<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Shalat Dhuhur Setelah Shalat Jum&#8217;ah</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Jan 2012 17:15:52 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5350</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 17:28:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5350</guid>
		<description>@ Muhibbin, wa&#039;alaikum salam Wr. Wb.
1. Jika yang anda maksudkan dengan duduk shalat adalah seperti ketika duduk diantara dua sujud, maka disunnahkan untuk meletakkan kedua telapak tangan di paha dengan sekiranya jari-jari sejajar dengan lutut (tidak melebihi lutut) dan posisi jemari terbuka (bukan menggenggam) dan rapat.
Namun jika yang anda maksudkan adalah shalat dalam keadaan duduk, dan ketika membaca Fatihah, maka sebagaimana keadaan beridir yaitu dengan mensedekapkan tangan di bawah dada dan di atas pusar sedikit.

2. Posisi telapak tangan ketika sujud adalah dengan meletakkannya sejajar dengan pundak dalam keadaan terbuka (bukan menggenggam)dan rapat serta mengahadapkannya ke arah kiblat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Muhibbin, wa&#8217;alaikum salam Wr. Wb.<br />
1. Jika yang anda maksudkan dengan duduk shalat adalah seperti ketika duduk diantara dua sujud, maka disunnahkan untuk meletakkan kedua telapak tangan di paha dengan sekiranya jari-jari sejajar dengan lutut (tidak melebihi lutut) dan posisi jemari terbuka (bukan menggenggam) dan rapat.<br />
Namun jika yang anda maksudkan adalah shalat dalam keadaan duduk, dan ketika membaca Fatihah, maka sebagaimana keadaan beridir yaitu dengan mensedekapkan tangan di bawah dada dan di atas pusar sedikit.</p>
<p>2. Posisi telapak tangan ketika sujud adalah dengan meletakkannya sejajar dengan pundak dalam keadaan terbuka (bukan menggenggam)dan rapat serta mengahadapkannya ke arah kiblat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: muhibbin</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5343</link>
		<dc:creator>muhibbin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 08:43:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5343</guid>
		<description>Assalamu&#039;alaikum....
1. Pak Ustadz, bagaimana posisi telapak tangan ketika duduk sholat apakah jari-jari sejajar lutut dan terbuka atau rapat ?
2. Bagaimana posisi telapak tangan ketika sujud sholat apakah jari-jari terbuka atau rapat ? Syukron katsiron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum&#8230;.<br />
1. Pak Ustadz, bagaimana posisi telapak tangan ketika duduk sholat apakah jari-jari sejajar lutut dan terbuka atau rapat ?<br />
2. Bagaimana posisi telapak tangan ketika sujud sholat apakah jari-jari terbuka atau rapat ? Syukron katsiron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5324</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 16:09:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5324</guid>
		<description>@ rahim suci, wa&#039;alaikum salam wr. wb.
Bagi akhwat disunnahkan untuk mengerjakan shalat dhuhur ketika hari Jum&#039;ah di awal waktu tanpa harus menunggu kaum laki-laki selesai shalat Jum&#039;ah. Karena kesunahan untuk mengakhirkan shalat dhuhur adalah bagi orang yang memiliki udzur untuk tidak hadir shalat Jum&#039;ah dan ada harapan hilangnya udzur, atau bagi orang yang memiliki udzur yang tidak nampak bagi semua orang seperti musafir. Adapun bagi orang yang tidak diwajibkan shalat Jum&#039;ah seperti wanita atau laki-laki karena udzur yang bisa nampak bagi semua orang seperti budak, maka disunnahkan untuk mengerjakan shalat Dhuhur di awal waktu tanpa harus menunggu selesainya shalat Jum&#039;ah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ rahim suci, wa&#8217;alaikum salam wr. wb.<br />
Bagi akhwat disunnahkan untuk mengerjakan shalat dhuhur ketika hari Jum&#8217;ah di awal waktu tanpa harus menunggu kaum laki-laki selesai shalat Jum&#8217;ah. Karena kesunahan untuk mengakhirkan shalat dhuhur adalah bagi orang yang memiliki udzur untuk tidak hadir shalat Jum&#8217;ah dan ada harapan hilangnya udzur, atau bagi orang yang memiliki udzur yang tidak nampak bagi semua orang seperti musafir. Adapun bagi orang yang tidak diwajibkan shalat Jum&#8217;ah seperti wanita atau laki-laki karena udzur yang bisa nampak bagi semua orang seperti budak, maka disunnahkan untuk mengerjakan shalat Dhuhur di awal waktu tanpa harus menunggu selesainya shalat Jum&#8217;ah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rahmi suci</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5323</link>
		<dc:creator>rahmi suci</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 10 Apr 2011 15:02:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5323</guid>
		<description>assalamu&#039;alaikum..
saya mau tanya,boleh nggak buat para akhwat shalat dzuhur pada hari jum&#039;at setela adzan yang kedua dan tidak perlu menunggu sampai ikhwannya selesai shalat jum&#039;at?
terimakasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamu&#8217;alaikum..<br />
saya mau tanya,boleh nggak buat para akhwat shalat dzuhur pada hari jum&#8217;at setela adzan yang kedua dan tidak perlu menunggu sampai ikhwannya selesai shalat jum&#8217;at?<br />
terimakasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5281</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 16:19:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5281</guid>
		<description>@ Muhibbin, 
1. Pendapat yang ada di kalangan ulama&#039; adalah salam dalam shalat (bukan shalat jenazah) yang paling utama adalah dengan mengucapkan &quot;ASSALAMU&#039;ALAIKUM WA RAHMATULLAH &quot; dengan tanpa menambahi kalimat &quot;WA BARAKATUH&quot;.
2. Posisi duduk yang paling utama ketika melakukan tasyahud akhir adalah duduk TAWARRUK dan bukanlah duduk IFTIROSY.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Muhibbin,<br />
1. Pendapat yang ada di kalangan ulama&#8217; adalah salam dalam shalat (bukan shalat jenazah) yang paling utama adalah dengan mengucapkan &#8220;ASSALAMU&#8217;ALAIKUM WA RAHMATULLAH &#8221; dengan tanpa menambahi kalimat &#8220;WA BARAKATUH&#8221;.<br />
2. Posisi duduk yang paling utama ketika melakukan tasyahud akhir adalah duduk TAWARRUK dan bukanlah duduk IFTIROSY.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: muhibbin</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5280</link>
		<dc:creator>muhibbin</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 15:51:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5280</guid>
		<description>Alhamdulillah, syukron katsir Ustadz atas jawabannya yang sangat bermanfaat. Ustadz saya mau tanya lagi :
1.Ada pendapat bahwa yang afdhol dalam mengucapkan salam diakhir sholat ( bukan sholat jenazah) adalah dengan kalimat yang lengkap &quot;Assalamu &#039;alaikum warohmatullohi wabaro katuh&quot;, benarkah pendapat ini ?
2.Dalam sholat sunnah (rowatib, tahiyatul masjid,dll) dirokaat terakhir tidak ada duduk tahiyat akhir(tawaruk), harus duduk seperti duduk iftirosh, benarkah pendapat ini ?

Syukron katsiron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, syukron katsir Ustadz atas jawabannya yang sangat bermanfaat. Ustadz saya mau tanya lagi :<br />
1.Ada pendapat bahwa yang afdhol dalam mengucapkan salam diakhir sholat ( bukan sholat jenazah) adalah dengan kalimat yang lengkap &#8220;Assalamu &#8216;alaikum warohmatullohi wabaro katuh&#8221;, benarkah pendapat ini ?<br />
2.Dalam sholat sunnah (rowatib, tahiyatul masjid,dll) dirokaat terakhir tidak ada duduk tahiyat akhir(tawaruk), harus duduk seperti duduk iftirosh, benarkah pendapat ini ?</p>
<p>Syukron katsiron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5264</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Mar 2011 06:40:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5264</guid>
		<description>@ Muhibbin, wa&#039;alaikum salam Wr, Wb.
1. Ketika seorang makmum tidak mendapati waktu berdiri bersama imam yang cukup untuk membaca Fatihah secara sempurna, maka dinamakan dengan MAKMUM MASBUQ. Ketika tidak mendapati sama sekali berdiri bersama imam, maka setelah tabirotul ihrom, langsung mengikuti imam rukuk, dan bacaan Fatihahnya dinyatakan gugur (telah ditanggung oleh imam). Namun ketika masih mendapati waktu berdiri bersama imam, hanya saja tidak mencukupinya untuk digunakan membaca Fatihah secara sempurna, maka tetap wajib membaca Fatihah seukuran waktu berdiri yang dia dapatkan bersama imam, sehingga tidak diperbolehkan baginya untuk langsung rukuk sebelum membaca Fatihah seukuran waktu tersebut. Setelah selesai, langsung mengikuti imam rukuk, dan jika mendapatkan rukuk bersama imam, maka dirinya mendapatkan rakaat tersebut, namun jika tidak mendapatkan sama sekali, maka dinyatakan kehilangan rakaat tersebut sehingga harus menambahi lagi setelah imam salam.
Ketika rukuk, yang dibaca bukanlah Fatihah melainkan bacaan tasbihnya rukuk.
2. Bacaan ketika I&#039;tidal terdapat beberapa riwayat, dan yang lebih afdhol dengan menggabung riwayat-riwayat itu dengan mengucapkan :
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ اْلأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ 
3. Maksud anda bahwa salam dalam shalat jenazah tidak wajib itu mungkin perlu untuk diluruskan, karena termasuk dalam rukun-rukunnya shalat jenazah adalah salam setelah takbir yang ke-empat sebagaimana dalam shalat-shalat yang lainnya. Sehingga tidaklah sah shalat jenazah jika tidak melakukan salam pertama.
Hanya saja, dalam salamnya shalat jenazah disunnahkan untuk menambahinya dengan kalimat &quot; WA BAROKATUH &quot;.
4. Setelah pelaksanaan tasyahud akhir sebelum salam disunnahkan untuk berdo&#039;a dengan do&#039;a apa saja, namun yang paling utama dengan membaca do&#039;a yang datang dari Nabi yaitu :
اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ اْلمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّالْ 
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ  ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ 

5. Ketika bangun dari sujud yang kedua dan tidak melaksanakan tasyahhud seperti dari rakaat pertama ke rakaat kedua atau dari rakaat ketiga ke rakaat ke-empat, disunnahkan untuk mengerjakan JALSAH ISTIROHAH yaitu duduk sebentar sebelum berdiri ke rakaat sebelumnya. Cara pelaksanaannya dengan duduk apapun, namun yang paling afdhol dengan cara duduk IFTIROSH (duduk seperti ketika tahiyyah awal).
6. Bagi makmum tidak ada ketentuan untuk merubah posisi duduknya, namun untuk imam, disunnahkan baginya untuk merubah dengan menjadikan makmum ada di sebelah kanannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Muhibbin, wa&#8217;alaikum salam Wr, Wb.<br />
1. Ketika seorang makmum tidak mendapati waktu berdiri bersama imam yang cukup untuk membaca Fatihah secara sempurna, maka dinamakan dengan MAKMUM MASBUQ. Ketika tidak mendapati sama sekali berdiri bersama imam, maka setelah tabirotul ihrom, langsung mengikuti imam rukuk, dan bacaan Fatihahnya dinyatakan gugur (telah ditanggung oleh imam). Namun ketika masih mendapati waktu berdiri bersama imam, hanya saja tidak mencukupinya untuk digunakan membaca Fatihah secara sempurna, maka tetap wajib membaca Fatihah seukuran waktu berdiri yang dia dapatkan bersama imam, sehingga tidak diperbolehkan baginya untuk langsung rukuk sebelum membaca Fatihah seukuran waktu tersebut. Setelah selesai, langsung mengikuti imam rukuk, dan jika mendapatkan rukuk bersama imam, maka dirinya mendapatkan rakaat tersebut, namun jika tidak mendapatkan sama sekali, maka dinyatakan kehilangan rakaat tersebut sehingga harus menambahi lagi setelah imam salam.<br />
Ketika rukuk, yang dibaca bukanlah Fatihah melainkan bacaan tasbihnya rukuk.<br />
2. Bacaan ketika I&#8217;tidal terdapat beberapa riwayat, dan yang lebih afdhol dengan menggabung riwayat-riwayat itu dengan mengucapkan :<br />
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مِلْءُ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءُ اْلأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ<br />
3. Maksud anda bahwa salam dalam shalat jenazah tidak wajib itu mungkin perlu untuk diluruskan, karena termasuk dalam rukun-rukunnya shalat jenazah adalah salam setelah takbir yang ke-empat sebagaimana dalam shalat-shalat yang lainnya. Sehingga tidaklah sah shalat jenazah jika tidak melakukan salam pertama.<br />
Hanya saja, dalam salamnya shalat jenazah disunnahkan untuk menambahinya dengan kalimat &#8221; WA BAROKATUH &#8220;.<br />
4. Setelah pelaksanaan tasyahud akhir sebelum salam disunnahkan untuk berdo&#8217;a dengan do&#8217;a apa saja, namun yang paling utama dengan membaca do&#8217;a yang datang dari Nabi yaitu :<br />
اَللَّهُمَّ إِنيِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ اْلمَحْيَا وَاْلمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ اْلمَسِيْحِ الدَّجَّالْ<br />
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ  ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّى أَنْتَ الْمُقَدِّمُ ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ </p>
<p>5. Ketika bangun dari sujud yang kedua dan tidak melaksanakan tasyahhud seperti dari rakaat pertama ke rakaat kedua atau dari rakaat ketiga ke rakaat ke-empat, disunnahkan untuk mengerjakan JALSAH ISTIROHAH yaitu duduk sebentar sebelum berdiri ke rakaat sebelumnya. Cara pelaksanaannya dengan duduk apapun, namun yang paling afdhol dengan cara duduk IFTIROSH (duduk seperti ketika tahiyyah awal).<br />
6. Bagi makmum tidak ada ketentuan untuk merubah posisi duduknya, namun untuk imam, disunnahkan baginya untuk merubah dengan menjadikan makmum ada di sebelah kanannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: muhibbin</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5263</link>
		<dc:creator>muhibbin</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 17:52:21 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5263</guid>
		<description>Assalamualaikum,Pak Ustadz saya mau nanya lagi :
1. Ketika kita mau berjama&#039;ah, imam sudah ruku, kita langsung ikut ruku. Pertanyaannya apakah kita langsung membaca tasbih seperti biasa ruku atau langsung membaca fatihah. Kalo imam bangun dari ruku, apakah kita juga bangun dari ruku, sedangkan baca fatihah baru beberapa ayat. Apakah menyelesaikan fatihah dulu atau langsung bangun dari ruku ? 
2. Kalo imam bangun dari ruku terus mengucap samiallahuliman hamidah....dst. Apakah ma&#039;mum ikut membaca samiallahuliman hamidah....dst, terus membaca robbana walakalhamdu...dst atau cukup robbana walakalhamdu...dst?
3. Mengapa bacaan salam diakhir sholat wajib atau sunah berbeda dengan salam dalam sholat jenazah ?
4. Adakah doa sebelum kita mengucapkan salam ?
5. Ketika kita bangun dari sujud kedua untuk berdiri kerokaat kedua, apakah kita duduk dulu seperti duduk diantara dua sujud atau langsung bangun berdiri kerokaat kedua ?
6. Apakah kita harus merubah posisi duduk setelah salam ? Kalo harus merubah posisi duduk, posisi duduk bagaimana yang baik, apakah bersila atau duduk seperti duduk diantara dua sujud ? Saya pernah melihat sholat Alhabib Umar bin Hafidz dari Tarim, setelah salam Beliau tidak merubah posisi duduknya, dari wirid/zikir dan berdoa Beliau tetap duduk tahiyat akhir.Syukron katsiron Ustadz.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum,Pak Ustadz saya mau nanya lagi :<br />
1. Ketika kita mau berjama&#8217;ah, imam sudah ruku, kita langsung ikut ruku. Pertanyaannya apakah kita langsung membaca tasbih seperti biasa ruku atau langsung membaca fatihah. Kalo imam bangun dari ruku, apakah kita juga bangun dari ruku, sedangkan baca fatihah baru beberapa ayat. Apakah menyelesaikan fatihah dulu atau langsung bangun dari ruku ?<br />
2. Kalo imam bangun dari ruku terus mengucap samiallahuliman hamidah&#8230;.dst. Apakah ma&#8217;mum ikut membaca samiallahuliman hamidah&#8230;.dst, terus membaca robbana walakalhamdu&#8230;dst atau cukup robbana walakalhamdu&#8230;dst?<br />
3. Mengapa bacaan salam diakhir sholat wajib atau sunah berbeda dengan salam dalam sholat jenazah ?<br />
4. Adakah doa sebelum kita mengucapkan salam ?<br />
5. Ketika kita bangun dari sujud kedua untuk berdiri kerokaat kedua, apakah kita duduk dulu seperti duduk diantara dua sujud atau langsung bangun berdiri kerokaat kedua ?<br />
6. Apakah kita harus merubah posisi duduk setelah salam ? Kalo harus merubah posisi duduk, posisi duduk bagaimana yang baik, apakah bersila atau duduk seperti duduk diantara dua sujud ? Saya pernah melihat sholat Alhabib Umar bin Hafidz dari Tarim, setelah salam Beliau tidak merubah posisi duduknya, dari wirid/zikir dan berdoa Beliau tetap duduk tahiyat akhir.Syukron katsiron Ustadz.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: forsan salaf</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5237</link>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 07:04:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5237</guid>
		<description>@ Muhibbin, 
1. Jarak normal antara kedua kaki yang disunnahkan bagi orang laki-laki ketika shalat adalah seukuran satu jengkal.
2. Menurut hadits Nabi adalah dengan menyibukkan diri dengan membaca wirid terlebih dahulu, untuk selanjutnya melaksanakan shalat sunnah rawatibnya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Muhibbin,<br />
1. Jarak normal antara kedua kaki yang disunnahkan bagi orang laki-laki ketika shalat adalah seukuran satu jengkal.<br />
2. Menurut hadits Nabi adalah dengan menyibukkan diri dengan membaca wirid terlebih dahulu, untuk selanjutnya melaksanakan shalat sunnah rawatibnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: muhibbin</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/shalat-dhuhur-setelah-shalat-jumah/comment-page-1/#comment-5235</link>
		<dc:creator>muhibbin</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 17:08:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1364#comment-5235</guid>
		<description>Pak Ustadz mau tanya lagi nih
1. Seberapa lebarkah jarak kaki kanan dan kiri salam sholat, apakah sejengkal atau seberapa?
2. Setelah salam sholat, sebaiknya kita langsung sholat ba&#039;diyah atau wirid/zikir dan doa dulu ? mana yang lebih dulu dilaksanakan?
Syukron katsiron.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Ustadz mau tanya lagi nih<br />
1. Seberapa lebarkah jarak kaki kanan dan kiri salam sholat, apakah sejengkal atau seberapa?<br />
2. Setelah salam sholat, sebaiknya kita langsung sholat ba&#8217;diyah atau wirid/zikir dan doa dulu ? mana yang lebih dulu dilaksanakan?<br />
Syukron katsiron.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

