<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Santri Sunniyah Salafiyah &#187; Featured</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/category/featured/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 16:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Wilayah Bukan Imamah</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/wilayah-bukan-imamah/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/wilayah-bukan-imamah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 16:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1581</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) [المائدة/55
Artinya : “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left; "><img class="alignleft size-full wp-image-1602" title="singgasana" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/06/singgasana1.jpg" alt="singgasana" width="259" height="194" />Allah SWT berfirman :</p>
<h3>إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (55) [المائدة/55</h3>
<p>Artinya : <em>“Sesungguhnya <strong>penolong</strong> kamu <strong>hanyalah</strong> Allah, Rasul-Nya, dan<strong> </strong>orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat<strong> dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”</strong></em></p>
<h2><strong>Syubhat<span id="more-1581"></span><br />
</strong></h2>
<p>Sebagian golongan<em> </em>mengklaim ayat tersebut sebagai bukti kuat mengenai hak Imam Ali untuk menjadi khalifah setelah wafatnya Rasul SAW, sekaligus bukti bahwa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman tidak syah dalam pandangan syariat.  Mereka mengatakan bahwa <em>Wali </em>dalam ayat diatas semestinya diartikan dengan <em>penguasa/pemimpin</em>, dan yang dimaksud dengan :</p>
<h3 style="text-align: right; ">وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ</h3>
<p>(<em>Orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat, seraya menunaikan zakat, seraya mereka rukuk)</em></p>
<p>adalah Imam Ali seorang. Karena mereka mengartikan kalimat وَهُمْ رَاكِعُونَ<strong> </strong>dengan “<em>menunaikan zakat ketika rukuk</em><strong>”. </strong>Jika demikian, arti ayat tersebut menjadi :</p>
<p>“<em>Sesungguhnya pe</em><em>mimpin</em><em> kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat</em><em> ketika rukuk</em><em> </em><em>(yaitu Imam Ali</em><em>).”</em><em> </em></p>
<p>Menurut mereka, Ulama tafsir  sepakat bahwa ayat ini turun khusus mengenai Imam Ali, yaitu berkenaan dengan sedekah cincin yang dilakukan Imam Ali kepada seorang pengemis ketika beliau sedang <em>rukuk</em> dalam <em>sholatnya</em>. Kemudian, karena lafadz <strong>إِنَّمَا</strong><strong> </strong>dalam bahasa arab berfaedah <em>hashr</em> (membatasi), berarti ayat tersebut intinya menegaskan bahwa pemimpin orang-orang mukmin hanya Allah, Rasul-Nya, dan Imam Ali saja. Dengan demikian secara otomatis pemimpin yang selainnya (seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman) tidak <em>syah</em> menurut <em>syariat</em>.</p>
<h2>Kalangan ahlussunnah wal jamaah menjawab  :</h2>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Sebab turun ayat</span></em></strong><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Pernyataan bahwa ulama bersepakat mengenai sebab turun ayat ini merupakan pernyataan yang tidak objektif dan penuh dengan hawa kefanatikan. Nyatanya, kitab-kitab tafsir penuh dengan komentar beragam para ulama tafsir mengenai sebab turun  ayat ini. Sebagian ahli tafsir berpendapat ayat ini turun mengenai Abdullah bin Salam (mu`alaf yahudi) yang mengeluh pada Rasul mengenai rasa kesepian karena dikucilkan kaumnya<sup>(1)</sup>. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar<sup>(2)</sup>. Dari Ibnu Abbas sendiri terdapat dua riwayat, yang pertama  menyatakan ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali<sup>(3)</sup>,<sup> </sup>sedangkan riwayat kedua menyebutkan sebab turun ayat ini adalah Ubadah bin Shomit, ketika beliau membatalkan ikatan persekutuan dengan Yahudi<sup>(4)</sup>,.</p>
<p>Kalaupun kita mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini turun mengenai Imam Ali,  itu tidak berarti hukum ayat ini khusus bagi Imam Ali. Karena yang digunakan dalam ayat ini  adalah ungkapan untuk orang banyak (<em>shigoh jamak</em><em>/plural</em>) bukan ungkapan untuk satu orang (<em>single</em>). Ungkapannya yaitu, <em>“ orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”<strong> </strong></em>Dalam <em>kaidah tafsir</em> disebutkan, yang dijadikan patokan adalah <em>keumuman lafadz</em> bukan <em>kekhususan sebab</em><sup>(5)</sup>. Jadi, semua orang mukmin yang memiliki sifat sesuai dengan apa yang disebut ayat diatas layak untuk dimasukkan dalam kategori <em>Wali</em>, tidak hanya Imam Ali seorang. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Imam Abu Ja`far, Muhammad Al Bagir ( Tokoh Tabi`in yang diagungkan Ahlu Sunnah maupun Syiah) ketika beliau ditanyakan mengenai ayat ini, apakah ayat ini khusus turun mengenai Imam Ali, Beliau menjawab “Ali adalah salah seorang dari orang-orang mukmin”<sup>(6)</sup>. Maksudnya, yang dimaksud <em>wali</em> dalam ayat tersebut adalah setiap mukmin yang sifatnya sesuai dengan apa yang disebutkan dalamnya, dan Imam Ali termasuk salah satunya.</p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Makna Wali</span></em></strong></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;"> </span></em></strong></p>
<p>Lafadz  <strong>وَلِيُّ</strong> memiliki banyak  makna, seperti : <em>tuan, hamba, anak paman, penolong, teman, kekasih, pemimpin, dan lain-lain</em><sup>(7)</sup><em>. </em>Akan tetapi, makna <em>Wali</em> yang paling umum ada tiga, yaitu <em>penolong, kekasih, dan pemimpin</em>. Kemudian, dari ketiga makna tersebut, yang paling sesuai dengan ayat di atas adalah <em>penolong</em> bukan <em>pemimpin</em>. Hal ini ditinjau dari beberapa segi, diantaranya:</p>
<p>1. Jika kita memperhatikan ayat-ayat yang ada sebelum dan sesudah ayat ini, kita akan menemukan dalam kedua ayat tersebut juga disebutkan lafadz Wali atau lebih tepatnya Auliya (bentuk majemuk dari kata wali), kedua ayat tersebut adalah:</p>
<ul>
<li>
<h3 style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ ...[المائدة/51</h3>
</li>
</ul>
<ul>
<li>
<h3 style="text-align: right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ ... [المائدة/57</h3>
</li>
</ul>
<p>Dalam kitab-kitab <em>tafsir</em>, lafadz <em>Wali</em> pada kedua ayat tersebut diartikan dengan penolong (sekutu), bukan pemimpin<sup>(8)</sup>. Lantas, jika  kita artikan <em>Wali</em> dalam ayat ini dengan <em>Pemimpin</em>, maka kita akan menemukan kerancuan makna ketika ayat ini  disandingkan dengan ayat yang ada sebelum dan sesudahnya. Tentunya ini adalah hal yang tidak layak dalam Al-Quran. Berbeda halnya jika kita mengartikannya dengan <em>penolong</em>, maka semua makna potongan ayat- ayat tersebut akan saling menyatu dan melengkapi.</p>
<p>2. Ayat ini menetapkan status <em>kewalian</em> bagi  mereka yang disebutkan didalamnya secara langsung tanpa tenggat waktu. Maksudnya begitu ayat ini turun, di saat itu juga status mereka adalah<em> Wali</em><sup>(9)</sup>. Andai kita artikan <em>Wali</em> sebagai <em>pemimpin</em>, berarti ayat ini akan memiliki makna, “<em>Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul Nya, dan orang-orang yang beriman</em>...”. Adalah hal yang tidak mungkin orang-orang  beriman yang jumlahnya begitu banyak, semuanya menjadi pemimpin bersama-sama dalam satu waktu, anda bisa bayangkan seberapa kacau kesudahannya. Begitu juga jika kita katakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang beriman adalah Imam Ali seorang--sebagaimana yang mereka yakini. Kalau demikian, maka maksud ayat ini akan menjadi seperti ini, <em>“Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah, Rasul Nya, dan Ali”,</em> ini juga tidak tepat karena itu artinya Imam Ali berhak untuk mengatur umat, bersama-sama dengan Rasul saat Rasul masih hidup, padahal kenyataanya, Imam Ali di masa hidup Rasul sama sekali tidak pernah turut campur dalam memerintah umat kecuali sebagai suruhan Rasul<sup>(10)</sup>. Berbeda jika kita artikan <em>wali </em>dengan <em>penolong</em>, maka makna ayat ini akan menjadi jelas tanpa ada kemusykilan.</p>
<p>3. Maksud mereka<em> </em>untuk menjadikan ayat ini sebagai <em>hujjah</em> mengenai hak Imam Ali menjadi khalifah Rasul, tidak akan terealisasikan kecuali jika lafadz  إِنَّمَا  berfaidah <em>hashr haqiqi </em>(membatasi). kalau lafadz tersebut berfaidah <em>hashr </em> maka arti ayat  ini adalah, “<em>Sesungguhnya pemimpin</em> <em>kalian</em> <em>hanya Allah, Rasul Nya, dan Imam Ali saja”.(tak ada yang lain)</em></p>
<p>Jika Syiah konsisten dengan pendapatnya ini, seharusnya mereka tidak mengambil imam lain selain Imam Ali. Faktanya, Syiah memiliki sebelas imam lain yang dianggap <em>ma’sum</em> selain Imam Ali.</p>
<p>Andai kita mau meninggalkan kefanatikan, lalu merenungkan dengan objektif mengenai ayat ini beserta ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, akan semakin jelas bagi kita bahwa ayat ini tidak mengarah pada penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah, bahkan tidak ada kaitanya sama sekali dengan kekhalifahan. Jadi, menjadikan ayat ini sebagai alasan untuk mengingkari kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman merupakan kekeliruan yang besar.</p>
<p align="center">
<p align="center"><strong>Referensi</strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>1)تفسير الجلالين - (ج 2 / ص 223(</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><span style="text-decoration: underline;">و</span><span style="font-size: medium;"><span><strong>نزل لما قال ابن سلام يا رسول الله إن قومنا هجرونا { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ الله وَرَسُولُهُ والذين ءامَنُواْ الذين يُقِيمُونَ الصلاة وَيُؤْتُونَ الزكواة وَهُمْ رَاكِعُونَ } خاشعون أو يصلون صلاة التطوّع</strong></span></span></span></h3>
<h3 style="text-align: right;">(3),(2)تفسير الرازي - (ج 6 / ص 87)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لقول الثاني : أن المراد من هذه الآية شخص معين ، وعلى هذا ففيه أقوال : روى عكرمة أن هذه الآية نزلت في أبي بكر رضي الله عنه . والثاني : روى عطاء عن ابن عباس أنها نزلت في علي بن أبي طالب عليه السلام</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>4)تفسير الخازن - (ج 2 / ص 302)</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ق</span>وله تعالى : { إنما وليكم الله ورسوله والذين آمنوا } قال ابن عباس : نزلت هذه الآية فى عبادة بن الصامت حين تبرأ من موالاة اليهود وقال : أوالي الله ورسوله والمؤمنين يعني أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم وقال جابر بن عبد الله : نزلت فى عبد الله بن سلام وذلك أنه جاء إلى محمد صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله إن قومنا قريظة والنضير قد هجرونا وفارقونا وأقسموا أن لا يجالسونا ، فنزلت هذه الآية ، فقرأ : عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال عبد الله بن سلام :</h3>
<h3 style="text-align: right;">رضينا بالله ربّاً وبرسوله نبياً وبالمؤمنين أولياء .</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>5)تفسير الصاوي (ج1/ص383-384)</strong></span></span></span></h3>
<h3 style="text-align: right;">قوله: (انما وليكم) الخطاب لعبد الله بن سلام و اتباعه الذين هداهم الله الى الاسلام, فلما نزلت هذه الاية, قال عبد الله بن سالام: رضينا بالله ربا, و برسول الله نبيا, و بالمؤمنين اولياء, و العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب, فكل من انتسب لله فهو وليه....</h3>
<h3 style="text-align: right;">تفسير الرازي - (ج 6 / ص 87)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لمسألة الأولى : في قوله { والذين ءامَنُواْ } قولان : الأول : أن المراد عامة المؤمنين ، وذلك لأن عبادة بن الصامت لما تبرأ من اليهود وقال : أنا بريء إلى الله من حلف قريظة والنضير ، وأتولى الله ورسوله نزلت هذه الآية على وفق قوله . وروي أيضاً أن عبدالله بن سلام قال : يا رسول الله إن قومنا قد هجرونا وأقسموا أن لا يجالسونا ، ولا نستطيع مجالسة أصحابك لبعد المنازل ، فنزلت هذه الآية ، فقال رضينا بالله ورسوله وبالمؤمنين أولياء ، فعلى هذا : الآية عامة في حق كل المؤمنين ، فكل من كان مؤمناً فهو ولي كل المؤمنين ، ونظيره قوله تعالى : { والمؤمنون والمؤمنات بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ } [ التوبة : 71 ] وعلى هذا فقوله { الذين يُقِيمُونَ الصلاة وَيُؤْتُونَ الزكواة } صفة لكل المؤمنين&#8230;</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>6) تفسير البغوي &#8211; (ج 3 / ص 73)</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">و</span>قال جوبير عن الضحاك في قوله: { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا } قال: هم المؤمنون بعضهم أولياء بعض، وقال أبو جعفر محمد بن علي الباقر: { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا } نزلت في المؤمنين، فقيل له: إن أناسا يقولون إنها نزلت في علي رضي الله عنه، فقال: هو من المؤمنين .</h3>
<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>(</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>7)المصباح المنير في غريب الشرح الكبير  &#8211; (ج 10 / ص 453)</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">وَ</span>الْوَلِيُّ فَعِيلٌ بِمَعْنَى فَاعِلٍ مِنْ وَلِيَهُ إذَا قَامَ بِهِ وَمِنْهُ { اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا } وَالْجَمْعُ أَوْلِيَاءُ قَالَ ابْنُ فَارِسٍ وَكُلُّ مَنْ وَلِيَ أَمْرَ أَحَدٍ فَهُوَ وَلِيُّهُ وَقَدْ يُطْلَقُ الْوَلِيُّ أَيْضًا عَلَى الْمُعْتِقِ وَالْعَتِيقِ وَابْنِ الْعَمِّ وَالنَّاصِرِ وَحَافِظِ النَّسَبِ وَالصَّدِيقِ ذَكَرًا كَانَ أَوْ أُنْثَى وَقَدْ يُؤَنَّثُ بِالْهَاءِ فَيُقَالُ هِيَ وَلِيَّةٌ قَالَ أَبُو زَيْدٍ سَمِعْتُ بَعْضَ بَنِي عُقَيْلٍ يَقُولُ هُنَّ وَلِيَّاتُ اللَّهِ وَعَدُوَّاتُ اللَّهِ وَأَوْلِيَاؤُهُ وَأَعْدَاؤُهُ وَيَكُونُ الْوَلِيُّ بِمَعْنَى مَفْعُولٍ فِي حَقِّ الْمُطِيعِ فَيُقَالُ الْمُؤْمِنُ وَلِيُّ اللَّهِ وَفُلَانٌ أَوْلَى بِكَذَا أَيْ أَحَقُّ بِهِ وَهُمْ الْأَوْلَوْنَ بِفَتْحِ اللَّامِ وَالْأَوَالِي مِثْلُ الْأَعْلَوْنَ وَالْأَعَالِي وَفُلَانَةُ هِيَ الْوُلْيَا وَهُنَّ الْوُلَى مِثْلُ الْفُضْلَى وَالْفُضَلُ وَالْكُبْرَى وَالْكُبَرِ وَرُبَّمَا جُمِعَتْ بِالْأَلِفِ وَالتَّاءِ فَقِيلَ الْوَلِيَّاتُ وَوَلَّيْتُ عَنْهُ أَعْرَضْتُ وَتَرَكْتُهُ وَتَوَلَّى أَعْرَضَ .</h3>
<h3 style="text-align: right;">تفسير البغوي &#8211; (ج 7 / ص 173(</h3>
<h3 style="text-align: right;">(32) وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (33(</h3>
<h3 style="text-align: right;">} نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ } تقول لهم الملائكة الذين تنزل عليهم بالبشارة: نحن أولياؤكم أنصاركم وأحباؤكم،</h3>
<h3 style="text-align: right;">تفسير الطبري &#8211; (ج 14 / ص 84)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لقول في تأويل قوله : { وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (73) }</h3>
<h3 style="text-align: right;">قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره:(والذين كفروا)، بالله ورسوله =(بعضهم أولياء بعض)، يقول: بعضهم أعوان بعض وأنصاره، وأحق به من المؤمنين بالله ورسوله.</h3>
<p style="text-align: right;"><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>ت</strong>فسير الطبري &#8211; (ج 14 / ص 347)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لقول في تأويل قوله : { وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71) }</h3>
<h3 style="text-align: right;">قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: وأما &#8220;المؤمنون والمؤمنات&#8221;، وهم المصدقون بالله ورسوله وآيات كتابه، فإن صفتهم: أن بعضهم أنصارُ بعض وأعوانهم &#8230;.</h3>
<h3 style="text-align: right;">القاموس المحيط &#8211; (ج 3 / ص 486(</h3>
<h3 style="text-align: right;">ي الوَلْيُ القُرْبُ، والدُّنُوُّ، والمَطَرُ بعدَ المَطَرِ، وُلِيَتِ الأرضُ، بالضم. والوَلِيُّ الاسمُ منه، والمُحِبُّ، والصَّدِيقُ، والنَّصيرُ. ووَلِيَ الشيءَ، و عليه وِلايَةً وَوَلايَةً، أَو هي المَصْدَرُ، وبالكسر الخُطَّةُ، والإِمارَةُ، والسُّلطانُ. &#8230;.</h3>
<h3 style="text-align: right;">(8) تفسير الرازي &#8211; (ج 6 / ص 89)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">أ</span>ن اللائق بما قبل هذه الآية وبما بعدها ليس إلا هذا المعنى ، أما ما قبل هذه لآية فلأنه تعالى قال : { ياأيها الذين ءامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ اليهود والنصارى أَوْلِيَاء } [ المائدة : 51 ] وليس المراد لا تتخذوا اليهود والنصارى أئمة متصرفين في أرواحكم وأموالكم لأن بطلان هذا كالمعلوم بالضرورة ، بل المراد لا تتخذوا اليهود والنصارى أحباباً وأنصاراً ، ولا تخالطوهم ولا تعاضدوهم ، ثم لما بالغ في النهي عن ذلك قال : إنما وليكم الله ورسوله والمؤمنون والموصوفون ، والظاهر أن الولاية المأمور بها ههنا هي المنهي عنها فيما قبل ، ولما كانت الولاية المنهي عنها فيما قبل هي الولاية بمعنى النصرة كانت الولاية المأمور بها هي الولاية بمعنى النصرة ، وأما ما بعد هذه الآية فهي قوله { ياأيها الذين ءامَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الذين اتخذوا دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مّنَ الذين أُوتُواْ الكتاب مِن قَبْلِكُمْ والكفار أَوْلِيَاء واتقوا الله إِن كُنتُم مؤمنين } [ المائدة : 57 ] فأعاد النهي عن اتخاذ اليهود والنصارى والكفار أولياء ، ولا شك أن الولاية المنهي عنها هي الولاية بمعنى النصرة ، فكذلك الولاية في قوله { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ الله } يجب أن تكون هي بمعنى النصرة ، وكل من أنصف وترك التعصب وتأمل في مقدمة الآية وفي مؤخرها قطع بأن الولي في قوله { إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ الله } ليس إلا بمعنى الناصر والمحب ، ولا يمكن أن يكون بمعنى الإمام ، لأن ذلك يكون إلقاء كلام أجنبي فيما بين كلامين مسوقين لغرض واحد ، وذلك يكون في غاية الركاكة والسقوط ، ويجب تنزيه كلام الله تعالى عنه ..</h3>
<h3 style="text-align: right;">(9)تفسير الرازي &#8211; (ج 6 / ص 90)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ل</span>حجة الثانية : أنا لو حملنا الولاية على التصرف والإمامة لما كان المؤمنون المذكورين في الآية موصوفين بالولاية حال نزول الآية ، لأن علي بن أبي طالب كرم الله وجهه ما كان نافذ التصرف حال حياة الرسول ، والآية تقتضي كون هؤلاء المؤمنون موصوفين بالولاية في الحال ، أما لو حملنا الولاية على المحبة والنصرة كانت الولاية حاصلة في الحال ، فثبت أن حمل الولاية على المحبة أولى من حملها على التصرف ، والذي يؤكد ما قلناه أنه تعالى منع المؤمنين من اتخاذ اليهود والنصارى أولياء ، ثم أمرهم بموالاة هؤلاء المؤمنين ، فلا بدّ وأن تكون موالاة هؤلاء المؤمنين حاصلة في الحال حتى يكون النفي والإثبات متواردين على شيء واحد ، ولما كانت الولاية بمعنى التصرف غير حاصلة في الحال امتنع حمل الآية عليها .</h3>
<h3 style="text-align: right;">(10)تفسير الرازي &#8211; (ج 6 / ص 90)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ا</span>لحجة السادسة : هب أنها دالة على إمامة علي ، لكنا توافقنا على أنها عند نزولها ما دلت على حصول الإمامة في الحال : لأن علياً ما كان نافذ التصرف في الأمة حال حياة الرسول عليه الصلاة والسلام ، فلم يبق إلا أن تحمل الآية على أنها تدل على أن علياً سيصير إماماً بعد ذلك ، ومتى قالوا ذلك فنحن نقول بموجبه ونحمله على إمامته بعد أبي بكر وعمر وعثمان ، إذ ليس في الآية ما يدل على تعيين الوقت</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1581&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/wilayah-bukan-imamah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabarruk dalam Ajaran Islam</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/tabarruk-ajaran-islam/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/tabarruk-ajaran-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 04:56:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1522</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia pesantren di tanah air ini, kita sering menjumpai pemandangan di mana para santri saling berebut untuk bisa menghabiskan kopi atau teh dari cangkir sisa gurunya. Fenomena itu lebih dikenal sebagai ngalap berkah. Ngalap ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-1528" title="surban1" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/04/surban11.jpg" alt="surban1" width="448" height="272" />Dalam dunia pesantren di tanah air ini, kita sering menjumpai pemandangan di mana para santri saling berebut untuk bisa menghabiskan kopi atau teh dari cangkir sisa gurunya. Fenomena itu lebih dikenal sebagai ngalap berkah. Ngalap berkah adalah salah satu nilai yang diajarkan dalam agama Islam dan bukanlah hal baru, sebab generasi sahabat dan para salaf telah meneladankan tradisi tersebut.<span id="more-1522"></span></div>
<p>Telah kita ketahui bersama dalam kitab-kitab sirah nabawiyah bagaimana para sahabat berebut untuk mendapatkan tetesan wudhu Baginda Nabi SAW. Beliau SAW tak sekalipun melarang perbuatan itu. Berkah itu sesungguhnya ada, dan bisa diraih lewat perantara orang-orang yang sangat dekat dengan Allah SWT.</p>
<p>Secara harfiah, berkah bermakna bertambah atau berkembang. Sedangkan dalam terminologi bahasa berkah berarti bertambahnya kebaikan. Jadi ngalap berkah atau tabarruk adalah mengharap tambahan kebaikan dari Allah SWT dengan perantara ruang, waktu, makhluk hidup dan bahkan benda mati.<br />
<strong>TABARRUK RASULULLAH dengan tempat mulia</strong><br />
Bertabarruk (mencari berkah) bisa dilakukan dengan perantara tempat-tempat yang mulia, sebagai dalam firman  Allah SWT berikut :</p>
<h4 style="text-align: right;">إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (آل عمران:96)</h4>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia&#8221; (Q.S. ali Imron : 96)</em></p>
<p>Dalam hadits panjang tentang perjalanan Isra&#8217; Jibril mengajak Rasulullah SAW singgah di beberapa tempat untuk bertabarruk dengan mengerjakan shalat dua rakaat seperti di Bait Lahm tempat kelahiran Nabi Isa a.s., di bukit Thurisina, tempat Nabi Musa ber-mukalamah dengan Allah SWT, dan lain-lain. Sebagaimana dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut :</p>
<h4 style="text-align: right;">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال  أُتِيتُ بِدَابَّةٍ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ خَطْوُهَا عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهَا فَرَكِبْتُ وَمَعِي جِبْرِيلُ عليه السَّلَام فَسِرْتُ فقال انْزِلْ فَصَلِّ فَفَعَلْتُ فقال أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِطَيْبَةَ وَإِلَيْهَا الْمُهَاجَرُ ثُمَّ قال انْزِلْ فَصَلِّ فَصَلَّيْتُ فقال أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِطُورِ سَيْنَاءَ حَيْثُ كَلَّمَ الله عز وجل مُوسَى عليه السَّلَام ثُمَّ قال انْزِلْ فَصَلِّ فَنَزَلْتُ فَصَلَّيْتُ فقال أَتَدْرِي أَيْنَ صَلَّيْتَ صَلَّيْتَ بِبَيْتِ لَحْمٍ حَيْثُ وُلِدَ عِيسَى عليه السَّلَام ثُمَّ دَخَلْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَجُمِعَ لي الْأَنْبِيَاءُ عليهم السَّلَام فَقَدَّمَنِي جِبْرِيلُ حتى أَمَمْتُهُمْ ، رواه النسائي</h4>
<p><em>&#8220;Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Didatangkan kepadaku kendaraan Buraq,&#8217; lebih besar dari keledai, dan lebih kecil dari baghal (peranakan kuda dan keledai), langkahnya sejauh pandangannya. Lalu aku menaikinya dan berangkat bersama Jibril a.s. Tiba-tiba Jibril berkata kepadaku, &#8220;Turunlah dan shalatlah.&#8221; Aku pun mengerjakannya. Kemudian Jibril berkata &#8220;Tahukah engkau di mana engkau shalat, engkau tadi shalat di Tayyibah (Madinah) yang akan menjadi tujuanmu hijrah. Kemudian Jibril berkata: &#8220;Turunlah dan shalatlah!&#8221;, aku pun mengerjakannya, lalu dia berkata: &#8220;Tahukah engkau di mana shalatmu tadi, engkau shalat ada di Thurisina tempat Allah ber-mukalamah dengan Musa a.s.&#8221; Lalu berangkat lagi dan Jibril berkata: &#8220;Turunlah dan shalatlah!&#8221;, maka aku pun mengerjakannya, lalu  dia bertanya: &#8220;Tahukah engkau di mana engkau shalat, engkau shalat ada di Bait Lahm, tempat kelahiran Nabi Isa a.s., kemudian aku masuk ke Baitil Maqdis, di sana telah berkumpul para nabi, lalu Jibril memintaku untuk menjadi imam shalat mereka.&#8221;  (H. R. An-Nasa&#8217;i)</em></p>
<p><strong>BERTABARRUK DENGAN WAKTU</strong><br />
Allah memberi kelebihan dan keberkahan pada waktu-waktu tertentu, seperti dalam firman Allah SWT:</p>
<h4 style="text-align: right;">إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرين</h4>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-Qur&#8217;an) pada suatu malam yang diberkahi (malam lailatul qadr) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.&#8221; (Q.S. ad-Dukhan:3)</em></p>
<p>Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h4 style="text-align: right;">« إن لربكم عز وجل في أيام دهركم نفحات ، فتعرضوا لها ، لعل أحدكم أن تصيبه منها نفحة لا يشقى بعدها أبدا » رواه الطبراني</h4>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya Tuhan kalian di hari-hari kalian memiliki anugerah-anugerah, maka  carilah augerah itu, mungkin kiranya salah satu diantara kalian mendapatkannya, maka tidak akan celaka selamanya.&#8221; (H.R Thabrani)</em></p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN BEKAS-BEKAS RASULULLAH SAW<br />
</strong>Sahabat Anas r.a. menceritakan bagaimana para sahabat bertabarruk dengan rambut Rasulullah SAW:</p>
<h4 style="text-align: right;">عن أَنَسٍ قال  لقد رأيت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَالْحَلَّاقُ يَحْلِقُهُ وَأَطَافَ بِهِ أَصْحَابُهُ فما يُرِيدُونَ أَنْ تَقَعَ شَعْرَةٌ إلا في يَدِ رَجُلٍ ، رواه مسلم وكذا رواه احمد والبيهقي في السنن الكبرى</h4>
<p><em>&#8220;Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.&#8221; (H.R Muslim, Ahmad dan Baihaqi)</em><br />
Aun bin Abi juhaifah menceritakan dari ayahnya para sahabat yang bertabarruk dengan air sisa wudhu&#8217; Rasulullah  :</p>
<h4 style="text-align: right;">أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي قُبَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ وَرَأَيْتُ بِلَالًا أَخَذَ وَضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يَبْتَدِرُونَ الْوَضُوءَ فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ ، رواه البخاري ومسلم واحمد</h4>
<p><em>&#8220;Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra&#8217; dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu&#8217; Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu&#8217; itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah&#8221; (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)</em></p>
<p>Dalam hadits lain juga dijelaskan bahwa para sahabat bertabarruk dengan keringat Rasulullah SAW. Berkata Anas bin Malik :</p>
<h4 style="text-align: right;">كان النبي صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ بَيْتَ أُمِّ سُلَيْمٍ فَيَنَامُ على فِرَاشِهَا وَلَيْسَتْ فيه قال فَجَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَنَامَ على فِرَاشِهَا فَأُتِيَتْ فَقِيلَ لها هذا النبي صلى الله عليه وسلم نَامَ في بَيْتِكِ على فِرَاشِكِ قال فَجَاءَتْ وقد عَرِقَ وَاسْتَنْقَعَ عَرَقُهُ على قِطْعَةِ أَدِيمٍ على الْفِرَاشِ فَفَتَحَتْ عَتِيدَتَهَا فَجَعَلَتْ تُنَشِّفُ ذلك الْعَرَقَ فَتَعْصِرُهُ في قَوَارِيرِهَا فَفَزِعَ النبي صلى الله عليه وسلم فقال ما تَصْنَعِينَ يا أُمَّ سُلَيْمٍ فقالت يا رَسُولَ اللَّهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا قال أَصَبْتِ ،رواه مسلم واحمد</h4>
<p><em>&#8220;Rasulullah SAW masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi  berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: &#8220;Apa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim&#8221;, tanyanya.&#8221; &#8220;Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,&#8221;<br />
jawab Umi Sulaim. Rasulullah berkata: &#8220;Engkau benar&#8221; (H.R. Muslim dan Ahmad)</em></p>
<p><strong>BERTABARRUK DENGAN RAMBUT RASULULLAH SAW</strong></p>
<h4 style="text-align: right;">أَنَّ خَالِدَ بن الْوَلِيدِ فَقَدَ قَلَنْسُوَةً لَهُ يَوْمَ الْيَرْمُوكِ ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا فَلَمْ يَجِدُوها ، فَقَالَ : اطْلُبُوهَا ، فَوَجَدُوهَا فَإِذَا هِي قَلَنْسُوَةٌ خَلَقَةٌ ، فَقَالَ خَالِدٌ : اعْتَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَلَقَ رَأْسَهُ ، فَابْتَدَرَ النَّاسُ جَوَانِبَ شَعْرِهِ ، فَسَبَقْتُهُمْ إِلَى نَاصِيَتِهِ فَجَعَلْتُهَا فِي هَذِهِ الْقَلَنْسُوَةِ ، فَلَمْ أَشْهَدْ قِتَالا وَهِيَ مَعِي إِلا رُزِقْتُ النَّصْرَ.</h4>
<p>Dari Abdul hamid bin Jakfar berkata : bahwa Khalid bin Walid kehilangan kopyah ketika peperangan Yarmuk, lalu berkata : Carilah!, namun tidak ditemukan, dia meminta untuk mencarinya lagi, dan ternyata didapati berupa kopyah usang, lalu Khalid berkata : “<em>Sewaktu Rasulullah SAW umrah, beliau mencukur rambut kepalanya, maka orang-orang berebut rambut beliau, dan aku bisa mendahului dan mendapat rambut ubun-ubun beliau. Lalu kutaruh rambut itu di kopyah ini. Tidaklah aku menghadiri peperangan dengan membawa kopyah ini kecuali pasti aku menang“</em><br />
<strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN CANGKIR NABI</strong></p>
<p>Hajjaj ibn Hassan berkata: “Kami berada di rumah Anas dan dia membawa cangkir Nabi SAW<em> </em>dari suatu kantong hitam. Dia (Anas) menyuruh agar cangkir itu diisi air dan kami minum air dari situ dan menuangkan sedikit ke atas kepala kami dan juga ke muka kami dan mengirimkan solawat kepada Nabi SAW.” [Hadits riwayat Ahmad, dan Ibn Katsir].</p>
<p>‘Asim berkata: “Aku melihat cangkir itu dan aku minum pula darinya.” [Hadits Riwayat Bukhari]</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN MIMBAR NABI</strong></p>
<p>Ibnu ‘Umar r.a. sering memegang tempat duduk Nabi SAW<em> </em>di mimbar dan menempelkan wajahnya untuk barokah.  [al-Mughni 3:559; al-Shifa' 2:54, Ibn Sa'd, Tabaqat 1:13; Mawsu'at Fiqh 'Abdullah ibn 'Umar halaman. 52]</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN UANG YANG DIBERIKAN OLEH RASULULLAH</strong></p>
<p>Jabir menjual seekor unta ke Nabi SAW<em> </em>dan beliau SAW<em> </em>memerintahkan Bilal untuk menambahkan seqirat (1/12 dirham) atas harga yang disepakati. Jabir berkata: “Tambahan yang diberikan Nabi SAW<em> </em>tidak akan pernah meninggalkanku,” dan dia menyimpannya setelah peristiwa itu. [Hadits riwayat Bukhari].</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN TONGKAT RASULULLAH</strong></p>
<p>Ketika ‘Abdullah bin Anis kembali dari suatu peperangan setelah membunuh Khalid ibn Sufyan ibn Nabih, Rasulullah SAW memberi hadiah kepadanya berupa sebuah tongkat dan bersabda kepadanya: “Itu akan menjadi tanda di antara kau dan aku di hari kebangkitan.” Setelah itu, ‘Abdullah ibn Anis tidak pernah berpisah dari tongkat itu dan tongkat itu dikubur dengannya setelah wafatnya. [Hadits riwayat Ahmad 3:496, al-Waqidi 2:533].</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN BAJU RASULULLAH</strong></p>
<p>Jabir berkata: “Nabi SAW datang setelah ‘Abdullah bin Ubay dikuburkan dalam makamnya. Beliau SAW memerintahkan agar mayatnya diangkat lagi. Beliau SAW menaruh kedua tangannya pada kedua lutut ‘Abdullah, bernafas atasnya dan mencampurnya dengan air liurnya serta mengenakan pakaian beliau padanya.” [Hadits riwayat Bukhari dan Muslim]</p>
<p><strong>TABARRUK PARA SAHABAT DENGAN JUBAH RASULULLAH</strong></p>
<p>Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Sahihnya <em>Bab al-Libaas</em> pernah bahwa Asma’ binti Abu Bakr pernah menunjukkan pada Abdulah, bekas budaknya jubah Rasulullah yang terbuat dari kain Persia dengan kain leher dari kain brokat, dan lengannya juga dibordir dengan kain brokat seraya berkata “Ini adalah jubah Rasulullah SAW yang disimpan ‘Aisyah hingga wafatnya lalu aku menyimpannya. Nabi SAW dulu biasa memakainya, dan kami mencucinya untuk orang yang sakit hingga mereka dapat sembuh karenanya.”</p>
<p>Imam Nawawi mengomentari hadits ini dalam Syarah Sahih Muslim, karya beliau, juz 37 bab 2,</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وفي هذا الحديث دليل على استحباب التبرك بآثار الصالحين وثيابهم</strong><strong> </strong></h3>
<p><strong><em>“Hadits ini adalah bukti dianjurkannya mencari barokah lewat bekas dari orang-orang s</em></strong><strong><em>ale</em></strong><strong><em>h dan pakaian mereka” </em></strong></p>
<p><strong>Dalam kitab yang sama Imam Nawawi menulis setidaknya 11 kali anjuran untuk mencari berkah dari bekas orang-orang Saleh</strong>. Ini adalah dalil akurat bahwa tabarruk tidak terbatas pada masa hidup Rasulullah dan dianjurkannya bertabarruk dengan orang-orang saleh. Hal ini juga dilalakukan Imam Syafii dengan bertabarruk pada gamis Imam Ahmad sebagaimana dalam kitab Tarikh Dimasyqi :</p>
<h4 style="text-align: right;">قال لي الربيع: إن الشافعي خرج إلى مصر وأنا معه فقال لي: يا ربيع خذ كتابي هذا ، فامض به وسلمه إلى أبي عبدالله أحمد بن حنبل، وائتني بالجواب. قال الربيع: فدخلت بغداد ومعي الكتاب، فلقيت أحمد بن حنبل صلاة الصبح، فصلّيت معه الفجر، فلما انفتل من المحراب سلّمت إليه الكتاب، وقلت له: هذا كتاب أخيك الشافعي من مصر، فقال أحمد: نظرت فيه قلت: لا، فكسر أبو عبدالله الختم وقرأ الكتاب، وتغرغرت عيناه بالدموع، فقلت: إيش فيه يا أبا عبدالله قال: يذكر أنه رأى النبي (صلى الله عليه وسلم) في النوم، فقال له: اكتب إلى أبي عبدالله أحمد بن حنبل، واقرأ عليه مني السلام، وقل: إنك ستُمتحن وتدعى إلى خلق القرآن فلا تجبهم، فسيرفع الله لك علماً إلى يوم القيامة. قال الربيع: فقلت: البشارة، فخلع أحد قميصيه الذي يلي جلده ودفعهُ إليّ، فأخذته وخرجت إلى مصر، وأخذت جواب الكتاب فسلّمته إلى الشافعي، فقال لي الشافعي: يا ربيع إيش الذي دفع إليك قلت: القميص الذي يلي جلده، قال الشافعي: ليس نفجعك به، ولكن بُلّه وادفع إليّ الماء لأتبرك به.</h4>
<p><em>Berkata  Rabi&#8217;: &#8220;Sesungguhnya Imam Syafi&#8217;i pergi ke Mesir bersamaku, lalu berkata kepadaku: &#8220;Wahai Rabi&#8217;, ambil surat ini dan serahkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, selanjutnya datanglah kepadaku dengan membawa jawabannya!&#8221;,<br />
Ketika memasuki kota Baghdad kutemui Imam Ahmad sedang shalat subuh, maka aku pun shalat di belakang beliau. Setelah beliau hendak beranjak dari mihrab, aku serahkan surat itu, &#8220;Ini surat dari saudaramu Imam Syafi&#8217;i di Mesir,&#8221; kataku.<br />
&#8220;Kau telah membukanya?&#8221; tanya Imam Ahmad. &#8220;Tidak, wahai Imam&#8221; Beliau membuka dan membaca isi surat itu, sejenak kemudian kulihat beliau berlinang air mata. &#8220;Apa isi surat itu wahai Imam?&#8221; tanyaku. &#8220;Isinya menceritakan bahwa Imam Syafi&#8217;i bermimpi Rasulullah SAW, Beliau berkata: &#8220;Tulislah surat kepada Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya. Kabarkan padanya bahwa dia akan mendapatkan cobaan, yaitu dipaksa mengakui bahwa al-Qur&#8217;an adalah mahluk, maka janganlah diikuti, Allah akan meninggikan benderanya hingga hari kiamat,&#8221; tutur Imam Ahmad &#8220;Ini  suatu kabar gembira,&#8221; kataku. Lalu beliau menuliskan surat balasan seraya memberikan padaku qamis yang melekat di kulitnya.<br />
Aku pun mengambil surat itu dan menyerahkannya kepada Imam Syafi&#8217;i. &#8220;Apa yang diberikan Imam Ahmad padamu?&#8221; tanya Imam Syafi’i. &#8220;Gamis yang melekat dengan kulit beliau,&#8221; jawabku. &#8220;Kami tidak akan merisaukanmu, tapi basahi gamis ini dengan air, lalu berikan kepadaku air itu untuk bertabarruk dengannya,&#8221; kata beliau.</em></p>
<p><strong>BERTABARRUK DENGAN BENDA MATI</strong><br />
Bertabarruk terkadang bisa dilakukan dengan benda mati yang pernah dipakai atau disentuh orang saleh sebagaimana kisah Bani Israil, mereka selalu menang dalam peperangan berkat tabut di tangan mereka. Hal ini dijelaskan Ibnu Katsir dalam kitabnya <em>al-Bidayah wan-Nihayah juz 2 hal 6</em> :</p>
<h4 style="text-align: right;">قال ابن جرير : وكانوا إذا قاتلوا أحدا من الاعداء يكون معهم تابوت الميثاق الذي كان في قبة الزمان كما تقدم ذكره فكانوا ينصرون ببركته وبما جعل الله فيه من السكينة والبقية مما ترك آل موسى وآل هارون</h4>
<p>Berkata Imam Ibnu Jarir: <em>&#8220;Bani Israil jika berperang dengan para musuhnya selalu membawa tabut yang ada di qubah zaman, mereka selalu mendapat pertolongan dan kemenangan dengan berkat Tabut itu dan dengan apa yang Allah jadikan di dalamnya berupa ketentraman dan warisan yang ditinggalkan oleh keluarga Musa a.s. dan keluarga Harun a.s.&#8221;</em></p>
<p>Berkata Imam al-Baghawi dalam tafsirnya saat menafsiri firman Allah berikut:</p>
<h4 style="text-align: right;">{ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ }</h4>
<p><em>&#8220;Dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun.&#8221;</em></p>
<h4 style="text-align: right;">يعني موسى وهارون أنفسهما كان فيه لوحان من التوراة ورضاض الألواح التي تكسرت وكان فيه عصا موسى ونعلاه وعمامة هارون وعصاه وقفيز من المن الذي كان ينزل على بني إسرائيل، فكان التابوت عند بني إسرائيل وكانوا إذا اختلفوا في شيء تكلم وحكم بينهم وإذا حضروا القتال قدموه بين أيديهم فيستفتحون به على عدوهم</h4>
<p><em>Peninggalan Musa dan Harun berupa dua papan Taurat, pecahan papan, tongkat dan sandal Nabin Musa, imamah dan tongkat Nabi Harun, serta satu keranjang dari Manna yang diturunkan kepada Bani israil.&#8221;</em> .<em>Selain itu, jika di Bani Israil ada permasalahan, maka tabut itu -dengan kehendak Allah- berbicara dan menjadi hakim diantara mereka. Jika berperang mereka letakkan tabut di depan mereka dan mereka pun mendapatkan kemenangan atas musuh mereka&#8221; (Lihat Tafsir al-Baghawi juz 1 hal. 667)<br />
</em></p>
<p>Dari paparan keterangan di atas kita bisa menyimpulkan bahwa bertabarruk sangat dianjurkan guna meraih kebaikan dunia dan akhirat. Berkah bukanlah pepesan kosong belaka, namun benar-benar ada dan bisa kita rasakan. Jangan sekali-kali mengingkari manfaat tabarruk. Ingatlah satu peristiwa yang terjadi di zaman kekhalifahan Sayidina Utsman bin Affan yang diriwayatkan Qadi ‘Iyad dalam kitab <strong><em>asy-Syifa’</em></strong> . Ketika itu seorang bernama Jihja al-Ghiffari mengambil tongkat Nabi SAW dari tangan Utsman bin Affan. Jihja kemudian berusaha mematahkan tongkat itu dengan lututnya. Upaya itu gagal. Malah kaki Jihjah belakangan mengalami infeksi pada bagian lutut dan harus diamputasi. Dan ia pun akhirnya mati sebelum akhir tahun itu.</p>
<p>Sungguh fatal akibat dari perbuatan Jihja itu. Bagaimana pula dengan perbuatan-perbuatan mereka yang telah membumihanguskan peninggalan-peninggalan Rasulullah SAW?</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1522&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/tabarruk-ajaran-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>83</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahlul Bait, Penebar Rahmat Bukan Laknat</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/ahlul-bait-penebar-rahmat-bukan-laknat/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/ahlul-bait-penebar-rahmat-bukan-laknat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 10:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[


Membaca rekam jejak Baginda Nabi SAW dengan tekun dan lebih seksama, kita bakal mafhum betapa beliau SAW adalah pribadi yang sempurna. Beliau SAW sama sekali tak membekaskan cela dalam rentang sejarah yang beliau SAW jalani. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><strong><span style="color: #0000ff;"><img class="alignleft size-full wp-image-1487" title="rahmat" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/03/rahmat.jpg" alt="rahmat" width="567" height="425" /></span></strong></h2>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Membaca rekam jejak Baginda Nabi SAW dengan tekun dan lebih seksama, kita bakal mafhum betapa beliau SAW adalah pribadi yang sempurna. Beliau SAW sama sekali tak membekaskan cela dalam rentang sejarah yang beliau SAW jalani. Setiap langkah, ucap, laku, dan sikap yang pernah ditorehkan Rasulullah SAW adalah teladan yang paling layak untuk diikuti oleh umat manusia. Allah SWT berfirman :</p>
<h3 style="text-align: right;">لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ</h3>
<p><em>“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (al-Ahzab ; 21)<span id="more-1486"></span><br />
</em></p>
<p>Inti ajaran Kanjeng Nabi SAW adalah kasih sayang. Bukan hanya kepada umat Islam, akan tetapi kepada umat manusia, bahkan kepada seluruh alam semesta. Nilai-nilai yang senantiasa beliau SAW ajarkan kepada keluarga (ahlul bait) dan para sahabat adalah tentang kasih sayang, baik dengan ucapan maupun tingkah-laku. Di dalam Al-Quranul Karim, Allah SWT sendiri telah menegaskan pribadi Rasulullah SAW sebagai penabur kasih sayang di alam raya. Allah SWT berfirman,</p>
<h3 style="text-align: right;">وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ</h3>
<p><em>“dan tidaklah Aku (Allah) utus engkau (wahai Muhammad), kecuali sebagai penebar rahmat untuk alam semesta” (al-Anbiya’ ; 107)</em></p>
<p>Rahmat, atau kasih sayang yang ditabur Rasulullah SAW mencakup seluruh makhluk, lebih-lebih kepada kaum mukminin, begitu lembut dan kasih sayang pada umatnya. Sebagaimana Allah Ta’ala mensifati beliau dalam firman-Nya,</p>
<h3 style="text-align: right;">لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ</h3>
<p><em>”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah: 128)</em></p>
<p>Rahmat yang diusung Baginda Rasul SAW sangatlah besar dan luas, dan telah teruji oleh berbagai peristiwa yang menimpa beliau SAW di masa-masa awal dakwah. Kita maklum adanya bahwa ketika beliau dilempari batu oleh kaum kafir hingga berdarah-darah, tidak keluar dari lisan beliau ucapan-ucapan atau doa yang penuh dendam kesumat. Justru kalimat-kalimat indah yang beliau unjukkan,</p>
<h3 style="text-align: right;">اللهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ ، رواه البخاري</h3>
<p><em>“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka belum tahu.”</em></p>
<p>Demikian pula ketika Rasulullah didatangi malaikat penjaga gunung, meminta izin untuk menumpahkan dua gunung kepada kaum yang telah mencederai Beliau, maka Rasulullah SAW pun spontan menolak seraya berkata :</p>
<h3 style="text-align: right;">بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا  ، رواه البخاري</h3>
<p><em>“ akan tetapi aku berharap Allah mengeluarkan dari sulbi-sulbi mereka orang yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (H.R. Bukhori)</em></p>
<p>Pada doa itu tersirat makna yang dalam yang menunjukkan betapa beliau amat rahmat terhadap umatnya. Coba perhatikan. Pertama, beliau memintakan ampunan untuk mereka.  Lalu, beliau mengakui mereka sebagai kaumnya. Beliau tidak mengatakan ‘ampunilah mereka’, tapi beliau katakan ‘<strong>ampunilah kaumku’</strong>. Tak cukup itu, beliau juga memberikan alasan agar mereka benar-benar diampuni oleh-Nya. Beliau mengemukakan,</p>
<h3>فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْن</h3>
<p><span style="font-weight: normal;">“Sesungguhnya mereka belum tahu.”</span></p>
<p>Beliau juga mendoakan anak turunan mereka agar kelak dijadikan orang beriman dan menyembah Allah SWT. Inilah kunci sukses dakwah beliau dalam mengajarkan Islam.</p>
<p>Sifat kasih sayang beliau SAW amatlah terang benderang. Perihal itu bisa kita ketahui dari riwayat-riwayat hadis yang mendedahkan fakta bahwa lisan beliau tak pernah mengucapkan kata-kata cercaan dan caci maki. Beliau SAW sendiri bersabda,</p>
<h3 style="text-align: center;">&#8221; إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا . وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً &#8220;رواه مسلم</h3>
<p><em>“Aku tidak diutus sebagai juru laknat. Aku diutus sebagai penyemai rahmat”</em></p>
<p>Terhadap makanan pun, Baginda Nabi SAW tak pernah mengeluarkan kata-kata celaan dan caci-maki. Bila beliau SAW berselera, maka beliau akan memakan hidangan yang ada. Bila sedang tak berselera, maka akan beliau tinggalkan, tanpa disertai komentar apapun.</p>
<p>Suatu waktu, beliau SAW masuk ke dalam rumah salah satu istrinya dan bertanya, <em>&#8220;ada makanan?&#8221;</em> dijawab, <em>“hanya ada cuka.”</em> Maka beliau pun bersabda,</p>
<h3 style="text-align: center;">نِعْمَ اْلإُدُمُ اَلْخَلُّ</h3>
<p><em>“Sebaik-baik lauk adalah cuka.”</em></p>
<p>Bahkan kepada pihak-pihak yang mencanangkan sikap permusuhan, yakni kaum kuffar Quraiys, beliau SAW tetap bersikap penuh rahmat. Kita tahu, mereka ini sangat kejam dan represif kepada Rasulullah SAW dan para sahabat ketika masih di Mekah. Akan tetapi, tatkala Mekah telah ditaklukkan Rasulullah SAW, mereka sama sekali tak mendapatkan perlakuan-perlakuan yang sifatnya balas dendam. Mereka malah mendapatkan perlindungan dan pengamanan, padahal hati mereka diliputi rasa takut ketika itu, mereka berdebar menanti keputusan Rasulullah SAW, dan tak seorang pun berani keluar, seakan Mekah berubah menjadi kubur tak berpenghuni. Sungguh tak mereka duga Rasulullah SAW akan memaafkan mereka seraya berkata :<br />
<em>“Aku hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya:</em></p>
<h3 style="text-align: center;">لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللهُ لَكُمْ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينْ</h3>
<p><em>“Tiada cercaan atas kalian pada hari ini, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.&#8221;.<br />
</em>Mendengar pernyataan Rasulullah ini  mereka pun keluar dari rumah-rumah mereka seakan baru dibangkitkan dari kubur untuk bersama-sama masuk islam.<em> (H.R. Al-Baihaqi)</em></p>
<p>Luluhlah hati kaum kuffar Quraiys, mereka malu dan segan melihat pekerti agung Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kasih sayangnya. Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun.<br />
Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati para kuffar Quraiys. Tumbuh pula kecondongan mereka terhadap nilai-nilai mulia yang diteladankan Baginda Rasul SAW. Sungguh indah dan penuh kasih sayang. Nilai-nilai inilah yang sejatinya terus dipegang-teguh oleh ahlul bait beliau SAW. Kita saksikan bagaimana Imam Ali kw. tak pernah mengecam orang-orang yang tidak patuh padanya. Begitu pun ahlul bait setelahnya, yakni Imam Hasan imam Husein. Mereka tahu bahwa ayah mereka dilaknat di mimbar-mimbar. Bahkan pada saat itu seakan menjadi keharusan bagi khotib untuk melaknat Sayyidina Ali. Tapi tidak setitik pun kesumat membara di hati mereka berdua. Tak ada kata laknat keluar dari lisan mereka. Sikap ini diikuti generasi ahlulbait selanjutnya, seperti Imam Ali Zainal Abidin, imam Muhammad al-Baqir, dan Imam Jakfar Shodiq. Mereka adalah pewaris akhlak, sifat dan hal datuk mereka, Rasulullah SAW sebagai penebar rahmat, bukan penyebar laknat.</p>
<p>Nah, bagi mereka yang menyatakan diri sebagai para pecinta ahlul bait Nabi SAW, seyogianya mereka berlaku seperti para ahlul bait: sebagai penebar rahmat. Baiknya mereka banyak-banyak mengucapkan kalimat santun dan mendoakan umat,</p>
<h3 style="text-align: center;">اَللَّهُمَّ اْغفِرْ لَهُمْ ، اَللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِي</h3>
<p><em>“Ya Allah, Ampuni mereka, berilah kaumku hidayah.”</em></p>
<p>Sebab memang itulah yang diajarkan para pemuka ahlul bait, bukan sebaliknya, menyebarkan laknat dan mengobarkan dendam kesumat. Tidak ada satu pun ajaran ahlul bait yang membenarkan sikap mencaci orang-orang yang memusuhi Imam Ali, apalagi menganggap cacian dan laknat ini sebagai bukti cinta ahlul bait. Kalau memang cinta ahlul bait, buktikanlah dengan meneladani sikap mereka yang santun dan penuh rahmat.</p>
<p>Bukankah setan, Firaun, kaum Tsamud, atau Abu Jahal adalah makhluk-makhluk yang keji dan nista yang berhak dilaknat. Tapi tidak ada satupun ayat atau hadits yang memerintahkan kita melaknat setan dan musuh-musuh Rasul SAW itu. BAGAIMANA PULA TERHADAP ORANG-ORANG ISLAM YANG BERIMAN PADA ALLAH SWT DAN RASUL SAW, APALAGI YANG PERNAH DUDUK BERSAMA RASULULAH SAW?</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1486&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/ahlul-bait-penebar-rahmat-bukan-laknat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>129</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bid&#8217;ah Dholalah, Apakah Itu?</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/bidah-dholalah-apakah-itu/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/bidah-dholalah-apakah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 16:49:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah hasanah]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah sesat]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1381</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
Ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh para ulama dalam mendefinisikan bid’ah. Perbedaan cara pendekatan para ulama disebabkan, apakah kata bid’ah selalu dikonotasikan dengan kesesatan, atau tergantung dari tercakup dan tidaknya dalam ajaran Islam. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<div style="text-align: left; "><span style="font-weight: normal; "><img class="alignleft size-full wp-image-1394" title="jalan sesat" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/01/jalan-sesat.jpg" alt="jalan sesat" width="339" height="500" />Ada beberapa pendekatan yang dilakukan oleh para ulama dalam mendefinisikan bid’ah. Perbedaan cara pendekatan para ulama disebabkan, apakah kata bid’ah selalu dikonotasikan dengan kesesatan, atau tergantung dari tercakup dan tidaknya dalam ajaran Islam. Hal ini disebabkan arti bid’ah secara bahasa adalah : sesuatu yang asing, tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. Sehingga inti pengertian bid’ah yang sesat secara sederhana adalah: segala bentuk perbuatan atau keyakinan yang bukan bagian dari ajaran Islam, dikesankan seolah-olah bagian dari ajaran Islam, seperti membaca ayat-ayat al-Qur’an atau shalawat disertai alat-alat musik yang diharamkan, keyakinan/faham kaum Mu’tazilah, Qodariyah, Syi’ah, termasuk pula paham-paham Liberal yang marak akhir-akhir ini, dan lain-lain. Imam &#8216;Izzuddin bin ‘Abdus Salam sebagaimana disebutkan dalam kitab <em>tuhfatul akhwadzi juz 7 hal 34 </em>menyatakan: <em>&#8220;Apabila pengertian bid’ah ditinjau dari segi bahasa, maka terbagi menjadi lima hukum :<span id="more-1381"></span><br />
</em></span></div>
<ol>
<li><em>Haram, </em>seperti keyakinan kaum Qodariyah dan Mu’tazilah.<em> </em></li>
<li><em>Makruh, </em>seperti membuat hiasan-hiasan dalam masjid.<em> </em></li>
<li><em>Wajib, </em>seperti belajar ilmu gramatikal bahasa arab (nahwu).<em> </em></li>
<li><em>Sunnah</em>, seperti membangun pesantren atau madrasah.<em> </em></li>
<li><em>Mubah, </em>seperti jabat tangan setelah shalat.<em> </em></li>
</ol>
<p><em> </em></p>
<p>Alhasil, menurut Imam ‘Izzuddin,<em> &#8220;Segala kegiatan keagamaan yang tidak ditemukan pada zaman Rasulullah SAW, hukumnya bergantung pada tercakupnya dalam salah satu kaidah hukum Islam, haram, makruh, wajib, sunnah, atau mubah. Sebagai contoh, belajar ilmu bahwu untuk menunjang dalam belajar ilmu syariat yang wajib, maka hukum belajar ilmu nahwu menjadi wajib.&#8221;</em>.<a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Penjelasan tentang bid’ah bisa kita ketahui dari dalil-dalil berikut :</p>
<ol>
<li><em> </em><em>Hadits riwayat sayyidatina A’isyah : </em></li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; ">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. رواه مسلم</h3>
<p><em>&#8220;Dari &#8216;Aisyah RA. Ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melakukan suatu perbuatan yang tiada perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak&#8221; HR.Muslim. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Hadits ini sering dijadikan dalil untuk melarang semua bentuk perbuatan yang tidak pernah dilaksanakan pada masa Nabi SAW. Padahal maksud yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Para ulama menyatakan bahwa hadits ini sebagai larangan dalam membuat-buat hukum baru yang tidak pernah dijelaskan dalam al-Qur&#8217;an ataupun Hadits, baik secara eksplisit (jelas) atau implisit (isyarat), kemudian diyakini sebagai suatu ibadah murni kepada Allah SWT sebagai bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ulama membuat beberapa kriteria dalam permasalahan bid&#8217;ah ini, yaitu :</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, jika perbuatan itu memiliki dasar dalil-dalil syar&#8217;i yang kuat, baik yang parsial (juz&#8217;i) atau umum, maka bukan tergolong bid&#8217;ah. Namun jika tidak ada dalil yang dapat dibuat sandaran, maka itulah bid&#8217;ah yang dilarang.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, memperhatikan pada ajaran ulama salaf (ulama pada abad l, ll dan lll H.). Apabila sudah diajarkan oleh mereka, atau memiliki landasan yang kuat dari ajaran kaidah yang mereka buat, maka perbuatan itu bukan tergolong bid&#8217;ah.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, dengan jalan qiyas. Yakni, mengukur perbuatan tersebut dengan beberapa amaliyah yang telah ada hukumnya dari nash al-Qur&#8217;an dan Hadits. Apabila identik dengan perbuatan haram, maka perbuatan baru itu tergolong <em>bid&#8217;ah muharromah</em>. Apabila memiliki kemiripan dengan yang wajib, maka perbuatan baru itu tergolong wajib. Dan begitu seterusnya.<a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<p><a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftn2"></a><em>2. </em><em>Hadits riwayat Ibn Mas’ud :</em></p>
<h3 style="text-align: right;">عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلاَ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ شَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه ابن ماجه<span style="text-decoration: underline;"> </span></h3>
<p><em>&#8220;Dari ‘Abdullah bin Mas&#8217;ud. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “ Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal baru. Karena perkara yang paling jelek adalah membuat hal baru . dan setiap perbuatan yang baru itu adalah bid&#8217;ah. Dan semua bid&#8217;ah itu sesat.&#8221;</em> HR. Ibnu Majah.</p>
<p>Hadits inipun sering dijadikan dasar dalam memvonis bid’ah segala perkara baru yang tidak ada pada zaman Rasulullah SAW, para sahabat atau tabi’in dengan pertimbangan bahwa hadits ini menggunakan kalimat <em>kullu </em>(semua), yang secara tekstual seolah-olah diartikan semuanya atau seluruhnya.</p>
<p>Namun, dalam menanggapi makna hadits ini, khususnya pada kalimat <strong>وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ</strong>, terdapat perbedaan pandangan pandangan di kalangan ulama’.</p>
<p><strong><em>Pertama,</em></strong><strong> </strong>ulama’ memandang hadits ini adalah kalimat umum namun dikhususkan hanya pada sebagian saja (<strong>عام مخصوص البعض</strong> ), sehingga makna dari hadits ini adalah <em>“bid’ah yang buruk itu sesat”</em> . Hal ini didasarkan pada kalimat <em>kullu, </em>karena pada hakikatnya tidak semua <em>kullu</em> berarti seluruh atau semua, adakalanya berarti kebanyakan (sebagian besar). Sebagaimana contoh-contoh berikut :</p>
<ul>
<li>Al-Qu&#8217;an surat Al-Anbiya’ ; 30 :</li>
</ul>
<h3 style="text-align: right; ">وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ</h3>
<p><em>“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” </em><em>QS. Al-Anbiya&#8217;:30.</em><em> </em></p>
<p>Meskipun ayat ini menggunakan kalimat <em>kullu</em>, namun tidak berarti semua makhluk hidup diciptakan dari air. Sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Qur&#8217;an berikut ini:</p>
<p><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center;">وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ</h3>
<p><em>&#8220;Dan Allah SWT menciptakan Jin dari percikan api yang menyala&#8221;</em>. QS. Ar-Rahman:15.</p>
<p>Begitu juga para malaikat, tidaklah Allah ciptakan dari air.</p>
<ul>
<li><em>Hadits      riwayat Imam Ahmad :</em></li>
</ul>
<h3 style="text-align: right;">عَنِ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ</h3>
<p><em>Dari al-Asyari berkata: “ Rasulullah SAW bersabda: “ setiap mata berzina” (musnad Imam Ahmad)</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sekalipun hadits di atas menggunakan kata <em>kullu</em>, namun bukan bermakna keseluruhan/semua, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu <em>mata yang melihat kepada ajnabiyah. </em></p>
<p><strong><em>Kedua, </em></strong>ulama’ menetapkan sifat umum dalam kalimat <em>kullu</em>, namun mengarahkan pengertian bid’ah secara syar’iyah yaitu perkara baru yang tidak didapatkan di masa Rasulullah SAW, dan tidak ada sandarannya sama sekali dalam usul hukum syariat. Telah kita ketahui bahwa perkara yang bertentangan dengan syariat baik secara umum atau isi yang terkandung di dalamnya, maka haram dan sesat. Dengan demikian, makna hadits di atas adalah <em>setiap perkara baru yang bertentangan dengan syariat adalah sesat, </em>bukan berarti semua perkara baru adalah sesat walaupun tidak bertentangan dengan syai’at.</p>
<p>Oleh karena itu, jelas sekali bahwa bukan semua yang tidak dilakukan di zaman Nabi adalah sesat. Terbukti, para sahabat juga melaksanakan atau mengadakan perbuatan yang tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Misalnya, usaha menghimpun dan membukukan al-Qur&#8217;an, menyatukan jama&#8217;ah tarawih di masjid, adzan Jum’ah dua kali dan lain-lain. Sehingga, apabila kalimat <em>kullu</em> di atas diartikan keseluruhan, yang berarti semua hal-hal yang baru tersebut sesat dan dosa. Berarti para sahabat telah melakukan kesesatan dan perbuatan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pilihan yang tidak diragukan lagi keimanan dan ketaqwaannya. Bahkan diantara mereka sudah dijamin sebagai penghuni surga. Oleh karena itu, sungguh tidak dapat diterima akal, kalau para sahabat Nabi SAW yang begitu agung dan begitu luas pengetahuannya tentang al-Qur’an dan Hadits tidak mengetahuinya, apalagi tidak mengindahkan larangan Rasulullah SAW.<a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<hr size="1" /><a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftnref1">[1]</a> Risalatu Ahli as-Sunnah wa al-Jama&#8217;ah hal. 6-8.</p>
<p><a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftnref2">[2]</a> Risalatu Ahli as-Sunnah wa  al-Jama&#8217;ah hal.6-7.</p>
<p><a href="file:///E:/!%20%20Forsan%20SALAF/!%20J%20A%20W%20A%20B%20A%20N/BID'ah.doc#_ftnref3">[3]</a> Mawsu&#8217;ah Yusufiyyah juz ll hal 488.</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1381&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/bidah-dholalah-apakah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>130</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyura&#8217;, Hari Berkabung ?</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/asyura-hari-berkabung/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/asyura-hari-berkabung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 05:48:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Konsultasi Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1195</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Team forsan salaf yang kami hormati, saya mau bertanya terkait masalah ritual Assyuro.
Apakah benar ada ritual assyuro sebagai hari berkabung atas kematian syd Husein bin Ali bin Abi Tholib? Adakah hari berkabung dalam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-1196" title="karbala (1)" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/12/karbala-11.jpg" alt="karbala (1)" width="409" height="273" />Assalamu’alaikum Wr. Wb.</em></p>
<p>Team forsan salaf yang kami hormati, saya mau bertanya terkait masalah ritual Assyuro.</p>
<p>Apakah benar ada ritual assyuro sebagai hari berkabung atas kematian syd Husein bin Ali bin Abi Tholib? Adakah hari berkabung dalam islam ? bagaimana dengan klaim sebagian orang yang menyatakan bahwa alhabib Abdullah Alhaddad menyebutnya dalam kitab <em>tatsbitul fu’ad </em>karangan beliau sebagai hari berkabung ?</p>
<p>Mohon dijelaskan beserta dalil2 yang ada, agar kami bisa mengetahui kebenarannya……</p>
<p>From : pencari.kebenaran &lt;<a href="mailto:akidahku@yahoo.com">akidahku@yahoo.com</a>&gt;</p>
<p><span style="color: #008000;"> </span><strong><span style="color: #008000;">FORSAN SALAF menjawab :<span id="more-1195"></span><br />
</span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan pilihan yang disebut <em>Asyhurul Hurum</em>. Firman Allah SWT :</p>
<h3 style="text-align: right;">إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ</h3>
<p><em>“ Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram “ (Q.S at-Taubah : 36)</em><em> </em></p>
<p>Di bulan itu, disunnahkan untuk berpuasa. Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h3 style="text-align: right;">أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ</h3>
<p><em>“ Paling utamanya puasa setelah Ramadhan, yaitu puasa di bulan Muharram, dan paling utamanya shalat setelah shalat fadhu adalah shalat malam “.</em></p>
<p>Khususnya pada tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan hari Asyura’. Ketika Rasulullah ditanya tentang keutamaan puasa di hari Asyura’, Beliau menjawab :</p>
<h3 style="text-align: center;">إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ</h3>
<p align="center"><em>“ Aku berharap kepada Allah, bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu”.</em></p>
<p>Diriwayatkan dalam hadits :</p>
<h3 style="text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُنَاسٍ مِنْ الْيَهُودِ قَدْ صَامُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا مِنْ الصَّوْمِ قَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي نَجَّى اللَّهُ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ الْغَرَقِ وَغَرَّقَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَهَذَا يَوْمُ اسْتَوَتْ فِيهِ السَّفِينَةُ عَلَى الْجُودِيِّ فَصَامَهُ نُوحٌ وَمُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَحَقُّ بِصَوْمِ هَذَا الْيَوْمِ فَأَمَرَ أَصْحَابَهُ بِالصَّوْمِ  (رواه احمد في مسنده)</h3>
<p style="text-align: left;">Dari Abi Hurairah ra berkata : Nabi Saw melewati sekelompok orang yahudi, mereka berpuasa di hari Asyura’. Nabi bertanya : <em>“Puasa apa ini?”</em>. Mereka menjawab : “Ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari tenggelam, dan menenggelamkan Fir’aun. Dan hari ini juga adalah hari merapatnya bahtera (Nabi Nuh) di bukit Judiy. Maka Nabi  Nuh dan Nabi Musa berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah SWT ”. Lalu Nabi berkata : <em>“Saya lebih berhak dengan Nabi Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di hari ini”.</em> Nabi pun memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa.</p>
<p style="text-align: left;">
<p>Dan masih banyak riwayat-riwayat lain yang menerangkan keutamaan puasa Asyura’.</p>
<p>Di hari ini pula, meninggalnya cucu Rasulullah  sayyidina Husein ra. Diriwayatkan :</p>
<h3 style="text-align: right;">قالت أم سلمة كان النبي صلى الله عليه وسلم نائما في بيتي فجاء حسين يدرج ، قالت : فقعدت على الباب فأمسكته مخافة أن يدخل فيوقظه ، قالت : ثم غفلت في شيء فدب فدخل فقعد على بطنه ، قالت : فسمعت نحيب رسول الله صلى الله عليه وسلم فجئت فقلت : يا رسول الله والله ما علمت به ؟ فقال : « إنما جاءني جبريل عليه السلام وهو على بطني قاعد ، فقال لي أتحبه ؟ فقلت : نعم قال : إن أمتك ستقتله ألا أريك التربة التي يقتل بها ؟ قال : فقلت : بلى قال : فضرب بجناحه فأتاني بهذه التربة » قالت : فإذا في يده تربة حمراء ، وهو يبكي ويقول : « يا ليت شعري من يقتلك بعدي ؟ »</h3>
<p>Berkata Umi Salamah, sewaktu Nabi tidur ada di rumahku, tiba-riba Husein hendak masuk, maka aku (umi salamah) duduk didepan pintu mencegahnya masuk karena khawatir membangunkan Nabi. Umi Salamah berkata “ kemudian aku lupa akan sesuatu sehingga Husein merangkak masuk dan duduk di atas perut Rasulullah SAW. Lalu aku mendengar rintihan Rasulullah SAW, akupun mendatangi-Nya dan bertanya “ apa yang engkau ketahui sehingga engkau merintih seperti itu “. Rasulullah menjawab : “ Jibril datang kepada-Ku ketika Husein ada di atas perutku seraya berkata kepada-Ku “ apa Engkau mencintai-Nya (Husein) ?, maka akupun menjawab “ ya, Aku mencintai-Nya “, lalu Jibril berkata “ sesungguhnya dari umat-Mu ada yang akan membunuh-Nya (Husein), maukah Engkau aku tunjukkan tanah tempat pembunuhan-Nya ?, maka Akupun menjawab “ ya “, maka Jibrilpun mengepakkan sayapnya lalu memberikan kepadaku tanah ini “. Umi salamah berkata “ maka Nampak pada tangan Rasulullah tanah merah, dan Rasulullah SAW menangis seraya berkata “ siapakah yang akan membunuhmu (wahai Husein) sepeninggal-Ku ?”.</p>
<p>Sebagian kelompok islam menjadikan hari itu adalah hari berkabung karena kematian sayyidina Husein ra dalam keadaan yang sangat mengenaskan berdasarkan menangisnya Rasulullah SAW sebagaimana keterangan di atas. Bahkan mereka meratap-ratap sambil menyakiti diri sebagai bukti keprihatinan dan kecintaan kepada sayyidina Husein ra.</p>
<p><strong>Ketahuilah</strong>, perbuatan seperti itu dan pendapat seperti itu tidaklah benar. Tidak diriwayatkan bahwa Rasulullah berbuat demikian atau memerintahkan umatnya untuk berbuat seperti itu, juga yang dilakukan oleh Ahlil bait serta orang-orang shaleh yang lainnya, bahkan Rasulullah melarang untuk meratap-ratap karena kematian sebagaimana orang-orang jahiliyah sambil memukul-mukul anggota badan.  Dirawayatkan hadits shahih :</p>
<h3 style="text-align: center;">لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ</h3>
<p><em>“ bukanlah termasuk golonganku, orang yang memukul-mukul pipi-pipinya (karena kematian seseorang), dan merobek pakaian-pakaiannya serta menjerit sebagaimana orang-orang jahiliyah “</em></p>
<p>Kalau dengan dasar tangisan Rasulullah saat beliau menerima kabar dari Jibril, maka sesungguhnya beliau juga menangis ketika meninggalnya Ibrohim putra beliau, Khodijah istri beliau, Abi Tholib paman beliau dan Jakfar Atthayyar sepupu beliau, juga anak dari Zaenab putri beliau dan masih banyak yang lainnya. Beliaupun tidak pernah mengadakan hari berkabung untuk kematian Nabi Zakariya dan Yahya yang juga dibunuh dengan cara dholim. Alhabib Abdullah Alhaddad menerangknan dalam kitab <em>Tatsbitul Fu’ad </em>halaman 223 :<em> </em></p>
<h3 style="text-align: right;">واما عاشوراء فانما هو يوم حزن لا فرح فيه ، من ان قتل حسين كان فيه ، ولم يصح فيه اكثر من انه يصام ويوسع فيه على العيال ، ولكنه في نفسه يوم فاضل .</h3>
<p><em>Adapun Asyura’ adalah hari sedih dan tidak mungkin ada kebahagian di dalamnya dikarenakan mengingat terbunuhnya sayyidina Husein di hari itu. Namun tidak dibenarkan pada hari itu melakukan ritual yang lain melebihi dari berpuasa dan tausi’ah (memberi belanja lebih) pada keluarga karena pada dasarnya hari itu sendiri adalah hari yang utama “</em></p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong> : Janganlah melakukan perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah di hari yang mulia itu, apalagi berlabelkan cinta kepada Ahlil bait. Akan tetapi tingkatkan ibadah di hari itu khususnya dengan yang diajarkan oleh Nabi, karena itu adalah seruan Allah dan Rasul juga ahlil bait. Simaklah apa yang dikatakan oleh Rasul ketika mengubur anak beliau Ibrahim :</p>
<h3 style="text-align: right;">عن النبي صلى الله عليه وسلم لما دفن ولده إبراهيم وقف على قبره، فقال: &#8221; يا بني القلب يحزن، والعين تدمع، ولا نقول ما يسخط الرب، إنا لله وإنا إليه راجعون،</h3>
<p><em>Ketika putra beliau Ibrohim dikebumikan, Rasulullah SAW berdiam di atas kuburannya seraya berkata : Wahai anakku, hati bisa berduka, mata bisa meneteskan air mata, tapi tidak akan Aku katakan perkataan yang membuat Tuhan-Ku murka. Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya”</em></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1195&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/asyura-hari-berkabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>136</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan Isthadhah Baca Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/perempuan-isthadhah-baca-al-quran/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/perempuan-isthadhah-baca-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 07:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Ifta']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1238</guid>
		<description><![CDATA[Assalamu&#8217;alaikum.wr.wb.. Semoga team forsan tetep dlm lindungannya.. Amien
Ana punya pertanyaan, apa wanita istihadhoh boleh baca Alqur&#8217;an dan berdiam di masjid? Syukran katsir atas jawabannya, Jazakumullah khair..
From : Binta Abdulqadir Alhasni
FORSAN SALAF menjawab :

Wa’alaikum salam Wr. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignleft size-full wp-image-1239" title="flower" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/12/flower.jpg" alt="flower" width="291" height="300" />Assalamu&#8217;alaikum.wr.wb</em>.. Semoga team forsan tetep dlm lindungannya.. Amien<br />
Ana punya pertanyaan, apa wanita istihadhoh boleh baca Alqur&#8217;an dan berdiam di masjid? Syukran katsir atas jawabannya, Jazakumullah khair..</p>
<p>From : Binta Abdulqadir Alhasni</p>
<p><strong><span style="color: #008000;">FORSAN SALAF menjawab :<span id="more-1238"></span><br />
</span></strong></p>
<p><em>Wa’alaikum salam Wr. Wb. </em></p>
<p>Semoga anda dan sekeluarga juga selalu dalam lindungan Allah SWT, amin.</p>
<p><em>Istihadhah </em>adalah darah yang keluar di selain waktu haid dan nifas.</p>
<p>Istihadhah ada kalanya kosong dari darah haid/nifas dan adakalanya bercampur dengan darah haid/nifas.</p>
<ul>
<li>Darah istiihadhah yang kosong dari darah haid/nifas, seperti :</li>
</ul>
<p>-         Keluar ketika berumur kurang dari 9 tahun dan 16 hari</p>
<p>-         Berumur 9 tahun atau lebih akan tetapi darahnya kurang dari 15 hari 15 malam.</p>
<p>-         Keluar bersama darah ketika melahirkan namun tidak didahului haid sebelum proses persalinan.</p>
<p>Keseluruhan darah di atas dihukumi istihadhah.</p>
<ul>
<li>Darah istihadhah yang bercampur dengan darah haid/nifas, yaitu darah yang keluar lebih dari 15 hari 15 malam (360 jam).</li>
</ul>
<p>Perempuan yang beristihadhah hukumnya sama dengan orang yang suci yaitu wajib melakukan shalat (dengan ketentuan dalam ilmu fikh), puasa dan boleh i’tikaf (dengan catatan aman dari mengotori masjid), membaca Al-Qur’an, berhubungan badan sekalipun masih mengeluarkan darah dan lain-lain.</p>
<h3 style="text-align: right;">إعانة الطالبين &#8211; (ج 1 / ص 90)</h3>
<h3 style="text-align: right;">(تتمة) لم يتعرض المؤلف للاستحاضة وأحكامها بالخصوص<span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">.</span></span><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;"> وحاصل ذلك أن الاستحاضة هي الدم الخارج في غير أوقات الحيض والنفاس، بأن خرج قبل تسع سنين أو بعدها، ونقص عن قدر يوم وليلة، وبأن زاد على خمسة عشر يوما بلياليها، أو أتى قبل تمام أقل الطهر، أو مع الطلق، ولم يتصل بحيض قبله</span></span><span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">.</span></span> وهي حدث دائم فلا تمنع شيئا مما يمتنع بالحيض، من نحو صلاة ووطئ، ولو مع جريان الدم. وإذا أرادت المستحاضة أن تصلي يجب عليها أن تغسل فرجها من النجاسة، ثم تحشوه بنحو قطنة &#8211; وجوبا &#8211; دفعا للنجاسة أو تحفيفا لها، فإن لم يكفها الحشو تعصب بعده بخرقة مشقوقة الطرفين على كيفية التلجم المشهور، ولا يضر بعد ذلك خروج الدم إلا إن قصرت في الشد. ثم بعد ما ذكر تتوضأ، ثم عقب ذلك تصلي.</h3>
<h3 style="text-align: right;">المجموع &#8211; (ج 2 / ص 542)</h3>
<h3 style="text-align: right;">(فرع) يجوز وطئ المستحاضة في الزمن المحكوم بانه طهر ولا كراهة في ذلك وإن كان الدم هذا مذهبنا ومذهب جمهور العلماء وقد سيقت المسألة بدلائلها في أول الباب <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">ولها قراءة القرآن وإذا توضأت استباحت مس المصحف وحمله وسجود التلاوة والشكر وعليها الصلاة والصوم وغيرهما من العبادات التى علي الطاهر ولا خلاف في شئ من هذا عندنا قال اصحابنا وجامع القول في المستحاضة انه لا يثبت لها شئ من أحكام الحيض بلا خلاف</span></span> ونقل ابن جرير الاجماع علي انها تقرأ القرآن وان عليها جميع الفرائض التي علي الطاهر وروى عن ابراهيم النخعي انها لا تمس مصحفا ودليلنا القياس علي الصلاة والقراءة والله اعلم</h3>
<h3 style="text-align: right;">المجموع &#8211; (ج 2 / ص 372)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">(</span>فرع) يجوز عندنا وطئ المستحاضة في الزمن المحكوم بأنه طهر وان كان الدم جاريا وهذا لا خلاف فيه عندنا قال القاضي أبو الطيب وابن الصباغ والعبد رى وهو قول أكثر العلماء ونقله ابن المنذر في الاشراف عن ابن عباس وابن المسيب والحسن وعطاء وسعيد بن جبير وقتادة وحماد بن أبي سليمان وبكر بن عبد الله المزني والاوزاعي ومالك والثوري واسحق وأبى ثور قال ابن المنذر وبه أقول وحكى عن عائشة والنخعي والحكم وابن سيرين منع ذلك وذكر البيهقى وغيره ان نقل المنع عن عائشة ليس بصحيح عنها بل هو قول الشعبى أدرجه بعض الرواة في حديثها وقال احمد لا يجوز الوطئ الا أن يخاف زوجها العنت واحتج للمانعين بأن دمها يجرى فأشبهت الحائض واحتج أصحابنا بما احتج به الشافعي في الام وهو قول الله تعالى (فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن) وهذه قد تطهرت من الحيض واحتجوا أيضا بما رواه عكرمة عن حمنة بنت جحش رضى الله عنها أنها كانت مستحاضة وكان زوجها يجامعها رواه أبو داود وغيره بهذا اللفظ باسناد حسن وفى صحيح البخاري قال قال ابن عباس المستحاضة يأتيها زوجها إذا صلت الصلاة أعظم <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">ولان المستحاضة كالطاهر في الصلاة والصوم والاعتكاف والقراءة وغيرها فكذا في الوطئ ولانه دم عرق فلم يمنع الوطئ كالناسور ولان التحريم بالشرع ولم يرد بتحريم بل ورد باباحة الصلاة التى هي أعظم كما قال ابن عباس والجواب عن قياسهم علي الحائض أنه قياس يخالف ما سبق من دلالة الكتاب والسنة فلم يقبل ولان المستحاضة لها حكم الطاهرات في غير محل النزاع فوجب الحاقه بنظائره لا بالحيض الذى لا يشاركه في شئ</span></span></h3>
<h3 style="text-align: right;">المجموع &#8211; (ج 2 / ص 396(</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">ق</span>ال المصنف رحمه الله * [ وان عبر الدم الخمسة عشر فقد اختلط حيضها بالاستحاضة فلا يخلو اما أن تكون مبتدأة غير مميزة أو مبتدأة مميزة أو معتادة غير مميزة أو معتادة مميزة أو ناسية غير مميزة أو ناسية مميزة فان كانت مبتدأة غير مميزة وهي التى بدأ بها الدم وعبر الخمسة عشر والدم علي صفة واحدة ففيها قولان احدهما تحيض أقل الحيض لانه يقين وما زاد مشكوك فيه فلا يحكم بكونه حيضا والثانى ترد الي غالب عادة النساء وهو ست أو سبع وهو الاصح</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1238&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/perempuan-isthadhah-baca-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wahabi-Salafi Menentang Syeikh Ibnu Taimiyah</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/wahabi-salafi-menentang-syeikh-ibnu-taimiyah/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/wahabi-salafi-menentang-syeikh-ibnu-taimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2009 17:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[bid'ah]]></category>
		<category><![CDATA[dalil maulid]]></category>
		<category><![CDATA[ibn taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[ibnu taimiyah]]></category>
		<category><![CDATA[istighatsah]]></category>
		<category><![CDATA[maulid]]></category>
		<category><![CDATA[syirik]]></category>
		<category><![CDATA[wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[wahhabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1205</guid>
		<description><![CDATA[Tak dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan Wahabi alias Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan, membuat umat Islam gerah. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-1372" title="MAKAM Ibnu Taimiyah, Kenapa Tidak Dihancurkan? " src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/01/makam-ibnu-taimiyah.jpg" alt="makam ibnu taimiyah" width="360" height="270" />Tak dipungkiri, banyak umat Islam resah dengan keberadaan Wahabi alias Salafy — demikian mereka menjatidirikan kelompoknya. Cara dakwah yang mereka lakukan, membuat umat Islam gerah. Mereka kerap mencela, bahkan menista ulama besar dan gerakan Islam di luar kelompoknya. Pelbagai tuduhan, hujatan, dan lontaran kata-kata kasar keluar dari mulut kaum Wahabi. Dengan enteng, mereka memberi cap-cap (stigma) buruk dengan sebutan ahlu bid’ah, khurafi, penyembah kubur, gerakan sempalan sesat, kepada tokoh dan gerakan Islam yang bukan kelompoknya. Anehnya,  ketika (ulama) wahabi dikritik gerakan Islam lain karena hujjahnya, mereka tidak rela, bahkan menyerang balik habis-habisan para pengkritiknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebetulnya, kalau mereka mau menelaah ulang kitab para pendahulunya, seperti Ibnu Taimiyah sebagai tokoh sentral mereka. Mereka akan sadar bahwa Ibnu Taimiyah sendiri tidak se-<em>ekstrem </em>kaum salafi sekarang. Peringatan maulid misalnya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa merayakan maulid dengan dasar cinta Nabi Saw. adalah bernilai pahala. Kaum wahabi berpendapat sebaliknya. Mereka mengatakan perbuatan itu sebagai bid’ah, kurafat, dan pengkultusan yang ujung-ujungnya adalah syirik.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi masyarakat Muslim, jika ada kelompok yang suka menyalahkan, mencaci-maki dan membid’ahkan amalan-amalan ahlussunnah, cukuplah dijawab dengan dalil-dalil imam mereka sendiri, yang akan kita bahas satu persatu. Dijamin, mereka bakal kelabakan dan diam seribu bahasa. Sebab, nyatanya mereka melabrak pendapat-pendapat para imam mereka sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut kami tunjukkan beberapa bukti yang shahih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PERTAMA</strong>, tentang maulid. Ibnu Taimiyah dalam kitabnya,<em> Iqtidha&#8217; as-Sirath al-Mustaqim </em>hal.269 menyatakan bahwa mereka yang mengagungkan maulid mendapat pahala besar karena tujuan baik dan pengagungan mereka kepada Rasulullah Saw..”</p>
<p style="text-align: justify;">Video berikut akan memperjelas buktinya<br />
<object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/uepJrvqveZQ&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/uepJrvqveZQ&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terjemah narasi:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta. Amma ba&#8217;du</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Peringatan maulid Nabi Saw. itu tergolong bid&#8217;ah hasanah. Peringatan semacam ini sudah ditradisikan sejak ratusan tahun lalu. Peringatan ini merupakan kesepakatan yang dilakukan oleh raja-raja, para ulama&#8217;, masayikh. Termasuk para ahli hadits, pakar fikih, orang-orang zuhud, para ahli ibadah dan berbagai individu dari kalangan awam. </em><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Di samping itu, peringatan ini punya dasar kuat yang diambil dengan cara istinbath seperti telah dijelaskan Imam al-Hafid Ibnu Hajar dan para ulama ahlussunnah lainnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Diantara bidah dan kesesatan para penentang tawassul, mereka mengharamkan maulid dengan ekstrem. Bahkan seorang tokoh mereka, Abubakar Aljazairi –semoga Allah memberinya petunjuk- menyatakan, sembelihan yang disediakan untuk suguhan maulid lebih haram dari babi. Wal iyadzu billah, semoga Allah melindungi kita dari membenci Rasulillah Saw.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Begitu antinya mereka terhadap maulid. Namun yang menarik, Ibnu Taimiyah sendiri tidak mengharamkan, bahkan dalam sebagian fatwanya dia katakan, &#8220;Jika maulid dilaksanakan dengan niat baik akan membuahkan pahala,&#8221; </em>artinya sah-sah saja dilakukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Marilah kita simak kitab </em><em> Iqtidha&#8217; as-Sirath al-Mustaqim </em><em>karya seorang filosof mujassim Ahmad ibn Taimiyah (meninggal tahun 728 hijriah) cet. Darul Fikr Lebanon th.1421 H. Pada hal.269 Ibnu Taimiyah berkata</em><em>,</em></p>
<p style="text-align: justify;">“Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. Dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungannya kepada Rasulullah Saw..”<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="rtl"><em> </em><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jika semua ini telah jelas, maka bersama siapakah kelompok sempalan wahabi ini? Mereka tidak bersama ahlussunnah wal jamaah. Tidak pula bersama tokohnya, Ibnu Taimiyah. Sepatutnya mereka mencela diri mereka sendiri, dan bertaubat dari kesesatan mereka selama masih ada kesempatan. Cukuplah sebagai kehinaan, penilaian buruk mereka terhadap hal yang telah disepakati kaum muslimin berabad-abad di penjuru timur dan barat bumi.</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="rtl"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita taufiq untuk menjelaskan hal ini. Semoga salawat dan rahmat Allah tetap tercurah atas Rasulullah Saw..</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KEDUA</strong>, Ibnu Taimiyah meriwayatkan kisah Abdullah bin Umar yang sembuh dari lumpuhnya setelah ia ber-<em>istighasah </em>dengan memanggil nama Rasulullah Saw..</p>
<p style="text-align: justify;">Simak video berikut:<br />
<object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="344" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/OWwLAfxwz7A&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="344" src="http://www.youtube.com/v/OWwLAfxwz7A&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terjemahnya:</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Alhamdulillah Rabbil Alamin. Salawat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw.. Amma ba&#8217;du, ini adalah kitab &#8220;al-Kalimut Toyyib&#8221; karya filsuf mujassim Ahmad bin Taimiyah al Harrani (w.728 H) cet. Darul kutub ilmiyah Beirut 1417 H</em></p>
<h4 style="text-align: justify;" dir="rtl">&#8220;عن الهيثم بن حنش قال كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله أي أصابها مثل شلل فقال له رجل اذكر أحب الناس إليك فقال يا محمد فكأنما نشط من عقال -أي تعافى فورا-&#8221;.</h4>
<p style="text-align: justify;"><em>Pada halaman 123 Ibnu Taimiyah berkata </em></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dari al-Haitsam bin Hanasy dia berkata, &#8216;Kami sedang bersama Abdullah bin Umar r.a. tatkala tiba-tiba kakinya mendadak lumpuh, maka seorang menyarankan &#8217;sebut nama orang yang paling kau cintai!&#8217;  maka Abdullah bin Umar berseru, &#8216;Ya Muhammad!&#8217; maka dia pun seakan-akan terlepas dari ikatan, artinya sembuh seketika.&#8221;<strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Inilah yang diterangkan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya &#8220;al-Kalimut Toyyib&#8221; (perkataan yang baik), yakni dia menilai baik semua isi kitabnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Yang dilakukan Abdullah bin Umar ini adalah istighatsah dengan Rasulullah Saw. dengan ucapan &#8216;Ya Muhammad&#8217;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dalam Islam ini diperbolehkan, Ibnu Taimiyah menganggapnya baik, menganjurkannya, dan mencantumkan dalam kitabnya, &#8220;al-Kalimut Toyyib&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ini menurut wahabi sudah termasuk kufur dan syirik, artinya istighasah dengan memanggil Nabi Saw. setelah beliau wafat adalah perbuatan kafir dan syirik menurut wahabi.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Apa yang akan dilakukan kaum wahabi sekarang? Apakah mereka akan mencabut pendapatnya yang mengkafirkan orang yang memanggil &#8216;Ya Muhammad&#8217; ataukah mereka tidak akan mengikuti Ibnu Taimiyah dalam masalah ini? Padahal dialah yang mereka juluki Syeikhul islam. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Alangkah malunya mereka, alangkah malunya para imam yang diikuti Ibn Abdil Wahab karena pendapatnya bertentangan dengan pendapat kaum muslimin.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dalam hal ini, kaum wahabi, dengan akidah mereka yang rusak, telah mengkafirkan Ibnu Taimiyah, karena ia telah menganggap baik hal yang syirik dan kufur menurut anggapan mereka.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ini semua adalah bukti bahwa mereka adalah kelompok mudzabdzab (plin-plan),  kontradiksi dan menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Segala puji </em><em>selamanya </em><em>bagi Allah, di permulaan dan penghujung.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>KETIGA</strong>, dalam Majmu Fatawanya Jilid 4 Hal.379 Ibnu Taimiyah mengakui keberadaan wali qutb, autad dan abdal. Dia juga menegaskan, jika malaikat membagi rejeki dan mengatur alam maka orang-orang saleh bisa berbuat lebih dari para malaikat. Apalagi para wali qutb, Autad, Ghauts, wali abdal dan Nujaba’.<em> (Scan kitab klik <a title="ibnu taimiyah akui qutb" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100103003716_Ibnu_taimiyah_akui_wali_Qutb_4b3f844c71a93.JPG" target="_blank">di sini</a>)</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="rtl">وَقَدْ قَالُوا : إنَّ عُلَمَاءَ الْآدَمِيِّينَ مَعَ وُجُودِ الْمُنَافِي وَالْمُضَادِّ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ . ثُمَّ هُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ ؛ وَأَمَّا النَّفْعُ الْمُتَعَدِّي وَالنَّفْعُ لِلْخَلْقِ وَتَدْبِيرُ الْعَالَمِ فَقَدْ قَالُوا<span style="text-decoration: underline;"> <strong>هُمْ تَجْرِي أَرْزَاقُ الْعِبَادِ عَلَى أَيْدِيهِمْ</strong></span> وَيَنْزِلُونَ بِالْعُلُومِ وَالْوَحْيِ وَيَحْفَظُونَ وَيُمْسِكُونَ وَغَيْرُ ذَلِكَ <strong><span style="text-decoration: underline;">مِنْ أَفْعَالِ الْمَلَائِكَةِ</span></strong> . وَالْجَوَابُ : <strong><span style="text-decoration: underline;">أَنَّ صَالِحَ الْبَشَرِ لَهُمْ مِثْلُ ذَلِكَ وَأَكْثَرُ مِنْهُ</span></strong> وَيَكْفِيك مِنْ ذَلِكَ شَفَاعَةُ الشَّافِعِ الْمُشَفَّعُ فِي الْمُذْنِبِينَ وَشَفَاعَتُهُ فِي الْبَشَرِ كَيْ يُحَاسَبُوا وَشَفَاعَتُهُ فِي أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَدْخُلُوا الْجَنَّةَ . ثُمَّ بَعْدَ ذَلِكَ تَقَعُ شَفَاعَةُ الْمَلَائِكَةِ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ : { وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ عَنْ الَّذِينَ : { وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ } ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِمَّنْ يَدْعُونَ إلَى الْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ ؛ وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً ؟ وَأَيْنَ هُمْ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ &#8221; { إنَّ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَشْفَعُ فِي أَكْثَرَ مِنْ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ } &#8221; ؟ <strong><span style="text-decoration: underline;">وَأَيْنَ هُمْ مِنْ الْأَقْطَابِ وَالْأَوْتَادِ والأغواث ؛ وَالْأَبْدَالِ وَالنُّجَبَاءِ ؟</span></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Apakah ini pendapat Ibnu Taimiyah ini tergolong khurafat, takhayul dan bid’ah? Adakah dasarnya dari Qur’an dan Sunnah?</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>KEEMPAT</strong>, tentang hadiah pahala, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barangsiapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa jilid 24 halaman 306 ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama Islam, dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah, dan ijma’ (konsensus) ulama’. <strong>Barang siapa menentang hal tersebut, maka dia termasuk ahli bid’ah”. </strong><em>(Scan kitab klik <a title="Ingkar Tahlil AHLI BIDAH" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100103053048_ahli_bidah_ingkar_Tahlil_4b3fc91814b7b.JPG" target="_blank">di sini</a>)</em><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Hal senada juga diungkapkannya berulang-ulang di kitabnya, Majmu&#8217; Fatawa, diantaranya  pada Jilid 24 hal. 324 (scan kitab klik <a title="Pahala bisa sampai pada mayit" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100101052807_Transfer_pahala_pd_mayit_4b3d2577e0a80.JPG" target="_blank">di sini</a>)<strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>KELIMA</strong>, tentang tasawuf. Dalam kumpulan fatwa jilid 10 hal. 507, Syeikh Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun para imam sufi dan para syeikh yang dulu dikenal luas, seperti Imam Juneid bin Muhammad beserta pengikutnya, Syeikh Abdul Qadir Jaelani serta yang lainnya. Maka, mereka adalah orang-orang yang paling teguh dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Selanjutnya, pada jilid. 11 hal. 18 Ibnu Taimiyah berkata,</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl">والصواب أنهم مجتهدون في طاعة الله</h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">&#8220;Yang benar, para sufi adalah mujtahidin dalam taat kepada Allah.&#8221; (scan kitab klik<a title="Sufi adalah Mujtahid" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100101052807_Sufi_adalah_Mujtahid_4b3d2577da85b.JPG" target="_blank"> di sini</a>)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>KEENAM, </strong>pujian Ibnu Taimiyah terhadap para ulama sufi. Berikut ini kutipan dari surat panjang Ibnu Taimiyah pada jamaah Imam Sufi Syekh Adi bin Musafir Al Umawi, <em>(Majmu’ Fatawa jilid 3 hal. 363-377)</em>. Ini sudah cukup menjadi bukti, begitu hormatnya Ibnu Taimiyah pada kaum sufi.</p>
<h4 style="text-align: justify;" dir="rtl">بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ أَحْمَدَ ابْنِ تيمية إلَى مَنْ يَصِلُ إلَيْهِ هَذَا الْكِتَابُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ؛ الْمُنْتَمِينَ إلَى جَمَاعَةِ الشَّيْخِ الْعَارِفِ الْقُدْوَةِ . أَبِي الْبَرَكَاتِ عَدِيِّ بْنِ مُسَافِرٍ الْأُمَوِيِّ &#8221; &#8211; رَحِمَهُ اللَّهُ &#8211; وَمَنْ نَحَا نَحْوَهُمْ –</h4>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><em>Dari Ahmad Ibnu Taimiyah kepada penerima surat ini, kaum muslimin yang tergolong <strong>Ahlussunnah wal Jamaah, </strong>yang bernisbat pada jamaah Syeikh al-Arif, <strong>seorang panutan, Yang penuh berkah, </strong>Adi bin Musafir Al Umawi </em><em>(Scan kitab klik <a title="Imam sufi1" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100101001421_ibn_taimiyah_puji_imam_sufi_4b3cdbeddc9be.jpg" target="_blank">di sini</a>)</em></p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl">وَلِهَذَا كَثُرَ فِيكُمْ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاحِ وَالدِّينِ..</h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><em>Karenanya, <strong>banyak</strong> diantara kalian orang-orang saleh yang taat beragama.. (scan kitab klik <a href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100101001421_ibn_taimiyah_puji_imam_sufi2_4b3cdbedd7946.jpg" target="_blank">di sini</a>)<br />
</em></p>
<h4 style="text-align: justify;" dir="rtl">وَفِي أَهْلِ الزَّهَادَةِ وَالْعِبَادَةِ مِنْكُمْ مَنْ لَهُ الْأَحْوَالُ الزَّكِيَّةُ <strong>وَالطَّرِيقَةُ الْمَرْضِيَّةُ وَلَهُ الْمُكَاشَفَاتُ وَالتَّصَرُّفَاتُ</strong> . وَفِيكُمْ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ الْمُتَّقِينَ مَنْ لَهُ لِسَانُ صِدْقٍ فِي الْعَالَمِينَ</h4>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><em>Diantara orang-orang zuhud dan ahli ibadah dari golongan kalian terdapat mereka yang punya kepribadian bersih,  jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf. Diantara kalian juga terdapat para wali Allah yang bertakwa dan menjadi buah tutur yang baik di alam raya. (Scan kitab klik <a title="Pujian kpd sufi3" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100101001421_ibn_taimiyah_puji_imam_sufi3_4b3cdbedcb4fd.jpg" target="_blank">di sini</a>) </em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Cermati kata-kata yang dipakai  Ibnu Taimiyah dalam risalahnya berikut: panutan, Abil barakat,<em> </em>berkepribadian bersih,  jalan yang diridoi, ahli mukasyafah dan tasarruf, para wali Allah. Semua itu menyuratkan pengakuan beliau akan kebesaran orang-orang sufi yang bersih hati. Adakah orang-orang wahabi sekarang ini meneladani beliau?</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Surat tersebut selengkapnya juga bisa dibaca di Maktabah Syamilah versi 2 Juz 1 hal. 285-286.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>KETUJUH</strong><strong>,</strong> Ibnu Taimiyah mengakui<em> khirqah sufiyah</em> dalam kitabnya, <em>Minhajus Sunnah</em> Jilid 4 Hal. 155</p>
<h4 style="text-align: justify;" dir="rtl">الخرق متعددة أشهرها خرقتان خرقة إلى عمر وخرقة إلى علي فخرقة عمر لها إسنادان إسناد إلى أويس القرني وإسناد إلى أبي مسلم الخولاني وأما الخرقة المنسوبة إلى علي فإسنادها إلى الحسن البصري</h4>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">&#8220;Khirqah itu ada banyak macamnya. Yang paling masyhur ada dua, yakni khirqah yang bersambung kepada Sayidina Umar dan khirqah yang bersambung kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib. Khirqah Umar memiliki dua sanad, sanad kepada Uwais Al-Qarniy dan sanad kepada Abu Muslim Al-Khawlaniy. Adapun khirqah yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, sanadnya sampai kepada Imam Hasan Al-Bashri.&#8221; (Scan kitab klik <a href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100103085040_Ibnu_Taimiyah_akui_khirqah_sufiyah_4b3ff7f023d6e.JPG" target="_blank">di sini</a>)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Jelas sudah, Ibnu Taimiyah menyatakan keberadaan sanad khirqah ini. Lantas, apakah beliau punya sanad khirqah? Dalam kitab yang sama beliau memberi jawab,</p>
<h3 style="text-align: justify;" dir="rtl">وقد كتبت أسانيد الخرقة لأنه كان لنا فيها أسانيد</h3>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><em>&#8220;Aku telah menulis sanad-sanad khirqah, karena kami juga punya beberapa sanad khirqah&#8221; (scan kitab klik <a href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100103085040_Ibnu_taimiyah_akui__punya_KHIRQAH_4b3ff7f02ed43.JPG" target="_blank">di sini</a>)<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Kini kita telah paham, Ibnu Taimiyah ternyata memiliki khirqah. Tak hanya satu, tapi beberapa. Lantas apakah Syaikh-syaikh wahabi saat ini juga punya khirqah seperti halnya Ibnu Taimiyah?.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong>KEDELAPAN, </strong>Pernyataan bahwa seluruh alam takkan diciptakan kalau bukan karena Rasulullah Saw. bisa dibenarkan. <em>(Majmu&#8217; Fatawa jilid 11 hal. 98)</em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr"><strong> </strong></p>
<h4 style="text-align: justify;" dir="rtl">وَمُحَمَّدٌ إنْسَانُ هَذَا الْعَيْنِ ؛ وَقُطْبُ هَذِهِ الرَّحَى وَأَقْسَامُ هَذَا الْجَمْعِ كَانَ كَأَنَّهَا غَايَةُ الْغَايَاتِ فِي الْمَخْلُوقَاتِ فَمَا يُنْكَرُ أَنْ يُقَالَ : إنَّهُ لِأَجْلِهِ خُلِقَتْ جَمِيعهَا وَإِنَّهُ لَوْلَاهُ لَمَا خُلِقَتْ فَإِذَا فُسِّرَ هَذَا الْكَلَامُ وَنَحْوُهُ بِمَا يَدُلُّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ قُبِلَ ذَلِكَ</h4>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">&#8220;Nabi Muhammad Saw. adalah esensi kedua mata ini. Beliau adalah poros segala pergerakan alam ini. Ia laksana puncak dari seluruh penciptaan. Maka tak bisa ditepis lagi bahwa untuk beliaulah seluruh alam ini diciptakan. Kalau bukan karena beliau, takkan wujud seluruh semesta ini. Bila ucapan ini dan semisalnya ditafsir sesuai dengan Al-Quran dan Hadis maka hendaknya diterima.&#8221;  (Scan kitab klik <a title="alam diciptakan demi sang Rasul SAW" href="http://upload.kapanlagi.com/h/20100101001421_Alam_diciptakan_demi_Muhammad_SAW_4b3cdbede62e9.jpg" target="_blank">di sini</a>)</p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">Demikianlah sekelumit data dari hasil penelitian obyektif pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah sebagai rujukan kaum wahabi. Tak ada sentimen pribadi yang melandasi tulisan ini. Kami hanya berharap semua pihak bisa menerima kebenaran secara obyektif, lalu tak ada lagi sikap cela-mencela di antara sesama muslim. <em><strong>Ibnu KhariQ</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;" dir="ltr">
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 4305px; width: 1px; height: 1px;">http://upload.kapanlagi.com/h/20100101001421_ibn_taimiyah_puji_imam_sufi_4b3cdbeddc9be.jpg</div>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1205&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/wahabi-salafi-menentang-syeikh-ibnu-taimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>177</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Jama&#8217;ah Bawah Tanah</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/shalat-jamaah-bawah-tanah/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/shalat-jamaah-bawah-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 03:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Ifta']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1111</guid>
		<description><![CDATA[Assalamua&#8217;alaikum ya ikhwan nuna yg selalu dalm lindungan allah swt lebih khusus ust taufiq bin abdulqadir assegaf. Bagaimana sholat ma&#8217;mum yg berada d bawah tanah dari pad mesjid sedangkan tdk adnya tangga atau pintu dalm ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1112" title="bawah tanah" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/11/bawah-tanah.jpg" alt="bawah tanah" width="240" height="168" />Assalamua&#8217;alaikum ya ikhwan nuna yg selalu dalm lindungan allah swt lebih khusus ust taufiq bin abdulqadir assegaf. Bagaimana sholat ma&#8217;mum yg berada d bawah tanah dari pad mesjid sedangkan tdk adnya tangga atau pintu dalm mesjd kecuali kalau dia mau sampai kpd it imam harus keluar mesjid bagaiman sholat si ma&#8217;mum</p>
<p><strong><span style="color: #008000;">FORSAN SALAF menjawab :<span id="more-1111"></span><br />
</span></strong></p>
<p>Syarat sah jama’ah jika imam dan makmum sama-sama di dalam satu masjid yaitu memungkinkan bagi makmum untuk sampai ke tempat imam sekalipun dengan membalikkan badan selama tidak keluar dari masjid, sama saja makmum berada di bagian bawah masjid dan imam di bagian atas atau sebaliknya. Namun apabila dalam menuju ke imam keluar dari masjid, maka shalat makmum tidak sah. Kecuali jika pintu penghubung bagian bawah dan atas masjid berada di dalam masjid, maka shalat jamaah dinyatakan tetap sah.</p>
<p>Masjid jika yang diwakafkan tanah beserta bangunannya untuk masjid, maka seluruh bagiannya dihukumi masjid baik ke bawah hingga tujuh lapis bumi atau ke atas hingga tujuh lapis langit. Namun jika yang diwakafkan hanya bangunannya saja, maka bagian bawah bukan dinyatakan masjid.</p>
<h3 style="text-align: right;">عمدة السالك وعدة الناسك ص 76</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">و</span>متى اجتمع المأموم والإمام في مسجد صح الإقتداء مطلقا. وإن تباعد اواختلف البناء مثل أن يقف أحدهما في السطح والآخر في بئر في المسجد وإن أغلق باب السطح  لكن يشترط العلم بانتقالات الإمام إما بمشاهدة أو سماع مبلغ والمساجد المتلاصقة المتنافدة كمسجد واحد</h3>
<h3 style="text-align: right;">حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 5 / ص 149)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">(</span> وَ ) إذَا كَانَا بِمَسْجِدٍ فَ ( أَيُّ مَوْضِعٍ صَلَّى ) الْمَأْمُومُ ( فِي الْمَسْجِدِ ) وَمِنْهُ رَحْبَتُهُ ( بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِيهِ ) أَيْ الْمَسْجِدِ ( وَهُوَ عَالِمٌ بِصَلَاتِهِ ) أَيْ الْإِمَامُ لِيَتَمَكَّنَ مِنْ مُتَابَعَتِهِ بِرُؤْيَتِهِ أَوْ بَعْضِ صَفٍّ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ كَسَمَاعِ صَوْتِهِ أَوْ <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">( صَوْتِ مُبَلِّغٍ أَجْزَأَهُ ) أَيْ كَفَاهُ ذَلِكَ فِي صِحَّةِ الِاقْتِدَاءِ بِهِ وَإِنْ بَعُدَتْ مَسَافَتُهُ وَحَالَتْ أَبْنِيَةٌ نَافِذَةٌ إلَيْهِ كَبِئْرٍ وَسَطْحٍ سَوَاءٌ أُغْلِقَتْ أَبْوَابُهَا أَمْ لَا ، وَسَوَاءٌ كَانَ أَحَدُهُمَا أَعْلَى مِنْ الْآخَرِ أَمْ لَا كَأَنْ وَقَفَ أَحَدُهُمَا عَلَى سَطْحِهِ أَوْ مَنَارَتِهِ وَالْآخَرُ فِي سِرْدَابٍ أَوْ بِئْرٍ فِيهِ لِأَنَّهُ كُلَّهُ مَبْنِيٌّ لِلصَّلَاةِ</span></span> ، فَالْمُجْتَمِعُونَ فِيهِ مُجْتَمِعُونَ لِإِقَامَةِ الْجَمَاعَةِ مُؤَدَّوْنَ لِشِعَارِهَا ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ نَافِذَةً إلَيْهِ لَمْ يَعُدْ الْجَامِعُ لَهُمَا مَسْجِدًا وَاحِدًا فَيَضُرُّ الشُّبَّاكُ وَالْمَسَاجِدُ الْمُتَلَاصِقَةُ الَّتِي تُفْتَحُ أَبْوَابُ بَعْضِهَا إلَى بَعْضٍ كَمَسْجِدٍ وَاحِدٍ وَإِنْ انْفَرَدَ كُلٌّ مِنْهَا بِإِمَامٍ وَجَمَاعَةٍ .</h3>
<h3 style="text-align: right;">حواشي الشرواني &#8211; (ج 2 / ص 314)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">و</span>في البجيرمي عن الحفني قوله م ر على الاستطراق العادي أي بحيث يمكن الاستطراق من ذلك المنفذ عادة ولو لم يصل من ذلك المنفذ إلى ذلك البناء إلا بازورار وانعطاف بحيث يصير ظهره للقبلة ا ه قوله: (<span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">أو إلى سطحه) أي وإن خرج بعض الممر عن المسجد حيث كان الباب في المسجد أي أو رحبته كما هو الفرض ولم تطل المسافة عرفا فيما يظهر ع ش عبارة الرشيدي قوله أو إلى سطحه أي الذي هو</span></span> منه كما هو ظاهر مما يأتي أي والصورة أن السطح نافذ إلى المسجد أخذا من شرط التنافذ فليراجع ا ه قوله: (لما يوهمه كلام الانوار) أي من عدم اشتراط تنافذ أبواب أبنية المسجد قوله: (فلو كان بوسطه بيت) أي ثابت المسجدية وإلا فهما بناء ومسجد وسيأتي حكمهما كما هو ظاهر سم وقوله أي ثابت المسجدية أي لم يتيقن أنه غير مسجد أخذا مما مر في الرحبة قوله: (وإنما ينزل إليه) أي نزولا معتادا بأن كان له من السطح ما يعتاد المرور منه إليه بخلاف نحو التسلق منه إليه وقوله: (من سطحه) أي الذي بينه وبين المسجد نفوذ يمكن المرور فيه منه إليه على العادة سم عبارة البصري قد يقال إن كان أحدهما في السطح والآخر في البيت المذكور فواضح ولا وجه للتوقف وإن كان أحدهما في البيت أو في سطحه والآخر في بقية المسجد كما هو المتبادر في تصوير المسألة فينبغي أن لا يصح لعدم الاستطراق من محل الامام إلى محل المأموم فليسا بمثابة المحل الواحد الذي هو مناط الصحة ولعل توقف الشارح المذكور محمول على هذه الصورة ثم رأيت الفاضل المحشي قيد بقوله نزولا معتادا إلخ اه قوله: (أغلقت تلك الابوا ب) أي وإن ضاع مفتاح الغلق لانه يمكن فتحه بدونه ومن الغلق القفل فلا يضر وإن ضاع مفتاحه ظاهره أكان ذلك في الابتداء أو في الاثناء وينبغي عدم الضرر فيما لو سمر ت في الاثناء أخذا مما يأتي فيما لو بني بين الامام والمأموم حائل في أنه لا يضر وعلله بأنه يغتفر في الدوام ما لا يغتفر في الابتداء ع ش قوله: (بخلاف ما إذا سمرت) اعتمده م ر ا ه سم أي والمغني كما مر آنفا قوله: (سدت إلخ) المتبادر أنه ببناء المفعول قوله: (ولك أن تقول إلخ) محل تأمل فالحق أن إفتاء شيخ الاسلام إنما يتضح على طريقة الاسنوي والبلقيني من عدم اعتبار تنافذ أبنية المسجد أما على اعتباره كما هو مقتضى كلام الشيخين ومشى عليه شيخ الاسلام في عامة كتبه فلا يتضح بصري قوله: (والمساجد) إلى قوله بأن سبقا في النهاية إلا قوله نعم إلى ويشترط وإلى المتن في المغني إلا ما ذكر قوله: (المتنافذة الابواب كما ذكر) أي التي تنفذ أبواب بعضها إلى بعض مغني أي أو سطحه قوله: (كمسجد واحد) أي في صحة الاقتداء وإن بعدت المسافة واختلفت الابنية مغني قوله: (ويشترط أن لا يحول إلخ) يعلم منه أنه يضر الشباك فلو وقف من ورائه بجدار المسجد ضر كما هو المنقول من الرافعي فقول الاسنوي لا يضر سهو كما قاله الحصني نهاية ومغني ويأتي في الشرح مثله قوله: (بأن سبقا) الاولى الافراد قوله: (إذ لا يعدان) أي الامام والمأموم قوله: (فيكونان) أي المكانان في الصور الست المذكورة قوله: (وسيأتي) أي حكمهما قول المتن (ولو كانا) أي الامام والمأموم نهاية قوله: (كبيت) إلى قول المتن فإن كانا في بناءين في النهاية إلا قوله وقيل إلى المتن قوله: (كبيت واسع إلخ) عبارة النهاية أي مكان واسع كصحراء أو بيت كذلك وكما لو وقف إلخ قوله: (والآخر بسطح إلخ) قضيته أنه لا يشترط إمكان الوصول من أحد السطحين إلى الآخر عادة وبه صرح سم على المنهج</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1111&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/shalat-jamaah-bawah-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Alkohol Untuk Campuran Parfum</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/hukum-alkohol-untuk-campuran-parfum/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/hukum-alkohol-untuk-campuran-parfum/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 16:57:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Ifta']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=956</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana hukum alkohol yg ada di dalam parfum ? mohon penjelasan yg lengkap beserta perkataan2 ulama dan khilaf2nya,krna saya dpt slama ini selalu simpang siur,,afwan wa jazaa kumuullah kheir
From : aly zein aly_zein93@yahoo.co.id
FORSAN SALAF menjawab ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-958" title="parfum" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/10/parfum.jpg" alt="parfum" width="196" height="210" />Bagaimana hukum alkohol yg ada di dalam parfum ? mohon penjelasan yg lengkap beserta perkataan2 ulama dan khilaf2nya,krna saya dpt slama ini selalu simpang siur,,afwan wa jazaa kumuullah kheir</p>
<p>From : aly zein <a href="mailto:aly_zein93@yahoo.co.id">aly_zein93@yahoo.co.id</a></p>
<p><strong><span style="color: #008000;">FORSAN SALAF menjawab :<span id="more-956"></span><br />
</span></strong></p>
<p>Hukum alkohol untuk campuran minyak wangi menurut madzhab Syafi’i di<em>ma’fu</em> (dimaafkan), artinya dihukumi seperti perkara suci jika untuk sekedar kebutuhan saja. Jika melebihi kebutuhan, maka hukumnya najis karena alkohol dikategorikan khomr. Namun menurut madzhab Abi Hanifah dan Abi Yusuf, alkohol adalah suci, berarti boleh untuk campuran minyak.</p>
<p>Saran kami : hindari minyak wangi dengan campuran alkohol banyak agar keluar dari khilaf.</p>
<h3 style="text-align: right;">الموسمعة الطبية/436-437</h3>
<h3 style="text-align: right;">التداوي بالخمر : حرام عند جمهور الفقهاء لما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم &#8220;ان الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم&#8221; ويحد من شربها للدواء وهذا محمول على الخمرة التي صنعت اصلا للسكر اي الخمرة الخالصة اما الأدوية التي تذاب بالاكحول فيجوز الانتفاع بها من باب الضرورة اذا لم يوجد غيرها مما يقوم <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">مقامها وقد ذهب ابو حنيفة وابو يوسف الى جواز تناول الأشربة المتخذة من غير العنب والتمر بقصد التقوي والتداوي مالم تبلغ حد الاسكار بما ان معظم الاكحول المستخدم اليوم في تحضير الأدوية لا يصنع من العنب ولا من التمر بل من مركبات الكيماوية فيجوز استعمال هذه الادوية بناء على هذا المذهب</span></span> ..وقد ذهب الشافعية الى قريب من هذا فقالوا ان الخمر ان لم تؤخذ صرفا بل كانت مستهلكة مع دواء اخر فيجوز التداوي بها ان عرف نفعها باخبار طبيب ثقة امين وتعينت بان لا يغني عنها طاهر ويؤيد هذا (القرار رقم 11) لمجلس الفقه الاسلامي بمدينة جدة في دورته الثالثة الذي جاء فيه (للمريض المسلم تناول الأدوية المشتملة على نسبة من الاكحول اذا لم يتيسر دواء خال منها ووصف ذلك الدواء طبيب ثقة امين في مهنته )</h3>
<h3 style="text-align: right;">(الفقه على مذاهب الاربعة/1/19 )</h3>
<h3 style="text-align: right;">ومنها المائعات النجسة التي تضاف الى الادوية والروائح العطرية لاصلاحها فانه يعفى عن القدر الذي به الاصلاح قياسا على الانفخة المصلحة للجبن ومنها الثياب الي تنشر على المبنية بالرماد النجس فانه يعفى عما يصيبها من ذلك الرماد لمشقة الاحتراز .</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=956&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/hukum-alkohol-untuk-campuran-parfum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Vaksin Meningitis Untuk Calon Jama&#8217;ah Haji</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/vaksin-meningitis-untuk-calon-jamaah-haji/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/vaksin-meningitis-untuk-calon-jamaah-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Sep 2009 04:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Majelis Ifta']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum.wr.wb.
ustad alfaqir mau tanya bagaimana cara kita menanggapi pemerintah yang mewajibkan bagi setiap calon jamaah haji untuk suntik miningitis, sedangkan kita tau bahwa suntikan tersebut ada mengandung unsur babi.
jazakumullah hair atas jawabannya.
FORSAN SALAF menjawab :

Masalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-817" title="haji" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/09/haji-300x225.jpg" alt="haji" width="240" height="180" />Assalamualaikum.wr.wb.</p>
<p>ustad alfaqir mau tanya bagaimana cara kita menanggapi pemerintah yang mewajibkan bagi setiap calon jamaah haji untuk suntik miningitis, sedangkan kita tau bahwa suntikan tersebut ada mengandung unsur babi.<br />
jazakumullah hair atas jawabannya.</p>
<p><strong><span style="color: #008000;">FORSAN SALAF menjawab :<span id="more-816"></span><br />
</span></strong></p>
<p>Masalah suntik <em>meningitis </em>yang diwajibkan pemerintah bagi calon jamaah haji jika belum dipastikan apakah mengandung unsur babi ataukah tidak (masih diragukan), dihukumi suci. Namun jika dipastikan dari unsur babi, maka dihukumi haram karena termasuk berobat dengan suatu yang najis tanpa darurat untuk memakainya apalagi masih ada solusi selain vaksin babi dan kewajiban haji sifatnya <em>‘ala tarokhi </em>(boleh ditunda walaupun telah mampu mengerjakannya).</p>
<h3 style="text-align: right;">المجموع &#8211; (ج 9 / ص 50)</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">(</span>وأما) التداوى بالنجاسات غير الخمر فهو جائز سواء فيه جميع النجاسات غير المسكر هذا هو المذهب والمنصوص وبه قطع الجمهور وفيه وجه أنه لا يجوز لحديث ام سلمة المذكور في الكتاب (ووجه ثالث) انه يجوز بأبوال الابل خاصة لورود النص فيها ولا يجوز بغيرها حكاهما الرافعى وهما شاذان والصواب الجواز مطلقا لحديث أنس رضى الله عنه (أن نفرا من عرينة وهى قبيلة معروفة بضم العين المهملة وبالنون &#8211; أتوا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعوه على الاسلام فلستوخموا المدينة فسقمت أجسامهم فشكوا ذلك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال (ألا تخرجون مع راعينا في ابله فتصيبون من أبوالها وألبانها قالوا بلى فخرجوا فشربوا من ألبانها وأبوالها فصحوا فقتلوا راعى رسول الله صلى الله عليه وسلم واطردوا النعم) رواه البخاري ومسلم من روايات كثيرة هذا لفظ احدى روايات البخاري (وفى رواية فأمرهم أن يشربوا أبوالها وألبانها) قال أصحابنا وانما يجوز التداوى بالنجاسة إذا لم يجد طاهرا يقوم مقامها فان وجده حرمت النجاسات بلا خلاف وعليه يحمل حديث (ان الله لم يجعل شفاءكم فيما حرم عليكم) فهو حرام عند وجود غيره وليس حراما إذا لم يجد غيره * قال اصحابنا وانما يجوز ذلك إذا كان المتداوى عارفا بالطب يعرف أنه لا يقوم غير هذا مقامه أو أخبره بذلك طبيب مسلم عدل ويكفى طبيب واحد صرح به البغوي وغيره فلو قال الطبيب يتعجل لك به الشفاء وان تركته تأخر ففى اباحته وجهان حكاهما البغوي ولم يرجح واحدا منهما وقياس نظيره في التيمم أن يكون الاصح جوازه (أما) الخمر والنبيذ وغيرهما من المسكر فهل يجوز شربها للتداوي أو العطش فيه أربعة أوجه مشهورة (الصحيح) عند جمهور الاصحاب لا يجوز فيهما (والثانى) يجوز (والثالث) يجوز للتداوي دون العطش (والرابع) عكسه قال الرافعى الصحيح عند الجمهور لا يجوز لواحد منهما ودليله حديث وائل بن حجر رضى الله عنه (أن طارق بن سويد الجعفي سأل النبي صلى الله عليه وسلم عن الخمر فنهاه أو كره أن يصنعها فقال انما أصنعها للدواء فقال انه ليس بدواء ولكنه داء) رواه مسلم في صحيحه واختار امام الحرمين والغزالي جوازها للعطش دون التداوى والمذهب الاول وهو تحريمها لهما وممن صححه المحاملى وسأورد دليله قريبا ان شاء الله تعالى فان جوزنا شربها للعطش وكان معه خمر وبول لزمه شرب البول وحرم الخمر لان تحريم الخمر أخف قال أصحابنا فهذا كمن وجد بولا وماء نجسا فانه يشرب الماء النجس لان نجاسته طارئة وفى جواز التبخر بالند المعجون بالخمر وجهان بسبب دخانه (أصحهما) جوازه لانه ليس دخان نفس النجاسة والله أعلم * (فرع) قدذكرنا أن المذهب الصحيح تحريم الخمر للتداوي والعطش وان امام الحرمين والغزالي اختارا جوازها للعطش قال امام الحرمين الخمر يسكن العطش فلا يكون استعمالها في حكم العلاج قال ومن قال ان الخمر لا يسكن العطش فليس على بصيرة ولا يعد قوله مذهبا بل هو غلط ووهم بل معاقر الخمر يجتزى بها عن الماء هذا كلامه وليس كما ادعى بل الصواب المشهور عن الشافعي وعن الاصحاب والاطباء انها لا تسكن العطش بل تزيده والمشهور من عادة شربة الخمر أنهم يكثرون شرب الماء وقد نقل الرويانى أن الشافعي رحمه الله نص علي المنع من شربها للعطش معللا بأنها تجيع وتعطش وقال القاضى ابو الطيب سألت من يعرف ذلك فقال الامر كما قال الشافعي انها تروى في الحال ثم تثير عطشا عظيما وقال القاضى حسين في تعليقه قالت الاطباء الخمر تزيد في العطش وأهل الشرب يحرصون على الماء البارد فحصل بما ذكرناه أنها لا تنفع في دفع العطش وحصل بالحديث الصحيح السابق في هذه المسألة أنها لا تنفع في الدواء فثبت تحريمها مطلقا والله تعالى أعلم *</h3>
<h3 style="text-align: right;">الموسوعة الطبية الفقهية / 895</h3>
<h3 style="text-align: right;">واتفق الفقهاء على حرمة التداوي بالنجاسة، سواء كان بالشرب او الأكل او الإدهان او ترقيع الجلد او زرع سنّ او غير ذلك لعموم حرمة التداوي بالمحرم.</h3>
<p style="text-align: right;">
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;"><strong>أ</strong><span style="font-size: medium;"><span><strong>سنى المطالب  &#8211; (ج 4 / ص 183(</strong></span></span></span></h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">(</span> وَيُسْتَحَبُّ ) لَهُ ( التَّدَاوِي ) لِلْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ كَخَبَرِ الْبُخَارِيِّ { لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً } وَخَبَرِ أَبِي دَاوُد وَغَيْرِهِ { أَنَّ الْأَعْرَابَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَدَاوَى فَقَالَ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ الْهَرَمِ } قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ . فَإِنْ تَرَكَ التَّدَاوِي تَوَكُّلًا فَفَضِيلَةٌ وَيُفَارِقُ اسْتِحْبَابَهُ وُجُوبُ أَكْلِ الْمَيْتَةِ لِلْمُضْطَرِّ وَإِسَاغَةُ اللُّقْمَةِ بِالْخَمْرِ بِأَنَّا لَا نَقْطَعُ بِإِفَادَتِهِ بِخِلَافِ ذَيْنِك ( وَيُكْرَهُ أَنْ <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">يُكْرَهَ ) الْمَرِيضُ ( عَلَيْهِ ) أَيْ عَلَى التَّدَاوِي أَيْ تَنَاوُلِهِ الدَّوَاءَ </span></span>وَكَذَا غَيْرُهُ مِنْ الطَّعَامِ لِمَا فِيهِ مِنْ التَّشْوِيشِ عَلَيْهِ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ وَحَدِيثُ { لَا تُكْرِهُوا مَرَضَاكُمْ عَلَى الطَّعَامِ فَإِنَّ اللَّهَ يُطْعِمُهُمْ وَيَسْقِيهِمْ } ضَعِيفٌ وَمِنْ ثَمَّ لَمْ يُعَبَّرْ فِيهِ بِكَرَاهَةٍ بَلْ بِاسْتِحْبَابِ تَرْكِهِ قَالَ فِيهِ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ تَعَهُّدُ نَفْسِهِ بِتَقْلِيمِ الظُّفْرِ وَأَخْذِ شَعْرِ الشَّارِبِ وَالْإِبْطِ وَالْعَانَةِ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَيْضًا الِاسْتِيَاكُ وَالِاغْتِسَالُ وَالتَّطَيُّبُ وَلُبْسُ الثِّيَابِ الطَّاهِرَةِ</h3>
<h3 style="text-align: right;">أسنى المطالب  &#8211; (ج 7 / ص 202(</h3>
<p style="text-align: right;"><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-weight: normal; font-size: 13px;">(</span> وَشُرْبُ الْخَمْرِ ) أَيْ تَنَاوُلُهَا ( لِلْعَطَشِ وَلِلتَّدَاوِي حَرَامٌ ) ، وَإِنْ لَمْ يَجِدْ غَيْرَهَا لِعُمُومِ النَّهْيِ عَنْ شُرْبِهَا ؛ وَلِأَنَّ بَعْضَهَا يَدْعُو إلَى بَعْضٍ ؛ وَلِأَنَّ شُرْبَهَا لَا يَدْفَعُ الْعَطَشَ بَلْ يَزِيدُهُ ، وَإِنْ سَكَّنَهُ فِي الْحَالِ وَلِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا { سُئِلَ عَنْ التَّدَاوِي بِالْخَمْرِ : إنَّهُ لَيْسَ بِدَوَاءٍ ، وَلَكِنَّهُ دَاءٌ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَرَوَى ابْنُ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ { أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ } وَالْمَعْنَى أَنَّ اللَّهَ سَلَبَ الْخَمْرَ مَنَافِعَهَا عِنْدَمَا حَرَّمَهَا ، وَمَا دَلَّ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ مِنْ أَنَّ فِيهَا مَنَافِعَ إنَّمَا هُوَ قَبْلَ تَحْرِيمِهَا ، وَإِنْ سَلِمَ بَقَاؤُهَا فَتَحْرِيمُهَا مَقْطُوعٌ بِهِ وَحُصُولُ الشِّفَاءِ بِهَا مَظْنُونٌ فَلَا يَقْوَى عَلَى إزَالَةِ الْمَقْطُوعِ ، ثُمَّ مَحَلُّ ذَلِكَ إذَا لَمْ يَنْتَهِ بِهِ الْأَمْرُ إلَى الْهَلَاكِ ، وَإِلَّا فَيَتَعَيَّنُ شُرْبُهَا كَمَا يَتَعَيَّنُ عَلَى الْمُضْطَرِّ أَكْلُ الْمَيْتَةِ <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">وَمَحَلُّ مَنْعِ التَّدَاوِي بِهَا إذَا كَانَتْ خَالِصَةً بِخِلَافِ الْمَعْجُونِ بِهَا كَالتِّرْيَاقِ لِاسْتِهْلَاكِهَا فِيهِ</span></span> وَكَالْخَمْرَةِ فِي ذَلِكَ سَائِرُ الْمُسْكِرَاتِ الْمَائِعَةِ وَخَرَجَ بِمَا قَالَهُ شُرْبُهَا لِإِسَاغَةِ لُقْمَةٍ فَيُبَاحُ كَمَا سَيَأْتِي فِي بَابِ حَدِّ <span style="text-decoration: underline;"><span style="text-decoration: none;">الْخَمْرِ ( لَا ) تَنَاوُلُ ( غَيْرِهَا مِنْ النَّجَاسَاتِ ) لِذَلِكَ فَيَجُوزُ بِقَيْدٍ زَادَهُ بِقَوْلِهِ ( إنْ لَمْ يَجِدْ غَيْرَهَا ) مِنْ الطَّاهِرَاتِ يَقُومُ مَقَامَهَا { لِأَمْرِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعُرَنِيِّينَ بِشُرْبِ أَبْوَالِ الْإِبِلِ } رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَقِيسَ بِالْأَبْوَالِ غَيْرُهَا مِمَّا لَا يُسْكِرُ بِخِلَافِ مَا إذَا وُجِدَ غَيْرُهَا مِمَّا ذُكِرَ فَلَا يَجُوزُ ذَلِكَ وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ خَبَرُ ابْنِ حِبَّانَ السَّابِقُ</span></span> ( وَلَوْ تَبَخَّرَ بَنْدٌ ) بِفَتْحِ النُّونِ نَوْعٌ مِنْ الطِّيبِ ( عُجِنَ بِخَمْرٍ جَازَ ) ؛ لِأَنَّ دُخَانَهُ لَيْسَ دُخَانَ نَفْسِ النَّجَاسَةِ بَلْ دُخَانٌ مُتَنَجِّسٌ ، وَهُوَ لَا يَمْنَعُ جَوَازَ الِاسْتِعْمَالِ</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=816&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/vaksin-meningitis-untuk-calon-jamaah-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
