<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Santri Sunniyah Salafiyah &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 16:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puasa, Hikmah, Rukun Dan Syaratnya</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/puasa-hikmah-rukun-dan-syaratnya/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/puasa-hikmah-rukun-dan-syaratnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 16:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1619</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa (etimologi) berarti : menahan.
Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.
Dasar wajib puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-1620" title="puasa-11" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/07/puasa-11.jpg" alt="puasa-11" width="400" height="350" />Secara bahasa (etimologi) berarti : menahan.</p>
<p>Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.<span id="more-1619"></span></p>
<p>Dasar wajib puasa:</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ<em> </em></strong></h3>
<p><em> </em><em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (Al-Baqoroh 183)</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Puasa diwajibkan pada bulan Sya&#8217;ban tahun kedua hijriyyah.</p>
<p><strong>Hikmah puasa : </strong>menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi si kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin, dan menjaga dari maksiat.</p>
<p><strong>Syarat sah puasa:</strong></p>
<ol>
<li>Islam</li>
<li>Berakal</li>
<li>Bersih dari haid dan nifas</li>
<li>Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa.</li>
</ol>
<p>Berarti tidak sah puasa orang kafir, orang gila walaupun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa di waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq.</p>
<p>Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar maka puasanya tetap sah dengan syarat telah niat, sekalipun belum mandi sampai pagi.</p>
<p><strong>Syarat wajib puasa:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>1. Islam</p>
<p>Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap dituntut dan diadzab karena meninggalkan puasa selain diadzab karena kekafirannya.</p>
<p>Sedangkan orang murtad tetap wajib puasa dan mengqodho’ kewajiban-kewajiban yang ditinggalkannya selama murtad.</p>
<p>2. Mukallaf (baligh dan berakal).</p>
<p>Anak yang belum baligh atau orang gila tidak wajib puasa, namun orang tua wajib menyuruh anaknya berpuasa pada usia 7 tahun jika telah mampu dan wajib memukulnya jika meninggalkan puasa pada usia 10 tahun.</p>
<p>3. Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang  sakit).</p>
<p>Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (<strong>7,5 </strong>ons) makanan pokok untuk setiap harinya.</p>
<p>4. Mukim (bukan musafir sejauh ± 82 km dan keluar dari batas daerahnya sebelum fajar).</p>
<p><strong>Rukun-rukun puasa:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Niat,</li>
</ol>
<p>Niat untuk puasa wajib, mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar di setiap harinya. Sedangkan niat untuk puasa sunnah, sampai tergelincirnya matahari (waktu duhur) dengan syarat:</p>
<p>a.  diniatkan sebelum masuk waktu dhuhur</p>
<p>b. tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan lain-lain sebelum niat.</p>
<p>Niat puasa Ramadhan yang sempurna:</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة ِللهِ تَعَالَى </strong></h3>
<p><em>Saya niat mengerjakan kewajiban puasa bulan Ramadhan esok hari pada tahun ini karena Allah SWT.</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<ol>
<li>Menghindari perkara yang membatalkan puasa. Kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari&#8217;at (<em>jahil ma’dzur</em>).</li>
</ol>
<p>Jahil ma’dzur/kebodohan yang ditolerir syariat ada dua:</p>
<p>a. hidup jauh dari ulama&#8217;.</p>
<p>b. baru masuk islam.</p>
<p><strong>Hal-hal yang membatalkan puasa</strong><strong> </strong><strong>:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain jika ada unsur kesengajaan, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau dipaksa, maka puasanya tetap sah.
<ol>
<li>Murtad, sekalipun masuk islam seketika.</li>
<li>Haid, nifas dan melahirkan sekalipun sebentar.</li>
<li>Gila meskipun sebentar.</li>
<li>Pingsan dan mabuk sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekalipun sebentar, tetap sah.</li>
<li>Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.</li>
<li>Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti dengan tangan atau dengan menyentuh istrinya tanpa penghalang.</li>
<li>Muntah dengan sengaja.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Masalah masalah yang berkaitan dengan puasa</strong>:</p>
<p>1. Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodhoi puasa serta wajib membayar kaffaroh [denda] yaitu:</p>
<p>-        membebaskan budak perempuan yang islam</p>
<p>-        jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut turut,</p>
<p>-        jika tidak mampu maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (7,5 ons) dari makanan pokok. Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki laki.</p>
<p>2.  Hukum menelan dahak :</p>
<ul>
<li>Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa.</li>
<li>Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.</li>
</ul>
<p>Yang dimaksud batas luar menurut pendapat Imam Nawawi (mu’tamad) adalah makhroj huruf kha’ (ح), dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama’ batas luar adalah makhroj huruf kho’(خ), dan di bawahnya adalah batas dalam.</p>
<p>3.  Menelan ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat:</p>
<p>-          Murni (tidak tercampur benda lain)</p>
<p>-          Suci</p>
<p>-          Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan mulut, sedangkan menelan ludah yang berada pada bibir luar membatalkan puasa karena sudah di luar mulut.</p>
<p>4.  Hukum masuknya air mandi ke dalam rongga dengan tanpa sengaja:</p>
<p>-          Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum&#8217;at atau mandi wajib seperti mandi janabat maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau menyelam.</p>
<p>-          Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.</p>
<p>5.  Hukum air kumur yang tertelan tanpa sengaja:</p>
<ul>
<li>Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu&#8217; tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh)</li>
<li>Jika berkumur biasa, bukan untuk  kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.</li>
</ul>
<p>6.  Orang yang muntah atau mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci.</p>
<p>Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya terlebih dahulu maka puasanya batal sekalipun ludahnya nampak bersih.</p>
<p>7.  Orang yang sengaja membatalkan puasanya atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (seperti orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodhoi puasanya.</p>
<p>8.  Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:</p>
<p><em> 1.       Wajib qodho&#8217; dan membayar denda</em><em> </em><em>:</em></p>
<ul>
<li>Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.</li>
<li>Mengakhirkan qodho&#8217; hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada udzur.</li>
</ul>
<p><em>2.  Wajib qodho&#8217; tanpa denda.</em></p>
<p>Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari, orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima&#8217; (bersetubuh) dan perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.</p>
<p><em>3.  Wajib denda tanpa qodho&#8217;.</em></p>
<p>Berlaku bagi orang lanjut usia dan orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, jika keduanya tidak mampu berpuasa.</p>
<p><em>4.  Tidak wajib qodho&#8217; dan tidak wajib denda.</em></p>
<p>Berlaku bagi orang yang gila tanpa disengaja.</p>
<p>Yang dimaksud denda di sini adalah 1 mud (7,5 ons) makanan pokok daerah setempat untuk setiap harinya.</p>
<p><strong>Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Ramadhan:</strong></p>
<p>1. Menyegerakan berbuka puasa.</p>
<p>2. Sahur, sekalipun dengan seteguk air.</p>
<p>3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.</p>
<p>4. Berbuka dengan kurma. Disunnahkan dengan bilangan ganjil. Bila tak ada kurma, maka air zam-zam. Bila tak ada, cukup dengan air putih. Bila tak ada, dengan apa saja yang berasa manis alami. Bila tak ada juga, berbuka dengan makanan atau minuman yang diberi pemanis.</p>
<p>5. Membaca doa berbuka yaitu:</p>
<h3 style="text-align: right; "><strong>اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ .اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِي .</strong></h3>
<p>6. Memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa.</p>
<p>7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.</p>
<p>8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan</p>
<p>9. Menekuni sholat tarawih dan witir.</p>
<p>10. Memperbanyak bacaan Al Quran dengan berusaha memahami artinya.</p>
<p>11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.</p>
<p>12. Meninggalkan caci maki.</p>
<p>13. Berusaha makan dari yang halal</p>
<p>14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, dan lain-lain</p>
<p><strong>Hal-hal yang dimakruhkan dalam puasa Ramadhan:</strong><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="349" valign="top">1. Mencicipi   makanan.</p>
<p>2. Bekam   [mengeluarkan darah].</p>
<p>3. Banyak   tidur dan terlalu kenyang.</td>
<td width="349" valign="top">4. Mandi   dengan menyelam.</p>
<p>5. Memakai   siwak setelah masuk waktu duhur.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Hal hal yang membatalkan pahala puasa:</strong><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="349" valign="top">1. Ghibah (gosip)</p>
<p>2. Adu domba</p>
<p>3. Berbohong<strong> </strong></td>
<td width="349" valign="top">4. Memandang   dengan syahwat</p>
<p>5. Sumpah   palsu.</p>
<p>6. Berkata   jorok atau jelek<strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h3 style="text-align: right; "><strong>خمس يفطّرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة</strong></h3>
<p><em>“ Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa : berbohong, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “ (H.R. Anas)</em></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1619&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/puasa-hikmah-rukun-dan-syaratnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahulukan Iman Dalam Peritiwa Isra`-Mi`raj</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/dahulukan-iman-dalam-peritiwa-isra-miraj/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/dahulukan-iman-dalam-peritiwa-isra-miraj/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 11:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1612</guid>
		<description><![CDATA[Peristiwa perjalanan Rasulullah SAW memenuhi panggilan Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu, dikenal dengan Isra’ Mi’raj. Hingga kini, tak satu pun manusia yang mampu memahami teknologi apa yang digunakan Allah saat memperjalankan hamba-Nya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-1613" title="komet" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/07/komet.jpg" alt="komet" width="275" height="184" />Peristiwa perjalanan Rasulullah SAW memenuhi panggilan Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu, dikenal dengan Isra’ Mi’raj. Hingga kini, tak satu pun manusia yang mampu memahami teknologi apa yang digunakan Allah saat memperjalankan hamba-Nya itu. Betapa tidak, dalam waktu yang begitu singkat perjalanan sejauh itu terlampaui. Meski sekarang manusia telah mampu menciptakan pesawat luar angkasa yang memiliki <em>speed</em> (kecepatan) luar biasa.<span id="more-1612"></span></p>
<p>Di sisi lain, tidak berarti manusia dihalalkan tak mempercayai kejadian dahsyat itu, sebagaimana kaum kuffar bersikap ketika menerima klarifikasi Nabi Muhammad SAW sejenak setelah beliau di-Isra`-Mi’raj-kan. Diakui atau tidak, kejadian tersebut di luar nalar manusia. Dengan keterbatasan akal pikiran serta ilmu pengetahuan, manusia tak akan mampu menjangkaunya.</p>
<p>Keingkaran kaum kuffar terhadap Isra’ Mi’raj di zaman Nabi SAW, lepas dari kondisi keimanan mereka, secara akal cukup rasional. Pasalnya, saat itu kondisi sains dan perkembangan teknologi belum seperti sekarang. Namun, di era pesatnya perkembangan sain dan teknologi sekarang mestinya tidak ada lagi manusia manapun yang menafikan peristiwa maha dahsyat itu.</p>
<p>Untuk meneguhkan keyakinan manusia, utamanya umat Islam, terhadap peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW, berikut simak perbincangan Ali Akbar bin Agil dari <em>Cahaya Nabawiy</em> dengan Akhmad Abtokhi, dosen Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.</p>
<p><strong>Meski di luar nalar manusia, namun dengan perkembangan sains dan teknologi sekarang, apakah peristiwa Isro’ Mi’roj itu masih diragukan kebenarannya?</strong></p>
<p>Tidak ada keraguan sama sekali. Isra`secara bahasa adalah perjalanan di waktu malam, kronologinya adalah siapa yang menjalankan? Allah. Dengan siapa? Malaikat dan menaiki kendaraan apa? Buraq. Buraq diibaratkan sebagai kilat dan malaikat tercipta dari nur (cahaya).</p>
<p>Sementara, Rasul sebelum di-<em>isra`</em>-kan dibedah yang itu diibaratkan sebagai suatu reaksi kimia, perubahan materi ke cahaya. Maka dari itu, peristiwa ini adalah logis. Sama halnya semut <em>nyangkut </em>di tas saya, saya ajak ke Jakarta bolak-balik Jakarta-Malang kemudian semut tersebut mengatakan kepada teman-temannya, “hai baru saja aku kemarin ke Jakarta.” Bagaimana halnya jika yang bicara itu adalah Rasul. Itu konsep Isra`.</p>
<p>Sedang mi`raj adalah naik ke langit yang diberkahi sekelilingnya, dan di situlah beliau berubah dimensi. Sebuah dimensi yang tidak bisa kita jangkau. Layaknya makhluk Jin, dia bisa lihat saya tapi saya tidak tahu. Sama halnya dengan Rasul yang melihat neraka, surga, alam ruh. Itu menandakan bahwa Rasul berada di alam lain.</p>
<p>Mi`raj lebih kepada dimensi metafisik. <em>Nah,</em> di sinilah sains dan teknologi memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu. Bagi umat Islam, Isra`-Mi`raj lebih kepada konsep iman dan keyakinan. Ada beberapa yang logis dalam kerangka sains-teknologi (MIPA) sebab sains itu berbicara masalah apa dan bagaimana sedang teknologi, untuk apa.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apakah yang dimaksud dengan pencucian/pembedahan dada beliau itu adalah pencucian pada umumnya?</strong></p>
<p>Tidak, pembedahan atau pencucian yang dialami oleh Rasul tidak terjadi sesederhana yang kita kenal selama ini. Namun, dengan pencucian tersebut, diubah bentuk jasad beliau ke dalam bentuk cahaya. Kenapa seperti itu? Sebab Rasul kan bersama Buraq dan malaikat. Buraq tadi kita ketahui bermakna kilat sementara malaikat juga tercipta dari cahaya.</p>
<p>Perubahan materi ke cahaya dalam istilah Kimia dikenal sebagai teori anihilasi yaitu mengubah materi ke dalam energi tertentu (cahaya). Jadi, cahaya bisa berarti dualisme gelombang. Gelombang bisa berarti materi atau bisa berarti cahaya. Dr. William Fisher dan Dr. Anna Fisher, sepasang suami-istri, membuktikan kebenaran dari peristiwa pembedahan dada Nabi Muhammad oleh dokter-dokter ahli langit yang ditunjuk oleh Allah, yaitu para malaikat yang diketuai oleh Jibril.</p>
<p>Namun, hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan ahli sebab saat Rasul di-Isra`-kan dikisahkan beliau bertemu dengan kafilah-kafilah, di sini masalahnya. Apakah mungkin saat beliau berubah dalam bentuk cahaya bisa bertemu dengan kafilah? Tentu semuanya kembali kepada iman.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Lantas bagaimana menyandingkan antara iman dan akal dalam melihat/memahami Isra`-Mi`raj ini?</strong></p>
<p>Untuk menambah keyakinan terhadap suatu hal membutuhkan penyelidikan dan sanalah kita temukan bahwa ada yang masuk akal dan ada yang tidak masuk akal. Hanya saja, perlu digarisbawahi bahwa landasan berpikir kita adalah iman. Cukup iman, yakin. Titik. Yang lainnya hanyalah pendukung, pendekatan lewat ilmu psikologi, saintek, semuanya hanya pelengkap yang tujuannya agar keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya bertambah. Memang ada yang tidak logis, makanya iman didahulukan. Dengan begitu, ada peningkatan Iptek (ilmu pengetahuan&amp;teknologi) serta Imtaq (iman&amp;taqwa)-kita</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Isra` Mi`raj sebagai <em>Rihlah Al Sama&#8220; </em>(Safari langit), menurut anda?</strong></p>
<p>Konsep langit di dalam Al Qur`an ada dua: langit <em>sama`</em> dan langit <em>samawat</em>. Keduanya bisa dimaknai langit. Kalau langit <em>sama`</em> menurut sebagian ahli ialah apa yang bisa dilihat. Itu sebabnya, langit <em>sama`</em> lebih dekat kepada atmosfir. Orang Jawa memaknai Samak (<em>sama`</em>) sebagai pelindung atau sampul: “buku disampuli/ disamai.”</p>
<p>Sedang langit <em>samawat</em> itu apa? Apa juga dikatakan langit? Di sini ada beberapa ilmuwan muslim mengatakan bahwa <em>samawat </em>berarti dimensi. Begitulah konsep safari langit dalam arti <em>sama` </em>dan <em>samawat</em>. Sehingga yang terjadi bahwa Isra` terjadi di <em>sama` </em>karena masih berada dalam kerangka langit yang bisa kita saksikan. Adapun Mi`raj itu adalah <em>samawat-</em>nya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jika dapat diukur, berapakah kecepatan perjalanan Nabi Muhammad SAW saat itu, sejak perjalanan Isro’ (di bumi) hingga di angkasa luar?</strong></p>
<p>Rasul berjalan mendekati kecepatan cahaya yaitu 300 juta meter per detik, rumusnya: C=3&#215;10<sup>8</sup> m/s</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Nilai-nilai apa saja yang bisa kita gali dari Isra`-Mi`raj di era globalisasi ini?</strong></p>
<p>Pertama, mengapa umat Islam tertinggal jauh dalam perkembangan sains dan teknologi. Paling tidak, ada motivasi awal. Kedua, terkait kajian seorang muslim yaitu perintah shalat. Shalat sendiri banyak yang bisa kita ambil hikmah-hikmahnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Anda tadi menyinggung tentang shalat dalam kaitan menggali pelajaran dari Isra`-Mi`raj, <em>nah </em>dalam satu hadits diterangkan bahwa “Shalat merupakan Mi`raj-nya seorang mukmin,” hubungan seperti apakah antara shalat dengan Mi`raj?</strong></p>
<p>Terkait hadits di atas, Mi`raj itu <em>kan</em> naik tanpa ada aling-aling atau tanpa hijab antara seorang hamba dengan Tuhannya. Mi`raj dalam hadits tersebut, jika dilihat dari proses dasar gerakannya, ialah mulai takbir yang berisi doa istiftah. Doa ini isinya semua adalah bagaimana perjanjian kita dengan Allah. Di sini ada dialog yang seolah-olah kita bertemu dengan Allah, ada upaya dari seorang hamba untuk meyakinkan Allah.</p>
<p>Lantas ruku`. Di saat ruku` itu, kepala dengan pantat itu sejajar, sama. Pantat kan tempat keluarnya kotoran dan ternyata posisi kepala saat ruku`  sejajar dengan pantat. Pada saat itu wujud penghambaan kepada Allah. Belum lagi kala kita bersujud, dimana pantat berada pada posisi lebih tinggi dari mahkota (kepala) yang kita miliki. Sampai salam ke kanan dan ke kiri, di situ terkandung makna untuk hidup butuh sebuah jaminan kepada sesama hamba agar berbuat baik, tidak saling menyakiti, menghina.</p>
<p><strong>Hikmah waktu-waktu shalat sendiri?</strong></p>
<p>Sebagai umat Islam, ada nilai-nilai yang teramat istimewa salah satunya posisi shalat yang waktunya ditata sedemikian rupa yang sebetulnya tidak merepotkan. Di sisi lain, posisi shalat berada di jedanya kita dalam aktivitas-aktivitas kehidupan. Tubuh membutuhkan istirahat, melemaskan otot. Bahkan dalam shalat ada unsur meditasi, penghambaan, bangun subuh kita meditasi, mengingat Allah. Tapi gara-gara masalah duniawi, banyak dari kita melupakan shalat.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Apa yang perlu dilakukan oleh umat dalam peringatan isra`-mi`raj, sebab selama ini upacara peringatan tersebut masih terbatas seremonial?</strong></p>
<p>Ya, kita bandingkan saja dengan kita membaca Al Qur`an. Ada yang cukup membaca, titik selesai. Jika seperti itu keadaannya maka peringatan tersebut kurang bermakna apa-apa. Membaca Al Qur`an memang mendapat pahala tapi tidak kita amalkan, tidak bermakna apa-apa.</p>
<p>Saya pikir, masyarakat yang memperingati Isra`-Mi`raj tidak ada salahnya Cuma hal terpenting bagi kita <em>ya </em>bagaimana peristiwa ini mampu menyadarkan apa tujuan Isra`-Mi`raj itu. Kemudian, mengingat pentingnya shalat sampai-sampai ibadah shalat ini Allah langsung yang sampaikan.</p>
<p>Jika hal tersebut bisa kita lakukan, insya Allah hal demikian akan mempertajam keimanan dan ibadah kepada Allah. <em>Syukur-syukur</em> ada fungsi sosialnya. Apalagi Islam itu indah, Isra` <em>kan</em> dekat dengan bulan Ramadhan sehingga kita bisa bersiap-siap menyambut kedatangannya lewat momentum Isra`-Mi`raj. (*)</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1612&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/dahulukan-iman-dalam-peritiwa-isra-miraj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wilayah Bukan Imamah</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/wilayah-bukan-imamah/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/wilayah-bukan-imamah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 16:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1581</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) [المائدة/55
Artinya : “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left; "><img class="alignleft size-full wp-image-1602" title="singgasana" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/06/singgasana1.jpg" alt="singgasana" width="259" height="194" />Allah SWT berfirman :</p>
<h3>إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) [المائدة/55</h3>
<p>Artinya : <em>“Sesungguhnya <strong>penolong</strong> kamu <strong>hanyalah</strong> Allah, Rasul-Nya, dan<strong> </strong>orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat<strong> dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”</strong></em></p>
<h2><strong>Syubhat<span id="more-1581"></span><br />
</strong></h2>
<p>Sebagian golongan<em> </em>mengklaim ayat tersebut sebagai bukti kuat mengenai hak Imam Ali untuk menjadi khalifah setelah wafatnya Rasul SAW, sekaligus bukti bahwa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman tidak syah dalam pandangan syariat.  Mereka mengatakan bahwa <em>Wali </em>dalam ayat diatas semestinya diartikan dengan <em>penguasa/pemimpin</em>, dan yang dimaksud dengan :</p>
<h3 style="text-align: right; ">وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ</h3>
<p>(<em>Orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, seraya menunaikan zakat, seraya mereka rukuk)</em></p>
<p>adalah Imam Ali seorang. Karena mereka mengartikan kalimat وَهُمْ رَاكِعُونَ<strong> </strong>dengan “<em>menunaikan zakat ketika rukuk</em><strong>”. </strong>Jika demikian, arti ayat tersebut menjadi :</p>
<p>“<em>Sesungguhnya pe</em><em>mimpin</em><em> kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat</em><em> ketika rukuk</em><em> </em><em>(yaitu Imam Ali</em><em>).”</em><em> </em></p>
<p>Menurut mereka, Ulama tafsir  sepakat bahwa ayat ini turun khusus mengenai Imam Ali, yaitu berkenaan dengan sedekah cincin yang dilakukan Imam Ali kepada seorang pengemis ketika beliau sedang <em>rukuk</em> dalam <em>sholatnya</em>. Kemudian, karena lafadz <strong>إِنَّمَا</strong><strong> </strong>dalam bahasa arab berfaedah <em>hashr</em> (membatasi), berarti ayat tersebut intinya menegaskan bahwa pemimpin orang-orang mukmin hanya Allah, Rasul-Nya, dan Imam Ali saja. Dengan demikian secara otomatis pemimpin yang selainnya (seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman) tidak <em>syah</em> menurut <em>syariat</em>.</p>
<h2>Kalangan ahlussunnah wal jamaah menjawab  :</h2>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Sebab turun ayat</span></em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Pernyataan bahwa ulama bersepakat mengenai sebab turun ayat ini merupakan pernyataan yang tidak objektif dan penuh dengan hawa kefanatikan. Nyatanya, kitab-kitab tafsir penuh dengan komentar beragam para ulama tafsir mengenai sebab turun  ayat ini. Sebagian ahli tafsir berpendapat ayat ini turun mengenai Abdullah bin Salam (mu`alaf yahudi) yang mengeluh pada Rasul mengenai rasa kesepian karena dikucilkan kaumnya<sup>(1)</sup>. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar<sup>(2)</sup>. Dari Ibnu Abbas sendiri terdapat dua riwayat, yang pertama  menyatakan ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali<sup>(3)</sup>,<sup> </sup>sedangkan riwayat kedua menyebutkan sebab turun ayat ini adalah Ubadah bin Shomit, ketika beliau membatalkan ikatan persekutuan dengan Yahudi<sup>(4)</sup>,.</p>
<p>Kalaupun kita mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai Imam Ali,  itu tidak berarti hukum ayat ini khusus bagi Imam Ali. Karena yang digunakan dalam ayat ini  adalah ungkapan untuk orang banyak (<em>shigoh jamak</em><em>/plural</em>) bukan ungkapan untuk satu orang (<em>single</em>). Ungkapannya yaitu, <em>“ orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”<strong> </strong></em>Dalam <em>kaidah tafsir</em> disebutkan, yang dijadikan patokan adalah <em>keumuman lafadz</em> bukan <em>kekhususan sebab</em><sup>(5)</sup>. Jadi, semua orang mukmin yang memiliki sifat sesuai dengan apa yang disebut ayat diatas layak untuk dimasukkan dalam kategori <em>Wali</em>, tidak hanya Imam Ali seorang. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Imam Abu Ja`far, Muhammad Al Bagir ( Tokoh Tabi`in yang diagungkan Ahlu Sunnah maupun Syiah) ketika beliau ditanyakan mengenai ayat ini, apakah ayat ini khusus turun mengenai Imam Ali, Beliau menjawab “Ali adalah salah seorang dari orang-orang mukmin”<sup>(6)</sup>. Maksudnya, yang dimaksud <em>wali</em> dalam ayat tersebut adalah setiap mukmin yang sifatnya sesuai dengan apa yang disebutkan dalamnya, dan Imam Ali termasuk salah satunya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Makna Wali</span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Lafadz  <strong>وَلِيُّ</strong> memiliki banyak  makna, seperti : <em>tuan, hamba, anak paman, penolong, teman, kekasih, pemimpin, dan lain-lain</em><sup>(7)</sup><em>. </em>Akan tetapi, makna <em>Wali</em> yang paling umum ada tiga, yaitu <em>penolong, kekasih, dan pemimpin</em>. Kemudian, dari ketiga makna tersebut, yang paling sesuai dengan ayat di atas adalah <em>penolong</em> bukan <em>pemimpin</em>. Hal ini ditinjau dari beberapa segi, diantaranya:</p>
<p>1. Jika kita memperhatikan ayat-ayat yang ada sebelum dan sesudah ayat ini, kita akan menemukan dalam kedua ayat tersebut juga disebutkan lafadz Wali atau lebih tepatnya Auliya (bentuk majemuk dari kata wali), kedua ayat tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>
<h3 style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ ...[المائدة/51</h3>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<h3 style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ... [المائدة/57</h3>
</li>
</ul>
<p>Dalam kitab-kitab <em>tafsir</em>, lafadz <em>Wali</em> pada kedua ayat tersebut diartikan dengan penolong (sekutu), bukan pemimpin<sup>(8)</sup>. Lantas, jika  kita artikan <em>Wali</em> dalam ayat ini dengan <em>Pemimpin</em>, maka kita akan menemukan kerancuan makna ketika ayat ini  disandingkan dengan ayat yang ada sebelum dan sesudahnya. Tentunya ini adalah hal yang tidak layak dalam Al-Quran. Berbeda halnya jika kita mengartikannya dengan <em>penolong</em>, maka semua makna potongan ayat- ayat tersebut akan saling menyatu dan melengkapi.</p>
<p>2. Ayat ini menetapkan status <em>kewalian</em> bagi  mereka yang disebutkan didalamnya secara langsung tanpa tenggat waktu. Maksudnya begitu ayat ini turun, di saat itu juga status mereka adalah<em> Wali</em><sup>(9)</sup>. Andai kita artikan <em>Wali</em> sebagai <em>pemimpin</em>, berarti ayat ini akan memiliki makna, “<em>Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul Nya, dan orang-orang yang beriman</em>...”. Adalah hal yang tidak mungkin orang-orang  beriman yang jumlahnya begitu banyak, semuanya menjadi pemimpin bersama-sama dalam satu waktu, anda bisa bayangkan seberapa kacau kesudahannya. Begitu juga jika kita katakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang beriman adalah Imam Ali seorang--sebagaimana yang mereka yakini. Kalau demikian, maka maksud ayat ini akan menjadi seperti ini, <em>“Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul Nya, dan Ali”,</em> ini juga tidak tepat karena itu artinya Imam Ali berhak untuk mengatur umat, bersama-sama dengan Rasul saat Rasul masih hidup, padahal kenyataanya, Imam Ali di masa hidup Rasul sama sekali tidak pernah turut campur dalam memerintah umat kecuali sebagai suruhan Rasul<sup>(10)</sup>. Berbeda jika kita artikan <em>wali </em>dengan <em>penolong</em>, maka makna ayat ini akan menjadi jelas tanpa ada kemusykilan.</p>
<p>3. Maksud mereka<em> </em>untuk menjadikan ayat ini sebagai <em>hujjah</em> mengenai hak Imam Ali menjadi khalifah Rasul, tidak akan terealisasikan kecuali jika lafadz  إِنَّمَا  berfaidah <em>hashr haqiqi </em>(membatasi). kalau lafadz tersebut berfaidah <em>hashr </em> maka arti ayat  ini adalah, “<em>Sesungguhnya pemimpin</em> <em>kalian</em> <em>hanya Allah, Rasul Nya, dan Imam Ali saja”.(tak ada yang lain)</em></p>
<p>Jika Syiah konsisten dengan pendapatnya ini, seharusnya mereka tidak mengambil imam lain selain Imam Ali. Faktanya, Syiah memiliki sebelas imam lain yang dianggap <em>ma’sum</em> selain Imam Ali.</p>
<p>Andai kita mau meninggalkan kefanatikan, lalu merenungkan dengan objektif mengenai ayat ini beserta ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, akan semakin jelas bagi kita bahwa ayat ini tidak mengarah pada penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah, bahkan tidak ada kaitanya sama sekali dengan kekhalifahan. Jadi, menjadikan ayat ini sebagai alasan untuk mengingkari kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman merupakan kekeliruan yang besar.</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Referensi</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>1)تفسير الجلالين - (ج 2 / ص 223(</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><span style="text-decoration: underline;">و</span><span style="font-size: medium;"><span><strong>نزل لما قال ابن سلام يا رسول الله إن قومنا هجرونا { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ الله وَرَسُولُهُ والذين ءامَنُواْ الذين يُقِيمُونَ الصلاة وَيُؤْتُونَ الزكواة وَهُمْ رَاكِعُونَ } خاشعون أو يصلون صلاة التطوّع</strong></span></span></span></h3>
<h3 style="text-align: right;">(3),(2)تفسير الرازي - (ج 6 / ص 87)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لقول الثاني : أن المراد من هذه الآية شخص معين ، وعلى هذا ففيه أقوال : روى عكرمة أن هذه الآية نزلت في أبي بكر رضي الله عنه . والثاني : روى عطاء عن ابن عباس أنها نزلت في علي بن أبي طالب عليه السلام</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>4)تفسير الخازن - (ج 2 / ص 302)</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ق</span>وله تعالى : { إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا } قال ابن عباس : نزلت هذه الآية فى عبادة بن الصامت حين تبرأ من موالاة اليهود وقال : أوالي الله ورسوله والمؤمنين يعني أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وقال جابر بن عبد الله : نزلت فى عبد الله بن سلام وذلك أنه جاء إلى محمد صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن قومنا قريظة والنضير قد هجرونا وفارقونا وأقسموا أن لا يجالسونا ، فنزلت هذه الآية ، فقرأ : عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال عبد الله بن سلام :</h3>
<h3 style="text-align: right;">رضينا بالله ربّاً وبرسوله نبياً وبالمؤمنين أولياء .</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>5)تفسير الصاوي (ج1/ص383-384)</strong></span></span></span></h3>
<h3 style="text-align: right;">قوله: (انما وليكم) الخطاب لعبد الله بن سلام و اتباعه الذين هداهم الله الى الاسلام, فلما نزلت هذه الاية, قال عبد الله بن سالام: رضينا بالله ربا, و برسول الله نبيا, و بالمؤمنين اولياء, و العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب, فكل من انتسب لله فهو وليه....</h3>
<h3 style="text-align: right;">تفسير الرازي - (ج 6 / ص 87)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لمسألة الأولى : في قوله { والذين ءامَنُواْ } قولان : الأول : أن المراد عامة المؤمنين ، وذلك لأن عبادة بن الصامت لما تبرأ من اليهود وقال : أنا بريء إلى الله من حلف قريظة والنضير ، وأتولى الله ورسوله نزلت هذه الآية على وفق قوله . وروي أيضاً أن عبدالله بن سلام قال : يا رسول الله إن قومنا قد هجرونا وأقسموا أن لا يجالسونا ، ولا نستطيع مجالسة أصحابك لبعد المنازل ، فنزلت هذه الآية ، فقال رضينا بالله ورسوله وبالمؤمنين أولياء ، فعلى هذا : الآية عامة في حق كل المؤمنين ، فكل من كان مؤمناً فهو ولي كل المؤمنين ، ونظيره قوله تعالى : { والمؤمنون والمؤمنات بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ } [ التوبة : 71 ] وعلى هذا فقوله { الذين يُقِيمُونَ الصلاة وَيُؤْتُونَ الزكواة } صفة لكل المؤمنين&#8230;</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>6) تفسير البغوي &#8211; (ج 3 / ص 73)</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">و</span>قال جوبير عن الضحاك في قوله: { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا } قال: هم المؤمنون بعضهم أولياء بعض، وقال أبو جعفر محمد بن علي الباقر: { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا } نزلت في المؤمنين، فقيل له: إن أناسا يقولون إنها نزلت في علي رضي الله عنه، فقال: هو من المؤمنين .</h3>
<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>7)المصباح المنير في غريب الشرح الكبير  &#8211; (ج 10 / ص 453)</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">وَ</span>الْوَلِيُّ فَعِيلٌ بِمَعْنَى فَاعِلٍ مِنْ وَلِيَهُ إذَا قَامَ بِهِ وَمِنْهُ { اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا } وَالْجَمْعُ أَوْلِيَاءُ قَالَ ابْنُ فَارِسٍ وَكُلُّ مَنْ وَلِيَ أَمْرَ أَحَدٍ فَهُوَ وَلِيُّهُ وَقَدْ يُطْلَقُ الْوَلِيُّ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتِقِ وَالْعَتِيقِ وَابْنِ الْعَمِّ وَالنَّاصِرِ وَحَافِظِ النَّسَبِ وَالصَّدِيقِ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى وَقَدْ يُؤَنَّثُ بِالْهَاءِ فَيُقَالُ هِيَ وَلِيَّةٌ قَالَ أَبُو زَيْدٍ سَمِعْتُ بَعْضَ بَنِي عُقَيْلٍ يَقُولُ هُنَّ وَلِيَّاتُ اللَّهِ وَعَدُوَّاتُ اللَّهِ وَأَوْلِيَاؤُهُ وَأَعْدَاؤُهُ وَيَكُونُ الْوَلِيُّ بِمَعْنَى مَفْعُولٍ فِي حَقِّ الْمُطِيعِ فَيُقَالُ الْمُؤْمِنُ وَلِيُّ اللَّهِ وَفُلَانٌ أَوْلَى بِكَذَا أَيْ أَحَقُّ بِهِ وَهُمْ الْأَوْلَوْنَ بِفَتْحِ اللَّامِ وَالْأَوَالِي مِثْلُ الْأَعْلَوْنَ وَالْأَعَالِي وَفُلَانَةُ هِيَ الْوُلْيَا وَهُنَّ الْوُلَى مِثْلُ الْفُضْلَى وَالْفُضَلُ وَالْكُبْرَى وَالْكُبَرِ وَرُبَّمَا جُمِعَتْ بِالْأَلِفِ وَالتَّاءِ فَقِيلَ الْوَلِيَّاتُ وَوَلَّيْتُ عَنْهُ أَعْرَضْتُ وَتَرَكْتُهُ وَتَوَلَّى أَعْرَضَ .</h3>
<h3 style="text-align: right;">تفسير البغوي &#8211; (ج 7 / ص 173(</h3>
<h3 style="text-align: right;">(32) وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33(</h3>
<h3 style="text-align: right;">} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ } تقول لهم الملائكة الذين تنزل عليهم بالبشارة: نحن أولياؤكم أنصاركم وأحباؤكم،</h3>
<h3 style="text-align: right;">تفسير الطبري &#8211; (ج 14 / ص 84)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لقول في تأويل قوله : { وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (73) }</h3>
<h3 style="text-align: right;">قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره:(والذين كفروا)، بالله ورسوله =(بعضهم أولياء بعض)، يقول: بعضهم أعوان بعض وأنصاره، وأحق به من المؤمنين بالله ورسوله.</h3>
<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>ت</strong>فسير الطبري &#8211; (ج 14 / ص 347)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لقول في تأويل قوله : { وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71) }</h3>
<h3 style="text-align: right;">قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: وأما &#8220;المؤمنون والمؤمنات&#8221;، وهم المصدقون بالله ورسوله وآيات كتابه، فإن صفتهم: أن بعضهم أنصارُ بعض وأعوانهم &#8230;.</h3>
<h3 style="text-align: right;">القاموس المحيط &#8211; (ج 3 / ص 486(</h3>
<h3 style="text-align: right;">ي الوَلْيُ القُرْبُ، والدُّنُوُّ، والمَطَرُ بعدَ المَطَرِ، وُلِيَتِ الأرضُ، بالضم. والوَلِيُّ الاسمُ منه، والمُحِبُّ، والصَّدِيقُ، والنَّصيرُ. ووَلِيَ الشيءَ، و عليه وِلايَةً وَوَلايَةً، أَو هي المَصْدَرُ، وبالكسر الخُطَّةُ، والإِمارَةُ، والسُّلطانُ. &#8230;.</h3>
<h3 style="text-align: right;">(8) تفسير الرازي &#8211; (ج 6 / ص 89)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">أ</span>ن اللائق بما قبل هذه الآية وبما بعدها ليس إلا هذا المعنى ، أما ما قبل هذه لآية فلأنه تعالى قال : { ياأيها الذين ءامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ اليهود والنصارى أَوْلِيَاء } [ المائدة : 51 ] وليس المراد لا تتخذوا اليهود والنصارى أئمة متصرفين في أرواحكم وأموالكم لأن بطلان هذا كالمعلوم بالضرورة ، بل المراد لا تتخذوا اليهود والنصارى أحباباً وأنصاراً ، ولا تخالطوهم ولا تعاضدوهم ، ثم لما بالغ في النهي عن ذلك قال : إنما وليكم الله ورسوله والمؤمنون والموصوفون ، والظاهر أن الولاية المأمور بها ههنا هي المنهي عنها فيما قبل ، ولما كانت الولاية المنهي عنها فيما قبل هي الولاية بمعنى النصرة كانت الولاية المأمور بها هي الولاية بمعنى النصرة ، وأما ما بعد هذه الآية فهي قوله { ياأيها الذين ءامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الذين اتخذوا دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مّنَ الذين أُوتُواْ الكتاب مِن قَبْلِكُمْ والكفار أَوْلِيَاء واتقوا الله إِن كُنتُم مؤمنين } [ المائدة : 57 ] فأعاد النهي عن اتخاذ اليهود والنصارى والكفار أولياء ، ولا شك أن الولاية المنهي عنها هي الولاية بمعنى النصرة ، فكذلك الولاية في قوله { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ الله } يجب أن تكون هي بمعنى النصرة ، وكل من أنصف وترك التعصب وتأمل في مقدمة الآية وفي مؤخرها قطع بأن الولي في قوله { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ الله } ليس إلا بمعنى الناصر والمحب ، ولا يمكن أن يكون بمعنى الإمام ، لأن ذلك يكون إلقاء كلام أجنبي فيما بين كلامين مسوقين لغرض واحد ، وذلك يكون في غاية الركاكة والسقوط ، ويجب تنزيه كلام الله تعالى عنه ..</h3>
<h3 style="text-align: right;">(9)تفسير الرازي &#8211; (ج 6 / ص 90)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ل</span>حجة الثانية : أنا لو حملنا الولاية على التصرف والإمامة لما كان المؤمنون المذكورين في الآية موصوفين بالولاية حال نزول الآية ، لأن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه ما كان نافذ التصرف حال حياة الرسول ، والآية تقتضي كون هؤلاء المؤمنون موصوفين بالولاية في الحال ، أما لو حملنا الولاية على المحبة والنصرة كانت الولاية حاصلة في الحال ، فثبت أن حمل الولاية على المحبة أولى من حملها على التصرف ، والذي يؤكد ما قلناه أنه تعالى منع المؤمنين من اتخاذ اليهود والنصارى أولياء ، ثم أمرهم بموالاة هؤلاء المؤمنين ، فلا بدّ وأن تكون موالاة هؤلاء المؤمنين حاصلة في الحال حتى يكون النفي والإثبات متواردين على شيء واحد ، ولما كانت الولاية بمعنى التصرف غير حاصلة في الحال امتنع حمل الآية عليها .</h3>
<h3 style="text-align: right;">(10)تفسير الرازي &#8211; (ج 6 / ص 90)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لحجة السادسة : هب أنها دالة على إمامة علي ، لكنا توافقنا على أنها عند نزولها ما دلت على حصول الإمامة في الحال : لأن علياً ما كان نافذ التصرف في الأمة حال حياة الرسول عليه الصلاة والسلام ، فلم يبق إلا أن تحمل الآية على أنها تدل على أن علياً سيصير إماماً بعد ذلك ، ومتى قالوا ذلك فنحن نقول بموجبه ونحمله على إمامته بعد أبي بكر وعمر وعثمان ، إذ ليس في الآية ما يدل على تعيين الوقت</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1581&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/wilayah-bukan-imamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waktu Shalat Di Eropa Dan Kutub</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/waktu-shalat-di-eropa-dan-kutub/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/waktu-shalat-di-eropa-dan-kutub/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 09:24:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1571</guid>
		<description><![CDATA[Di belahan bumi dengan iklim tropis seperti Negara Indonesia hanya mengalami dua musim yaitu musim panas (kemarau) dan musim hujan, hampir tidak mengalami perbedaan yang nampak antara waktu siang dan malam (berjalan secara seimbang). Namun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1572" title="kutub" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/06/kutub.jpg" alt="kutub" width="284" height="177" />Di belahan bumi dengan iklim tropis seperti Negara Indonesia hanya mengalami dua musim yaitu musim panas (kemarau) dan musim hujan, hampir tidak mengalami perbedaan yang nampak antara waktu siang dan malam (berjalan secara seimbang). Namun di belahan bumi beriklim sub tropis seperti negara-negara di Benua Eropa atau beriklim kutub seperti sebagian besar daerah Rusia, mengalamai 4 musim yaitu, musim dingin, musim semi, musim panas dan musim gugur, perbedaan waktu antara siang dan malam sering terjadi khususnya pada musim panas dan dingin. Ketika musim panas, siang hari lebih panjang dari malam hari, namun ketika musim dingin malam hari lebih panjang dari siang hari. Bahkan di daerah kutub, ketika musim panas siang hari tanpa malam selama 6 bulan, sedangkan ketika musim dingin malam hari tanpa siang selama 6 bulan. Kadangkala matahari terbenam sebelum jam 10 pagi seperti daerah Bulgaria, atau siang hari selama 18 jam seperti negara Swedia atau masuk waktu isyak pada jam 11 malam seperti negara Denmark. Hal ini akan terasa berat bagi umat Islam untuk mengerjakan shalat 5 waktu atau puasa Ramadhan, khususnya bagi anak-anak yang harus pergi ke sekolah  untuk belajar atau orang dewasa untuk bekerja di pagi hari.<span id="more-1571"></span></p>
<p>Daerah-daerah yang mengalami perbedaan waktu sebagaimana di atas atau bahkan pada daerah kutub yang tidak ada perubahan siang malamnya dalam 6 bulan akan mempersulit dalam penetapan waktu shalat. Dan adakalanya pada suatu daerah terjadi waktu isya’ hanya dalam hitungan menit setelahnya langsung terbit fajar (waktu subuh), sehingga ada yang masih memungkinkan untuk menetapkan waktu shalat menjadi 5 waktu walaupun mempersulit mereka dalam mengerjakannya, dan bahkan ada yang hanya bisa menetapkan 4 waktu saja karena singkatnya waktu antara satu shalat dengan shalat yang lain.</p>
<p>Kesulitan seperti ini tidak hanya berpengaruh pada pelaksanaan shalat 5 waktu, akan tetapi pada puasa Ramadhan yang sama-sama mendasarkan pada matahari (perubahan siang dan malam). Perubahan waktu semacam ini akan memperberat puasa, karena di musim panas akan mengalami siang yang lebih panjang seperti yang terjadi di negara Bulgaria, hingga mencapai 23 jam, bahkan selama 40 hari di musim panas menjadi hari dengan intensitas malam paling singkat karena matahari sudah terbit sebelum terbenamnya mega (matahari terbit seketika setelah terbenamnya matahari). Kesulitan-kesulitan seperti ini tidak sejalan dengan kaidah hukum islam yaitu keringanan/toleransi, sebagaimana dalam kaidah fikih :</p>
<h3 dir="rtl">“<strong>إذَا ضَاقَ الْأَمْرُ اتَّسَعَ</strong>”</h3>
<p align="center"><em>“ jika suatu perkara semakin sempit (sulit), maka hukumnya semakin meluas (ringan).”</em></p>
<p>Dan kaidah :</p>
<h3 dir="rtl">“الْمَشَقَّةَ تَجْلِبُ التَّيْسِيرَ”</h3>
<p align="center"><em>“ kesulitan akan menarik pada kemudahan “</em></p>
<p>Bagaimanakah syari’at menanggapi keadaan semacam ini ?,</p>
<p>Menyikapi keadaan di atas, maka kami akan paparkan pendapat para ulama’ 4 madzhab dalam beberapa masalah berikut :</p>
<p><strong>1. Kewajiban shalat 5 waktu.</strong></p>
<p>Pendapat yang kuat dalam empat madzhab yaitu kewajiban sholat fardhu 5 waktu tidak gugur bahkan terhitung sebagai shalat <em>ada’</em> bukan <em>qodlo’</em>, berdasarkan pada dalil-dalil al-Qur’an atau hadist bahwa sholat wajib dikerjakan pada waktunya tanpa ada pengecualian di mana pun berada. Namun apabila terdapat kesulitan di dalam menentukan waktu seperti di negara Bulgaria, daerah kutub atau pada zman Dajjal, maka dengan cara mengikuti waktu shalat di daerah terdekat sesuai pada permasalahan zakat fitrah bagi orang yang hidup di daerah dengan makanan pokok yang tidak sesuai dengan ketentuan Syari’at (seperti susu), maka wajibnya mengeluarkan jenis  makanan pokok daerah terdekat yang sesuai dengan ketentuan Syari’at.</p>
<p>Kesimpulan : pada daerah seperti Bulagria ketika tidak memungkinkan menetapkan waktu isyak dikarenakan matahari terbit sebelum hilangnya mega merah, jika daerah terdekat darinya yaitu Turki (berada di sebelah selatan Bulgaria) mega merah hilang di perempat malam pertama, maka bagi penduduk Bulgaria dapat langsung mengerjakan shalat isyak dengan menisbahkan/memperkirakan selisih waktu antara kedua negara setelah masuknya waktu maghrib (terbenamnya matahari). Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an :</p>
<h3 dir="rtl"><strong>يُرِيدُ اللَّه</strong><strong>ُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ</strong></h3>
<p><em>“ </em><em>Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu</em><em> “ (Q.S. al-Baqarah;185)</em><em> </em></p>
<p>Oleh karena itu, kewajiban shalat isyak tidak gugur. Dengan dasar qiyas kewajiban shalat di 3 hari pertama dari kemunculan Dajjal. Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad :</p>
<h3 dir="rtl"><strong>قَالَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا </strong><strong>يَوْمٌ كَسَنَة</strong><strong>ٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ قَالَ لَا اقْدُرُوا لَهُ</strong><strong> ، رواه مسلم واحمد</strong></h3>
<p><em>Para sahabat bertanya kepada Rasulullah perihal lamanya dajjal di dunia, maka Rasulullah menjawab :” masa dajjal hanya 40 hari, hari pertama seperti satu tahun, hari kedua seperti satu bulan, hari ketiga seperti satu minggu, lalu hari-hari berikutnya seperti hari-hari kalian (24 jam). Kami lalu bertanya :” Ya Rasulullah, apakah satu hari seperti satu tahun lamanya cukup bagi kami mengerjakan shalat satu hari saja (5 waktu dalam hari yang lamanya setahun) ?, Nabi menjawab :” tidak, akan tetapi ukurlah sesuai waktu shalat kalian dalam hari-hari biasa !”. (H.R. Muslim dan Ahmad).</em></p>
<p>Ini sesuai dengan pendapat para ulama’ kontemporer yang ditetapkan di Saudi Arabiah nomor 61 tertanggal 12 Robi’us Tsani 1398 H, sebagai berikut :</p>
<p>“ Barang siapa yang bertempat tinggal di Negara-negara yang masih dapat dibedakan antara siang dan malamnya dengan terbitnya dan tebenamnya matahari, hanya saja siangnya sangat panjang ketika musim panas dan pendek ketika musim dingin, maka wajib baginya shalat 5 waktu pada waktu-waktu yang telah ditentukan syari’at, didasarkan pada sifat umum pada firman Allah Ta’ala :</p>
<h3 dir="rtl"><strong>أَقِمِ الصَّلَاة</strong><strong>َ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآَنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا (78)</strong></h3>
<p><em>“ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh, Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (Q.S. al-Isra’ : 78)</em></p>
<p>Dan barang siapa yang bertempat tinggal di Negara yang tidak terbenam matahari di waktu musim panas dan tidak terbit di musim dingin atau di Negara yang hanya mengalami siang hari selama 6 bulan atau hanya mengalami malam hari selama 6 bulan, maka tetap wajib untuk mengerjakan shalat 5 waktu pada setiap 24 jamnya dan memperkirakan serta menetapkan waktu-waktunya dengan mendasarkan pada waktu-waktu shalat di Negara tetangga terdekat yang tidak mengalami kondisi seperti ini (dapat dibedakan waktu shalat yang satu dengan yang lain), sebagaimana ketetapan Nabi pada hadits riwayat Imam Muslim dan Ahmad di atas.”</p>
<p><strong>2. Jamak taqdim shalat maghrib dan isyak.</strong></p>
<p>Menjamak taqdim shalat maghrib dan isyak pada kondisi di atas , menurut pendapat mayoritas ulama’ tidak diperbolehkan sebab jamak hanya diperbolehkan ketika safar/bepergian atau turun hujan. Namun jika tidak menjamak dapat menyebabkan meninggalkan shalat, maka anda bisa mengikuti pendapat sebagian ulama’ diperbolehkan untuk jamak taqdim di waktu shalat maghrib karena keadaan yang mendesak bukan karena perubahan waktu yang terjadi. Hanya saja jika anda terbangun di waktu shalat isyak (sebelum subuh), maka alangkah baiknya anda mengulangi kembali shalat isyak sebagai bentuk kehati-hatian dalam beribadah.</p>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl"><strong>قضايا الفقه والفكر المعاصر للدكتور وهبة الزحيلي /31-34</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl"><strong>الصلاة والصيام في المناطق القطبية الشمالية</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">المعروف في البلاد المعتدلة تقارب الليل و النهار أحيانا يزيد النهار قليلا عن الليل كما في الشتاء, و قد يكون النهار في الصيف حوالي (16) ساعة, أم المناطق القطبية,فيتساوى فيها نصف العام مع النصف الأخر حيث يكون النهار ستة أشهر و الليل ستة أشهر , وقد تغرب الشمش قبل الساعة العاشرة صباحا كما في البلغارية ,وقد يمتد النهر و الصيام إلى اكثر من (18) ساعة كما في الدانمارك والسيد أحيانا,وقد يكون وقت صلاة العشاء في الدانمارك بعد الساعة الحادية عشر ليلا,و هذا لا يتحمله الأطفال غالبا الذين يبكلرون غلى مدارسهم في الساعة السادسة صباحا.</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">وهذه الظاهرة توقع الناس في حرج أو مشقة غير محتملة,سواء في الصلاة أو الصيام , فما الحكم الشرعي في ذالك؟ ولا فرق في ذالك بين المناطق القطبية ألتي لاتغيب فيها الشمش مطلقا او يستمر فيها الليل,ولا تتميز فيها الأوقات الخمسة و بين بعض البلاد القريبة من المناطق القطبية ألتي قد توجد فيها فترات لايظهر فيها وقت العشاء,أو يطلع الفجر بعد المغيب الشفق مباشرة.</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">فإذا تساوى الليل و النهارفي سنة كاملة .صلى المسلم خمس صلوات فقط موزعة على خمسة أوقات في السنة كلها ,وقد تكون الصلوات المفروضة أربعا أو أقل ,على حسب طول النهار وقصره ,ويؤدي ذلك أيضا إلى تكليف المسلم بصوم رمضان ولا رمضان عنده .وقد يصوم (23)ساعة أو أكثر ,وبلاد البلغار يطلع فيها الفجر قبل غروب الشفق في أربعينية الصيف في أقصر ليالي السنة.</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">وهذا لا يتفق مع منطق التكليف وسماحة الإسلام .لأنه &#8220;إذا ضاق الأمر إتسع&#8221;و&#8221;المشقة تجلب التيسير&#8221;.</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">ذهب بعض العلماء الحنفية إلى سقوط التكليف بصلاة أو أكثر .أو صوم لعدم وجود السبب وهو الوقت وعدم القدرة والإمكان .وعدم الفائدة المرجوة من التكليف .قالوا :ولا ينوي القضاء لفقد وقت الأداء ,و هذا غير مقبول لدي الفقهاءالحنفية على المعتمد ,لعموم التكليف في النصوص الشرعية ,دون فرق بين مسلم و مسلم ,ولا بين قطر وقطر</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">والراجح في المذهب الحنفي وغيره من المذاهب القول بوجوب الصلوات المفروضة دون سقوطها على أصحاب البلاد ,وتكون الصلاة أداء لا قضاء ,لعموم أدلة التكليف في نصوص القران الكريم والسنة النبوية دون أستثناء أحد من وجوب الصلوات الخمس في أوقانها ,وجعلها شرعا دائما لأهل الأمصار ,نت غير تمييز بين قطر و اخر ,على أن يقدر وقت لكل صلات على حدة ,</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">واختلفوا في معنى القدير,فهو عند الحنفية بالمعنى الاظهر: افتراض أن الوقت الذي هو سبب الوجوب موجود,وإن كان الوقت وقتا لصلاة اخرى كالصبح مثلا, مع أن صلاة العشاء لم تعدّ بعد, وهو ما اختاره الكمال بن الهمام في فتح القدير, وتبعه ابن شحنة.وعند بقية المذاهب :يكون التقدير لكل صلاة بحساب مواقيت اقرب البلاد المعتدلة إليهم ,اي حساب البلاد القريبة منهم, التي تتميز فيها أوقات الصلوات الخمس و الصيام,فيقدرون قدر ما يغيب فيه الشفق بأقرب البلاد إليهم,وهو ما صرح به الشافعيةكما يقدر عادم القوت المجزئ في فطرة الصيام بحسب السائد في بلده,أي فإن كان شفقهم يغيب عند ربع ليلهم مثلا,أعتبر من ليل هؤلاء بالنسبة, لا انهم لايبصرون بقدر ما يمضي من ليلهم,لأنه ربما استغرق ذالك ليلهم كلهوويبقى وقت العشاء إلى طلوغ الفجر الصادق,ففي بلغارية مثلا يؤخذ بتوقيت تركيا جنوب البلغار,لقوله تعالى: يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر  (البقرة: 2\185).</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">واستدل هؤلاء الموجبون بأداء جميع الصلوات في أوقاتها دون إسقاط شيء منها بالقياس على أيام الدجال,الذي هو من علامات الساعة الكبرى,فقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم بالتقدير فيها,ونص الحديث هو ((ذكر النبي صلى الله عليه وسلم الدجال ولبثه في الأرض أربعين يوما:يوم كسنة,ويوم كشهر ,ويوم كجمعة,وسائر أيامه كأيامكم.قال الراوي: قلنا يا رسول الله,أرأيت اليوم الذي كسنة, أتكفينا فيه صلاة يوم ؟ قال : لا, ولكن اقدروا له)) أي صلوا صلاة سنة في اليوم الذي هو كسنة, وقدروا لكل صلاة وقتا وهذا مارجحه علماء العصر, وهو قرار  هيئة كبار العلماء في السعودية برقم (61) وتاريخ 12/4/1398 هـ</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">و نصه : من كان يقيم في بلاد يتمايز فبها الليل من النهار بطلوع فجر و غروب شمس, الا أن نهارها يطول جدا في الصيف ويقصر في الشتاء,وجب عليه أن يصلي الصلوات الخمس في أوقاتها المعروفة شرعا,لعموم قوله تعالى : ((أقم الصلاة لدلوك الشمس إلى غسق الليل وقران الفجر إن قران الفجر كان مشهودا ))  الإسراء:17/78</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">ومن كان يقيم في بلاد لا تغيب عنها الشمس صيفا ولاتطلع فيها شتاء او في بلاد يستمر نهارها الى ستة أشهر و يستمر ليلها إلى ستة أشهر مثلا وجب عليهم ان يصلوا الصلوات الخمس ,في كل أربع و عشرين ساعة و أن يقدروا لها اوقاتها و يجددها,معتمدين في ذالك على أقرب بلاد إليهم تتمايز فيها الصلوات المفروضة بعضها على بعض,لما ثبت (أن النبي صلى الله عليه وسلم حدث أصحابه عن المسيح الدجال,فقالوا ما لبثه في الأرض؟قال:أربعون يوما يوم كسنة و يوم كشهر و يوم كجمعة و سائر أيامه كأيامكم.فقيل يا رسول الله الذي كسنة,أتكفين فيه صلاة يوم قال:لا,أقدروا له.</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">فيجب على المسلمين في البلاد المذكورة أن يحددوا أوقات الصلاة معتمدين في ذلك على أقرب بلاد معتدلة لهم ,يتمايز فيها الليل من النهار .وتعرف فيها أوقات الصلوات الخمس بعلاماتها الشرعية ,في كل أربع وعشرين ساعة.</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl"><strong>العرف الشذي للكشميري &#8211; (ج 3 / ص 363)</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">قوله : ( يوم كسنة إلخ ) قيل : إنه تصوير لشّدة الابتلاء وليس في الواقع سنة ، وقيل : إن في ذلك الزمان يكون تكاثف السحب والأمطار والظلمة ولا يرى النهار ، ولا ريب أن القحط أيضاً يكون في ذلك الزمان كما في بعض الروايات ، وقيل : يكون يوم سنة في الواقع وقرينة لفظ ( ولكن اقدروا . إلخ ) لفظ حديث الباب <span style="text-decoration: underline;">، وتمسك ابن همام على أن صلوات أهل بلغار خمس بهذا الحديث ، وفي بلغار يطلع الصبح حين غيبوبة الشفق بعد غروب الشمس ومختار الشيخ ابن همام ، واختاره شمس الأئمة الحلواني ، واختار البقالي الأربع ، ولما بلغ الحلواني ما اختاره البقالي أرسل الحلواني رجلاً إلى البقالي فبلغ الرجل والبقالي يعظ الناس فقال الرجل : ما حال من أسقط خامسة الصلوات؟ فقال : حاله كمن يتوضأ وسقط يده فسكت الرجل وذهب إلى الحلواني وبلغه ما ورد به . أقول : إن الصلوات عليهم خمس ، ولكن حال الصلاة وحال رمضان عليهم كيف يكون حكمه ولم يتوجه إلى هذا أحد إلا الشوافع توجهوا إلى الصلاة ، ويقولون : إن أهل بلغار يمرون على حساب من قريب منهم ويجدون وقت العشاء ، وأما ابن بطوطة السياح صاحب الرحلة قال : بلغت بلغار وصمت ثمة معهم ولم أجد شيئاً من الكلفة على نفسي : وأما بعض البلاد مثل قاذان فلا يوجد الشفق الأحمر أيضاً بل إذا غربت الشمس طلعت الفجر ، وكان فيهم ملا بهاء الدين الحنفي المرجاني وهو ذكي الطبع وله حواشي على الكتب ، وصنف رسالة فيما نحن فيه ولم أجدها ، ونقل النواب في رسالة عبارة الشيخ رفيع الدين الدهلوي رحمه الله .</span></h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl"><strong>شرح النووي على مسلم &#8211; (ج 9 / ص 327)</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">وَأَمَّا قَوْلهمْ : ( يَا رَسُول اللَّه فَذَلِكَ الْيَوْم الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاة يَوْم ؟ قَالَ : لَا اُقْدُرُوا لَهُ قَدْره ) فَقَالَ الْقَاضِي وَغَيْره : هَذَا حُكْم مَخْصُوص بِذَلِكَ الْيَوْم شَرَعَهُ لَنَا صَاحِب الشَّرْع . قَالُوا : وَلَوْلَا هَذَا الْحَدِيث ، وَوُكِلْنَا إِلَى اِجْتِهَادنَا ، لَاقْتَصَرْنَا فِيهِ عَلَى الصَّلَوَات الْخَمْس عِنْد الْأَوْقَات الْمَعْرُوفَة فِي غَيْره مِنْ الْأَيَّام . وَمَعْنَى ( اُقْدُرُوا لَهُ قَدْره ) أَنَّهُ إِذَا مَضَى بَعْد طُلُوع الْفَجْر قَدْر مَا يَكُون بَيْنه وَبَيْن الظُّهْر كُلّ يَوْم فَصَلُّوا الظُّهْر ، ثُمَّ إِذَا مَضَى بَعْده قَدْر مَا يَكُون بَيْنهَا وَبَيْن الْعَصْر فَصَلُّوا الْعَصْر ، وَإِذَا مَضَى بَعْد هَذَا قَدْر مَا يَكُون بَيْنهَا وَبَيْن الْمَغْرِب فَصَلُّوا الْمَغْرِب ، وَكَذَا الْعِشَاء وَالصُّبْح ، ثُمَّ الظُّهْر ، ثُمَّ الْعَصْر ، ثُمَّ الْمَغْرِب ، وَهَكَذَا حَتَّى يَنْقَضِي ذَلِكَ الْيَوْم . وَقَدْ وَقَعَ فِيهِ صَلَوَات سِتَّة ، فَرَائِض كُلّهَا مُؤَدَّاة فِي وَقْتهَا . وَأَمَّا الثَّانِي الَّذِي كَشَهْرٍ ، وَالثَّالِث الَّذِي كَجُمْعَةٍ ، فَقِيَاس الْيَوْم الْأَوَّل أَنْ يُقَدَّر لَهُمَا كَالْيَوْمِ الْأَوَّل عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ ، وَاَللَّه أَعْلَم .</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl"><strong>عون المعبود &#8211; (ج 9 / ص 359)</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">( وَسَائِر أَيَّامه ) : أَيْ بِوَاقِي أَيَّامه قَالَ النَّوَوِيّ قَالَ الْعُلَمَاء : هَذَا الْحَدِيث عَلَى ظَاهِره وَهَذِهِ الْأَيَّام الثَّلَاثَة طَوِيلَة عَلَى هَذَا الْقَدْر الْمَذْكُور فِي الْحَدِيث ، يَدُلّ عَلَيْهِ قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَائِر أَيَّامه كَأَيَّامِكُمْ اِنْتَهَى . قُلْت : فَمَا قِيلَ الْمُرَاد مِنْهُ أَنَّ الْيَوْم الْأَوَّل لِكَثْرَةِ غُمُوم الْمُؤْمِنِينَ وَشِدَّة بَلَاء اللَّعِين يُرَى لَهُمْ كَالسَّنَةِ ، وَفِي الْيَوْم الثَّانِي يَهُون كَيْده وَيَضْعُف مُبْتَدَأ أَمْره فَيُرَى كَشَهْرٍ ، وَالثَّالِث يُرَى كَجُمُعَةٍ لِأَنَّ الْحَقّ فِي كُلّ وَقْت يَزِيد قَدْرًا وَالْبَاطِل يَنْقُص حَتَّى يَنْمَحِق أَثَرًا أَوْ لِأَنَّ النَّاس كُلَّمَا اِعْتَادُوا بِالْفِتْنَةِ وَالْمِحْنَة يَهُون عَلَيْهِمْ إِلَى أَنْ تَضْمَحِلّ شِدَّتهَا مَرْدُود وَبَاطِل</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl">( اقْدُرُوا لَهُ قَدْره ) : قَالَ الْقَارِي : نَقْلًا عَنْ بَعْض الشُّرَّاح أَيْ اقْدُرُوا الْوَقْت صَلَاة يَوْم فِي يَوْم كَسَنَةٍ مَثَلًا قَدْره أَيْ قَدْرَه الَّذِي كَانَ لَهُ فِي سَائِر الْأَيَّام كَمَحْبُوسٍ اِشْتَبَهَ عَلَيْهِ الْوَقْت اِنْتَهَى . وَقَالَ النَّوَوِيّ : مَعْنَى اقْدُرُوا لَهُ قَدْره أَنَّهُ إِذَا مَضَى بَعْد طُلُوع الْفَجْر قَدْر مَا يَكُون بَيْنه وَبَيْن الظُّهْر كُلّ يَوْم فَصَلُّوا الظُّهْر ثُمَّ إِذَا مَضَى بَعْده قَدْر مَا يَكُون بَيْنهَا وَبَيْن الْعَصْر فَصَلُّوا الْعَصْر وَإِذَا مَضَى بَعْد هَذَا قَدْر مَا يَكُون بَيْنهَا وَبَيْن الْمَغْرِب فَصَلُّوا الْمَغْرِب وَكَذَا الْعِشَاء وَالصُّبْح ثُمَّ الظُّهْر ثُمَّ الْعَصْر ثُمَّ الْمَغْرِب وَهَكَذَا حَتَّى يَنْقَضِي ذَلِكَ الْيَوْم وَقَدْ وَقَعَ فِيهِ صَلَوَات سَنَة فَرَائِض كُلّهَا مُؤَدَّاة فِي وَقْتهَا . وَأَمَّا الثَّانِي الَّذِي كَشَهْرٍ وَالثَّالِث الَّذِي كَجُمُعَةٍ فَقِيَاس الْيَوْم الْأَوَّل أَيْ يُقَدَّر لَهُمَا كَالْيَوْمِ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ اِنْتَهَى . وَقَالَ الْقَاضِي وَغَيْره : هَذَا حُكْم مَخْصُوص بِذَلِكَ الْيَوْم شَرَعَهُ لَنَا صَاحِب الشَّرْع قَالُوا : وَلَوْلَا هَذَا الْحَدِيث وَوُكِلْنَا إِلَى اِجْتِهَادنَا لَاقْتَصَرْنَا فِيهِ عَلَى الصَّلَوَات الْخَمْس عِنْد الْأَوْقَات الْمَعْرُوفَة فِي غَيْره مِنْ الْأَيَّام نَقَلَهُ النَّوَوِيّ</h3>
<h3 style="text-align: right;" dir="rtl"><strong>كفاية الأخيار &#8211; (1 / 140)</strong></h3>
<h3 style="text-align: right;">( فرع ) المعروف من المذهب أنه لا يجوز الجمع بالمرض ولا الوحل ولا الخوف وادعى إمام الحرمين الإجماع على امتناعه بالمرض وكذاادعى إجماع الأمة على ذلك الترمذي ودعوى الإجماع منهما ممنوع فقد ذهب جماعة من أصحابنا وغيرهم إلى جواز الجمع بالمرض منهم القاضي حسين والمتولي والروياني والخطابي والإمام أحمد ومن تبعه على ذلك وفعله ابن عباس رضي الله عنهما فأنكره رجل من بني تميم فقال له ابن عباس رضي الله عنهما أتعلمني السنة لا أم لك وذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعله قال ابن شقيق فحاك في صدري من ذلك شيء فأتيت أبا هريرة رضي الله عنه فسألته عن ذلك فصدق مقالته وقصة ابن عباس وسؤال ابن شقيق ثابتان في صحيح مسلم قال النووي القول بجواز الجمع بالمرض ظاهر مختار فقد ثبت في صحيح مسلم أن النبي صلى الله عليه وسلم  ( جمع بالمدينة من غير خوف ولا مطر <span style="text-decoration: underline;">) قال الأسنائي وما اختار النووي نص عليه الشافعي في مختصر المزني ويؤيده المعنى أيضا فإن المرض يجوز الفطر كالسفر فالجمع أولى بل ذهب جماعة من العلماء إلى جواز الجمع في الحضر للحاجة لمن لا يتخذه عادة وبه قال أبو إسحاق المروزي ونقله عن القفال وحكاه الخطابي عن جماعة من أصحاب الحديث</span> واختاره ابن المنذر من أصحابنا وبه قال أشهب من أصحاب مالك وهو قول ابن سرين ويشهد له قول ابن عباس رضي الله عنهما أراد أن لا يحرج أمته حين ذكر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ( جمع بالمدينة بين الظهر والعصر والمغرب والعشاء من غير خوف ولا مطر ) فقال سعيد بن جبير لم فعل ذلك فقال لئلا يحرج أمته فلم يعلله بمرض ولا غيره واختار الخطابي من أصحابنا أنه يجوز الجمع بالوحل فقط والله أعلم قال  باب صلاة الجمعة</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1571&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/waktu-shalat-di-eropa-dan-kutub/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Hukum Rokok</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/kontroversi-hukum-rokok/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/kontroversi-hukum-rokok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 05:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1533</guid>
		<description><![CDATA[
Assalamu’alaykum
1.  Ana mau tanya hukum merokok tu apa bib?
2.  Kalau haram kenapa?
From : Abdullah Ali
FORSANSALAF menjawab :

Wa’alaikum salam Wr. Wb.
Hukum merokok ada beberapa pendapat di kalangan ulama’ :

Boleh/mubah, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1546" title="الى متى..،.؟" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/05/الى-متى..،.؟.jpg" alt="الى متى..،.؟" width="350" height="290" /></p>
<p><em>Assalamu’alaykum</em></p>
<p>1.  Ana mau tanya hukum merokok tu apa bib?<br />
2.  Kalau haram kenapa?</p>
<p>From : Abdullah Ali</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">FORSANSALAF menjawab :<br />
</span></strong></p>
<p><em>Wa’alaikum salam Wr. Wb.</em></p>
<p>Hukum merokok ada beberapa pendapat di kalangan ulama’ :</p>
<ol>
<li>Boleh/mubah, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas dan tidak berbahaya pada kesehatan serta bukan termasuk <em>muskir </em>(perkara yang memabukkan) atau <em>mukhoddir </em>(merusak pikiran).</li>
<li>Makruh, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas, hanya bau yang tidak sedap dari mulut orang yang mengkonsumsinya sebagaimana bawang merah atau bawang putih yang mentah.</li>
<li>Wajib, jika membahayakan jiwa ketika tidak merokok.</li>
<li>Haram, dengan pertimbangan sebagai berikut :</li>
</ol>
<p>a.   Rokok dapat membahayakan kesehatan, menurut kesepakatan para dokter menyebabkan kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Ajaran islam memerintahkan untuk selalu menjaga diri dan meninggalkan segala yang membahayakan, sebagaimana firman Allah SWT :</p>
<h3 style="text-align: right; ">وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)</h3>
<p><em>“ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-baqarah :195)</em></p>
<p>Dan hadits Rasulullah SAW :</p>
<h3 style="text-align: center; ">&#8221; لَا ضَرَرَ وَلَا ضَرَارَ &#8220;.</h3>
<p><em>“ janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan, dan jangan membalas dengan berbuat sesuatu yang membahayakan”</em></p>
<p>b.  Pembelajaan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan kesehatan. Hal ini adalah bentuk <em>isrof</em> atau <em>tabdzir</em> (pemborosan) harta yang diharamkan, sebagaimana firman Allah SWT :</p>
<h3 style="text-align: right; "><strong>وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ </strong><strong>وَلَا تُبَذِّر</strong><strong>ْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.</em><em> </em><em>Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”, (al-Isra’ : 26-27)</em></p>
<p>c.  Dapat merubah mental dan watak pecandunya.</p>
<p><strong>KETERANGAN :</strong></p>
<p><strong><em>Pendapat pertama,</em></strong> rokok adalah mubah karena tidak membahayakan kesehatan, maka telah menjadi maklum secara medis bahwa rokok sangat berbahaya untuk kesehatan baik dalam jangka waktu dekat atau lama. Sedangkan mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan kesehatan haram menurut kesepakatan ulama’.</p>
<p><strong><em>Pendapat kedua,</em></strong> rokok adalah makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Oleh karena itu, jika membahayakan, maka berubah hukum menjadi haram, bahkan wudhu’ yang wajib pun menjadi haram jika membahayakan.</p>
<p><strong><em>Pendapat ketiga,</em></strong> rokok wajib ketika membahayakan jika ditinggalkan. Sesungguhnya pendapat ini hanyalah wacana yang berlaku ketika benar-benar terjadi sebagaimana keadaan di atas. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dalil kebolehan merokok, bahkan makan bangkai menjadi wajib jika tidak memakannya akan mati.</p>
<p><strong><em>Pendapat terakhir,</em></strong> rokok haram. Pendapat ini menurut kami paling shohih, ditinjau dari dalil-dalil lebih tepat, lebih berhati-hati (<em>ihtiyath</em>) dan untuk menjaga kesehatan, nikmat yang teramat mahal, serta menghindari dari pemborosan (<em>isrof</em>). Allah SWT berfirman :</p>
<h3 style="text-align: right; ">يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.&#8221; Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).</em></p>
<p>Oleh karena itu, alangkah indah dan elok bagi orang yang tidak merokok, utamanya kalangan ustad, ulama’ dan tokoh agama untuk menjadi contoh bagi awam meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bahkan merugikan diri, agama dan harta. Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h3 style="text-align: right; ">مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ ، رواه الترمذي واحمد</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“ termasuk kesempurnaan islam pada seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak manfaat (dalam agama) baginya “</em><em> (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)</em></p>
<p>Namun sangatlah ironis sekali pada zaman sekarang, orang-orang yang menjadi <em>uswah</em>/tauladan bagi umat memberikan contoh yang tidak positif dan tidak bernilai ibadah bahkan karena, mereka anak-anak yang belum baligh pun dengan bebasnya menghisap rokok. Siapakah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti di hari kiamat ?.</p>
<p>Al Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri berkata :</p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>تَسْتَحْسِنُ التُّنْــبَاكَ فِي فِيْكَ وَتَسْـ # تَحْيِي بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ الْمِسْوَاكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Kamu menilai bagus rokok di mulutmu, namun kamu malu menggunakan siwak.</em><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>وَالشَّرْعُ ثُمَّ الطِّبُّ قَدْ نَهَيَاكَ عَنْ # ذَاكَ الْأَذَى وَبِفِعْلِ ذَا اَمَــرَاكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Padahal </em><em>syari’at dan medis benar-benar </em><em>telah </em><em>melarang</em><em>mu</em><em> dari penyakit (rokok) itu, dan dengan menggunakan siwak keduanya (syari’at dan medis) menganjurkanmu.</em><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>لَوْ كُنْتَ تَعْكِسُ فِي الْقَضِيَّةِ كَانَ اَوْ # لَى مِنْكَ لَكِنَّ اللَّعِيْنَ اَغْـوَاكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Jika kamu membalik kejadian di atas, maka lebih baik bagimu, namun yang terkutuk (syetan) </em><em>telah </em><em>menyesatkanmu.</em><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>فَلكَمْ اَضَعْـتَ بِهِ نَفِيْسَ اْلمـَالِ لَوْ # اَنْفَقْتَهُ يَا صَاحِ فِي اُخْـَـراكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Berapa banyak engkau hamburkan harta yang bernilai, seandainya saja engkau sedekahkan -wahai sahabatku- untuk kebahagiaan akhiratmu.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-size: small;"><span> 260/بغية المسترشدين</span></span></h3>
<h3 style="text-align: right; ">(مسألة) : التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى. وقد أشبع الفصل فيه بالنقل العلامة عبد الله باسودان في فيض الأسرار وشرح الخطبة وذكر من ألف في تحريمه كالقليوبي وابن علان وأورد فيه حديثاً، وقال الحساوي في تثبيت الفؤاد من كلام القطب الحداد أقول: ورأيت معزواً لتفسير المقنع الكبير قال النبي : «يا أبا هريرة يأتي أقوام في آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي ولا أقول لهم أمة لكنهم من السوام» قال أبو هريرة: وسألته : كيف نبت؟ قال: «إنه نبت من بول إبليس، فهل يستوي الإيمان في قلب من يشرب بول الشيطان؟ ولعن من غرسها ونقلها وباعها» . قال عليه الصلاة والسلام: «يدخلهم الله النار وإنها شجرة خبيثة» اهـ ملخصاً اهـ. ورأيت بخط العلامة أحمد بن حسن الحداد على تثبيت الفؤاد: سمعت بعض المحبين قال: إن والدي يشرب النتن خفية وكان متعلقاً ببعض أكابر آل أبي علوي، فلما مات رأيته فسألته: ما فعل الله بك؟ قال: شفع فيَّ فلان المتقدم إلا في التنباك فهو يؤذيني وأراني في قبره ثقباً يجيء منه الدخان يؤذيه وقال له: إن شفاعة الأولياء ممنوعة في شرب التنباك. وقال لي بعضهم: رأيت والدي وكان صالحاً لكنه كان ينشق التنباك، فرأيته بعد موته قال: إن الناشق للتنباك عليه نصف إثم الشارب فالحذر منه اهـ. وقال الولي المكاشف للشريف عبد العزيز الدباغ: أجمع أهل الديوان من الأولياء على حرمة هذا النتن الخ.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">فائدة : قال السيوطي في الأشباه والنظائر: قال بعضهم مراتب الأكل خمس: ضرورة، وحاجة، ومنفعة، وزينة، وفضول. فالضرورة بلوغه إلى حدّ إذا لم يتناول الممنوع هلك أو قارب وهذا يبيح تناول الحرام. والحاجة كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكله لم يهلك غير أنه يكون في جهد ومشقة وهذا لا يبيح الحرام. والزينة والمنفعة كالمشتهي الحلوى والسكر والثوب المنسوج بالحرير والكتان. والفضول كالتوسع بأكل الحرام والشبهات.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">الموسوعة الطبية الفقهية ص 183- 184</h3>
<h3 style="text-align: right; ">أحكام تدخين التبغ :</h3>
<h3 style="text-align: right; ">مشروعية التدخين : لقد ذهب الفقهاء في حكم تدخين التبغ مذاهب شتى لأنه لا نص فيه, وذلك على النحو الأتي :</h3>
<ul style="text-align: right; ">
<li>
<h3>تحريم التدخين : ذهب بعضهم إلى تحريمه لأنه يسكر في ابتداء تعاطيه إسكارا سريعا, ثم لايزال في كل مرة ينقص شيئا فشيئا حتى يطول الأمد جدا فيصير لايحس به, لكنه يجد نشوة وطربا أحسن عنده من السكر, وأنه يترتب على شربه الإضرار بالبدن, وأن الأطباء أجمعوا على ضرره وثبت عندهم أنه يسبب الكثير من الأمراض مثل سرطانات الرئة والحنجرة واللسان والشفتين والمثانة, كما يسبب الضعف الجنسي, وفيه إضاعة للمال وتبذير منهي عنه .. وقد نص المالكية على تحريمه وكذلك فعل المؤتمر العالمي الإسلامي لمكافحة المسكرات والمخدرات, الذي عقد في الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة في 30/ 5/ 1402 هـ حيث أصدر فتوى بحرمة استعمال التبغ للأضرار التي ذكرناها.</h3>
</li>
<li>
<h3>إباحة التدخين : وذهب بعضهم إلى إباحته لأنه لم يثبت إسكاره ولاتخديره, مع أن الذي يشربه في البداية يصيبه شيئ من الغشي لكنه لايوجب التحريم, لأن الأصل في الأشياء الإباحة حتى يرد نص بالتحريم فيكون التبغ مباحا جريا على قواعد الشرع وعمومياته.</h3>
</li>
<li>
<h3>كراهة التدخين : وذهب أكثرهم إلى كراهته لعدم ثبوت أدلة التحريم, وكرهوه لكراهة رائحته قياسا على البصل النيئ والثوم ونحوه.</h3>
</li>
</ul>
<h3 style="text-align: right; ">أما من الوجهة الطبية فإننا نميل إلى كراهته كراهة تحريم لما ثبت من أضراره الشديدة على صحة الفرد والمجتمع, وجريا على قاعدة : لا ضرر ولاضرار, ولأنه لم يثبت أن له أية فوائد صحية, وأما ما يدعيه المدخنون من فوائد نفسية للتدخين وأنه يريح الأعصاب ويبهج النفس وغير ذلك من الدعاوى الباطلة فلا تعدو أن تكون أوهاما وتزيينا من الشيطان الذي لايكف عن الكيد لبني أدم ليرديهم ويوقعهم في الإثم والضرر!.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">مع الناس / 2/ 39 للشيخ محمد سعيد رمضان البوطي</h3>
<h3 style="text-align: right; ">ما حكم بيع الدخان ؟ حكم التبغ من حيث تعاطيه والتعامل المالي به يتبع قرار الأطباء في اثره على جسم الإنسان ومن المعلوم ان اطباء العالم متفقون على انه يسبب اضرارا متنوعة في جسم الشخص الذي يتعاطاه اذن فالشرع يقرر وجوب تجنبه وحرمة استعماله، وكل ما حرم بيعه وشراؤه والقاعدة الشرعية في ذلك وهي حديث رسول الله r &#8221; لا ضرر ولا ضرار &#8220;.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 6 / ص 440)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">قَ</span>وْلُهُ : ( وُصُولُ دُهْنٍ ) وَمِنْهُ دُخَانٌ لَا عَيْنَ فِيهِ كَالْبَخُورِ ، بِخِلَافِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَالدُّخَانِ الْمَشْهُورِ الْآنَ ق ل . وَعِبَارَةُ عَبْدِ الْبَرِّ : وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبَخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إلَى جَوْفِهِ لَا يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فِيهِ لِذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا ، أَيْ فِي الْعُرْفِ ، وَأَمَّا الدُّخَانُ الْحَادِثُ الْآنَ الْمُسَمَّى بِالنَّتِنِ لَعَنَ اللَّهُ مِنْ أَحْدَثَهُ فَإِنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ ، فَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ إذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوصَةِ الَّتِي يَشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 13 / ص 200)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">(</span> وَيَحْرُمُ مَا يَضُرُّ الْبَدَنَ أَوْ الْعَقْلَ ) وَمِنْهُ يُعْلَمُ حُرْمَةُ الدُّخَانِ الْمَشْهُورِ لِمَا نُقِلَ عَنْ الثِّقَاتِ أَنَّهُ يُورِثُ الْعَمَى وَالتَّرَهُّلَ وَالتَّنَافِيسَ وَاتِّسَاعَ الْمَجَارِي . ا هـ . ق ل وَقَوْلُهُ : مَا يَضُرُّ الْبَدَنُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : الْمُرَادُ الضَّرَرُ الْبَيِّنُ الَّذِي لَا يُحْتَمَلُ عَادَةً لَا مُطْلَقُ الضَّرَرِ شَوْبَرِيٌّ .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">تحفة الأحوذي &#8211; (ج 4 / ص 416)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">تَ</span>نْبِيهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ اِسْتَدَلَّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِ التُّنْبَاكِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا } وَبِالْأَحَادِيثِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ . قَالَ الْقَاضِي الشَّوْكَانِيُّ فِي إِرْشَادِ السَّائِلِ إِلَى أَدِلَّةِ الْمَسَائِلِ بَعْدَمَا أَثْبَتَ أَنَّ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ حَلَالٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ مَا لَفْظُهُ : إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا عَلِمْت أَنَّ هَذِهِ الشَّجَرَةَ الَّتِي سَمَّاهَا بَعْضُ النَّاسِ التُّنْبَاكَ وَبَعْضُهُمْ التوتون لَمْ يَأْتِ فِيهَا دَلِيلٌ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِهَا وَلَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الْمُسْكِرَاتِ وَلَا مِنْ السُّمُومِ وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهَا حَرَامٌ فَعَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَلَا يُفِيدُ مُجَرَّدُ الْقَالِ وَالْقِيلِ اِنْتَهَى .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">قُلْتُ : لَا شَكَّ فِي أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ لَكِنْ بِشَرْطِ عَدَمِ الْإِضْرَارِ ، وَأَمَّا مَا إِذَا كَانَتْ مُضِرَّةً فِي الْآجِلِ أَوْ الْعَاجِلِ فَكَلَّا ثُمَّ كَلَّا . وَقَدْ أَشَارَ إِلَى ذَلِكَ الشَّوْكَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِقَوْلِهِ : وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، وَأَكْلُ التُّنْبَاكَ وَشُرْبُ دُخَانِهِ بِلَا مِرْيَةٍ وَإِضْرَارُهُ عَاجِلًا ظَاهِرٌ غَيْرُ خَفِيٍّ ، وَإِنْ كَانَ لِأَحَدٍ فِيهِ شَكٌّ فَلْيَأْكُلْ مِنْهُ وَزْنَ رُبْعِ دِرْهَمٍ أَوْ سُدُسِهِ ثُمَّ لِيَنْظُرْ كَيْفَ يَدُورُ رَأْسُهُ وَتَخْتَلُّ حَوَاسُّهُ وَتَتَقَلَّبُ نَفْسُهُ حَيْثُ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا أَوْ الدِّينِ ، بَلْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ أَوْ يَمْشِيَ ، وَمَا هَذَا شَأْنُهُ فَهُوَ مُضِرٌّ بِلَا شَكٍّ . فَقَوْلُ الشَّوْكَانِيِّ : وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَمْ عَاجِلًا لَيْسَ بِصَحِيحٍ . وَإِذَا عَرَفْت هَذَا ظَهَرَ لَك أَنَّ إِضْرَارَهُ عَاجِلًا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِ إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ . هَذَا مَا عِنْدِي وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">بغية المسترشدين</h3>
<h3 style="text-align: right; ">(مسألة: ك): قال: لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة، وألفت فيه التآليف، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة، والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">البيجوري / 1 / 343</h3>
<h3 style="text-align: right; ">(قوله : ولا بيع ما لا منفعة فيه) قيل منه الدخان المعروف لأنه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لأن فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف وكذا القول بأنه مباح، والمعتمد انه مكروه بل قد تعتريه الوجوب كما اذا يعلم الضرر بتركه وحينئذ فبيعه صحيح، وقد تعتريه الحرمة كما اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره اهـ</h3>
<h3 style="text-align: right; ">قرة العين بفتاوى اسماعيل زين / 225</h3>
<h3 style="text-align: right; ">سؤال : ما حكم شرب الدخان في المسجد بغير تلويث له كأن كان هناك طفايات معدة لذلك ؟</h3>
<h3 style="text-align: right; ">الجواب والله الموفق للصواب : ان شرب الدخان من حيث هو مكروه عند الشافعية وبعض العلماء وعند بعضهم حرام لكونه من الأشياء ذوات الروائح الخبيثة بالإضافة الى ما فيه من تلويث الفم والصدر وصرف بعض الأموال. اما اذا كان في المسجد كما ذكر في السؤال او في غيره من مجالس العلم فهو حرام لما فيه من من انتهاك حرمة المكان لأن الله تعالى يقول &#8221; فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ &#8221; اي اوجب الله وامر ان تعظم وتحترم، وشرب الدخان فيها ينافي الإحترام والتعظيم ويخشى على فاعلخ سوء الخاتمة لهذا اذا لم يكن هناك قصد للإنتهاك والا فان قصد شارب الدخان في المسجد المعاندة والإنتهاك فلا شك انه يرتد والعياذ بالله والمساجد من شعائر الله التي يجب تعظيمها.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">260/بغية المسترشدين</h3>
<h3 style="text-align: right; ">(مسألة: ب): يحرم بيع التنباك ممن يشربه أو يسقيه غيره، ويصح لأنه مال كبيع السيف، ونحو الرصاص والبارود من قاطع الطريق، والأمرد لمن عرف بالفجور، والعنب ممن يتخذه خمراً ولو ظناً، فينبغي لكل متدين أن يجتنب الاتجار في ذلك، ويكره ثمنه كراهة شديدة. أما بيع آلة الحرب من الحربي فباطل، ويجوز خلط الطعام الرديء بالطعام الجيد إن كان ظاهراً يعلمه المشتري، وليس ذلك من الغشّ المحرم، وإن كان الأولى اجتنابه، إذ ضابط الغشّ أن يعلم ذو السلعة فيها شيئاً لو اطلع عليه مريدها لم يأخذها بذلك المقابل فيجب إعلامه حينئذ.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج  &#8211; (ج 8 / ص 39)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">(</span> و الْأَصَحُّ أَنَّ صَرْفَهُ ) أَيْ الْمَالَ وَإِنْ كَثُرَ ( فِي الصَّدَقَةِ ، وَ ) بَاقِي ( وُجُوهِ الْخَيْرِ ) كَالْعِتْقِ ( وَالْمَطَاعِمِ وَالْمَلَابِسِ الَّتِي لَا تَلِيقُ بِحَالِهِ لَيْسَ بِتَبْذِيرٍ ) أَمَّا فِي الْأُولَى فَلِأَنَّ لَهُ فِي الصَّرْفِ فِي الْخَيْرِ غَرَضًا وَهُوَ الثَّوَابُ ، فَإِنَّهُ لَا سَرَفَ فِي الْخَيْرِ كَمَا لَا خَيْرَ فِي السَّرَفِ ، وَحَقِيقَةُ السَّرَفِ : مَا لَا يُكْسِبُ حَمْدًا فِي الْعَاجِلِ وَلَا أَجْرًا فِي الْآجِلِ ، وَمُقَابِلُ الْأَصَحِّ فِيهَا يَكُونُ مُبَذِّرًا إنْ بَلَغَ مُفَرِّطًا فِي الْإِنْفَاقِ</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1533&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/kontroversi-hukum-rokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabarruk dalam Ajaran Islam</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/tabarruk-ajaran-islam/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/tabarruk-ajaran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 04:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1522</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia pesantren di tanah air ini, kita sering menjumpai pemandangan di mana para santri saling berebut untuk bisa menghabiskan kopi atau teh dari cangkir sisa gurunya. Fenomena itu lebih dikenal sebagai ngalap berkah. Ngalap ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-1528" title="surban1" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/04/surban11.jpg" alt="surban1" width="448" height="272" />Dalam dunia pesantren di tanah air ini, kita sering menjumpai pemandangan di mana para santri saling berebut untuk bisa menghabiskan kopi atau teh dari cangkir sisa gurunya. Fenomena itu lebih dikenal sebagai ngalap berkah. Ngalap berkah adalah salah satu nilai yang diajarkan dalam agama Islam dan bukanlah hal baru, sebab generasi sahabat dan para salaf telah meneladankan tradisi tersebut.<span id="more-1522"></span></div>
<p>Telah kita ketahui bersama dalam kitab-kitab sirah nabawiyah bagaimana para sahabat berebut untuk mendapatkan tetesan wudhu Baginda Nabi SAW. Beliau SAW tak sekalipun melarang perbuatan itu. Berkah itu sesungguhnya ada, dan bisa diraih lewat perantara orang-orang yang sangat dekat dengan Allah SWT.</p>
<p>Secara harfiah, berkah bermakna bertambah atau berkembang. Sedangkan dalam terminologi bahasa berkah berarti bertambahnya kebaikan. Jadi ngalap berkah atau tabarruk adalah mengharap tambahan kebaikan dari Allah SWT dengan perantara ruang, waktu, makhluk hidup dan bahkan benda mati.<br />
<strong>TABARRUK RASULULLAH dengan tempat mulia</strong><br />
Bertabarruk (mencari berkah) bisa dilakukan dengan perantara tempat-tempat yang mulia, sebagai dalam firman  Allah SWT berikut :</p>
<h4 style="text-align: right;">إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (آل عمران:96)</h4>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia&#8221; (Q.S. ali Imron : 96)</em></p>
<p>Dalam hadits panjang tentang perjalanan Isra&#8217; Jibril mengajak Rasulullah SAW singgah di beberapa tempat untuk bertabarruk dengan mengerjakan shalat dua rakaat seperti di Bait Lahm tempat kelahiran Nabi Isa a.s., di bukit Thurisina, tempat Nabi Musa ber-mukalamah dengan Allah SWT, dan lain-lain. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut :</p>
<h4 style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال  أُتِيتُ بِدَابَّةٍ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ خَطْوُهَا عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهَا فَرَكِبْتُ وَمَعِي جِبْرِيلُ عليه السَّلَام فَسِرْتُ فقال انْزِلْ فَصَلِّ فَفَعَلْتُ فقال أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِطَيْبَةَ وَإِلَيْهَا الْمُهَاجَرُ ثُمَّ قال انْزِلْ فَصَلِّ فَصَلَّيْتُ فقال أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِطُورِ سَيْنَاءَ حَيْثُ كَلَّمَ الله عز وجل مُوسَى عليه السَّلَام ثُمَّ قال انْزِلْ فَصَلِّ فَنَزَلْتُ فَصَلَّيْتُ فقال أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ حَيْثُ وُلِدَ عِيسَى عليه السَّلَام ثُمَّ دَخَلْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَجُمِعَ لي الْأَنْبِيَاءُ عليهم السَّلَام فَقَدَّمَنِي جِبْرِيلُ حتى أَمَمْتُهُمْ ، رواه النسائي</h4>
<p><em>&#8220;Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Didatangkan kepadaku kendaraan Buraq,&#8217; lebih besar dari keledai, dan lebih kecil dari baghal (peranakan kuda dan keledai), langkahnya sejauh pandangannya. Lalu aku menaikinya dan berangkat bersama Jibril a.s. Tiba-tiba Jibril berkata kepadaku, &#8220;Turunlah dan shalatlah.&#8221; Aku pun mengerjakannya. Kemudian Jibril berkata &#8220;Tahukah engkau di mana engkau shalat, engkau tadi shalat di Tayyibah (Madinah) yang akan menjadi tujuanmu hijrah. Kemudian Jibril berkata: &#8220;Turunlah dan shalatlah!&#8221;, aku pun mengerjakannya, lalu dia berkata: &#8220;Tahukah engkau di mana shalatmu tadi, engkau shalat ada di Thurisina tempat Allah ber-mukalamah dengan Musa a.s.&#8221; Lalu berangkat lagi dan Jibril berkata: &#8220;Turunlah dan shalatlah!&#8221;, maka aku pun mengerjakannya, lalu  dia bertanya: &#8220;Tahukah engkau di mana engkau shalat, engkau shalat ada di Bait Lahm, tempat kelahiran Nabi Isa a.s., kemudian aku masuk ke Baitil Maqdis, di sana telah berkumpul para nabi, lalu Jibril memintaku untuk menjadi imam shalat mereka.&#8221;  (H. R. An-Nasa&#8217;i)</em></p>
<p><strong>BERTABARRUK DENGAN WAKTU</strong><br />
Allah memberi kelebihan dan keberkahan pada waktu-waktu tertentu, seperti dalam firman Allah SWT:</p>
<h4 style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرين</h4>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur&#8217;an) pada suatu malam yang diberkahi (malam lailatul qadr) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.&#8221; (Q.S. ad-Dukhan:3)</em></p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h4 style="text-align: right;">« إن لربكم عز وجل في أيام دهركم نفحات ، فتعرضوا لها ، لعل أحدكم أن تصيبه منها نفحة لا يشقى بعدها أبدا » رواه الطبراني</h4>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Tuhan kalian di hari-hari kalian memiliki anugerah-anugerah, maka  carilah augerah itu, mungkin kiranya salah satu diantara kalian mendapatkannya, maka tidak akan celaka selamanya.&#8221; (H.R Thabrani)</em></p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN BEKAS-BEKAS RASULULLAH SAW<br />
</strong>Sahabat Anas r.a. menceritakan bagaimana para sahabat bertabarruk dengan rambut Rasulullah SAW:</p>
<h4 style="text-align: right;">عن أَنَسٍ قال  لقد رأيت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فما يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إلا في يَدِ رَجُلٍ ، رواه مسلم وكذا رواه احمد والبيهقي في السنن الكبرى</h4>
<p><em>&#8220;Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.&#8221; (H.R Muslim, Ahmad dan Baihaqi)</em><br />
Aun bin Abi juhaifah menceritakan dari ayahnya para sahabat yang bertabarruk dengan air sisa wudhu&#8217; Rasulullah  :</p>
<h4 style="text-align: right;">أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ وَرَأَيْتُ بِلَالًا أَخَذَ وَضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يَبْتَدِرُونَ الْوَضُوءَ فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ ، رواه البخاري ومسلم واحمد</h4>
<p><em>&#8220;Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra&#8217; dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu&#8217; Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu&#8217; itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah&#8221; (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)</em></p>
<p>Dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa para sahabat bertabarruk dengan keringat Rasulullah SAW. Berkata Anas bin Malik :</p>
<h4 style="text-align: right;">كان النبي صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ على فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فيه قال فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ على فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لها هذا النبي صلى الله عليه وسلم نَامَ في بَيْتِكِ على فِرَاشِكِ قال فَجَاءَتْ وقد عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ على قِطْعَةِ أَدِيمٍ على الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذلك الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ في قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما تَصْنَعِينَ يا أُمَّ سُلَيْمٍ فقالت يا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قال أَصَبْتِ ،رواه مسلم واحمد</h4>
<p><em>&#8220;Rasulullah SAW masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi  berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: &#8220;Apa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim&#8221;, tanyanya.&#8221; &#8220;Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,&#8221;<br />
jawab Umi Sulaim. Rasulullah berkata: &#8220;Engkau benar&#8221; (H.R. Muslim dan Ahmad)</em></p>
<p><strong>BERTABARRUK DENGAN RAMBUT RASULULLAH SAW</strong></p>
<h4 style="text-align: right;">أَنَّ خَالِدَ بن الْوَلِيدِ فَقَدَ قَلَنْسُوَةً لَهُ يَوْمَ الْيَرْمُوكِ ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا فَلَمْ يَجِدُوها ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا ، فَوَجَدُوهَا فَإِذَا هِي قَلَنْسُوَةٌ خَلَقَةٌ ، فَقَالَ خَالِدٌ : اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَلَقَ رَأْسَهُ ، فَابْتَدَرَ النَّاسُ جَوَانِبَ شَعْرِهِ ، فَسَبَقْتُهُمْ إِلَى نَاصِيَتِهِ فَجَعَلْتُهَا فِي هَذِهِ الْقَلَنْسُوَةِ ، فَلَمْ أَشْهَدْ قِتَالا وَهِيَ مَعِي إِلا رُزِقْتُ النَّصْرَ.</h4>
<p>Dari Abdul hamid bin Jakfar berkata : bahwa Khalid bin Walid kehilangan kopyah ketika peperangan Yarmuk, lalu berkata : Carilah!, namun tidak ditemukan, dia meminta untuk mencarinya lagi, dan ternyata didapati berupa kopyah usang, lalu Khalid berkata : “<em>Sewaktu Rasulullah SAW umrah, beliau mencukur rambut kepalanya, maka orang-orang berebut rambut beliau, dan aku bisa mendahului dan mendapat rambut ubun-ubun beliau. Lalu kutaruh rambut itu di kopyah ini. Tidaklah aku menghadiri peperangan dengan membawa kopyah ini kecuali pasti aku menang“</em><br />
<strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN CANGKIR NABI</strong></p>
<p>Hajjaj ibn Hassan berkata: “Kami berada di rumah Anas dan dia membawa cangkir Nabi SAW<em> </em>dari suatu kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan solawat kepada Nabi SAW.” [Hadits riwayat Ahmad, dan Ibn Katsir].</p>
<p>‘Asim berkata: “Aku melihat cangkir itu dan aku minum pula darinya.” [Hadits Riwayat Bukhari]</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN MIMBAR NABI</strong></p>
<p>Ibnu ‘Umar r.a. sering memegang tempat duduk Nabi SAW<em> </em>di mimbar dan menempelkan wajahnya untuk barokah.  [al-Mughni 3:559; al-Shifa' 2:54, Ibn Sa'd, Tabaqat 1:13; Mawsu'at Fiqh 'Abdullah ibn 'Umar halaman. 52]</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN UANG YANG DIBERIKAN OLEH RASULULLAH</strong></p>
<p>Jabir menjual seekor unta ke Nabi SAW<em> </em>dan beliau SAW<em> </em>memerintahkan Bilal untuk menambahkan seqirat (1/12 dirham) atas harga yang disepakati. Jabir berkata: “Tambahan yang diberikan Nabi SAW<em> </em>tidak akan pernah meninggalkanku,” dan dia menyimpannya setelah peristiwa itu. [Hadits riwayat Bukhari].</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN TONGKAT RASULULLAH</strong></p>
<p>Ketika ‘Abdullah bin Anis kembali dari suatu peperangan setelah membunuh Khalid ibn Sufyan ibn Nabih, Rasulullah SAW memberi hadiah kepadanya berupa sebuah tongkat dan bersabda kepadanya: “Itu akan menjadi tanda di antara kau dan aku di hari kebangkitan.” Setelah itu, ‘Abdullah ibn Anis tidak pernah berpisah dari tongkat itu dan tongkat itu dikubur dengannya setelah wafatnya. [Hadits riwayat Ahmad 3:496, al-Waqidi 2:533].</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN BAJU RASULULLAH</strong></p>
<p>Jabir berkata: “Nabi SAW datang setelah ‘Abdullah bin Ubay dikuburkan dalam makamnya. Beliau SAW memerintahkan agar mayatnya diangkat lagi. Beliau SAW menaruh kedua tangannya pada kedua lutut ‘Abdullah, bernafas atasnya dan mencampurnya dengan air liurnya serta mengenakan pakaian beliau padanya.” [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN JUBAH RASULULLAH</strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya <em>Bab al-Libaas</em> pernah bahwa Asma’ binti Abu Bakr pernah menunjukkan pada Abdulah, bekas budaknya jubah Rasulullah yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari kain brokat, dan lengannya juga dibordir dengan kain brokat seraya berkata “Ini adalah jubah Rasulullah SAW yang disimpan ‘Aisyah hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi SAW dulu biasa memakainya, dan kami mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat sembuh karenanya.”</p>
<p>Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih Muslim, karya beliau, juz 37 bab 2,</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وفي هذا الحديث دليل على استحباب التبرك بآثار الصالحين وثيابهم</strong><strong> </strong></h3>
<p><strong><em>“Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang s</em></strong><strong><em>ale</em></strong><strong><em>h dan pakaian mereka” </em></strong></p>
<p><strong>Dalam kitab yang sama Imam Nawawi menulis setidaknya 11 kali anjuran untuk mencari berkah dari bekas orang-orang Saleh</strong>. Ini adalah dalil akurat bahwa tabarruk tidak terbatas pada masa hidup Rasulullah dan dianjurkannya bertabarruk dengan orang-orang saleh. Hal ini juga dilalakukan Imam Syafii dengan bertabarruk pada gamis Imam Ahmad sebagaimana dalam kitab Tarikh Dimasyqi :</p>
<h4 style="text-align: right;">قال لي الربيع: إن الشافعي خرج إلى مصر وأنا معه فقال لي: يا ربيع خذ كتابي هذا ، فامض به وسلمه إلى أبي عبدالله أحمد بن حنبل، وائتني بالجواب. قال الربيع: فدخلت بغداد ومعي الكتاب، فلقيت أحمد بن حنبل صلاة الصبح، فصلّيت معه الفجر، فلما انفتل من المحراب سلّمت إليه الكتاب، وقلت له: هذا كتاب أخيك الشافعي من مصر، فقال أحمد: نظرت فيه قلت: لا، فكسر أبو عبدالله الختم وقرأ الكتاب، وتغرغرت عيناه بالدموع، فقلت: إيش فيه يا أبا عبدالله قال: يذكر أنه رأى النبي (صلى الله عليه وسلم) في النوم، فقال له: اكتب إلى أبي عبدالله أحمد بن حنبل، واقرأ عليه مني السلام، وقل: إنك ستُمتحن وتدعى إلى خلق القرآن فلا تجبهم، فسيرفع الله لك علماً إلى يوم القيامة. قال الربيع: فقلت: البشارة، فخلع أحد قميصيه الذي يلي جلده ودفعهُ إليّ، فأخذته وخرجت إلى مصر، وأخذت جواب الكتاب فسلّمته إلى الشافعي، فقال لي الشافعي: يا ربيع إيش الذي دفع إليك قلت: القميص الذي يلي جلده، قال الشافعي: ليس نفجعك به، ولكن بُلّه وادفع إليّ الماء لأتبرك به.</h4>
<p><em>Berkata  Rabi&#8217;: &#8220;Sesungguhnya Imam Syafi&#8217;i pergi ke Mesir bersamaku, lalu berkata kepadaku: &#8220;Wahai Rabi&#8217;, ambil surat ini dan serahkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, selanjutnya datanglah kepadaku dengan membawa jawabannya!&#8221;,<br />
Ketika memasuki kota Baghdad kutemui Imam Ahmad sedang shalat subuh, maka aku pun shalat di belakang beliau. Setelah beliau hendak beranjak dari mihrab, aku serahkan surat itu, &#8220;Ini surat dari saudaramu Imam Syafi&#8217;i di Mesir,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kau telah membukanya?&#8221; tanya Imam Ahmad. &#8220;Tidak, wahai Imam&#8221; Beliau membuka dan membaca isi surat itu, sejenak kemudian kulihat beliau berlinang air mata. &#8220;Apa isi surat itu wahai Imam?&#8221; tanyaku. &#8220;Isinya menceritakan bahwa Imam Syafi&#8217;i bermimpi Rasulullah SAW, Beliau berkata: &#8220;Tulislah surat kepada Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya. Kabarkan padanya bahwa dia akan mendapatkan cobaan, yaitu dipaksa mengakui bahwa al-Qur&#8217;an adalah mahluk, maka janganlah diikuti, Allah akan meninggikan benderanya hingga hari kiamat,&#8221; tutur Imam Ahmad &#8220;Ini  suatu kabar gembira,&#8221; kataku. Lalu beliau menuliskan surat balasan seraya memberikan padaku qamis yang melekat di kulitnya.<br />
Aku pun mengambil surat itu dan menyerahkannya kepada Imam Syafi&#8217;i. &#8220;Apa yang diberikan Imam Ahmad padamu?&#8221; tanya Imam Syafi’i. &#8220;Gamis yang melekat dengan kulit beliau,&#8221; jawabku. &#8220;Kami tidak akan merisaukanmu, tapi basahi gamis ini dengan air, lalu berikan kepadaku air itu untuk bertabarruk dengannya,&#8221; kata beliau.</em></p>
<p><strong>BERTABARRUK DENGAN BENDA MATI</strong><br />
Bertabarruk terkadang bisa dilakukan dengan benda mati yang pernah dipakai atau disentuh orang saleh sebagaimana kisah Bani Israil, mereka selalu menang dalam peperangan berkat tabut di tangan mereka. Hal ini dijelaskan Ibnu Katsir dalam kitabnya <em>al-Bidayah wan-Nihayah juz 2 hal 6</em> :</p>
<h4 style="text-align: right;">قال ابن جرير : وكانوا إذا قاتلوا أحدا من الاعداء يكون معهم تابوت الميثاق الذي كان في قبة الزمان كما تقدم ذكره فكانوا ينصرون ببركته وبما جعل الله فيه من السكينة والبقية مما ترك آل موسى وآل هارون</h4>
<p>Berkata Imam Ibnu Jarir: <em>&#8220;Bani Israil jika berperang dengan para musuhnya selalu membawa tabut yang ada di qubah zaman, mereka selalu mendapat pertolongan dan kemenangan dengan berkat Tabut itu dan dengan apa yang Allah jadikan di dalamnya berupa ketentraman dan warisan yang ditinggalkan oleh keluarga Musa a.s. dan keluarga Harun a.s.&#8221;</em></p>
<p>Berkata Imam al-Baghawi dalam tafsirnya saat menafsiri firman Allah berikut:</p>
<h4 style="text-align: right;">{ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ }</h4>
<p><em>&#8220;Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.&#8221;</em></p>
<h4 style="text-align: right;">يعني موسى وهارون أنفسهما كان فيه لوحان من التوراة ورضاض الألواح التي تكسرت وكان فيه عصا موسى ونعلاه وعمامة هارون وعصاه وقفيز من المن الذي كان ينزل على بني إسرائيل، فكان التابوت عند بني إسرائيل وكانوا إذا اختلفوا في شيء تكلم وحكم بينهم وإذا حضروا القتال قدموه بين أيديهم فيستفتحون به على عدوهم</h4>
<p><em>Peninggalan Musa dan Harun berupa dua papan Taurat, pecahan papan, tongkat dan sandal Nabin Musa, imamah dan tongkat Nabi Harun, serta satu keranjang dari Manna yang diturunkan kepada Bani israil.&#8221;</em> .<em>Selain itu, jika di Bani Israil ada permasalahan, maka tabut itu -dengan kehendak Allah- berbicara dan menjadi hakim diantara mereka. Jika berperang mereka letakkan tabut di depan mereka dan mereka pun mendapatkan kemenangan atas musuh mereka&#8221; (Lihat Tafsir al-Baghawi juz 1 hal. 667)<br />
</em></p>
<p>Dari paparan keterangan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa bertabarruk sangat dianjurkan guna meraih kebaikan dunia dan akhirat. Berkah bukanlah pepesan kosong belaka, namun benar-benar ada dan bisa kita rasakan. Jangan sekali-kali mengingkari manfaat tabarruk. Ingatlah satu peristiwa yang terjadi di zaman kekhalifahan Sayidina Utsman bin Affan yang diriwayatkan Qadi ‘Iyad dalam kitab <strong><em>asy-Syifa’</em></strong> . Ketika itu seorang bernama Jihja al-Ghiffari mengambil tongkat Nabi SAW dari tangan Utsman bin Affan. Jihja kemudian berusaha mematahkan tongkat itu dengan lututnya. Upaya itu gagal. Malah kaki Jihjah belakangan mengalami infeksi pada bagian lutut dan harus diamputasi. Dan ia pun akhirnya mati sebelum akhir tahun itu.</p>
<p>Sungguh fatal akibat dari perbuatan Jihja itu. Bagaimana pula dengan perbuatan-perbuatan mereka yang telah membumihanguskan peninggalan-peninggalan Rasulullah SAW?</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1522&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/tabarruk-ajaran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>83</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahlul Bait, Penebar Rahmat Bukan Laknat</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/ahlul-bait-penebar-rahmat-bukan-laknat/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/ahlul-bait-penebar-rahmat-bukan-laknat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 10:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[


Membaca rekam jejak Baginda Nabi SAW dengan tekun dan lebih seksama, kita bakal mafhum betapa beliau SAW adalah pribadi yang sempurna. Beliau SAW sama sekali tak membekaskan cela dalam rentang sejarah yang beliau SAW jalani. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><span style="color: #0000ff;"><img class="alignleft size-full wp-image-1487" title="rahmat" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/03/rahmat.jpg" alt="rahmat" width="567" height="425" /></span></strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Membaca rekam jejak Baginda Nabi SAW dengan tekun dan lebih seksama, kita bakal mafhum betapa beliau SAW adalah pribadi yang sempurna. Beliau SAW sama sekali tak membekaskan cela dalam rentang sejarah yang beliau SAW jalani. Setiap langkah, ucap, laku, dan sikap yang pernah ditorehkan Rasulullah SAW adalah teladan yang paling layak untuk diikuti oleh umat manusia. Allah SWT berfirman :</p>
<h3 style="text-align: right;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</h3>
<p><em>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (al-Ahzab ; 21)<span id="more-1486"></span><br />
</em></p>
<p>Inti ajaran Kanjeng Nabi SAW adalah kasih sayang. Bukan hanya kepada umat Islam, akan tetapi kepada umat manusia, bahkan kepada seluruh alam semesta. Nilai-nilai yang senantiasa beliau SAW ajarkan kepada keluarga (ahlul bait) dan para sahabat adalah tentang kasih sayang, baik dengan ucapan maupun tingkah-laku. Di dalam Al-Quranul Karim, Allah SWT sendiri telah menegaskan pribadi Rasulullah SAW sebagai penabur kasih sayang di alam raya. Allah SWT berfirman,</p>
<h3 style="text-align: right;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</h3>
<p><em>“dan tidaklah Aku (Allah) utus engkau (wahai Muhammad), kecuali sebagai penebar rahmat untuk alam semesta” (al-Anbiya’ ; 107)</em></p>
<p>Rahmat, atau kasih sayang yang ditabur Rasulullah SAW mencakup seluruh makhluk, lebih-lebih kepada kaum mukminin, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala mensifati beliau dalam firman-Nya,</p>
<h3 style="text-align: right;">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</h3>
<p><em>”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)</em></p>
<p>Rahmat yang diusung Baginda Rasul SAW sangatlah besar dan luas, dan telah teruji oleh berbagai peristiwa yang menimpa beliau SAW di masa-masa awal dakwah. Kita maklum adanya bahwa ketika beliau dilempari batu oleh kaum kafir hingga berdarah-darah, tidak keluar dari lisan beliau ucapan-ucapan atau doa yang penuh dendam kesumat. Justru kalimat-kalimat indah yang beliau unjukkan,</p>
<h3 style="text-align: right;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ ، رواه البخاري</h3>
<p><em>“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka belum tahu.”</em></p>
<p>Demikian pula ketika Rasulullah didatangi malaikat penjaga gunung, meminta izin untuk menumpahkan dua gunung kepada kaum yang telah mencederai Beliau, maka Rasulullah SAW pun spontan menolak seraya berkata :</p>
<h3 style="text-align: right;">بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا  ، رواه البخاري</h3>
<p><em>“ akan tetapi aku berharap Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (H.R. Bukhori)</em></p>
<p>Pada doa itu tersirat makna yang dalam yang menunjukkan betapa beliau amat rahmat terhadap umatnya. Coba perhatikan. Pertama, beliau memintakan ampunan untuk mereka.  Lalu, beliau mengakui mereka sebagai kaumnya. Beliau tidak mengatakan ‘ampunilah mereka’, tapi beliau katakan ‘<strong>ampunilah kaumku’</strong>. Tak cukup itu, beliau juga memberikan alasan agar mereka benar-benar diampuni oleh-Nya. Beliau mengemukakan,</p>
<h3>فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْن</h3>
<p><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya mereka belum tahu.”</span></p>
<p>Beliau juga mendoakan anak turunan mereka agar kelak dijadikan orang beriman dan menyembah Allah SWT. Inilah kunci sukses dakwah beliau dalam mengajarkan Islam.</p>
<p>Sifat kasih sayang beliau SAW amatlah terang benderang. Perihal itu bisa kita ketahui dari riwayat-riwayat hadis yang mendedahkan fakta bahwa lisan beliau tak pernah mengucapkan kata-kata cercaan dan caci maki. Beliau SAW sendiri bersabda,</p>
<h3 style="text-align: center;">&#8221; إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا . وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً &#8220;رواه مسلم</h3>
<p><em>“Aku tidak diutus sebagai juru laknat. Aku diutus sebagai penyemai rahmat”</em></p>
<p>Terhadap makanan pun, Baginda Nabi SAW tak pernah mengeluarkan kata-kata celaan dan caci-maki. Bila beliau SAW berselera, maka beliau akan memakan hidangan yang ada. Bila sedang tak berselera, maka akan beliau tinggalkan, tanpa disertai komentar apapun.</p>
<p>Suatu waktu, beliau SAW masuk ke dalam rumah salah satu istrinya dan bertanya, <em>&#8220;ada makanan?&#8221;</em> dijawab, <em>“hanya ada cuka.”</em> Maka beliau pun bersabda,</p>
<h3 style="text-align: center;">نِعْمَ اْلإُدُمُ اَلْخَلُّ</h3>
<p><em>“Sebaik-baik lauk adalah cuka.”</em></p>
<p>Bahkan kepada pihak-pihak yang mencanangkan sikap permusuhan, yakni kaum kuffar Quraiys, beliau SAW tetap bersikap penuh rahmat. Kita tahu, mereka ini sangat kejam dan represif kepada Rasulullah SAW dan para sahabat ketika masih di Mekah. Akan tetapi, tatkala Mekah telah ditaklukkan Rasulullah SAW, mereka sama sekali tak mendapatkan perlakuan-perlakuan yang sifatnya balas dendam. Mereka malah mendapatkan perlindungan dan pengamanan, padahal hati mereka diliputi rasa takut ketika itu, mereka berdebar menanti keputusan Rasulullah SAW, dan tak seorang pun berani keluar, seakan Mekah berubah menjadi kubur tak berpenghuni. Sungguh tak mereka duga Rasulullah SAW akan memaafkan mereka seraya berkata :<br />
<em>“Aku hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya:</em></p>
<h3 style="text-align: center;">لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينْ</h3>
<p><em>“Tiada cercaan atas kalian pada hari ini, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.&#8221;.<br />
</em>Mendengar pernyataan Rasulullah ini  mereka pun keluar dari rumah-rumah mereka seakan baru dibangkitkan dari kubur untuk bersama-sama masuk islam.<em> (H.R. Al-Baihaqi)</em></p>
<p>Luluhlah hati kaum kuffar Quraiys, mereka malu dan segan melihat pekerti agung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kasih sayangnya. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.<br />
Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati para kuffar Quraiys. Tumbuh pula kecondongan mereka terhadap nilai-nilai mulia yang diteladankan Baginda Rasul SAW. Sungguh indah dan penuh kasih sayang. Nilai-nilai inilah yang sejatinya terus dipegang-teguh oleh ahlul bait beliau SAW. Kita saksikan bagaimana Imam Ali kw. tak pernah mengecam orang-orang yang tidak patuh padanya. Begitu pun ahlul bait setelahnya, yakni Imam Hasan imam Husein. Mereka tahu bahwa ayah mereka dilaknat di mimbar-mimbar. Bahkan pada saat itu seakan menjadi keharusan bagi khotib untuk melaknat Sayyidina Ali. Tapi tidak setitik pun kesumat membara di hati mereka berdua. Tak ada kata laknat keluar dari lisan mereka. Sikap ini diikuti generasi ahlulbait selanjutnya, seperti Imam Ali Zainal Abidin, imam Muhammad al-Baqir, dan Imam Jakfar Shodiq. Mereka adalah pewaris akhlak, sifat dan hal datuk mereka, Rasulullah SAW sebagai penebar rahmat, bukan penyebar laknat.</p>
<p>Nah, bagi mereka yang menyatakan diri sebagai para pecinta ahlul bait Nabi SAW, seyogianya mereka berlaku seperti para ahlul bait: sebagai penebar rahmat. Baiknya mereka banyak-banyak mengucapkan kalimat santun dan mendoakan umat,</p>
<h3 style="text-align: center;">اَللَّهُمَّ اْغفِرْ لَهُمْ ، اَللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي</h3>
<p><em>“Ya Allah, Ampuni mereka, berilah kaumku hidayah.”</em></p>
<p>Sebab memang itulah yang diajarkan para pemuka ahlul bait, bukan sebaliknya, menyebarkan laknat dan mengobarkan dendam kesumat. Tidak ada satu pun ajaran ahlul bait yang membenarkan sikap mencaci orang-orang yang memusuhi Imam Ali, apalagi menganggap cacian dan laknat ini sebagai bukti cinta ahlul bait. Kalau memang cinta ahlul bait, buktikanlah dengan meneladani sikap mereka yang santun dan penuh rahmat.</p>
<p>Bukankah setan, Firaun, kaum Tsamud, atau Abu Jahal adalah makhluk-makhluk yang keji dan nista yang berhak dilaknat. Tapi tidak ada satupun ayat atau hadits yang memerintahkan kita melaknat setan dan musuh-musuh Rasul SAW itu. BAGAIMANA PULA TERHADAP ORANG-ORANG ISLAM YANG BERIMAN PADA ALLAH SWT DAN RASUL SAW, APALAGI YANG PERNAH DUDUK BERSAMA RASULULAH SAW?</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1486&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/ahlul-bait-penebar-rahmat-bukan-laknat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>129</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Maulid Dalam Al-Qur&#8217;an dan Hadits</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/maulid-dalam-al-quran-dan-hadits/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/maulid-dalam-al-quran-dan-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 08:55:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1443</guid>
		<description><![CDATA[Rabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1458" title="makam Nabi" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/02/makam-Nabi1.jpg" alt="makam Nabi" width="290" height="192" />Rabiul Awal adalah bulan bertabur pujian dan rasa syukur. Di bulan ini, seribu empat ratus tahun silam, terlahir makhluk terindah yang pernah diciptakan Allah SWT. Namanya Muhammad SAW. Kita patut memujinya, karena tiada ciptaan yang lebih sempurna dari Baginda Nabi SAW. Berkat beliau, seluruh semesta menjadi terang benderang. Kabut jahiliah tersingkap berganti cahaya yang memancarkan kedamaian dan ilmu pengetahuan. Karena itu kita wajib mensyukuri. Tiada nikmat yang lebih berhak untuk disyukuri dari nikmat wujudnya sang kekasih, Muhammad SAW.<span id="more-1443"></span></p>
<p>Walau masih ada segelintir muslimin yang alergi dengan peringatan maulid Nabi SAW, antusiasme memperingati hari paling bersejarah itu tak pernah surut. Di seluruh belahan bumi, umat Islam tetap semangat menyambut hari kelahiran Nabi SAW dengan beragam kegiatan, seperti sedekah, berdzikir, shalawat, bertafakkur, atau dengan menghelat seminar-seminar ilmiah, bahkan Rasulullah telah mengawali mereka dan memberikan contoh dengan berpuasa setiap hari kelahiran beliau yaitu hari senin. Negara-negara muslim, kecuali Arab Saudi, menjadikan tarikh 12 Rabiul Awal sebagai hari libur nasional. Hari itu pun dijadikan sebagai momen pertukaran tahni’ah (ucapan selamat) bagi sebagian pemimpin negara-negara di Sumenanjung Arab.</p>
<p>Secara harfiah, maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dimafhumi, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW itu sangat perlu dibaca dan dikaji karena penuh inspirasi dan bisa memantapkan iman. Allah SWT berfirman,</p>
<h3 style="text-align: right;">وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ</h3>
<p><em>“Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu.. (Hud :120)”</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Maulid Nabi Isa</strong></p>
<p>Dalam Al-Quran banyak tercantum maulid para nabi. Allah SWT mengisahkan Nabi Isa A.S. secara runtun: mulai kelahirannya, lalu diutus sebagai rasul, hingga diangkat ke langit. Coba tengok surat Ali Imran ayat 45 sampai 50. Di situ Allah SWT memulai kronologi kisah Nabi Isa a.s. dengan firmanNya,</p>
<h3 style="text-align: right;">إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ</h3>
<p><em>“(ingatlah), ketika malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”</em></p>
<p>Dalam Surat Al Maidah ayat 110, Allah SWT lagi-lagi menegaskan sekali lagi siapa sosok Isa a.s., Allah SWT berfirman,</p>
<h3 style="text-align: right;">إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِي عَلَيْكَ وَعَلَى وَالِدَتِكَ إِذْ أَيَّدْتُكَ بِرُوحِ الْقُدُسِ تُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَإِذْ عَلَّمْتُكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَإِذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ بِإِذْنِي فَتَنْفُخُ فِيهَا فَتَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِي وَتُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ بِإِذْنِي وَإِذْ تُخْرِجُ الْمَوْتَى بِإِذْنِي وَإِذْ كَفَفْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَنْكَ إِذْ جِئْتَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ</h3>
<p><em>“(ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan dirimu dengan Ruhul qudus. kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (Ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, Kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. dan (Ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (Ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata: “Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata”.</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ayat-ayat di atas mengurai sirah nabi Isa a.s. mulai jelang kelahirannya sampai diangkat ke langit. Sebuah data yang tak bisa dibantah keontetikannya. Mengacu terminologi maulid sebagai sirah, jalinan kisah di atas sah-sah saja bila diistilahkan sebagai Maulid Nabi Isa a.s.</p>
<p><strong>Maulid Nabi Yahya</strong></p>
<p>Selain Nabi Isa a.s., Al-Quran juga mencatat “biografi” Nabi Zakaria dan maulid Nabi Yahya Alaihimassalam. Dalam surat Maryam ayat 3 sampai 33, Allah mengisahkan perjalanan hidup Nabi Zakaria dan Nabi Yahya dengan panjang lebar, dimulai dengan sebuah doa Nabiyullah Zakariya yang penuh pengharapan.</p>
<h3 style="text-align: right;">قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا (4) وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا (5) يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آَلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا</h3>
<p><em>“Ia Berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya Aku khawatir terhadap mawaliku (pengganti) sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah Aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi Aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, sebagai seorang yang diridhai”.</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kemudian Allah menjawab permintaan rasul-Nya itu, sekaligus sebagai isyarat akan lahirnya sang “putra mahkota”, Nabi Yahya a.s.,</p>
<h3 style="text-align: right;">يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا</h3>
<p><em>“Hai Zakaria, Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya</em><em>.</em></p>
<p>Selanjutnya, dengan bahasa yang indah, Al-Quran mengisahkan sirah Nabi Zakaria a.s. dan putranya, Yahya a.s.. Sama seperti perjalanan hidup Nabiyullah Isa a.s., sirah Nabi Yahya bisa pula diistilahkan sebagai Maulid Nabi Yahya karena, hakikatnya, maulid adalah sirah. Begitu pun kisah Nabi Ibrohim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya’kub, Nabi Yusuf, Nabi Musa dan lainnya.</p>
<p><strong>Maulid Siti Maryam</strong></p>
<p>Tak hanya para nabi. Al-Quran juga mendedah sejarah hidup sebagian kaum shalihin. Salah satunya adalah Siti Maryam, sosok teladan bagi wanita sepanjang masa. Kisah wanita mulia itu dibuka dengan sebuah nazar yang diucapkan seorang ibu yang berhati tulus dalam surat Ali Imran ayat 35 sampai 37.</p>
<h3 style="text-align: right;">إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ )35( فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ )36( فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ )37(</h3>
<p><em>“(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.</em><em> </em></p>
<p><em><em>36. Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, Sesunguhnya Aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya Aku Telah menamai dia Maryam dan Aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”</em></em></p>
<p><em><em>37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.</em></em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan masih banyak lagi yang tidak bisa kami sertakan pada artikel ini karena keterbatasan ruang di website ini.</p>
<p>Dari ayat-ayat di atas bisa diambil kesimpulan bahwa sebenarnya Maulid Nabi SAW, yang memuat sirah Rasulullah SAW, adalah semacam epigon (pengikut) bagi Al-Quranul Karim yang memuat sirah-sirah para nabi dan shalihin. Sebagai pemimpin para nabi, sudah sepatutnya sejarah Nabi Muhammad dibukukan dan dibaca sesering mungkin. Pentingnya mengenang perjalanan hidup Baginda Nabi SAW sangat dirasakan umat Islam pada periode akhir-akhir ini, tatkala berbagai figur non muslim ditawarkan oleh media-media secara gencar.</p>
<p><strong>Hari Istimewa</strong></p>
<p>Perlu diketahui, sejatinya Allah SWT juga menjadikan hari kelahiran Nabi SAW sebagai momen istimewa. Fakta bahwa Rasul SAW terlahir dalam keadaan sudah dikhitan (<em>Almustadrak ala shahihain hadits no.4177</em>) adalah salah satu tengara. Fakta lainnya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, perkataan Utsman bin Abil Ash Atstsaqafiy dari ibunya yang pernah menjadi pembantu Aminah r.a. ibunda Nabi SAW. Ibu Utsman mengaku bahwa tatkala Ibunda Nabi SAW mulai melahirkan, ia melihat bintang bintang turun dari langit dan mendekat. Ia sangat takut bintang-bintang itu akan jatuh menimpa dirinya, lalu ia melihat kilauan cahaya keluar dari Ibunda Nabi SAW hingga membuat kamar dan rumah terang benderang (<em>Fathul Bari juz 6/583</em>).</p>
<p><strong>Kedua</strong>, Ketika Rasul SAW lahir ke muka bumi beliau langsung bersujud (<em>Sirah Ibn Hisyam</em>).</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, riwayat yang shahih dari Ibn Hibban dan Hakim yang menyebutkan bahwa saat Ibunda Nabi SAW melahirkan Nabi SAW, beliau melihat cahaya yang teramat terang hingga pandangannya bisa menembus Istana-Istana Romawi (<em>Fathul Bari juz 6/583</em>).</p>
<p><strong>Keempat</strong>, di malam kelahiran Rasul SAW itu, singgasana Kaisar Kisra runtuh, dan 14 buah jendela besar di Istana Kisra ikut rontok.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, padamnya Api di negeri Persia yang semenjak 1000 tahun menyala tiada henti (<em>Fathul Bari 6/583</em>).</p>
<p>Kenapa peristiwa-peristiwa akbar itu dimunculkan Allah SWT tepat di detik kelahiran Rasulullah SAW?. Tiada lain, Allah SWT hendak mengabarkan seluruh alam bahwa pada detik itu telah lahir makhluk terbaik yang pernah diciptakan oleh-Nya, dan Dia SWT mengagungkan momen itu sebagaimana Dia SWT menebar salam sejahtera di saat kelahiran nabi-nabi sebelumnya.</p>
<p><strong>Hikmah maulid</strong></p>
<p>Peringatan maulid nabi SAW sarat dengan hikmah dan manfaat. Di antaranya: mengenang kembali kepribadian Rasulullah SAW, perjuangan beliau yang penuh pelajaran untuk dipetik, dan misi yang diemban beliau dari Allah SWT kepada alam semesta.</p>
<p>Para sahabat radhiallahu anhum kerap menceritakan pribadi Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Salah satu misal, perkataan Sa’d bin Abi Waqash radhiyallahu anhu, “Kami selalu mengingatkan anak-anak kami tentang peperangan yang dilakukan Rasulullah SAW, sebagaimana kami menuntun mereka menghafal satu surat dalam Al-Quran.”</p>
<p>Ungkapan ini menjelaskan bahwa para sahabat sering menceritakan apa yang terjadi dalam perang Badar, Uhud dan lainnya, kepada anak-anak mereka, termasuk peristiwa saat perang Khandaq dan Bai’atur Ridhwan.</p>
<p>Selain itu, dengan menghelat Maulid, umat Islam bisa berkumpul dan saling menjalin silaturahim. Yang tadinya tidak kenal bisa jadi saling kenal; yang tadinya jauh bisa menjadi dekat. Kita pun akan lebih mengenal Nabi dengan membaca Maulid, dan tentunya, berkat beliau SAW, kita juga akan lebih dekat kepada Allah SWT.</p>
<p>Sempat terbesit sebuah pertanyaan dalam benak, kenapa membaca sirah baginda rasulullah mesti di bulan maulid saja? Kenapa tidak setiap hari, setiap saat? Memang, sebagai tanda syukur kita sepatutnya mengenang beliau SAW setiap saat. Akan tetapi, alangkah lebih afdhal apabila di bulan maulid kita lebih intens membaca sejarah hidup beliau SAW seperti halnya puasa Nabi SAW di hari Asyura’ sebagai tanda syukur atas selamatnya Nabi Musa as, juga puasa Nabi SAW di hari senin sebagai hari kelahirannya.</p>
<p>Nah, sudah saatnyalah mereka yang anti maulid lebih bersikap toleran. Bila perlu, hendaknya bersedia bergabung untuk bersama-sama membaca sirah Rasul SAW. Atau, minimal – sebagai muslim– hendaknya merasakan gembira dengan datangnya bulan Rabiul Awal. Sudah sepantasnya di bulan ini kita sediakan waktu untuk mengkaji lebih dalam sejarah hidup Rasul SAW. Jangan lagi menggugat maulid! <em><strong>Tim CN &amp; FS</strong></em></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1443&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/maulid-dalam-al-quran-dan-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>210</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Valentine`s Day : “Haul”-nya Seorang Pendeta</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/valentines-day-%e2%80%9chaul%e2%80%9d-nya-seorang-pendeta/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/valentines-day-%e2%80%9chaul%e2%80%9d-nya-seorang-pendeta/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 06:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1409</guid>
		<description><![CDATA[
MUKADDIMAH
Umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU, selalu mengadakan Haul dalam rangka mengenang sejarah atau biografi seorang yang ditokohkan. Acara itu diisi dengan pembacaan kalimat tayyibah, tahmid, tahlil. bahkan tidak jarang juga diisi dengan pembacaan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1427" title="NO v-day" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/02/NO-v-day.JPG" alt="NO v-day" width="400" height="400" /><br />
<strong>MUKADDIMAH</strong></p>
<p style="text-align: left;">Umat Islam di Indonesia, khususnya warga NU, selalu mengadakan <em>Haul </em>dalam rangka mengenang sejarah atau biografi seorang yang ditokohkan. Acara itu diisi dengan pembacaan kalimat <em>tayyibah</em>, <em>tahmid</em>, <em>tahlil.</em> bahkan tidak jarang juga diisi dengan pembacaan maulid serta ceramah agama dari  pemuka-pemuka agama yang hadir di situ. Oleh sebab itu, momentum <em>Haul</em> selalu dinanti oleh umat Islam dengan tujuan, menapaktilasi dan meneladani rekam jejak perjuangan orang yang di-<em>Haul</em>-i.</p>
<p>Akan tetapi, saat ini, peringatan <em>Haul</em> bukan hanya monopoli umat Islam semata. Dalam beberapa tahun belakangan, ada acara yang terlihat lebih semarak dan membahana suasananya yaitu peringatan Valentine`s Day (V-Day).<span id="more-1409"></span></p>
<p>V-day sering diidentikkan sebagai hari kasih sayang; hari menumpahkan segala perasaan kepada kekasih yang dicintai. Banyak cara dilakukan untuk menambah semarak acara V-Day, di antaranya, acara dansa-dansi, pemberian coklat, hadiah bunga, memakai pakaian serba berwarna merah muda. Lebih dari itu, momen ini juga dijadikan ajang pembuktian ‘cinta’ yang memuakkan dengan <em>free sex</em>. Sungguh sebuah peringatan hari kasih sayang yang berbahaya. Terlebih yang menjadi korban dari intervensi budaya negatif ini adalah para  pemuda (muslim) tumpuan agama.</p>
<p>Yang lebih menyedihkan, ternyata acara V-Day mendapat promosi besar-besaran dari berbagi media massa. Tidak ketinggalan pula Mall-mall dan pusat-pusat perbelanjaan juga bersolek dengan mengemas acara bertema kasih sayang. Dari semua itu, kita mesti waspada, sebab V-Day merupakan salah satu ritual yang diupacarai demi mengenang kematian seorang  pendeta. Untuk itu, kita harus mengetahui latar belakang V-Day, hukum merayakannya dan dampak dari perayaan itu sendiri.</p>
<p><strong>SEJARAH V-DAY</strong></p>
<p>Banyak versi mengenai V-Day. Versi-versi itu berkembang seiring dengan perjalanan waktu.</p>
<p>Asal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan &#8216;Feast of Lupercalia.</p>
<p>Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.</p>
<p>Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Dibawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya.</p>
<p>Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.</p>
<p>Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta tersebut.</p>
<p>Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.</p>
<p>Dan karena Lupercalia dimulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.</p>
<p>Meskipun demikian, masih banyak versi terkait sejarah V-Day. Latar belakang V-Day bisa disimak di dalam <em>The World Encyclopedia</em>, dan <em>The Chatolic Encyclopedia</em> Vol. XV</p>
<p><strong>MENGGAPAI CINTA SEJATI</strong></p>
<p>Adalah sebuah ilusi hidup tanpa cinta. Kata seorang sastrawan ‘sufi’ Indonesia, Kuswaidi Syafi`i (2003 : ix), cinta merupakan cahaya segala amal, bobot segala upaya, pamor segala tindakan. Cinta pastilah senantiasa muncul melalui segelintir orang pilihan-Nya, sebab cinta sampai kapan pun tetaplah merupakan satu-satunya pilihan hidup yang ideal, yang sanggup menyuguhkan kebeningan dan kesegaran batin, yang mampu meneruskan estafet nilai-nilai kemanusiaan universal, yang bisa memperkukuh nilai-nilai kemanusiaan universal, yang bisa memperkukuh tali sambungan dengan-Nya. Karena itu, lanjutnya, hidup tanpa cinta pasti menjadi ambruk.</p>
<p>Persoalannya, bagaimana cara menyalurkan cinta pada tempat yang sebenarnya. Mahkota cinta sering ditaruh dengan sekenanya. Atas nama cinta dua insan yang berlawanan jenis saling memadu kasih yang menjijikkan di hotel kelas melati hingga hotel berbintang, atas nama cinta sepasang kekasih yang sedang kasmaran menyalurkan syahwatnya tanpa ikatan pernikahan, atas nama cinta pula si gadis merelakan kesuciannya direngut oleh pacar “berhidung belang”. Padahal, banyaknya perilaku menyimpang dalam mengartikan cinta berakibat lumpuhnya akal dan kalbu. Dalam diri manusia sendiri, terkumpul lima komponen dasar : Ruh, hati, akal, <em>Dzauq</em> (perasaan), dan nafsu. Celakanya, banyak kaum muda dan dewasa yang mengaktifkan nafsu semata, sementara ruh, hati, akal, dan dzauq tidak difungsikan sebagaimana mestinya.</p>
<p>Di atas segalanya, baginda Rasul saw pernah bersabda,</p>
<h3 style="text-align: right;">اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْماَنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ</h3>
<p>“<em>Orang-orang penyayang akan dikasihani oleh Tuhan Yang Maha Penyayang, Maha Suci lagi Maha Tinggi. Sayangilah mahkluk yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit</em>”.</p>
<p>Makna hadits ini adalah (Nawawi Al Jawi:1426), Orang-orang yang menyayangi segenap mahkluk di bumi, baik manusia maupun hewan yang dilindungi, yaitu memperlakukan mereka dengan perlakuan baik, maka Allah akan menyayangi mereka yang melakukan perbuatan itu.</p>
<p>Lebih dari itu, cinta merupakan naluri manusia. “<em>Tiada manusia yang tiada memiliki cinta, tiada kebaikan bagi orang yang tiada cinta. Tiada keindahan dan kenikmatan di dunia jika kita menyendiri tanpa perasan cinta</em>,” demikian cetus Al Abbas bin Al Ahnaf seperti dikutip Ibnul Qoyyin Al Jauziyah dalam <em>Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul `Asyiqin</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>SIKAP KITA?</strong></p>
<p>Sikap kita mestilah berbanding lurus dengan sikap yang mencerminkan jati diri seorang muslim. Perayaan hari kasih sayang atau V-Day tidak lebih sekedar upaya peringatan kematian seorang pendeta yang dipandang sebagai ‘martir’ cinta. Berbicara tentang cinta dan kasih sayang, Islam tidak kehabisan bahan untuk itu. Terlebih salah satu pondasi berdiri tegaknya ajaran Islam karena <em>Rahmatan lil Alamin</em> yang salah satunya memprioritaskan hak (cinta) kepada Allah dari yang lain.</p>
<p>Hanya saja, alih-alih menjajal cinta kepada Allah justru cinta kepada sesama manusia sering disalahtafsirkan dengan berpacaran, ber-<em>kholwah</em> (berdua-duaan) di tempat-tempat ramai atau sepi, melakukan hubungan biologis pra-nikah. Akibat dari peringatan V-Day ini lahirlah anak-anak tanpa bapak disertai merajalelanya aborsi.</p>
<p>Paling tidak, sudahkah kita membaca, mengetahui dan mengamalkan firman Allah SWT dalam surah Al Isra`36 :</p>
<h3 style="text-align: right;">وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا</h3>
<p>“<em>Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggungjawabannya</em>”.</p>
<p>Di dalam Islam tidak ada hari raya selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Lagi pula, ungkapan cinta dan kasih sayang tidak perlu diutarakan pada waktu-waktu tertentu. Tidak perlu menunggu tanggal 14 Februari. Sebab, cinta adalah naluri manusia yang diberikan Allah kepada setiap insan. Jadi, kapan dan di mana pun juga, ekspresi cinta bisa diungkapkan setiap saat.</p>
<p>Sementara itu, Rasul bertutur : “<em>Barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut</em>”.</p>
<p>Sabda Nabi saw lainnya : “<em>Kamu akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka”. Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah yang anda maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani?” Rasulullah menjawab, “Kalau bukan mereka, siapa lagi</em>?” (HR. Bukhari-Muslim)</p>
<p>V-Day adalah bencana budaya buat kita semua. Meski begitu, belumlah cukup sekedar fatwa haram tanpa dicarikan solusi yang memadai sehingga kawula muda bisa meletakkan cinta sesuai pada tempatnya.</p>
<p>Akhirnya, peringatan V-Day sudah waktunya kita eliminasi lalu kita jadikan sebagai monumen kecelakaan sejarah yang tidak perlu ditangisi apalagi diikuti.</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1409&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/valentines-day-%e2%80%9chaul%e2%80%9d-nya-seorang-pendeta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Induk Segala Kejahatan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/induk-segala-kejahatan/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/induk-segala-kejahatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 23:38:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[
Jika saja sejarah sedikit berpihak kepada muslim maka Rusia seharusnya sudah menjadi negara Islam. Di tahun 988 Masehi, Pangeran Vladimir dari Kievan Rusia mengutus berpuluh-puluh duta negaranya ke Turki untuk mempelajari Islam. Mereka mempelajari seluk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1398" title="Induk segala kejahatan" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/01/3920620757_455e8c6534_o1.jpg" alt="3920620757_455e8c6534_o" width="270" height="182" />Jika saja sejarah sedikit berpihak kepada muslim maka Rusia seharusnya sudah menjadi negara Islam. Di tahun 988 Masehi, Pangeran Vladimir dari Kievan Rusia mengutus berpuluh-puluh duta negaranya ke Turki untuk mempelajari Islam. Mereka mempelajari seluk beluk Islam termasuk semua kebudayaan dan tatanan sosial disana. Ketika para duta itu kembali ke Rusia, kebudayaan muslim pun mulai tampak mewarnai kota-kota besar disana. Bangunan-bangunan tinggi dirancang seperti Masjid Haya Sofiya di Istanbul. Namun, sungguh tak beruntung, ketika Vladimir mengetahui bahwa Islam sama sekali tak memperbolehkan minuman keras maka ia berpaling dengan alasan kecintaan rakyatnya terhadap minum akan membuat Islam tidak populer disana.<span id="more-1396"></span></p>
<p>Mengkonsumsi alkohol memang sudah menjadi tabiat negara-negara non-muslim. Beraneka macam minuman memabukkan mulai dari wine (anggur) hingga vodka menjadi minuman penyerta sehari-hari. Bar-bar tempat menjual bir berserakan dimana-mana. Agama mereka pun tidak dengan jelas membatasi penggunaan minuman keras. Bahkan di dalam injil perjanjian baru  I-Timotius 5:23 disebutkan : ”<em>Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah.</em>”</p>
<p>Kembali kepada masa lampau sebelum diturunkan ayat yang menjelaskan haramnya <em>khamr</em>, masyarakat Arab pun adalah peminum alkohol. Bahkan, mereka tergolong pecinta alkohol. Mereka kerap mengadakan pesta minuman keras. Hal ini bisa kita ketahui melalui banyaknya kosakata alkohol. Terdapat kurang lebih seratus kata dalam bahasa Arab yang artinya sama dengan <em>khamr</em>. Begitu juga dengan banyaknya  puisi yang memuja kenikmatan anggur, mengelu-elukan pesta <em>khamr </em>dan menunjukkan keindahan gelas untuk minum alkohol. Namun, seiring perjalanan waktu kebiasaan ini pun dilunturkan oleh ajakan Islam yang sungguh indah dan disampaikan dengan cara yang amat sopan dan bijaksana.</p>
<p>Untuk membasmi sifat buruk yang mengakar dalam masyarakat jahiliyah ini, Allah menurunkan pelajaran dan latihan yang bijaksana, dengan cara melarang <em>khamr</em> melalui tahap demi tahap. Pada mulanya, Sang Khaliq menjelaskan bahwa bahaya minum alkohol jauh lebih besar daripada keuntungan yang di dapatkan. Setelah itu, Dia berkata kepada makhlukNya untuk tidak mendekati sholat ketika mabuk, dan pada akhirnya difirmankanlah surat Al-Ma’idah 90-91 dimana keputusan final diberikan :</p>
<h3>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ (91)</h3>
<p>” <em>Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan</em> panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(90) <em>Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu (91)</em>. ”</p>
<p>Fase berjenjang dari larangan ini bukannya tanpa alasan. Allah mengetahui dengan jelas taraf keimanan bangsa Arab saat itu. Andaikata saat itu diadakan tindakan yang drastis yaitu pemberantasan yang mendadak dan sekaligus, maka akan terjadilah kegoncangan dalam masyarakat, dan akan timbul perlawanan yang keras terhadap peraturan baru yang hendak diterapkan itu. Agama Islam sangat mementingkan pembinaan mental manusia, sehingga tidak menimbulkan kegoncangan-kegoncangan dalam masyarakat. Islam adalah agama yang sangat toleran terhadap umatnya. Ada lima hal yang Islam ingin amankan dari bahaya yaitu agama, jiwa, pikiran, garis keturunan dan harta. Untuk alasan itu, maka murtad, membunuh, mencuri, minum alkohol, dan melakukan perbuatan zinah sangat dilarang.</p>
<p>Sebagai gambaran ringkas, pada tahun 2000, dua diantara tiga orang Rusia meninggal karena alkohol. Umur harapan hidup (life expectancy) disana hanya 57,4 tahun. Nilai ini adalah nilai yang paling rendah di kawasan Eropa. Sementara itu di Amerika terdapat kira-kira 20 juta pemakai alkohol berat. Dan hampir 90% dari penduduknya meminum alkohol. Tak kurang dari 100.000 orang meninggal tiap tahun disana diakibatkan oleh alkohol. 17000 diantaranya meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat mabuk dan sisanya karena penyakit. Data tahun 1985 mengungkapkan setidaknya sepertiga dari total penghuni penjara disana melakukan perbuatan pidana saat mabuk.  Sedangkan jumlah kasus tilang karena mabuk mencapai 2,5 juta kasus per tahun!</p>
<p>Beberapa tahun yang lalu seorang kapten kapal tanker Exxon yang mengangkut minyak mentah, mabuk ketika megarungi samudra Atlantik di Alaska. Kecelakaan pun tak terelakkan, puluhan orang mati dan limbah minyak ditumpahkan di area filter dunia, menyebabkan peningkatan suhu global dan mencairnya permukaan es di kutub utara. Sungguh tragis! Sebagian besar pemerintah seantero dunia saat ini telah diyakinkan oleh bahaya alkohol baik secara individual, keluarga maupun sosial. Beberapa pemerintah seperti Amerika pernah mencoba membuat hukum yang melarang penggunaan alkohol, dan nyatanya gagal. Hanya Islam lah yang sukses dalam misi kombat dan pembasmian alkohol. Pertanyaan yang timbul, mengapa alkohol dilarang dalam Islam? dan bagaimana bila dipandang dari sudut kesehatan?</p>
<p>Alkohol adalah senyawa organik dimana hidroxyl (-OH) terikat pada atom karbon dari suatu alkyl. Secara umum alkohol biasanya dikenal sebagai ethanol yang didapatkan pada anggur atau minuman beralkohol. Cairan ini tak berwarna, mudah menguap dan memiliki bau khas yang sedikit tajam. Alkohol bisa didapatkan dengan memfermentasikan gula atau karbohidrat dengan bantuan jamur atau ragi. Secara sintetis, di pabrik-pabrik, alkohol di buat dengan hidrasi ethylene.</p>
<p>Sifat memabukkan alkohol disebabkan karena senyawa ini secara langsung mendepresi (menekan) sistem saraf pusat. Manusia memiliki pusat inhibitor afektif dan kognitif (emosi dan kecerdasan) di otak. Pusat inhibitor ini mencegah kita melakukan apa-apa yang kita anggap salah. Sebagai contoh, kita akan berbahasa yang baik-baik dengan orang tua atau menuntaskan panggilan alam di kamar mandi, bukannya di keramaian. Tetapi ketika seseorang mengkonsumsi alkohol, pusat inhibitor ini akan segera terdepresi. Oleh karena itulah, kita sering menemukan orang mabuk melakukan tindakan-tindakan memalukan yang tidak mencerminkan karakternya, menggunakan bahasa-bahasa yang bodoh, kencing di celana dan sebagainya. Alkohol membuat peminumnya mengalami perubahan persepsi, menumpulkan perasaan, mengganggu koordinasi, menghambat ingatan dan menimbulkan kepercayaan diri yang berlebihan.</p>
<p>Selain efek yang amat jelas pada sistem saraf, ternyata alkohol berpengaruh hampir terhadap semua organ dalam tubuh kita. Organ pertama yang selalu terpapar dengannya adalah lambung. Alkohol merangsang pengeluaran asam lambung yang berlebih sehingga dengan mudah terjadi tukak lambung atau luka pada lambung. Luka ini memudahkan perforasi atau lubang. Ketika perforasi terjadi maka asam lambung segera meracuni semua organ dalam rongga perut dan akan jatuh dalam keadaan yang sangat kritis (peritonitis generalisata). Bukan hanya itu, rangsangan kronis pada sistem pencernaan akan memudahkan terjadinya kanker tenggorokan, lambung dan usus.</p>
<p>Setelah diserap dalam usus, alkohol dibawa melalui vena porta hepatica menuju hati atau liver. Liver harus bekerja ekstra keras untuk menetralisir kadar alkohol dalam darah. Dalam jangka waktu lama, liver akan mengalami perlemakan (fatty liver) yang membuat fungsinya menjadi jelek. Jika masih berlanjut, keadaan ini dapat berubah menjadi cirrhosis hati atau gagal hati. Rangsangan kronis pada sel-sel hati yang menahun juga mudah menimbulkan hepatoma atau kanker hati. Jika seseorang dinyatakan menderita hepatoma, maka ia harus segera memesan batu nisan karena dalam kurun waktu 4 bulan saja hampir bisa dipastikan akan meninggal.</p>
<p>Setelah lepas dari liver, alkohol segera memasuki sistem sirkulasi primer tubuh. Alkohol adalah suatu turunan senyawa lemak. Oleh karena itu pada dasarnya sifatnya sangat mirip dengan lemak, yaitu mudah mengendap pada pipa-pipa pembuluh darah kita. Akibatnya mudah ditebak! Sederetan penyakit kardiavaskular seperti hipertensi, serangan jantung, stroke hingga impotensi sudah berjajar antri untuk menyerang.</p>
<p>Bagi wanita, pemakaian alkohol memiliki efek yang spesial juga. Selain lebih mudah terjadinya cirrhosis hati, pada wanita hamil, alkohol terbukti <em>teratogenik</em> atau memiliki efek pemicu cacat pada bayi. Dua dari lima bayi cacat di Amerika disebabkan karena efek ini. Alkohol juga diperkirakan menurunkan tingkat kesuburan wanita.</p>
<p>Yang saya sebutkan diatas hanyalah sebagian dari sekian banyak efek di bidang kesehatan yang mungkin ditimbulkan oleh pemakaian alkohol kronis. Masih ada banyak gangguan pada kulit, darah, korteks ingatan otak, sistem kelenjar, sistem kekebalan tubuh dan  sistem pernapasan. Namun yang paling berbahaya justru saat keracunan alkohol akut. Pada kondisi ini orang sering muntah, sementara reflek batuknya lumpuh. Akibatnya, muntahan dari lambung dengan mudah memasuki paru-paru menyebabkan pneumonia atau abses paru. Kejadian ini akan cepat menyebabkan sufokasi (sumbatan jalan napas) yang sangat sering menyebabkan kematian.</p>
<p>Alkohol bukan hanya menimbulkan dampak pada kesehatan tetapi juga sosial. Minuman ini menghancurkan keluarga, meluluh-lantakkan dasar-dasar kepercayaan dan merenggangkan persamaan. 1400 tahun yang lalu, sebelum semuanya menjadi berantakan, Allah sudah mengetahui hal ini. Dengan perlahan Allah membuka mata kaum muslimin melalui firman-firmanNya.</p>
<p>Mungkin alkohol memiliki beberapa pengaruh menguntungkan bagi tubuh kita tetapi tetap saja bahaya yang ditimbulkannya jauh lebih besar. Dengan menjauhi alkohol dan segala macam yang memabukkan, maka kita sudah terhindar dari sekian banyak masalah sosial, kesehatan maupun finansial. Sekali mencoba minuman haram ini, maka anda akan jauh terseret dan terserak menjauh dari lingkaran Islam.</p>
<p>Berikanlah hak tubuh anda untuk menjadi sehat! Dan secara sosial anda kini menjadi panutan yang dipuja secara diam-diam oleh negara Barat. Oleh sebab itu tinggalkan <em>khamr</em> walaupun hanya setetes. Bukannya kita dimanjakan oleh Allah dengan janji minuman <em>khamr</em> yang tiada tara lezatnya di surga kelak ? Berfirman Allah dalam surat Muhammad ayat 15 :</p>
<h3>مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ</h3>
<p><em>”(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?”</em></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1396&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/induk-segala-kejahatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
