<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Santri Sunniyah Salafiyah &#187; Headline</title>
	<atom:link href="http://www.forsansalaf.com/category/headline/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.forsansalaf.com</link>
	<description>forsansalaf</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 16:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Puasa, Hikmah, Rukun Dan Syaratnya</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/puasa-hikmah-rukun-dan-syaratnya/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/puasa-hikmah-rukun-dan-syaratnya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 16:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1619</guid>
		<description><![CDATA[Secara bahasa (etimologi) berarti : menahan.
Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.
Dasar wajib puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-1620" title="puasa-11" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/07/puasa-11.jpg" alt="puasa-11" width="400" height="350" />Secara bahasa (etimologi) berarti : menahan.</p>
<p>Menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menahan diri dari perkara yang membatalkan puasa mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.<span id="more-1619"></span></p>
<p>Dasar wajib puasa:</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ<em> </em></strong></h3>
<p><em> </em><em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (Al-Baqoroh 183)</em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Puasa diwajibkan pada bulan Sya&#8217;ban tahun kedua hijriyyah.</p>
<p><strong>Hikmah puasa : </strong>menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi si kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin, dan menjaga dari maksiat.</p>
<p><strong>Syarat sah puasa:</strong></p>
<ol>
<li>Islam</li>
<li>Berakal</li>
<li>Bersih dari haid dan nifas</li>
<li>Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa.</li>
</ol>
<p>Berarti tidak sah puasa orang kafir, orang gila walaupun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa di waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq.</p>
<p>Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar maka puasanya tetap sah dengan syarat telah niat, sekalipun belum mandi sampai pagi.</p>
<p><strong>Syarat wajib puasa:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>1. Islam</p>
<p>Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap dituntut dan diadzab karena meninggalkan puasa selain diadzab karena kekafirannya.</p>
<p>Sedangkan orang murtad tetap wajib puasa dan mengqodho’ kewajiban-kewajiban yang ditinggalkannya selama murtad.</p>
<p>2. Mukallaf (baligh dan berakal).</p>
<p>Anak yang belum baligh atau orang gila tidak wajib puasa, namun orang tua wajib menyuruh anaknya berpuasa pada usia 7 tahun jika telah mampu dan wajib memukulnya jika meninggalkan puasa pada usia 10 tahun.</p>
<p>3. Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang  sakit).</p>
<p>Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (<strong>7,5 </strong>ons) makanan pokok untuk setiap harinya.</p>
<p>4. Mukim (bukan musafir sejauh ± 82 km dan keluar dari batas daerahnya sebelum fajar).</p>
<p><strong>Rukun-rukun puasa:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Niat,</li>
</ol>
<p>Niat untuk puasa wajib, mulai terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar di setiap harinya. Sedangkan niat untuk puasa sunnah, sampai tergelincirnya matahari (waktu duhur) dengan syarat:</p>
<p>a.  diniatkan sebelum masuk waktu dhuhur</p>
<p>b. tidak mengerjakan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan lain-lain sebelum niat.</p>
<p>Niat puasa Ramadhan yang sempurna:</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَان هذِهِ السَّنَة ِللهِ تَعَالَى </strong></h3>
<p><em>Saya niat mengerjakan kewajiban puasa bulan Ramadhan esok hari pada tahun ini karena Allah SWT.</em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<ol>
<li>Menghindari perkara yang membatalkan puasa. Kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari&#8217;at (<em>jahil ma’dzur</em>).</li>
</ol>
<p>Jahil ma’dzur/kebodohan yang ditolerir syariat ada dua:</p>
<p>a. hidup jauh dari ulama&#8217;.</p>
<p>b. baru masuk islam.</p>
<p><strong>Hal-hal yang membatalkan puasa</strong><strong> </strong><strong>:</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke bagian dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan lain-lain jika ada unsur kesengajaan, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau dipaksa, maka puasanya tetap sah.
<ol>
<li>Murtad, sekalipun masuk islam seketika.</li>
<li>Haid, nifas dan melahirkan sekalipun sebentar.</li>
<li>Gila meskipun sebentar.</li>
<li>Pingsan dan mabuk sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekalipun sebentar, tetap sah.</li>
<li>Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.</li>
<li>Mengeluarkan mani dengan sengaja, seperti dengan tangan atau dengan menyentuh istrinya tanpa penghalang.</li>
<li>Muntah dengan sengaja.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Masalah masalah yang berkaitan dengan puasa</strong>:</p>
<p>1. Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodhoi puasa serta wajib membayar kaffaroh [denda] yaitu:</p>
<p>-        membebaskan budak perempuan yang islam</p>
<p>-        jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut turut,</p>
<p>-        jika tidak mampu maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (7,5 ons) dari makanan pokok. Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki laki.</p>
<p>2.  Hukum menelan dahak :</p>
<ul>
<li>Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa.</li>
<li>Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.</li>
</ul>
<p>Yang dimaksud batas luar menurut pendapat Imam Nawawi (mu’tamad) adalah makhroj huruf kha’ (ح), dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama’ batas luar adalah makhroj huruf kho’(خ), dan di bawahnya adalah batas dalam.</p>
<p>3.  Menelan ludah tidak membatalkan puasa dengan syarat:</p>
<p>-          Murni (tidak tercampur benda lain)</p>
<p>-          Suci</p>
<p>-          Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan mulut, sedangkan menelan ludah yang berada pada bibir luar membatalkan puasa karena sudah di luar mulut.</p>
<p>4.  Hukum masuknya air mandi ke dalam rongga dengan tanpa sengaja:</p>
<p>-          Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum&#8217;at atau mandi wajib seperti mandi janabat maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau menyelam.</p>
<p>-          Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.</p>
<p>5.  Hukum air kumur yang tertelan tanpa sengaja:</p>
<ul>
<li>Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu&#8217; tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh)</li>
<li>Jika berkumur biasa, bukan untuk  kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.</li>
</ul>
<p>6.  Orang yang muntah atau mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci.</p>
<p>Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya terlebih dahulu maka puasanya batal sekalipun ludahnya nampak bersih.</p>
<p>7.  Orang yang sengaja membatalkan puasanya atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (seperti orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodhoi puasanya.</p>
<p>8.  Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:</p>
<p><em> 1.       Wajib qodho&#8217; dan membayar denda</em><em> </em><em>:</em></p>
<ul>
<li>Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.</li>
<li>Mengakhirkan qodho&#8217; hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada udzur.</li>
</ul>
<p><em>2.  Wajib qodho&#8217; tanpa denda.</em></p>
<p>Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari, orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima&#8217; (bersetubuh) dan perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.</p>
<p><em>3.  Wajib denda tanpa qodho&#8217;.</em></p>
<p>Berlaku bagi orang lanjut usia dan orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, jika keduanya tidak mampu berpuasa.</p>
<p><em>4.  Tidak wajib qodho&#8217; dan tidak wajib denda.</em></p>
<p>Berlaku bagi orang yang gila tanpa disengaja.</p>
<p>Yang dimaksud denda di sini adalah 1 mud (7,5 ons) makanan pokok daerah setempat untuk setiap harinya.</p>
<p><strong>Hal-hal yang disunnahkan dalam puasa Ramadhan:</strong></p>
<p>1. Menyegerakan berbuka puasa.</p>
<p>2. Sahur, sekalipun dengan seteguk air.</p>
<p>3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.</p>
<p>4. Berbuka dengan kurma. Disunnahkan dengan bilangan ganjil. Bila tak ada kurma, maka air zam-zam. Bila tak ada, cukup dengan air putih. Bila tak ada, dengan apa saja yang berasa manis alami. Bila tak ada juga, berbuka dengan makanan atau minuman yang diberi pemanis.</p>
<p>5. Membaca doa berbuka yaitu:</p>
<h3 style="text-align: right; "><strong>اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلىَ رِزْقِكَ اَفْطَرْتُ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ اْلعُرُوقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ .اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ اَللّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ اَنْ تَغْفِرَ لِي .</strong></h3>
<p>6. Memberi makanan berbuka kepada orang berpuasa.</p>
<p>7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.</p>
<p>8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan</p>
<p>9. Menekuni sholat tarawih dan witir.</p>
<p>10. Memperbanyak bacaan Al Quran dengan berusaha memahami artinya.</p>
<p>11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.</p>
<p>12. Meninggalkan caci maki.</p>
<p>13. Berusaha makan dari yang halal</p>
<p>14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir, dan lain-lain</p>
<p><strong>Hal-hal yang dimakruhkan dalam puasa Ramadhan:</strong><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="349" valign="top">1. Mencicipi   makanan.</p>
<p>2. Bekam   [mengeluarkan darah].</p>
<p>3. Banyak   tidur dan terlalu kenyang.</td>
<td width="349" valign="top">4. Mandi   dengan menyelam.</p>
<p>5. Memakai   siwak setelah masuk waktu duhur.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Hal hal yang membatalkan pahala puasa:</strong><strong> </strong></p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="349" valign="top">1. Ghibah (gosip)</p>
<p>2. Adu domba</p>
<p>3. Berbohong<strong> </strong></td>
<td width="349" valign="top">4. Memandang   dengan syahwat</p>
<p>5. Sumpah   palsu.</p>
<p>6. Berkata   jorok atau jelek<strong> </strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h3 style="text-align: right; "><strong>خمس يفطّرن الصائم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الكاذبة والنظر بشهوة</strong></h3>
<p><em>“ Lima perkara yang membatalkan (pahala) puasa : berbohong, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “ (H.R. Anas)</em></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1619&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/puasa-hikmah-rukun-dan-syaratnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontroversi Hukum Rokok</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2010/kontroversi-hukum-rokok/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2010/kontroversi-hukum-rokok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 05:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1533</guid>
		<description><![CDATA[
Assalamu’alaykum
1.  Ana mau tanya hukum merokok tu apa bib?
2.  Kalau haram kenapa?
From : Abdullah Ali
FORSANSALAF menjawab :

Wa’alaikum salam Wr. Wb.
Hukum merokok ada beberapa pendapat di kalangan ulama’ :

Boleh/mubah, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1546" title="الى متى..،.؟" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2010/05/الى-متى..،.؟.jpg" alt="الى متى..،.؟" width="350" height="290" /></p>
<p><em>Assalamu’alaykum</em></p>
<p>1.  Ana mau tanya hukum merokok tu apa bib?<br />
2.  Kalau haram kenapa?</p>
<p>From : Abdullah Ali</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">FORSANSALAF menjawab :<br />
</span></strong></p>
<p><em>Wa’alaikum salam Wr. Wb.</em></p>
<p>Hukum merokok ada beberapa pendapat di kalangan ulama’ :</p>
<ol>
<li>Boleh/mubah, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas dan tidak berbahaya pada kesehatan serta bukan termasuk <em>muskir </em>(perkara yang memabukkan) atau <em>mukhoddir </em>(merusak pikiran).</li>
<li>Makruh, dengan pertimbangan tidak ada dalil yang mengharamkannya dengan jelas, hanya bau yang tidak sedap dari mulut orang yang mengkonsumsinya sebagaimana bawang merah atau bawang putih yang mentah.</li>
<li>Wajib, jika membahayakan jiwa ketika tidak merokok.</li>
<li>Haram, dengan pertimbangan sebagai berikut :</li>
</ol>
<p>a.   Rokok dapat membahayakan kesehatan, menurut kesepakatan para dokter menyebabkan kanker, jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Ajaran islam memerintahkan untuk selalu menjaga diri dan meninggalkan segala yang membahayakan, sebagaimana firman Allah SWT :</p>
<h3 style="text-align: right; ">وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (195)</h3>
<p><em>“ dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-baqarah :195)</em></p>
<p>Dan hadits Rasulullah SAW :</p>
<h3 style="text-align: center; ">&#8221; لَا ضَرَرَ وَلَا ضَرَارَ &#8220;.</h3>
<p><em>“ janganlah berbuat sesuatu yang membahayakan, dan jangan membalas dengan berbuat sesuatu yang membahayakan”</em></p>
<p>b.  Pembelajaan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan membahayakan kesehatan. Hal ini adalah bentuk <em>isrof</em> atau <em>tabdzir</em> (pemborosan) harta yang diharamkan, sebagaimana firman Allah SWT :</p>
<h3 style="text-align: right; "><strong>وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ </strong><strong>وَلَا تُبَذِّر</strong><strong>ْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.</em><em> </em><em>Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”, (al-Isra’ : 26-27)</em></p>
<p>c.  Dapat merubah mental dan watak pecandunya.</p>
<p><strong>KETERANGAN :</strong></p>
<p><strong><em>Pendapat pertama,</em></strong> rokok adalah mubah karena tidak membahayakan kesehatan, maka telah menjadi maklum secara medis bahwa rokok sangat berbahaya untuk kesehatan baik dalam jangka waktu dekat atau lama. Sedangkan mengkonsumsi sesuatu yang membahayakan kesehatan haram menurut kesepakatan ulama’.</p>
<p><strong><em>Pendapat kedua,</em></strong> rokok adalah makruh karena tidak ada dalil tegas yang mengharamkannya. Oleh karena itu, jika membahayakan, maka berubah hukum menjadi haram, bahkan wudhu’ yang wajib pun menjadi haram jika membahayakan.</p>
<p><strong><em>Pendapat ketiga,</em></strong> rokok wajib ketika membahayakan jika ditinggalkan. Sesungguhnya pendapat ini hanyalah wacana yang berlaku ketika benar-benar terjadi sebagaimana keadaan di atas. Oleh karena itu, tidak bisa digunakan sebagai dalil kebolehan merokok, bahkan makan bangkai menjadi wajib jika tidak memakannya akan mati.</p>
<p><strong><em>Pendapat terakhir,</em></strong> rokok haram. Pendapat ini menurut kami paling shohih, ditinjau dari dalil-dalil lebih tepat, lebih berhati-hati (<em>ihtiyath</em>) dan untuk menjaga kesehatan, nikmat yang teramat mahal, serta menghindari dari pemborosan (<em>isrof</em>). Allah SWT berfirman :</p>
<h3 style="text-align: right; ">يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (215)</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“ Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: &#8220;Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.&#8221; Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (al-baqarah: 215).</em></p>
<p>Oleh karena itu, alangkah indah dan elok bagi orang yang tidak merokok, utamanya kalangan ustad, ulama’ dan tokoh agama untuk menjadi contoh bagi awam meninggalkan hal-hal yang tidak berguna bahkan merugikan diri, agama dan harta. Rasulullah SAW bersabda :</p>
<h3 style="text-align: right; ">مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ ، رواه الترمذي واحمد</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“ termasuk kesempurnaan islam pada seseorang adalah meninggalkan segala yang tidak manfaat (dalam agama) baginya “</em><em> (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)</em></p>
<p>Namun sangatlah ironis sekali pada zaman sekarang, orang-orang yang menjadi <em>uswah</em>/tauladan bagi umat memberikan contoh yang tidak positif dan tidak bernilai ibadah bahkan karena, mereka anak-anak yang belum baligh pun dengan bebasnya menghisap rokok. Siapakah yang akan bertanggung jawab di hadapan Allah nanti di hari kiamat ?.</p>
<p>Al Habib Abdullah bin Umar as-Syathiri berkata :</p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>تَسْتَحْسِنُ التُّنْــبَاكَ فِي فِيْكَ وَتَسْـ # تَحْيِي بِأَنْ تَسْتَعْمِلَ الْمِسْوَاكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Kamu menilai bagus rokok di mulutmu, namun kamu malu menggunakan siwak.</em><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>وَالشَّرْعُ ثُمَّ الطِّبُّ قَدْ نَهَيَاكَ عَنْ # ذَاكَ الْأَذَى وَبِفِعْلِ ذَا اَمَــرَاكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Padahal </em><em>syari’at dan medis benar-benar </em><em>telah </em><em>melarang</em><em>mu</em><em> dari penyakit (rokok) itu, dan dengan menggunakan siwak keduanya (syari’at dan medis) menganjurkanmu.</em><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>لَوْ كُنْتَ تَعْكِسُ فِي الْقَضِيَّةِ كَانَ اَوْ # لَى مِنْكَ لَكِنَّ اللَّعِيْنَ اَغْـوَاكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Jika kamu membalik kejadian di atas, maka lebih baik bagimu, namun yang terkutuk (syetan) </em><em>telah </em><em>menyesatkanmu.</em><em> </em></p>
<h3 style="text-align: center; "><strong>فَلكَمْ اَضَعْـتَ بِهِ نَفِيْسَ اْلمـَالِ لَوْ # اَنْفَقْتَهُ يَا صَاحِ فِي اُخْـَـراكَا</strong><strong> </strong></h3>
<p><em>Berapa banyak engkau hamburkan harta yang bernilai, seandainya saja engkau sedekahkan -wahai sahabatku- untuk kebahagiaan akhiratmu.</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-size: small;"><span> 260/بغية المسترشدين</span></span></h3>
<h3 style="text-align: right; ">(مسألة) : التنباك معروف من أقبح الحلال إذ فيه إذهاب الحال والمال، ولا يختار استعماله أكلاً أو سعوطاً أو شرباً لدخانه ذو مروءة من الرجال، وقد أفتى بتحريمه أئمة من أهل الكمال كالقطب سيدنا عبد الله الحداد والعلامة أحمد الهدوان، كما ذكره القطب أحمد بن عمر بن سميط عنهما وغيرهم من أمثالهم، بل أطال في الزجر عنه الحبيب الإمام الحسين ابن الشيخ أبي بكر بن سالم وقال: أخشى على من لم يتب عنه قبل موته أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله تعالى. وقد أشبع الفصل فيه بالنقل العلامة عبد الله باسودان في فيض الأسرار وشرح الخطبة وذكر من ألف في تحريمه كالقليوبي وابن علان وأورد فيه حديثاً، وقال الحساوي في تثبيت الفؤاد من كلام القطب الحداد أقول: ورأيت معزواً لتفسير المقنع الكبير قال النبي : «يا أبا هريرة يأتي أقوام في آخر الزمان يداومون هذا الدخان وهم يقولون نحن من أمة محمد وليسوا من أمتي ولا أقول لهم أمة لكنهم من السوام» قال أبو هريرة: وسألته : كيف نبت؟ قال: «إنه نبت من بول إبليس، فهل يستوي الإيمان في قلب من يشرب بول الشيطان؟ ولعن من غرسها ونقلها وباعها» . قال عليه الصلاة والسلام: «يدخلهم الله النار وإنها شجرة خبيثة» اهـ ملخصاً اهـ. ورأيت بخط العلامة أحمد بن حسن الحداد على تثبيت الفؤاد: سمعت بعض المحبين قال: إن والدي يشرب النتن خفية وكان متعلقاً ببعض أكابر آل أبي علوي، فلما مات رأيته فسألته: ما فعل الله بك؟ قال: شفع فيَّ فلان المتقدم إلا في التنباك فهو يؤذيني وأراني في قبره ثقباً يجيء منه الدخان يؤذيه وقال له: إن شفاعة الأولياء ممنوعة في شرب التنباك. وقال لي بعضهم: رأيت والدي وكان صالحاً لكنه كان ينشق التنباك، فرأيته بعد موته قال: إن الناشق للتنباك عليه نصف إثم الشارب فالحذر منه اهـ. وقال الولي المكاشف للشريف عبد العزيز الدباغ: أجمع أهل الديوان من الأولياء على حرمة هذا النتن الخ.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">فائدة : قال السيوطي في الأشباه والنظائر: قال بعضهم مراتب الأكل خمس: ضرورة، وحاجة، ومنفعة، وزينة، وفضول. فالضرورة بلوغه إلى حدّ إذا لم يتناول الممنوع هلك أو قارب وهذا يبيح تناول الحرام. والحاجة كالجائع الذي لو لم يجد ما يأكله لم يهلك غير أنه يكون في جهد ومشقة وهذا لا يبيح الحرام. والزينة والمنفعة كالمشتهي الحلوى والسكر والثوب المنسوج بالحرير والكتان. والفضول كالتوسع بأكل الحرام والشبهات.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">الموسوعة الطبية الفقهية ص 183- 184</h3>
<h3 style="text-align: right; ">أحكام تدخين التبغ :</h3>
<h3 style="text-align: right; ">مشروعية التدخين : لقد ذهب الفقهاء في حكم تدخين التبغ مذاهب شتى لأنه لا نص فيه, وذلك على النحو الأتي :</h3>
<ul style="text-align: right; ">
<li>
<h3>تحريم التدخين : ذهب بعضهم إلى تحريمه لأنه يسكر في ابتداء تعاطيه إسكارا سريعا, ثم لايزال في كل مرة ينقص شيئا فشيئا حتى يطول الأمد جدا فيصير لايحس به, لكنه يجد نشوة وطربا أحسن عنده من السكر, وأنه يترتب على شربه الإضرار بالبدن, وأن الأطباء أجمعوا على ضرره وثبت عندهم أنه يسبب الكثير من الأمراض مثل سرطانات الرئة والحنجرة واللسان والشفتين والمثانة, كما يسبب الضعف الجنسي, وفيه إضاعة للمال وتبذير منهي عنه .. وقد نص المالكية على تحريمه وكذلك فعل المؤتمر العالمي الإسلامي لمكافحة المسكرات والمخدرات, الذي عقد في الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة في 30/ 5/ 1402 هـ حيث أصدر فتوى بحرمة استعمال التبغ للأضرار التي ذكرناها.</h3>
</li>
<li>
<h3>إباحة التدخين : وذهب بعضهم إلى إباحته لأنه لم يثبت إسكاره ولاتخديره, مع أن الذي يشربه في البداية يصيبه شيئ من الغشي لكنه لايوجب التحريم, لأن الأصل في الأشياء الإباحة حتى يرد نص بالتحريم فيكون التبغ مباحا جريا على قواعد الشرع وعمومياته.</h3>
</li>
<li>
<h3>كراهة التدخين : وذهب أكثرهم إلى كراهته لعدم ثبوت أدلة التحريم, وكرهوه لكراهة رائحته قياسا على البصل النيئ والثوم ونحوه.</h3>
</li>
</ul>
<h3 style="text-align: right; ">أما من الوجهة الطبية فإننا نميل إلى كراهته كراهة تحريم لما ثبت من أضراره الشديدة على صحة الفرد والمجتمع, وجريا على قاعدة : لا ضرر ولاضرار, ولأنه لم يثبت أن له أية فوائد صحية, وأما ما يدعيه المدخنون من فوائد نفسية للتدخين وأنه يريح الأعصاب ويبهج النفس وغير ذلك من الدعاوى الباطلة فلا تعدو أن تكون أوهاما وتزيينا من الشيطان الذي لايكف عن الكيد لبني أدم ليرديهم ويوقعهم في الإثم والضرر!.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">مع الناس / 2/ 39 للشيخ محمد سعيد رمضان البوطي</h3>
<h3 style="text-align: right; ">ما حكم بيع الدخان ؟ حكم التبغ من حيث تعاطيه والتعامل المالي به يتبع قرار الأطباء في اثره على جسم الإنسان ومن المعلوم ان اطباء العالم متفقون على انه يسبب اضرارا متنوعة في جسم الشخص الذي يتعاطاه اذن فالشرع يقرر وجوب تجنبه وحرمة استعماله، وكل ما حرم بيعه وشراؤه والقاعدة الشرعية في ذلك وهي حديث رسول الله r &#8221; لا ضرر ولا ضرار &#8220;.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 6 / ص 440)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">قَ</span>وْلُهُ : ( وُصُولُ دُهْنٍ ) وَمِنْهُ دُخَانٌ لَا عَيْنَ فِيهِ كَالْبَخُورِ ، بِخِلَافِ مَا فِيهِ عَيْنٌ كَالدُّخَانِ الْمَشْهُورِ الْآنَ ق ل . وَعِبَارَةُ عَبْدِ الْبَرِّ : وَمِنْهُ يُؤْخَذُ أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبَخُورِ أَوْ غَيْرِهِ إلَى جَوْفِهِ لَا يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ فَتْحَ فِيهِ لِذَلِكَ ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا ، أَيْ فِي الْعُرْفِ ، وَأَمَّا الدُّخَانُ الْحَادِثُ الْآنَ الْمُسَمَّى بِالنَّتِنِ لَعَنَ اللَّهُ مِنْ أَحْدَثَهُ فَإِنَّهُ مِنْ الْبِدَعِ الْقَبِيحَةِ ، فَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الزِّيَادِيُّ أَوَّلًا بِأَنَّهُ لَا يُفْطِرُ لِأَنَّهُ إذْ ذَاكَ لَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ حَقِيقَتَهُ ، فَلَمَّا رَأَى أَثَرَهُ بِالْبُوصَةِ الَّتِي يَشْرَبُ بِهَا رَجَعَ وَأَفْتَى بِأَنَّهُ يُفْطِرُ .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">حاشية البجيرمي على الخطيب &#8211; (ج 13 / ص 200)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">(</span> وَيَحْرُمُ مَا يَضُرُّ الْبَدَنَ أَوْ الْعَقْلَ ) وَمِنْهُ يُعْلَمُ حُرْمَةُ الدُّخَانِ الْمَشْهُورِ لِمَا نُقِلَ عَنْ الثِّقَاتِ أَنَّهُ يُورِثُ الْعَمَى وَالتَّرَهُّلَ وَالتَّنَافِيسَ وَاتِّسَاعَ الْمَجَارِي . ا هـ . ق ل وَقَوْلُهُ : مَا يَضُرُّ الْبَدَنُ قَالَ الْأَذْرَعِيُّ : الْمُرَادُ الضَّرَرُ الْبَيِّنُ الَّذِي لَا يُحْتَمَلُ عَادَةً لَا مُطْلَقُ الضَّرَرِ شَوْبَرِيٌّ .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">تحفة الأحوذي &#8211; (ج 4 / ص 416)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">تَ</span>نْبِيهٌ : اِعْلَمْ أَنَّ بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ اِسْتَدَلَّ عَلَى إِبَاحَةِ أَكْلِ التُّنْبَاكِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا } وَبِالْأَحَادِيثِ الَّتِي تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ . قَالَ الْقَاضِي الشَّوْكَانِيُّ فِي إِرْشَادِ السَّائِلِ إِلَى أَدِلَّةِ الْمَسَائِلِ بَعْدَمَا أَثْبَتَ أَنَّ كُلَّ مَا فِي الْأَرْضِ حَلَالٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ مَا لَفْظُهُ : إِذَا تَقَرَّرَ هَذَا عَلِمْت أَنَّ هَذِهِ الشَّجَرَةَ الَّتِي سَمَّاهَا بَعْضُ النَّاسِ التُّنْبَاكَ وَبَعْضُهُمْ التوتون لَمْ يَأْتِ فِيهَا دَلِيلٌ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِهَا وَلَيْسَتْ مِنْ جِنْسِ الْمُسْكِرَاتِ وَلَا مِنْ السُّمُومِ وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، فَمَنْ زَعَمَ أَنَّهَا حَرَامٌ فَعَلَيْهِ الدَّلِيلُ وَلَا يُفِيدُ مُجَرَّدُ الْقَالِ وَالْقِيلِ اِنْتَهَى .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">قُلْتُ : لَا شَكَّ فِي أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ لَكِنْ بِشَرْطِ عَدَمِ الْإِضْرَارِ ، وَأَمَّا مَا إِذَا كَانَتْ مُضِرَّةً فِي الْآجِلِ أَوْ الْعَاجِلِ فَكَلَّا ثُمَّ كَلَّا . وَقَدْ أَشَارَ إِلَى ذَلِكَ الشَّوْكَانِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ بِقَوْلِهِ : وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَوْ عَاجِلًا ، وَأَكْلُ التُّنْبَاكَ وَشُرْبُ دُخَانِهِ بِلَا مِرْيَةٍ وَإِضْرَارُهُ عَاجِلًا ظَاهِرٌ غَيْرُ خَفِيٍّ ، وَإِنْ كَانَ لِأَحَدٍ فِيهِ شَكٌّ فَلْيَأْكُلْ مِنْهُ وَزْنَ رُبْعِ دِرْهَمٍ أَوْ سُدُسِهِ ثُمَّ لِيَنْظُرْ كَيْفَ يَدُورُ رَأْسُهُ وَتَخْتَلُّ حَوَاسُّهُ وَتَتَقَلَّبُ نَفْسُهُ حَيْثُ لَا يَقْدِرُ أَنْ يَفْعَلَ شَيْئًا مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا أَوْ الدِّينِ ، بَلْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَقُومَ أَوْ يَمْشِيَ ، وَمَا هَذَا شَأْنُهُ فَهُوَ مُضِرٌّ بِلَا شَكٍّ . فَقَوْلُ الشَّوْكَانِيِّ : وَلَا مِنْ جِنْسِ مَا يَضُرُّ آجِلًا أَمْ عَاجِلًا لَيْسَ بِصَحِيحٍ . وَإِذَا عَرَفْت هَذَا ظَهَرَ لَك أَنَّ إِضْرَارَهُ عَاجِلًا هُوَ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِ إِبَاحَةِ أَكْلِهِ وَشُرْبِ دُخَانِهِ . هَذَا مَا عِنْدِي وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ .</h3>
<h3 style="text-align: right; ">بغية المسترشدين</h3>
<h3 style="text-align: right; ">(مسألة: ك): قال: لم يرد في التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف، وكل ما يروى فيه من ذلك لا أصل له، بل مكذوب لحدوثه بعد الألف، واختلف العلماء فيه حلاً وحرمة، وألفت فيه التآليف، وأطال كل في الاستدلال لمدعاه، والخلاف فيه واقع بين متأخري الأئمة الأربعة، والذي يظهر أنه إن عرض له ما يحرمه بالنسبة لمن يضره في عقله أو بدنه فحرام، كما يحرم العسل على المحرور والطين لمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تجربة نفسه بأنه دواء للعلة التي شرب لها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الخلاف القوي في الحرمة يفيد الكراهة.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">البيجوري / 1 / 343</h3>
<h3 style="text-align: right; ">(قوله : ولا بيع ما لا منفعة فيه) قيل منه الدخان المعروف لأنه لا منفعة فيه بل يحرم استعماله لأن فيه ضررا كبيرا وهذا ضعيف وكذا القول بأنه مباح، والمعتمد انه مكروه بل قد تعتريه الوجوب كما اذا يعلم الضرر بتركه وحينئذ فبيعه صحيح، وقد تعتريه الحرمة كما اذا كان يشتريه بما يحتاجه لنفقة عياله او تيقن ضرره اهـ</h3>
<h3 style="text-align: right; ">قرة العين بفتاوى اسماعيل زين / 225</h3>
<h3 style="text-align: right; ">سؤال : ما حكم شرب الدخان في المسجد بغير تلويث له كأن كان هناك طفايات معدة لذلك ؟</h3>
<h3 style="text-align: right; ">الجواب والله الموفق للصواب : ان شرب الدخان من حيث هو مكروه عند الشافعية وبعض العلماء وعند بعضهم حرام لكونه من الأشياء ذوات الروائح الخبيثة بالإضافة الى ما فيه من تلويث الفم والصدر وصرف بعض الأموال. اما اذا كان في المسجد كما ذكر في السؤال او في غيره من مجالس العلم فهو حرام لما فيه من من انتهاك حرمة المكان لأن الله تعالى يقول &#8221; فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ &#8221; اي اوجب الله وامر ان تعظم وتحترم، وشرب الدخان فيها ينافي الإحترام والتعظيم ويخشى على فاعلخ سوء الخاتمة لهذا اذا لم يكن هناك قصد للإنتهاك والا فان قصد شارب الدخان في المسجد المعاندة والإنتهاك فلا شك انه يرتد والعياذ بالله والمساجد من شعائر الله التي يجب تعظيمها.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">260/بغية المسترشدين</h3>
<h3 style="text-align: right; ">(مسألة: ب): يحرم بيع التنباك ممن يشربه أو يسقيه غيره، ويصح لأنه مال كبيع السيف، ونحو الرصاص والبارود من قاطع الطريق، والأمرد لمن عرف بالفجور، والعنب ممن يتخذه خمراً ولو ظناً، فينبغي لكل متدين أن يجتنب الاتجار في ذلك، ويكره ثمنه كراهة شديدة. أما بيع آلة الحرب من الحربي فباطل، ويجوز خلط الطعام الرديء بالطعام الجيد إن كان ظاهراً يعلمه المشتري، وليس ذلك من الغشّ المحرم، وإن كان الأولى اجتنابه، إذ ضابط الغشّ أن يعلم ذو السلعة فيها شيئاً لو اطلع عليه مريدها لم يأخذها بذلك المقابل فيجب إعلامه حينئذ.</h3>
<h3 style="text-align: right; ">مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج  &#8211; (ج 8 / ص 39)</h3>
<p style="text-align: right; "><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: right; "><span style="font-weight: normal; font-size: 13px; ">(</span> و الْأَصَحُّ أَنَّ صَرْفَهُ ) أَيْ الْمَالَ وَإِنْ كَثُرَ ( فِي الصَّدَقَةِ ، وَ ) بَاقِي ( وُجُوهِ الْخَيْرِ ) كَالْعِتْقِ ( وَالْمَطَاعِمِ وَالْمَلَابِسِ الَّتِي لَا تَلِيقُ بِحَالِهِ لَيْسَ بِتَبْذِيرٍ ) أَمَّا فِي الْأُولَى فَلِأَنَّ لَهُ فِي الصَّرْفِ فِي الْخَيْرِ غَرَضًا وَهُوَ الثَّوَابُ ، فَإِنَّهُ لَا سَرَفَ فِي الْخَيْرِ كَمَا لَا خَيْرَ فِي السَّرَفِ ، وَحَقِيقَةُ السَّرَفِ : مَا لَا يُكْسِبُ حَمْدًا فِي الْعَاجِلِ وَلَا أَجْرًا فِي الْآجِلِ ، وَمُقَابِلُ الْأَصَحِّ فِيهَا يَكُونُ مُبَذِّرًا إنْ بَلَغَ مُفَرِّطًا فِي الْإِنْفَاقِ</h3>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1533&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2010/kontroversi-hukum-rokok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kala Musim Haji Bersemi</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/kala-musim-haji-bersemi/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/kala-musim-haji-bersemi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 22:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[adab berhaji]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[kiat haji]]></category>
		<category><![CDATA[mabrur]]></category>
		<category><![CDATA[musim haji]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1077</guid>
		<description><![CDATA[ 
Musim haji telah tiba. Kota suci Mekah digeruduk lagi oleh jutaan muslimin dari seantero jagad. Kulit putih, kulit hitam, kulit coklat, kulit kuning,semuanya, tumpah ruah di kitaran Baitullah, Ka’bah, di bulan ini.
Thawaf, sa’i, lempar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-1078" title="كعبة" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/11/كعبة.jpg" alt="كعبة" width="240" height="180" />Musim haji telah tiba. Kota suci Mekah <em>digeruduk</em> lagi oleh jutaan muslimin dari seantero jagad. Kulit putih, kulit hitam, kulit coklat, kulit kuning,semuanya, tumpah ruah di kitaran Baitullah, Ka’bah, di bulan ini.</p>
<p>Thawaf, sa’i, lempar jumrah, serta wukuf Arafah akan memarakkan Zul Hijjah di tanah Haram sana. Lautan manusia bergelombang kain ihram serba putih niscaya kian mengentalkan nuansa islami yang teduh dan damai. Aduhai, alangkah beruntungnya orang yang hadir di sana.</p>
<p>Tidak bisa dibantah. Haji, sebagai rukun islam kelima, wajib dikerjakan oleh muslim yang telah berkemampuan. Patokan kemampuan ini diurai dengan panjang lebar oleh ilmu fikih. Simak saja <em>tausiyah </em> Habib Abdullah bin Husein bin Thahir berikut ini.</p>
<p>“Bergegaslah menunaikan ibadah haji dan umrah kala kalian sudah berkesanggupan. Awas, jangan diakhir-akhirkan, jangan pula berleha dan mengulur waktu pelaksanaan keduanya. Allah SWT berfirman,</p>
<p><em>“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”</em></p>
<p>Baginda Nabi SAW mewanti-wanti, “Barangsiapa memiliki bekal dan kendaraan yang memadai untuk pergi ke masjidil haram namun ia tak jua berhaji, maka terserah, ia menghendaki mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani.”</p>
<p><strong>HAJI DENGAN ILMU</strong></p>
<p>Setiap ibadah ada ilmunya. Begitu pula Haji. Agar pelaksanaannya berjalan dengan benar dan lancar, alangkah bijaknya bila kita mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Apa sajakah itu? simak saja lanjutan uraian Habib Abdullah berikut,</p>
<p>“Jika kalian berniat melaksanakan haji, mula-mula, persiapkan bekal cukup dari harta yang halal. Lalu, jika kalian mampu, bantulah terlebih dahulu orang-orang kurang mampu sekitarmu. Sebab, esensi haji adalah perkataan bagus dan semangat untuk berbagi.”</p>
<p>“Bekali pula diri kalian dengan pengetahuan fikih haji,  agar kalian bisa melaksanakan prosesi secara sempurna dan terhindar dari kerusakan ibadah. Lazimilah wirid-wirid serta zikir-zikir yang disunnahkan kala bepergian atau berhaji, seperti doa turun dari kendaraan, naik kendaraan, memandangi kota-kota dan lain sebagainya. Bacalah wirid-wirid yang sekiranya tidak membebani diri kalian. Jikalau kalian tidak menghafal satu wirid pun, kalian cukup berujar</p>
<p dir="rtl">اَللَّهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه  وسلم  وَأَعُوذُ بِكَ مِمَّا ا سْتَعَا ذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه  وسلم</p>
<p>”Ya Allah, aku minta kepada-Mu segala kebaikan yang pernah diminta oleh hamba, sekaligus nabi-Mu, Muhammad SAW. dan aku berlindung kepada-Mu dari segala yang pernah dimintakan perlindungan kepada-Mu oleh nabi-Mu, Muhammad SAW.”</p>
<p>Usai melaksanakan haji, jangan lupa menziarahi masjid kebesaran baginda Nabi SAW. Sambangi pula tempat-tempat bernilai sejarah lainnya. Perbanyak salawat kepada Nabi SAW di perjalanan, di kota Madinah, dan di setiap keadaan kalian. Dan berucaplah dengan lisan dan hati kalian setiap saatnya, dalam aktifitas maupun diam, “Ya Allah, karunialah aku kesempurnaan dalam melaksanakan ajaran Nabi SAW, dhahir maupun bathin, dalam keadaan sehat dan selamat, dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Pengasih.”</p>
<p><strong>HARUS DENGAN AKHLAK</strong></p>
<p>Benar adanya, berhaji kurang afdhal bila tidak disertai mampir ke pusara baginda Nabi SAW. sebab, Ka’bah dan pusara baginda nabi adalah dua monumen yang tak bisa dipisahkan. Kita beroleh hidayah dan bisa berkiblat ke Ka’bah adalah berkat perjuangan beliau SAW. Bisa mengunjungi kedua tempat itu adalah anugerah yang luar bisa. Begitu pula mengunjungi tempat-tempat bernilai sejarah lainnya. Habib Abdullah menasehatkan,</p>
<p>“Jika seseorang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk sampai ke tempat-tempat yang mulia dan penuh berkah, maka seyogianya ia memuji kebesaran-Nya dan mensyukuri karunia itu. Janganlah sampai ia lupa diri dan melanggar etika kepantasan di tempat-tempat tersebut. Jangan sampai pula ia bermalas-malasan dan membuang waktu. Akan tetapi, hendaklah ia sebisa mungkin melaksanakan adab yang baik dalam tindak-tanduknya, dhahir dan bathin, dan menjalankan ibadah dengan cara yang paling sempurna. Terpenting lagi, hendaklah ia berprasangka baik kepada semua orang, dan tidak meremehkan siapa pun. Sebab, di Haramain, dosa kecil nilainya amat besar. Sebagaimana pula nilai pahala dilipatgandakan di situ<em>.” </em><em>Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaik la Syarika lak</em>.</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1077&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/kala-musim-haji-bersemi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Terindah</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/jual-beli-yang-paling-indah/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/jual-beli-yang-paling-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 15:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[
Yunus bin Ubaid adalah saudagar kain di Basrah, Irak. Dia menjual bermacam-macam kain di tokonya. Yang seharga 200 dirham ada, yang seharga 400 dirham juga ada. 
Yunus adalah saudagar yang saleh. Setiap waktu salat tiba, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><img class="alignleft size-full wp-image-1038" title="JUAL BELI" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/11/JUAL-BELI.jpg" alt="JUAL BELI" width="288" height="193" />Yunus bin Ubaid adalah saudagar kain di Basrah, Irak. Dia menjual bermacam-macam kain di tokonya. Yang seharga 200 dirham ada, yang seharga 400 dirham juga ada. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Yunus adalah saudagar yang saleh. Setiap waktu salat tiba, dia pergi ke masjid, dan toko dia titipkan kepada keponakannya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Suatu kali, kala dia sedang pergi ke masjid, tokonya didatangi lelaki badui (a’robi). Dia datang dari pedalaman padang pasir. Dengan polosnya dia bilang hendak membeli kain seharga 400 dirham. Keponakan Yunus mengambilkan kain yang harganya 200 dirham. Si badui terkagum-kagum melihat kain tersebut. Dia jatuh cinta dan, tanpa menawar lagi, dia membayar 400 dirham lalu pergi membawa itu kain. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Di tengah jalan dia berpapasan dengan Yunus yang sudah selesai salat. Yunus langsung mengenali kain di tangan si badui. “Berapa ini kamu beli?” tanya Yunus. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Empat ratus dirham,” jawab si badui. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ah, kain ini tak lebih dari dua ratus dirham,” tukas Yunus. “Ayo balik, kembalikan ini.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Tidak apa-apa, aku sudah ridha. Lagi pula di kampung kami kain ini berharga lima ratus dirham.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Kembalilah karena berbuat baik dalam agama lebih baik dibanding dunia seisinya,” tegas Yunus. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Badui itu kembali ke toko. Sesampai di toko, uangnya yang 200 dirham dikembalikan oleh Yunus. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Sepulang lelaki badui, terjadi perdebatan. Keponakan Yunus memprotes pamannya. “Tidakkah kamu malu, tidakkah kamu takut pada Allah?! Kau ambil keuntungan yang begitu besar dan kau abaikan perbuatan baik kepada muslimin,” tegas Yunus. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Demi Allah, dia tidak mengambilnya kecuali karena dia ridha dengannya,” sergah si keponakan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Mbok ya kamu mikir, bagaimana seandainya kamu jadi dia? Kamu itu harus menyukai untuk dia apa yang kamu suka untuk dirimu.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><strong>IHSAN </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Yunus bin Ubaid bukan orang sembarangan. Dia adalah ulama ahli hadis yang sangat terkenal dari kalangan tabi’ut tabi’in. Dia berasal dari Kufah namun wafat pada tahun 139 H di Basrah. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ulama kok berdagang? Memangnya kenapa. Berdagang adalah pekerjaan mulia asalkan berdagangnya dengan cara yang benar, dalam arti jujur dan tidak berkhianat. “Pedagang yang jujur dan terpercaya,” sabda Nabi s.a.w., “bersama para nabi, para shiddiqin dan para syahid.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Imam Yunus adalah saudagar yang jujur dan terpercaya. Tidak hanya jujur dan terpercaya, dia juga berbuat ihsan dalam berdagang, seperti ditunjukkan dalam cerita di atas. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ihsan adalah sesuatu yang diperintahkan Allah, seperti disebut dalam firman-Nya: </span></span></p>
<h3 style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: x-small;">إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي</span></span></h3>
<h3 style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: x-small;">يعظكم لعلكم تذكرون </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">(</span></span><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: x-small;">النحل</span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">: 90)</span></span></h3>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>Sungguh Allah menyuruh (berbuat) adil, ihsan, memberi pada kerabat, melarang zina, perbuatan mungkar dan kezhaliman. Allah memberi nasihat pada kalian mudah-mudahan kalian ingat.”</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> (An-Nahl: 90) </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Lihat, di antara serangkaian kebajikan yang diperintahkan, berbuat adil dan ihsan ditempat pada bagian terdepan. Apakah adil itu? </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Adil ialah berbuat sesuatu secara berimbang, timbal balik dan setimpal. Hakim mengganjar penjahat dengan hukuman yang setimpal, itu adil namanya. Membalas perbuatan buruk orang lain dengan perbuatan yang sama, dan membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang sama, itu juga adil. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ihsan adalah berbuat lebih dari itu. Membalas kejahatan orang lain dengan kebaikan, dan membalas kebaikan orang lain dengan perbuatan yang lebih baik lagi, itulah ihsan. Dengan kata lain, ihsan ialah berbuat baik pada orang lain, lebih dari yang seharusnya dan yang selazimnya, sementara adil adalah berbuat sesuai dengan yang seharusnya dan yang selazimnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Adil dalam berdagang ialah menjual dengan jujur dan yang selazimnya. Jujur berarti tidak berbohong serta tidak mengurangi timbangan, takaran atau ukuran. Yang dimaksud “selazimnya” di sini ialah berbuat sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku. Misalnya, menurut adatnya, orang berdagang itu mengambil laba dan melakukan usaha-usaha tertentu supaya orang tertarik untuk membeli, kalau perlu dengan harga yang cukup tinggi, asalkan hal itu dilakukan dengan cara yang jujur dan tanpa paksaan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Demikian pula, menurut galibnya, orang membeli ingin mendapat barang yang baik dengan harga yang semurah-murahnya. Nah, jika pembeli berusaha menawar sedemikian rupa supaya mencapai maksud tersebut, itu adil namanya. Dengan syarat, dia tidak berbohong dan tidak pula menipu. Lain halnya jika harga murah itu dia peroleh dengan cara mengecoh penjual atau dengan berbohong (misalnya, yang dia ambil barang mahal tapi dia bilang barang yang murah), ini jelas bukan adil. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Adapun ihsan dalam berdagang ialah berbuat melampaui batas keadilan. Misalnya, menjual tidak dengan mengambil laba yang terlalu besar, walaupun si pembeli ridha, seperti diperbuat Imam Yunus tadi. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Dengan demikian, jual beli dengan ihsan ialah jual beli yang penuh kepedulian kepada lawan transaksi. Yakni jual beli dengan keinginan berbuat baik kepada pembeli atau penjual, dengan siapa kita bertransaksi. Jual beli yang tidak merugikan pihak lain. Pendek kata, jual beli ihsan bukan jual beli dengan keinginan meraup keuntungan tanpa memperdulikan pihak lain. Orang lain mau rugi atau tidak, orang lain jadi sengsara atau tidak gara-gara menjual barangnya pada kita atau gara-gara membeli barang kita, kita masa bodo – ini bukan jual beli ihsan namanya, melainkan jual beli yang bengis, yang memangsa pihak lain. Dengan kata lain, jual beli ihsan ialah jual beli dengan lapang dada, ringan tangan dan murah hati. Nabi s.a.w. bersabda: </span></span></p>
<h3 style="margin-bottom: 0in;"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-family: Traditional Arabic;"><span style="font-size: x-small;">رَحِمَ اللهُ رَجُلاً سَمَحًا إِذَا بَاعً وَإِذَا اْشتَرَى</span></span></span></h3>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>Mudah-mudahan Allah merahmati lelaki yang murah hati ketika menjual dan ketika membeli.”</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> (riwayat Al-Bukhari)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Nabi s.a.w. adalah contoh yang paling baik. Jika menjual barang, beliau memberitahukan harga pengambilan barang tersebut. Sebaliknya, jika membeli, beliau memberi lebih dari harga. Misalnya, beliau pernah membeli unta milik Jabir bin Abdullah r.a. dengan harga satu uqiyah (40 dirham). Beliau memerintahkan Bilal membayar 40 dirham lebih, padahal 40 dirham itu saja sudah harga yang sangat bagus karena unta itu bukan unta yang istimewa.  Tentu saja Abdullah sangat senang menerima uang pembelian dari Nabi s.a.w. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Sebenarnya Jabir membutuhkan unta itu, yaitu untuk mengairi kebunnya. Tapi 40 uqiyah adalah harga yang bagus. Dengan uang itu ia bisa membeli unta yang lebih bagus, dan masih ada sisanya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Jabir lalu berjalan pulang sambil membawa uang tersebut. Belum jauh ia melangkah, dia dipanggil Nabi s.a.w. Jabir berpikir dengan hati kebat-kebit, “Pasti unta akan dikembalikan padaku. Tak ada yang lebih menjengkelkan daripada untaku.” Ternyata betul. Beliau memang mengembalikan untanya. Namun uangnya tidak beliau minta. “Ambil unta ini, dan ambil pula uangnya untuk kamu,” sabda beliau. Coba, siapa tidak senang bertransaksi jual beli dengan Nabi s.a.w. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Sayang, kecenderungannya yang terjadi sekarang adalah praktek-praktek yang berlawanan dengan prinsip ihsan. Yang berlaku adalah suatu prinsip: “Kalau barang ini bisa dimahalkan semahal-mahalnya, buat apa dimurahkan.” Itulah yang terjadi, terutama, pada industri-industri besar yang sangat kental warna kapitalismenya. Sebagai contoh, harga pesawat HP dan pulsanya. Dengan memanfaatkan ketidak-tahuan masyarakat konsumen, mereka mematok harga yang begitu mahal. Buktinya, setelah harga yang mahal itu dulu, kini harganya dibanting secara luar biasa. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Memang ini tidak haram. Sebab, berbuat ihsan dalam jual beli itu tidak wajib, sedang yang wajib adalah berbuat adil. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Perlu ditegaskan, mengambil laba yang besar itu tidak haram dengan syarat tidak ada unsur paksaan serta tidak ada unsur kezhaliman. Jika di situ ada unsur kezhaliman, maka haram hukumnya. Misalnya, dengan membohongi pembeli, entah melalui iklan-iklan yang menyesatkan atau suatu trik yang mengecoh. Yang terakhir ini, contohnya, adalah harga ikan Lou Han. Melalui rekayasa yang luar biasa canggihnya, orang dibikin tersihir sehingga mau membayar mahal hingga puluhan juta untuk satu ikan yang nilai sejatinya tak mencapai Rp 100 ribu. Buktinya, ketika rekayasa itu kini tidak ada lagi, harganya merosot begitu drastis. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Menimbun adalah satu cara lain yang cukup efektif untuk membuat harga jadi mahal. Bila yang ditimbun itu bahan pangan pokok, maka haram hukumnya. Terutama di saat-saat terjadi kelangkaan barang. Begitu pula dengan barang-barang lain yang, meski bukan makanan pokok, tetapi merupakan hajat hidup orang banyak yang bersifat darurat, sehingga penimbunan bakal menyengsarakan orang banyak. Menurut banyak ulama, barang seperti ini diqiyaskan dengan makanan pokok. Contohnya adalah: gula, minyak goreng dan (yang lagi ramai) minyak tanah. Di saat terjadi kelangkaan seperti sekarang, menimbun adalah perbuatan yang zhalim dan haram. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1037&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/jual-beli-yang-paling-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merenungi Keajaiban Al-Qur’an</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/merenungi-keajaiban-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/merenungi-keajaiban-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 23:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Betapa bergeloranya keinginan dan hasrat saya sejak waktu-waktu yang lalu untuk dapat menulis di situs kesayangan kita ini sesuatu yang bertalian dengan kebesaran dan keistimewaan Al-Qur’an. Hari ini saya sangat bersyukur kepada Allah karena akhirnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1013" title="142914836_55cd9836e4_o" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/11/142914836_55cd9836e4_o.jpg" alt="142914836_55cd9836e4_o" width="234" height="180" />Betapa bergeloranya keinginan dan hasrat saya sejak waktu-waktu yang lalu untuk dapat menulis di situs kesayangan kita ini sesuatu yang bertalian dengan kebesaran dan keistimewaan Al-Qur’an. Hari ini saya sangat bersyukur kepada Allah karena akhirnya Allah membukakan kesempatan bagi saya untuk itu.</p>
<p>Di dalam surat An-Nisaa’ ayat 82 Allah mengingatkan:</p>
<p><strong> </strong><strong>أَفَلَا يَتَدَبَّرُون</strong><strong>َ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا </strong>Ayat ini memberikan peringatan kepada manusia bahwa Al-Qur’an semata-mata datang dari Allah, sebab sekiranya saja ia berasal dari selain Allah, niscaya manusia akan mendapati di dalamnya berbagai macam perselisihan.</p>
<p>Ayat di atas dapat dijadikan sumber sanggahan bagi orang-orang yang meragukan kebenaran Al-Qur’an, baik di masa-masa dahulu atau pun terhadap mereka yang senantiasa menyudutkan Islam dan Al-Qur’an di saat ini.</p>
<p>Terbersit dari ayat yang saya kutipkan di atas bahwa merenungi Al-Qur’an dapat membuat kita menemukan kedamaian hati. Mengapa demikian? Sebab kitab Allah ini sunyi dari segala bentuk kontroversi atau perselisihan. Berbeda dengan buku-buku ciptaan manusia, seberapa pun kehebatan penulisnya, selalu saja terbuka untuk menjadi bahan perdebatan. Tulisan dan karya-karya manusia yang paling sempurna, tetap menyisakan celah argumentasi dan kelemahan.</p>
<p>Al-Qur’an memang jauh berbeda. Melalui <em>”tadabbur</em>”, manusia akan dapat memahami gambaran dan ilustrasi-ilustrasi indah yang diberikan Allah. Dengan bertadabbur, manusia akan bisa menemukan celah-celah keutamaan Al-Qur’an. Sebagian dari keutamaan ini ialah tidak pernah sepinya ayat-ayat yang dikandungnya dari kesadaran. Ayat-ayat ini selalu memberikan rasa aman dan hukum atas suatu yang dipercaya kebenarannya.</p>
<p>Namun kita harus yakin sepenuh hati bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis ini tidak sekedar konsumsi untuk dibaca atau dihafal. Tidak pula ayat-ayat suci ini sekedar untuk dilombakan dengan alunan suara indah. Perhatikan peringatan Allah:</p>
<p align="right"><strong>أَفَلَا يَتَدَبَّرُون</strong><strong>َ الْقُرْآَنَ</strong><em></em></p>
<p><em>”Apakah mereka tidak merenungi Al-Qur’an?”</em> . kata tadabbur dimaksudkan merenungi atau berkontemplasi. Untuk dapat melakukan perenungan, kita harus meyakini setiap kebenaran yang dikandungnya.</p>
<p>Oleh karena itulah, maka Allah mengingatkan mereka yang hati-hatinya tertutup rapat. Hati-hati yang tertutup tidak akan terpengaruh sedikitpun oleh kebesaran ayat-ayat Allah. Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari hati yang sudah terkunci rapat. Oleh karena itu, surat Muhammad 24 yang saya kutipkan di atas kemudian berlanjut dengan</p>
<p align="right"><strong>أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا</strong><em></em></p>
<p><em>”Ataukah hati nurani mereka terkunci rapat.?</em></p>
<p>Mengapa Allah menggambarkan hati mereka yang tidak melakukan tadabbur terhadap Al-Qur’an sebagai hati yang terkunci rapat? Sebab hati yang tertutup adalah ibarat cendela-cendela rumah yang tak pernah dibuka. Bagaimana sinar matahari akan dapat memancar masuk ke dalam rumah itu? Cendela-cendela ini perlu dibuka agar sang surya dapat menembus masuk dan membuat rumah yang gelap gulita menjadi terang. Hati nurani harus senantiasa dibuka di hadapan Al-Qur’an agar kita dapat menyingkap tabir kehidupan.</p>
<p>Di dalam surat As-Shaad ayat 29 Allah mengingatkan: <em>”Ini sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan keberkatan, agar mereka merenungi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mengerti mau berpikir</em>.” Isyarat Allah ini menjadi peringatan bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan semata-mata untuk dibaca dengan cepat dan tergesa-gesa, sebab memperlakukan Al-Qur’an demikian ini hanyalah perbuatan sia-sia. Al-Qur’an perlu dikaji dan direnungkan agar manusia dapat melihat dengan seksama sesuatu yang <em>”dititipkan Allah”</em> berupa kebenaran, petunjuk, dan kemenangan.</p>
<p>Nilai berkah yang paling tinggi ada pada Al-Qur’an. Ia mengandung bobot syariat dan perundangan yang mampu menciptakan perbaikan dan kedamaian bagi manusia. Al-Qur’an adalah Kalam Ilahi yang tidak dibatasi oleh dimensi tempat atau pun waktu. Sepanjang masa, manusia akan senantiasa membutuhkan kandungan isinya. Ayat-ayatnya bukan sekedar pendorong, atau motivator dan himbauan belaka. Dalam perjalanan sejarah yang demikian panjang, terbukti kitab suci ini mampu membangun aneka perbaikan bagi semua aspek kehidupan.</p>
<p>Kebesaran Al-Qur’an digambarkan Allah di berbagai ayat. Di antara lukisan kebesaran ini, surat Al-Hasyr 21 memberikan gambaran yang sungguh luar biasa:</p>
<p align="right"><strong>لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ </strong><strong>عَلَى جَبَل</strong><strong>ٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ </strong></p>
<p>Di dalam ayat ini, Allah seolah berbicara kepada manusia bahwa seandainya Al-Qur’an diturunkan di atas sebuah gunung, dan kalau seandainya saja gunung dilengkapi dengan indra, akal dan hati, pasti manusia akan dapat menyaksikan betapa gunung akan menjadi khusyuk. Manusia akan dapat melihat, betapa kekerasan dan ketinggian gunung ini luluh karena takut kepada Allah!</p>
<p>Permisalan pada ayat di atas adalah suatu isyarat yang menunjukkan betapa pentingnya mengkaji kandungan Al-Qur’an dengan tekun dan sungguh-sungguh. Ini karena kitab Allah ini mempunyai rentang yang teramat luas serta cakrawala terbentang, wawasan yang dalam dan jauh, sarat dengan segala sesuatu yang teramat berharga.</p>
<p>Ketika pertama kali mendengar seseorang membaca awal surat At-Thuur, Umar bin Khathab yang dikenal gagah berani, menjadi sempoyongan dan menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia pun kemudian pulang dan jatuh sakit selama sebulan sehingga banyak orang yang menjenguknya. Betapa khalifah yang sehebat itu, menjadi lemah lunglai tiada berdaya oleh kebesaran Al-Qur’an!</p>
<p>Di dalam perjalanan masa yang begini panjang, Al-Qur’an telah membuktikan dirinya sebagai kitab suci yang tak pernah dapat ditandingi oleh kitab apa pun. Sungguh Maha Benar Allah yang di dalam surat Yunus ayat 38 menantang orang-orang yang memojokkan Al-Qur’an agar mereka membuat satu surat saja seperti yang terdapat dalam kitab suci ini. Kenyataannya, sejak dahulu kala sampai kini, tidak satu pun karya manusia yang mampu menyerupai Al-Qur’an.</p>
<p>Dari sekian banyak aspek keajaiban yang melekat pada Al-Qur’an, ia mampu menggambarkan kebijakan besar dalam kehidupan manusia ke dalam kalimat-kalimat singkat. Perhatikan bagaimana surat Al-Baqarah ayat 187 melukiskan <em>”istri-istri kamu sebagai pakaian untukmu, dan kamu sebagai pakaian</em> <em>bagi mereka.”</em> Amati pula betapa Al-Qur’an mengilustrasikan kekuatan di luar kekuatan Allah tak ubahnya seperti rumah laba-laba yang begitu rentan dan mudah hancur, sebagai yang tersirat dalam surat Al-Hajj 73.</p>
<p>Berapa kali dalam hidup ini kita mengkhatamkan Al-Qur’an. Sekali pun dibaca beribu kali, ternyata kemanisan  dan kedalaman kata-kata yang digunakannya tak pernah meninggalkan kesan monoton dan membosankan. Bahkan, setiap kali dipelajari, setiap kali pula ia mampu menampilkan pesan-pesan baru yang mengagumkan.</p>
<p>Keharmonisan yang ditampilkan Al-Qur’an juga sungguh luar biasa. Cobalah menyandingkan satu saja ayat Al-Qur’an di antara bermacam teks dan bacaan berbahasa Arab lainnya. Orang akan segera dapat membedakan mana yang datang dari Al-Qur’an dan mana yang bukan.</p>
<p>Di dalam surat Al-Israa’ ayat 88, Allah memastikan bahwa seandainya semua jin dan manusia berkumpul untuk menciptakan sebuah kitab serupa Al-Qur’an, tentu mereka tak akan pernah dapat berhasil meski pun satu dengan lainnya saling membantu. Ayat ini diturunkan Allah sebagai sanggahan terhadap perkataan orang-orang sebagaimana disitir Allah dalam Al-Anfaal 31, <em>”Kalau kami menghendaki, niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini.”</em></p>
<p>Kelebihan yang lain dari kitab suci ini adalah ciri komprehensif yang dimilikinya. Ia memuat berbagai reasoning (alasan) dan penjabaran pada contoh dan misal kejadian baik mengenai kehidupan di dunia mau pun di akherat. Al-Qur’an juga menyikapi fakta menyangkut berbagai problema keluarga, hukum, politik, militer, etika, pengalaman sejarah dan sebagainya.</p>
<p>Al-Qur’an juga sangat realistik. Isi kandungannya tidaklah sekali-kali didasarkan pada dugaan semata. Kisah-kisah yang dimuatnya terdokumentasikan dengan rapi dan riil. Ciri universal yang melekat pada Al-Qur’an akan mampu memberikan manfaat kepada semua orang di semua lapisan tanpa membedakan kapan dan di mana mereka berada. Al-Qur’an bukanlah sebuah kitab yang khusus untuk waktu, tempat atau masyarakat tertentu.</p>
<p>Perhatikan betapa pula Al-Qur’an telah menjawab perjalanan waktu. Pengaruh abadi yang dimiliki kitab Allah ini senantiasa menguakkan bermacam rahasia seiring dengan semakin lanjutnya usia peradaban manusia, dan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan sain. Al-Qur’an patut disebut sebagai suatu keajaiban luar biasa, Kalam Ilahi yang diturunkan kepada manusia terpilih sebagai suatu Maha Karya melalui seorang nabi ummi di suatu tempat yang tandus dari kemampuan membaca dan menulis. Al-Qur’an utuh sepanjang jaman karena tak pernah dan tak akan pernah terkontaminasi oleh tambahan atau pun reduksi. Al-qur’an selamanya tak akan tersentuh oleh bentuk distorsi apa pun.</p>
<p>Banyak ilmuan yang memiliki kepekaan pikiran, khususnya yang sering menekuni firman-firman Allah, tak habis-habisnya menaruh rasa kagum. Dengan perundangan dan syariat Allah dalam Al-Qur’an mereka dapat menyentuh suatu keyakinan, bahwa dia atas setiap orang pandai pasti ada Yang Maha Pandai, Yang Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yaitu Allah. Di atas Allah tak akan pernah ada lagi!</p>
<p>Al-Qur’an yang merupakan sumber pandangan Allah telah menempuh perjalanan panjang berabad-abad lamanya. Namun, ia tetap tumbuh bersemi mengguncangkan jiwa manusia yang paling dalam. Ia senantiasa mendapat kedudukan terhormat dan paling mulia di antara semua kitab yang pernah ada di dunia.</p>
<p>Akhirnya, di sela-sela besarnya rasa syukur saya kepada Allah setelah menyelesaikan tulisan ini, saya memohon ampun kepadaNya. Ternyata, teramat sedikit yang dapat saya tulis tentang kebesaran dan keagungan Al-Qur’an. Ternyata, terlalu kecil diri saya ini untuk bisa menyingkap tabir kedigdayaan Al-Qur’an. Saya memang terlalu dhoif untuk bisa menjangkau apa yang saya inginkan. Semoga Allah selalu mengampuni diri saya&#8230;..!<strong><em> </em></strong></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=1012&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/merenungi-keajaiban-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Salatku, Penyejuk Sukmaku</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/salatku-penyejuk-sukmaku/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/salatku-penyejuk-sukmaku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 07:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=962</guid>
		<description><![CDATA[
Dapatlah kiranya kita bayangkan betapa indahnya sholat yang dilakukan Rasul dalam hidupnya sehingga beliau pernah berkata, ”Dan dijadikanlah penyejuk hatiku di dalam sholat.”
Sholat seorang muslim yang diawali dengan mengambil air wudlu yang benar dan menghadapkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-967" title="shalat" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/10/shalat.jpg" alt="shalat" width="240" height="159" /></p>
<p>Dapatlah kiranya kita bayangkan betapa indahnya sholat yang dilakukan Rasul dalam hidupnya sehingga beliau pernah berkata, ”<em>Dan dijadikanlah penyejuk hatiku di dalam sholat.”</em></p>
<p>Sholat seorang muslim yang diawali dengan mengambil air wudlu yang benar dan menghadapkan hati dan tubuhnya ke hadirat Allah semata, seharusnya memang menjadi penyejuk sukma yang tiada bandingnya. Ketika takbir diucapkan, seisi dunia ini menjadi kecil dan tiada berarti lagi, sebab yang besar dan patut dipuja, tempat bersandar dan meminta pertolongan dan petunjuk hanyalah Allah semata.</p>
<p>Di dalam rukun Islam sholat ditempatkan pada urutan kedua setelah kalimat syahadat. Ini menjadi bukti betapa luhur dan agungnya kedudukan ibadah yang satu ini. Sholat adalah komunikasi langsung seorang muslim dengan Allah. Betapa tidak, sholat penuh dengan pengakuan segala kebesaran Allah. Sholat sarat dengan doa dan permohonan. Sholat juga merupakan perwujudan sikap rendah diri manusia terhadap sang Khalik. Ketika dahi ditempelkan diatas sajadah, setiap muslim menyadari betapa kecil dan tiada berartinya manusia ini dihadapan Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Perintah sholat diturunkan melalui proses dan kejadian yang istimewa. Dibandingkan dengan perintah peribadatan yang lain seperti puasa dan zakat, kewajiban melaksanakan sholat diterima Rasul melalui misi perjalanan Isra’ dan M’iraj yang penuh keajaiban. Ini memberikan suatu petunjuk bahwa sholat memang memiliki kedudukan yang teramat khusus di hadapan Allah. Maka tidaklah mengherankan apabila peribadatan yang satu ini sama sekali tidak berpeluang untuk ditinggalkan dan tetap harus dijalankan sekali pun hanya dengan gerakan mata.<span id="more-962"></span></p>
<p>Maka sungguh beruntung orang-orang yang tekun menjaga dan mendirikan sholatnya. Di dalam surat Al Mu’minuun ayat 1 dan 2 Allah memuji orang-orang mukmin,</p>
<p>”<em>Beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya.” </em>Khusyuk dalam surat ini merupakan penjelasan Allah bahwa seorang mukmin yang berbahagia adalah orang-orang yang tatkala sholat selalu mengingat Allah, memusatkan semua pikiran dan panca inderanya serta bermunajat kepada Allah. Orang-orang ini menyadari dan merasakan bahwa ketika sholat, mereka benar-benar sedang berhadapan dengan Tuhannya. Maka oleh karena itu seluruh badan dan jiwanya diliputi kekhusyukan, kekhidmatan dan keikhlasan, disertai dengan rasa takut dan diselubungi dengan penuh harapan.</p>
<p>Untuk dapat memenuhi syarat kekhusyukan ini ada tiga perkara yang harus dipenuhi oleh seorang yang sedang sholat :</p>
<p>Yang pertama adalah mengerti tentang apa yang sedang dia baca. Ini sesuai dengan ayat,</p>
<p>”<em>Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” </em>(QS Muhammad : 24)</p>
<p>Yang kedua adalah ingat kepada Allah dan takut kepada ancamanNya, sesuai dengan firmanNya,</p>
<p>”<em>Dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” </em>(QS Thaha : 14)</p>
<p>Yang ketiga, karena sholat berarti bermunajat kepada Allah, maka pikiran dan perasaan harus selalu mengingat dan tidak lengah atau lalai. Sekali pun ketidak-khusyukan seseorang di dalam sholatnya tidak akan membatalkan sholat ini, namun para ulama menggambarkan sholat seperti ini laksana tubuh yang tidak berjiwa.</p>
<p>Selain menjadi alat komunikasi dan pendekatan yang utama, sholat seyogyanya juga menjadi benteng yang paling kokoh di dalam menjaga seseorang dari segala perbuatan dosa dan munkar. Sholat yang dilakukan dengan benar dan penuh khidmat semata karena Allah, pasti akan menjaga kadar iman seseorang menuju mukmin hakiki. Ada orang yang berkata bahwa sholat seseorang tidak merupakan jaminan perilakunya. Permasalahannya adalah kualitas sholat ini. Orang yang masih suka berdusta atau mengambil hak orang lain sementara dia juga melakukan sholat, perlu dikaji lebih jauh kadar kualitas sholatnya. Perhatikan petunjuk Allah dalam surat Al-Ankabuut ayat 45,</p>
<p>”<em>Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Qur’an dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (sholat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em></p>
<p><em> </em>Ayat di atas memerintahkan Rasul agar selalu membaca, mempelajari dan memahami Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, ia akan mengetahui kelemahan dan rahasia dirinya sehingga ia pun dapat memperbaiki serta membina dirinya sesuai dengan tuntunanNya. Perintah ini juga ditujukan kepada seluruh kaum muslimin. Penghayatan seseorang terhadap kalam Ilahi yang pernah dibacanya itu akan termanifestasi pada sikap, tingkah laku dan budi pekerti orang yang membacanya.</p>
<p>Setelah Allah memerintahkan membaca dan mempelajari serta melaksanakan ajaran-ajaran Al-Qur’an, maka Allah memerintahkan pula agar kaum muslimin mengerjakan sholat wajib lima waktu. Sholat ini hendaklah dikerjakan dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya serta dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan. Sangat dianjurkan pula agar sholat dikerjakan lengkap dengan sunnah-sunnahnya. Jika sholat dikerjakan sedemikian rupa, maka ia akan dapat menghalangi dan mencegah orang dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar.</p>
<p>Ketika seseorang berdiri mengerjakan sholat, ia pun memohon petunjuk Allah dengan doanya, ”<em>Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan</em> <em>nikmat dan bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai atau orang-orang yang sesat.” </em>Ini adalah perwujudan dari keyakinan orang yang melaksanakan sholat dan menjadi bukti bahwa dirinya sangat bergantung kepada nikmat Allah. Oleh karena itu, ia pun berusaha sebisa mungkin untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya.</p>
<p>Sebagian Ahli tafsir berpendapat bahwa yang memelihara orang yang mengerjakan sholat dari perbuatan keji dan munkar adalah sholat itu sendiri. Artinya, selama orang ini memelihara sholatnya, maka sholat ini akan senantiasa memeliharanya. Perhatikan peringatan Allah dalam Al-Baqarah 233</p>
<p>: ”<em>Peliharalah semua sholatmu dan sholat wustha. Berdirilah di dalam sholatmu karena Allah dengan khusyuk.”</em></p>
<p><em> </em>Di dalam salah satu sabdanya, Rasul berkata : ”<em>Barang siapa yang memelihara sholat, ia akan memperoleh cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, dan barang siapa yang tidak memeliharanya, ia tidak akan memperoleh cahaya, petunjuk dan tidak pula keselamatan. Pada hari kiamat, ia akan dikumpulkan dengan Qarun, Fir’aun, Haman dan Ubai bin Khalaf.” </em>Nabi menerangkan pula bagaimana orang-orang yang mengerjakan sholat lima waktu dengan sungguh-sungguh disertai rukun dan syarat-syaratnya serta dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan. Nabi melukiskan orang-orang ini seakan dosa mereka dicuci lima kali sehari sehingga tidak sedikit pun yang akan tertinggal dari dosa-dosa ini. Bahkan Rasul menggambarkan sungai di depan pintu rumah dimana orang-orang ini mandi dan membersihkan tubuh mereka lima kali sehari sehingga tak akan tersisa lagi pada tubuh mereka itu daki dan kotoran.</p>
<p>Ketika kita mencita-citakan sesuatu yang berarti dalam hidup kita, biasanya kita bersedia mengorbankan banyak hal untuk mencapai keinginan kita itu. Kita tahu, semua pengorbanan dan jerih payah yang kita lakukan, kelak akan memberikan suatu kebahagiaan dan kepuasan. Sholat yang kita lakukan sepanjang usia kita merupakan sarana pendekatan diri kepada Allah yang tiada bandingnya. Ada kalanya mungkin terasa berat sebagaimana difirmankan Allah dalam Al-Baqarah 45, ”<em>Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan mengerjakan sholat. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” </em>Namun, dibalik yang terasa berat ini terdapat jalan menuju cita-cita yang demikian luhurnya dan jauh tiada berbanding dengan rasa enggan dan pengorbanan kita.</p>
<p>Sholat adalah ibadah yang sangat utama dimana seorang muslim bermunajat kepada Allah lima kali dalam sehari. Menurut riwayat Imam Ahmad, setiap kali Rasul menghadapi kesulitan dan musibah, beliau segera melakukan sholat. Demikian pula yang dilakukan oleh sahabat-sahabat beliau. Sabda Rasul yang saya kutipkan diawal tulisan ini menjadi bukti betapa kecintaan, kedekatan dan kesetiaan beliau kepada sholat. Kedua kaki beliau yang mulia itu bahkan sempat membengkak karena lamanya beliau berdiri ketika sholat.</p>
<p>Kalau tadi saya menggambarkan bagaimana seseorang berusaha dengan segala daya untuk meraih cita-cita dalam hidupnya, maka yang ingin diraih oleh orang-orang yang khusyuk dalam sholat adalah keridhaan Allah. Bagi orang-orang ini, mendirikan sholat tidaklah dirasakan berat, sebab pada saat-saat begitu mereka seolah hanyut dan tenggelam di dalam munajat mereka sehingga tiadalah mereka merasakan dan mengingat yang lain, termasuk di dalamnya segala kesukaran dan penderitaan hidup yang mereka alami. Hal ini tidaklah membuat kita heran sebab barangsiapa yang mengetahui hakikat apa yang dicarinya, niscaya ringan baginya mengorbankan apa saja untuk memperolehnya.</p>
<p>Sholat juga berperan sebagai pembentuk akhlak manusia. Di dalam surat Al-Maarij ayat 20-22 Allah melukiskan sifat-sifat manusia yang manakala tertimpa kesusahan berkeluh kesah dan ketika memperoleh kebaikan menjadi kikir. Perkecualiannya hanyalah orang-orang yang melaksanakan sholat dengan khusyuk. Sebagai rukun Islam yang kedua, sholat menjadi pembeda antara orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir. Orang yang senantiasa melakukan sholat akan selalu terikat hubungan dan ingat kepada Tuhannya. Sebaliknya, mereka yang lalai kepada sholat, akan putuslah hubungannya dengan Allah. Hal ini dapat kita pahami dari firman Allah.</p>
<p>”<em>Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka</em> <em>sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.”</em> (QS Thaha : 14)</p>
<p>”<em>Kecuali orang-orang yang melakukan sholat” </em>sebagaimana terfirman dalam surat Al-Maarij diatas adalah suatu label istimewa yang diberikan Allah. Namun ayat ini tidak berakhir disini, sebab kemudian Allah memberikan ciri bagi mereka itu, yaitu orang-orang yang ketika sholat, mereka melakukannya dengan penuh kekhusyukan. Orang yang khusyuk dalam sholatnya, hati dan pikirannya akan tertuju kepada Allah. Timbul dalam hatinya rasa takut terhadap siksa Allah karena menyadari dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Ia pun penuh berharap agar limpahan pahala, rahmat dan karuniaNya tercurah kepadanya. Kekhusyukan sholat ini seakan menanamkan janji di dalam hatinya untuk menjauhi larangan-larangan Allah. Hatinya pasrah dan tenteram penuh tawakkal. Orang-orang yang mengerjakan sholat sedemikian ini akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar.</p>
<p>Sholat juga mendidik kita menjaga disiplin diri. Waktu-waktu sholat yang telah tertentu lima kali dalam sehari adalah tindakan ubudiyah yang kalau dilaksanakan dengan baik akan menanamkan disiplin yang tinggi. Ketentuan melakukan sholat lima kali dalam sehari pada waktu-waktu yang sudah ditentukan merupakan perintah Ilahiah yang tidak boleh ditawar-tawar lagi. Pelaksanaan perintah Allah pada waktu-waktu yang sudah ditentukan ini menanamkan sikap disiplin pada diri setiap muslim di dalam menjalankan kewajiban sehari-hari. Amati isyarat Allah dalam Al-Isra’ 78 :</p>
<p>”<em>Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula sholat subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan oleh para malaikat.”</em></p>
<p><em> </em>Ayat diatas menerangkan waktu-waktu sholat yang lima. Tergelincir matahari untuk waktu sholat zuhur dan asyar, gelap malam untuk waktu maghrib dan isya’. Ayat ini memerintahkan agar Rasul mendirikan sholat sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam serta mendirikan sholat subuh. Maksudnya ialah mendirikan sholat lima waktu yakni Zuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan Subuh pada waktu yang telah ditentukan.</p>
<p>Mendirikan sholat lima waktu berarti mengerjakan sholat lengkap dengan rukun dan syarat-syaratnya sesuai dengan ygn diperintahkan Allah, baik menurut lahir ataupun batin. Secara <em>lahir</em> berarti sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan agama, dan secara <em>batin</em> berarti mengerjakan sholat dengan hati, tunduk dan patuh kepada Allah karena menyadari keagungan dan kekuasaan Allah, pencipta seluruh alam ini.</p>
<p>Berbicara tentang ibadah sholat yang teramat luhur ini, teringatlah kita pada salah satu sholat yang demikian besar artinya yaitu sholat Jum’at yang wajib hukumnya dilaksanakan sekali dalam seminggu. Selain diisi dengan sholat Jum’at berjamaah, kegiatan ini juga diisi khutbah Jum’at yang sarat dengan wasiat taqwa dan doa. Betapa pentingnya sholat ini sehingga tatkala waktunya telah tiba, Allah memerintahkan kita meninggalkan semua kegiatan dan menyegerakan diri menuju dzikrullah.</p>
<p>Tak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan kita meninggalkan kegiatan mulia ini kecuali yang sudah ditentukan seperti hujan atau sakit. Kita diberi Allah kenikmatan tak terhitung dalam hidup ini sementara yang diwajibkan untuk kita laksanakan tidaklah banyak. Di dalam surat Al-Jumu’ah ayat 9 Allah berseru,</p>
<p>”<em>Wahai orang-orang yang beriman, apabila diserukan untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual- beli karena yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” </em>Seruan Allah ini jelas ditujukan kepada kelompok orang-orang beriman. Saya yakin, tak seorang pun diantara kita, yang ketika mendengar seruan ini, merasa tidak termasuk orang-orang beriman yang sedang mendapat seruan &#8230;&#8230;.. !</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=962&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/salatku-penyejuk-sukmaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Harga Sebiji Kenikmatan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/harga-sebiji-kenikmatan-ilahi/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/harga-sebiji-kenikmatan-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 15:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Bayangkan seandainya hidup kita seperti sebuah drama pantomim, drama yang hanya bisa ditampilkan melalui alunan gerak dan ekspresi wajah. Tarian hampa dan hembusan keheningan terpaksa harus dinikmati. Mungkin, dalam drama yang sesungguhnya, semua ini bisa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-900" title="sebiji" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/10/sebiji2-300x225.jpg" alt="sebiji" width="240" height="180" />Bayangkan seandainya hidup kita seperti sebuah drama pantomim, drama yang hanya bisa ditampilkan melalui alunan gerak dan ekspresi wajah. Tarian hampa dan hembusan keheningan terpaksa harus dinikmati. Mungkin, dalam drama yang sesungguhnya, semua ini bisa saja tampak menyenangkan. Tetapi, sekali lagi, bayangkan seandainya hidup ini harus berjalan seperti drama pantomim. Alangkah sunyinya!<span id="more-899"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu alasan mengapa manusia menjadi makhluk yang paling maju di bumi ini adalah karena kemampuan komunikasi yang baik. Dengan kemampuan ini hidup kita tidak lagi seperti sebuah pantomim. Tidak lagi sunyi. Suara lantan bisa menghasilkan ekspresi yang baik. Sadar atau tidak, apa saja yang telah kita pelajari sejak dilahirkan ke bumi ini sebagian besar melalui komunikasi. Tanpa komunikasi yang baik ini anda tidak akan menjadi sehebat dan secerdas sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu yang lalu, di rumah sakit, saya mendapati seorang ibu penderita kanker lidah stadium tiga. Kanker itu membuatnya susah menutup mulut. Ia berusaha untuk selalu menutup mulutnya dengan susah payah. Entah karena malu atau apapun, yang jelas ia terus berusaha sampai saya katakan bahwa ia tidak harus demikian. Suara yang mampu ia keluarkan hanyalah kata-kata tak jelas yang susah saya mengerti. Saya sodorkan secarik kertas padanya untuk menulis apa yang hendak ia katakan. Sungguh, saya bersyukur kepada Allah, diantara sekian banyak kekurangan yang saya miliki, saya  masih diberikan kelebihan dan kenikmatan dengan cara dijauhkan dari cobaan seperti ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ayal lagi, nikmat lidah sehat yang Allah berikan kepada kita merupakan salah satu anugerah yang tak ternilai. Dengan fungsi yang luar biasa, organ ini mengantar kita menuju peradaban modern. Lidah berperan sentral dalam komunikasi yang kita jalin sehari-hari. Dengan perabot ciptaan Allah yang istimewa ini, hidup anda jauh lebih berarti dibanding sebuah drama pantomim tanpa suara. Jika anda perhatikan lagi, Allah telah memudahkan perjalanan hidup kita ini dengan Maha Karya yang tiada tara. Segala sesuatu yang kita butuhkan telah diberiNya, lalu apa yang telah kita perbuat sebagai balasannya ?</p>
<p style="text-align: justify;">Masih ingatkah kita pada kisah Nabi Musa a.s yang mencabut rambut dari dagu Firaun. Murka dengan itu, Firaun memberi Musa a.s dua pilihan yaitu botol susu dan bara api. Atas rahmat Allah, ia pun memilih bara api dan harus memakannya hingga lidahnya menjadi kaku dan cacat. Ketika Musa telah besar dan menjadi rasul, ia takut kemampuan bicaranya yang kurang baik membuatnya mudah didustakan. Ia memohon agar saudaranya Harun juga diberi status nabi untuk membantunya melakukan dakwah Islam. Dalam surat Al-Qashas ayat 34 Allah berfirman :</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَأَخِي هَارُونُ </strong><strong>هُوَ أَفْصَح</strong><strong>ُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>”Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku, Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkata-an)ku; Sesungguhnya Aku khawatir mereka akan mendustakanku.&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ia juga berharap kekakuan lidahnya diringankan oleh Allah sebagaimana tersebut dalam Al-Quran surat Thahaa ayat 27 :</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَاحْلُل</strong><strong>ْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>”Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Begitu besar arti dari lidah yang Allah berikan sampai-sampai Dia menjadikan Nabi khusus sebagai juru bicara Musa a.s.</p>
<p style="text-align: justify;">Lidah memiliki dua fungsi utama yaitu memanipulasi makanan dan mengartikulasi suara. Memanipulasi makanan meliputi fungsi merasakan makanan, mengunyah dan menelan. Fungsi perasa lidah dibawa oleh bentukan papil atau tonjolan di permukaan lidah yang disebut dengan <em>taste bud</em>. Ketika seseorang hendak makan secara otomatis otak mengirim sinyal ke rongga mulut agar produksi air liur diperbanyak sekaligus untuk mempersiapkan kerja <em>taste bud</em>. Sinyal kimiawi dari rasa makanan dikirim ke otak untuk kemudian dipersepsi dan direspon dengan sensasi rasa asam, asin, manis atau pahit.</p>
<p style="text-align: justify;">Boleh jadi anda penggemar makanan yang serba enak, boleh jadi anda menggandrungi <em>fast-food</em> atau <em>junk food</em>, boleh jadi anda berbahagia karena memiliki istri yang pandai memasak, tetapi ingatlah selalu bahwa semua itu tidak akan ada artinya jika <em>taste bud</em> ciptaan Allah dalam lidah anda tak bekerja. Bayangkan jika kerja bagian ini kacau, taruhlah <em>taste bud</em> anda selalu salah mempersepsi salah satu rasa, pasti anda tidak tertarik lagi dengan makanan kesukaan. Sirup jadi terasa pahit, korma menjadi asin atau roti menjadi asam. Dunia makanan pasti hancur berantakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita mengunyah, lidah selalu mendorong makanan ke arah samping sehingga proses kunyah bisa berjalan dengan baik. Apabila kita tidak memiliki lidah maka kita akan makan dengan posisi kepala miring untuk mengarahkan makanan ke sisi gigi. Fungsi manipulasi makanan berikutnya adalah menelan. Pada saat makanan telah memasuki ruang orofaring (tenggorok belakang mulut) secara otomatis otot lidah yang berjumlah delapan buah akan mendorong makanan kebawah. Lidah juga ikut mendesak epiglotis (katup penutup saluran napas) agar makanan tidak salah jalur masuk ke paru. Subhanallah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para penderita kanker lidah stadium tiga yang harus menjalani operasi pengangkatan lidah hingga sepertiga bagian belakang, akan segera diikuti dengan pemasangan pipa lambung seumur hidup untuk mengganti fungsi kunyah dan telan lidah. Lebih parah lagi, mereka mungkin menjalani prosedur operasi <em>gastrostomy</em>, yaitu membuat lubang di perut ke arah lambung sehingga makan tidak lagi melewati mulut. Alangkah beruntungnya kita yang masih memiliki lidah yang sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Fungsi terakhir dan teramat istimewa dari lidah adalah pengartikulasian suara atau proses menghasilkan suara. Lidah sendiri bukanlah suatu organ penentu munculnya suara. Produksi suara dihasilkan oleh <em>rima glotis</em> (pita suara). Saat kita berbicara, udara dalam paru dihembuskan ke dalam rongga mulut sehingga menggetarkan rima glotis dan menghasilkan suara. Tetapi, tanpa lidah anda hanya akan mampu mengucapkan huruf vokal seperti a, i, u, e dan o. Itu pun anda masih harus menggerakkan otot-otot wajah. Sedangkan pelafalan huruf konsonan mutlak membutuhkan lidah. Gerakan lidah menyentuh langit-langit, dasar mulut maupun bibir akan membuat huruf konsonan terdengar jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Struktur anatomi lidah kita tidak jauh berbeda dengan lidah hewan mamalia seperti kambing atau anjing. Tetapi, anjing dan kambing tak mampu berkomunikasi serta menghasilkan artikulasi seperti kita, padahal ia mampu menggerakkan lidahnya dengan baik. Hewan mamalia tak pernah mampu membuat suatu kalimat dengan intonasi, fluktuasi dan resonansi seperti yang kita lakukan. Hal ini bisa terjadi hanya karena Allah menyempurnakan penciptaan kita. Allah menghendaki kita menjadi makhlukNya yang sempurna. Dengan kemampuan itu anda bisa memberikan pelajaran kecil kepada putra-putri anda. Dengan komunikasi, sekolah-sekolah, bangku perkuliahan dan ceramah agama disampaikan. Dengan memiliki lidah yang serbaguna, anda unggul sekian juta persen dibanding hewan mamalia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemampuan berekspresi yang kita miliki sungguh mengagumkan. Manusia mampu berdiskusi, mengutarakan pendapat dan berinteraksi diantara sesama, hanya karena Allah menghendaki kita lebih unggul dari makhluk lain. Hewan dan tumbuhan tak mampu melakukan hal sederhana yang satu ini. Dunia mereka tak jauh berbeda dengan suatu drama pantomim, sementara dunia anda sangat berwarna, penuh dengan keceriaan dan dilumuri dengan keberkahan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Nikmat Allah yang satu ini adalah salat satu mukjizat terbesar yang kita miliki. Indahnya dunia suara manusia bukanlah semata untuk dinikmati tetapi juga disyukuri. Dibalik suatu kenikmatan selalu tersimpan pesan tanggung jawab. Lidah memang mampu menghiasi dunia kita, menyibukkan kita dalam kenikmatan. Seringkali kenikmatan ini membuat kita terlena sehingga terjadi penyimpangan fungsi. Saling mengejek, berkata-kata kotor, menggunjing, mudah menyumpah dan lain sebagainya adalah contoh nyata bagaimana kita tidak mensyukuri nikmat ini. Pergunakanlah ia di jalan kebaikan dengan memberi berita-berita gembira, berkata-kata yang baik dan sering-sering menyebut namaNya di waktu pagi dan pet supaya kita tidak lalai.</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي </strong><strong>نَفْسِكَ تَضَرُّعًا</strong><strong> وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>”Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al A’raaf 205)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampai anda terbuai, karena lidah juga mampu menjatuhkan anda serendah-rendahnya di padang Maghsyar kelak. Jangan pernah memberinya alasan untuk membuat kesaksian atas apa yang telah ia lakukan di atas bumi, sebagaimana tersebut dalam surat An-Nuur ayat 24 :</p>
<h3 style="text-align: right;"><strong>يَوْمَ تَشْهَد</strong><strong>ُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><em>”Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kita layaknya sekelompok kafilah. Berjalan seharian, berkejaran dengan gelap yang tak pernah sanggup untuk dikejar. Gelap tetap datang. Cahaya siang pun muncul kembali dari belakang. Dalam keadaan yang relatif sama, ia justru yang mengejar kita. Dan tentu saja, kita mudah untuk dikejar! Begitu juga dengan nikmat Allah. Kita seperti mengejar mereka, berburu dengan waktu memanfaatkannya hingga ke jalan yang tidak benar. Namun, suatu kali ia akan berubah mengejar kita dari belakang. Membelalak mata kita dengan segala kejelekan yang pernah kita perbuat atasnya. Mudah-mudahan Allah membantu kita dalam menetapkan batas-batas kenikmatan yang Ia berikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke ibu dengan kanker lidah tadi, akhirnya ia harus menjalani operasi yang luar biasa radikal. Dua pertiga lidah bagian depannya dipotong habis, kemudian sebagian dari otot dadanya diangkat dan disambung untuk menggantikannya. Ia tak lagi bisa menelan bahkan untuk air liurnya sendiri. Ia tak lagi mampu merasakan nikmatnya makanan. Ia juga tak mampu lagi berucap sehuruf pun. Belum cukup dengan itu, ia harus menjalani operasi kedua untuk membuat lubang permanen di perut ke arah lambung sebagai lubang makan. Saya yakin dengan operasi seradikal itu, ia mungkin sudah menjual semua perhiasan, menjual petak-petak sawahnya di desa atau bahkan menggadaikan rumahnya. Benar-benar penderitaan yang teramat menyedihkan. Demi sebuah lidah, harga sebiji kenikmatan Ilahi.</p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=899&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/harga-sebiji-kenikmatan-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggapai Kesucian di Hari `Idul Fitri</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/menggapai-kesucian-di-hari-idul-fitri/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/menggapai-kesucian-di-hari-idul-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 08:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Idul Fitri dapat kita maknai sebagai kembali kepada kesucian. Satu bulan penuh kita berusaha membersihkan hati dari niat yang buruk, dendam, benci, iri hati dan penyakit hati lainnya. Dalam satu bulan ini pula kita berusaha ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-828" title="idulFitri_1430" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/09/idulFitri_1430.jpg" alt="idulFitri_1430" width="360" height="365" />Idul Fitri dapat kita maknai sebagai kembali kepada kesucian. Satu bulan penuh kita berusaha membersihkan hati dari niat yang buruk, dendam, benci, iri hati dan penyakit hati lainnya. Dalam satu bulan ini pula kita berusaha membersihkan kehormatan diri dari tindak-tanduk maksiat, dosa dan kefasikan hingga akhirnya menyucikan harta kita dari barang haram dan <em>syubhat</em> lewat zakat fitrah. Tidaklah asing bila puasa dijadikan sebagai sarana penyucian diri, proses <em>Tazkiyatu al Nafsi:.<span id="more-827"></span><br />
</em></p>
<h3 style="text-align: right;">قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (*) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا</h3>
<p>“Sungguh, berbahagialah orang yang mensucikan dirinya dan celakalah orang yang mencemarinya.” (Al Syams [91]: 9-10)</p>
<p>Sehubungan dengan tujuan penyucian, ada empat hal yang mesti kita sucikan dan bersihkan.</p>
<p><strong><em>Pertama, </em></strong>penyucian diri. Coba perhatikan kisah Sumayyah, seorang sahabat wanita yang sudah tua renta lagi lemah. Dia mendapatkan siksaan bertubi-tubi yang dilakukan dedengkot Kafir Quraish. Begitu hebatnya siksaan yang menimpa dirinya, hingga Rasul mengizinkannya  untuk mengucapkan kalimat kufur. Namun Sumayyah justru menyambut izin Rasul itu dengan ungkapan yang membuat geram tokoh-tokoh Quraish. Ia berkata:</p>
<p>“Sampaikanlah salamku kepada Rasulullah; sesungguhnya Sumayyah yang telah Allah sucikan hatinya dengan iman, tidak akan sanggup mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur.”</p>
<p>Abu Jahal yang sedari awal telah bernafsu menghabisi nyawa Sumayyah semakin mendapatkan pembenaran untuk mengakhiri hidupnya usai mendengar penuturannya. Abu Jahal dengan bengisnya menusukkan tombak ke rahim Sumayyah. Akhirnya Sumayyah menjadi wanita pertama yang menjadi martir<em> </em>dalam Islam.</p>
<p>Inilah penyucian pertama, penyucian diri.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong><em>, </em>penyucian moral. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dan Abu Dawud yang menceritakan seorang wanita yang mengaku telah melakukan perbuatan zina. Ia berkata kepada Rasul:</p>
<p>“Ya Rasululah, aku sudah berzinah, sucikan aku.”</p>
<p>Ia meminta Rasululah saw menghukumnya dengan hukuman mati. Rasululllah menolak dan menyuruhnya datang keesokan harinya. Esoknya ia datang dan meyakinkan Rasul bahwa ia telah hamil.</p>
<p>“Pulanglah,” kata Rasul saw, “sampai engkau melahirkan anakmu.” Setelah melahirkan ia datang lagi dengan bayi merah yang dibungkus kain. Rasul yang penyayang menolaknya, “Pulanglah, susukan anakmu sampai engkau sapih.” Setelah sekian lama, ia datang lagi dengan bayi dan sekerat roti.</p>
<p>“Ini, ya Nabi Allah, sudah kusapih, dan ia sudah makan makanan.”</p>
<p>Nabi menyuruh seorang sahabat merawat anak wanita itu. Beliau menetapkan hukuman rajam. Ketika darahnya membersit dan mengenai wajah Khalid, Khalid memaki wanita itu. Rasulullah murka, “Hai Khalid, berlaku ramahlah. Demi dzat yang diriku ada di tanganNya, wanita ini telah bertaubat dengan suatu taubat (taubat yang begitu suci) sehingga kalau ada pendosa besar bertaubat dengan taubatnya,  Allah akan mengampuni dosanya.”</p>
<p>Wanita Ghamidiyah ini tidak sanggup hidup memikul dosa. Ia memilih menyucikan dirinya dengan hukum Islam. Ia memilih taubat.</p>
<p>Dalam hal ini, menarik untuk mengutip ucapan Imam Husain: “Lebih baik mati dalam kehormatan daripada hidup dalam kehinaan.” Inilah yang dimaksud dengan <em>Tazkiyah Al Farj</em>, penyucian kehormatan, penyucian moral.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong><em>, </em>penyucian harta<em>. </em>Marilah kita tengok kisah wanita berikutnya terkait  proses penyucian harta. Adalah Sayyidah Fatimah, wanita suci yang mendapat gelar sebagai <em>Sayyidatu al Nisa` fi Al `Alamin</em>, yang pernah bernadzar puasa tiga hari demi kesembuhan kedua buah hatinya yang sedang sakit, Al Hasan dan Al Husain ra.</p>
<p>Namun, dalam rentetan hari-hari itu, setiap hendak berbuka datang ke kediamannya seseorang dari tiga kalangan, orang miskin, mantan tawanan perang dan anak yatim dengan kebutuhan yang sama yaitu meminta belas kasih.</p>
<p>Di hari pertama, ketika mau berbuka, seorang miskin berdiri di pintu rumah, “Wahai keluarga Muhammad, aku ini orang Islam yang miskin. Berilah makanan padaku, semoga Allah menjamu kalian dengan hidangan surga.” Fatimah menyerahkan seluruh makanan dan menghabiskan malam dalam keadaan lapar. Pada hari kedua dan ketiga terjadi peristiwa yang sama. Hanya kali ini yang muncul adalah mantan tawanan dan anak yatim.</p>
<p>Pada hari keempat, Imam Ali membawa Al Hasan dan Al Husain menemui Nabi saw. Nabi yang mulia melihat kedua cucunya gemetar karena lapar bak anak burung yang kedinginan. Sesudah itu, Nabi menemui Fatimah di mihrabnya. Matanya sudah cekung. Nabi segera memeluk putrinya, “Ya Allah, tolonglah keluarga Muhammad yang hampir kelaparan ini.” Waktu itu turunlah ayat dalam surah Al Insan 5-12.</p>
<p>Inilah proses penyucian harta. Seberat apapun beban yang harus ditanggung, <em>toh</em> ia tidak sampai hati membiarkan saudaranya sengsara dalam kemiskinan, kelaparan dan ketidakberdayaan. Keluarga Nabi (<em>Ahlul Bait</em>) di atas telah memberikan tauladan kepada kita untuk mempunyai empati dan solidaritas sosial kepada sesama. Sungguh sebuah fragmen yang menakjubkan. Demikianlah Islam mengajarkan ‘konsep manusia sempurna’. Sebuah konsep yang mengilustrasikan bagaimana seorang mukmin perlu memiliki kepekaan dan kepedulian atas ketimpangan yang dialami oleh sesamanya.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong><em>, </em>penyucian kekuasaan. Arti dan maksud penyucian kekuasaan adalah bagaimana sebuah kekuasaan mampu mentransmisikan keyakinan, nilai-nilai, ideologi, sekaligus dasar-dasar perjuangan. Kekuasaan mestilah dibimbing oleh nilai-nilai ketrampilan dan kerakyatan. Salah satu potret indah penyucian kekuasaan ini ada pada seorang “singa padang pasir”, Sayidina Umar bin Khathtab ra.</p>
<p>Suatu ketika, Gubernur Azarbaijan, Uthbah bin Farqad, mengirimkan makanan bernama <em>hisbah, </em>terbuat dari minyak samin dan kurma kepada Umar. Katanya, “Kalau kita kirimkan makanan ini kepada Amirul Mukminin Umar bin Khaththab di Madinah, ia akan senang.” Sejurus kemudian, ia menyuruh rakyatnya membikin makanan tersebut dengan kadar yang lebih enak.</p>
<p>Setelah rampung proses pembuatannya, ia mengutus dua kurir ke Madinah untuk menyerahkan makanan itu ke Umar. Sang khalifah membuka dan mencicipinya, “Makanan apa ini?”, tanya Umar</p>
<p>“Makanan ini namanya <em>hisbah. </em>Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab sang kurir.</p>
<p>“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bisa menikmati makanan ini?”, Tanya Umar kembali.</p>
<p>“Tidak. Tidak semua bisa menikmatinya.”</p>
<p>Wajah sang khalifah langsung memerah pertanda marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali <em>hisbah </em>ke negerinya. Kepada gubernurnya ia menulis, “Saya orang pertama yang merasakan lapar kalau rakyat kelaparan dan orang terakhir yang merasakan kenyang kalau mereka kenyang. Makanan semanis ini dan selezat ini bukan dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu.”</p>
<p>Inilah <em>Tazkiyatus Sulthah</em> (penyucian kekuasaan) dari kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, dan golongan. Dan sahabat Umar, sebagai seorang penguasa lebih memilih hidup bersahaja dan sederhana. Beliau membersihkan lingkaran kekuasaannya dari pencemaran berupa KKN. Bagi beliau yang dijuluki sebagai <em>Al Fârûq</em> ini, hidup bukanlah sekedar berjalan, makan dan tidur. Demikian pula mati bukan hanya dikuburkan di dalam tanah. Itu bukanlah hidup dan bukan pula kematian. Namun, hidup adalah mati yang menaklukkan sedang mati ialah hidup yang ditaklukkan.</p>
<p>Oleh karena itu, marilah kita gunakan momentum Idul Fitri 1429 H ini sebagai media pengejewantahan empat penyucian: <strong>penyucian diri, moral, harta dan kekuasaan</strong>. Semua pihak harus berperan aktif dalam menyemai kesucian di pelbagai sektor kehidupan. Kisah Sumayyah telah memberikan contoh dan pelajaran kepada semua pihak untuk memegang teguh prinsip keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Sumayyah telah mengajari kita untuk menjaga hati dan lidah dari ucapan-ucapan yang berbau fitnah, menggunjing, menyakiti orang lain, dan mengafirkan yang tidak sepaham.</p>
<p>Periksa hati kita, tidakkah kita sering memelihara di dalamnya perasaan dengki, sombong, iri hati, dendam dan niat jelek? Lihatlah pula keadaan Fatimah. Ia dan keluarganya memilih lapar daripada membiarkan orang lain lapar. Namun sayang, kita sering mengotori harta kita dengan merampas dan menginjak-injak hak orang lain. Tidak ketinggalan Umar yang mengajari para pemimpin masa kini agar menyampaikan amanah, memberikan kesejahteraan dan pelayanan terbaik demi membahagiakan rakyat yang dipimpin. Bukan malah menyelewengkan amanah yang berakibat kepada kesengsaraan, kemiskinan dan kepapaan.</p>
<p>Akhirnya, marilah kita kembali, bertaubat berserah diri pada aturan Allah, petunjuk Rasul dan keteladanan para <em>Salaf </em>guna menuju ridha ilahi. <strong><em>Ali Akbar bin Agil</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=827&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/menggapai-kesucian-di-hari-idul-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Waktu Dimusnahkan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/saat-waktu-dimusnahkan/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/saat-waktu-dimusnahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 23:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/?p=756</guid>
		<description><![CDATA[Ide-ide kehidupan yang dimunculkan oleh ilmuwan barat selalu membuat kita tak habis berpikir. Berawal dari keengganan untuk berpisah dengan dunia dan ditambah sifat materialis yang amat menonjol, membuat mereka selalu berusaha mencari jalan keluar menuju ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-761" title="untitled" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/09/untitled1.JPG" alt="untitled" width="199" height="215" />Ide-ide kehidupan yang dimunculkan oleh ilmuwan barat selalu membuat kita tak habis berpikir. Berawal dari keengganan untuk berpisah dengan dunia dan ditambah sifat materialis yang amat menonjol, membuat mereka selalu berusaha mencari jalan keluar menuju kehidupan yang abadi. Ketakutan mereka akan kematian sudah tampak sejak jaman dahulu seperti tertulis dalam puisi karya Web Weasel : <em>“I wished that time was an illusion as I hate the fact my foot will soon slide further into my grave”</em>. (aku berharap waktu hanyalah sebuah ilusi sebab aku benci kenyataan bahwa kakiku akan segera beranjak mendekat ke kuburku).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Ide konyol terbaru yang sedang ramai mereka tekuni adalah <em>cryogenic</em>. Dengan teknologi ini mereka berharap paradigma tentang kefanaan manusia bisa diubah. Sementara gagasan bahwa hanya Tuhan lah yang mengatur hidup-mati seseorang bisa diacuhkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;">Cryogenic</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;"> adalah suatu jiplakan dari metode pemumian. Inti dari metode ini adalah mengawetkan tubuh manusia sesempurna mungkin sehingga tak terjadi sedikitpun pembusukan pada jasad mayat. Tak seperti pemumian konvensional yang menggunakan balsam atau <em>coffins,</em> cryogenic menggunakan pendingin dari nitrogen cair yang suhunya bisa mencapai puluhan derajat celcius dibawah nol. Mayat ditempatkan di semacam lemari pendingin dari baja kemudian secara kontinyu dihembuskan nitrogen cair ke dalam kapsul. Dengan suhu yang sangat extrim tersebut memang hampir tak mungkin bakteri dapat hidup untuk melakukan pembusukan. Semua kegiatan metabolisme akan terhenti. Gagasan yang datang berikutnya adalah jika suatu saat bisa ditemukan zat pembangkit nyawa atau ditemukan mesin pemutar waktu, maka jasad mayat tersebut masih utuh dan siap dibangkitkan kembali. Ide brillian yang kacau!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;">Inti yang ingin saya paparkan bukanlah tentang cryogenic melainkan bagaimana manusia memandang waktu. Mungkinkah seseorang yang telah meninggal dibangkitkan kembali di dunia dengan memutar kembali waktu sebagaimana di-imajinasikan oleh pemikir-pemikir barat? atau mungkinkah kita melakukan perjalanan kembali ke masa silam? apa sebenarnya misteri di balik waktu ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;">Besaran atau satuan pokok di muka bumi bisa dimengerti semuanya oleh manusia kecuali waktu. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Panjang, berat, suhu dan cahaya bisa didefinisikan dengan tepat, tetapi lain halnya dengan waktu. Selama ini yang dapat kita definisikan akan waktu hanyalah detik, menit, jam dan seterusnya. Kita tidak pernah bisa tahu kapan waktu berawal dan berakhir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Jika kita mengukur jarak antara Jakarta dan Surabaya misalnya, maka di ujung kota Surabaya kita bisa menentukan jaraknya adalah 900 km. Jika anda tak puas dan ingin mengukur kembali dengan arah berlawanan yaitu dari Surabaya ke Jakarta maka pada ujung kota Jakarta anda juga tetap akan mendapati angka 900 km. Tetapi, bagaimana dengan waktunya? ketika anda menghitung kembali jarak kota dengan arah yang berlawanan, waktu yang sedang terjadi tidaklah sama. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="FI">Kesimpulannya waktu berjalan satu arah seperti panah, sementara besaran yang lain memiliki dua arah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="FI">Misteri waktu tetap tak terpecahkan hingga saat ini. Puluhan filusuf dan ilmuwan peneliti waktu seperti Aristoteles, St Augustine, Emmanuel Kant, Newton, Hegel dan Albert Einstein tetap tak mampu menyingkap tabir misteri waktu. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Newton berpendapat bahwa waktu layaknya seperti sebuah kaleng dimana semua benda ada dan berubah. Ia memisahkan antara waktu dan alam raya, sehingga ketika alam raya musnah, waktu akan tetap ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Albert Einstein tak mau ketinggalan. Dengan teori relativitas umum dan khususnya ia menyangkal semua opini tentang waktu. Menurutnya waktu tak lain adalah dimensi yang memiliki media dan kecepatan sehingga ia bisa dikejar. Ia percaya bahwa ketika seseorang bisa menempuh kecepatan mendekati cahaya yaitu 300 juta meter setiap detiknya maka kita bisa memperlambat waktu yang terjadi di alam setidaknya yang berlaku terhadap diri kita. Jadi menurutnya, jika anda mengendarai pesawat yang bergerak dengan kecepatan cahaya selama 5 hari, anda akan merasa masih di hari yang sama ketika mendarat di bumi! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Bagaimana semua teori itu kita pandang dari sudut Islam? ketika seseorang mampu mempermainkan, menata ulang, dan mengejar waktu maka yang terjadi padanya adalah suatu keabadian. Kita tidak tahu kapan waktu berawal dan begitu juga kapan berakhir karena kita tidak abadi sifatnya. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Rasul, manusia terpilihi sepanjang zaman pun tetap meninggal dan tidak abadi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Anbiyaa’ 8 :</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَمَا جَعَلْنَاهُمْ جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَالِدِينَ</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV"> </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">”Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Keabadian merupakan unsur maya dari dimensi waktu. Kita tak pernah bisa mengerti bagaimana Allah bermula! Pertanyaan yang satu ini akan selalu membingungkan kita. Hal ini tak lain karena asumsi kita bahwa waktu tak berbatas sehingga batasan kapan Allah ada selalu sulit diterima akal manusia. Bagaimana kejadiannya jika saja waktu berbatas? Harus selalu kita yakini bahwa waktu adalah ciptaan Allah sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Makhluk selalu mempunyai batasan umur. Artinya, waktu memiliki awal dan akhir. Tetapi di satu sisi ciptaan yang satu ini sangat istimewa karena sifat-sifatnya yang luar biasa, sampai-sampai Allah bersumpah atasnya dalam surat Al-’Ashr.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Andaikan waktu bisa diputar kembali, dapatkah kita membayangkan kekacauan di muka bumi ini ? Jika saja kematian seseorang bisa ditunda maka alangkah sesaknya jumlah penduduk di dunia ini! </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="FI">Apa kita juga bisa ber-imajinasi di masa modern seperti sekarang ini hidup dinosaurus berukuran raksasa menghiasi kota-kota metropolis! Dan andai detik jam bisa diatur mundur mungkin kita akan kembali ke masa lalu dan menikahi kakek atau nenek kita! Masya Allah &#8230;. Allah telah meletakkan standar kemampuan yang kita miliki dalam mengatur ritme alam. Jika Allah membebaskan wewenang akan ritme alam kepada kita, taruhlah ritme detak jantung kita ini maka sekarang ini anda pasti sudah meninggal. Saya yakin kita akan lupa mengatur detak jantung kita ketika tidur!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="FI">Saya membayangkan waktu layaknya sebuah kepalan tangan raksasa yang menggenggam bola dunia. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Dengan sangat mudahnya, ia putar bumi kita ini dengan kecepatan 1040 mil per jam atau sekitar 0,5 km perdetik. Waktu pula lah yang membuat dunia melompat dari siang ke sore lalu tenggelam di gugusan malam. Tetapi dengan kemampuannya itu, waktu juga mampu menghancurkan bumi kita ini dengan sangat gampang. Coba anda renungkan ! Ketika waktu dimusnahkan, maka bumi akan berhenti berputar secara mendadak. Pada saat yang bersamaan, sisa gaya (resultante gaya) masih berlaku pada setiap benda. Akibatnya, semua benda diatas bumi termasuk gunung, laut dan manusia akan dihempaskan ke udara dengan kecepatan 0,5 km perdetik. Berfirman Allah dalam surat Al-Waaqiah ayat 4-6: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;;" dir="rtl" lang="AR-SA"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: HQPB5;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size: 17pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;;" dir="rtl" lang="SV"> </span><span style="font-size: 17pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;;" dir="rtl" lang="AR-SA">إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">”</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah dia debu yang beterbangan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Selain berputar terhadap porosnya (rotasi), bumi juga berputar mengelilingi matahari (revolusi) dengan kecepatan 60.000 mil per jam atau sekitar 17 km perdetik. Lagi-lagi ketika waktu dimusnahkan, maka terhadap galaksi luas berhentinya kecepatan secara mendadak ini akan membuat kita dilempar dengan kecepatan 17 km perdetik. Karena arah perputaran yang berlawanan, bumi akan terhempas berbenturan dengan planet Venus dengan kecepatan yang sama yaitu kecepatan yang setara dengan menempuh Jakarta-Surabaya hanya dengan 54 detik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Dengan fananya waktu ini kita dituntut untuk memanfaatkannya dengan sangat bijak karena ia tak mungkin bisa dikejar kembali. Sebelum waktu meninggalkan kita di belakang, sebelum waktu menorehkan memori hitam yang tak mungkin bisa kita hapus kembali, maka gunakan waktu yang tersisa untuk anda dengan sangat hati-hati. Jika anda memperlakukannya secara baik-baik yaitu dengan meneguhkan iman, mengerjakan amalan yang baik, menaati kebenaran dan mendahulukan kesabaran maka dengan serta merta ia akan memilah anda bukan sebagai golongan orang-orang yang rugi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Napoleon Bonaparte, raja Perancis tahun 1800an,<span> </span>sedang bercukur rambut ketika salah seorang ajudannya melaporkan bahwa pasukan Inggris telah masuk jauh ke dalam batas negara Perancis. Lalu Napoleon menjawab : ”<em>Ingatkan lagi aku besok setelah makan pagi!</em>”. Namun, apa yang terjadi keesokan harinya sungguh tragis. Bukannya menikmati suguhan sarapan ala Perancis, Napoleon justru ditangkap dan kemudian diasingkan ke pulau Santa Helena. Ia juga dipercaya terbunuh di pengasingan setelah mengalami keracunan zat Arsen. Perancis pun tumbang ke pangkuan Inggris. Cerita ini bukanlah dongeng semata, melainkan sebuah pelajaran bagi kita untuk menghargai waktu. Waktu bisa saja menghukum kita dengan vonis yang tak terduga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Hargai dengan cermat setiap detik yang anda miliki sebab jika pendulum detik sudah berhenti berayun untuk hidup ini maka kita tak akan mampu membuatnya bergerak kembali. Jangan sampai di akhirat kelak kita mengemis untuk kembali meminta waktu untuk berbuat kebajikan! Berfirman Allah dalam Surat As-Sajdah ayat 12 :</span></p>
<h3 style="text-align: right;"><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;;" dir="rtl" lang="AR-SA">وَلَوْ تَرَى إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ</span><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV"> </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">”Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): &#8220;Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin&#8221;.</span></em></p>
<p><span style="font-size: 10pt; font-family: &quot;CentSchbook BT&quot;;" lang="SV">Cukuplah Allah menjadi satu-satunya Zat yang mengatur waktu alam. Sebagai makhluk dengan kemampuan terbatas, tugas kita hanyalah mengisi waktu tersebut dengan perbuatan dan amalan yang baik. Para ilmuwan yang berteriak menyuarakan teori waktu seperti Einstein pun akhirnya juga meninggal ditelan waktu. Jika anda masih bersantai-santai dengan waktu yang anda miliki, maka bersiaplah untuk menjadi Napoleon Bonaparte berikutnya ..</span></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=756&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/saat-waktu-dimusnahkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cahaya Ilahi di Bulan Ramadan</title>
		<link>http://www.forsansalaf.com/2009/cahaya-ilahi-di-bulan-ramadan/</link>
		<comments>http://www.forsansalaf.com/2009/cahaya-ilahi-di-bulan-ramadan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 04:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>forsan salaf</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.forsansalaf.com/2009/cahaya-ilahi-di-bulan-ramadan/</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya tak berlebihan bila kita sebut bulan Ramadan ini sebagai bulan penuh cahaya. Coba kita simak firman Allah di Surat An-Nur: 35,
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span style="font-weight: normal;"><img class="alignleft size-full wp-image-677" title="ramadhan" src="http://www.forsansalaf.com/wp-content/uploads/2009/08/ramadhan.jpg" alt="ramadhan" width="240" height="176" />Rasanya tak berlebihan bila kita sebut bulan Ramadan ini sebagai bulan penuh cahaya. Coba kita simak firman Allah di Surat An-Nur: 35,</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh berkah, (yaitu) pohon zaitun yang tidak hanya diterpa matahari dari timur saja atau dari barat saja (melainkan terkena matahari dari arah barat dan timur), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Itulah cahaya Allah. Yang minyaknya saja sudah berkilau-kilau, berasal dari pohon yang senantiasa terkena matahari. Cahaya di atas cahaya, berlapis-lapis. Cahaya yang sangat kuat sinarnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ramadhan adalah kesempatan yang paling baik untuk mencari cahaya ilahi itu. Sebab, Ramadhan adalah bulan penuh barokah. Bulan di mana cahaya ilahi banyak berpendaran. Di bulan ini waktu siang dan malam hari terasa lebih berkilau-kilau. Hati terasa lebih lapang dan bercahaya sehingga ibadah lebih mudah dilakukan. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Tentu saja tidak semua orang merasakan cahaya dan dorongan melakukan amal ibadah. Hanya orang Islam. Orang Islam pun tidak seluruhnya, yang bertakwa dan beriman dengan baik. Semakin baik iman dan ketakwaannya, semakin dia merasakan cahaya ilahi. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Betapa tidak. Di bulan Ramadhan syetan-syetan dibelenggu tangan dan kakinya. Pintu-pintu langit alias sorga dibuka, membuat aroma sorga tercium di mana-mana. Rasulullah s.a.w. bersabda: </span></span></p>
<h3 style="margin-bottom: 0in;" dir="rtl"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: x-small;">ثم إذا دخل شهر رمضان فتحت أبواب السماء وغلقت أبواب جهنم وسلسلت الشياطين</span></span></h3>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>Kemudian ketika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu langit (sorga) dibuka, pintu-pintu Jahanam ditutup, dan syetan-syetan dibelenggu.”</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Tetapi, sekali lagi, aroma sorga hanya tercium oleh orang mukmin yang bertakwa.</span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Di samping itu, banyak malaikat yang turun ke bumi di bulan suci ini. Terutama pada malam Lailatul Qadr. Mereka berdesakan sehingga tak sejengkal pun dari bumi kecuali ada malaikatnya. Kehadiran mereka tentu membawa serta barokah, rahmat dan cahaya ilahi. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Cahaya ilahi berpendaran pada bulan Ramadhan karena amalan-amalan di bulan tersebut potensial mendatangkan cahaya di hati. Terutama puasa. Inilah salah satu dari akhlak ketuhanan (</span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>ash-shamadiyah</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">) yang dijalankan para hamba. Dengan berpuasa, mereka meniru perilaku malaikat yang tidak memiliki syahwat perut dan farji (seksual). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Dengan sifat puasa yang sangat rahasia (tidak ada yang tahu bahwa seseorang berpuasa atau tidak kecuali Allah), maka inilah amalan yang sampai langsung pada-Nya, tanpa terbendung oleh siapapun. Sedang amal-amal lain mungkin saja terbendung oleh riya’, pamer pada orang lain. Itulah sebabnya, Allah berfirman dalam hadis qudsi: </span></span></p>
<h3 style="margin-bottom: 0in;" dir="rtl"><span style="font-family: Tahoma;"><span style="font-size: x-small;">الصوم لي وأنا أجزي به</span></span></h3>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">“<span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span lang="de-DE"><em>Puasa itu milik-Ku, dan aku mengganjarnya sendiri.“</em></span></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span lang="de-DE">Dengan kata lain, Allahlah yang menentukan berapa kadar pahala puasa </span></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><span lang="de-DE">seseorang. </span></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Mungkin 10 kali lipat, mungkin 70 kali lipat, mungkin pula lebih dari itu, hingga kadar tak terbatas, terserah kehendak-Nya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Karena sifatnya yang berhubungan langsung dengan Allah itu pula, orang-orang berpuasa disebut sebagai pengelana (</span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>as-saaihun</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">). Yakni mengelana pada Allah melalui lorong lapar dan dahaganya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Oya, kosongnya perut atau rasa lapar itu sendiri mengandung hikmah yang besar. Di antaranya ialah, seperti ditulis Imam Al-Ghazali dalam </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>Ihya’ Ulumiddin</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">, membuat hati jadi bening, bersinar, dan mata hati jadi terbuka. Berkata Abu Yazid Al-Busthami, “Rasa lapar itu (ibarat) awan. Ketika seorang hamba lapar, dia menghujani hatinya dengan hikmah.” Ini sesuai dengan sabda Rasulullah s.a.w., “Cahaya hikmah itu (ada pada) rasa lapar.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ini masih ditambah pula dengan amalan-amalan yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan, seperti salat tarawih, zikir dan tadarus Al-Quran. Dengan sangat jelas Nabi s.a.w. menegaskan bahwa membaca Al-Quran dapat mendatangkan cahaya. Beliau bersabda, “Sinarilah rumahmu dengan membaca Al-Quran.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify">
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><strong>TIGA TAHAPAN </strong></span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Alhasil, Ramadhan adalah kesempatan yang paling baik untuk mengubah hati yang gelap menjadi bersinar. Kata seorang ulama, “Bulan Rajab itu untuk menyucikan badan, bulan Sya’ban untuk menyucikan hati, dan bulan Ramadhan untuk menyucikan ruh.” Ulama lain berkata, “Sungguh bulan Rajab itu untuk memohon ampun dari dosa-dosa, bulan Sya’ban untuk mereparasi hati dari cacat-cacat, Ramadhan untuk menerangi hati, dan </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>Lailatul Qadr</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> untuk </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>taqarrub</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> pada Allah.” </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Jadi, pada bulan Rajab, para ulama membersihkan diri badan mereka dari dosa-dosa yang ada dengan memohon ampun nan tulus pada Allah. Dengan melakukan hal itu, mereka sebenarnya telah mulai membersihkan hati dari kotoran-kotoran. Sebab, ketika seorang hamba melakukan dosa, maka di hatinya muncul noktah. Semakin besar dosa yang diperbuat, semakin besar noktah itu. Semakin banyak dosa, semakin banyak pula noktahnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Meski demikian, hati belum sepenuhnya bersih. Mungkin masih ada kotoran-kotoran berupa penyakit-penyakit hati semacam takabur, hasud, benci dan semacamnya. Pada bulan Sya’ban mereka mulai membersihkan kotoran-kotoran sisa ini melalui </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>mujahadah</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> (memerangi hawa nafsu) dan </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>riyadhah</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"> (penggemblengan akhlak-akhlak mulia). </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Ketika hati menjadi bersih, hati mulai bersinar. Sebab, kata orang, bersih itu indah, bersih itu bercahaya. Hanya saja, cahaya itu belum berkilau. Nah, pada bulan Ramadhan, mereka mulai menggosok hati yang sudah bersih itu supaya mengkilap. Yakni dengan berpuasa dan menjalankan amalan-amalan lain, baik amalan zhahir maupun batin. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Begitulah para ulama, khususnya </span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;"><em>salafunash shalihun</em></span></span><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">. Mereka mempersiapkan diri menyongsong bulan Ramadhan sejak dua bulan sebelumnya. Sedang kita mungkin belum sempat melakukan ketiga tahapan tadi hingga Ramadhan tiba. Alih-alih membersihkan badan dari dosa-dosa di bulan Rajab, justru kita menambah kotor badan kita dengan perbuatan-perbuatan dosa yang baru. Mungkin kita membaca istighfar pada pagi dan sore, tapi bacaan itu tidak menghunjam di hati, melainkan hanya sebatas terucap di mulut. </span></span></p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"><span style="font-family: CentSchbook BT,serif;"><span style="font-size: x-small;">Karena itu, marilah kita lakukan ketiga tahapan itu sekaligus pada bulan Ramadhan ini. Kita bersihkan badan kita dari dosa-dosa dengan memperbanyak istighfar, serta menjauhi dosa-dosa baru. Kita bersihkan hati kita, dan kita sinari hati kita dengan berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Quran dan lain-lain. Mari kita rengkuh cahaya ilahi di bulan suci ini.</span></span></p>
<img src="http://www.forsansalaf.com/?ak_action=api_record_view&id=674&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.forsansalaf.com/2009/cahaya-ilahi-di-bulan-ramadan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
