecil dengan adanya blog-blog pembongkar kedustaan n kepalsuan ajaran wahabi. Amin….

  • cah njeporo said:

    @ didi : anda menulis :
    “jadi Berislam itu mudah. Kita hanya dituntut untuk menjalankan yang sudah ada, yg diperintahkan dan dicontohkan oleh Nabi shallallhu’alaihi wasallam. Dan tidak perlu repot2 dan pusing2 membuat yang baru-baru. coba kita renungkam,”

    mana ada hadist yg mengajarkan kpd kita tentang “amalan itu harus yang dicontohkan oleh nabi” ????? tdk ada hadist yg menyatakan tsb. apa ada hadist yg spt ini,
    من عمل عملا لم يتمثل عن النبي فهو ردّ “barang siapa yg beramal dengan AMALAN YG TDK DICONTOHKAN NABI maka itu tertolak”….??

    kalian kok berani-beraninya melarang, padahal nabi tdk pernah melarang !!!! gini bilangx dari nabi ???? nte yg harus pkir baik-baik !!!
    lihat itu imam ibnu taimiyah, beliau aja memperbolehkan maulid, bahkan dia mengakui bahwa orang yg melaksanakan maulid akan mendapat pahala yg ditinjau dari segi mengagungkan Rasulullah saw, ijtihad serta mahabbahnya……. tpi pengikutnya spt kalian ini kok g ngikuti imamnya ?? terus nigikuti siapa ???? dari mana bisa mnghukumi haram, syrik, dholalah ???? apa dri alqur’an&hadist, mana yg melarang mauilid ?

    kalau memang sbgian ada yg maulid disitu campur baur antra laki permpuan yg bkan mahromnya……….anda jgan mmukul rata. Itupun yg diharamkan adlh dari segi ikhtilatnya bukan maulidnya (pembacaan sirohnya).
    Enaknya jgn kata2 maulid dech……d gnti aja dg kata2 kajian2 islam aja. Stuju kan, Apa yg d trgkn elfasi ?????? yg penting maqsud & tujuanya sama.

  • alfa reyhan said:

    mas2 dan mbak2
    kalau wahhaby minta dalil itu maunya yang seperti ini………..
    “AL MAULIDU HUKMUHU SUNNAH”
    “KANA AS SHAHABAH JA ALU MAULIDAN LIN NABIYYI”
    Kalo hadits atau ayat yang kita ajukan masih memerlukan penalaran sampe mulut kita jontorpun, mereka tidak akan menerima,sebab mereka tidak mau memberdayakan anugrah Allah kepada mereka yang berupa OTAK,Kalau mereka mau berpikir sedikit aja pasti mereka akan cepat paham….
    padahal kalo mau jujur suruh mereka nyari dalil semisal
    “AL KULTUMU SUNNAH”
    “ALAYKUM BITAHJJUDI JAMAATAN”
    jangankan murid2 nya apalagi muqallid2nya SYEKH AL BANI pun seandainya dibangkitkan dari kubur gak bakalan bisa menemukan hadits ra’sye seperti ini……..

  • wafiquddinilhaqqi said:

    Emosi kaum wahabi sangat terganggu oleh ta’dhim (pengagungan)yang ditujukan kepada para wali bahkan kepada Al Musthofa Muhammad SAW, pelestarian kenang-kenangan kepada mereka, serta penyelenggaraan peringatan hari-hari lahir atau wafat mereka. Kaum Wahabi menganggap bahwa pertemuan-pertemuan umum (Majalis)yang diselenggarakan pada peristiwa-peristiwa itu adalah perbuatan kemusyrikan dan kesesatan. Sungguh orang-orang ini tidak menetapkan batas pemisah antara Tauhid dan Syirik serta definisi ibadah pada khususnya, karena itu dengan mudahnya mereka mencap setiap perbuatan sebagai syirik sedemikian rupa, sehingga membayangkan bahwa setiap jenis pengagungan adalah ibadah dan syirik, padahal Al Qur’an dengan jelas mengagungkan sekelompok Nabi dan Wali dengan kalimat-kalimat yang jelas dan terang, seperti misalnya dalam firman Allah Swt tentang Zakaria dan Yahya ‘alaihimas salam: “sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan mereka berdo’a kepada kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami,” (QS 21:90).
    Maka seandainya seseorang menyelenggarakan suatu majlis disamping makam (dimanapun)orang-orang yang disebutkan nama-nama mereka dalam ayat ini, lalu ia membaca ayat tersebut yang memuji mereka semata-mata demi mengagungkan pribadi-pribadi mereka, adakah ia telah mengikuti sesuatu selain Al Qur’an?

    Demikian pula, Allah Swt telah berfirman berkenaan dengan Ahlul Bait (Keluarga Nabi Saw); ” dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS 76:8). Maka sekiranya ada sekelompok orang berkumpul pada hari lahir Ali bin Abi Tholib sebagai salah seorang anggota Ahlul Bait tersebut,lalu mereka menyebut bahwa Ali adalah seorang yang dermawan, apakah mereka dapat dianggap sebagai musyrikin? Atau adakah seseorang dapat dianggap musyrik sekiranya ia membaca ayat-ayat yang memuji pribadi Rasulullah Saw dalam suatu majlis yang diselenggarakan bertepatan dengan hari maulid beliau, seperti misalnya firman Allah Swt ;
    ” dan sesungguhnya engkau adalah berbudi pekerti agung.” (QS 68;4)
    ” Hai Nabi, sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.” (QS 33: 45,46)
    “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS 9; 128)
    ” Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS 33 ;56).

    Nah seandainya seseorang membaca ayat-ayat yang memuji Nabi Saw seperti itu, atau membaca terjemahannya dalam bahasa lain, atau menuangkan pujian-pujian Ilahi itu dalam bentuk bait-bait syair yang dibacanya dalam majlis pertemuan umum (Maulid, Khoul dll), apakah dengan itu ia dapat dianggap musyrik?

    Tak adanya peringatan-peringatan ini dimasa Rasulullah Saw tidaklah dapat dijadikan dalil bahwa hal itu adalah perbuatan syirik. Paling banter hanya dapat disebut bid’ah (dan itupun yang hasanah). Bahkan hal itu tidak dapat dianggap bid’ah, sebab, seandainya seseorang mengaitkan majlis-majlis tersebut dengan syariat yang suci, dengan mendakwakan bahwa Allah Swt telah memerintahkan majlis-majlis seperti itu.

    Banyak ayat Al Qur’an menunjukkan dibolehkannya penyelenggaraan majlis-majlis seperti itu Sbb;

    a. Penyelenggaraan Maulid Nabi Saw sebagai Pemuliaan terhadap Diri Beliau
    Silakan Anda perhatikan betapa Al Qur’an memuji orang-orang yang telah memuliakan serta mengagungkan Nabi Saw. ” maka orang-orang yang beriman kepadanya (yakni kepada Muhammad Saw) memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya. Meraka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 7 ;157)
    Sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini, dan yang telah mengakibatkan adanya pujian dari Allah Swt, ialah:
    1. Beriman kepada Nabi ini
    2. Memuliakannya
    3. Menolongnya dan membelanya
    4. Mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya
    Adakah seseorang mengira bahwa ketiga kalimat diatas:”beriman kepadanya”, “memuliakannya” dan “membelahnya” hanya berlaku khusus pada masa hidup Nabi Saw saja??? Jawabannya tentu TIDAK. Ayat tersebut tidak bermaksud menyebutkan orang-orang yang hadir di masa beliau secara khusus. Jadi, dapatlah dipastikan bahwa MEMULIAKANNYA tidaklah terbatas pada masa hidup beliau. Tambahan lagi, Seorang pemimpin besar harus menjadi tokoh yang dimuliakan dan dihormati sepanjang masa dan pada setiap generasi.

    Maka bukankah penyelenggaraan majlis-majlis untuk memperingati hari kelahiran Nabi Saw yang diisi dengan ceramah-ceramah, pembacaan syair-syair dan pujian-pujian, semua itu merupakan perwujudan firman Allah “…..memuliakannya……” dan seterusnya?! Sungguh Aneh bin Ajaib betapa kaum Wahabi(salafi palsu) menganggap itu semua sebagai perbuatan yang syirik.

    dan mengenai kisah Ya’qub As. apa yang dapat mereka katakan tentangnya ketika ia terus menerus dalam penyesalan dan kesedian sepanjang siang dan malam, menangis dan menangis karena kehilangan putra yang sangat dicintainya, yakni Yusuf As. dan senantiasa bertanya kepada setiap orang yang dijumpainya tentang puteranya yang hilang sehingga kedua matanya menjadi buta, ” dan kedua matanya menjadi putih (buta) karena kesedihan.” (QS 12 ; 84)
    Mengapa penonjolan perasaan-perasaan emosional seperti ini diperbolehkan oleh Allah Swt???. Sementara Ya’qub As diperbolehkan menonjolkan perasaan emosionalnya oleh Allah Swt lalu mengapa kita tidak boleh menonjolkan perasaan emosional kita, ketika kita menyambut kelahiran Nabi kita dengan mengadakan majlis-majlis yang baik!!!, bukankah itu dianggap meneladan Ya’qub As?
    Jika kita dituduh meneladan orang-orang kafir dalam hal maulid, secara tidak langsung mereka menuduh Ya’qub As sebagai orang kafir, karena di dalam majlis maulid adalah tempat dimana kita bisa meluapkan perasaan emosional kita akan kelahiran Al Musthofa Saw, sama ketika Ya’qub menonjolkan perasaan emosionalnya ketika kehilangan puteranya.
    (bersambung, maaf mau “nguli” cari nafka) Insya’Allah

    Maka adakah sesuatu setelah kebenaran kecuali kesesatan?

  • iwanff said:

    @kuda, toto/didi, dkk
    Aku nanya ya. Yang paling susah dilakukan oleh kita apa? jawabnya: Mendengar.

    Mas-mas ini asal mendengar omongan orang aja (kalau di web jadinya membaca perkataan orang aja), mas-mas akan bisa menilai.

    Maulid yang kita konsep dan definisikan apakah sudah sampai ke mas-mas belum?. Sejenak aja kita kosongin gelas hati ini agar kalau ada ilmu yang mau masuk, bisa kita nilai. Agar tidak tumpah, tolong ajaran-ajaran maulid yang mas-mas dapat dari dulu tolong disimpan dulu dan antum kosongin gelas hati antum.

    Kita diajarin Nabi SAW untuk tabayyun bukan dengan gelas yang udah penuh mas, nanti kita jadi tidak bisa menilai.

    Jazakumullahu Khairon Katsir.

  • fulan said:

    @didi: iya ana setuju sholat tahajjud berjama’ah itu tidak perlu, kultum ba’da subuh tidak perlu, apalagi memperingati maulud muhammad abdul wahab seperti yang dilakukan wahabi di saudi lihat disini
    http://takaza.blogspot.com/2009/04/bidah-saudy-perayaan-maulid-muhammad.html

  • aladin said:

    hai kawan2 aswaja,kita gak usah disibukkan dg aksi2 wahabi deh.yg ingkar itu kelasnya siapa dan yg di ingkari kelasnya siapa ?

  • Assamar said:

    satu lagi yang terlupakan :

    Bagi semua para pecinta maulid
    apabila anda masih berkata kami sudah kebal dengan perkataan atau hujjah yang diberikan oleh para anti maulid, maka bersiaplah terus menerus mendapatkan cambukan dari bid’ah anda sendiri.

    Sampai kapanpun para ulama beserta pengikut pengibar sunnah dan pemberantas bid’ah diatas pemahaman Salafus Sholeh akan terus memperingatkan anda sekalian terhadap bahayanya bid’ah karena sesungguhnya bid’ah adalah yang membuat umat Islam terpecah belah, dan sebaiknya kita mengharapkan ridho dari ALLAH Subhanahu wa ta’ala agar semua amal ibadah selama ini bisa diterima, karena ikhlas semata hanya untuk ALLAH dan sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam….

    bukalah mata anda…
    bukalah pikiran anda…
    dan berpikirlah dengan jernih…
    Islam adalah agama yang mengajarkan kelembutan bagi setiap umat manusia…
    Murnikan Tauhid anda…
    Murnikan Sunnah Rasul…
    Sesungguhnya apabila Tauhid dan Sunnah kita hidupkan
    maka kesyirikan dan kebid’ahan akan musnah dengan sendirinya…

  • fulan said:

    untuk kawan2 ahlussunnah teruskan perjuangan almarhum Prof. Dr. As-sayyid Muhammad bin Alawy al-maliky dalam memerangi wahabi
    @forsan salaf: tolong dong dibahas mengenai sholat tahajjud berjama’ah & kultum seperti yang dilakukan oleh wahabi

  • riariani said:

    samalam seluruh penjuru dunia bergembira menyambut kelahiran kekasih alloh,junjungan kita ,kekasih kita.
    kami bersholawat dan tak terasa air mata menetes krena krinduan kami kepada beliau MUHAMMAD S.A.W.

    salafi tutup telinga kalau dengar dzikr,pergi ke warung cari obat sakit kepala
    salafi puzii…ng..
    salafi tambah mumet..
    salafi dongkol..
    kalau ada yang mecintai rosululloh

    hi..hi..hi..tambah sewot

  • puyeng said:

    puyeng deh. ana puyeng (yg ilmunya kurang puyeng pilih yg mana)

  • anti wahabi said:

    kpd para wahabi uaga jelas salah jangan ngeyel tau dasar krs kpla!!!!!

  • dayak said:

    @assamar ;
    Justru yg membuat terpecah belahnya umat akibat ulah kalian dkk.coba org yg maulid dibiarkan g akan ada perpecahan.klo anda mengatakan sampai kpn pun memerangi bid’ah yg dilakukan orang2 g akan bisa,sebab anda sendiri pelakunya.

  • riariani said:

    doeloe kami GOLONGAN MAYORITAS ASWAJA(NU,MUHAMADIYAH,)HIDUP RUKUN
    NAMUN sEjak orang2 badui(wahabi) datang..kami di anggap sesat,padahal kami masih melafadzkan LAILAHAILALLOH MUHAMMADAROSULULLOH..

    wahai saudaraku(salaf wahabi); biarkan perbedaan itu ada dan akan sesalu tetap ada .sesuai sabda beliau ” perbedaan di antara umatku adalah rahmat alloh”

    semoga kita menjadi hamba alloh yang beruntung FIDDUNYA WAL AKHIRAH..

    tiada lagi sesat menyesatkan,hujat menghujat, INGAT kita sudah di tinggal beliu 14 abad lamanya,jauh dari masa kenabian.
    sabda beliu ” ummati…ummati..ummati..ummati..ummati..”

  • wafiquddinilhaqqi said:

    b. Menyelenggarakan Maulid sama dengan Memuliakan sebutan (Nama) Nabi Saw.

    Al Qur’an secara gamblang menjelaskan bahwa Allah Swt. telah melimpahkan karuniaNya atas diri RasulNya dengan melapangkan dadanya, menghilangkan beban yang memberatinya serta memuliakan sebutannya,

    ” Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu, dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?” (QS 94 : 1 – 4)

    Dengan demikian Allah Swt. telah meninggikan namanya dan memuliakannya sehingga menjadi terkenal dan terhormat di seluruh alam semesta. maka peringatan-peringatan seperti ini, yang bertujuan mengabadikan kenangan terhadap beliau, tidak lebih daripada memuliakan nama Rasulullah saw. serta demi menarik perhatian semua orang kepada maqom dan kedudukannya yang tinggi.

    Nah, jika Al Qur’an adalah teladan kita, mengapa kita tidak mengikutinya dengan memuliakan serta meninggikan sebutan tentang Nabi Saw.?

    c. Turunnya Hidangan dari langit dan menjadikannya sebagai saat berhari raya

    Nabi Isa As. pernah memohon dari Allah Swt. agar menurunkan hidangan untuknya, sebagaimana yang dicerikan Al Qur’an berikut;

    “Isa putra Maryam berdoa ‘Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami dan menjadi tanda bagi Kekuasaan Engkau. berilah kami rizki. Engkaulah pemberi rizki yang paling utama’.” (QS 5 : 114)

    jelaslah bahwa Isa As. telah menjadikan saat turunnya hidangan dari langit dan berkah Ilahi sebagai hari raya. Hal ini disebabkan Allah swt. telah memuliakannya dan memuliakan murid-muridnya dengan hidangan tersebut. oleh sebab itu, jika hidangan dari langit itu adalah penyebab bagi dijadikannya hari turunnya sebagai hari raya, mengapa gerangan kita kaum Muslimin tidak dibolehkan menjadikan hari kelahiran Nabi Saw. yang tentunya merupakan hari penuh berkah yang dapat disebut sebagai “hari turunnya hidangan spiritual”, sebagai hari yang mulia/”peringatan” (yang wajib kita peringati setiap tahun)??? Dapatkah seseorang mendakwakan bahwa kelahiran Nabi saw. dan kedatangannya dengan membawa syariat agung dan abadi ini lebih kecil nilai berkahnya daripada hidangan makanan yang diturunkan untuk Isa As. serta murid-muridnya???

    Untuk Saudara-saudaraku ASWAJA janganlah engkau takut merayakan Maulid dan Muliakanlah Nabimu sepuas hatimu karena Al Qur’an juga merayakan dan Memuliakan Beliau Saw.

    Untuk Saudara-saudara “tiriku” tidak cukupkah Al Qur’an menjadi teladanmu??? Betapa Al Qur’an telah Meninggikan dan Memuliakan Beliau Saw.

  • Assamar said:

    @ all (pecinta maulid)

    Kami dari pecinta Rasullullah yang senantiasa menghidupkan sunnah2 beliau shallallahu alaihi wa sallam selalu memperingatkan anda sekalian tentang bahaya nya bid’ah dan ahlul bid’ah tapi anda selalu saja menanggapi dan melancarkan dengan tuduhan yang jelek kepada kami, karena mungkin dada kalian telah sesak tatkala kejelekan dan kebobrokan kalian telah kami bantah secara ilmiah dan dalil yang shahih sehingga apapun yang kami tulis dan kemukakan tidak akan masuk ke dalam sanubari kalian.

    dan akhirnya pertanyaan pun terus menghantui :

    - Beginikah cara kita mengikuti suatu perkara yang disandarkan dalam agama dan kita menyakininya bahwa itu adalah kebaikan ???

    jawaban kalian pun tetap dan selalu sama ” lho..itu kan kebaikan ! kita kan ingin memuji Rasullullah, dan ini tidak bertentangan dengan syariat ! mana dalil larangannya ? ”

    akhirnya semua pada ngeroyok dengan perkataan
    ” KALIAN ADALAH WAHABY ”
    ” KALIAN ADALAH PEMBANTAI KAUM MUSLIMIN ”
    ” KALIAN MENGHALALKAN DARAH SESAMA MUSLIM DARIPADA DARAHNYA KAUM KAFIR ”
    atau ada juga yang berseloroh :
    ” KALIAN MEMBUAT MAZHAB YANG KE LIMA DALAM AGAMA INI, KARENA KALIAN TIDAK MENGIKUTI MAZHAB YANG TELAH DISEPAKATI OLEH UMAT MUSLIM DARI DULU ”

    tapi saya sepertinya sudah yakin sekarang kalian ini sudah kehabisan akal atau dalil untuk membantah lagi bahwa apa yang kalian lakukan itu sebenarnya kesalahan, karena dari dulu yang di posting hanya dalil yang itu2 aja…

    setelah emang kalian telah kehabisan dalil lalu muncullah segala kejelekan tentang wahaby.

    APABILA WAHABY ITU ADALAH KAUM YANG MEMURNIKAN TAUHID, MAKA AKU ADALAH WAHABY
    APABILA WAHABY ITU ADALAH KAUM YANG MENGHIDUPKAN SUNNAH, MAKA AKU ADALAH WAHABY
    APABILA WAHABY ITU ADALAH KAUM YANG SENANTIASA MEMBERANTAS KESYIRIKAN DAN KEBID’AHAN, MAKA AKU ADALAH WAHABY

    yang punya situs ini ahlul bid’ah, pengikutnya pun ternyata tidak lebih pintar dari si ahlul bid’ah ini.

    wallahu a’lam….

  • Umat dhoif said:

    mmm…. makin bodoh saja wahabinya…

    gampang begini saja, gmn klo diadakan pertemuan copy darat
    nanti kita bicarakan bareng2 tempatnya dimana
    para SaWah silakan datng bawa jama’ahnya mo 1 truk atau 2 truk silakan
    nanti kita coba koordinir, tapi minta maaf jika kmi cuma bisa menyediakan aqua saja, krn keterbatasan dana…
    silakan bawa kitab n ulama2 kaliber nte, khususny yg bisa baca kitab, bukan kroco2 yg cuma bisa ctrl+v, ctrl+c, ctrl+x macam kalian

    nantinya diskusinya direkam lewat handycam n boleh disebarkn ataupun diperbanyak
    semua org bebas utk datang n melihat

    saya kira dari pihak forsansalaf bersedia utk memfasilitasi hal ini
    demi terbukanya hijab fitnah ini dan kemaslahatan umat Islam

  • aldj said:

    klu kita pelajari dgn sungguh2 gol wahabi ini sebenarnya didirikan oleh orang2 yg didirinya ada hasut n dengki trhdp rosul n ahlulbaitnya,
    kita bisa lihat dr ajaran2 yg ada dimereka,salah satunya meratakan kuburan2 spy orang tdk berziarah,krn kubur yg paling banyak di ziarahi oleh ummat islam adalah kuburan rosul,ahlulbait n keturunannya begitu juga dgn tawasul n tarekat
    dr hadits2 yg mereka pakai tdk ada satupun yg mereka yakini kebenarannya apabila berkenaan dg keutamaan ahlulbait,klu pun ada(krn mereka kehabisan peluru)merka menshahihkan hadits2 yg seolah2 keutamaan2 ahlulbait itu juga dimiliki oleh sahabat(tdk ada mksd sy merendahkan sahabat)
    imam mereka adlh ibnu taimiyah yg notabennya cendrung tdk menyukai ahlulbait
    hasutnya mereka trhdp rosul n ahlulbaitnya,membuat mereka tega menyatakan ayah n ibu rosul adlh seorang musrik,termasuk didalamnya abuthalib
    Alquran sendiri mereka pelintirkan sedemikian rupa,sehingga rosul bkn lagi seorang yg maksum,soal ini sebagian ulama kita kadang tdk menyadari sdh terperdaya oleh mereka.
    Soal maulid adlh bag kecil dr propaganda mereka,spy kita mengecilkan keutamaan rosul,dgn kata2 bidah n kultus dgn menggunakan ayat quran bhw sesungguhnya muhammad itu manusia biasa,
    ayat2 yg dibwkan oleh forsan sbnrnya sdh cukup,bwt orang2 yg tdk kaku dlm berpikir,memang perayaan yg dibuat oleh ummat skrng ini tdk sama dgn zaman sahabat,klu perbedaan itu dikatakn bidah,itulah yg namanya kaku,salah2 apabila kita naik haji ke mekkah dgn pesawat akan dikatakan bidah.
    sy trmsuk setuju bidah itu tdk ada yg hasan,bidah adlh bidah,tp kita mesti lihat korelasinya,spy pemikiran kita tdk kaku.
    cobalah kita pelajari baik2 ajaran wahabi ini mereka cendrung ke arah yg membenci ahlul bait,merekalah yg pantas disebut nashibi

  • aldj said:

    situs ini sebenarnya menarik,tp syg waiting moderationnya trll lama,tulisan sy hampir lima hari blum termuat sd skrg,mdh2an ini hanya krn kesalahan tehnik

  • riariani said:

    @ assamar
    tumben tulisanya sedikit..stock copi pastenya habis???
    sudah berapa tahun ikut wahabi?
    sekarang kerja/kuliah,di mana?
    ngajinya sudah iqro’ berapa?
    sirahmu gundul,jidatmu sudah item belum?
    trus…berapa SAHABAT & ulama’ yang sudah kamu BID’AHKAN??
    belum mau tobat……..
    kamu lahir dari rahim seorang ibu yang suka maulid?
    ayahmu,mbah kakung,putri suka maulid??
    jangan marah ya..aku cuma nanya…??

  • riariani said:

    satu lagi wahabi tobat..
    alkhamdulillah……..

  • fulan said:

    @assamar: knp sich para wahabi klo ditanya tentang dalil sholat tahajjud berjama’ah dan kultum ba’da subuh ga’pernah mau jawab????

  • Assamar said:

    @ riariani & semua antek2 maulid :
    lho, kenapa malah nanya pribadi saya ?? emang ada masalah apa ?? berapa sahabat dan ulama yang saya bid’ah kan ? kejam sekali kata2nya, bukan saya yang membid’ahkan tapi emang dalilnya koq begitu. Lagipula tidak pernah Sahabat Rasullullah mengerjakan bid’ah, para Sahabat melakukan pengumpulan mushaf, shalat tarawih berjamaah dan adzan 2x di hari jumat adalah cuma bid’ah dalam artian bahasa…bukannya kita disuruh mengikuti sunnahnya Khulafaur Rasyidin ?? berarti apa2 yang telah Sahabat kerjakan maka itu telah menjadi sunnah, bila sebelumnya tidak dikerjakan Rasullullah maka itu dalam artian bahasa….

    mau pencerahannya lebih lanjut ?? baca yang bener yaa…

    a. Mengenai pengumpulan ayat Alqur’an dalam satu mushaf :
    Pengumpulan Al Qur’an dalam satu mushaf ada dalilnya dalam syari’at karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis Al Qur’an, namun penulisannya masih terpisah-pisah.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/97) mengatakan, “Sesuatu yang menghalangi untuk dikumpulkannya Al Qur’an adalah karena pada saat itu wahyu masih terus turun. Allah masih bisa mengubah dan menetapkan sesuatu yang Dia kehendaki. Apabila tatkala itu Al Qur’an itu dikumpulkan dalam satu mushaf, maka tentu saja akan menyulitkan karena adanya perubahan setiap saat. Tatkala Al Qur’an dan syari’at telah paten setelah wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; begitu pula Al Qur’an tidak terdapat lagi penambahan atau pengurangan; dan tidak ada lagi penambahan kewajiban dan larangan, akhirnya kaum muslimin melaksanakan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan tuntutan (anjuran)-nya. Oleh karena itu, amalan mengumpulkan Al Qur’an termasuk sunnahnya. Jika ingin disebut bid’ah, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa (yaitu tidak ada contoh sebelumnya, pen).”

    Perlu diketahui pula bahwa mengumpulkan Al Qur’an dalam satu mushaf merupakan bagian dari maslahal mursalah. Apa itu maslahal mursalah?

    Maslahal mursalah adalah sesuatu yang didiamkan oleh syari’at, tidak ditentang dan tidak pula dinihilkan, tidak pula memiliki nash (dalil tegas) yang semisal sehingga bisa diqiyaskan. (Taysir Ilmu Ushul Fiqh, hal. 184, 186, Abdullah bin Yusuf Al Judai’, Mu’assasah Ar Royyan). Contohnya adalah maslahat ketika mengumpulkan Al Qur’an dalam rangka menjaga agama. Contoh lainnya adalah penulisan dan pembukuan hadits. Semua ini tidak ada dalil dalil khusus dari Nabi, namun hal ini terdapat suatu maslahat yang sangat besar untuk menjaga agama.

    Ada suatu catatan penting yang harus diperhatikan berkaitan dengan maslahah mursalah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/101-103) mengatakan, “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu maslahat, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah maksiat, maka perkara tersebut adalah maslahat.”

    b. Mengenai shalat tarawih berjamaah :
    telah jelas bahwa sebelum Sahabat Umar radiyallahu anhu menghidupkan kembali tarawih berjamaah di Masjid telah diterangkan lebih dahulu oleh Rasullullah sendiri namun beliau tidak meneruskannya karena khawatir nantinya dianggap wajib oleh umatnya.
    Jadi perkataan Umar “sebaik-baik bid’ah adalah ini” maka yang dimaksud bid’ah tersebut hanyalah dalam artian bahasa.

    Lalu sebagian orang lagi berkata, ada koq bid’ah hasanah ? mereka berdalil dengan hadist ” man sanna fil islami sunnatan hasanah falahu ajruha …”

    berikut penjelasannya :

    Dari Jarir bin Abdullah radhiyallaHu ‘anHu, ia berkata,

    “Kami berada di sisi Rasulullah ketika hari mulai siang. Lalu ada beberapa orang yang datang dengan tanpa alas kaki, compang – camping, berjubah robek, sambil menyandang pedang, yang umumnya mereka berasal dari suku Mudhar, bahkan semuanya dari suku Mudhar. Maka berubahlah wajah Rasulullah karena melihat kemiskinan mereka. Kemudian beliau masuk ke rumah lalu keluar lagi. Beliau menyuruh Bilal agar menyerukan adzan, Bilal pun menyerukan adzan, Maka datanglah seorang laki – laki dari kaum Anshar dengan membawa satu kantong (makanan) yang hampir tidak muat dibawa dengan telapak tangannya, bahkan tidak mampu. Lalu orang – orang menyusul berdatangan membawa sedekah hingga aku lihat dua tumpuk makanan dan pakaian, sehingga aku lihat wajah Rasulullah berseri – seri keemasan. Lalu Rasulullah bersabda,

    ‘Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falaHu ajruHa wa ajru man ‘amila biHa ba’daHu’

    yang artinya,

    ‘Barangsiapa merintis suatu sunnah yang baik dalam Islam maka dia mendapat pahala amalan itu ditambah dengan pahala orang – orang yang mengamalkannya setelahnya’” (HR. Muslim no. 1017, hadits no. 533 pada Ringkasan Shahih Muslim Bab al Hatsu ‘alal shadaqati ‘alal dzawiil haajati wa ajru man sanna fiiHaa sunnatan hasanatan).

    Imam asy Syathibi rahimahullah (wafat tahun 790 H) berkata tentang hadits di atas,

    “Perkataan Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, ‘Barangsiapa merintis suatu sunnah (amalan) yang baik’ dan ‘Barangsiapa merintis sunnah (amalan) yang buruk’, maka yang dimaksud bukan merintis perbuatan baik dan buruk menurut akal.

    Karena dikatakan ‘yang baik’ atau ‘yang buruk’ itu tidak diketahui kecuali melalui jalur syariat. Karena yang berhak menilai baik dan buruk sesuatu itu tidak lain hanyalah (Yang Membuat) syari’at dan tidak ada pintu akal untuk masuk ke dalam wilayah itu.

    Inilah yang menjadi pendapat ahlus sunnah. Hanya para pelaku bid’ah saja yang berani menilai baik dan buruk sesuatu dengan akal.

    Jadi kata ‘sunnah (amalan)’ yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah amalan baik atau amalan buruk menurut syariat. Dan amalan baik yang dimaksudkan disini pun tidak lain adalah meliputi urusan shadaqah yang tersebut di dalam hadits di atas” (Ringkasan al I’thisham, hal. 101-102)

    Berkata Syaikh al Albani ketika mentahqiq hadits tentang perkataan Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam, “Man sanna fil islaami sunnatan hasanatan falaHu ajruHa wa ajru man ‘amila biHa ba’daHu”, dalam Ringkasan Shahih Muslim hal. 262,

    “Yakni membuka jalan (merintis) bagi kaum muslimin untuk melakukan perbuatan baik yang terdapat dasar umumnya dalam agama. Inilah makna yang benar menurut bahasa dan konteks hadits.

    Adapun menafsirkan hadits ini dengan, ‘Barangsiapa membuat bid’ah hasanah di dalam Islam’, sebagaimana yang berkembang dikalangan orang belakangan dan menjadikannya pengkhusus bagi keumuman sabda Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam (pada hadits no. 410 di muka), ‘Dan setiap yang diada – adakan (bid’ah) adalah sesat’, maka makna semacam ini adalah makna yang sejelek – jeleknya yang dinisbahkan kepada Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam.

    Karena apa yang dirintis oleh orang Anshar ini adalah merintis sedekah, sedangkan sedekah ini telah disyariatkan sebelumnya oleh nash dan sudah dibacakan sendiri nash itu oleh Rasulullah, Maka dimanakah letak kebid’ahan perbuatan orang Anshar ini bahwa dia melakukan bid’ah hasanah dan dibawanya hadits ini ke arah sana !?”

    semoga anda semua bisa mencernanya…..

  • Assamar said:

    to all pecinta bid’ah :

    Sesungguhnya kebenaran itu tidaklah diukur dengan banyaknya pengikut, tapi kebenaran itu hanya milik ALLAH azza wa jalla, dan kebenaran akan senantiasa datang dari orang yang selalu berjalan sesuai dengan apa yang diingikan oleh ALLAH dan RasulNYA.

    Kebenaran mutlak hanya SATU !! sebagaimana hadist yang telah kita ketahui bersama bahwa Umat Islam akan terbagi 73 golongan dan hanya satu yang masuk SURGA, yang lainnya di NERAKA !!

    lantas ada orang yang mengaku bahwa dialah juga yang masuk SURGA…eitss, tunggu dulu, kita telusuri lagi siapa yang sebenarnya orang yang akan selamat itu..

    1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
    “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

    2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:
    “Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

    “Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)

    3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:
    “Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)

    4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
    “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

    5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”

    6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.

    7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.

    8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.

    9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.

    Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”

    dan adapun ciri Khas Mereka

    1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:
    “Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)

    Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.

    Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”

    Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”

    2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.

    Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)

    Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:
    “Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”

    Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang selamat dan siapakah yang tidak selamat.
    lalu kita teringat dengan sebuah syair :
    Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
    Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya

    Walhasil golongan yang selamat adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.

    wallahu a’lam…..

  • wafiquddinilhaqqi said:

    Al Qur’an banyak memuji, mengagungkan, memuliakan dan meninggikan baik sebutan (nama)maupun pribadi Muhammad Saw., golongan kami meneladaninya lewat ucapan dan sikap yang kami tuangkan dalam Majlis Maulid.
    As Sunnah kami ikuti, kami jalankan dengan pemahaman salafus shalih dan kami dapatkah itu semua dengan lebih mengenal pribadi Muhammad Saw lewat Majlis Maulid.
    Walhasil golongan mana yang selamat???

    Wallahu a’lam…

  • armand said:

    @Assamar

    Walhasil golongan yang selamat adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih

    Singkat saja mas, siapa-siapa saja itu yg anda maksudkan dgn salafus shalih? Tolong deh disebutin nama-nama mrk agar jika kita menerima riwayat dari bukan nama-nama mrk, maka akan langsung kita tolak.

    Bisakah mas? Jika tidak, maka simpan saja pernyataan kosong anda itu utk diri anda sendiri.

    Salam

  • riariani said:

    @ assamar
    hee..he..he..
    satu sisi anda membenci maulid,satu sisi and melakukan maulid.
    mau bukti..??
    apaakah anda mengenal ayub al anshori???
    apakah orang yang merayakan maulid itu PASTI sasat dan masuk neraka??
    JAWAB!!!

  • ASWAJA (ASli WArga JAwa) said:

    tolong dengar wahai santri mbah wahabbek
    untuk menghukumi sesuatu kt tidak boleh melihat namanya tapi kt lihat substansi perbuatan atau materinya, apabila kt menghukumi sesuatu dari namanya,HOTDOG tg bahanya terigu dan daging ayam yg disembelih sesuai syare’at islam, hukumnya haram karena makanan itu bernama HOTDOG.
    oleh karena itu kata syeh Ahmad asyurbasyi : dalam menghukumi maulid kt harus melihat perbuatan yg dilakukan dalam maulid itu, apabila maulid itu diisi dg maksiat dan kemungkaran maka bisa harom namun apabila diisi dg pembacaan alquran penjelasan ahlak dn perjuangan RosulullAH dsb. semua itu ada dalil yg mengancurkanya.
    gitu cara menaggapi sebuah amalan yg tidak ada di jaman rosul jangan di GEBYAK UYAH bahwa semua amalan yg tidk dilkukan rosul itu BID’AH.
    Smoga ALLAH memberi hidayah kapada anggota GAM agar tidak terjadi sunami hujatan bid’ah di dunia ini amiii……………n.

  • ASWAJA (ASli WArga JAwa) said:

    ralatan: yg saya maksud dalil2 yg meganjurkan bukan mengancurkan kalo ada yg mengancurkan dalil2 maulid itu orang GHOIRU ULIL ALBABEK. wss.

  • lela lestari said:

    mas didi,assamar@:
    saya sependapat dengan kalain dari debat yang di atas saya sebagai orang awam bisa membedakan kalain berbicara berdasarkan alquran dan hadits dan diplomatis sekali keliatan orang berpendidikan, sementara yang ahli bida’ah berbicaranya gaya preman asal bunyi gemana orang mau percaya pada kalian yang ngomongnya asbun ga punya dasar.mereka orang2 NU (nurut umum) dulu saya juga nurut umum setelah ada perdebatan semacam ini saya juga jadi mikir kenapa kita melakukan yang ga pasti pahalanya mendingan yang pasti2 aja kalau mamang maulid tidak dilakukan sama Nabi Muhammad SAW, sahabt, tabi’in, tabiut tabi,in dan 4 imam majhab kenapa kita harus melakukan, bukan kah islam sudah di sempurnakan kenapa kita harus menambahkan di samping kita dapat dosa juga buang2 duit kan cari uang susah wahai ahli bida’h.

  • fulan said:

    @assamar: klo begitu bid’ah itu apa dong? kok nt bawa2 nama ibnu taimiyah, kan beliau memperbolehkan maulid tlg baca artikel wahabi-salafi menentang syeikh ibnu taimiyah
    lama2 tampak dh kebodohan nt…..
    pertranyaan ana jg blm dijawab!!!!

  • forsan salaf (author) said:

    @ all pengunjung, kami beritahukan bahwa website kami untuk dialog secara ilmiah bukan menampung artikel hasil copypaste, sehingga kami tidak akan mengapprove komentar hasil copypaste karena tidak bisa dipertanggungjawabkan dan tidak bisa didiskusikan.
    Oleh karena itu, apabila anda ingin diskusi/dialog disini, kami harap bukan copypaste dan koment masih berkaitan dengan isi artikel.

  • riariani said:

    @ lela sari
    ass.
    NU{nurut umum}
    NU;{nurut ulama’}salafussholeh.

    BICARA SOAL PAHALA….
    tidak ada satupun manusia yang tahu,apakah pahala kita di terima alloh atau tidak.
    bagai mana anda tahu kalau amal ibadahmu pasti di terima alloh????????
    ga’ boleh combong..

  • fulan said:

    @lela lestari:klo begitu nt jg jgn sholat tahajjud berjama’ah dan ngikuti kultum ba’da subuh kan Nabi Muhammad SAW, sahabt, tabi’in, tabiut tabi,in dan 4 imam madzhab jg tidak nglakuin

  • fulan said:

    @lela lestari: apakah anda tau Sulthan Salahuddin Al-Ayuubi beliau adalah panglima besar kaum muslimin yang mengalahkan Tentara salibis, beliaulah yang merayakan hari kelahiran nabi
    apabila anda bilang beliau ahli bid’ah keterlaluan anda

  • riariani said:

    @ assamar

    kembali ana tanya sama antum, apakah semua orang yang melakukan maulid nabi muhammad s.a.w. pasti sasat dan masuk neraka??
    jawab dong………

  • lela lestari said:

    Fulan@: anda sudah salah besar memutar balikan fakta coba anda baca dengan cermat tautan di bawah:
    apakah anda juga orang syi’ah nauzubilahimindalik.

    Shalahuddin Al Ayubi Mempelopori Peringatan Maulid

    Di negeri ini lebih terkenal kalau Shalahuddin Al Ayubi adalah pelopor Maulid Nabi dalam rangka menyemangati para pemuda.

    Kami merasa aneh kenapa pejuang Sunnah yang anti Rafidhah (Syi’ah) malah diklaim sebagai pemrakarsa perayaan Maulid. Perlu diketahui bahwa Shalahuddin Al Ayubi adalah seorang raja dan panglima Islam. Beliau bahkan yang melenyapkan perayaan Maulid yang sebenarnya diprakarsai oleh Dinasti Fatimiyyun sebagaimana dinyatakan oleh banyak ahli sejarah. Berikut perkataan ahli sejarah mengenai Maulid Nabi.

    Al Maqriziy, seorang pakar sejarah mengatakan, “Para khalifah Fatimiyyun memiliki banyak perayaan sepanjang tahun. Ada perayaan tahun baru, hari ‘Asyura, maulid (hari kelahiran) Nabi, maulid Ali bin Abi Thalib, maulid Hasan dan Husain, maulid Fatimah al Zahra, maulid khalifah yang sedang berkuasa, perayaan malam pertama bulan Rajab, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Sya’ban, perayaan malam pertengahan bulan Rajab, perayaan malam pertama bulan Ramadhan, perayaan malam penutup Ramadhan, perayaan ‘Idul Fithri, perayaan ‘Idul Adha, perayaan ‘Idul Ghadir, perayaan musim dingin dan musim panas, perayaan malam Al Kholij, hari Nauruz (Tahun Baru Persia), hari Al Ghottos, hari Milad (Natal), hari Al Khomisul ‘Adas (3 hari sebelum paskah), dan hari Rukubaat.”[12]

    Asy Syaikh Bakhit Al Muti’iy, mufti negeri Mesir dalam kitabnya Ahsanul Kalam (hal. 44) mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakan enam perayaan maulid yaitu: perayaan Maulid (hari kelahiran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maulid ‘Ali, maulid Fatimah, maulid Al Hasan, maulid Al Husain –radhiyallahu ‘anhum- dan maulid khalifah yang berkuasa saat itu yaitu Al Mu’izh Lidinillah (keturunan ‘Ubaidillah dari dinasti Fatimiyyun) pada tahun 362 H.

    Begitu pula Asy Syaikh ‘Ali Mahfuzh dalam kitabnya Al Ibda’ fi Madhoril Ibtida’ (hal. 251) dan Al Ustadz ‘Ali Fikriy dalam Al Muhadhorot Al Fikriyah (hal. 84) juga mengatakan bahwa yang mengadakan perayaan Maulid pertama kali adalah ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun).[13]

    Lalu siapakah sebenarnya ‘Ubaidiyyun (Fatimiyyun)?

    Al Qodhi Al Baqillaniy menulis kitab khusus untuk membantah Fatimiyyun yang beliau namakan “Kasyful Asror wa Hatkul Astar (Menyingkap rahasia dan mengoyak tirai)”. Dalam kitab tersebut, beliau membuka kedok Fatimiyyun dengan mengatakan, “Mereka adalah suatu kaum yang menampakkan pemahaman Rafidhah (Syi’ah) dan menyembunyikan kekufuran semata.”

  • lela lestari said:

    riariani@:
    saya mau tanya sama anda apa syarat amal ibadah kita di terima oleh Alloh SWT……?

  • riariani said:

    @ lela lestari
    saya mau BALIK tanya sama anda apakah setelah sorang hamba memenuhi syarat ibadah, PASTI amalnya Di terima oleh Alloh SWT……?
    saya juga mau tanya sama anda, apakah anda pasti masuk surga tanpa hisab atau akan mampir di neraka doeloe???
    apkah anda pasti bisa menjawab pertanyaan kubur dan selamat dari siksa kubur???

  • dayak said:

    @ lela lestari :
    saya bosen dg pernyataan maulid itu g pernah dilakukan di zaman nabi,sahabat n tabi’in.
    kan udah tak sebutin diatas.masa mau ana ulangi lagi…..
    toyyib ana tampilkan sekali lagi dan anda bantah dg ilmiah dong.
    imam ibnu hajar al-asqoolani berfatwa : Adalagi yg mengatakan bahwa maulid itu g prnah dilakukan oleh nabi n para sahabat2nya. Yg berkata demikian ini Berarti g tau usul fiqh,krn meninggalkan sesuatu tanpa didasari oleh nash atas keharoman yg ditinggalkan maka tidak bisa dijadikan nash atau langsung memvonis harom.tapi faedahnya meninggalkan perbuatan tadi masyru’. Dan jika perbuatan yg ditinggalkan tadi bisa menyebabkan keharoman maka itu bukanlah faedah dari sesuatu yg ditinggalkan oleh nabi.kecuali jika ada dalil yg memperkuat atas keharomannya.ketika tidak ada dalil atas keharomannya maka jatuhlah pengingkaran spt ini.
    ini jawaban pake usul fiqh.ya maklum klo anda dkk gak faham ilmu usul.

  • wafiquddinilhaqqi said:

    Sepertinya ada yang aneh ketika ada orang yang mengaku mencintai Rasullullah Saw. dengan senantiasa menghidupkan Sunnah2nya, tapi mengkafirkan, membid’ahkan saudara-saudaranya yang ingin lebih mengenal pribadi Rusullullah Saw mulai beliau dilahirkan sampai wafatnya(bukankah ini yang ada di semua kitab2 Maulid), bahkan lebih ekstrem lagi, mereka ingin memindahkan makam Rusullullah keluar dari Masjid Nabi dan menghancurkan kubah hijau yang menaungi makam beliau Saw.
    Bukankah kita semua sudah mengetahui bahwa semua ucapan, perbuatan dan diamnya nabi adalah sunnah. jadi Assunnah adalah segala sesuatu/hal yang ada pada diri Muhammad Saw. Lalu bagaimana mereka bisa mencintai dan menghidupkan sunnah2nya sedangkan mereka tak mengenalnya bahkan alergi terhadap majlis2 Maulid Rasullullah Saw.

    Akhirnya siapakah yang benar2 mencintai dan menghidupkan sunnah2 beliau Saw???????????????

    ada pepatah mengatakan “Tak Kenal Maka Tak Sayang”

  • lela lestari said:

    riariani@:
    anda bilang wahabi2 ana mau tanya siapa sih wahabi itu…..?
    hidup di taun berapa dia…? terus perananya dalam islam apa anda jangan2 menjelek2 an sesorang yang anda ga tau siapa dia sesungguhnya.
    anda jangan suka mengekor/membeo yang belum tau pokok permasalahannya.
    kita boleh ber diskusi tapi kita harus mengutamakan nash jangan mngutamakan pendapat sendiri (benar menurut sendiri).tapi harus mengutamakan wahyu, wahyu ada dua alquran dan hadits.

    ALL@:
    pada asalnya ibadah itu hukumnya haram, dihalalkan setelah turun dalil, nah coba keluarkan dalil yang membolehkan merayakan maulid nabi….?
    apakah kalian juga ikut2an merayakan valentine atau yang dilakukan orang2 syiah.
    syiah bukan islam.

  • el_muhibbin said:

    @lela lestari: kalo anda menanyakan syaratnya amal ibadah itu bakalan diterima oleh Allah S.W.T pertama harus iklas,kalo tahap pertamanya g lulus ya g bisa

  • El_Muhibbin said:

    Alhamdulillah akirnya ana bisa kembali koment di wes ini lagi dikarenakan waktu ana koment g bisa-bisa terus g tau kenapa koq bisa begitu,tapi Alhamdulillah Berkat Rahmat Allah dan Rasul-Nya ana bisa kembali lagi mengisi koment diweb ini,semoga bermanfaat bagi kita semuanya, Amiin…

    Ya udah ana langsung aja mau menanyakan pertanyaan ke orang-orang yang merasa pertanyaan itu buat mereka.

    1.Apakah setiap bid’ah itu sesat?
    2.Dan apakah suatu atau sesuatu perbuatan yang tidak dicontohkan atau diajarkan atau dilakaukan oleh Rasulullah S.A.W itu sesat?
    3.Dan apakah anda tau bahwa Rasulullah dan para Sahabat juga tidak pernah menyuruh untuk membubuhkan tanda baca pada mushaf (Al-Qur’an)?
    4.Apakah pertanyaan di nomer 4 tadi itu termasuk bid’ah kalo ada seseorang yang memberikan tanda baca pada Mushaf Al-Qur’an?,dan seorang sahabat yang bernama ‘Abdullah Bin Mad’ud ,adalah seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W yang mulia bahkan berkata:

    Jangan beri Al-Qur’an titik maupun harakat.(Lihat Ahmad bin Syu’aib Abu ‘Abdurrahman An-Nasa’I, As-Sunan Al-Kubra, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Cet.1,Jus.6, Hal 240. Dan lihat juga Sulaiman Bin Ahmad bin Ayyub Abdul Qasim Ath-Thabrani, Al-Mu’jamul Kabir , Maktabul ‘Ulum Wal Hikam, Mushil, Cet. 2, Juz. 9, Hal.353).
    5.Apakah orang yang memberikan wejangan atau makanan atau apalah itu setelah acara maulid nabi apakah itu termasuk bid’ah?,apakah orang yang memuliakan tamu yang datang kerumahnya seseorang itu diharamkan atau bid’ah menurut Allah dan Rasul-Nya?
    6.ini pertanyaan yang nomer 6 ini khusus ana buat untuk wan Assamar

    @ Assamar: Alhamdulillah, saya pengikut manhaj salaf…tp anda salah bila mengatakan saya pengekor Syaikh Albani ! tidaklah ada seorang yang mengaku salaf tapi dia mengekor/fanatik kepada seseorang. Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya, tidak lebih daripada itu !( ini kan testimoninya antum)Tadi anda bilang tidak mengekor/fanatik pada Al-Bani,atau ibnu taimiyah atau itu Syaikh Alu Syaikh atau Syaikh Ustaimin atau pada siapapun atau siapalah itu terserah antum.Ana mau nanya kepada orang-orang wahaby/salafy yang selalu bilang kami tidak mengekor kepada ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin atau pada siapapun atau siapalah itu terserah antum tapi kenapa orang orang wahabi/salafy itu selalu merujuknya kepada kitab2nya orang orang seperti yang ana sebutin ditas tadi…?. Dan kalo antum bukan pengekornya ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin atau pada siapapun itu kenapa anda begitu ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid nabi itu bid’ah…?.Padahal Ulama-Ulama dahulu yang kita sendiri dan ana sendiri terutama sudah tau keshalohennya dan kehati2annya dalam agama tidak mengatakan maulid nabi itu bid’ah(kecuali ulama-ulama wahaby),orang-orang wahaby itu lho orang kapan kok dengan gampangnya ngomong seperti itu.Kalo mau mempelajari ilmu agama itu harus dengan hari dan jiwa yang bersih bro,jangan dengan nafsu karena nafsu itu datangnya dari setan.Semoga kita dilindungi oleh Allah S.W.T berkat Nabi Muhammad S.A.W dari setan dan iblis yang terkutuk, Amiin…

    Emangnya kenapa kalau saya pengikut manhaj salaf ? ada yang salah dengan manhaj salaf, seperti yang kalian pikirkan selama ini ?(ini kan juga testimony antum),sekarang ana balik tanyak ke antum juga,salaf yang mana yang anda ikuti,apa ulama-ulama wahaby yang anda ikuti?

    Dan Adalagi,kalo dithoriqahnya antum (wahaby/salafy)kan g boleh memuji Rasulullah S.A.W,tapi kenapa anda mengatakan (Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya),katanya memuji Rasulullah S.A.W g boleh,kenapa anda mengatakan memuji albani,apakah itu bukan termasuk bid’ah?.Ana jadi bingung sama thoriqahnya antum orang-orang wahaby/salafy

    Tolong dijawab…? Pertanyaan semua pertanyaan ana ini,kalo nt g bisa jawab pertanyaan ana antum tanyakan sama ustad2 antum Ustadz Abdul Hakim Abdat, UStadz Yazid Jawwas atau siapapun itu…!

  • El_Muhibbin said:

    Dan ana minta,testimoni ana semuanya itu dijawab!,soalnya testimoni ana selalu g dijawab sama orang2 wahaby/salafy!.G tau kenapa koq g pernah dijawab,apa mereka itu g sempet jawab atau mereka2 itu emang g bisa njawab pertanyaan ana itu…

  • riariani said:

    @ lela lestari
    ana mau tanya siapa sih wahabi itu…..?
    hidup di taun berapa dia…?
    jawab;
    wahabi adalah gerakan islam yang di nisbatkan kepada MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB.
    lahir;1115-1206 h{1701-1793}
    mazhab;imam HAMBALI{mengaku}
    ana sudah jawab pertanyaan anda,sekarang jawab pertanyaan ana;
    1.apakah salahudin al ayubi AHLUL BID’AH dan tidak BISA masuk surga?
    2.telah berkata Imam Hasan al-Bashri (Wafat 116H, pernah bertemu dengan lebihkurang 100 orang shahabat): “Aku kasih jika ada bagiku seumpama gunung Uhud emas untuk kunafkahkan atas pembacaan mawlid ar-Rasul”.apakah AHLUL BID’AH dan tidak bisa masuk surga??
    3.Telah berkata Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297H): “barang Siapa yang hadir mawlid ar-Rasul dan membesarkan kadar baginda, maka telah berjayalah dia dengan iman”.apakah AHLUL BID’AH dan tidak bisa masuk surga karna telah memperingati maulid???
    4.apa artinya WAHYU?
    5.apa artinya HADIST
    6.APAKAH ANDA KELAK PASTI SELAMAT DARI SIKSA KUBUR & NERAKA????
    7.monggo di jawab…..(jangan COPAS} ana tunggu…….jangan lari seperti salafi wahabi lainya ya…..

  • lela lestari said:

    el_muhibbin@:
    kalau ihlas aja itu orang kristen orang yahudi mereka pada ikhlas
    apakah mereka juga di terima amalnya…?

    syarat di terima amal itu ihlas dan mengikuti tuntunan Nabi SAW, apakah nabi SAW, sahbat, tabin, tabiut tabiin pernah melakukan maulid nabi….?

    apa dalilnya maulid nabi itu sunnah….?
    sunnah menurut kiyai selamet yah..?

  • dayak said:

    @ lele lestari
    ; saya bosen diulang2 trus kalimat spt ini ” syarat di terima amal itu ihlas dan mengikuti tuntunan Nabi SAW, apakah nabi SAW, sahbat, tabin, tabiut tabiin pernah melakukan maulid nabi….? ”
    DIATAS KAN SUDAH SAYA TAMPILIN JWBANNYA.TOLONG DONG DI KOMENTARI DULU .
    jgn spt org syi’ah setiap ditanya lari2 terus dari pembahasan, nanti menasehati kek , bahas akhlaq dlll

  • melinuxid said:

    Pendapat saya :

    Apabila Maulid itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW
    tentunya hal ini juga menjadi perhatian khalifah yg 4
    tapi sebagaimana kita ketahui , beliau – beliau ini tidak pernah
    melakukan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

    Setahu saya yang melakukan hal ini I kali adalah Salahuddin Al Ayubi…

    Dan jelas perayan ini BUKAN termasuk AMAL IBADAH RITUAL kaum MUSLIMIN
    yang DICONTOHKAN RASULULLAH SAW.

    Wassalam

  • El_Muhibbin said:

    @lela lestari: meskipun mereka orang kafir amalnya itu ya g da yang keterima,kalo itu ana ya tau mbak lela

    sekarang ana juga mau nanyak juga sama antum,Lebih pinter mana orang seperti Imam Madzhab sama ulama-ulama wahabi sekarang yang sukanya menbid’ahkan orang yang tidak sepemahaman dengan mereka…?

  • alfa reyhan said:

    Ada cerita seorang wahaby ditabrak motor,kepalanya terbentur aspal dengan kerasnya,ketika akhirnya dibawa ke rumah sakit,semua orang menyangka dia akan gegar otak,dan selesai sang dokter memeriksa maka orang2 itu bertanya,Gimana dok?? sang dokter menjawab: oh gakpapa kok,cuma lecet2 aja,mereka bertanya lagi”apa korbannya gegar otak??? maka sang dokter menjawab”apanya yang gegar otak lah otaknya aja gak ada….?????
    tuh kan mas………..
    udah kalo wahaby ngeyel macem lela_lestari ini gak usah diladenin
    kalo dia nanya dalil,itu maunya yang model “AL MAULIDU HUKMUHU SUNNAH”
    KALO DIKASIH DALIL YANG MASIH MEMERLUKAN PENALARAN MEREKA GAK BAKAL MAU,LAH ORANG OTAKNYA AJA UDAH GAK ADA,……

  • El_Muhibbin said:

    @Lela Lestari: kalau ihlas aja itu orang kristen orang yahudi mereka pada ikhlas
    apakah mereka juga di terima amalnya…?(ini kan testimoni antum),y udah ana jawab y keterima karena mereka itu kan bukan orang muslim,jadi sama Allah perbuatan mereka itu dibalas didunia karena mereka nantinya diakherat masuk neraka yang amat sanagat pedih.

    syarat di terima amal itu ihlas dan mengikuti tuntunan Nabi SAW, apakah nabi SAW, sahbat, tabin, tabiut tabiin pernah melakukan maulid nabi….?

    apa dalilnya maulid nabi itu sunnah….?
    sunnah menurut kiyai selamet yah..? (ini kan testimoni antum kan),tapi sebelum ana jawab pertanyaannya antum ana mau menanyakan sebuah pertanyaan sama antum, yang ana pertanyakan dari orang-orang yang mengatakan maulid itu bukan bid’ah dan boleh apakah orang-orang itu adalah orang bodoh atau gimana..?,sementara banyak sekali ulama-ulama yang terdahulu yang mengatakan bahwa maulid Rasulullah S.A.W itu bukan bid’ah…?

  • El_Muhibbin said:

    Dan apakah orang-orang yang memperbolehkan maulid nabi Muhammad S.A.W itu apakah mereka itu orang-orang jahil,orang-orang yang bodoh,g mengerti Al-Qur’an dan Hadits nabi,apakah kita ini merasa lebih pinter dan lebih pandai dari mereka…?

  • fulan said:

    rupanya susah ngomong ama orang wahaby
    ana mau tanya apakah orang2 yang sebelum wahabi datang seperti imam Hasan al-Bashri anda katakan ahli bid’ah?
    pertanyaan untuk orang wahabi semuanya
    apakah para nabi SAW, sahabat,tabiut tabiin pernah mengajak shalat tahajjud berjama’ah dan kultum ba’da subuh??????
    kok pertanyaan itu ga’pernah dijawab c???? apa takut ketahuan gobloknya???

  • lela lestari said:

    fulan:
    pembicaraan kita jangan kemana2 dulu kita kupas tuntas masalah maulid nabi kalau antum bisa membuktikan bahwa maulid nabi itu di contohkan oleh Rosulullah SAW, Sahabat,tabi’in, tabiut tabi’in dan 4 imam majhab, kalau yang itu udah tuntas mari kita berdiskusi yang lainya saya siap ko, dan perlu di ingatkan kita berdiskusi dengan kepala dingin jangan pernah berdiskusi dengan kepala mendidih percuma aja karna setan akan mentertawakan anda, perlu di ingat juga bahwa setan lebih suka menggoda sama orang yang ahlul bid’ah.

    kola Rosulullah SAW: kulu bidatin dolalah wakulu dolalatin finar,
    semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu tempatnya api neraka itu Nabi SAW yang bersabda.

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(al-maidah ayat 3)

    apakah antum belum cukup dari penjelasan Al-quran dan Hadits terus antum lebih percaya sama yang mengarang kitab berjanji padahal sudah di jelaskan yang mengarang kitab berjanji itu bermanhaj syi’ah.
    biasnya kalau orang kalah dalam berdebat tidak bisa membuktikan kebenarnya nanyanya kemana2, sekalian aja tanya solat magrib berapa rokaat, solat isa berapa rokaat atau bahkan menanyakan berapa gajih anda apakah itu semua perlu di jawab saya kira itu pertanyaan yang udah menyimpang coba mas anda berfikir aga dingin kita sama2 belajar.
    sekali lagi jangan pernah menjelek2an ulama salaf karna hanya orang bodah lah yang akan menjelek2 ulama salaf.

  • lela lestari said:

    El_Muhibbin:
    Dan apakah orang-orang yang memperbolehkan maulid nabi Muhammad S.A.W itu apakah mereka itu orang-orang jahil,orang-orang yang bodoh,g mengerti Al-Qur’an dan Hadits nabi,apakah kita ini merasa lebih pinter dan lebih pandai dari mereka…?
    jawab:
    mereka pintar2 cuman mereka ga bisa membedakan mana itu sunnah mana itu bid’ah, lebih parah lagi ga bisa membedakan tauhid dan syirik di dalam hadits juga kita harus bisa membedakan mana itu hadits shahih mana itu hadits dhoi’f bahkan hadits palsu.ini masalah agama jangan asal memilih betul apa yang telah ditulis mas assamar: rosulullah saw bersabda umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, hanya 1 masuk surga dan 72 terancam neraka siapa itu yang masuk suraga yaitu yang mengikuti alquran dan sunnah, itu rosulullah yang bersabda bukan saya.
    di negara kita banyak yang bertawasul ke pada para wali, dan orang soleh yang udah meninggal, mereka itu orang yang hapal hadits bahkan hapal alquran tapi mereka ga bisa membedakan antara tauhid dan syirik. maaf yah mas kita berdiskusi dengan kepala dingin kalau memang pendapat mas lebih benar menurut alquran dan sunnah pasti saya akan ikut kebenaran tapai kalau pendapat mas belum benar saya akan mengikutin bahwa bid’ah itu dolalah saya percaya perkataan rosulullah bukan perkataan ulama2 di kita yang salah menafsirkan hadits.

  • lela lestari said:

    alfa reyhan said:

    Ada cerita seorang wahaby ditabrak motor,kepalanya terbentur aspal dengan kerasnya,ketika akhirnya dibawa ke rumah sakit,semua orang menyangka dia akan gegar otak,dan selesai sang dokter memeriksa maka orang2 itu bertanya,Gimana dok?? sang dokter menjawab: oh gakpapa kok,cuma lecet2 aja,mereka bertanya lagi”apa korbannya gegar otak??? maka sang dokter menjawab”apanya yang gegar otak lah otaknya aja gak ada….?????
    tuh kan mas………..
    udah kalo wahaby ngeyel macem lela_lestari ini gak usah diladenin
    kalo dia nanya dalil,itu maunya yang model “AL MAULIDU HUKMUHU SUNNAH”
    KALO DIKASIH DALIL YANG MASIH MEMERLUKAN PENALARAN MEREKA GAK BAKAL MAU,LAH ORANG OTAKNYA AJA UDAH GAK ADA,……
    jawab:
    itu haditsnya shahih apa dhoif atau maubdu dan di riwayatkan oleh siapa mas apakah di ambil dari hadits orang sufi/syia’h jangan asal mengeluarkan hadits karna rosulullah SAW mengancam kalau sesorang mengatakan hadits atas namaku maka hukumanya api neraka.

  • lela lestari said:

    El_Muhibbin said:

    @lela lestari: meskipun mereka orang kafir amalnya itu ya g da yang keterima,kalo itu ana ya tau mbak lela

    sekarang ana juga mau nanyak juga sama antum,Lebih pinter mana orang seperti Imam Madzhab sama ulama-ulama wahabi sekarang yang sukanya menbid’ahkan orang yang tidak sepemahaman dengan mereka…?
    jawab:
    kami2 bermadzhab salaf(sahabt) kalau antum menghina ulama salaf berarti antum menghina sahabt, adapun al-imam muhammad bin abdul wahab adalah seorang ulama terkenal,mujaddid ketauhidan pada abad ke 14 beliau berdakwah dengan mengungkapkan kesalah fahaman umat islam semasa beliaw, tentang hakekat tauhid, beliau telah berhasil mengungkap dengan gamblang hakekat pertentangan antara Nabi muhammad SAW dengan orang musrik dahulu. waduh jadi ga enak masa seorang permpuan telah mendakwahi laki2 kemana aja kalain selama ini.tolong dakwahnya dengan lemah lembut yah biar orang bisa menerima.

  • elfasi said:

    @ lela lestari, waduh….. dari dulu dalilnya orang wahhabi itu2 aja gak ada yang lainnya.
    Mbak lela… coba tu liat n baca dengan baik semua artikel tentang wahhabi, permasalahan anda ttg kullu bid’atin telah dibahas tuntas pada isi artikel “BID’AH DHOLALAH, APAKAH ITU ?”, jadi gak perlu kita bahas lagi…. Klo anda menyatakan maulid bid’ah dan sesat karena tidak dilakukan oleh Nabi, maka :
    1. Anda telah menentang Ibn Taimiyah yagn menyatakan perayaan maulid bisa mendatangkan pahala besar karena kecintaan kepada Rasulullah SAW.
    2. Anda harus membid’ahkan juga secara tuntas selain maulid seperti berikut : pembukuan al-Qur’an, pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah secara serentak, adzan Jum’ah dua kali, shalat tahajjud berjamaah di Masjidil Haram dan kultum (kuliah tujuh menit), karena semua itu tidaklah dilakukan bahkan diperintahkan oleh Nabi.
    3. Ketika dari dulu tidak pernah anda tampilkan dalil yang menyatakan keharaman Maulid, justru anda yang telah menganggap syari’at Nabi belum sempurna dan anda telah menganggap Nabi belum menyelesaikan dakwahnya karena Nabi tidak menyampaikan keharaman maulid.
    Mbak lela.. bukan dari kita yang tidak bisa membuktikan bolehnya perayaan maulid, tapi andalah orang wahabi yang gak bisa sampai sekarang membuktikan keharaman maulid…… tolong jawab permasalahan ana di atas..
    Anda katakan :” mereka pintar2 cuman mereka ga bisa membedakan mana itu sunnah mana itu bid’ah, lebih parah lagi ga bisa membedakan tauhid dan syirik di dalam hadits juga kita harus bisa membedakan mana itu hadits shahih mana itu hadits dhoi’f bahkan hadits palsu”.
    Jawab : mbak, mereka itu sangat pintar n justru anda n orang2 wahabi yang gak dangkal ilmunya gak bisa memahami hakikat dari bid’ah, sok tau hadits n suka mengkultuskan orang sebagai muhaddits padahal tidak bersanad, dari dulu tidak ada yang membid’ahkan dan mensyirikkan tawassul, tapi baru munculnya orang najd aja yang menjadi isyarat dari Nabi, hingga banyak keterpurukan pada persatuan umat islam, proses pembid’ahan bahkan pendyirikan umat islam secara massal.
    Klo anda mau jawaban tentang tawassul, udah dikupas oleh forsansalaf pada artikel “HUKUM TAWASSUL”, jadi gak perlu lagi ana ulangi disini.

  • El_Muhibbin said:

    fulan:
    pembicaraan kita jangan kemana2 dulu kita kupas tuntas masalah maulid nabi kalau antum bisa membuktikan bahwa maulid nabi itu di contohkan oleh Rosulullah SAW, Sahabat,tabi’in, tabiut tabi’in dan 4 imam majhab, kalau yang itu udah tuntas mari kita berdiskusi yang lainya saya siap ko, dan perlu di ingatkan kita berdiskusi dengan kepala dingin jangan pernah berdiskusi dengan kepala mendidih percuma aja karna setan akan mentertawakan anda, perlu di ingat juga bahwa setan lebih suka menggoda sama orang yang ahlul bid’ah.
    kola Rosulullah SAW: kulu bidatin dolalah wakulu dolalatin finar,
    semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu tempatnya api neraka itu Nabi SAW yang bersabda.
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.(al-maidah ayat 3)
    apakah antum belum cukup dari penjelasan Al-quran dan Hadits terus antum lebih percaya sama yang mengarang kitab berjanji padahal sudah di jelaskan yang mengarang kitab berjanji itu bermanhaj syi’ah.
    biasnya kalau orang kalah dalam berdebat tidak bisa membuktikan kebenarnya nanyanya kemana2, sekalian aja tanya solat magrib berapa rokaat, solat isa berapa rokaat atau bahkan menanyakan berapa gajih anda apakah itu semua perlu di jawab saya kira itu pertanyaan yang udah menyimpang coba mas anda berfikir aga dingin kita sama2 belajar.
    sekali lagi jangan pernah menjelek2an ulama salaf karna hanya orang bodah lah yang akan menjelek2 ulama salaf.
    Jawaban ana
    Yang kita permasalahkan itu kan bid’ahnya.Di thoriqohnya antum kan Bahwa maulid itu bid’ah kan…?,itu caranya mbah mengetahui sesuatu itu gimana,nah kita bahas dulu bid’ah itu baru kita bahas maulidnya.Lha sekarang ibaratnya kita inigin membahas masalah daging haram atau halal sajalah,tapi kita g tau haram atau itu seperti apa sama aja boong mbah Lela Lestari.Kita bahas dulu bid’ah baru kita bias mengetahui maulid itu sesat atau gimana.
    El_Muhibbin:
    Dan apakah orang-orang yang memperbolehkan maulid nabi Muhammad S.A.W itu apakah mereka itu orang-orang jahil,orang-orang yang bodoh,g mengerti Al-Qur’an dan Hadits nabi,apakah kita ini merasa lebih pinter dan lebih pandai dari mereka…?
    jawab:

    mereka pintar2 cuman mereka ga bisa membedakan mana itu sunnah mana itu bid’ah
    Sekarang gini saja mbak Lela Lestari,Mana yang lebih pinter Imam Madzhab atau imam antum tadi Muhammad bin ‘Abdul Wahab…?,mana yang lebih teliti dalam dalam masalah agama, Madzhab atau Muhammad Bin ‘Abdul Wahab…?,G usah merasa paling pinter sendiri mbak g usah merasa paling bener sendiri.
    , lebih parah lagi ga bisa membedakan tauhid dan syirik di dalam hadits juga kita harus bisa membedakan mana itu hadits shahih mana itu hadits dhoi’f bahkan hadits palsu.ini masalah agama jangan asal memilih betul apa yang telah ditulis mas assamar: rosulullah saw bersabda umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, hanya 1 masuk surga dan 72 terancam neraka siapa itu yang masuk suraga yaitu yang mengikuti alquran dan sunnah, itu rosulullah yang bersabda bukan saya.
    di negara kita banyak yang bertawasul ke pada para wali, dan orang soleh yang udah meninggal, mereka itu orang yang hapal hadits bahkan hapal alquran tapi mereka ga bisa membedakan antara tauhid dan syirik. maaf yah mas kita berdiskusi dengan kepala dingin kalau memang pendapat mas lebih benar menurut alquran dan sunnah pasti saya akan ikut kebenaran tapai kalau pendapat mas belum benar saya akan mengikutin bahwa bid’ah itu dolalah saya percaya perkataan rosulullah bukan perkataan ulama2 di kita yang salah menafsirkan hadits.
    Jawaban ana:
    kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawaiqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi’i, menulis surat berisi nasehat: Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A’dham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.
    Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah kelompok terbesar.
    Dari sini sendiri anda bisa berpikir …?
    El_Muhibbin said:
    @lela lestari: meskipun mereka orang kafir amalnya itu ya g da yang keterima,kalo itu ana ya tau mbak lela
    sekarang ana juga mau nanyak juga sama antum,Lebih pinter mana orang seperti Imam Madzhab sama ulama-ulama wahabi sekarang yang sukanya menbid’ahkan orang yang tidak sepemahaman dengan mereka…?
    jawab:
    kami2 bermadzhab salaf(sahabt) kalau antum menghina ulama salaf berarti antum menghina sahabt, adapun al-imam muhammad bin abdul wahab adalah seorang ulama terkenal,mujaddid ketauhidan pada abad ke 14 beliau berdakwah dengan mengungkapkan kesalah fahaman umat islam semasa beliaw, tentang hakekat tauhid, beliau telah berhasil mengungkap dengan gamblang hakekat pertentangan antara Nabi muhammad SAW dengan orang musrik dahulu. waduh jadi ga enak masa seorang permpuan telah mendakwahi laki2 kemana aja kalain selama ini.tolong dakwahnya dengan lemah lembut yah biar orang bisa menerima.
    Jawaban ana
    Lho,yang menghina sahabat itu lho sapa,jangan memfitnah…!.Emangnya Imam-imam madzhab g perpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadits apa meraka itu lebih pinter dari sahabat nabi.Mereka itu sanagat hati-hati mbah dalam masalah agama,orang orang jaman sekarang ini y g ada apa-apanya mbak disbanding dengan mereka.Apaka mereka itu Bodoh bodoh sementara Muhammad Bin ‘Abdul Wahab aja yang pinter…,jawab…?

  • riariani said:

    @ lela lestari
    kami selalu mendo’akan orang2 yang sudah meninggal dan yang belum meniggal walaupun mereka{wahabi}, tetap kami do’akan jangan khawatir…termasuk albani,syekh abdul wahab,dan lela lestari semoga alloh mengampuni dosanya amin…………
    tidak ketnggalan ibnu taimiyah,amrozi cs..
    semoga di terima amal ibadahnya dan di ampuni dosanya AL-FATIKHAH….3X…

  • lela lestari said:

    elfasi:
    mas tolong di baca lagi arti bida’h sesungguhnya
    sekedar mengingatkan aja.mas lebih percaya sama perkataan ibnu Taimiyah yang sumbernya ga pasti seperti mas fanatik sama madzhab safei yang beliau juga ga pernah mencontohkan maulid nabi, adapun perayaan ulang tahin itu hanya di contohkan sama orang nasrani, apakah anak mas juga di ulang tahunin apa bedanya dengan maulid nabi sama2 ulang tahun kan dan lebih parah lagi orang syiah melakukan 6X perayaan dalam satu tahun ga usah di sebutkan sy udah tulis di atas, berarti mas termasuk di antara kedua golongan tadi dong yah udah kita beda faham dong
    semoga mas di kasih hidayah sama Allah, kita sama2 belajar mas.

    perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :

    [1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan- penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya) . Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.

    [2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

    MACAM-MACAM BID’AH

    Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

    [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

    [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

    [a]. Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

    [b]. Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

    [c]. Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    [d]. Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

    HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN

    Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak”.

    Dan dalam riwayat lain disebutkan :

    “Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”.

    Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak.

    Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.

    Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ahnya perkataan-perkataan orang-orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya. Ada juga bid’ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yang merupakan maksiat seperti bid’ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh) .

    Catatan :
    Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.

    Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !

    Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan , baik lahir maupun batin.

    Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya” .

    Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan “itu bid’ah” maksudnya adalah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.

    Dan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.

    Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok- kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid’ah dalam Ad-Dien.

    Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.

  • riariani said:

    @ lela lestari
    he..he..he..anda mngatakan muhammad bin abdul wahab hidup pada abad 14,SUNGGUH ANDA TELAH BERDUSTA.
    anda tidak pernah belajar tarikh islam,
    satu bukti nyata kebodohan dan kedangkalan anda,satu lagi anda telah menebar fitnah kepada guru anda sendiri.
    masih mau ngeyel…….!!!!!!!?????????
    untuk melanjutkan diskusi anda harus berani mengakui kesalahan anda dulu..!!biar tidak asal njeplok lambemu!!berani berbuat berani bertanggung jawab sebagai muslim sejati…
    anda berani???

  • El_Muhibbin said:

    @riatiani: percuma saja mereka itu tetap saja selalu kalo nanyak mbulet aja dari dulu.Dia kira ulama-ulama madzhab itu menyelisihi akan sahabat,padahal seluruh dunia mengakui keilmuan daripada imam mazhab yang empat itu.

    @lela lestari:

    Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.

    jawaban ana:

    berarti sahabat sendiri melkukan sesuatu yang belom pernah dilakukan oleh Rasulullah kan…?.Apkah ini termasuk bid’ah atau gimana…?

  • aldj said:

    @all
    kelihatan pd kerepotan ya,menghadapi wahabi?
    kalian saling mengeluarkan hadits yg shahih,g sadar tuh klu anda2 yg pegang sunnah ternyata saling berbenturan.hujat menghujat lg.
    sudah dikasi tau sama rosul
    “klu tdk mau sesat pegang alquran n ittrah ahlulbait rosul”
    sdh terbuktikan klu pegang sunnah ternyata pada ribut?
    yg satu bilang sunnah rosul,yg satu bilang sunnah rosul,tp ko beda n ribut?
    klu anda pegang ittrah ahlul bait rosul,pernyataan2 wahabi soal kecil utk disanggah.
    Mereka2 ini(wahabi) yg menjauhkan kita dr ahlulbait.krn ajaran maulid,tawasul,wirid,ratib,tahlil, dll yg dianggap bid’ah oleh wahabi adalah ajaran ahlulbait yg bersambung ke rosulullah.
    baca tulisan sy sebelumnya
    salam…

  • riariani said:

    @ lela lestari
    jawab doeloe pertanyaan ana..

  • lela lestari said:

    El_Muhibbin:
    percuma di terangkan secara detil masalah bid’ah kalau hatinya masih tertutup ga bakalan nyambung.baca lagi coba sekali lagi yang di atas, fahami masa saya harus diulangi terus, anda sebagai orang yang berpendidikan dan pinter harusnya faham dong.

  • cah njeporo said:

    @lela lestari: anda mnulis
    Catatan :
    Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.
    Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !
    Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan , baik lahir maupun batin.

    Jawab : perlu kalian ketahui, didalam hadist trsbt setelah lafadz َكُلَّ بِدْعَةٍ berarti setelahnya ada sifat yg dibuang karena jatuh setelah nakirah, ya’ni: َكُلَّ بِدْعَة تخالف الكتاب والسنة
    Penjelasannya spt ini :
    Hadits tsb lafadzdnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm yang Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).
    Keumuman trsbt d khususkan dg sabda rasul saw :
    من ابتدع بدعة ضلالة لا ترضى الله ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها, لا ينقص من أوزارهم شيئ (أخرجه الترمذي 2677)
    Barang siapa yg mebuat perbuatan bid’ah yg dholalah, yg tdk menjadikan Allah & Rasulnya ridho, maka dia mendapatkan dosa sbgaimana dosanya org yg mengamalkanya.

    meski hadits tersebut memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:
    تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف:25) اي : كُلَّ شَيْءٍ يقبل التدمير
    Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum ‘Ad telah menghancurkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kull”.
    contoh lagi:
    Didalam ayat alqur’an وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)
    artinya: Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?? Al Anbiyaa’ 30

    Apakah semua yang hidup itu terbuat dari air ???
    jin dan Malaikat apakah terbuat dari air ???
    قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

  • muhibbin said:

    @ lela lestari, udah dikupas tuntas ada di bid’ah dholalah apakah itu ?, buka aja n baca baik2 , liat jawaban orang2 wahabi semacam anda muter2 gak terarah.
    Jawab aja, kullu bid’atin dholalah, apakah kullu berarti semua secara mutlak ? dan man ahdtsa fii amrina hadza maa laisa minhu fahua roddun, yang dimaksud maa laisa minhu itu apa ? bukankah tidak ada pentahriman di dalam syari’at islam akan pembacaan siroh Nabi ? dan sekarang anda mengharamkannya, itulah namanya mengada2 dalam urusan agama. Syari’at aja gak mengaharamkan, kok nt mengharamkan.
    Jangan menuntut dalil kesunahan maulid, karena gak ada yang menyatakan maulid itu sunnah, tapi kami menuntut dalil yang jelas pengharaman maulid, bukan dari nt dan ulama’ nt yang masih dangkal ilmunya dalam mengartikan kullu bid’atin itu .

  • muhammadon said:

    @ lela lestari, lagi2 gini ini orang wahhabi, jawabannya kok mbulet dan muter2 lagi….. jawab aja dulu pertanyaan ane di atas, klo anda katakan semua bid’ah itu apa yang gak pernah dilakukan Nabi dan gak ada dasarnya, sekalian aja bid’ahkan dan sesatkan imam masjidil Haram, syekh anda Sudais, dia kan yang mengada2 dalam urusan agama, kok bisanya mengadakan shalat tahajjud berjamaah ?
    Bid’ahkan juga ustad2 anda, kok bisanya mengadakan KULTUM, padahal semua itu gak pernah dilakukan Nabi, sahabat dan tabi’in ??
    Mbak klo ngasih contoh yang komplit ya, nih ana tambahin lagi :
    [a]. Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran, shalat tahajjud berjama’ah oleh Sudais yang tidak disyari’atkan (di masjidil Haram lagi), acara penyambutan Raja Saudi untuk musuh Allah, Bush ketika dating ke Saudi (daerah syekh wahhabi) dengan tari2an dan lain sebagainya.
    [b]. Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar, menambahi adzan Jum’ah menjadi dua kali oleh syd Utsman .
    Mbak, ulang tahun apa sama dengan maulid ? apakah dalam ulang tahun membaca siroh Nabi, bersholawat, berdzikir ?, atau cuman nyanyi2 kayak orang nasrani ?? jawab mbak/ibu lela !!!
    Klo pernyataan syd Umar dengan menggunakan kalimat bid’ah kok anda arahkan secara bahasa, padahal anda katakan setiap bid’ah sesat ? apakah syd Umar gak ngerti apa arti bid’ah ataukah anda yang memang sok lebih ngerti dari syd Umar ?… anda ini mau mengkaburkan pengertian bid’ah itu sendiri, klo anda pandang juga dari segi bahasa, kenapa ulama’ yang membagi bid’ah ada dua itu gak anda katakan karena meliat dari segi bahasa ??
    sekali lagi, jangan muter2 lagi bawa tulisan panjang lebar karena kami udah baca kitab2 nt yang berbahasa arab, lagi2 dalil2nya itu2 aja apa gak hapal ama hadits lainnya ?, padahal smuanya jg gak ada yang menyatakan maulid haram..

  • forsan salaf (author) said:

    @ all pengunjung, untuk lebih teratur dan fokus dalam pembahasan, kami harap tidak keluar dari artikel pembahasan bid’ah di artikel “bid’ah dholalah, apakah itu? “, pembahasan tawasul diartikel “ hukum tawasul “, pembahasan maulid di artikel “ maulid dalam al-Qur’an dan Hadits “. Dan silahkan berkomentar dengan santun dan ilmiah.
    Sekali lagi kami beritahukan, kami tidak akan mengapprove komentar hasil copypaste disini, biar diskusinya bisa dipertanggung jawabkan.

  • riariani said:

    ana di cuekin lela lestari……
    atau emang ngga’ bisa jawab???
    ayo jawab……..

    @ lela lestari
    teroris yang di tembak kemarin masuk surga apa neraka ???
    selamat dari siksa kubur apa ngga’ ya??
    koq keluarganya ngga’ mau berkirim do’a ya???
    kamu mau besok setelah mati nggga’ di kirim do’a???
    padahal ada hadistnya lho……shokheh lagi……..salaf banget gtu lho…..

  • dayak said:

    @lela lestari :
    Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :
    [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah
    [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah
    anda juga membagi bid’ah dlm Perbuatan adat istiadat (kebiasaan)
    PADAHAL SYEKH ABDUL WAHAB MEMBAGI BID’AH MENJADI DUA: YAITU BID’AH DINIYAH N BID’AH DUNYAWIYAH.
    sedangkan aswaja membagi bid’ah ada yg hasanah n ada yg sayyi’ah, dipertanyakan oleh wahabi dalil pembagian itu dari mana !!!

    skrg saya mau tanya, adakah dalil dari hadist yg membagi bid’ah spt pembagian anda diatas?
    ana minta anda jwb dulu yg ini aja, pendapat yg lain anda jwb nanti aja.insya allah mereka setuju.
    WAHAI PENGUNJUNG SAKSIKAN AJA DALIL MANA YG AKAN DI PAKE WAHABI DLM MEMBAGI BID’AH SPT YG DIKATAKAN LELA.

  • Assamar said:

    Banyak yang nanya kepada saya ya ?? baiklah, InsyaALLAH saya akan mencoba menjawabnya :

    @ Armand :
    Singkat saja mas, siapa-siapa saja itu yg anda maksudkan dgn salafus shalih? Tolong deh disebutin nama-nama mrk agar jika kita menerima riwayat dari bukan nama-nama mrk, maka akan langsung kita tolak.

    Saya jawab :

    Yang dimaksud dengan Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.

    @ riariani :

    satu sisi anda membenci maulid,satu sisi and melakukan maulid.
    mau bukti..??
    apaakah anda mengenal ayub al anshori???
    apakah orang yang merayakan maulid itu PASTI sasat dan masuk neraka??
    kembali ana tanya sama antum, apakah semua orang yang melakukan maulid nabi muhammad s.a.w. pasti sasat dan masuk neraka??
    Saya jawab :
    Bukti apa yang menyatakan saya merayakan maulid ?? Untuk Ayub Al Anshori saya belum pernah mengenal apalagi melihatnya, tapi apakah itu Abu Ayyub Al Anshori ???
    Orang yang melakukan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak disangsikan lagi bahwa mereka adalah orang yang sesat , dan orang yang tersesat di jalan ALLAH Ta’ala tentunya akan berakhir di dalam neraka, wal iyadzubillah…
    Kita bermohon kepada ALLAH Ta’ala agar kita diselamatkan dari kesesatan yang nyata. Shalawat dan Salam selalu tercurahkan kepada Rasullullah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, keluarganya dan pengikutnya hingga akhir jaman nanti.

    @ fulan :

    klo begitu bid’ah itu apa dong? kok nt bawa2 nama ibnu taimiyah, kan beliau memperbolehkan maulid tlg baca artikel wahabi-salafi menentang syeikh ibnu taimiyah

    saya jawab :

    bid’ah secara bahasa adalah segala perkara yang tidak ada di jaman Nabi. Sedangkan secara syariat adalah perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasullullah dan disandarkan kepada agama.
    Mengenai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau adalah salah seorang ulama Salaf dan senantiasa berjalan diatas Alqur’an dan As Sunnah, beliau pun sangat menentang acara maulid yang beliau katakan bahwa itu adalah menyerupai kaum Nasrani dalam memuji Nabi Isa alaihisalam.

    @ El Muhibbin :

    Antum wrote :

    Alhamdulillah, saya pengikut manhaj salaf…tp anda salah bila mengatakan saya pengekor Syaikh Albani ! tidaklah ada seorang yang mengaku salaf tapi dia mengekor/fanatik kepada seseorang. Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya, tidak lebih daripada itu !( ini kan testimoninya antum)Tadi anda bilang tidak mengekor/fanatik pada Al-Bani,atau ibnu taimiyah atau itu Syaikh Alu Syaikh atau Syaikh Ustaimin atau pada siapapun atau siapalah itu terserah antum.Ana mau nanya kepada orang-orang wahaby/salafy yang selalu bilang kami tidak mengekor kepada ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin atau pada siapapun atau siapalah itu terserah antum tapi kenapa orang orang wahabi/salafy itu selalu merujuknya kepada kitab2nya orang orang seperti yang ana sebutin ditas tadi…?. Dan kalo antum bukan pengekornya ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin atau pada siapapun itu kenapa anda begitu ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid nabi itu bid’ah…?.Padahal Ulama-Ulama dahulu yang kita sendiri dan ana sendiri terutama sudah tau keshalohennya dan kehati2annya dalam agama tidak mengatakan maulid nabi itu bid’ah(kecuali ulama-ulama wahaby),orang-orang wahaby itu lho orang kapan kok dengan gampangnya ngomong seperti itu.Kalo mau mempelajari ilmu agama itu harus dengan hari dan jiwa yang bersih bro,jangan dengan nafsu karena nafsu itu datangnya dari setan.Semoga kita dilindungi oleh Allah S.W.T berkat Nabi Muhammad S.A.W dari setan dan iblis yang terkutuk, Amiin…

    ana jawab :

    Ya betul itu, kami senantiasa merujuk kepada kitab2 mereka, tapi tidak terlalu fanatik kepada mereka. Yang kita fanatikkan hanyalah kepada Rasullullah.
    Kami memang ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid itu bid’ah dholalah !!! dan kami ngotot karena kami bersandar bahwa Nabi tidak pernah merayakan hari kelahirannya !! dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah (terpercaya) .
    Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA.

    Antum wrote lagi :

    Kalo mau mempelajari ilmu agama itu harus dengan hari dan jiwa yang bersih bro,jangan dengan nafsu karena nafsu itu datangnya dari setan.Semoga kita dilindungi oleh Allah S.W.T berkat Nabi Muhammad S.A.W dari setan dan iblis yang terkutuk, Amiin…

    Ana jawab :

    Malah kalian lah yang harus sadar bahwa kalian lah yang senantiasa yang diliputi hawa nafsu dalam menyandarkan segala sesuatu perkara ibadah kepada agama yang jelas2 tidak ada tuntunannya. Bila orang yang mengikuti hawa nafsu maka dia akan terus dihantui bahwa Islam itu tidak afdhol bila tidak ditambah, bahkan harus dilakukan apabila itu kebaikan….naudzubillahi min dzalik !!
    Maka siapa kah yang tertipu diantara kita ???????????

    Antum wrote maning :

    Emangnya kenapa kalau saya pengikut manhaj salaf ? ada yang salah dengan manhaj salaf, seperti yang kalian pikirkan selama ini ?(ini kan juga testimony antum),sekarang ana balik tanyak ke antum juga,salaf yang mana yang anda ikuti,apa ulama-ulama wahaby yang anda ikuti?

    Ana jawab :
    Telah berlalu yang saya tuliskan Manhaj Salaf yang harus kita ikuti..silahkan dibaca ulang.

  • Assamar said:

    afwan, saya mencoba menjawab apa yang ditanyakan kepada Ukhti Lela.

    @ riariani :
    teroris yang di tembak kemarin masuk surga apa neraka ???
    selamat dari siksa kubur apa ngga’ ya??
    koq keluarganya ngga’ mau berkirim do’a ya???
    kamu mau besok setelah mati nggga’ di kirim do’a???
    padahal ada hadistnya lho……shokheh lagi……..salaf banget gtu lho…..

    saya jawab :

    teroris yang ditembak itu tidak disangsikan lagi bahwa mereka jauh melenceng dari ajaran Islam yang murni. Mereka adalah kaum Khawarij, kaum sempalan atau kaum sesat pertama dalam Islam dan nyata tempat mereka di neraka !!

    Mereka telah dinyatakan oleh Rasullullah sebagai ” kilabunnaar ”

    الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ
    “Khawarij adalah anjing-anjing neraka.”
    (HR.Ibnu Majah no.173, dari Ibnu Abi Aufa radhiallahu anhu)

    dan sebuah riwayat dari Abu Umamah radhiallahu anhu melihat kepala-kepala (kaum khawarij) yang dipajang di tangga masjid Damaskus, lalu Abu Umamah berkata

    كِلَابُ النَّارِ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ خَيْرُ قَتْلَى من قَتَلُوهُ

    “anjing-anjing neraka, (mereka) seburuk-buruk yang terbunuh dibawah kolong langit, dan sebaik-baik yang terbunuh adalah yang mereka bunuh.”
    Lalu Abu Umamah berkata : sekiranya aku tidak mendengar hadits ini (dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam) sekali,dua kali sampai tujuh kali, aku tidak akan memberitakannya kepada kalian.”
    (HR.Tirmidzi : 3000)

    perihal keluarga mereka tidak mengirim doa…itu terserah mereka, wallahu a’lam

  • Assamar said:

    @ Cah njeporo :

    antum wrote :

    perlu kalian ketahui, didalam hadist trsbt setelah lafadz َكُلَّ بِدْعَةٍ berarti setelahnya ada sifat yg dibuang karena jatuh setelah nakirah, ya’ni: َكُلَّ بِدْعَة تخالف الكتاب والسنة
    Penjelasannya spt ini :
    Hadits tsb lafadzdnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm yang Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).
    Keumuman trsbt d khususkan dg sabda rasul saw :
    من ابتدع بدعة ضلالة لا ترضى الله ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها, لا ينقص من أوزارهم شيئ (أخرجه الترمذي 2677)
    Barang siapa yg mebuat perbuatan bid’ah yg dholalah, yg tdk menjadikan Allah & Rasulnya ridho, maka dia mendapatkan dosa sbgaimana dosanya org yg mengamalkanya.

    meski hadits tersebut memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:
    تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف:25) اي : كُلَّ شَيْءٍ يقبل التدمير
    Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum ‘Ad telah menghancurkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kull”.
    contoh lagi:
    Didalam ayat alqur’an وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)
    artinya: Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?? Al Anbiyaa’ 30

    Apakah semua yang hidup itu terbuat dari air ???
    jin dan Malaikat apakah terbuat dari air ???
    قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”

    ana jawab :

    metode macam apa yang antum kemukakan ini ?????
    SUATU HADIST SHOHIH LALU ANTUM BENTURKAN/HANTAMKAN KEPADA SUATU AYAT ALQUR’AN ???? LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….
    bila suatu hadist yang berarti umum lalu ada pengkhususnya, maka ini sama saja menerima satu ayat tapi menentang ayat yang lain.
    coba kalian semua perjelas kepada saya, aqidah apakah yang antum anut ini ?? mana mungkin orang mukmin mau berbuat seperti itu ???

    bahwa sesungguhnya aqidah yang benar dan lurus adalah menerima dengan tulus dan ikhlas semua dalil shahih tanpa ada akal masuk ke dalamnya.
    bahwa kita mengimani semua dalil shahih tanpa mengutak-atiknya dengan akal dan hawa nafsu, karena bila demikian yang antum lakukan maka yang ada hanyalah kesesatan.

  • Assamar said:

    TO ALL PECINTA BID’AH ( para habib2, sufi, author forsansalaf, cah njeporo, riariani, el muhibbin, dayak, muhammadon, dan siapa saja mengikuti mereka !! )

    Sudah panjang lebar telah saya paparkan diatas bahwa tidak ada kebaikan dalam perkara bid’ah.
    Bid’ah bukan dari ajaran agama yang mulia ini, dan Islam berlepas diri dari segala macam bentuk bid’ah !!
    bid’ah adalah lebih disukai oleh para iblis dan tentaranya daripada pelaku maksiat !! kenapa ??
    karena para ahlul bid’ah susah bertaubat sebab mereka menyangka bahwa dirinya membuat suatu kebaikan dalam agama (padahal sebenarnya tidak!)
    sedangkan pelaku maksiat, mereka tahu bahwa itu adalah kesesatan dan mereka kemungkinan bisa bertaubat !!!

    Yang saya lihat adalah kalian hanyalah mencari pembenaran dari perbuatan kalian tapi bukan mencari kebenaran !!!
    Berapa banyak ayat Alqur’an yang agung kalian terima sebagian dan menolak sebagiannya lagi ??? Berapa banyak hadist yang kalian pertentangkan ??? berapa banyak atsar sahabat yang kalian perselisihkan ??? berapa banyak pendapat ulama yang kalian perdebatkan ???
    Maka ketahuilah para ahlul bid’ah, setiap orang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan ALLAH !! dan bertanggung jawablah kalian atas perbuatan2 itu !!

    Kalian dengan tega membuatkan suatu perayaan yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam Islam dan dinisbahkan kepada junjungan kita semua Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang maksum.

    Kalian dengan tega menghalalkan perayaan itu hanya karena mengikuti para ulama yang hidup setelah Rasullullah ????
    lalu siapakah yang anda ikuti, Rasullullah atau para ulama ????

    mohon maaf, saya bukannya tidak menghargai para ulama tapi dalam masalah ini saya tentunya lebih ikut kepada Rasullullah dan itulah sebaik-baik cinta kepada Rasullullah.

    DEMI ALLAH…
    saya mencintai ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.
    saya mencintai Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam…
    saya mencintai para sahabatnya dan yang mengikutinya dengan baik…
    dan saya mencintai para ulama pengikut Rasullullah….

    Bagi kalian demi menghalalkan segala perbuatan bid’ah maka kalian selalu saja yang dijadikan hujjah adalah perbuatan Sahabat Umar dan Utsman radhiyallahu anhuma ajmain tentang apa2 yang mereka ijtihad kan terhadap shalat tarawih berjamaah dan adzan 2x di hari Jum’at.
    lantas ada yang berdalih :
    ” bukankah para wahaby mengatakan semua bid’ah adalah sesat ? jadi para sahabat sesat donk ??

    maka sekali lagi kita katakan :

    betul… kita harus mengikuti para sahabat karena mereka para Salafus Shalih.
    Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa2 yang telah dilakukan oleh para Sahabat adalah sesat, para Sahabat tidak lah sesat, bahkan mereka lah yang telah dijamin oleh ALLAH dan RasulNYA sebagai penghuni surga.

    perihal shalat tarawih 20 rakaat dan adzan 2x di hari Jum’at saya tidak mengingkari adanya itu, tapi bila anda berpikir dengan jernih : SIAPAKAH YANG ANDA IKUTI, RASULLULLAH atau PARA SAHABAT ????? tentunya kita harus lebih mendahulukan Rasullullah, iya kan ???

    kalau Rasullullah tidak melakukan apa yang dilakukan oleh sahabat, maka sebaiknya kita lakukan saja apa yang dilakukan di jaman Rasullullah, yang tidak ada lebih baik tinggalkan saja.

    tapi kebanyakan dari kita adalah, kita selalu saja mendahulukan sunnah para Sahabat daripada sunnah Rasullullah itu sendiri, betul tidak ???

    berapa banyak masjid di negeri ini melakukan adzan 2x di hari Jum’at ??????
    berapa banyak masjid di negeri ini melakukan shalat tarawih 20 rakaat ??????
    semua pasti tahu : BANYAK SEKALI ALIAS MAYORITAS !!!!

    LALU DIKEMANAKAN SUNNAH RASUL NYA ?????

    Wahai para Ahlul Bid’ah, ingatlah kalian kepada sabda Rasullullah :

    ” akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim).

    dari :
    Muhammad Assamar bin Asrar
    (Abu Aisyah Al Makassary)

  • Assamar said:

    tambahan :

    mungkin ada yang berkata lagi :
    kami mengikuti sahabat berarti kami mengikuti Rasullullah juga.

    lalu kita jawab :

    alangkah lebih indahnya apabila kita menetapkan diri terhadap apa2 yang telah ditetapkan oleh Rasullullah sendiri ??

    saya tidak mengatakan bahwa saya menentang sahabat ! tapi saya lebih nurut apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah dan begitulah sebaik-baik cinta kepada Rasullullah.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)

    Ibnu Abbas radhiyallahu anhu pernah berkata : ” hampir saja bebatuan jatuh dari langit, saya berkata ” Rasullullah bersabda…”, lalu kalian berkata ” padahal Abu Bakr dan Umar berkata begini dan begitu “

  • muhammadon said:

    @ assamar, anda katakan :” SUATU HADIST SHOHIH LALU ANTUM BENTURKAN/HANTAMKAN KEPADA SUATU AYAT ALQUR’AN ???? LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….bila suatu hadist yang berarti umum lalu ada pengkhususnya, maka ini sama saja menerima satu ayat tapi menentang ayat yang lain.”
    == mas, justru kamilah yang mau mempertanyakan kepada anda, metode apa yang kalian pake, aliran apa yang anda anut ?. anda dan orang2 wahabi dari dulu pembahasannya gak pernah beres,
    Gini aja mas, gak usah terlalu berkelumit dengan menampilkan dalil2 yang gak sesuai untuk anda paksakan dalam mengharamkan maulid, klo anda menetapkan semua bid’ah adalah sesat dengan memandang lafdh kullu berlaku secara umum, jawab aja pertanyaan ane berikut :
    1. kenapa anda masih membagi lagi bid’ah dengan macam2nya ? kenapa anda bagi bid’ah dari sisi bahasa dan syari’at lagi ?
    2. apakah kalimat bid’ah dalam hadits itu adalah bid’ah secara bahasa ataukah secara syar’i ?
    Klo anda katakan itu bid’ah secara syariat (definisi anda : perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah), lantas gimana menurut anda dengan perbuatan para sahabat berikut : Syd Utsman memerintahkan untuk adzan 2 kali ketika shalat Jum’ah. Pembukuan al-Qur’an di masa kekhalifaan syd Abu Bakar, padahal tidak dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah ??.
    3. Gimana juga dengan apa yang dilakukan oleh syekh anda Sudais mengadakan shalat tahajjud berjamaah di masjidil haram, padahal tidak dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah ??
    4. Gimana perayaan penyambutan musuh Allah, Bush ketika kunjungannya ke Saudi (negeri syekh2 anda), apakah anda mengharamkan orang mengagungkan Rasulullah, tapi anda halalkan penghormatan kepada musuh Allah ??
    5. Gimana dengan pernyataan syd Umar “ni’matil bid’ah hadzihi”, beliau menggunakan kalimat bid’ah, apakah beliau tidak mengetahui kalo kalimat itu untuk sesuatu yang sesat saja ? klo anda katakan dari segi bahasa, bukankah definisi bid’ah dari segi bahasa menurut anda adalah “perkara yang tidak ada di jaman Nabi”. Berarti syd Umar telah melakukan apa yang tidak ada dan tidak dicontohkan oleh Nabi ?? bukankah ini masuk dalam hadits yang anda anggap keumumamnnya pada semua bid’ah yang berarti syd Umar telah melakukan kesesatan ?
    Gimana tu smua mas, gak usak bawa dalil lagi lah…. Gak pernah ada kejelasan untuk menyatakan keharaman maulid, itu aja anda jawab ana tunggu secepatnya…….

  • aldj said:

    @assamar
    sy telaah kata2 anda:
    kt anda:
    Kebenaran mutlak hanya SATU !! sebagaimana hadist yang telah kita ketahui bersama bahwa Umat Islam akan terbagi 73 golongan dan hanya satu yang masuk SURGA, yang lainnya di NERAKA !!
    kt sy:
    kita lihat siapa yg menurut anda masuk NERAKA
    kt anda:
    lantas ada orang yang mengaku bahwa dialah juga yang masuk SURGA…eitss, tunggu dulu, kita telusuri lagi siapa yang sebenarnya orang yang akan selamat itu..

    1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
    “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

    kt sy:
    perhatikan bhw di sini ada kt2 MENGIKUTI SAHABAT

    kt anda:
    Walhasil golongan yang selamat adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.

    kt sy:
    skrg SAHABAT di tinggalkan

    kt anda:
    Yang dimaksud dengan Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.

    kt sy:
    1.skrg anda mulai memilah2 sahabat(yg paham betul),terlihat anda tdk konsisten.
    sahabat yg paham betul?ini siapa?.disini akan terlihat subyektifitas anda,utk memilih siapa sj itu sahabat
    2.sekarang perhatikan bhw ulama ahli tafsir termasuk dlm salafussahaleh,tentu sj sesuai kalimat anda sebelumnya mesti di ikuti

    kt anda:
    Ya betul itu, kami senantiasa merujuk kepada kitab2 mereka, tapi tidak terlalu fanatik kepada mereka. Yang kita fanatikkan hanyalah kepada Rasullullah.
    kt sy:
    skrg anda katakan
    1.hanya merujuk,tp tdk mengikuti salaf/ulama
    2.fanatik hanya kpd rosulullah,perhatikan..!,sahabat,salafussahaleh n ulama sdh tdk masuk katagori
    kt anda:
    dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah
    kt sy:
    adakah hadits shahih yg tdk betul2 diucapkan oleh rosul.?
    kt anda:
    Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA.
    kt sy:
    1.nah sekarang ulama hujjahnya tdk bs dipakai,n jd ulama ada yg menentang dalil.?anda jd tdk konsisten lg.
    2.krn ketidak konsistenan anda dlm mengikuti n taat,tolong anda sebutkan kita mesti taat kpd siapa berdasarkan dalil quran?
    kt anda:
    Telah berlalu yang saya tuliskan Manhaj Salaf yang harus kita ikuti..silahkan dibaca ulang.
    kt sy:
    sy bc ulang2 ko membingungkan,pake quran aja biar jelas mana yg mesti diikuti
    kt anda:
    Kalian dengan tega menghalalkan perayaan itu hanya karena mengikuti para ulama yang hidup setelah Rasullullah ????
    lalu siapakah yang anda ikuti, Rasullullah atau para ulama ????
    kt sy:
    nah bingungkan,kt kedua2nya mesti diikuti,ko bertentangan?
    kt anda:
    bahwa sesungguhnya aqidah yang benar dan lurus adalah menerima dengan tulus dan ikhlas semua dalil shahih tanpa ada akal masuk ke dalamnya.
    bahwa kita mengimani semua dalil shahih tanpa mengutak-atiknya dengan akal dan hawa nafsu, karena bila demikian yang antum lakukan maka yang ada hanyalah kesesatan.
    kt sy:
    1.jd tmbh bingung,aqidah yg benar n lurus ini yg mana?ktnya yg ngikuti rosul,sahabat,salaf n ulama,ko skrg ikut semua hadits yg shahih?
    2,eh..menerima semua dalil shahih,pd hal anda ktkan sebelumnya “hadits shahih yg betul2 dr rosul”? g semua dong hadits shahih?,wah…tmbh bingung…
    3.pake bw2 akal lg,pdhal kan dlm alquran allah menyuruh kita menggunakan akal?jd allah menyuruh kita jd sesat?
    kt anda:
    betul… kita harus mengikuti para sahabat karena mereka para Salafus Shalih.
    Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa2 yang telah dilakukan oleh para Sahabat adalah sesat, para Sahabat tidak lah sesat, bahkan mereka lah yang telah dijamin oleh ALLAH dan RasulNYA sebagai penghuni surga.
    kt sy:
    coba kita lihat kalimat berikutnya…
    kt anda:
    perihal shalat tarawih 20 rakaat dan adzan 2x di hari Jum’at saya tidak mengingkari adanya itu, tapi bila anda berpikir dengan jernih : SIAPAKAH YANG ANDA IKUTI, RASULLULLAH atau PARA SAHABAT ????? tentunya kita harus lebih mendahulukan Rasullullah, iya kan ???
    kt sy:
    skrg sahabat n rosul pd posisi yg bertentangan,
    sahabat telah melakukan bid’ah.dan kita disuruh meninggalkan sahabat dlm urusan ini,pdhal kalimat diatas ada kata2 kita harus mengikuti sahabat.
    dan dr awal anda sdh katakan bhw bidah itu sesat,n tempatnya di neraka.
    jd sahabat tempatnya dineraka?.
    eh..tau2 anda katakan para sahabat tdk sesat n mereka sdh dijamin masuk surga
    mana yg benar?
    KESIMPULAN:
    penjelasan anda semuanya ini adalah ASBUN..!
    klu anda tdk mau dikatakan ASBUN,berikan sy dalil QUR’AN ttg siapa yg mesti ditaati n di ikuti? spy kita tdk SESAT..!
    krn dalil hadits pun anda tdk konsukwen

    salam…

  • lela lestari said:

    muhammadon:
    anda ini perlu belajar usul bid’ah dulu mas lalu di fahami….ga ngerti2 jendel amat sih..?

  • riariani said:

    @ assamar
    khulafaurrosidin pernah mencium wangi keringatnya rosululloh kamu anggap sesat……..???
    astaghfirulloh…salut sama ilmu ngawur anda,
    rosululloh dan khulafaurrosidin tidak bisa di pisahkan fiddunya wal akhirat.
    anda boleh menuduh kami ahli bid’ah dan kami ikhlas, tapi jangan kepada khulafaurrosidin dan para salafussoleh.
    anda lebih percaya fatwanya al bani dkk,dari pada 4 mazhab(salafussoleh)…..
    innalillahi wainailaihiroji’un……

  • El_Muhibbin said:

    Dan Adalagi,kalo dithoriqahnya antum (wahaby/salafy)kan g boleh memuji Rasulullah S.A.W,tapi kenapa anda mengatakan (Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya),katanya memuji Rasulullah S.A.W g boleh,kenapa anda mengatakan memuji albani,apakah itu bukan termasuk bid’ah?.Ana jadi bingung sama thoriqahnya antum orang-orang wahaby/salafy

    Pertanyaan ini khusus untuk Assamar,soalnya ana tanya koq g dijawab-jawab

  • fulan said:

    lela lestari: coba definisikan bid’ah itu secara jelas!!!!

  • cah njeporo said:

    @muhammadun : syukron katsir atas bantuan jawabannya ya akhiy…smg Allah juga membantu qt smua dlm mencari kebanaran.

    @assamar: pertanyaan anda yg antum lontarkan ke ana…sdh d jwb akhina muhammadun dan yg lainya. kayaknya anda sdh mengakui ulama’ salafus sholeh spt imam syafi’i dll….
    Kalau imam-imam diatas dalam menentukan hukum itu tdk ngawur dalam mencetuskan suatu hukum, bukan kayak kamu yang langsung ambil dohirnya doang tanpa mengkaji ushulnya terlebih dahulu….

    LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….

    Kita sdh menyakini bahwa hadist yg sama2 sohih itu tdk mugkin berseberangan, sehingga jika ada 2 hadist yg dohirnya berbeda dan selama bisa dikumpulkan maka itu harus dikumpulkan spt hadist diatas antara
    فان كل بدعة ضلالة ditahsis dg hsdistمن ابتدع بدعة ضلالة لا ترضى الله ورسوله كان عليه مثل آثام من عمل بها, لا ينقص من أوزارهم شيئ (أخرجه الترمذي 2677)
    Sehingga artinya tidak ada yg bertentangan/berseberangan diantara 2 hadist tsb. baca selengkapnya

    Bukan menerima hadist satu dan menolak hadist yg lain kayak antum ini…MASYA ALLAH..!!! metode macam apa yang antum kemukakan ini ?????seharusnya kami yg pantas tanya spt ini sama antum. terus bgmna anda menanggapi hadist trsb????apakah rasul dg prkataanya sendiri brtentangan ???

    dibawah Ini hanya sekedar contoh, bahwa lafadz yg masih ‘AM itu bisa DITAKHSIS.
    1. وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ (albaqoroh 228) Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’.
    Ayat ini umum baik wanita yg ditalak dalam keadaan hamil atau tidak. Kemudian ayat ini ditakhsis dengan ayat yg lain وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ (attolaq 4) Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. walaupun blm smpai tsalasatu quru’

    2. hadist dalam shohihain “فيما سقت السماء العشر” sesuatu yg disirami dg air hujan maka zakatnya sepersepuluh. Hdist ini umum baik sdikit maupun banyak. Kmdian hadist ini ditakhsis dengan hadist yg sohih yg lain “ليس دون خمسة أوسق صدقة” kalau dapatnya tdk mencapai 5 wasaq maka tdk wajib zakat. Walaupun disirami dg air hujan.

    WALLAHU A’LAM BISSHOWAB.

  • elfasi said:

    @ assamar, anda katakan “Orang yang melakukan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak disangsikan lagi bahwa mereka adalah orang yang sesat , dan orang yang tersesat di jalan ALLAH Ta’ala tentunya akan berakhir di dalam neraka, wal iyadzubillah”,
    - wah hebat ya anda, bisa mengetahui dan memastikan orang masuk neraka, emang anda udah menghuni neraka sebelumnya mas ??. tolong tunjukkan satu aja dalil yang secara jelas menyatakan bahwa orang yang membaca siroh Nabi, bersholawat, berdzikir, bersedekah adalah sesat dan masuk neraka ?, klo gak ada, berarti anda telah mengada2 dalam urusan agama dengan mensyari’atkan hukum baru yang tidak pernah disyari’atkan oleh Allah dan Rasulullah SAW ? inilah hakikatnya bid’ah mas……..
    Anda katakan “ Kami memang ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid itu bid’ah dholalah !!! dan kami ngotot karena kami bersandar bahwa Nabi tidak pernah merayakan hari kelahirannya !! dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah (terpercaya) .”
    = mas, apakah semua yang tidak dilakukan oleh Nabi itu sesat dan haram ? klo ya…, berarti para sahabat itu telah melakukan kesesatan ya…? padahal mereka kan yang paling mengerti terhadap isi hadits Rasul karena menjadi orang2 yang paling dekat dengan Rasulullah !!! apakh mereka gak ngerti ya arti bid’ah yang anda doktrinkan sesat itu apa ??
    Hebat banget anda mas, bisa lebih memahami dari para sahabat dan bisa mengatakan sahabat telah melakukan kesesatan yang berakibat masuk neraka.!!
    Mas, anda dapat dalil shohih tu dari sapa, dari nenek moyang anda secara langsung, gak pake melalui sahabat ?, klo anda mengambil hadits riwayat dari sahabat, berarti hadits anda bukan shohih dong, karena anda ambil dari orang yang sesat ?
    Ane salut ma anda mas, bisa lebih mengerti hakikat hadits Nabi dari pada sahabat….
    Anda katakan “Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA. = mas, kok bisanya anda katakan para ulama’ telah mengajak orang untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya ?, apakah gak kebalik, karena kedangkalan anda (orang2 wahabi) dalam menilai suatu hadits, memahami arti dari bid’ah, sehingga kalian telah banyak mensesatkan dan mengkafirkan orang2 muslim ? , trus klo gak ngikut ulama’ mo ngikut sapa ? ngikut orang semisal anda ini, udah gak ngerti ama hadits.. sok ngerti lagi dan menvonis orang lain sesat ? anda bukan ulama’, tapi NGELAMAK ama ulama’, sapa yang mo ngikut orang sebodoh anda ini…..?
    Kata2 anda “Maka ketahuilah para ahlul bid’ah, setiap orang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan ALLAH !! dan bertanggung jawablah kalian atas perbuatan2 itu !!”, == iya mas, bersiaplah untuk mempertanggung jawabkan perbuatan anda di hadapan Allah menyesatkan dan mengkafirkan banyak kaum muslimin, bahkan gak tanggung2 mengatakan sahabat melakukan kesesatan…
    Anda katakan : “Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa2 yang telah dilakukan oleh para Sahabat adalah sesat, para Sahabat tidak lah sesat, bahkan mereka lah yang telah dijamin oleh ALLAH dan RasulNYA sebagai penghuni surga.” ,
    == gimana anda gak menyatakan mereka sesat, buktinya anda telah menvonis rata orang yang melakukan bid’ah pastinya sesat dan masuk neraka, dari sini kan udah bisa diketahui, klo anda telah menvonis syd Utsman masuk neraka karena melakukan bid’ah merubah adzan Jum’ah menjadi dua kali. Disamping itu anda berarti telah menyatakan bahwa Imam Syafi’i juga sesat padahal anda beliau termasuk salafussholeh untuk diikuti karena beliau telah membagi bid’ah menjadi dua sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim disebutkan dalam kitab fath al-baari juz 20 hal. 330 :
    قالَ الشَّافِعِيّ ” الْبِدْعَة بِدْعَتَانِ : مَحْمُودَة وَمَذْمُومَة ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّة فَهُوَ مَحْمُود وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوم
    Berkata Imam Syafi’i “ bid’ah ada dua macam : mahmudah dan madzmumah. Apa yang sejalan dengan sunnah Nabi, maka mahmudah, dan apa yang bertentangan dengannya, maka madzmumah.”
    Sedangkan riwayat dari al-Baihaqi, beliau Imam Syafi’i berkata :
    الْمُحْدَثَات ضَرْبَانِ مَا أُحْدِث يُخَالِف كِتَابًا أَوْ سُنَّة أَوْ أَثَرًا أَوْ إِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَة الضَّلَال ، وَمَا أُحْدِث مِنْ الْخَيْر لَا يُخَالِف شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهَذِهِ مُحْدَثَة غَيْر مَذْمُومَة ”
    “ perkara yang di ada-adakan ada dua macam : apa yang bertentangan dengan al-Qur’an atau sunnah atau atsar atau ijma’ ulama’, maka bid’ah dholalah. Dan apa yang tidak bertentangan sama sekali, maka termasuk perkara yang diada-adakan yang bukan madzmumah.”

    Dan lebih parah lagi dengan ucapan anda “coba kalian semua perjelas kepada saya, aqidah apakah yang antum anut ini ?? mana mungkin orang mukmin mau berbuat seperti itu ???”== dengan secara jelas anda telah menyatakan Imam Nawawi bukanlah mukmin. Liat nih perkataan Imam Nawawi dalam kitab Syarh Muslim-nya :
    قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( وَكُلّ بِدْعَة ضَلَالَة ) هَذَا عَامّ مَخْصُوص ، وَالْمُرَاد غَالِب الْبِدَع . قَالَ أَهْل اللُّغَة : هِيَ كُلّ شَيْء عُمِلَ عَلَى غَيْر مِثَال سَابِق . قَالَ الْعُلَمَاء : الْبِدْعَة خَمْسَة أَقْسَام : وَاجِبَة ، وَمَنْدُوبَة وَمُحَرَّمَة ، وَمَكْرُوهَة ، وَمُبَاحَة . فَمِنْ الْوَاجِبَة : نَظْم أَدِلَّة الْمُتَكَلِّمِينَ لِلرَّدِّ عَلَى الْمَلَاحِدَة وَالْمُبْتَدِعِينَ وَشِبْه ذَلِكَ . وَمِنْ الْمَنْدُوبَة : تَصْنِيف كُتُب الْعِلْم ، وَبِنَاء الْمَدَارِس وَالرُّبُط وَغَيْر ذَلِكَ . وَمِنْ الْمُبَاح : التَّبَسُّط فِي أَلْوَان الْأَطْعِمَة وَغَيْر ذَلِكَ . وَالْحَرَام وَالْمَكْرُوه ظَاهِرَانِ . وَقَدْ أَوْضَحْت الْمَسْأَلَة بِأَدِلَّتِهَا الْمَبْسُوطَة فِي تَهْذِيب الْأَسْمَاء وَاللُّغَات ، فَإِذَا عُرِفَ مَا ذَكَرْته عُلِمَ أَنَّ الْحَدِيث مِنْ الْعَامّ الْمَخْصُوص

    @ lela, mbak anda ini belajar di mana ? dari mana anda dapatkan ilmu usulul bid’ah ? dari zaman Nabi gak ada yang namanya ilmu usulul bid’ah, yang ada usulul fikh, usulul hadits yang dinamakan mustholah hadits. Makanya mbak, jangan asal komentar deh, tambah ketahuan kebodohannya, atau emang karena anda belajar ama ustad2 yang bodoh juga, makanya hasilnya kayak anda ini….

    @ all pengunjung, liat nihhh orang2 wahhabi semakin keliatan aja bodohnya, tambah keliatan plin-plan-nya, sok memahami hadits Nabi daripada sahabat, gimana mereka dengan begitu bangganya merasa sudah berjalan di jalan salafussholeh, tapi justru salafus sholeh pun tidak luput dari vonis bid’ah dan sesat mereka… mereka begitu sering gembar-gembor memahami agama dengan pemahaman para salafus sholeh (para sahabat, tabi’in dan ulama’ 4 madzhab), tapi justru bertolak belakang dengan mereka, lalu mereka (wahabi) tu ngikut pemahaman sapa ??? (dari ulama’ / orang bodoh, dari jenis manusia/ iblis ?).

    Assamar n lela, sorry agak kasar karena anda sudah tidak santun lagi ama para ulama’ ama para sahabat yang telah anda anggap melakukan kesesatan (secara langsung ataupun tidak).

  • dayak said:

    @ lela n all wahabi :
    kami ulangi lagi, krn blm di jwb.
    @lela lestari :
    anda mengatakan. Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :
    [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah
    [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah
    anda juga membagi bid’ah dlm Perbuatan adat istiadat (kebiasaan)
    PADAHAL SYEKH ABDUL WAHAB MEMBAGI BID’AH MENJADI DUA: YAITU BID’AH DINIYAH N BID’AH DUNYAWIYAH.
    sedangkan aswaja membagi bid’ah ada yg hasanah n ada yg sayyi’ah, dipertanyakan oleh wahabi dalil pembagian itu dari mana !!!

    skrg saya mau tanya, adakah dalil dari hadist yg membagi bid’ah spt pembagian anda diatas

  • armand said:

    @assamar

    Sy termasuk jg yg bingung. Yang anda ikuti itu ulama ataukah hadits shahih? Sebentar anda bilang harus mengikuti salafusshaleh (ulama), sebentar lagi harus mengikuti dalil (hadits shahih). Mana sih yg benar?

    Anda jg belum menjawab siapa-siapa saja ulama salafusshaleh menurut anda? Naman-nama lho, bukan kelompok. Ini perlu dibatasi, mengingat wahabiyyun adalah kelompok yg tdk pernah konsisten dgn pandangan mrk.

    Kalau sy sih…silakan aja anda para wahabiyun mau ngomong apa. bid’ah kek…sesat kek…neraka kek. Toh di akhirat sy ga bertanggung jawab kepada para Wahabiyun dan Wahabiyun jg ga mampu nolong sy diakhirat. Emang kalo sy muji-muji Nabi saw dan menyebut-nyebut kemuliaannya terutama di hari kelahiran Beliau sy akan masuk neraka? Dan anda yg enggan mengeluarkan puja-puji kepada Nabi saw akan masuk surga, gitu? Wah-wah…! :roll:

    Nampaknya surga & neraka kita beda deh. Eh, jangan-jangan Nabi kita beda jg? Sy kira iya. Soalnya nabi anda kan manusia biasa? Sedangkan sy Nabi Muhammad saw adalah manusia luar biasa yang puja-puji yg kita sampaikan kepada Beliau tak pernah cukup.

    Salam

  • aldj said:

    @armand
    sprtnya memang nabinya mereka beda,nabi mereka ortunya musyriq,kira2 tuhan mereka sama ga ya?katanya sih tuhannya mereka,punya rambut..
    kayanya tuhan mereka ada hub keluarga sama tuhannya orang2 nasrani

  • Assamar said:

    @ muhammadon :

    anda katakan :” SUATU HADIST SHOHIH LALU ANTUM BENTURKAN/HANTAMKAN KEPADA SUATU AYAT ALQUR’AN ???? LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….bila suatu hadist yang berarti umum lalu ada pengkhususnya, maka ini sama saja menerima satu ayat tapi menentang ayat yang lain.”
    == mas, justru kamilah yang mau mempertanyakan kepada anda, metode apa yang kalian pake, aliran apa yang anda anut ?. anda dan orang2 wahabi dari dulu pembahasannya gak pernah beres,
    Gini aja mas, gak usah terlalu berkelumit dengan menampilkan dalil2 yang gak sesuai untuk anda paksakan dalam mengharamkan maulid, klo anda menetapkan semua bid’ah adalah sesat dengan memandang lafdh kullu berlaku secara umum, jawab aja pertanyaan ane berikut :
    1. kenapa anda masih membagi lagi bid’ah dengan macam2nya ? kenapa anda bagi bid’ah dari sisi bahasa dan syari’at lagi ?

    baiklah, ana jawab :
    yang dimaksud dari hadist “setiap bid’ah adalah sesat” adalah setiap perkara yang tidak pernah di contohkan oleh Rasullullah ! ingat, disini hanya di vonis sesat adalah SETIAP PERKARA yang hanya dalam artian syariat. Sedangkan bid’ah secara bahasa adalah SETIAP PERKARA yang tidak ada di jaman Rasullullah, dan ini boleh ! karena Rasullullah sendiri mengatakan “ Kalian lebih tahu dunia kalian sendiri “ jadi jelas bila bid’ah dalam masalah duniawi atau lebih tepatnya dalam artian bahasa, itu tidak menjadi masalah…
    paham sampai disini ???

    2. apakah kalimat bid’ah dalam hadits itu adalah bid’ah secara bahasa ataukah secara syar’i ?
    Klo anda katakan itu bid’ah secara syariat (definisi anda : perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah), lantas gimana menurut anda dengan perbuatan para sahabat berikut : Syd Utsman memerintahkan untuk adzan 2 kali ketika shalat Jum’ah. Pembukuan al-Qur’an di masa kekhalifaan syd Abu Bakar, padahal tidak dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah ??

    Ana jawab :
    Bukannya ana sudah jelasin di postingan sebelumnya. Apa anda tidak menyimak dari awal ???

    3. Gimana juga dengan apa yang dilakukan oleh syekh anda Sudais mengadakan shalat tahajjud berjamaah di masjidil haram, padahal tidak dicontohkan sama sekali oleh Rasulullah ??

    Ana jawab :
    Sholat Tahajjud, Sholat Tarawih, Sholat Witir dan sholat yang dilakukan pada malam hari lainnya adalah sama yaitu Qiyamul Lail atau sholat malam !!! Adapun yang berbeda cuma namanya saja !! Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasullullah pada bulan Ramadhan yaitu berjamaah tapi hanya selama 3 hari.
    Tolong dimengerti, bahwa yang namanya Qiyamul Lail itu boleh dilaksanakan secara berjamaah dan boleh sendirian, tapi yang lebih afdholnya adalah sendirian, demikian pun tarawih. Karena Rasullullah setelah 3 hari tersebut, Rasullullah melakukan Qiyamul Lail secara sendiri, baik itu Tahajjud, Tarawih, Witir dsb dan kesemuanya itu tidak lebih dari 11 rakaat.
    Jadi Sholat Tahajjud dan Sholat Tarawih sama saja !

    4. Gimana perayaan penyambutan musuh Allah, Bush ketika kunjungannya ke Saudi (negeri syekh2 anda), apakah anda mengharamkan orang mengagungkan Rasulullah, tapi anda halalkan penghormatan kepada musuh Allah ??

    Ana jawab :
    Mengenai ini perlu penjelasan yang lebih panjang, sang author juga sudah menjelaskan bahwa jangan terlalu jauh dari apa2 yang telah dibahas di forum ini.
    Tapi pada prinsipnya : kaum kafir tidak semuanya kita harus musuhi dan di perangi !!! yang tidak boleh kita musuhi dan diperangi adalah :
    a. kafir mu’ahad : yaitu mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak berperang selama kurun waktu tertentu
    b. kafir mus’taman : yang berada naungan pemerintah dan mereka mendapat jaminan dari kaum muslimin,
    c. kafir dzimmy : yang membayar jizyah sebagai imbalan bahwa mereka boleh tinggal di negeri muslimin
    d. dan yang terakhir adalah kaum kafir harby yaitu yang sengaja mengadakan perlawanan kepada muslim dan ini lah yang berhak kita perangi !!!
    semuanya itu ada dalilnya dan itu semua shohih, sehingga terlalu panjang bila dijelaskan disini.

    5. Gimana dengan pernyataan syd Umar “ni’matil bid’ah hadzihi”, beliau menggunakan kalimat bid’ah, apakah beliau tidak mengetahui kalo kalimat itu untuk sesuatu yang sesat saja ? klo anda katakan dari segi bahasa, bukankah definisi bid’ah dari segi bahasa menurut anda adalah “perkara yang tidak ada di jaman Nabi”. Berarti syd Umar telah melakukan apa yang tidak ada dan tidak dicontohkan oleh Nabi ?? bukankah ini masuk dalam hadits yang anda anggap keumumamnnya pada semua bid’ah yang berarti syd Umar telah melakukan kesesatan ?

    Ana jawab :
    Antum tahu gak klo sholat tarawih sudah pernah dikerjakan sebelumnya oleh Rasullullah ??? saya gak tahu apa maksud dari perkataan dari Umar itu, tapi yang penting bila ditelaah secara syariat maka Umar tidaklah mengerjakan suatu kebid’ahan, karena sudah dicontohkan oleh Rasullullah, malah itu telah menjadi sunnah !!!!!!

    Gimana tu smua mas, gak usak bawa dalil lagi lah…. Gak pernah ada kejelasan untuk menyatakan keharaman maulid, itu aja anda jawab ana tunggu secepatnya…….

    Ana jawab :
    Memang gak ada yang menyatakan keharaman maulid koq…..bila sesuatu yang berurusan dengan syariat maka yang dicari adalah dalil petunjuknya ! bukan dalil haramnya !! tapi bila berurusan dengan masalah duniawi maka yang dicari adalah dalil haramnya, karena setiap masalah duniawi adalah mubah !!!!! mengerti kan ????

  • El_Muhibbin said:

    Saya akan menanyakan lagi dari pertanyaannya Mas Armand.

    @Armand :
    Singkat saja mas, siapa-siapa saja itu yg anda maksudkan dgn salafus shalih? Tolong deh disebutin nama-nama mrk agar jika kita menerima riwayat dari bukan nama-nama mrk, maka akan langsung kita tolak.

    @ Assamar menjawab :
    Yang dimaksud dengan Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Apakah ulama-ulama wahaby itu juga ulama-ulama salaf?, jawab!

    Saya akan menanyakan lagi dari pertanyaannya Mas Fulam

    @ fulan comment:
    klo begitu bid’ah itu apa dong? kok nt bawa2 nama ibnu taimiyah, kan beliau memperbolehkan maulid tlg baca artikel wahabi-salafi menentang syeikh ibnu taimiyah

    @ Assamar menjawab :
    bid’ah secara bahasa adalah segala perkara yang tidak ada di jaman Nabi. Sedangkan secara syariat adalah perkara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasullullah dan disandarkan kepada agama.
    Mengenai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau adalah salah seorang ulama Salaf dan senantiasa berjalan diatas Alqur’an dan As Sunnah, beliau pun sangat menentang acara maulid yang beliau katakan bahwa itu adalah menyerupai kaum Nasrani dalam memuji Nabi Isa alaihisalam.

    @ EL_Muhibbin menjawab:

    bid’ah secara bahasa adalah segala perkara yang tidak ada di jaman Nabi( ini kan jawabannya mas Assamar untuk fulan). Itu kan katanya antum dan di pemahamannya antum dan golongannya antum,tapi ,tetapi didalam kamus Al-Munjid kata bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.( Lihat Al-Munjid Fil Lughah wal A’lam, cet. XXIII, Darul Masyriq, Beirut,1986, hal.29.).

    Dan pada dasarnya semua kamus bahasa Arab mengartikan bid’ah secara bahasa sebagai sebuah perkara baru yang di adakan atau diciptakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.

    Jadi anda salah besar kalo mengatakan secara bahasa bahwa bid’ah secara bahasa (etimologi) adalah segala perkara yang tidak ada di jaman Nabi.

    Mangkanya,kalo g ngerti apa-apa itu ahsan belajar kepada ulam yang Sholeh!,jangan belajar kepada ulama-ulama yang mengedepankan hawa nafsu!

    Antum dari membahas masalah bid’ah secara bahasa saja udah salah kaprah g karu-karuan, apalagi membahas masalah hadits Nabi Muhammad S.A.W.Kita kan udah di beritahu oleh Allah S.W.T di Al-Qur’an dan di Hadistnya Nabi Muhammad S.A.W untuk belajar kepada ulama:

    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Jadi kalo kita tidak mengerti itu disuruh menanyakan kepada yang menegerti dalam hal ini adalah ulama.Siapakah itu, antum sendiri kan yang menjawabnya,ini jawabannya:

    Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “

    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu ( tapi yang jelas bukan ‘Ulama wahaby).

    @ Assamar: Mengenai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau adalah salah seorang ulama Salaf dan senantiasa berjalan diatas Alqur’an dan As Sunnah, beliau pun sangat menentang acara maulid yang beliau katakan bahwa itu adalah menyerupai kaum Nasrani dalam memuji Nabi Isa alaihisalam. ( ini kan testimony antum )
    Sekarang ana nanyak sama antum,apakah orang-orang yang merayakan peringatan maulid Nabi Muhammad S.A.W itu menganggap dan menyamakan Nabi Muhammad S.A.W sebagai anak Tuhan sebagai mana orang Nasrani kepada Nabi meraka itu?.Harap dijawab!

    @ El Muhibbin :
    Antum wrote :
    Alhamdulillah, saya pengikut manhaj salaf…tp anda salah bila mengatakan saya pengekor Syaikh Albani ! tidaklah ada seorang yang mengaku salaf tapi dia mengekor/fanatik kepada seseorang. Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya, tidak lebih daripada itu !( ini kan testimoninya antum)Tadi anda bilang tidak mengekor/fanatik pada Al-Bani,atau ibnu taimiyah atau itu Syaikh Alu Syaikh atau Syaikh Ustaimin atau pada siapapun atau siapalah itu terserah antum.Ana mau nanya kepada orang-orang wahaby/salafy yang selalu bilang kami tidak mengekor kepada ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin atau pada siapapun atau siapalah itu terserah antum tapi kenapa orang orang wahabi/salafy itu selalu merujuknya kepada kitab2nya orang orang seperti yang ana sebutin ditas tadi…?. Dan kalo antum bukan pengekornya ibnu taimiyah atau al-bani atau ustaimin atau pada siapapun itu kenapa anda begitu ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid nabi itu bid’ah…?.Padahal Ulama-Ulama dahulu yang kita sendiri dan ana sendiri terutama sudah tau keshalohennya dan kehati2annya dalam agama tidak mengatakan maulid nabi itu bid’ah(kecuali ulama-ulama wahaby),orang-orang wahaby itu lho orang kapan kok dengan gampangnya ngomong seperti itu.Kalo mau mempelajari ilmu agama itu harus dengan hari dan jiwa yang bersih bro,jangan dengan nafsu karena nafsu itu datangnya dari setan.Semoga kita dilindungi oleh Allah S.W.T berkat Nabi Muhammad S.A.W dari setan dan iblis yang terkutuk, Amiin…

    @ Ini kan jawabannya antum Assamar:
    Ya betul itu, kami senantiasa merujuk kepada kitab2 mereka, tapi tidak terlalu fanatik kepada mereka. Yang kita fanatikkan hanyalah kepada Rasullullah.

    Kami memang ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid itu bid’ah dholalah !!! dan kami ngotot karena kami bersandar bahwa Nabi tidak pernah merayakan hari kelahirannya !! dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah (terpercaya) .

    Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA.
    Ya betul itu, kami senantiasa merujuk kepada kitab2 mereka, tapi tidak terlalu fanatik kepada mereka. Yang kita fanatikkan hanyalah kepada Rasullullah.

    El_Muhibbin menjawab:
    Emangnya cuman antum dan golongannya antum saja yang fanatik terus yang lainnya antum katakan tidak fanatik? Harap dijawab!
    Kami memang ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid itu bid’ah dholalah !!! dan kami ngotot karena kami bersandar bahwa Nabi tidak pernah merayakan hari kelahirannya !! dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah (terpercaya).

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Kalo anda ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa Rasulullah tidak pernah memperingati hari kelahirannya anda salah besar.Mangkanya,kan udah ana udah nasehati sama antum kalo mau mempelajari ilmu agama itu harus dengan hati dan jiwa yang bersih,bukan dengan mengedepankan hawa nafsul.Kenapa ana mengatakan seperti ini,karena Rasulullah S.A.W lah yang menjadi pencetus sendiri dari pada hari kelahirannya itu sendiri. Kenapa ana mengatakan seperti ini,karena dalam Hadits yang Shahih yang diriwayatkan Muslim, Abu Dawud dan Ahmad disebutkan bahwa ketika Rsulullah S.A.W ketika ditanyai tentang alasan beliau S.A.W puasa dihari senin Rasulullah S.A.W bersabda:
    Dihari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu Al-Qur’an. “
    ( H.R Muslim, Abu Dawud dan Ahmad).

    Coba Anda perhatikan hadits diatas, para sahabat bertanya tentang puasa dihari senin,tapi nabi Muhammad S.A.W berbicara tentang hari kelahirannya beliau dan turunnya wahyu kepada Belaui Rasulullah S.A.W. Artinya Rasulullah S.A.W ingin menunjukkan kepada parasahabat bahwa hari senin menjadi mulia karena (kelahiran) dirinya, dan juga karena ada peristiwa yang dikaitkan dengan Beliau Rasulullah S.A.W.

    Apakah hadist ini menurut di pemahamannya golongannya antum ( wahaby) tidak Shahih,atau kah hadits ini dhoif atau gimana? Coba dijawab!

    Dan anda pasti tau kan dengan Abu Lahab. Dia adalah seorang kafir yang sangat gigih menentang perjuangan dakwah Rasulullah S.A.W.Bahkan ,Allah S..W.T menetapkan Abu Lahab sebagai penghuni neraka dan itupun tertulis di Al-Qur’an.Di tengah – tengah siksaan yang pedih itu setiap hari senin Abu Lahab mendapatkan keistimewaan pada hari senin yaitu keluar dari jari telunjuk dan ibu jari tangannya. Bagaimanakah seseorang yang telah dipastikan kekal di neraka mendapatkan keistimewaan tersebut:

    Dalam Shahih Bukhari

    Disebutkan bahwa ‘Urwah Bin Zubair R.a berkata:
    Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Setelah itu Abu Lahab memerdekakan. Tsuwaibah kemudian menyusui Nabi S.A.W. Ketika Abu Lahab mati, salah seorang anggota keluarganya bermimpi melihat Abu Lahab dalam keadaan yang sangat buruk dan bertanya kepadanya. “ Apa yang kau peroleh?”
    “ Tidak kutemukan sedikit pun kenyamanan. Hanya saja aku deberi minum dari jari (sambil menunjuk sesuatu diantara jari telunjuk dan ibu jarinya tangannya ), karena kumerdekakan Tsuwaibah, “ ( H.R Bukhari ).

    Disamping itu kebenaran mimpi sayyidina ‘Abbas R.a diatas tidak dibantah oleh Rasulullah S.A.W maupun sahabat. Kenyataan ini menjadi meimpi itu semakin kuat. Artinya Rasulullah S.A.W dan para sahabat mengakui kebenaran mimpi itu apa adanya seperti yang dilihat oleh Sayyidina ‘Abbas R.a, yaitu setiap hari senin Abu Lahab mendapatkan sedikit keistimewaan diantara jari telunjuk dan ibu jarinya

    Anda mungkin juga bekata dan bertanya tanya,bukankah orang kafir tidak mendapatkan manfaat dari kebajikan yang ia lakukan didunia?,

    Bukankah Allah S.W.T telah mewahyukan:
    Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu ( bagaikan ) debu yang berterbangan. ( Al-Furqan, 25:23 )

    Dan Firmannya Allah S.W.T yang lainnya:
    Dan orang-orang kafir bagi mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka tidak mati dan tidak ( pula ) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang kafir. ( Fathir, 35:36 ).

    Jadi dari Firman Allah ( Al-Qur’an ) bias dilihat di penjelasan ana dibahwab ini:

    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)

    Kendati sisksanya tidak dihentikan,tetapi Abu Lahab mendapatkan bonus ( mendapatkan minuman dari jari telunjuk dan ibu jarinya) di setiap hari senin. Inilah keistimewaan Allah S.W.T yang diberikan kepada Abu Lahab yang kafir karena berbahagia dan senang dengan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W dan lalu memerdekakan budaknya (Tsuwaibah) intinya sebagai tanda sukur atas kelahiran keponakannya ( Nabi Muhammad S.A.W).Terus bagaimana dengan seorang muslim Ummat (Nabi Muhammad S.A.W) yang setiap hari senang dengan hari kelahiran Rasulullah S.A.W , dan ketika meninggal dalam keadaan muslim?
    Ana sudah memberikan hadits Shahih seperti yang antum minta diatas tadi

    @ Assamar : Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA.

    @ El_Muhibbin menjawab:

    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Kalo katanya antum dan dipemahamannya antum perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil,terus Firman Allah S.W.T dan Haidts Nabi S.A.W yang shohih itu mau antum artikan seperti gimana lagi di pemahamannya antum?

    Kalo katanya antum kita tidak mendengarkan ucapannya ulama sementara Firman Allah S.W.T dan Haidts Nabi S.A.W yang shahih trus kita mau mendegarkan perkataannya ulama,siapa?, pendeta?

    Kenapa ana nanya seperti itu,dikarenakan ulama dalah pewaris dari pada dari Ilmunya Rasulullah S.A.W
    Harap dijawab!

    @ El_Muhibbin: Kalo mau mempelajari ilmu agama itu harus dengan hari dan jiwa yang bersih bro,jangan dengan nafsu karena nafsu itu datangnya dari setan.Semoga kita dilindungi oleh Allah S.W.T berkat Nabi Muhammad S.A.W dari setan dan iblis yang terkutuk, Amiin…
    @ Assamar menjawab:
    Malah kalian lah yang harus sadar bahwa kalian lah yang senantiasa yang diliputi hawa nafsu dalam menyandarkan segala sesuatu perkara ibadah kepada agama yang jelas2 tidak ada tuntunannya. Bila orang yang mengikuti hawa nafsu maka dia akan terus dihantui bahwa Islam itu tidak afdhol bila tidak ditambah, bahkan harus dilakukan apabila itu kebaikan….naudzubillahi min dzalik !!
    Maka siapa kah yang tertipu diantara kita ???????????
    @Assamar: Malah kalian lah yang harus sadar bahwa kalian lah yang senantiasa yang diliputi hawa nafsu dalam menyandarkan segala sesuatu perkara ibadah kepada agama yang jelas2 tidak ada tuntunannya
    @ El_Muhibbin Menjawab:
    Kalo anda mengatakan bahwa ana lah yang senantiasa yang diliputi hawa nafsu dalam menyandarkan segala sesuatu perkara ibadah kepada agama itu salah besar,antum baca dulu hadits diatas itu,anda juga bisa menjawab sendiri siapa yang senantiasa yang diliputi hawa nafsu dan siapa yang tidak!.Ana bukannya mengikitu ‘Ulama,karena kita sendiri yang disuruh oleh Allah S.W.T dan Rasul-Nya untuk mengikuti ulama,dikarenakan ulama adalah pewaris ilmunya Rasulullah S.A.W. Anda sendirikan yang mnecoment Firmannya Allah Dibawah ini:
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)

    Sekarnag kita mau nanya kesama siapa kalo bukan sama ulama kita belajarnya.Masak kita mau nanyak sama Rasulullah,Sahabat,Tabi’it,tabi’ut tabi’in? tentunya kita mengikuti ulama-ulama salaf karena beliaulah pewaris para ILMUNYA NABI S.A.W yang diwariskan dari Sahabt Nabi Muhammad S.A.W sampai turun temurun itu

    Kalo anda masih agak bingung ,ana kasih Firmannya Allah S.W.T dan Hadistnya Rasulullah S.A.W dibawah ini lagi:

    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Tentunya yang dimaksud adalah Ulama kan?

    @ Assamar: Maka siapa kah yang tertipu diantara kita ???????????

    @ El_Muhibbin Menjawab:
    Kalo kata tertipu ana kurang sreg( orang Surabaya bilang ),ana lebih sreg kalo kata tertipu diganti dengan penipu.
    Maka siapa kah yang penipu diantara kita ???????????

    @ Assamar: Emangnya kenapa kalau saya pengikut manhaj salaf ? ada yang salah dengan manhaj salaf, seperti yang kalian pikirkan selama ini ?(ini kan juga testimony antum),sekarang ana balik tanyak ke antum juga,salaf yang mana yang anda ikuti,apa ulama-ulama wahaby yang anda ikuti?
    @ Assamar menjawab :
    Telah berlalu yang saya tuliskan Manhaj Salaf yang harus kita ikuti..silahkan dibaca ulang.
    @ El_Muhibbin :
    Sekarang ana mau nanyak Apakah ulama seperti Al-Bani,atau ibnu taimiyah atau itu Syaikh Alu Syaikh atau Syaikh Ustaimin apakah dia itu termasuk ulama salaf? atau ulama-ulama wahaby? Dia ini ulama salaf tau wahaby jawab saja itu?, Harap dijawab!
    @ Cah njeporo :
    perlu kalian ketahui, didalam hadist trsbt setelah lafadz َكُلَّ بِدْعَةٍ berarti setelahnya ada sifat yg dibuang karena jatuh setelah nakirah, ya’ni: َكُلَّ بِدْعَة تخالف الكتاب والسنة
    Penjelasannya spt ini :
    Hadits tsb lafadzdnya umum tetapi maknanya khusus. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut adalah bid’ah sayyi-ah, yaitu setiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm yang Makhshush; artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).
    Keumuman trsbt d khususkan dg sabda rasul saw :

    Barang siapa yg mebuat perbuatan bid’ah yg dholalah, yg tdk menjadikan Allah & Rasulnya ridho, maka dia mendapatkan dosa sbgaimana dosanya org yg mengamalkanya.
    meski hadits tersebut memakai kata “Kullu” sebagai ta’kid, namun bukan berarti sudah tidak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:
    تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف:25) اي : كُلَّ شَيْءٍ يقبل التدمير
    Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum ‘Ad telah menghancurkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancurkan segala sesuatu secara keseluruhan, karena terbukti hingga sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini menggunakan kata “Kull”.
    contoh lagi:
    Didalam ayat alqur’an وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ (30)
    artinya: Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?? Al Anbiyaa’ 30
    Apakah semua yang hidup itu terbuat dari air ???
    jin dan Malaikat apakah terbuat dari air ???
    قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.”
    @ Assamar menjawab :

    metode macam apa yang antum kemukakan ini ?????
    SUATU HADIST SHOHIH LALU ANTUM BENTURKAN/HANTAMKAN KEPADA SUATU AYAT ALQUR’AN ???? LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….
    bila suatu hadist yang berarti umum lalu ada pengkhususnya, maka ini sama saja menerima satu ayat tapi menentang ayat yang lain.
    coba kalian semua perjelas kepada saya, aqidah apakah yang antum anut ini ?? mana mungkin orang mukmin mau berbuat seperti itu ???
    bahwa sesungguhnya aqidah yang benar dan lurus adalah menerima dengan tulus dan ikhlas semua dalil shahih tanpa ada akal masuk ke dalamnya.
    bahwa kita mengimani semua dalil shahih tanpa mengutak-atiknya dengan akal dan hawa nafsu, karena bila demikian yang antum lakukan maka yang ada hanyalah kesesatan.
    @ Assamar :

    metode macam apa yang antum kemukakan ini ?????
    SUATU HADIST SHOHIH LALU ANTUM BENTURKAN/HANTAMKAN KEPADA SUATU AYAT ALQUR’AN ???? LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….
    bila suatu hadist yang berarti umum lalu ada pengkhususnya, maka ini sama saja menerima satu ayat tapi menentang ayat yang lain.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Anda pasti tau kan dengan Abu Lahab. Dia adalah seorang yang sangat gigih menentang Rasulullah S.A.W.Bahkan ,Allah S..W.T menetapkan Abu Lahab sebagai penghuni neraka.Di tengah – tengah siksaan yang pedih itu setiap hari senin Abu Lahab mendapatkan keistimewaan pada hari senin yaitu keluar dari jari telunjuk dan ibu jari tangannya. Bagaimanakah seseorang yang telah dipastikan kekal di neraka mendapatkan keistimewaan tersebut:
    Dalam Shahih Bukhari Disebutkan bahwa ‘Urwah Bin Zubair R.a berkata:
    Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Setelah Abu Lahab memerdekakan. Tsuwaibah kemudian menyusui Nabi S.A.W. Ketika Abu Lahab mati, salah seorang anggota keluarganya bermimpi melihat Abu Lahab dalam keadaan yang sangat buruk dan bertanya kepadanya. “ Apa yang kau peroleh?”
    “ Tidak kutemukan sedikit pun kenyamanan. Hanya saja aku deberi minum dari jari (sambil menunjuk sesuatu diantara jari telunjuk dan ibu jarinya tangannya ), karena kumerdekakan Tsuwaibah, “ ( H.R Bukhari ).

    Disamping itu kebenaran mimpi sayyidina ‘Abbas R.a diatas tidak dibantah oleh Rasulullah S.A.W maupun sahabat. Kenyataan ini menjadi meimpi itu semakin kuat. Artinya Rasulullah S.A.W dan para sahabat mengakui kebenaran mimpi itu apa adanya seperti yang dilihat oleh Sayyidina ‘Abbas R.a, yaitu setiap hari senin Abu LAhab mendapatkan sedikit keistimewaan diantara jari telunjun dan ibu jarinya

    Anda mungkin juga bekata dan bertanya Tanya,bukankah orang kafir tidak mendapatkan manfaat dari kebajikan yang ia lakukan didunia?,

    Bukankah Allah S.W.T telah mewahyukan:

    Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu ( bagaikan ) debu yang berterbangan. ( Al-Furqan, 25:23 )

    Dan Firmannya Allah S.W.T yang lainnya:

    Dan orang-orang kafir bagi kamu mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka tidak mati dan tidak ( pula ) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang kafir. ( Fathir, 35:36 ).

    Kendati sisksanya tidak dihentikan,tetapi Abu Lahab mendapatkan bonus ( mendapatkan minuman dari jari telunjuk dan ibu jarinya) di setiap hari senin. Inilah keistimewaan Allah S.W.T kepada Abu Lahab yang kafir karena berbahagia dan senang dengan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W dan lalu memerdekakan budaknya (Tsuwaibah)sebagai tanda sukur atas kelahiran keponakannya ( Nabi Muhammad S.A.W ). Dan ini dikhususkan untuk Abu Lahab yang mendapatkan keistimewaan dengan Abu Lahab atas kelahiran keponakannya Nabi Muhammad S.A.W.

    Bahwa didalam kitab Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an seperti yang dijelaskan dibawah ini:

    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)

    Lalu bagaimana dengan seorang muslim yang setiap hari senang dengan hari kelahiran Rasulullah S.A.W , dan ketika menginggal dalam keadaan muslim?

    Jadi dari sini kita bisa memahami bahwa tidak semuanya orang kafir tidak mendapatkan apa-apa,kita lihat saja Abu Lahab tadi,apakah ini masih kurang jelas?, akan saya tambahi

    Ya Ikhwan,kita tidak dapat menentukan sebuah hukum hanya dengan mengartikan ayat tersebut secara harfiah. Tetapi kita harus memperhatikan berbagai unsure lain yang disebutkan dalam tafsir, ilmu Al-Qur’an, maupun Hadits. Dialam Ilmu Al-Qur’an disebutkan sebuah kaidah bahwa:

    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)

    Agar lebih jelas, coba anda perhatikan Contoh Al-Qur’an yang suci ini:

    Allah S.W.T berfirman: laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya( sebagai ) pembalasan bagi yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maham Bijaksana ( Al-Maidah , 5:38 ).

    Dari ayat diatas Allah memerintahkan kita unutk memotong tangan pencuri baik itu laki-laki atupun itu perempuan. Tapi, apakah semua para pencuri itu harus dipotong tangannya. Apakah pencuri ayam atau tahu atau tempe akan kita potong tangannya?.Tentu tidak bukan?.Ayat diatas tersebut termasuk ayat yang bersifat umum yang memilki pengecualian( batasan atau penjelas ). Nah pembatas atau penjelas dari ayat itu dijelaskan oleh Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ,berikut adalah perkataan Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha :

    Dari ‘Aisyah , ia berkata, “Pemotongan tangan berlaku bagi pencuri senilai seperempat dinar dan yang lebih darinya. “ ( H.R Nasa’I, Abu Dawud dan Tirmnidzi )

    Artinya tidak semua pencuri tangannya dipotongdan kesimpulan dan penjelas bagi ayat-ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya (( batasan atau penjelas ).Bahwa:
    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)

    @ Assamar: coba kalian semua perjelas kepada saya, aqidah apakah yang antum anut ini ??

    @ El_Muhibbin menjawab :
    Kalo antum menanyakan aqidah aqidah ana Ahlu Sunnah Wal Jama’ah,kalo antum aqidahnya apa kok selalu buat orang bingung?

    @ Assamar:
    mana mungkin orang mukmin mau berbuat seperti itu ???

    @ El_Muhibbin menjawab :
    Itu kan sudah ana jelasin diatas,apakah masih kurang jelas….?

    @ Assamar :
    bahwa sesungguhnya aqidah yang benar dan lurus adalah menerima dengan tulus dan ikhlas semua dalil shahih tanpa ada akal masuk ke dalamnya.
    bahwa kita mengimani semua dalil shahih tanpa mengutak-atiknya dengan akal dan hawa nafsu, karena bila demikian yang antum lakukan maka yang ada hanyalah kesesatan.

    @El_Muhibbin menjawab :
    Lho,siapa yang menggunakan akal dan hawa nafsu,apakah antum yang menggunakan akal dan hawa nafsu?
    Kami hanya melakukan aturan saja dalam mengkaji sebuah Al-Qur’an atau hadits,kalo antum bilang itu mengutak atik atau gimana itu haknya antum,tapi itu juga hak kami. Karena dalam mengkaji sebuah Al-Qur’an atau hadits tidak boleh hanya bersandar pada satu dalil saja dan ada tata caranya dalam menafsirkannya supaya tidak menyesatkan.

    @ Assamar:
    TO ALL PECINTA BID’AH ( para habib2, sufi, author forsansalaf, cah njeporo, riariani, el muhibbin, dayak, muhammadon, dan siapa saja mengikuti mereka !! ).

    @El_Muhibbin: ada yang kurang disitu ada juga para Syaikh yang sesat,kenapa tidak ditulis?,apa karena ulama-ulama dari golongannya anda adalah seorang bertitel syaikh semuanya…?,jadi antum tidak menulisnya disitu?,anda cuman mencantumkan nama Habib disitu,mana ta’dzim antum sama ahlil baitnya nabi?,apakah ini yang disebut ajarannya salaf?

    @ Assamar:
    Sudah panjang lebar telah saya paparkan diatas bahwa tidak ada kebaikan dalam perkara bid’ah.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Ana juga udah memaparkan panjang lebar tentang yang antum perdebatkan itu.

    @ Assamar:
    Bid’ah bukan dari ajaran agama yang mulia ini, dan Islam berlepas diri dari segala macam bentuk bid’ah !!

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Kalo bid’ah bukan dari Islam terus dari siapa?apakah Sayyidina ‘Umar R.a apakah bukan orang Islam?Bahkan Beliau Sayyidina ‘Umar R.a pernah berkata tentang bid’ah
    Imam Bukhari R.a dalam kitab shohihnya menyebutkan:
    Dari “Abdurrahman Bin ‘Abdul Qari’ , ia berkata. “ Pada suatu malam dibulan Ramadhan, saya keluar menuju Masjid bersama ‘Umar Bin Khattab R.a. Di sana ( tampak ) masyarakat sedang menunaikan shalat ( tarawih ) secara berkelompok terpisah pisah. Ada yang shalat sendiri ada pula yang sholat berjama’ah bersama sekelompok orang. Pada saat itulah ‘Umar R.a berkata. ‘ Menurutku, andaikata semua orang ini kupersatukan dibawah pimpinan seorang Imam yang hafal Al-Qur’an tentu akan lebih baik. Beliau bertekad untuk mewujudkan niatnya. Akhirnya beliau persatukan mereka dibawah pimpinan ‘Ubay bin Ka’ab. Dalam malam lain, aku keluar menuju masjid bersama ‘Umar R.a. Saat masyarakat sedang menunaikan sholat ( tarawih ) berjama’ah dengan Imam mereka yang hafal Al-Qur’an . (Ketika menyaksikan pemandangan tersebut ) berkata’ Umar : Inilah sebaik-baik bid’ah. “ ( H.R Bukhari dan Malik )
    Perhatikan perkataan Sayyidina ‘Umar R.a dari hadits diatas:
    (Ketika menyaksikan pemandangan tersebut ) berkata’ Umar : Inilah sebaik-baik bid’ah.

    @ Assamar:
    bid’ah adalah lebih disukai oleh para iblis dan tentaranya daripada pelaku maksiat !! kenapa ??
    karena para ahlul bid’ah susah bertaubat sebab mereka menyangka bahwa dirinya membuat suatu kebaikan dalam agama (padahal sebenarnya tidak!)
    sedangkan pelaku maksiat, mereka tahu bahwa itu adalah kesesatan dan mereka kemungkinan bisa bertaubat !!!

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Apakah Sahabat Nabi Seperti Sayyidina ‘Umar R.a itu mengajarkan amalannya iblis dan tentaranya?
    (Ketika menyaksikan pemandangan tersebut ) berkata’ Umar : Inilah sebaik-baik bid’ah)
    Bukankah Sayyidina ‘Umar R.a adalah seorang yang dijamin Masuk surga-Nya Allah S.W.T ?
    Ok antum secara langsung tidak mengatakan Sahabt Semulia Sayyidina ‘Umar R.a bukan pelaku bid’ah atau mengatakan Sayyidina ‘Umar R.a mengamalkan suatu perbuatan bid’ah anda kan tadi menulis bahwa sebuah bid’ah adalah lebih disukai oleh para iblis dan tentaranya secara langsung anda tidak menghina tapi secara Langsung tidak anda menghina Sahabat semulia Sayyidina ‘Umar R.a.Mana ta’dzim antum kepada sahabat Nabi S.A.W,apakah ini bukannya ajarannya orang-orang syi’ah yang selalu menghina Sahabt Nabi Muhammad S.A.W ( penghinaan terhadap Sahabat Nabi S.A.W seperti Sayydina ‘Umar R.a adalah ajarannya Orang Syi’ah Rafidhah).Inikan yang antum sebut-sebut ajarannya salaf yang antum junjung tinggi?,sebagaimana orang – orang syi’ah yang mengatasnakan Madzhab Ahlil bait Nabi S.A.W tapi jauh sekali dari yang diajarkan oleh Ahli Bait Nabi Muhammad S.A.W.Yang dimana orang syi’ah adalah aliran yang mengkambing hitamkan nama Ahlil Baitnya Nabi Muhammad S.A.W
    Apakah Sahabat Semulia Sayyidinia ‘Umar R.a antum sebagai sebut sebagai iblis dan tentaranya hanya karena beliau Sayyidinia ‘Umar R.a ketika menyaksikan pemandangan Sholat Tarawih beliau berkata
    (Ketika menyaksikan pemandangan tersebut ) berkata’ Umar : Inilah sebaik-baik bid’ah)

    @ Assamar:
    Yang saya lihat adalah kalian hanyalah mencari pembenaran dari perbuatan kalian tapi bukan mencari kebenaran !!!

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Kata kata diatas itu mah seperti perkataan ana yang waktu itu cah ngganteng ( jangan bisanya cuma copy paste aja ! ) karena agama bukan copy trus dipaste !

    @ Assamar:
    Berapa banyak ayat Alqur’an yang agung kalian terima sebagian dan menolak sebagiannya lagi ??? Berapa banyak hadist yang kalian pertentangkan ???

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Jadi kalo kita tidak mengerti itu disuruh menanyakan kepada yang menegerti dalam hal ini adalah ulama.Siapakah itu, antum sendiri kan yang menjawabnya,ini jawabannya:
    Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.

    @ Assamar:
    berapa banyak atsar sahabat yang kalian perselisihkan ??? berapa banyak pendapat ulama yang kalian perdebatkan ???

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Lho, siapa yang mengatakan bahwa ana dan pendapat ulama yang ana berikan di testimony ini menentang Atsar ( ucapan para sahabat ) Nabi Muhammad S.A.W.Padahal Sayyidina ‘Umar R.a telah berkata tentang bid’ah (Inilah sebaik-baik bid’ah ) dan juga yang telah ana jelaskan diatas dengan panjang lebar.
    Kalo memang ana memperselisihkan pendapat sahabat,sahabat yang mana?
    Kalo memang ana memperdebatkan pendapat ulama-ulama,ulama-ulama yang mana? ulama-ulama wahaby? atau ulama –ulama salaf?
    Justru anda sendilah yang selalu memperdebatkan ulama-ulama salaf seperti 4 Imam Madzhab

    @ Assamar:
    Maka ketahuilah para ahlul bid’ah, setiap orang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan ALLAH !! dan bertanggung jawablah kalian atas perbuatan2 itu !!

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Iya itu memang betul.itu terdapat dalam Al-Qur’an surat Az-Zalsalah

    @ Assamar:
    Kalian dengan tega membuatkan suatu perayaan yang tidak ada dasarnya sama sekali dalam Islam dan dinisbahkan kepada junjungan kita semua Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang maksum.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Antum baca lagi artikel ana diatas itu,tapi inget gunakanlah hati dan jiwa yang bersih,bukan mengedepankan hawa nafsu dalam membahas masalah agama yang sudah ana selalu ingatkan kepada antum. Gimana juga dengan haditsnya Abu Lahab itu yang memerdekakan Budaknya Tsuwaibah sebagai tanda sukur atas kelahiran keponakannya (Nabi Muhammad S.A.W).

    @ Assamar:
    Kalian dengan tega menghalalkan perayaan itu hanya karena mengikuti para ulama yang hidup setelah Rasullullah ????
    lalu siapakah yang anda ikuti, Rasullullah atau para ulama ????
    Jelas Nabi Muhammad S.A.W,tapi baca lagi yang dibawah ini
    Di Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad S.A.W dijelaskan:
    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Jadi kalo kita tidak mengerti itu disuruh menanyakan kepada yang menegerti dalam hal ini adalah ulama.Siapakah itu, antum sendiri kan yang menjawabnya,ini jawabannya:

    Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.
    Ana jelaskan lagi juga disini. Firman Allah S.W.T
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)
    Sekarang ana mau nanya,siapa sekarang yang enggak ta’at sama Rasulullah S.A.W

    @ Assamar:
    mohon maaf, saya bukannya tidak menghargai para ulama tapi dalam masalah ini saya tentunya lebih ikut kepada Rasullullah dan itulah sebaik-baik cinta kepada Rasullullah.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Jadi kalo kita tidak mengerti itu disuruh menanyakan kepada yang menegerti dalam hal ini adalah ulama.Siapakah itu, antum sendiri kan yang menjawabnya,bscs ini:

    Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.

    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.

    @ Assamar:
    Bagi kalian demi menghalalkan segala perbuatan bid’ah maka kalian selalu saja yang dijadikan hujjah adalah perbuatan Sahabat Umar dan Utsman radhiyallahu anhuma ajmain tentang apa2 yang mereka ijtihad kan terhadap shalat tarawih berjamaah dan adzan 2x di hari Jum’at.
    lantas ada yang berdalih :

    ” bukankah para wahaby mengatakan semua bid’ah adalah sesat ? jadi para sahabat sesat donk ??

    @Assamar :
    maka sekali lagi kita katakan :
    betul… kita harus mengikuti para sahabat karena mereka para Salafus Shalih.
    Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa2 yang telah dilakukan oleh para Sahabat adalah sesat, para Sahabat tidak lah sesat, bahkan mereka lah yang telah dijamin oleh ALLAH dan RasulNYA sebagai penghuni surga.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Lha terus kalo bukan sesat apa?

    @Assamar :
    perihal shalat tarawih 20 rakaat dan adzan 2x di hari Jum’at saya tidak mengingkari adanya itu, tapi bila anda berpikir dengan jernih : SIAPAKAH YANG ANDA IKUTI, RASULLULLAH atau PARA SAHABAT ????? tentunya kita harus lebih mendahulukan Rasullullah, iya kan ???

    @ El_Muhibbin menjawab :
    Anda ini seolah-olah berpikir bahwa orang yang melakukan Sunnahnya Sahabat Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah mengerjakan Sunnahnya beliau Nabi Muhammad S.A.W.Dan anda Tanya seperti itu itu,apakah antum itu tau hatinya seseorang itu seperti gimana?
    Islam Mengajarkan kepada ummatnya untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
    Sekarang ana mau nanyak saja sama antum,siapa yang lebih dekat dengan Rasulullah S.A.W,diwaktu Rasulullah menerima wahyu,meriwayatkan Hadits,berhijrah, dllnya,Sahabat Nabi Muhammad S.A.W atau kita ini?,tentunya Sahabat Nabi Muhammad S.A.W kan?

    @ Assamar: tapi kebanyakan dari kita adalah, kita selalu saja mendahulukan sunnah para Sahabat daripada sunnah Rasullullah itu sendiri, betul tidak ???
    berapa banyak masjid di negeri ini melakukan adzan 2x di hari Jum’at ??????
    berapa banyak masjid di negeri ini melakukan shalat tarawih 20 rakaat ??????
    semua pasti tahu : BANYAK SEKALI ALIAS MAYORITAS !!!!
    LALU DIKEMANAKAN SUNNAH RASUL NYA ?????

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Sebelum ana menjawab pertanyaannya antum ana mau nanya’ sama antum, apakah antum pernah mendahulukan sunnah para Sahabat daripada sunnah Rasullullah itu sendiri?
    Kalo iya,berarti anda munafik. Kenapa,karena anda abis ngomong seperti itu tetapi antum sendiri juga melakukannya
    Dan apakah anda sudah melakukan apa-apa Sunnah yang di lakukan oleh Rasulullah S.A.W?
    Wahai para Ahlul Bid’ah, ingatlah kalian kepada sabda Rasullullah :
    ” akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim).

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Ya udah,kita liat aja nanti sampai datangnya keputusan Allah

    @ Assamar :
    tambahan :
    mungkin ada yang berkata lagi :
    kami mengikuti sahabat berarti kami mengikuti Rasullullah juga.
    lalu kita jawab :
    alangkah lebih indahnya apabila kita menetapkan diri terhadap apa2 yang telah ditetapkan oleh Rasullullah sendiri ??
    saya tidak mengatakan bahwa saya menentang sahabat ! tapi saya lebih nurut apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah dan begitulah sebaik-baik cinta kepada Rasullullah.

    @ El_Muhibbin menjawab:
    Ana ini bingung sama antum,sebentar anda kita ikut Sahabat Nabi Muhammad S.A.W,trus enggak lama tidak. Lho ini ya apa,aliran model apa ini?. Kok bisanya cuma bikin orang bingung saja. Laen sama Ulama-ulama salaf seperti yang antum sebutin tadi (tapi yg jelas bukan ulama-ulama wahaby). Belajar ke Ulama mana cah Ngganteng ( Assamar ),ulama-ulama wahaby ya?
    Trus siapa yang mewariskan ilmunya Nabi Muhammad S.A.W kalo bukan sahabat,trus tabi’it, tabi’ut tabi’in
    Inikan testimony antum:
    Yang dimaksud dengan Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.

    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “

    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.( tapi yang jelas bukan ulama-ulama wahaby ).

    @ Assamar :
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا
    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)
    @ El_Muhibbin menjawab:

    Kita kan udah di beritahu oleh Allah S.W.T di Al-Qur’an dan di Hadistnya oleh Nabi Muhammad S.A.W untuk belajar kepada ulama:

    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pengetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )

    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80).

    Firman Allah S.W.T dan Hadist Nabi Muhammad S.A.W kan juga sebagai perintah kalo anda tidak mengetahui tentang segala sesuatu tanyalah kepada ulama,apakah ini bukan termasuk perintah untuk menanyakan sesuatu yang tidak ketahui kepada ulama?

    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )

    Jadi kalo kita tidak mengerti itu disuruh menanyakan kepada yang menegerti dalam hal ini adalah ulama.Siapakah itu, antum sendiri kan yang menjawabnya,ini jawabannya:

    Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.

    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “

    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu ( tapi yang jelas bukan ‘Ulama wahaby).

    Dan Ana minta kepada Para Muslimin dan Muslimat Mukminin dan Mukminat dan para asatidz-asatidz dan para habaib-habaib yang membaca artikel ini supaya menDo’akan Al-Habib ‘Abu-Bakar Bin Zein Al-Kaf surabaya ( saudaranya Ustadz Ahmad Bin Zein Al-Kaff surabaya)

    Dikarenakan beliau sedang sakit dan sedang menjalani perawatan dirumah sakit graham merta dikarenakan terjatuh dan mengalami retak dikakinya.Dan Insya Allah pada hari rabu besok tanggal 17-maret-2010 Beliau akan di operasi. Beliau sekarang berada di rumah sakit graha merta dilantai 7 kamar 727 .Diharapkan Do’anya untuk kesembuhan Beliau dan juga pada waktu proses operasi dikasih kemudahan oleh Allah S.W.T, Amiin Yaa Rabb.

    Terutama juga untuk di Pondok Pesantren Sunniyah Salafiyah yang dipimpin Oleh Al-Habib Taufiq Bin ‘Abdul-Qadir Bin Husein As-Seggaf untuk menDo’akan supaya beliau segera diberikan kesembuhan oleh Allah S.W.T. Amiin

    Terimakasih atas pemberitahuan ini,dan alafu ana g bias ngasih apa-apa,tapi Allah S.W.T lah yang akan membalas kebaikan kalian ini, Amiin. Semoga dengan ini kita nantinya dibalas dengan sebaik-baik balasan yaitu mendapatkan Syafa’atnya Nabi Muhammad S.A.W di Hari Kiamat nantinya, Amiin

    Jazakallah Khairan…….

    Wal ‘Afu

    Wassalamualaikum Wr.Wb

  • El_Muhibbin said:

    Alafu ana baru bisa coment sekarang,dikarenakan kesibukan. Tapi Alhamdulillah ana bisa membalas coment-coment itu

    Alhamdulillah……..

  • riariani said:

    @ assamar
    anda telah mengasingkan diri dari ijma’ sahabat dan jalan salafussoleh maka anda telah terasing dari islam.

    saya sudah pernah mendengar ulama’ berkata kurang lebih begini ” apabila seseorang atau kelompok dengan jelas menentang ijma’ para sahabat maka boleh di penggal lehernya dan mejadi halal darahnya”
    artinya jika seseorang berani menyelisihi ijma’ para sahabat maka seseorang/kelompok itu telah nyata keluar dari islam.

    karena para sahabatlah yang lebih megetahui hukum islam dan sunah
    rosul,apa lagi yang anda hina di sini adalah khulafaurrosidin,(sahabat yang telah di jamin masuk surga oleh alloh melalui rosulnya)bertaubatlah wahai saudara yang mengasingkan diri dari islam dan ijma’ sahabat.

    allohumma soli’ala saiyyidina muhammad,wa’ala alisaiyyidina muhammad

    berjuang terus wahai saudaraku aswaja, di bumi belahan timur atau barat di manapun engkau berada,karena musuh islam telah nyata, orang kafir2 dan penentang sunah,penentang ijma’penentang salafussoleh.

  • lela lestari said:

    All:
    saya ga akan menjawab yang apa yang anda pertanyakan percuma aja anda ga ngerti2 anda kekeh pada pendirian anda yang salah.coba deh kalau anda bingung solat istikharah untuk memilih.

    banyak sekali orang bertanya tentang hukum memperingati maulid nabi SAW dan berdiri bersama ketika peringatan berlangsung serta memberi salam kepada nabi SAW dan hal lainnya yang di lakukan orang2 pada peringatan tsb.

    jawab:
    tidak boleh memperingati hari maulid Nabi SAW dan maulid siapapun karena hal itu bid’ah yang di ada2kan dalam agama Rasulullah SAW khulaufaur Rasyidin para sahabat begitu pula para tabi’in yg berada pada kurun terbaik tidak pernah melakukanya. padahal mereka adalah orang yg paling mengerti dengan sunnah dan orang yang paling sempurna cintanya kepada Rasulullah SAW serta paling konsisten dalam mengikuti syariatnya di banding dengan orang2 yang datang setelah mereka.
    Nabi SAW bersabda:

    barang siapa yang meng ada2 dalam urusan agama kami tanpa ada dasarnya maka hal itu tertolak (tidak di terima).

    dalam hadits lain beliau bersabda:
    berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku,berpegang teguh lah dengannya, dan hindarilah oleh kamu sekalian hal2 yang di ada2kan dalam agama, sesungguhnya setiap hal yang di ada2kan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.

    dua hadits itu merupakan peringatan yg keras kepada kita agar tidak mengada2 bid’ah dan mengamalkanya. apakah kalai belum percaya dengan kedua hadits itu.

    Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-quran:

    apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (QS AL-Hasr 7).

    pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan nikma-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai islam sebagai agama bagimu (QS Almaaidah:3)

    apakah kalian wahai ahli bid’ah belum cukup dengan firman Allah dan sabda Nabi SAW.
    sesungguhnya sebaik perkataan adalah Alquran sebaik2 petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW sejelek2 perkara adalah hal2 yang di ada2kan dalam Agama (bid’ah) setipa bidah itu sesat. (HR.Muslim)

    semoga ahli bid’ah kalian tidak menyesatkan yang lain coba kalau kalian punya dalil bahwa maulid nabi SAW itu ada tuntunanya dari rasulullah keluarkan, mungkin kalain ngambil haditsnya dari kitab orang syiah kaya kitab berjanji itukan karangan orang syiah.
    bisanya kalian bertanya yang ga perlu mau berguru Agama tuh sama mas Assamar.

    adapun tentang wahabi nanti saya bahas lain kali.

    wasalam
    lela lestari bandung.

  • Wardah Shamita said:

    Wah… si lela lestari ini kejangkitan virus wahabi sudah parah sekali. Semoga dia menemukan obat mujarab dalam perjalanan hidupnya.

    virus wahabi akan membuat orang Memahami dalil-dalil agama secara leterlek, anti takwil, tidak mampu menangkap maksud di balik perkataan dan cenderung tak mau dengar argument pihak lain. Mereka tidak mampu melihat realita dan fakta sejarah ummat Islam dari dulu hingga kini, bahwa bid’ah hasanah itu sangat real dalam kehidupan ummat Islam. Kalau cara pandang wahabi diterpkan secara konsisten, maka tidak ada satu kelompok ummat pun yang masuk surga. Karena semuanya adalah ahli bid’ah, lebih-lebih wahabi adalah jagoan dalam membuat bid’ah!

    Semoga anak cucu kita selamat dari virus wahabi yang berbahaya ini. Amal-amal ibadah kita bisa luntur bagaikan kayu bakar dimakan api kalau hati kita terkena virus wahabi stadium tinggi. Jagalah dirimu dan keluargamu dari virus wahabi, agar selamat dari api neraka. Amin….

  • Assamar said:

    @ aldj

    saya akan membahas lagi apa2 yang anda tanyakan :

    sy telaah kata2 anda:
    kt anda:
    Kebenaran mutlak hanya SATU !! sebagaimana hadist yang telah kita ketahui bersama bahwa Umat Islam akan terbagi 73 golongan dan hanya satu yang masuk SURGA, yang lainnya di NERAKA !!
    kt sy:
    kita lihat siapa yg menurut anda masuk NERAKA
    kt anda:
    lantas ada orang yang mengaku bahwa dialah juga yang masuk SURGA…eitss, tunggu dulu, kita telusuri lagi siapa yang sebenarnya orang yang akan selamat itu..
    1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
    “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
    kt sy:
    perhatikan bhw di sini ada kt2 MENGIKUTI SAHABAT

    saya berkata : betul…..

    kt anda:
    Walhasil golongan yang selamat adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.
    kt sy:
    skrg SAHABAT di tinggalkan

    saya jawab :
    dengan pernyataan tersebut lantas anda mengatakan saya tinggalkan sahabat, begitu ?? lha, gak ngerti apa , Salafus Shalih yang dimaksud disitu ya itu kan para Sahabat, para tabi’in, para tabi’ut tabi’in dan yang mengikuti setelahnya.

    kt anda:
    Yang dimaksud dengan Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu.
    kt sy:
    1.skrg anda mulai memilah2 sahabat(yg paham betul),terlihat anda tdk konsisten.
    sahabat yg paham betul?ini siapa?.disini akan terlihat subyektifitas anda,utk memilih siapa sj itu sahabat
    2.sekarang perhatikan bhw ulama ahli tafsir termasuk dlm salafussahaleh,tentu sj sesuai kalimat anda sebelumnya mesti di ikuti

    saya jawab :
    1.saya hanya menulis “yang dimaksud dengan Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah”, dan jelas saya tidak menulis nama2 sahabat tertentu yang paham atau yg tidak paham. Yang dimaksud dari penulisan saya diatas adalah seluruh dari para sahabat baik dari kalangan kaum Muhajirin maupun kaum Anshar. So darimana saya tidak konsisten ???
    2.betul, ulama tafsir terdahulu adalah termasuk shalafus shalih, jadi, maksud kalimat yang harus diikuti sebelumnya apa ??

    kt anda:
    Ya betul itu, kami senantiasa merujuk kepada kitab2 mereka, tapi tidak terlalu fanatik kepada mereka. Yang kita fanatikkan hanyalah kepada Rasullullah.
    kt sy:
    skrg anda katakan
    1.hanya merujuk,tp tdk mengikuti salaf/ulama
    2.fanatik hanya kpd rosulullah,perhatikan..!,sahabat,salafussahaleh n ulama sdh tdk masuk katagori

    saya jawab :
    Betul !! kita wajib fanatik hanya kepada Rasullullah. Untuk Sahabat kita tidak wajib fanatik tapi tetap mengikutinya dan tidak menafikan keberadaan mereka, begitu juga para ulama. Paham kan ??

    kt anda:
    dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah
    kt sy:
    adakah hadits shahih yg tdk betul2 diucapkan oleh rosul.?

    Saya jawab :
    Tentu bila suatu hadist shahih itulah yang diucapkan Rasullullah. Mengenai perkataan saya diatas hanyalah penguat dari perkataan sebelumnya. Apabila saya salah dalam perkataan disini, maka saya yang minta maaf.

    kt anda:
    Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA
    kt sy:
    1.nah sekarang ulama hujjahnya tdk bs dipakai,n jd ulama ada yg menentang dalil.?anda jd tdk konsisten lg.
    2.krn ketidak konsistenan anda dlm mengikuti n taat,tolong anda sebutkan kita mesti taat kpd siapa berdasarkan dalil quran?
    kt anda:
    Telah berlalu yang saya tuliskan Manhaj Salaf yang harus kita ikuti..silahkan dibaca ulang.
    kt sy:
    sy bc ulang2 ko membingungkan,pake quran aja biar jelas mana yg mesti diikuti
    kt anda:
    Kalian dengan tega menghalalkan perayaan itu hanya karena mengikuti para ulama yang hidup setelah Rasullullah ????
    lalu siapakah yang anda ikuti, Rasullullah atau para ulama ????
    kt sy:
    nah bingungkan,kt kedua2nya mesti diikuti,ko bertentangan?

    saya jawab :
    yang dimaksud dari ulama tsb adalah ulama yang menghalalkan acara maulid ! Maulid secara syariat tidak ada dalilnya jadi haram untuk dirayakan ! maka ulama yang menghalalkan acara maulid maka haram mengikuti dia, nah yang dimaksud dari saya ulama yang harus diikuti adalah mereka yang ittiba kepada Rasullullah, bukan ulama yang hobi mengada-adakan suatu perkara dan disandarkannya kepada agama… mengerti sampai disini ??? jadi anda juga harus bedakan, mana yang diikuti, mana yang harus tidak diikuti.

    kt anda:
    bahwa sesungguhnya aqidah yang benar dan lurus adalah menerima dengan tulus dan ikhlas semua dalil shahih tanpa ada akal masuk ke dalamnya.
    bahwa kita mengimani semua dalil shahih tanpa mengutak-atiknya dengan akal dan hawa nafsu, karena bila demikian yang antum lakukan maka yang ada hanyalah kesesatan.
    kt sy:
    1.jd tmbh bingung,aqidah yg benar n lurus ini yg mana?ktnya yg ngikuti rosul,sahabat,salaf n ulama,ko skrg ikut semua hadits yg shahih?
    2,eh..menerima semua dalil shahih,pd hal anda ktkan sebelumnya “hadits shahih yg betul2 dr rosul”? g semua dong hadits shahih?,wah…tmbh bingung…
    3.pake bw2 akal lg,pdhal kan dlm alquran allah menyuruh kita menggunakan akal?jd allah menyuruh kita jd sesat?

    saya jawab :
    waduh..waduh…ni orang jadi keblinger deh….gak ngerti satupun yang saya tuliskan, malah bingung sendiri. Semua yang saya tulis gak dimengerti, gimana mau jelasin kalo anda sendiri gak ngerti sebelumnya.
    Aqidah yang benar dan lurus ngikut Rasullullah, Sahabat, pokoknya siapapun yang ittiba dengan Rasullullah, bukan kepada orang yang mengajak kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan kebodohan.
    Akal dianugerahkan ALLAH kepada manusia untuk dipakai untuk kemaslahatan manusia dan dirinya sendiri selama di dunia, contoh : manusia membuat mobil, motor, pesawat, internet, dll semuanya dari akal manusia kan, betul ???
    tapi akal tidak boleh digunakan untuk mengutak-atik ayat Alqur’an dan hadist shahih. Ngerti gak sih ??

    kt anda:
    betul… kita harus mengikuti para sahabat karena mereka para Salafus Shalih.
    Saya tidak pernah mengatakan bahwa apa2 yang telah dilakukan oleh para Sahabat adalah sesat, para Sahabat tidak lah sesat, bahkan mereka lah yang telah dijamin oleh ALLAH dan RasulNYA sebagai penghuni surga.
    kt sy:
    coba kita lihat kalimat berikutnya…
    kt anda:
    perihal shalat tarawih 20 rakaat dan adzan 2x di hari Jum’at saya tidak mengingkari adanya itu, tapi bila anda berpikir dengan jernih : SIAPAKAH YANG ANDA IKUTI, RASULLULLAH atau PARA SAHABAT ????? tentunya kita harus lebih mendahulukan Rasullullah, iya kan ???
    kt sy:
    skrg sahabat n rosul pd posisi yg bertentangan,
    sahabat telah melakukan bid’ah.dan kita disuruh meninggalkan sahabat dlm urusan ini,pdhal kalimat diatas ada kata2 kita harus mengikuti sahabat.
    dan dr awal anda sdh katakan bhw bidah itu sesat,n tempatnya di neraka.
    jd sahabat tempatnya dineraka?.
    eh..tau2 anda katakan para sahabat tdk sesat n mereka sdh dijamin masuk surga
    mana yg benar?

    Saya jawab :
    TIDAK PERNAH SATUPUN RASULLULLAH DAN PARA SAHABAT SALING BERTENTANGAN !! ANDA LAH YANG TIDAK MENGERTI APA YANG SAYA TULISKAN JADI SEMUANYA SEOLAH2 BERTENTANGAN !!

    Gini penjelasannya :
    a. Sholat Tarawih yang dihidupkan kembali oleh Umar radhiyallahu anhu adalah perkara yang telah dicontohkan sebelumnya oleh Rasullullah. Ini diperkuat oleh hadist dari Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasullullah bila waktu malam di bulan Ramadhan pergi ke masjid untuk melaksanakan qiyamul lail dan beberapa sahabat mengikutinya dan sewaktu hari ke tiga, makin banyak Sahabat mengikutinya. Maka keesokan malamnya Rasullullah pun tidak melakukannya lagi, dan beliau bersabda bahwa dikhawatirkan nanti di kemudian hari qiyamul lail tsb diwajibkan kepada ummatnya. Dan setelah Rasullullah wafat, maka Umar melihat tidak ada lagi kekhawatiran atas perkataan Rasullullah sebelumnya, maka beliau memanggil sahabat yang lain untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Dan disini Umar telah melakukan sunnah, yang tentunya telah dicontohkan oleh Rasullullah. Adapun perkataan Umar “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan perkataan tsb adalah dalam artian bahasa ! Karena apabila anda menganggap bahwa bila perkataan itu secara syariat, maka hal itu lah yang bertentangan dengan sabda Rasullullah bahwa “ SEBURUK-BURUK PERKARA ADALAH YANG DIADA-ADAKAN (BID’AH), SETIAP BID’AH ADALAH SESAT, DAN SETIAP KESESATAN ADALAH DI NERAKA “. Karena beliau adalah termasuk salah satu dari seluruh Sahabat yang sangat paham tentang Kitabullah dan hadist Rasullullah.
    Nah, disini saya ingin menjelaskan tentang, berapa rakaat sih yang afdholnya shalat tarawih ini ??
    Rasullullah yang pantas kita ikuti dan mengerjakan tidak lebih 11 rakaat…..
    Umar kita wajib mengikutinya juga mengerjakan 20 rakaat dan itu hasil ijtihad beliau ….
    Lalu mayoritas dari umat muslim lebih mengikuti apa yang di ijtihadkan oleh Umar,
    lalu saya bertanya : DALAM MASALAH INI SIAPA YANG ANDA DAHULUKAN PENDAPATNYA ??? RASULLULLAH ATAU UMAR ??? KOQ GAK MENDAHULUKAN PENDAPAT RASULLULLAH ???
    maka dari itulah saya katakan kepada kalian yang mayoritas ini, kenapa lebih memilih apa yang Umar kerjakan daripada memilih Rasullullah sendiri ???
    Bila si Aldj masih bertanya : bukankah dengan mengatakan kita mengikuti Umar sama halnya mengikuti Nabi ?? dan bukankah dengan mengikuti Umar sebagaimana perkataan anda sebelumnya bahwa termasuk Salafus Shalih adalah Umar (sahabat) ???
    Kita jawab lagi : Betul !! tapi bila dalam masalah ini, kita wajib mengedepankan apa2 yang telah didahulukan Rasullullah daripada Sahabat. Perbuatan ini tidak lantas kita menafikan Sahabat, TIDAK !! tapi sekali lagi kita pertegas bahwa apapun yang datang dari Rasullullah maka itulah yang didahulukan….semoga Aldj bisa mengerti.
    b. Mengenai adzan 2x di hari Jum’at, waktu itu Sahabat Utsman melihat semakin banyaknya manusia dan jauhnya rumah2 mereka dari masjid dan Utsman khawatir mereka tidak lagi mendengar seruan pada hari Jum’at, maka Utsman menyuruh bilal agar melakukan adzan 2x untuk mengingatkan kepada manusia akan pentingnya Shalat Jum’at secara berjamaah. Adapun saat ini teknologi sudah canggih, kita bisa adzan dengan microphone yang tentunya bisa didengar ke seluruh pelosok wilayah, dan tentunya kekhawatiran dalam masa Utsman tidak ada lagi, maka bila kita telaah lebih jernih alangkah baiknya kita mengembalikan lagi ke Sunnah Rasullullah bahwa dalam adzan Jum’at 1x saja ??? bukan begitu kan ??? lalu kenapa ya mayoritas kita tetap saja mengerjakan apa2 yang dilakukan oleh Utsman ??? bukankah kita harus mendahulukan Sunnah Rasullullah ???
    Saya tidak mengatakan bahwa Utsman sesat karena membuat suatu perkara yang tidak dicontohkan oleh Rasullullah… Dalam hal ini Utsman berijtihad, dan apabila begitu maka ini menjadi sunnah dari Khulafaur Rasyidin… bukankah ada hadist “wajib bagimu memegang sunnahku dan sunnah Khalifah Ar-Rasyidin “ ??? Maka hal ini kita tidak lagi mengatakan bahwa itu bid’ah karena telah menjadi sunnah, Sunnahnya Khulafaur Rasyidin. Bukan begitu ???

    KESIMPULAN:
    penjelasan anda semuanya ini adalah ASBUN..!
    klu anda tdk mau dikatakan ASBUN,berikan sy dalil QUR’AN ttg siapa yg mesti ditaati n di ikuti? spy kita tdk SESAT..!
    krn dalil hadits pun anda tdk konsukwen

    Saya jawab :
    Sudah saya jelaskan semuanya bung….dan disini kita bisa melihat, siapa yang ASBUN, siapa yang berbicara sesuai dalil ?? tebak siapa ???

    dan saya juga punya kesimpulan atas tanggapan anda :
    satu kata : BODOH !! lebih baik anda belajar lagi deh, nanggapin tulisan orang aja kelimpungan, bingung sendiri…makanya klo jadi orang jangan taqlid bebek sama habib2 mu itu.

    Mau dalil dari Alqur’an tentang siapa yang mesti kita ikuti ??? hayati dalam hati ya….

    ““Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80) Ayat ini mempunyai makna bahwa wajib bagi kita taat Kepada Rasullullah yang demikian itu salah satu wujud kecintaan kita kepada ALLAH, dan kita tidak boleh berpaling sedikitpun dari ketaatan itu.

    “ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat keras hukumannya “ (Qs. Al-Hasyr:7) Ayat ini bermakna bahwa apa yang telah diberikan/diajarkan/disunnahkan Rasullullah maka kita harus menerimanya dengan ikhlas, sedangkan apa yang telah dilarangnya yang salah satunya yaitu bid’ah maka kita harus meninggalkannya.

    “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila ALLAH dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-NYA maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata ” (Qs. Al-Azhab:36) Ayat ini bermakna bahwa baik bagi laki-laki maupun perempuan harus menerima suatu ketetapan yang telah ditetapkan oleh ALLAH dan Rasul-NYA tanpa ada baginya ketetapan/pendapat orang lain yang bukan dari ALLAH dan Rasul-NYA. Bila mereka lebih menerima ketetapan yang lain selain ketetapan ALLAH dan Rasul-NYA, maka jelaslah mereka tersesat dengan kesesatan yang nyata.

    “ Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (Qs. An-Nisa’:115) Ayat ini bermakna bagi mereka yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran yang telah diketahuinya, maka tiada tempat kembali bagi mereka selain Jahannam.

    Semoga ALLAH memberikan hidayah kepada anda sekalian agar dapat menjalani nikmatnya agama ini secara benar…amin

  • Assamar said:

    @ riariani

    Anda menulis :

    khulafaurrosidin pernah mencium wangi keringatnya rosululloh kamu anggap sesat……..???
    astaghfirulloh…salut sama ilmu ngawur anda,

    saya jawab :
    SEJAK KAPAN SAYA MENGATAKAN BAHWA KHULAFAUR RASYIDIN SESAT ??? ADAKAH DARI TULISAN SAYA DI ATAS MENGATAKAN SEPERTI ITU ??? COBA TUNJUKKAN KEPADA SAYA DAN KEPADA SEMUA YANG IKUT DI FORUM INI !!!!
    Atau mungkin karena saya mengharamkan Maulid, jadi anda menganggap saya mencap Sahabat sesat, gitu ??? sekarang saya tanya ke anda, sejak kapan Sahabat ngerayain maulid ???? ada di riwayat mana ?? kitab siapa ?? halaman berapa ?? karangan siapa ?? cetakan siapa ??

    Jelas2 tidak ada satupun riwayat shahih yang mengatakan bahwa Sahabat merayakan maulid !!!! tidak pula riwayat dari Rasullullah langsung, tidak juga di semua manusia yang hidup pada tiga jaman generasi emas umat manusia !!!!

    rosululloh dan khulafaurrosidin tidak bisa di pisahkan fiddunya wal akhirat,

    saya jawab :
    betul itu ! dan mereka lah saat ini telah menikmati nikmatnya Surga yang terbentang sepanjang mata memandang hingga akhir kiamat nanti. (Semoga kita semua bisa berakhir sama seperti mereka..amin)
    SEKALI LAGI SAYA KATAKAN, SAYA TIDAK PERNAH MENUDUH SAHABAT SESAT !!!! CAM KAN ITU !!!

  • Assamar said:

    @ El Muhibbin :

    Dan Adalagi,kalo dithoriqahnya antum (wahaby/salafy)kan g boleh memuji Rasulullah S.A.W,tapi kenapa anda mengatakan (Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya),katanya memuji Rasulullah S.A.W g boleh,kenapa anda mengatakan memuji albani,apakah itu bukan termasuk bid’ah?.Ana jadi bingung sama thoriqahnya antum orang-orang wahaby/salafy
    Pertanyaan ini khusus untuk Assamar,soalnya ana tanya koq g dijawab-jawab

    Baiklah ana jawab :
    Perlu dibedakan antara memuji Rasullullah dan memuji Syaikh Al Albany. Memuji Syaikh Al Albany hanya dalam urusan keluasan ilmu beliau daripada ilmu kita ini. Beliau adalah ulama muhaddist abad ini, dan berbagai ulama pun memuji beliau dalam ilmu beliau tentang hadist ! perlu diingat juga, kita tidak harus taqlid kepada dia dan saya tidak taqlid buta kepada dia…..sedangkan memuji Rasullullah adalah kita bisa gambarkan dengan meneladani dari perilaku Rasullullah, dan kepada Beliau lah kita taqlid.

    DEMI ALLAH, saya memuji akan keteladanan dari sifat2 yang ditunjukkan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam ! dan saya sangat, sangat, sangat mencintai Rasullullah !! saya tidak melakukan maulid bukan berarti tidak memuji Rasullullah !! memuji atau mencintai seseorang itu bukan dengan merayakan hari kelahirannya !! dan juga mencintai seseorang bukan dengan melakukan perkara yang mungkar seperti maulid itu !!

    MENCINTAI RASULLULLAH LEBIH TEPATNYA ADALAH ITTIBA’ DENGAN PETUNJUKNYA. MENGIKUTI SUNNAH – SUNNAH RASUL YANG SAAT INI SEPERTINYA SUDAH BANYAK DITINGGALKAN OLEH UMATNYA SENDIRI, MALAHAN KALIAN ITTIBA KEPADA RASULLULLAH DENGAN KEMUNGKARAN, LALU APAKAH INI NAMANYA MENCINTAI RASULLULLAH ??? BERAPA BANYAK SUNNAH RASUL YANG KALIAN ABAIKAN ???

    Yang terpenting bukanlah engkau mencintai Nabimu. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa mendapatkan cinta Nabimu. Begitu pula, yang terpenting bukanlah engkau mencintai Allah. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya. (Lihat Syarh ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 20/2)
    Lalu bagaimana supaya ALLAH dan Rasul bisa mencintai kita ??? yaa, tentunya dengan mengikuti apa yang diperintahkanNYA, menjauhi segenap apa yang dilarangNYA, dan menjauhi segala perkara yang tidak dicontohkan oleh Rasul… bukan begitu ????

  • Assamar said:

    @ elfasi :

    anda menulis :
    @ assamar, anda katakan “Orang yang melakukan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak disangsikan lagi bahwa mereka adalah orang yang sesat , dan orang yang tersesat di jalan ALLAH Ta’ala tentunya akan berakhir di dalam neraka, wal iyadzubillah”,
    - wah hebat ya anda, bisa mengetahui dan memastikan orang masuk neraka, emang anda udah menghuni neraka sebelumnya mas ??. tolong tunjukkan satu aja dalil yang secara jelas menyatakan bahwa orang yang membaca siroh Nabi, bersholawat, berdzikir, bersedekah adalah sesat dan masuk neraka ?

    Saya jawab :

    ini yang hal yang paling penting supaya anda renungi :

    Bila anda sekalian membaca siroh Nabi, bersholawat, berdzikir dan bersedekah secara sendiri TANPA diselingi acara perayaan seperti maulid itu…MAKA SAYA AKAN MENDUKUNGNYA, MALAH SAYA SENANG DAN INSYA ALLAH SAYA AKAN IKUTI !!!

    Tapi bila anda sekalian membaca siroh Nabi, bersholawat, berdzikir dan bersedekah DENGAN di atasnya ada acara perayaan maulid itu…. MAKA SAYA BERKATA “ ITU BID’AH “ DAN INILAH HAKIKAT BID’AH YANG SESAT YANG SEBENARNYA !!!!!!

    Sampai disini apakah anda mengerti ??????? kalo gak ngerti juga…hmmmmmmmm….cape deh…

    anda menulis :
    Anda katakan “ Kami memang ngotot dan ngeyel mengatakan bahwa maulid itu bid’ah dholalah !!! dan kami ngotot karena kami bersandar bahwa Nabi tidak pernah merayakan hari kelahirannya !! dan kami senantiasa berdalil kepada hadist shahih yang betul2 diucapkan oleh Rasullullah beserta sanadnya yang tsiqah (terpercaya) .”
    = mas, apakah semua yang tidak dilakukan oleh Nabi itu sesat dan haram ?

    Saya jawab :
    Apa2 yang tidak dilakukan/dicontohkan Nabi dalam perkara ibadah dan anda melakukannya, maka itu adalah bid’ah. Kenapa ?? karena bila itu ibadah sudah pasti Nabi mengajarkannya ! bukankah Rasullullah pernah mengatakan bahwa tiada lagi kebaikan yang ada selain telah kusampaikan kepada kalian ?? ingat hadistnya kan ??? nah, bila itu kebaikan dan Rasullullah tidak menyampaikannya, maka berarti Rasullullah mengkhianati risalah yang telah diwahyukan dari ALLAH untuk umat manusia dan ITU MUSTAHIL !!!! Lalu bila Rasullullah tidak mengerjakannya, UNTUK APA KITA MELAKUKANNYA DAN MEMBELANYA MATI-MATIAN ?????? UNTUK APA KITA CAPE2 NGERJAIN SESUATU YANG TIDAK ADA KEJELASAN SAMA SEKALI DARI AGAMA INI ?? apakah kalian tidak merasa dicukupkan oleh agama ini sehingga masih mau menambahkannya ???

    anda menulis :
    klo ya…, berarti para sahabat itu telah melakukan kesesatan ya…?

    Saya jawab :
    Melakukan kesesatan seperti apa ???? apakah karena anda menganggap Sahabat melakukan maulid lalu saya sesatkan, begitu kah ???? lho, sejak kapan Sahabat ngerjain Maulid ??????? apa pernah dengar riwayatnya ??? di kitab mana ? halaman berapa ? cetakan siapa ? karangan siapa ?

    anda menulis :
    padahal mereka kan yang paling mengerti terhadap isi hadits Rasul karena menjadi orang2 yang paling dekat dengan Rasulullah !!! apakh mereka gak ngerti ya arti bid’ah yang anda doktrinkan sesat itu apa ??

    saya jawab :
    Para Sahabat tentu tahu akan bahayanya bid’ah, nih saya nukilkan lagi apa2 perkataan Sahabat tentang bid’ah.

    Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimiy)
    Beliau juga pernah berkata : “ Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimy no. 211)

    Abdullah bin Umar berkata : “ Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)

    Mu’adz bin Jabal berkata : “ Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)

    Abdullah bin Abbas berkata : “ Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimy no. 141)

    Bahkan Umar bin Khattab pernah berkhutbah dengan perkataan : “ Setiap yang baru adalah bid ah dan setiap yang bid’ah (tempatnya) di dalam neraka “.

    Udah cukup dengan perkataan Sahabat kan ?? tentunya dengan perkataan seperti itu mereka konsekuen dalam mengikuti perkataan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yaitu :
    ” Amma Ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (Bid’ah) dan setiap Bid’ah adalah sesat.”(Hadist shahih Imam Muslim no. 867)

    dan tentunya mereka takut akan hadist ini :

    “Barangsiapa yang memunculkan/mengamalkan bid’ah atau melindungi pelaku bid’ah, maka atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia, tidak akan diterima dari tebusan dan tidak pula pemalingan”. (hadist riwayat Imam Bukhari dari Ali dan Imam Muslim dari Anas bin Malik)

    Dari beberapa atsar di atas, jadi semakin jelas bahwa para Sahabat sangat membenci bid’ah dan tidak ada satupun mereka mengerjakan bid’ah !!! apalagi mereka merayakan maulid ??? hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa Sahabat ngerjain maulid.
    Maka masihkah kalian berbuat bid’ah ??????????????????????? gak takut laknat ALLAH dan para Malaikat ??? takut lah kalian kepada ALLAH wahai saudaraku !!!

    anda menulis lagi :
    Anda katakan “Antum perlu ingat juga, perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah dalam menentang suatu dalil !! mengenai para ulama yang menghalalkan acara maulid, maka kita katakan bahwa kita tidak boleh mengikutinya, karena tidak ada suatu ketaatan kepada seseorang dalam bermaksiat kepada ALLAH dan RasulNYA. = mas, kok bisanya anda katakan para ulama’ telah mengajak orang untuk bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya ?, apakah gak kebalik, karena kedangkalan anda (orang2 wahabi) dalam menilai suatu hadits, memahami arti dari bid’ah, sehingga kalian telah banyak mensesatkan dan mengkafirkan orang2 muslim ? , trus klo gak ngikut ulama’ mo ngikut sapa ? ngikut orang semisal anda ini, udah gak ngerti ama hadits.. sok ngerti lagi dan menvonis orang lain sesat ? anda bukan ulama’, tapi NGELAMAK ama ulama’, sapa yang mo ngikut orang sebodoh anda ini…..?

    Saya jawab :
    Ulama yang saya maksud adalah ulama yang mengajak kepada kebid’ahan, karena sesungguhnya bid’ah adalah bentuk kemaksiatan kepada ALLAH dan RasulNYA, dan kita tidak wajib mengikutinya. Lalu siapa contoh ulama itu : tidak lain para habib2 dan ulama sufi yang doyan sama maulid dan penyeru bid’ah. Walaupun dia ahlul bait Rasullullah, karena bila seperti itu kita tidak wajib mengikutinya ahlul bait tsb !! karena Rasullullah mengharamkan bid’ah !!

    Mengenai perkataan Imam Syafi’I rahimahullah tentang pembagian 2 macam bid’ah ini tentunya bertentangan dengan perkataan beliau yang lainnya, Imam Syafi’i pernah berkata : “ Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara baru yang tidak disyariatkan) maka dia telah membuat syariat “, dan makna membuat syariat disini adalah membuat kebid’ahan.

    Apabila Imam Syafi’I mengatakan ada bid’ah mahmudah dan bid’ah mazmumah tentunya ini tidak sejalan dengan pernyataan gurunya sendiri yaitu Imam Malik rahimahullah, dimana Imam Malik pernah berkata : “ Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan, ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam mengkhianati risalah, karena ALLAH Ta’ala telah berfirman (yang artinya) : “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. “ Maka sesungguhnya yang tidak menjadi agama pada hari itu, tidak menjadi agama pula pada hari ini. (Al-I’tishom, Imam Asy-Syatibi 1/64)

    Apakah pantas pada jaman beliau dimana masih dalam jaman generasi terbaik umat manusia seorang murid mau menentang perkataan guru/imamnya sendiri ????????

    Bahkan Imam Syafi’I pun pernah memperingatkan muridnya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah :
    “ Jika kalian temukan dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam maka peganglah Sunnah Rasulullah dan tinggalkanlah pendapatku “ ( dikeluarkan oleh Al Baihaqy dalam kitabnya Manaqib Asy Syafi’e (1/472) dengan sanad yang shahih)

    pendapat ini menunjukkan betapa tawadhunya beliau dan melarang kita untuk taqlid kepada beliau !!!! perlu anda ingat itu ya !!

  • Assamar said:

    kepada yth.
    seluruh pengunjung situs ini bersama authornya, habib2nya, dan pengekor dibelakangnya……..

    Kami dari para penegak sunnah Rasullullah, akan senantiasa akan memperingatkan kalian dari bahayanya bid’ah, tapi kalian memang pembangkang, dari sifat membangkang itu maka kalian susah menerima kebenaran yang nyata di depan mata kalian.
    salah satu sifat orang sombong adalah tidak mau menerima kebenaran.

    Kalian hanya mencari pembenaran, tapi tidak mencari kebenaran !!
    Hujjah kalian lemah…
    dalil kalian shahih tapi di alamatkan ke arah yang bathil….

    KEBENARAN DIBILANG KESESATAN
    KESESATAN DIBILANG KEBENARAN
    MAKA AKHIRNYA ADALAH KEBODOHAN YANG MERAJALELA….

    saya senantiasa teringat dengan yang ini :

    ALQUR’AN :

    “ Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)

    “ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat keras hukumannya “ (Qs. Al-Hasyr:7)

    “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila ALLAH dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-NYA maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata “ (Qs. Al-Azhab:36)

    “ Dan barangsiapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali (Qs. An-Nisa’:115)

    HADIST RASULLULLAH :

    ” Amma Ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (Bid’ah) dan setiap Bid’ah adalah sesat.”(Hadist shahih Imam Muslim no. 867)

    “ Barangsiapa yang memunculkan/mengamalkan bid’ah atau melindungi pelaku bid’ah, maka atasnya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia, tidak akan diterima dari tebusan dan tidak pula pemalingan”. (hadist riwayat Imam Bukhari dari ‘Ali dan Imam Muslim dari Anas bin Malik)

    “Sesungguhnya Allah mengahalangi taubat dari setiap pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya”. (hadist riwayat Ath-Thobarony dan Ibnu Abi ‘Ashim)

    “Saya menunggu kalian di telagaku, akan didatangkan sekelompok orang dari kalian kemudian mereka akan diusir dariku, maka sayapun berkata : “Wahai Tuhanku, (mereka adalah) para shahabatku”, maka dikatakan kepadaku : “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah kematianmu”. (hadist riwayat Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

    ATSAR PARA SAHABAT :

    Abdullah bin Mas’ud berkata : “ Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimiy)
    Beliau juga pernah berkata : “ Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimy no. 211)

    Abdullah bin Umar berkata : “ Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`iy dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)

    Mu’adz bin Jabal berkata : “ Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)

    Abdullah bin Abbas berkata : “ Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimy no. 141)

    Bahkan Umar bin Khattab pernah berkhutbah dengan perkataan : “ Setiap yang baru adalah bid ah dan setiap yang bid’ah (tempatnya) di dalam neraka “.

    PENDAPAT PARA ULAMA :

    Imam Malik rahimahullah berkata : “ Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan, ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam mengkhianati risalah, karena ALLAH Ta’ala telah berfirman (yang artinya) : “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu. “ Maka sesungguhnya yang tidak menjadi agama pada hari itu, tidak menjadi agama pula pada hari ini. (Al-I’tishom, Imam Asy-Syatibi 1/64)

    Berkata Imam Asy-Syaukani rahimahullah : “ Maka, sungguh apabila ALLAH Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mematikan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam, bagaimana dengan pendapat orang yang mengada-adakan setelah ALLAH menyempurnakan agama-Nya ?!. Seandainya sesuatu yang mereka ada-adakan termasuk dalam urusan agama menurut keyakinan mereka, berarti belum sempurna agama kecuali dengan pendapat mereka, ini berarti mereka telah menolak Al-Qur’an. Dan jika apa yang mereka ada-adakan itu bukan termasuk dari urusan agama, maka apa faedahnya menyibukkan diri dengan sesuatu yang bukan dari urusan agama ?.

    Berkata Ibnu Rajab rahimahullah : “Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi salam : “Semua Bid’ah adalah sesat”.. merupakan kata (Kaidah) yang menyeluruh, dan tidak ada pengecualian sedikitpun (dengan mengatakan, “Ada Bid’ah Hasanah, pent) dan merupakan dasar yang agung dari dasar-dasar agama.” (Jaami’ul Al-‘Ilmi hal.549)

    Telah berkata Ibnu Hajar rahimahullah : “sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam : ..”Semua Bid’ah adalah sesat “.. merupakan Qaidah Syar’iyyah yang menyeluruh baik lafadz maupun maknanya. Adapun lafadznya seolah-olah mengatakan : “ini hukumnya bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.” Maka, bid’ah tidak termasuk bagian dari syari’at, karena semua syari’at adalah petunjuk (bukan kesesatan,pent) apabila telah tetap bahwa hukum yang disebut itu adalah bid’ah, maka berlakulah “Semua Bid’ah adalah sesat “ secara lafadz maupun maknanya, dan inilah yang dimaksud. (Fathul Bari 13/254).

    Berkata Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah : “ Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam : “Semua Bid’ah ..”ini maknanya menyeluruh, umum, mencakup dan didukung dengan kata yang kuat, mencakup dan umum pula yaitu lafadz “Kullu”= Semua. (Al-Ibda fi Kamali Asy-Syar’I wa Khothiri Al Ibtida’ oleh Ibnu Utsaimin hal.13). Maka segala sesuatu yang didakwahkan sebagai bid’ah hasanah jawabannya adalah dengan kata di atas, sehingga tidak ada pintu masuk bagi ahlul bid’ah untuk menjadikan bid’ah mereka sebagai bid’ah hasanah. Dan di tangan kami ada pedang yang sangat tajam dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi sallam yakni: “Kullu bid’atin dhalaalah”(Semua bid’ah sesat). Pedang yang sangat tajam ini dibuat di atas nubuwah dan risalah, dan tidak dibuat di atas sesuatu yang goyah. Dan bentuk (kalimat yang digunakan oleh Nabi Sahallallahu ‘alaihi wasallam) ini sangat jelas, maka tidak mungkin seseorang menandingi pedang yang tajam ini dengan mengatakan adanya Bid’ah hasanah sementara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Semua Bid’ah adalah sesat.”(Al-Ibda fi Kamali Asy-Syar’I wa Khothiri Al Ibtida’ oleh Ibnu Utsaimin hal.13)

    Imam Ibnul Qoyyim berkata : ” Asal dari peribadatan adalah batal, sampai adanya dalil yang menunjukkan perintahnya.” (Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, Hal. 344. Maktabah Al Kulliyat Al Azhariyah)

    MAKA SIAPAKAH YANG DIANTARA KITA YANG TERTIPU ??????????????????

    DALIL SUDAH DITEGAKKAN…
    SISANYA URUSAN KALIAN DENGAN ALLAH…..

  • muhammadon said:

    @ assamar,
    Dalil anda membagi2 bid’ah sampai terbagi menjadi dua : bid’ah secara bahasa dan bid’ah secara syariat (apalagi seperti yang dikemukakan oleh teman anda lela lestari dengan begitu banyaknya bagian dari bid’ah di atas), itu mana ?? klo anda membagi2 seperti itu, maka kita pun bisa seperti anda membagi2 bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah.. coba tunjukkan satu aja dalil tentang pembagian bid’ah.
    Liat pertanyaan ana mas, gimana dengan yang dilakukan oleh syd Utsman menambahi adzan Jum’ah menjadi dua kali, bukankah itu masuk kategori bid’ah dalam pengertian anda baik secara bahasa (SETIAP PERKARA yang tidak ada di jaman Rasullullah) ataupun secara syari’at (setiap perkara yang tidak pernah di contohkan oleh Rasullullah) karena emang gak pernah dicontohkan dan gak ada di jaman Beliau ??. lalu ketika anda menghukumi semua bid’ah adalah sesat, berarti anda telah menvonis bahwa syd Utsman telah berbuat kesesatan, begitu kan mas…??
    Anda katakan “Mengenai ini perlu penjelasan yang lebih panjang, sang author juga sudah menjelaskan bahwa jangan terlalu jauh dari apa2 yang telah dibahas di forum ini. Tapi pada prinsipnya : kaum kafir tidak semuanya kita harus musuhi dan di perangi !!!
    = Mas, ini sih menurut ana gak keluar dari pembahasan, ana rasa forsansalaf pun akan menyetujuinya, soalnya pertanyaan ini kan untuk memperjelas gimana maksud dari bid’ah yang sebenarnya aja, dan apakah anda hanya mengatakan bid’ah ke orang ahlussunnah wal jamaah tapi tidak untuk sesama wahhabi.. kecuali jika anda gak bisa jawab dan ingin mengelak dengan berbagai alasan ????
    Emangnya Bush tu masuk kategori mana dari macam2 orang kafir yang anda sebutkan di atas ?? inti pertanyaan ana di atas, gimana hukum penyambutan kepada orang kafir dengan tarian2 seperti itu ? pernahkan dilakukan oleh Rasulullah SAW ?.
    Anda katakan “Antum tahu gak klo sholat tarawih sudah pernah dikerjakan sebelumnya oleh Rasullullah ??? saya gak tahu apa maksud dari perkataan dari Umar itu, tapi yang penting bila ditelaah secara syariat maka Umar tidaklah mengerjakan suatu kebid’ahan, karena sudah dicontohkan oleh Rasullullah, malah itu telah menjadi sunnah !!!!!!
    = Mas, yang jadi permasalahan adalah kenapa syd Umar menyatakannya sebagai “BID’AH” walaupun menurut anda itu telah dicontohkan oleh Rasulullah ?? klo anda bisa jeli, di sinilah letak kesalahan anda (orang wahabi) selama ini dalam mengartikan bid’ah,
    Pahami lagi mas, kenapa syd Umar sampai menyatakan bahwa yang dilakukannya adalah bid’ah ?, padahal kalian memukul rata segala bid’ah adalah sesat dan balasannya adalah neraka, apakah beliau tidak mengerti maksud dari hadits “kullu bid’atin dholalah” ?
    Mas, emang yang dilakukan Rasulullah itu menggalakkan sahabat untuk mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah, ataukah beliau hanya mengerjakan sendiri, namun para sahabat mengikutinya ? kira2 sama gak antara yang dilakukan Rasulullah dengan syd Umar ?? tidak sama kan… makanya syd Umar menyatakannya sebagai bid’ah, cuman disinilah justru letak kesalahan anda selama ini, walaupun tidak dicontohkan oleh Rasulullah (termasuk dari bid’ah), namun tetap dilakukan oleh syd Umar karena beliau memahami bahwasanya makna dari bid’ah yang dholalah dalam hadits itu adalah yang bertentangan dengan syari’at Rasulullah SAW, sedangkan yang beliau lakukan sama sekali tidak bertentangan, makanya beliau mengatakan “ni’matil bid’atu hadzihi”
    Anda katakan “Memang gak ada yang menyatakan keharaman maulid koq…..bila sesuatu yang berurusan dengan syariat maka yang dicari adalah dalil petunjuknya ! bukan dalil haramnya !!”
    = Anda ini gak konsisten sama sekali dengan pernyataan anda n tambah plin-plan aja, anda begitu menggebu2 menyatakan bahwa maulid adalah bid’ah yang sesat dan balasannya neraka, tapi sekarang kok malah menyatakan gak ada yang menyatakan keharaman maulid, emang yang benar2 pendapat anda ini yang mana ?? apakah ada orang masuk neraka tanpa melakukan perbuatan haram ? atau anda emang gak pernah mendapatkan dalil yang mengharamkan maulid, cuman karena udah terdoktrinasi oleh guru2 anda sehingga anda ikut2an bilang maulid bid’ah dan sesat ?
    Ni mas, ana bawakan lagi pernyataan anda di atas biar anda ingat klo telah menyatakan sesat dan tempatnya di neraka orang2 yang melakukan maulid, “Orang yang melakukan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak disangsikan lagi bahwa mereka adalah orang yang sesat , dan orang yang tersesat di jalan ALLAH Ta’ala tentunya akan berakhir di dalam neraka, wal iyadzubillah…”

  • aldj said:

    @lela lestari
    kt anda
    hadits:
    berpegang teguhlah kamu kepada sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk setelahku,berpegang teguh lah dengannya, dan hindarilah oleh kamu sekalian hal2 yang di ada2kan dalam agama, sesungguhnya setiap hal yang di ada2kan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.

    kt sy:he..he.he hadits palsu dibw2

    pake ayat quran “berpegang teguh lah kpd tali allah”
    hadits:”berpaganglah kalian kpd alquran n ittrati ahlul baiti”

    kt anda:
    semoga ahli bid’ah kalian tidak menyesatkan yang lain coba kalau kalian punya dalil bahwa maulid nabi SAW itu ada tuntunanya dari rasulullah keluarkan, mungkin kalain ngambil haditsnya dari kitab orang syiah kaya kitab berjanji itukan karangan orang syiah.

    kt sy:
    kalian wahabi mengatakan syiah sesat,krn syiah n sbgian ahlusunnah yg membuat kalian tidak punya harga n ketahuan belangnya.
    coba tunjukan ke sesatan syiah.?
    dan akan sy tunjukan kesatan kalian…
    itu klu kalian berani..

    kt anda:
    mau berguru Agama tuh sama mas Assamar

    kt sy:
    assamar….bukan assamar nama yg cocok,tp asssbuun..!

    el muhibbin
    pertanyaan anda semua sy sdh jwb

  • armand said:

    @lala lestari

    Begini saja. Berapa kali haji yg dicontohkan Nabi saw? 1X bukan? lalu mengapa sekrg kita laksanakan lebih dari 1X? Jika itu bukan bid’ah menurut pemahaman anda, lalu apa namanya?

    Dalil2 yg anda sodorkan tdk satu pun yg menyatakan pelarangan merayakan Maulid Nabi. Pelarangan itu hanya berdasar tafsir semata. Jika terjadi tafsir yg berbeda bukankah sdh layak? Jika anda ingin menyebarkan fatwa bid’ah tentang Maulid, maka sebaiknya cukup di lingkungan anda dan keluarga anda saja. Sudah banyak dalil yg menyatakan kebolehan Maulid ini. Mengapa anda tdk sadar-sadar juga?

    Dalil surat Al-Hasyr: 7 yg anda bawakan tdk tepat utk menyatakan pembid’ahan Maulid. Sebab ayat itu hanya menyinggung “apa yg diberikan dan apa yang dilarang Rasul”. Tdk menyinggung “apa yang tdk diberikan dan tdk dilarang”

    Mungkin sebaiknya anda merenungkan hadits Bukhari ini;

    Kitab Tentang Berpegang Teguh Pada Alquran Dan Hadits

    6910 (hal. 384)
    Dari Abu Hurairah , dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Jangan hiraukan aku tentang sesuatu yang aku telah membiarkannya terhadap kalian. Sejatinya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah disebabkan pertanyaan dan pertentangan mereka terhadap para Nabinya. Maka jika aku telah melarang kalian tentang sesuatu, maka jauhilah ia. Dan jika aku telah perintahkan kapada kalian untuk mengerjakan sesuatu, maka kerjakanlah ia selama kalian mampu.”

    6912 (hal. 396)
    Dari Zaid bin Tsabit, sesungguhnya Nabi saw pernah membuat sebuah bilik di dalam masjid dari tikar. Rasulullah saw lalu mengerjakan shalat di dalamnya beberapa malam. Akhirnya orang-orang ikut berkumpul di masjid. Pada suatu malam mereka tdk lagi mendengar suara beliau. Mereka yakin bahwa beliau telah tidur. Di antara mereka ada yang sengaja batuk agar beliau keluar menemui mereka. Beliau bersabda: ”Yang selama ini kalian kerjakan aku melihatnya. Sampai aku khawatir hal itu akan diwajibkan atas kalian. Jika hal diwajibkan atas kalain niscaya kalian tidak akan mampu menunaikannya. Kerjakanlah shalat wahai manusia, di dalam rumah-rumah kalian. Sesungguhnya sebaik-baik shalat seseorang adalah di dalam rumahnya, kecuali shalat yang diwajibkan.”

    Salam

  • El_Muhibbin said:

    @ muhammadon :
    anda katakan :” SUATU HADIST SHOHIH LALU ANTUM BENTURKAN/HANTAMKAN KEPADA SUATU AYAT ALQUR’AN ???? LALU ADA HADIST YANG BERMAKNA UMUM TAPI ADA PENGKHUSUSNYA !! MASYA ALLAH….bila suatu hadist yang berarti umum lalu ada pengkhususnya, maka ini sama saja menerima satu ayat tapi menentang ayat yang lain.”
    == mas, justru kamilah yang mau mempertanyakan kepada anda, metode apa yang kalian pake, aliran apa yang anda anut ?. anda dan orang2 wahabi dari dulu pembahasannya gak pernah beres,
    Gini aja mas, gak usah terlalu berkelumit dengan menampilkan dalil2 yang gak sesuai untuk anda paksakan dalam mengharamkan maulid, klo anda menetapkan semua bid’ah adalah sesat dengan memandang lafdh kullu berlaku secara umum, jawab aja pertanyaan ane berikut :
    1. kenapa anda masih membagi lagi bid’ah dengan macam2nya ? kenapa anda bagi bid’ah dari sisi bahasa dan syari’at lagi ?
    @ Assamar menjawab :
    yang dimaksud dari hadist “setiap bid’ah adalah sesat” adalah setiap perkara yang tidak pernah di contohkan oleh Rasullullah ! ingat, disini hanya di vonis sesat adalah SETIAP PERKARA yang hanya dalam artian syariat. Sedangkan bid’ah secara bahasa adalah SETIAP PERKARA yang tidak ada di jaman Rasullullah, dan ini boleh ! karena Rasullullah sendiri mengatakan “ Kalian lebih tahu dunia kalian sendiri “ jadi jelas bila bid’ah dalam masalah duniawi atau lebih tepatnya dalam artian bahasa, itu tidak menjadi masalah…
    paham sampai disini ???
    @El_Muhibbin menjawab :
    yang dimaksud dari hadist “setiap bid’ah adalah sesat” adalah setiap perkara yang tidak pernah di contohkan oleh Rasullullah ! ingat, disini hanya di vonis sesat adalah SETIAP PERKARA yang hanya dalam artian syariat.
    Di pemahamannya alirannya antum ( wahaby ) bahwa yang dimaksud dari hadist “setiap bid’ah adalah sesat” adalah setiap perkara yang tidak pernah di contohkan oleh Rasullullah ! ingat, disini hanya di vonis sesat adalah SETIAP PERKARA yang hanya dalam artian syariat.
    Sekarang ana nanyak gampang-gampangan aja sama antum.Kita bahas masalah makan yang diajarkan oleh Rasulullah S.A.W aja. Nabi Muhammad S.A.W itu mengajarkan kita makan pakai apa,pakai tangan atau pakai sendok yang dimana itu adalah tata cara yang dipakai oleh ORANG-ORANG KAFIR ( YAHUDI DAN NASARANI ). Nabi Muhammad S.A.W mengajarkan kita makan pakai tangan itu sunnahnya Nabi Muhammad S.A.W atau bukan?,ada didalam syariatnya Nabi Muhammad S.A.W atau tidak?.Kalo kita makan pakai sendok yang dimana itu adalah tata caranya yang dipakai oleh ORANG-ORANG KAFIR ( YAHUDI DAN NASARANI ) terus kita tidak makan sesuai yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad S.A.W itu gimana,kita sesat sesat atau tidak?. Masuk neraka atau tidak?

    Anda pasti tau kan dengan Abu Lahab. Dia adalah seorang yang sangat gigih menentang Rasulullah S.A.W.Bahkan ,Allah S..W.T menetapkan Abu Lahab sebagai penghuni neraka.Di tengah – tengah siksaan yang pedih itu setiap hari senin Abu Lahab mendapatkan keistimewaan pada hari senin yaitu keluar dari jari telunjuk dan ibu jari tangannya. Bagaimanakah seseorang yang telah dipastikan kekal di neraka mendapatkan keistimewaan tersebut:
    Dalam Shahih Bukhari Disebutkan bahwa ‘Urwah Bin Zubair R.a berkata:
    Tsuwaibah adalah budak Abu Lahab. Setelah Abu Lahab memerdekakan. Tsuwaibah kemudian menyusui Nabi S.A.W. Ketika Abu Lahab mati, salah seorang anggota keluarganya bermimpi melihat Abu Lahab dalam keadaan yang sangat buruk dan bertanya kepadanya. “ Apa yang kau peroleh?”
    “ Tidak kutemukan sedikit pun kenyamanan. Hanya saja aku deberi minum dari jari (sambil menunjuk sesuatu diantara jari telunjuk dan ibu jarinya tangannya ), karena kumerdekakan Tsuwaibah, “ ( H.R Bukhari ).
    Disamping itu kebenaran mimpi sayyidina ‘Abbas R.a diatas tidak dibantah oleh Rasulullah S.A.W maupun sahabat. Kenyataan ini menjadi meimpi itu semakin kuat. Artinya Rasulullah S.A.W dan para sahabat mengakui kebenaran mimpi itu apa adanya seperti yang dilihat oleh Sayyidina ‘Abbas R.a, yaitu setiap hari senin Abu LAhab mendapatkan sedikit keistimewaan diantara jari telunjun dan ibu jarinya
    Anda mungkin juga bekata dan bertanya Tanya,bukankah orang kafir tidak mendapatkan manfaat dari kebajikan yang ia lakukan didunia?,
    Bukankah Allah S.W.T telah mewahyukan:
    Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu ( bagaikan ) debu yang berterbangan. ( Al-Furqan, 25:23 )
    Dan Firmannya Allah S.W.T yang lainnya:
    Dan orang-orang kafir bagi kamu mereka neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka tidak mati dan tidak ( pula ) diringankan dari mereka adzabnya. Demikianlah kami membalas setiap orang yang kafir. ( Fathir, 35:36 ).
    Kendati sisksanya tidak dihentikan,tetapi Abu Lahab mendapatkan bonus ( mendapatkan minuman dari jari telunjuk dan ibu jarinya) di setiap hari senin. Inilah keistimewaan Allah S.W.T kepada Abu Lahab yang kafir karena berbahagia dan senang dengan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W dan lalu memerdekakan budaknya (Tsuwaibah)sebagai tanda sukur atas kelahiran keponakannya ( Nabi Muhammad S.A.W ). Dan ini dikhususkan untuk Abu Lahab yang mendapatkan keistimewaan dengan Abu Lahab atas kelahiran keponakannya Nabi Muhammad S.A.W.
    Bahwa didalam kitab Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an seperti yang dijelaskan dibawah ini:
    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)
    Lalu bagaimana dengan seorang muslim yang setiap hari senang dengan hari kelahiran Rasulullah S.A.W , dan ketika menginggal dalam keadaan muslim?
    Jadi dari sini kita bisa memahami bahwa tidak semuanya orang kafir tidak mendapatkan apa-apa,kita lihat saja Abu Lahab tadi,apakah ini masih kurang jelas?, akan saya tambahi
    Ya Ikhwan,kita tidak dapat menentukan sebuah hukum hanya dengan mengartikan ayat tersebut secara harfiah. Tetapi kita harus memperhatikan berbagai unsure lain yang disebutkan dalam tafsir, ilmu Al-Qur’an, maupun Hadits. Dialam Ilmu Al-Qur’an disebutkan sebuah kaidah bahwa:
    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)
    Agar lebih jelas, coba anda perhatikan Contoh Al-Qur’an yang suci ini:
    Allah S.W.T berfirman: laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya( sebagai ) pembalasan bagi yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maham Bijaksana ( Al-Maidah , 5:38 ).
    Dari ayat diatas Allah memerintahkan kita unutk memotong tangan pencuri baik itu laki-laki atupun itu perempuan. Tapi, apakah semua para pencuri itu harus dipotong tangannya. Apakah pencuri ayam atau tahu atau tempe akan kita potong tangannya?.Tentu tidak bukan?.Ayat diatas tersebut termasuk ayat yang bersifat umum yang memilki pengecualian( batasan atau penjelas ). Nah pembatas atau penjelas dari ayat itu dijelaskan oleh Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha ,berikut adalah perkataan Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha :
    Dari ‘Aisyah , ia berkata, “Pemotongan tangan berlaku bagi pencuri senilai seperempat dinar dan yang lebih darinya. “ ( H.R Nasa’I, Abu Dawud dan Tirmnidzi )
    Artinya tidak semua pencuri tangannya dipotongdan kesimpulan dan penjelas bagi ayat-ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya (( batasan atau penjelas ).Bahwa:
    Setiap ayat yang bersifat umum ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya ). ( Lihat Abdurrahman As-Suyuthi, Al-Itqan Fi ‘Ulumil Qur’an, Musthafa Al-Babi Al_Halabi, Mesir, Cet.3, Juz.2, hal.17.)
    Sebenarnya banyak sekali Dalil dalil yang bersifat umum tetapi ada pengecualiannya ( pembatasnya atau penjelasnya )
    @ Assamar :
    Sedangkan bid’ah secara bahasa adalah SETIAP PERKARA yang tidak ada di jaman Rasullullah, dan ini boleh ! karena Rasullullah sendiri mengatakan “ Kalian lebih tahu dunia kalian sendiri “ jadi jelas bila bid’ah dalam masalah duniawi atau lebih tepatnya dalam artian bahasa, itu tidak menjadi masalah…
    paham sampai disini ???
    @El_Muhibbin menjawab :
    Assamar mengatakan bid’ah secara bahasa adalah segala perkara yang tidak ada di jaman Nabi( ini kan jawabannya mas Assamar untuk fulan) dan Assamar mengatakan lagi bahwa bid’ah secara bahasa adalah SETIAP PERKARA yang tidak ada di jaman Rasullullah, dan ini boleh. Itu kan katanya antum dan di pemahamannya antum dan golongannya antum,tapi, tetapi didalam kamus Al-Munjid kata bid’ah adalah sesuatu yang diadakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.( Lihat Al-Munjid Fil Lughah wal A’lam, cet. XXIII, Darul Masyriq, Beirut,1986, hal.29.).
    Dan pada dasarnya semua kamus bahasa Arab mengartikan bid’ah secara bahasa sebagai sebuah perkara baru yang di adakan atau diciptakan tanpa adanya contoh terlebih dahulu.
    Jadi anda salah besar kalo mengatakan secara bahasa bahwa bid’ah secara bahasa (etimologi) adalah segala perkara yang tidak ada di jaman Nabi. Dan bahwa bid’ah secara bahasa adalah SETIAP PERKARA yang tidak ada di jaman Rasullullah, dan ini boleh.
    Mangkanya,kalo g ngerti apa-apa itu ahsan belajar dulu (kepada ulama yang Sholeh dalam artian disini adalah Ulama-ulama salaf bukan ulama wahaby, dan kalo kepada Ulama jangan belajar kepada ulama-ulama yang mengedepankan hawa nafsu!). Kalo g mengerti apa-apa terus ngomong nantinya malah menyesatkan Ummat saja!
    Antum dari membahas masalah bid’ah secara bahasa saja udah salah kaprah g karu-karuan, apalagi membahas masalah hadits Nabi Muhammad S.A.W.Kita kan udah di beritahu oleh Allah S.W.T di Al-Qur’an dan di Hadistnya Nabi Muhammad S.A.W untuk belajar kepada ulama:
    Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur’an: Maka bertanyalah kepada ahli dzikir ( orang yang mempunyai pemgetahuan ) jika kamu tidak mengetahuinya ( An-Nahl, 16:43 dan Al-Anbiya, 21:7 )
    Rasulullah S.A.W bersabda: Sesungguhnya para ulama adalah pewaris Nabi. Dan sesungguhnya Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Dan barang diapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat banyak. “( H.R Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah Dan Ahmad )
    Jadi kalo kita tidak mengerti itu disuruh menanyakan kepada yang menegerti dalam hal ini adalah ulama.Siapakah itu, antum sendiri kan yang menjawabnya,ini jawabannya:
    Salafus Shalih adalah para Sahabat Rasullullah yang paham betul apa2 yang telah diajarkan oleh Rasullullah, para tabi’in yang telah belajar langsung dari para Sahabat, para tabi’ut tabi’in yang belajar dengan para tabi’in dan yang mengikuti mereka setelahnya.
    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam : “ sebaik-baik generasi adalah generasiku (generasi Rasullullah dan Sahabat), kemudian setelah itu (tabi’in), kemudian setelah itu (tabi’ut tabi’in) “
    Termasuk juga Shalafus Shalih yaitu empat Imam Mazhab, para ulama ahlul hadist (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah), para ulama ahli tafsir dan masih banyak lagi yang tentunya tidak cukup untuk ditulis satu persatu ( tapi yang jelas bukan ‘Ulama wahaby).
    Jawab ini dulu baru kita bahas amalan-amalan apa saja yang termasuh bid’ah ( sesat ),kalo g bias menjawab ahsan g usah.Daripada membahas sesuatu yang enggak diketahui terus membahas dengan nafsunya akan menimbulkan kesesatan.MENYESATKAN SIRI SENDIRI TERLEBIH LEBIH ORANG LAIN.
    @ El_Muhibbin :
    Dan adalagi, kalo dithoriqahnya antum (wahaby/salafy)kan g boleh memuji Rasulullah S.A.W,tapi kenapa anda mengatakan (Kita hanya memuji beliau Albani karena keluasan ilmunya),katanya memuji Rasulullah S.A.W g boleh,kenapa anda mengatakan memuji albani,apakah itu bukan termasuk bid’ah?.Ana jadi bingung sama thoriqahnya antum orang-orang wahaby/salafy
    Pertanyaan ini khusus untuk Assamar,soalnya ana tanya koq g dijawab-jawab
    Kok setiap ana nanyak ini g pernah dijawab….,kenapa?
    Ayo dijawab pertanyaan ana ini,bisa jawab g sih?

    Kalo g bisa jawab ngomong donk?!
    Apa perlu ana terjemahkan kedalam bahasa makasar biar @ Assamar bisa menjawabnya?

  • El_Muhibbin said:

    @Lela Lestari:

    tidak boleh memperingati hari maulid Nabi SAW dan maulid siapapun karena hal itu bid’ah yang di ada2kan dalam agama Rasulullah SAW khulaufaur Rasyidin para sahabat begitu pula para tabi’in yg berada pada kurun terbaik tidak pernah melakukanya. padahal mereka adalah orang yg paling mengerti dengan sunnah dan orang yang paling sempurna cintanya kepada Rasulullah SAW serta paling konsisten dalam mengikuti syariatnya di banding dengan orang2 yang datang setelah mereka.

    @El_Muhibbin :

    Kalo kata-kata maulid diapapun itu dihilangkan baru pas

    Dalam artian,kata-katanya adalah seperti dibawah ini:

    tidak boleh memperingati hari maulid Nabi SAW karena hal itu bid’ah yang di ada2kan dalam agama Rasulullah SAW khulaufaur Rasyidin para sahabat begitu pula para tabi’in yg berada pada kurun terbaik tidak pernah melakukanya. padahal mereka adalah orang yg paling mengerti dengan sunnah dan orang yang paling sempurna cintanya kepada Rasulullah SAW serta paling konsisten dalam mengikuti syariatnya di banding dengan orang2 yang datang setelah mereka.

    Kenapa ana menggantinya seperti ini,dikarenakan kita sekarang membahas tentang Permasalahan Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W

    Tadi anda mengatakan tidak ada khulaufaur Rasyidin para sahabat begitu pula para tabi’in,kalo anda mengatakan bahwa tidak ada Tabi’in yang berkata tentang Maulid Nabi Muhammad S.A.W anda berarti belum pernah belajar agama secara menyeluruh.

    Mari kita simak pemhasan ana berikut ini :

    Kita pastinya semua pernah mendengar seorang Tabi’in yang agung yang bernama Al-Imam Hasan Al-Bashri kan?. Belai adalah seorang Ulama salaf dikalangan Tabi’in. Ayah Beliau dahulu adalah budak Zaid Bin Tsabit Al-Anshori R.a, sedangkan Ibu Beliau adalah Khayyirah adalah budak Ummu Salamah Rha. Beliau lahir pada 2 tahun terakhir sebelum wafatnya Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.a.Beliau bertemu dkurang lebih 100 sahabt. Wafat pada bulan Rajab Pada Tahun 116 H dalam yang Usia 89 tahun. Kalimat dibawah ini merupakan salah satu ungkapan Hikmah Beliau R.a . Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri:

    “Sesungguhnya, ketika seseorang melakukan perbuatan baik, ia akan membuat hatinya bercahaya dan tubuhnya kuat. Sedangkan ketika seseorang melakukan perbuatan buruk, ia akan membuat hatinya menjadi gelap dan tubuhnya lemah.( Lihat Ahmad bin Zein Al-Habsyi, Syahrul ‘Ainiiyyah, Cet.I, Kerjaya, Singapura, 1987, Hal.29-30.)

    Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a adalah seorang tabi’in yang lahir dikota Madinah pada dua tahun terakhir pemerintahan Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.A.

    Khalifah ‘Umar Bin Khattab R.A. mendoakan beliau Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a yang berbunyi:
    Ya Allah,jadikan dia sebagai seseorang yang memiliki pemahaman terhadap agama dan dicintai oleh masyarakat.

    Yang akhirnya kesholehan dan kecerdasan daripada Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a menarik hati para sahabat nabi,Sayyidina Anas Bin Malik R.A berkata:

    Bertanyalah kepada Al-Hasan (tidak lain adalah Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a) sebab dia masih ingat sedangkan kami telah lupa.(Lihat Adz-Dzahabi, Siar A’lam Nubala, Darul Fikr, Beirut-Lebanon, Juz3,Hal.410).

    Mari kita lihat pendapat Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a terhadap peringatan Maulud Nabi Muhammad S.A.W. dalam sebuah riwayat disubutkan bahwa beliau Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a berkata:

    Andaikata aku memiliki emas sebesar bukit Uhud,maka akan kudermakan semuanya untuk penyelenggaraan pembacaan maulid Rasul.(Lihat kitab Abu-Bakar bin Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anathuth Thalibin,Darul Fikr, Juz.3,Hal.255.).

    Mari kita merenungi perkataan yang diucapkan oleh seorang Ulama Tabi’in yang Agung ini (Al-Imam Hasan Al-Bashri R.a ) !

    @ Lela Lestari :

    semoga ahli bid’ah kalian tidak menyesatkan yang lain coba kalau kalian punya dalil bahwa maulid nabi SAW itu ada tuntunanya dari rasulullah keluarkan, mungkin kalain ngambil haditsnya dari kitab orang syiah kaya kitab berjanji itukan karangan orang syiah.

    @ El_Muhibbin:
    Kalo anda minta Dalilnya ana akan kasih. Perhatikan pembahasan ana dibawah ini ! :

    Peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W ternyata dicontohkan oleh Nabi Muhammad S.A.W sendiri
    Mendengar kata-kata tadi anda mungkin tersentak kaget,terheran heran,ataupun kayak orang kebakaran jenggot.Soalnya selama ini banyak orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad S.A.W tidak pernah mencontohkan perayaan atau hal serupa tentang hari kelahirannya.Mari kita bahas islam dengan hati yang bersih dan jernih,karena islam adalah agama yang bersih dan suci,dan yang sering ana nasehatkan jangan memakai hawa nafsu karena nafsu itu datangnya dari Syetan dan tentara-tentaranya.
    Pernah Nabi Muhamaad S.A.W ditanya tentang puasa hari senin Diriwayatkan dalah sebuah Hadits Shohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,Abu Dawud,dan Ahmad disebutkan bahwa ketika Rasullah ketika ditanya tentang puasa hari senin ,
    Rasulullah S.A.W bersabda:

    Di hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu(Al-Quran).(HR.Imam Muslim,Abu Dawud, dan Ahmad).

    Lihatlah dari Hadits yang shohih diatas,akankah kita mengingkari hadits yang keluar dari mulut seorang Nabi yang sangat dicintai oleh Allah S.W.T. Nabi Muhammad S.A.W yang suci,akankah kita mengingkari hadits yang keluar dari mulut seorang Rasulullah S.A.W yang suci…?.Ketika kita Rasulallah ditanyai tentang puasa hari senin beliau Rasulullah S.A.W hanya menjawab, Di hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu(Al-Quran), Rasulullah S.A.W tidak menerangkan pahala ataupun fadilah puasa hari senin namum nabi malah berkata : Di hari itu aku dilahirkan dan dihari itu pula aku memperoleh wahyu(Al-Quran).

    Dan Mungkin anda pernah diberi tau oleh seseorang yang mengatakan bahwa nabi Muhammad S.A.W juga meniggalpada hari senin…?. Tidakah mungkin kesedihan dan kebahagiaan berlangsung jadi satu…?

    Itu adalah propaganda yang dibut oleh orang-orang yang sukanya membuat propaganda dalam islam ( g usah dijelasin disini yang merasa saja dan yang g merasa g usah kebarakan jenggot ),dan semoga kita dijauhkan oleh Allah S.W.T jangan sampai kita terkecoh oleh propaganda itu…!

    Dalam Kitab Al-Hawi Lil Fatawa, Imam Ass-Suyuthi Rahimahullah :

    Sesungguhnya kelahiran Rasulullah S.A.W merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah S.W.T kepada kita dan wafatnya beliau S.A.W adalah musibah teramat agung bagi kita. Syariat telah memerintahkan kita untuk menampakkan rasa syukur dan nikmat yang kita peroleh serta bersabar dan tenang dalam menghadapi musibah, dan tidak mengungkit-ungkitnya. Hanya saja, syariat memerintahkan kita untuk melakukan Sunnah aqiqah bagi bayi yang lahir sebagai perwujudan rasa syukur dan senang atas bayi yang lahir tersebut dan ketika kematian tiba syariat tidak memerintahkan kita untuk meyembelih kambing maupun yang lain. Bahkan syariat melarang kita untuk meratapi mayat dan menampakan keluh kesah. Berbagai kaidah syariat seperti diatas menunjukkan bahwa pada bulan kelahiran Nabi ini seharusnya kita tunjukan rasa senang dengan kelahiran beliau S.A.W dan tidak menampakkan rasa sedih atas wafatnya beliau S.A.W dibulan ini. (Abdurrahman Bin Abu Bakar As-Suyuthi, Al-Hawi Lil Fatawa, Darul Fikr, Juz.1, Hal.226.)

    Kiranya didalam kitab karangan Imam As-Suyuthi diatas nampak jelas .Mereka yang berniat untukmencari kebenaran(bukan pembenaran) akan mendapatkan pencerahan dan menerima uraian singkat beliah Rahimahullah dengan senang dan lapang dada.

    Dan kata – kata yang anda kasih tanda kurung ini (untukmencari kebenaran(bukan pembenaran ) kata kata ana ini juga dipakai oleh Cah Ngganteng yang BERNAMA ( @ASSAMAR ). Coba anda perhatikan comentnya Cah Ngganteng yang BERNAMA ( @ASSAMAR ) dibawah ini…!

    Yang saya lihat adalah kalian hanyalah mencari pembenaran dari perbuatan kalian tapi bukan mencari kebenaran !!!

    Copy Paste kah ?

    Kalo g percaya lihat comment ana ( @ El_Muhibbin ) di Artikel : Maulid dalam Al Qura’n dan Hadits yang ana comment diatas!

    @Lela Lestari :

    mungkin kalain ngambil haditsnya dari kitab orang syiah kaya kitab berjanji itukan karangan orang syiah.

    @ El_Muhibbin :

    Kitabnya orang mana itu Mbak ( BERJANJI )…?,kok ana baru denger ada kitab yang namanya BERJANJI. BERJANJI kepada siapa mbak?. Padamu negeri kami BERJAJNI. Kayak lirik padamu negeri saja,mau upacara ni mbak…?

    @ Lela Lestari :

    bisanya kalian bertanya yang ga perlu mau berguru Agama tuh sama mas Assamar.

    @ El_Muhibbin menjawab :

    Kalo g perlu ya g ditanyain mbak, buang buang waktu aja. Mubadzir mbak.Orang yang memubadzirkan itu Saudaranya …. G udah dijawab. Kita- kita disini dan terutama juga tau maksud titik yang ana masksud itu.

    Ana dan kawan-kawan disuruh berguru sama mas @ Assamar…?

    Bekher…

    Lha wong dia itu membahas masalah bid’ah secara Bahasa (etimologi ) aja udah salah kaprah,apa lagi secara syariatnya mbak,mbok ya mikir….!

    Jangan suka mengedepankan nafsu,karena nafsu itu datangnya dari syetan dan tentaranya.

  • dayak said:

    @ Assamar: Mengenai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau adalah salah seorang ulama Salaf dan senantiasa berjalan diatas Alqur’an dan As Sunnah, beliau pun sangat menentang acara maulid yang beliau katakan bahwa itu adalah menyerupai kaum Nasrani dalam memuji Nabi Isa alaihisalam.
    jwb :
    1.anda ini jgn kyk org2 syi’ah senang membelokkan pembahasan. dan rupax anda ini gak membaca kelanjutan fatwa beliau, ni ana tampilkn lanjutan fatwax :

    “وكذلك ما يحدثه بعض الناس ، إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام ، وإما محبة للنبي صلى الله عليه وسلم ، وتعظيمًا . والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد……. فإن هذا لم يفعله السلف ، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه.
    Ini baru pendapat yg tidak fanatik dan berbicara dg mengharap ridho allah n rosulnya,adapun mereka yg merayakan maulid nabi tak lain mengikuti pendapat imam yg alim ini yaitu krn cinta dan ta’dhim kpd nya s.a.w.dan beliau juga mendo’akan : والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد
    bkn kah ada kelanjutnx fatwax. tp bosen saya, nanti g ilmiah jwbnx.
    2. coba ini di jawab, apa g bisa jwb sampai seminggu soal ini msh g di jwb, percuma diskusi klo lompat2 trus pembahasanx.
    ke 3 kalix saya ulangi lagi untuk :
    @lela lestari n all wahabian:
    anda mengatakan. Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :
    [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah
    [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah
    anda juga membagi bid’ah dlm Perbuatan adat istiadat (kebiasaan)
    PADAHAL SYEKH ABDUL WAHAB MEMBAGI BID’AH MENJADI DUA: YAITU BID’AH DINIYAH N BID’AH DUNYAWIYAH.
    sedangkan aswaja membagi bid’ah ada yg hasanah n ada yg sayyi’ah, dipertanyakan oleh wahabi dalil pembagian itu dari mana !!!

    skrg saya mau tanya, adakah dalil dari hadist yg membagi bid’ah spt pembagian anda diatas ?????????????
    jgn lanjutkan diskusi klo lari truzzzzzzzzz

  • cah njeporo said:

    @Lela Lestari: apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah (QS AL-Hasr 7).
    pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah aku cukupkan nikma-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai islam sebagai agama bagimu (QS Almaaidah:3)

    ==========

    apakah maulid trmasuk prkara yg dilarang rasul, sehingga kamu mengharamkanya ???? itu sudah jelas sekali bahwa apa yg dilarang rasul mk tinggalkanlah.. beliau saw tdk mengatakan apa yg ditinggalkan rasul mk tinggalkanlah.tetapi berkata apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. perbedakan antara lafadz yg dilarang rasul dg lafadz ditinggalkan (tdk dibahas)oleh rasul !!

    Wahai mbk lela&yg lainya : yang menunjukkan hukum haram itu adakalanya
    1.nahi(larangan) cntoh: “Dan janganlah kamu mendekati zina;”. (Al-israa’ 32)
    2.lafdut tahrim cntoh: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai,” (Al-maidah 3)
    3.mencela perbuatan serta ada ancamanya cnth : “barang siapa yang menipu maka bukan termasuk kami” (HR. Muslim 102)
    apakah sesuatu yg ditinggalkan spt maulid, termasuk 3 diatas, sehingga kalian menghukumi haram ??? apa yg ditinggalkan(tdk diharamkan & juga tdk dihlalkan)oleh nabi itu tidk menjadikan bukti hukum keharamanya. Bisa difaham kan ket ini??
    ini sesuai dlm hadist yg d terangkan oleh addaru qutni 2/137: “apa yg dihalalkan oleh Allah dlm kitabnya maka itu halal, apa yg dihaharamkan oleh Allah dlm kitabnya maka itu haram, dan apa yg Allah mendiamkanya maka itu suatu afwun (ma’af) oleh karena itu terimalah pemberian ma’afnya (ma’nahadist). dan tidaklah Tuhanmu lupa. ” (19. Maryam)

    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.
    Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, kemaksiatan merajalela, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :
    “ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini
    Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian”,
    Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik yang sudah masuk dalam kategori syariah islam dan sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya, alangkah sempurnanya islam.
    Bila yang dimaksud adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, karena setelah ayat ini masih ada banyak ayat ayat lain turun, masalah hutang dll, berkata para Mufassirin bahwa ayat ini bermakna Makkah Almukarramah sebelumnya selalu masih dimasuki orang musyrik mengikuti hajinya orang muslim, mulai kejadian turunnya ayat ini maka Musyrikin tidak lagi masuk masjidil haram,
    maka membuat kebiasaan baru yang baik boleh boleh saja. Namun tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw, atau menghalalkan apa apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya, inilah makna hadits beliau saw :
    “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan…dst”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.

    @assamar : sudah jelas tentang lafadz yg ‘AM bisa DITAKHSIS ?? itu ditambahi el_muhibien ketrangya.
    Metode apa yg kamu pake, menerima hadist satu dan menolak hadist yg lain ??? apakah mungkin berbenturan kalamnya nabi sendiri ??
    kalau kamu tanya tntang metode apa yg kami pake ? kita jwb: za tentunya metode parasalaf bkn metode yg ente pake.

  • Assamar said:

    @ muhammadon dan para sekutu2nya :

    anda said :
    Anda katakan “Memang gak ada yang menyatakan keharaman maulid koq…..bila sesuatu yang berurusan dengan syariat maka yang dicari adalah dalil petunjuknya ! bukan dalil haramnya !!”
    = Anda ini gak konsisten sama sekali dengan pernyataan anda n tambah plin-plan aja, anda begitu menggebu2 menyatakan bahwa maulid adalah bid’ah yang sesat dan balasannya neraka, tapi sekarang kok malah menyatakan gak ada yang menyatakan keharaman maulid, emang yang benar2 pendapat anda ini yang mana ?? apakah ada orang masuk neraka tanpa melakukan perbuatan haram ? atau anda emang gak pernah mendapatkan dalil yang mengharamkan maulid, cuman karena udah terdoktrinasi oleh guru2 anda sehingga anda ikut2an bilang maulid bid’ah dan sesat ?
    Ni mas, ana bawakan lagi pernyataan anda di atas biar anda ingat klo telah menyatakan sesat dan tempatnya di neraka orang2 yang melakukan maulid, “Orang yang melakukan maulid Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak disangsikan lagi bahwa mereka adalah orang yang sesat , dan orang yang tersesat di jalan ALLAH Ta’ala tentunya akan berakhir di dalam neraka, wal iyadzubillah…”

    saya jawab :

    kalau ditanya kenapa saya tidak konsisten, InsyaALLAH saya tetap konsisten dengan apa2 yang saya telah tuliskan sebelumnya…mengenai pernyataan itu, afwan, itu cuma salah penulisan saja, maksud dari perkataan saya diatas itu ” memang gak ada dalil yang menyatakan keharaman maulid koq”
    dan itu memang gak ada…dan Rasullullah juga tidak pernah menyatakan maulid haram, kenapa ? karena di jaman Rasullullah tidak pernah ada yang melakukan acara seperti itu !!

    nah disini kita bisa jeli, bila maulid itu kalian anggap sebagai ibadah kepada ALLAH, maka yang perlu kalian cari itu adalah dalil petunjuknya bukan dalil haramnya !! dan sebaiknya carilah dalil yang menunjukkan langsung bahwa apakah pernah Rasullullah merayakannya ?? bila sekira itu adalah hal yang baik, maka tentunya Rasullullah lebih berhak untuk melakukannya lebih dahulu daripada kita ini.
    INGAT YA…BILA ITU HAL YANG BAIK, MAKA TENTUNYA RASULLULLAH LEBIH BERHAK UNTUK MELAKUKANNYA TERLEBIH DAHULU !!!!

    nah, coba cari yang lebih spesifik lagi deh..

    coba carikan kepada saya
    apakah pernah Rasullullah merayakan hari kelahirannya dengan mengundang para Sahabat-Sahabat Beliau dengan suatu perayaan dengan berdzikir, bersholawat, dan membagi2 makanan di dalamnya ????

    atau klo mau lebih detail :
    apakah pernah Rasullullah merayakan hari kelahirannya sendiri ??????

    coba carikan selain dari dalil puasa di hari senin itu !!!

    bila Rasullullah memang pernah merayakannya seperti yang kalian lakukan ini, maka kalau begitu Sahabat pasti mencontohnya, betul gak ??

    nah kalo kalian sudah dapat dan riwayatnya itu shahih dikalangan ulama maka kalian lah yang benar…

  • alfa reyyan said:

    @ Assamar menjawab :
    yang dimaksud dari hadist “setiap bid’ah adalah sesat” adalah setiap perkara yang tidak pernah di contohkan oleh Rasullullah ! ingat, disini hanya di vonis sesat adalah SETIAP PERKARA yang hanya dalam artian syariat.
    berarti Bid’ah yang sesat itu kalau dalam masalah syariat/ibadah
    MAKA MULAI SEKARANG WAHAI ASSAMAR ANDA WAJIB MENINGGALKAN
    1.MEMBACA ALQUR’AN BIL MUSHAF,KARENA ITU BID’AH FIS SYARI’AH
    2.MEMBACA ALQUR’AN BIL SYAKAL,KARENA ITU BID’AH FIS SYARI’AH
    3.SHALAT TARAWEH DAN TAHAJJUD BIL JAMAAH,KARENA ITU BID’AH FIS SYARI’AH
    4.BELAJAR ILMU2 AGAMA DI SEKOLAH2 BERJENJANG,KARENA ITU BID’AH FIS SYARI’AH,KECUALI ANDA MENGANGGAP MENUNTUT ILMU ITU BUKAN SYARI’AH/IBADAH

    @ASSAMAR SAID:
    SEMUA AHLI BID’AH ADALAH SESAT
    KESIMPULAN SAYA: BERSIAP2LAH UNTUK MEMBID’AHKAN
    1.SAYYIDUNA ABU BAKAR: KARENA MEMERINTAHKAN BID’AH PENGUMPULAN POTNGAN2 TULISAN ALQUR’AN
    2.SAYYIDINA UMAR KARENA BELIAU MEMERINTAHKAN BID’AH TARAWEH BERJAMAAH.
    3.SAYIDUNA USMAN KARENA BELIAU MEMERINYAHKAN BID,AH AZAN JUM’AT 2 KALI,BAHKAN DALAM KITAB SIROH DISEBUTKAN 3 KALI,YANG SATU KALI AZAN DI PASAR MADINAH
    4.SAYIDUNA ALI,KARENA BELIAU MENGARANG BID’AH SHOLAWAT DENGAN TEKS YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN RASULULLAH

    @AS SAMAR SAID:
    Rasullullah yang pantas kita ikuti dan mengerjakan tidak lebih 11 rakaat…..
    Umar kita wajib mengikutinya juga mengerjakan 20 rakaat dan itu hasil ijtihad beliau ….
    Lalu mayoritas dari umat muslim lebih mengikuti apa yang di ijtihadkan oleh Umar,
    lalu saya bertanya : DALAM MASALAH INI SIAPA YANG ANDA DAHULUKAN PENDAPATNYA ??? RASULLULLAH ATAU UMAR ??? KOQ GAK MENDAHULUKAN PENDAPAT RASULLULLAH ???

    KESIMPULAN SAYA : PARA SAHABAT TELAH BERSEPAKAT MENINGGALKAN SUNNAH RASULULLAH DEMI MEMILIH SUNNAH UMAR ,SEBAB TIDAK PERNAH ADA RIWAYAT ADA SAHABAT YANG MENENTANG “IJTIHAD” UMAR,KOK SEKARANG ANDA JADI MIRIP SYI’AH??DAN BERSIAP2 LAH UNTUK KONSEKWENSI PERNYATAAN ANDA INI YAITU
    “UMAR AHLU BID’AH”
    “PARA SAHABAT TELAH IJMA’ DALAM BID’AH”
    ATAU MINIMAL
    “UMAR KHILAF KEPADA SUNNAH RASUL”
    “PARA SAHABAT IJMA’ DALAM KHILAF KEPADA SUNNAH RASUL”
    KALAU ANDA MENGELAK LAGI ,MAKA YANG MENCARI PEMBENARAN ITU SESUNGGUHNYA ANDA SENDIRI,
    ADAPUN PENDAPAT 4 MAZAHAB JELAS TARAWIH 20 RAKA’AT ITU DARI RASULULLAH….BUKAN IJTIHAD UMAR
    DAN SEANDAINYA ANDA TETAP KEKEH DALAM HAL INI,GAK PERLU BURU2 KOK,BANYAK SOHIBI MINAL MASYAEKH WA QABILI YANG MENENTANG AJARAN DATUK2NYA DARI HADRAMAUT SEKARANG SUDAH KEMBALI DAN ANA LIHAT SUDAH MAU BERDIRI MAHALLUL QIYAM SAMBIL MENETESKAN AIRMATANYA SEPERTI HALNYA KAKEK2 MEREKA DULU….MUDAH2AN ANDA PUN SAMA….

  • elfasi said:

    @ assamar, anda katakan : “Kalian hanya mencari pembenaran, tapi tidak mencari kebenaran !! Hujjah kalian lemah…dalil kalian shahih tapi di alamatkan ke arah yang bathil….”
     Bukankah selama ini anda yang hanya memberikan tuduhan dan vonis kepada umat muslimin yang merayakan maulid Nabi dengan membaca siroh Beliau, membaca sholawat, berdzikir dengan bid’ah dan sesat, namun gak bisa memberikan hujjah tentang keharamannya ? lalu anda membawa ayat, hadits dan perkataan ulama’ bukan pada tempatnya ?.
    “ Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)
    = iya mas, kita wajib mentaati Rasulullah dengan menjalankan apa yang diperintahkan beliau dan menjauhi larangan beliau, bukankah tidak pernah ada riwayat beliau melarang maulid ?
    “ Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH amat keras hukumannya “ (Qs. Al-Hasyr:7)
    “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila ALLAH dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai ALLAH dan Rasul-NYA maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata “ (Qs. Al-Azhab:36)”

    = mas, meninggalkan larangan Allah dan Rasulullah memang wajib, namun melarang yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasulullah itu tidak dibenarkan, bahkan termasuk perkara yang melampaui ketetapan Allah dan Rasulullah…jika Allah dan Rasul-Nya tidak mengharamkan maulid, maka kenapa kalian (wahai wahabi) mengharamkannya, bukankah ini bentuk penyimpangan dari ketetapan Allah dan Rasulullah ? inilah bid’ah yang nyata yang selama ini kalian lakukan dan tidak pernah anda sadari….
    Hadits2 yang anda bawa untuk anda arahkan sebagai dalil dalam menbid’ahkan maulid udah dijawab dalam pembahasan “bid’ah dholalah”, jadi gak perlu untuk ditanggapi lagi…
    Inti pembahasan satu, tunjukkan kepada semua pengunjung di sini dalil yang menyatakan bahwa maulid itu haram, klo gak ada, tapi anda menyatakan bid’ah maka anda-lah dan wahabi lainnya yang justru telah mengada2 hukum haram yang termasuk hakikat dari bid’ah yang sesat karena telah menganggap syari’at islam belum lengkap.
    Anda udah sering kali membawa ayat kesempurnaan syari’at islam tapi gak pernah anda pahami gimana penafsiran sesungguhnya dari ayat tersebut, liat tu mas komentar muhibbin di artikel “bid’ah dholalah” tentang penafsiran ayat tersebut, klo anda mau ni ana bawakan lagi :
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    “ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu “
    Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan segala urusan agama islam termasuk hukum2 islam, sehingga tidak ada hukum halal dan haram lagi setelah turunnya ayat ini, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir ¬Al-Baghowi juz 3 hal 13.
    تفسير البغوي – (ج 3 / ص 13(
    قوله عز وجل: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ } يعني: يوم نزول هذه الآية أكملت لكم دينكم، يعني الفرائض والسنن والحدود والجهاد والأحكام والحلال والحرام، فلم ينزل بعد هذه الآية حلال ولا حرام، ولا شيء من الفرائض. هذا معنى قول ابن عباس رضي الله عنهما
    Pendapat Ibn Abbas, yang dimaksud “ aku menyempurnakan agamamu” yaitu kewajiban2, sunnah2, had2, jihad, hukum2, halal dan haram. Maka tidaklah turun setelah ayat ini hukum halal dan haram lagi, juga kewajiban2 lagi.

    Mas, bagaimana anda membawa pendapat Ibn Abbas tentang bid’ah lalu anda dukung dengan ayat ini untuk menghukumi haram perayaan maulid, padahal seperti yang anda liat tidak ada hukum haram setelah ayat ini, sedangkan sampai sekarang anda belum bisa menunjukkan kepada kita semua dalil yang mengharamkan maulid…
    Anda juga membawa pendapat dari Ibn Hajar al-Asqolani dalam fathul Bari, tapi anda hanya mengambil sepenggal aja, tapi bagaimana beliau mengemukakan beberapa pendapat tentang pembagian bid’ah seperti pendapat Imam Syafi’i, imam al-Baihaqi yang justru bisa memberikan pencerahan tentang hakikat dari bid’ah yang sesat sebagaimana pendapat imam Baihaqi yaitu dikhususkan hanya pada perkara baru yang bertentangan dengan syari’at, inilah yang mendasari ijtihad dari para sahabat dan para ulama’ setelahnya…
    Klo pendapat dari syekh anda Utsaimin, maka gak ana komentari karena sama aja dengan anda…..
    Anda katakan :“ tanpa diselingi acara perayaan maulid” ?, anda udah pernah hadir acara maulid gak mas ? acaranya ya dengan membaca siroh, bersholawat dan berdzikir, kok bisanya anda katakan diselingi acara perayaan maulid…. Coba buktikan denga hadir mas, jangan cuman menduga tanpa dasar…
    Anda katakan “Apa2 yang tidak dilakukan/dicontohkan Nabi dalam perkara ibadah dan anda melakukannya, maka itu adalah bid’ah. Kenapa ?? karena bila itu ibadah sudah pasti Nabi mengajarkannya ! bukankah Rasullullah pernah mengatakan bahwa tiada lagi kebaikan yang ada selain telah kusampaikan kepada kalian ??
     Mas, jika selain yang dilakukan oleh Nabi adalah bid’ah yang sesat, berarti syd Utsman telah berbuat bid’ah, sesat dong..dan tempatnya beliau di neraka ya.. ??? syd Umar-pun telah mengakui bahwa dirinya telah berbuat bid’ah dengan pernyataannya “ni’matil bid’atu hadzih”, berarti beliau sama dong dengan syd Utsman sesat dan tempatnya di neraka ?
    Anda katakan “Melakukan kesesatan seperti apa ???? apakah karena anda menganggap Sahabat melakukan maulid lalu saya sesatkan, begitu kah ???? lho, sejak kapan Sahabat ngerjain Maulid ??????? apa pernah dengar riwayatnya ??? di kitab mana ? halaman berapa ? cetakan siapa ? karangan siapa ?”
     Waduh…, emang betul kata2 muhammadon di atas, anda gak konsisten dan tambah plin-plan aja……
    Kesimpulan yang ana ambil di atas, tu saya tangkap dari pengertian anda tentang bid’ah selama ini, yaitu secara bahasa “ bid’ah adalah segala perkara yang tidak didapati di jaman Rasulullah” dan secara syari’at “ bid’ah adalah segala perkara yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW”, lalu anda menvonis secara umum bahwa bid’ah adalah sesat dan tempatnya di neraka. Dari sini, orang yang berakal pasti bisa menyimpulkan bahwa anda telah menvonis syd Utsman melakukan bid’ah (kesesatan) karena beliau telah merubah adzan Jum’ah menjadi dua kali padahal tidak pernah ditemukan di jaman Nabi dan tidak pula dicontohkan oleh Beliau.
    Sekarang yang mau ana tanya n tolong dijawab, “ anda memandang bid’ah ini dari pengertiannya yang telah anda usung di atas, atau dari pekerjaan sahabat ?, klo anda hanya memandang pekerjaan yang dilakukan oleh sahabat sehingga tidak menjadi bid’ah berarti anda benar2 tidak konsisten dan telah benar2 menjadi orang yang plin-plan….. ketika anda sudah mempunyai tolak ukur untuk menilai bid’ah yaitu dari pengertiannya harusnya anda bisa mengarahkannya pada segala bentuk pekerjaan yang ada, jika sesuai dengan pengertian bid’ah anda, maka katakan bid’ah dan jika tidak maka katakan tidak, tanpa memandang pelaku pekerjaan itu sahabat ataukah bukan. Sehingga bid’ahnya gak cuman berlaku pada maulid aja, tapi pada semua yang masuk kategori bid’ah menurut pengertian anda ….

    Mas, kenapa ketika itu dilakukan oleh sahabat spt syd Utsman, anda katakan itu ijtihad beliau padahal sama sekali tidak dilakukan oleh Rasulullah ? harusnya anda juga bisa menilai bahwa maulid-pun didasarkan pada ijtihad para ulama’ setelah khulafaur rosyidin dalam mengajak orang untuk lebih mengenal sosok dan pribadi serta sifat2 Rasulullah, bukan langsung menvonis bid’ah tanpa dasar…. Harusnya anda sudah bisa memahami kesalahan anda, bahwa pengertian bid’ah menurut anda sangat berbeda jauh dengan pengertian syd Utsman dan syd Umar, terbukti bahwa walaupun tidak dilakukan dan tidak dicontohkan oleh Rasulullah tetap saja mereka melakukannya, karena yang terpenting adalah tidak menyimpang dari ajaran beliau….
    Begitu juga ketika yang melakukannya adalah syekh anda Sudais yaitu shalat tahajjud berjamaah, anda begitu membela dengan berbagai alasan, dan menyatakannya sebagai qiyamullail. Trus gimana dengan shalat2 lainnya seperti ba’diyah isya’, shalat istikharah, shalat tahhajud, apakah kesemua itu diperbolehkan untuk dikerjakan secara berjamaah, padahal Nabi tidak mengajarkannya ? lalu mana pengertian anda tentang bid’ah secara syari’at yaitu segala perkara yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dalam masalah ini ?
    Anda keliatannya udah mendapatkan doktrinasi anti maulid dari guru anda dan udah mendarah daging, makanya sulit untuk mendapatkan pencerahan… anda selalu mengembar-gemborkan untuk mengikuti ulama salaf, salah satunya para Imam 4 madzhab, namun justru tidak mengikuti mereka tapi anda begitu fanatik buta ama syekh2 anda albani, bin baz, al-Utsaimin orang2 baru yang bukan termasuk ulama’ salaf dan tidak mengikuti imam 4 madzhab (imam Syafi’i, Hanafi, Malik dan Ahmad bin Hanbal) dan telah banyak memanipulasi dalil2 dan perkataan ulama’2 tersebut..
    Anda membawa perkataan ulama’ hanya untuk mendukung pemikiran n doktrin anda, bukan untuk anda ikuti, anda justru khianat dengan mereka para ulama’ salaf… anda bawa perkataan Imam Syafi’i “ Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara baru yang tidak disyariatkan) maka dia telah membuat syariat “, namun ketika beliau berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi dua : bid’ah hasanah dan sayyi’ah/madzmumah anda tolak dengan berdalih macam2. Anda bawa perkataan Imam Malik : “ Barangsiapa mengada-adakan di dalam Islam suatu kebid’ahan yang dia melihatnya sebagai suatu kebaikan, ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu ‘alayhi wasallam mengkhianati risalah,”,
    Namun bagaimana dengan pendapat beliau ketika ditanya tentang do’a antara menghadap kiblat ataukah menghadap kubur Rasulullah SAW ?, sebagaimana riwayat berikut :
    وقال يا أبا عبد الله أستقبل القبلة وأدعو أم أستقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ فقال ولم تصرف وجهك عنه وهو وسيلتك ووسيلة أبيك آدم عليه السلام إلى الله تعالى يوم القيامة ؟ بل استقبله واستشفع به فيشفعه الله
    “ berkata Abu Ja’far :” wahai Abu Abdillah (imam Malik), kemanakah aku menghadap ketika aku berdo’a, ke kiblat ataukah Rasulullah ?, beliau menjawab :” jangan kau palingkan pandanganmu dari Rasulullah, dialah wasilahmu dan wasilah orang tuamu Nabi Adam as sampai hari kiamat, namun menghadaplah kepada beliau dan mintalah syafaat beliau karena Allah telah memberinya syafaat” (liat kitab as-Syifa juz 2 hal 41)
    Anda tidaklah mengikuti imam Malik bahkan anda menyatakan berdo’a menghadap Nabi adalah bid’ah dan termasuk perkara syirik….

  • muhammadon said:

    @ al kirmani, terima kasih atas saran dan nasehat anda..
    Sebenarnya ana udah males berdebat semacam ini, karena ane tau dan paham betul sekalipun ana bawakan dalil yang sangat banyak , mereka orang2 wahabi gak bakalan pindah ke ahlussunnah wal jamaah karena doktrinasi guru2 mereka udah mendarah daging…. Namun kami tetap layani diskusi ini dengan tetap menjaga keilmiahannya hanya ingin menunjukkan kepada mereka bahwa diam bukan berarti tidak mengerti dan tidak bisa menjawab, serta kami juga ingin menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa ajaran wahabi yang selama ini mereka tebarkan tidaklah benar, hujjah mereka lemah, tidak sesuai dengan ajran dari ulama’ salafu sholeh seperti imam-imam 4 madzhab, bagaimana mereka banyak memelintir dan memanipulasi dalil2 hanya untuk menyebarkan paham mereka…
    Kami liat artikel2 forsansalaf sangatlah bagus dan penuh dengan dalil dan hujjah2 yang kuat, terima kasih forsan salaf, ,mudah2an mendapat kemudahan dalam menebarkan dakwah islam ke penjuru dunia, Amin

  • El_Muhibbin said:

    Ana harap pertanyaan ana yang diatas semuanya itu dijawab semuanya sama Cah Ngganteng @ Assamar….!

    Kalo sudah,ntar ana kasih PR lagi ke dia,yang dimana dari PR yang ana kasih itu ana YAKIN INSYA ALLAH dia g akan bisa jawab…..

    Soalnya kalo ana kasih pertanyaan ana yang ini Ana YAKIN INSYA ALLAH WAHABIYYUN akan klepek-klepek alias kelabakan…..

    Sama G tau kenapa koq semua PR dari ana koq banyak yang g dijawab…?

    Bisa ngerjain g dia ya….?

    Apa lagi minta bantuan Copy paste sama Ustadz2nya kaleee ( Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas,Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dan pentolan-pentolnnya wahabi lainya )………….

  • dayak said:

    @ all wahabi :
    NABI MENGATAKAN KULLU BID’ATIN DOLALAH.
    DARI MANA ANDA BISA MEMBAGI MENJADI BID’AH DINIYYAH N DUNYAWIYAH…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
    ini aja deh yg di jwb dulu, sdh seminggu lbh g di jwb !!!!!!
    ikhwan aswaja, jgn diberi pertanyaan dulu deh, ini blm di jwb .

  • abunawas said:

    @ all pengunjung, liat nich…… assamar makin lama makin keliatan gak ilmiah lagi, pembahasan gak terarah, apakah karena yang dia dapatkan dari guru2nya hanyalah doktrin bid’ah dan sesat orang2 yang tidak sepaham dengan wahabi ?
    Liat juga bagaimana mereka para wahabi ber-istimbath dalam menetapkan hukum maulid haram, sungguh memaksa padahal tidak ada satu pun dari sekian banyak dalil yang dia tampilkan yang menyatakan perayaan maulid dengan membaca siroh Nabi, bersholawat, bersedekah haram ?
    Karena itu, ana mau perjelas tentang istimbath hukum biar assamar tidak hanya menerima dontrinasi guru2nya saja layaknya bebek mengekor terus ke induknya, tapi bisa belajar bagaimana cara menetapkan hukum yang benar sesuai dengan para imam2 dahulu :
    Hukum wajib/sunnah itu bisa muncul jika ada amr (perintah) dari syari’at. Hukum haram dan makruh bisa muncul jika ada nahi (larangan). Adapun jika tidak ada perintah dan tidak ada larangan, maka hukumnya mubah (boleh). Sebagaimana beberapa riwayat hadits berikut :
    1. Riwayat Abi Darda’ :
    عن أبي الدرداء ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما أحل الله في كتابه فهو حلال ، وما حرم فهو حرام ، وما سكت عنه فهو عفو ، فاقبلوا من الله عافيته ( وما كان ربك نسيا
    Dari Abi Darda’ berkata : berkata Rasulullah SAW :” apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, maka hukumnya halal, apa yang diharamkan, maka hukumnya haram, dan apa yang Allah mendiamkannya (tidak melarang dan tidak memerintahkan), maka itu suatu afwun(maaf), maka terimalah dari Allah maaf-Nya”, “ dan tidaklah Allah melupakan sesuatu apapun” (Q.S Maryam ; 19)“ (H.R. At-Thabrani)

    2. Riwayat Ubaid bin Umair :
    عن عبيد بن عمير أنه كان يقول : إن الله أحل وحرم ، فما أحل فأحلوه (2) ، وما حرم فاجتنبوه ، وترك من ذلك أشياء لم يحرمها ولم يحلها ، فذلك عفو من الله ، ثم يقول : (يا أيها الذين آمنوا لا تسئلوا عن أشياء) (3) الاية.
    Dari Ubaid bin Amir berkata :” sesungguhnya Allah menghalalkan dan mengharamkan, maka apa yang Allah halalkan, halalkanlah, dan yang Allah haramkan, maka tinggalkanlah, dan Allah meninggalkan beberapa perkara tidak mengharamkannya dan tidak pula menghalalkannya, itulah afwun (maaf) dari Allah, lalu berkata :” wahai orang2 yang beriman, janganlah engkau pertanyakan tentang segala sesuatu “ (H.R. Abdurrazaq)

    3. Riwayat ABi Tsa’labah :
    عن أبي ثعلبة ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إن الله عز وجل فرض فرائض فلا تضيعوها وحد حدودا (1) ، فلا تعتدوها ، ونهى عن أشياء ، فلا تنتهكوها (2) ، وسكت عن أشياء من غير نسيان لها رحمة لكم ، فلا تبحثوا عنها »
    Dari Abi Tsa’labah :” Rasulullah SAW bersabda “ sesungguhnya Allah mewajibkan beberapa kewajiban, maka janganlah kalian menyia-nyiakannya, dan telah menetapkan hukum2-Nya, maka janganlah kalian melewati batas, dan telah melarang beberapa perkara, maka janganlah kalia lakukan, dan Allah diam dari beberapa perkara dengan tanpa kelupaan sedikitpun karena rahmat terhadap kalian, maka janganlah kalian membahasnya “

    Dari beberapa riwayat di atas dapat kita simpulkan bahwa : Allah telah menetapkan hukum2 untuk umat ini dan tidaklah ada satupun yang terlupakan, sehingga suatu perkara jika tidak ada dalil yang mengharamkannya, maka hukumnya mubah (boleh). Oleh karena itu, karena dalam perayaan maulid tidak ada sama sekali dalil yang mengharamkannya, maka mengindikasikan bahwa hukumnya mubah (boleh). Jika seandainya hukum maulid itu haram, maka Allah pasti akan menjelaskannya dan tidak mungkin Allah melupakan sedikitpun. Hal ini dipertegas dengan firman Allah :
    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
    “ Pada hari ini. Telah Aku (Allah) sempurnakan agamamu (Muhammad), dan telah Aku cukupkan nikamat-Ku untukmu, dan telah Aku ridhai islam sebagai agamamu” (Q.S. AL-Maidah ;3).
    @ assamar, liat tu metode dalam penetapan hukum…!!
    Gimana anda tanpa memiliki dalil satupun yang mengharamkan maulid, tapi anda dan orang2 wahabi menghukumi haram ? bukankah ini yang justru tuduhan kepada Allah, bahwa Allah melupakan satu hukum yang tidak diterangkan dalam AL-Qur’an yaitu hukum keharaman maulid ?, dan bisa sebagai tuduhan juga kepada Rasulullah, bahwa beliau tidak menyampaikan hukum haramnya merayakan maulid Nabi ?..
    Inilah mas, yang kami terima dari ajaran para haba’ib, mereka mengajarkan kepada ilmu bukan doktrinasi saja… tidak seperti anda yang hanya menerima doktrin orang2 yang sama sekali tidak mengikuti ulama’ salafus sholeh seperti 4 imam2 madzhab… perhatikan hadits Nabi SAW :
    عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ الْقَصْوَاءِ يَخْطُبُ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا كِتَابَ اللَّهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي
    Dari Jabir bin Abdillah berkata : aku melihat Rasulullah pada waktu haji di Arafah, beliau berkhutbah di atas ontanya, lalu aku mendengarkan beliau berkata :” wahai manusia, aku tinggalkan pada kalian apa yang jika kalian mengambilnya, kalian tidak akan tersesat selamanya : kitabullah dan ahlil baitku” (H.R. Tirmidzi)

  • riariani said:

    @ assamar and wahabi
    sukaknya cuma motong,ngucir,mlintir hadist dan pendapat ulama’ salafussoleh.
    rencang2 aswaja kita buka kedok wahabi di forum ini,biar dunia tahu siapa sesungguhnya wahabi!!!!!!!!

    @ assamar anda ini sok lupa-lupa ingat dengan pernyataan anda sendiri??
    juga mencla-mencle…makanya kalau ngomong itu di pikir dulu….kadar keilmuan kita sangat sangat sangat sangat jauuuuuuu…hh di banding para sahabat dan salafussoleh..

    ” kalau ada pedapatnya imam syafi’i, ngga’ perlu al bani the gank”
    kerjakan PRnya…..belajar qur’an dan hadist itu jangan terjemahanya saja,tapi juga tafsirnya mas…..
    selamat belajar…

  • dayak said:

    @ ikhwan aswaja :
    jgn di kasih pertanyaan baru lagi deh ,tambah gak bisa jwb. punya ana aja msh di diskusiksn jwbnx sampai skrg blm selesai……………………………………………………………………………………………………………

  • arek suroboyo!!! said:

    ampun dah….percuma BIB kasih penjelasan sama mereka (wahaby),setiap pertanyaan dan permasalahan yg sdh mrk (wahabi) ajukan sdh terjawab dengan jelas dan sesuai dengan permintaan tp mereka (wahabi) tdk akan pernah mau nerima itu…coba d lihat dari awl hingga akhir,mrk (wahabi) selalu mengelak dengan memunculkan persoalan yg lain dari pokok bahasan sebelumnya dan membuat pembahasan semakin mblakrak g karuan,semakin jauh dan semakin ngawur…bagitulah mereka (wahabi)…menutupi ketidakmampuan dengan membawa permasalahan semakin jauh dari asalnya alias mblakrak gak karuan dan mereka (wahabi) tidak sadr klo semakin dia mblakrak semakin jauh dari rumah dan akhirnya g bisa pulang (tersesat)…(oiyo ojok lali nggowo KTP nek apene mblakrak ben onok sing nulungi nek awakmu tersesat)..hahahahahhahaha
    cocoke wong wahabi iku dadi presenter acara BLAKRAKAN nang JTV ngganteni eko londo terus jenenge d ganti WAHABI LONDO…

  • riariani said:

    @ asamar
    anda mengaku salaf tapi memakai fatwanya al bani and utsamain,
    anak sekarang bilang ngga’ meching coy……..

    nasihat @ assamar
    oh ya..untuk bisa mendapatkan kitab tafsir ,anda harus merogoh kocek yang agak dalam karena rata2 kitab tafsir harganya di atas satu juta.
    belajarnya harus di gurukan,untuk satu kitab kira2 makan waktu 3 tahun,anda pernah meraskan jadi santri belum???
    makanya SEGO OYEK(makanan yang terbuat dari singkong)

    ilmu memang harus di dapatkan dari jerih payah,bukan instan mas….

  • dayak said:

    @ assamar n sekutu:
    gak usah panjang lebar deh, ulama’ aswaja membagi bid’ah ada dua hasanah n sayyi’ah anda pertanyakan. knp anda g mempertanyakan kpd lela ato syeikh utsaimin dari mana pembagianx bisa diniyah n dunyawiyah ??????????????????????????????????
    tak tunggu meski lama jwbx, tp jgn comment dulu klo blm jwb agar gak lari2 pembahasanx.satu2 kita selesaikan baru kita pindah mas.

  • riariani said:

    @ assamar and all wahabi
    kalian masih menghadapi para santri aswaja sudah kalang kabut,apa lagi sama guru-guru kita para kyai dan habaib yang punya ilmu bersanad kepada rosululloh,….????????

    ayo keluarkan seluruh ilmu kalian…
    panggilan kepada seluruh guru penganut wahabi untuk datang ke forum ini,kita tuntaskan secara ilmiah..

    santri aswaja VS guru-guru wahabi.

  • lela lestari said:

    SEMUANYA:
    HATI2 AGAMA SYIAH, PAKAIAN MEREKA GA ADA DI SAUDI ARABIA TAPI ADANYA DI IRAN, IRAK DAN YANG LAINYA TERNYATA DI INDONESIA TELAH MENYEBAR BANYAK PERGI AH TAKUT….TAKUT.

    SYIAH BUKAN ISLAM TAPI ORANG YAHUDI PURA2 MASUK ISLAM YANG MENERKAM DARI DALAM, MONGGO DI LANJUTKAN AGAMA KALIAN NANTI SELAMAT MENIKMATI NERAKA DI AHERAT, MAU MENERUSKAN BELAJAR AGAMA ISLAM YANG SYAR’I YANG SUMBERNYA DARI AL-QURAN DAN SUNNAH MENURUT PEMAHAMAN SALAFUSHOLIH.

    LELA LESTARI
    BDG.

  • riariani said:

    @ lela lestari
    kalau menurut anda(wahabi)aswaja(ahlussunah wal jama’ah) neraka ngga’ mbak…….????????

    selamat belajar….
    jangan salah ambil jurusan lagi,semoga ilmunya bermanfa’at dan jauh dari caci maki sesama muslim.

  • lela lestari said:

    ALL:
    SY GA MAU LADENIN ORANG YANG BERMANHAJ SYI’AH BUANG2 WAKTU GA BERMANFAAF BUANG2 WAKTU….

  • El_Muhibbin said:

    @ Lela Lestari:

    SEMUANYA:
    HATI2 AGAMA SYIAH, PAKAIAN MEREKA GA ADA DI SAUDI ARABIA TAPI ADANYA DI IRAN, IRAK DAN YANG LAINYA TERNYATA DI INDONESIA TELAH MENYEBAR BANYAK PERGI AH TAKUT….TAKUT.

    SYIAH BUKAN ISLAM TAPI ORANG YAHUDI PURA2 MASUK ISLAM YANG MENERKAM DARI DALAM, MONGGO DI LANJUTKAN AGAMA KALIAN NANTI SELAMAT MENIKMATI NERAKA DI AHERAT, MAU MENERUSKAN BELAJAR AGAMA ISLAM YANG SYAR’I YANG SUMBERNYA DARI AL-QURAN DAN SUNNAH MENURUT PEMAHAMAN SALAFUSHOLIH.

    LELA LESTARI
    BDG.

    @El_Muhibbin Menjawab:

    Termasuk lembaran yang Beliau Al-Ustadz Al-Habib Thahir bin ‘Abdullah Al-Kaff adalah surat saya kepada ULAMA BESAR DISAUDI ARABIA ( YA ANTUM TAU SENDIRI ULAMA-ULAMA ITU SAPA ) YANG MENGAJAK PENDEKATAN KEPADA BELIAU (Al-Ustadz Al-Habib Thahir bin ‘Abdullah Al-Kaff ) UNTUK MENGAJAK PENDEKATAN KEPADA ORANG-ORANG SYI’AH DAN DIBEBERKAN SEMUA KESESATAN DARI ORANG SYI’AH OLEH BELIAU (Al-Ustadz Al-Habib Thahir bin ‘Abdullah Al-Kaff ).MANA BISA KITA BERSATU DENGAN MEREKA,MEREKAPUN (SYI’AH ) G AKAN BERSATU DENGAN KITA…

    Katanya antum tadi PAKAIANNYA ORANG SYI’AH disaudi itu tidak ada?

    Tapi kalo ORANGNYA DAN AJARANNYA ADA ATAU TIDAK ADA DISAUDI…?

    APAKAH ANDA PERNAH KESAUDI DAN APAKAH ANTUM INI TAU BETUL KALO PAKAIANNYA ORANG SYI’AH,ORANG-ORANG SYI’AH DAN AJARANNYA ORANG SYI’AH TIDAK ADA DISAUDI…?

    JANGAN SUKA ASAL NGOMONG KALO G TAU APA-APA DARI PADA MENYESA