Ahlul Bait, Penebar Rahmat Bukan Laknat
headline »
Wed, 3/03/10 – 17:10 | No Comment

NANTIKAN ARTIKEL INI..!!!!

Baca selengkapnya »
Artikel

Tulisan-tulisan bermuatan ilmu dan wacana yang bakal memperluas cakrawala pengetahuan.

Kalam Salaf

Pitutur dan nasehat ulama salaf yang senantiasa melipur kegundahan dan menyegarkan kedahagaan rohani.

Konsultasi Umum

Konsultasi bersama Habib Taufik bin Abdulkadir Assegaf untuk memecah problematika di tengah keluarga dan masyarakat.

Majelis Ifta'

Tanya jawab permasalahan fikih dan lainnya yang dipandu LBM (Lajnah Buhuts wal Muraja’ah) Sunniyah Salafiyah.

Pertanyaan baru

Pertanyaan terkini yang masuk ke redaksi, setelah terjawab di Majelis Ifta’ pertanyaan akan dihapus .

Home » Kalam Salaf

Tegakkan Shalat dan Berjamaah!

Submitted by forsan salaf on Monday, 25 January 20106 Comments

shalatjKalam Habib Hasan bin Sholeh al-Bahar al-Jufri

Sudah jamak dimengerti, shalat adalah pilar agama. Ia menyangga bangunan Islam kita. Kuat tidaknya iman sangat bertumpu padanya. Karena itu ia mesti dikokohkan. Jangan sampai rapuh atau keropos. Sebab agama kita menjadi taruhannya.

Sejatinya, tanpa shalat, seorang muslim seolah tak beridentitas. Akidahnya soak. Tak ada simpul pererat antara dirinya dengan Sang Tunggal. Ia diambang jurang kesyirikan. Sedikit saja taifun menerpa, ia dipastikan terjungkal ke dasar kegelapan yang tiada ujung pangkal.

Itulah cikal keprihatinan seorang Habib Hasan bin Sholeh bin Idrus al-Bahr al-Jufri, sosok besar abad ke-13 Hijriyah di lembah Hadramaut. Kala itu, dilihatnya sebagian muslimin mulai teledor dalam menjaga fardu lima waktu. Dalam seutas risalah wasiatnya kepada seorang pecinta ia menulis mukaddimah, “Kutorehkan wasiat ini ketika kulihat diriku dan orang-orang sekitarku terkesan mulai keberatan memelihara shalat lima waktu dan berjamaah, serta kian jarangnya orang-orang yang berlomba dalam berbuat baik dan ibadah.”

Sudah barang tentu, frasa “diriku” dan “orang-orang sekitarku” di atas bukanlah sebuah vonis. Itu hanyalah refleksi kerendahan hati. Habib Hasan al-Bahr adalah ulama besar yang telah mencapai taraf Qutub. Mana mungkin beliau meneledorkan shalat. Begitu pula orang-orang sekitar beliau yang nota bene murid-murid beliau semacam Habib Idrus bin Umar al-Habsyi. Penanda “keberatan memelihara shalat lima waktu dan berjamaah” tepatnya ditujukan kepada kita semua, manusia-manusia akhir zaman yang telah dikurung gemerlap dunia. Habib Hasan kemudian meneruskan tausiyahnya,

“Ketahuilah, sesungguhnya, musibah yang terdahsyat, kekejian yang tesesat, dan aib yang terhina, adalah mengabaikan shalat, melalaikan fardu Jumat dan jamaah. Bagaimana tidak, shalat adalah fasilitas yang dimediasi Allah SWT untuk mengangkat harkat manusia, meleburkan dosa-dosa mereka, dan mengunggulkan manusia atas makhluk-makhluk lain di muka bumi dan langit -Tapi, ia telah disia-siakan sendiri oleh manusia.”

“Tatkala seseorang mudah meninggalkan shalat, atau harta dunia memalingkan dirinya dari shalat, itu artinya ia telah digariskan menjadi manusia yang celaka. Takdir menetapkan dirinya bakal mengecap azab yang pedih tak terkira, kehidupannya akan terus merugi, malapetaka senantiasa merundungnya, dan pada akhirnya nanti penyesalan panjang bakal melingkupi hari-harinya.”

Nauzu billahi min zalik. Semoga kita tak tergolong manusia-manusia yang dinarasikan Habib Sholeh itu. Makhluk lemah semacam kita mana mungkin kuat menanggung siksa-siksa-Nya. Saat jari tertusuk jarum, kita meringis kesakitan. Bagaimana bila sebongkah gada yang besarnya memenuhi langit dan bumi meremukkan belulang kita?

“Tiada disangsikan, orang yang meninggalkan shalat sangat dibenci Allah. Dikhawatirkan ia mati tanpa memanggul iman. Neraka Jahim bersiap menyambutnya. Ia tecatat sebagai manusia yang dijauhkan dari rahmat-Nya. Bumi dan langit pun enggan menerima kehadirannya.”

“Manakala seseorang yang melalaikan shalat hendak mengunyah sesuap makanan, tanpa disadari, makanan di tangannya itu menyerukan jeritan-jeritan. “Semoga Kamu dijauhkan dari rahmat Allah, wahai musuh Allah. Kamu memakan rizki Allah, tapi Kamu enggan melaksanakan fardu-fardu-Nya.” Itu makanannya. Lalu tatkala ia beranjak keluar rumah, rumahnya itu mencibir lantang, “Rahmat Allah takkan menyertaimu. Kamu takkan menjejakkan kebaikan apa-apa. Pergilah! Mudah-mudahan kamu kembali dalam keadaan tidak selamat.”

Sebuah ulasan sarat hikmah dari Habib Hasan. Di dalamnya termuat ilmu-ilmu yang tak bisa dipahami sembarang orang: Makanan menjerit-jerit, rumah menghardik-hardik. Itu semua adalah ilmu rahasia yang hanya bisa dimiliki para auliya, kekasih Allah SWT.

Khusuk

Salah satu esensi shalat adalah khusuk. Penilaian diterima tidaknya suatu shalat diukur dengan kadar kekhusukan seseorang. Sayang, hal ini kurang diperhatikan. Dalam lanjutan wasiatnya, Habib Hasan bin Sholeh al-Bahr menjelaskan pentingnya khusuk dalam shalat.

“Jagalah shalat lima waktu dalam jama’ah. Jika di dekat rumahmu terdapat sebuah masjid, tunaikanlah di situ. Kemudian ingat, ketika kamu telah bertakbir memasuki shalat, kosongkanlah hatimu dari kerumitan-kerumitan dunia. Hadirkanlah hatimu. Bayangkan dirimu berdiri di hadapan Sang Wujud yang di genggaman-Nya kunci-kunci rizki. Pusatkanlah konsentrasimu kepada Allah SWT, sepenuhnya. Nikmatilah dialog ruhmu dengan Penciptamu. Jika tiba-tiba saja hatimu terbawa lupa, segeralah sadar. Berandailah, seumpama dirimu berbicara dengan seseorang, lalu kamu berpaling begitu saja tanpa permisi. Bukankah ia akan murka? Bagaimana bila kamu ajak bicara adalah Penguasa seluruh semesta. Betapa kurang ajarnya bila kamu tidak mengindahkannya. Shalat, sekali lagi, adalah wahana dialog antara makhluk dengan Allah subhanahu wata’ala.”

Kemudian Habib Sholeh menekankan pentingnya memperhatikan shalat orang-orang di sekitar kita.

“Lazimilah shalat. Raihlah fadilah awal waktu. Perintahkan anak-anak serta sanak keluargamu untuk menjaga shalat, begitu pula mereka yang berada dalam naunganmu, semisal pekerja dan pembantumu. Dengan shalat kamu akan beroleh ridha Allah SWT. Barang siapa memperoleh ridha Allah, berarti ia berhasil menggapai segala kebajikan.”

Mari kita laksanakan shalat. Tak banyak-banyak. Cukup lima waktu dalam sehari. Usia kita telah banyak tersia-siakan. Alangkah bijak bila kita sisihkan sebagian untuk investasi akhirat. Di sana kita butuh bekal banyak. Dengan persiapan morat-morat ini, peluang sukses kita sedikit. Tinggal satu yang kita harap: ampunan-Nya. Dan ampunan itu hanya kita dapatkan lewat shalat.

Popularity: 11% [?]

Baca Juga Artikel Lainnya:

6 Comments »

  • ali akbar bin agil said:

    Shalat secara bahasa adalah doa. Dari segi istilah ialah ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Shalat, menurut sebagian ulama, ialah media komunikasi dengan Allah yang paling efektif. Lewat shalat, segala gundah gulana menemukan oasenya.
    Tentang keutamaan shalat, Sayidina Abdullah bin Mas`ud r.a. pernah bertanya kepada Rasul tentang amal yang paling utama? Rasul menjawab: “Shalat pada awal waktunya……” (HR. Bukhari&Muslim)
    Bukan hanya itu, pernah pula seseorang mendatangi Rasul sehabis menggauli istrinya lewat jalan belakang. Lantas ia datang kepada beliau untuk meminta jalan bertaubat. Setelah itu, Allah menurunkan firman-Nya:
    “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Qs. Huud: 114)
    Orang tersebut bertanya, “Apakah ayat ini turun untukku?”
    “Untuk seluruh umatku,” jawab Rasul. (HR. Bukhari&Muslim).
    Ibnu Al-Qayyim mengatakan dalam Zaadul Ma`aad tentang manfaat-manfaat shalat, di antaranya: “Sesungguhnya shalat itu mendatangkan rezeki, menjaga kesehatan, mencegah gangguan, mengusir berbagai macam penyakit, menguatkan hati, mencerahkan wajah, menyenangkan jiwa, menghilangkan kemalasan, menggesitkan anggota tubuh, melapangkan dada, mengenyangkan ruh, menyinari hati, menjaga nikmat, menolak bencana, mendatangkan berkah, menjauhkan setan, dan mendekatkan diri kepada Allah.”

  • abu merapi said:

    Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh..
    Bisakah kiranya forsansalaf membuat sebuah ebook tentang panduan shalat secara lengkap sehingga umat terutama yg awam spti kami mengetahui scra detail bagaimana cara shalat yg sebenarnya dan sekaligus menambah referensi bagi kami, sebab sepengetahuan kami ebook yg ada ttg panduan shalat adalah ebook: Sifat Shalat Nabi dari Syekh Al-Albani

  • zen said:

    jika di sekitar kita tinggal ada musholla & masjid, manakah yang afdhol utk diikuti sholat berjama’ahnya ust?

  • forsan salaf (author) said:

    @ zen, hukum musholla tidak sama dengan masjid. di masjid boleh untuk beri’tikaf tapi tidak di musholla. Oleh karena itu, shalat di masjid jelas lebih afdhol daripada sholat di musholla, disamping kebiasaan jumlah jamaahnya lebih banyak, bisa mendapa pahala i’tikaf juga. Kecuali jika imam shalat jama’ah di masjid orang yang fasik, atau ahli bid’ah, sedangkan imam shalat jamaah di mushollah orang sholeh, maka lebih baik shalat berjamaah di musholla walaupun jumlah jama’ahnya lebih sedikit.

  • zen said:

    di masjid, imamnya tidak mengakui adanya keturunan nabi SAW (habaib mereka nyatakan bukan keturunan nabi SAW) sedang di rumah istri sholah sendirian.

    mana yg lebih baik dipilih ust?

  • forsan salaf (author) said:

    @ zen, jika kita shalat berjamaah di masjid, keluarga kita akan shalat sendiri, maka kita dirikan shalat berjamaah dengan keluarga kita itu lebih afdhol daripada kita shalat berjamaah di masjid, apalagi jika imam di masjid orang ahli bid’ah atau orang fasik.

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.